Studi Kualitatif Efektivitas Komunikasi terhadap Pembentukan Kepribadian Remaja di Daerah Pesisir Maslakhatul Ainiyah1*. Mudlofar2. Faqihatin2 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas Qomaruddin. Gresik. Indonesia Program Studi Teknik Informatika. Universitas Qomaruddin. Gresik. Indonesia Korespondensi: * maslakhatulainiyah01@gmail. ABSTRACT Received: 23 October 2024 Revised: 2 January 2025 Accepted: 3 January 2025 Citation: Ainiyah. Mudlofar. , & Faqihatin. Studi kualitatif efektivitas komunikasi terhadap pembentukan kepribadian remaja di daerah QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies, 2. , 138Ae Adolescence is a crucial developmental phase in a personAos life, during which individuals seek self-identity and understand their social roles. Ineffective communication between parents, teachers, and the social environment with adolescents can significantly impact personality formation, such as reduced self-confidence, a tendency to become introverted, or passive behavior. Communication is a primary tool in social interaction, functioning as a medium for sharing ideas, emotions, and This study aims to identify the extent to which communication effectiveness influences adolescent personality development and to analyze the supporting and inhibiting factors of communication in the school environment of Tanjung Widoro Village. Mengare. Using a qualitative approach through observation and in-depth interviews, this study found that effective family communication significantly affects adolescentsAo behavior and intrapersonal intelligence. Open communication between parents and adolescents fosters a sense of acceptance, courage in decision-making, and the ability of parents to understand and support their childrenAos development. Supporting factors include parental emotional involvement, consistent communication patterns, and support from the school environment. Conversely, communication barriers arise from a lack of interaction time, generational differences, and social pressures from the surrounding environment. These findings emphasize the importance of effective communication in shaping adolescent personality and provide recommendations to improve communication patterns in family and school Keywords: communication, personality, teenagers, character building ABSTRAK Copyright: A 2024 by the authors. Submitted for possible openaccess publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) . ttps://creativecommons. org/licen ses/by-nc-sa/4. 0/). Masa remaja merupakan fase perkembangan penting dalam kehidupan seseorang, di mana individu mulai mencari identitas diri dan memahami peran Kurangnya efektivitas komunikasi antara orang tua, guru, dan lingkungan sosial dengan remaja dapat memberikan dampak signifikan terhadap pembentukan kepribadian, seperti menurunnya rasa percaya diri, kecenderungan menjadi pribadi tertutup, atau perilaku pasif. Komunikasi berperan sebagai alat utama dalam proses interaksi sosial yang berfungsi sebagai medium untuk berbagi ide, emosi, dan pengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana efektivitas komunikasi memengaruhi perkembangan kepribadian remaja, serta menganalisis faktor pendukung dan penghambat komunikasi di lingkungan sekolah Desa Tanjung Widoro. Mengare. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara mendalam, penelitian ini menemukan bahwa komunikasi keluarga yang efektif sangat memengaruhi tingkah laku dan kecerdasan intrapersonal remaja. Komunikasi terbuka antara orang tua dan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. remaja menciptakan rasa diterima, keberanian dalam mengambil keputusan, dan kemampuan orang tua untuk memahami serta mendukung perkembangan anak. Faktor pendukung meliputi keterlibatan emosional orang tua, pola komunikasi yang konsisten, dan dukungan lingkungan sekolah. Sebaliknya, hambatan komunikasi diakibatkan oleh kurangnya waktu interaksi, perbedaan generasi, serta tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi efektif dalam pembentukan kepribadian remaja dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan pola komunikasi di lingkungan keluarga dan sekolah Kata kunci: komunikasi, kepribadian, pembentukan karakter, remaja Pendahuluan Komunikasi merupakan alat utama dalam proses interaksi sosial dan berfungsi sebagai medium untuk berbagi ide, emosi, dan pengalaman. Pada masa remaja, komunikasi memainkan peran penting dalam pembentukan kepribadian karena remaja berada dalam proses pencarian jati diri, memahami nilai-nilai, dan mengembangkan sikap serta perilaku. Keberhasilan komunikasi dengan orang tua, teman sebaya, dan lingkungan sosial dapat membentuk kepribadian yang sehat, sementara kegagalan dalam komunikasi dapat menyebabkan kebingungan identitas dan masalah perilaku. Menurut Balson . , komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya kebersamaan, saling pengertian, kasih sayang, keterbukaan, dan keterlibatan emosional yang dapat memupuk empati, kejujuran, serta kecerdasan Dalam keluarga, komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial, emosional, dan kognitif remaja, terutama di lingkungan yang penuh Pentingnya komunikasi efektif ini menjadi semakin relevan dalam konteks masyarakat pesisir. Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan sebagian besar wilayahnya berupa lautan. Masyarakat pesisir adalah komunitas yang tinggal di wilayah perbatasan antara daratan dan lautan, dengan karakteristik tertentu yang dipengaruhi oleh lingkungan alam. Ketergantungan mereka pada sektor laut untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadikan mereka membentuk kebudayaan pesisir yang khas. Budaya ini mencakup berbagai aspek seperti bahasa, seni, kepercayaan, pengetahuan, organisasi sosial, teknologi, dan ekonomi. Namun, kehidupan masyarakat pesisir tidak terlepas dari tantangan besar, termasuk "lingkaran setan kemiskinan" yang ditandai dengan pendapatan rendah, pendidikan terbatas, gizi yang tidak terpenuhi, serta kualitas sumber daya manusia yang kurang baik (Fatimah, 2. Hal ini berdampak pada pola pikir yang kurang kreatif dan produktif, memperburuk kemiskinan antargenerasi. Dalam kondisi ini, komunikasi yang efektif dapat menjadi kunci untuk membangun kepribadian tangguh bagi remaja di daerah pesisir. Komunikasi yang baik dengan keluarga dapat memberikan dukungan emosional dan meningkatkan kepercayaan diri, sementara komunikasi dengan teman sebaya dapat membantu remaja mengembangkan empati dan keterampilan sosial. Selain itu, pemanfaatan teknologi sebagai alat komunikasi modern juga memberikan peluang bagi remaja pesisir untuk mengakses pengetahuan dan memperluas jaringan sosial mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejauh mana efektivitas komunikasi dalam keluarga, dengan teman sebaya, serta melalui teknologi memengaruhi pembentukan kepribadian remaja di masyarakat pesisir. Dengan fokus pada aspek komunikasi ini, diharapkan penelitian dapat memberikan kontribusi pada upaya meningkatkan kualitas hidup remaja pesisir dan memutus lingkaran kemiskinan yang membelenggu komunitas mereka. Tinjauan Pustaka Komunikasi yang Efektif dan Peran Teori dalam Memahami Dinamika Komunikasi Remaja Komunikasi yang efektif adalah proses penyampaian informasi secara jelas, langsung, dan mudah dipahami oleh penerima pesan. Proses ini tidak hanya mencakup kata-kata tetapi juga melibatkan empati dan kepekaan terhadap reaksi penerima. Dalam konteks komunikasi interpersonal. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. interaksi antara dua individu memiliki potensi besar untuk memengaruhi pola pikir, sikap, dan emosi Hubungan antara orang tua dan anak remaja, misalnya, sangat bergantung pada komunikasi yang terbuka, empatik, dan penuh pengertian. Pola komunikasi semacam ini tidak hanya memperkuat hubungan emosional, tetapi juga mendukung pembentukan kepribadian yang sehat pada remaja. Untuk memahami lebih mendalam tentang dinamika komunikasi remaja, dapat digunakan beberapa teori relevan berikut: Teori Perkembangan Kognitif Piaget. Menurut Piaget . alam Santrock. , 2. , cara berpikir remaja mengalami transisi dari konkret menuju abstrak. Pada tahap ini, remaja mulai mengeksplorasi ide-ide kompleks, mempertanyakan norma, dan mencari makna yang lebih dalam dalam interaksi sosial. Hal ini seringkali tercermin dalam gaya komunikasi mereka, yang cenderung penuh argumen dan disertai keinginan kuat untuk didengarkan. Teori Identitas Sosial. Remaja sangat peduli dengan bagaimana mereka dipersepsikan oleh kelompok teman sebaya. Identitas sosial mereka sering kali dibentuk oleh kelompok ini, sehingga mereka cenderung menyesuaikan perilaku, bahasa, dan gaya komunikasi agar diterima dalam lingkup pergaulan. Teori ini menyoroti peran penting kelompok teman sebaya dalam membentuk identitas dan perilaku komunikasi remaja. Teori Komunikasi Non-Verbal. Komunikasi tidak hanya terjadi melalui kata-kata, tetapi juga melalui elemen non-verbal seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara (Sari, , 2. Remaja sering kali lebih jujur dalam menyampaikan perasaan mereka melalui komunikasi non-verbal dibandingkan kata-kata. Misalnya, sikap tertutup atau pandangan mata yang menghindar dapat menjadi tanda adanya kecemasan atau ketidaknyamanan. Teori Media dan Budaya. Teori ini menjelaskan bagaimana media sosial tidak hanya memengaruhi cara remaja berkomunikasi tetapi juga membentuk persepsi mereka terhadap dunia, nilai-nilai, dan identitas diri. Media sosial sering kali menjadi ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri, mencari validasi, dan membangun hubungan. Namun, penggunaan media sosial juga dapat menghadirkan tantangan, seperti kecemasan sosial atau tekanan untuk memenuhi standar tertentu. Perkembangan Kepribadian pada Remaja Kepribadian adalah pola perilaku, pemikiran, dan emosi yang konsisten yang dimiliki oleh Masa remaja adalah fase transisi penting dalam kehidupan seseorang, di mana berbagai aspek kepribadian mengalami perubahan signifikan. Erik H. Erikson . , dalam teorinya tentang perkembangan psikososial, menyatakan bahwa remaja menghadapi tantangan dalam membentuk identitas diri (Identity vs. Role Confusio. Beberapa perkembangan utama tersebut meliputi: Kemandirian. Remaja mulai menunjukkan keinginan untuk lebih mandiri dengan mengambil keputusan sendiri. Mereka cenderung ingin keluar dari pengaruh langsung orang tua dan membentuk identitas unik. Kelompok Teman Sebaya . Peran teman sebaya menjadi sangat dominan. Remaja sering menyesuaikan diri dengan norma dan tren kelompok untuk mendapatkan penerimaan Nilai dan Keyakinan. Remaja mulai mempertanyakan nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga atau masyarakat dan membangun sistem nilai serta keyakinan pribadi. Fluktuasi Emosi. Remaja sering mengalami perubahan emosi yang intens dan tidak stabil, seperti kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan kebingungan. Peran Komunikasi dalam Pembentukan Kepribadian Remaja Komunikasi yang efektif antara remaja dengan orang tua, guru, dan teman sebaya memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian mereka. Ketika remaja merasa bahwa mereka didengarkan dan dipercaya, mereka lebih terbuka untuk berbagi pemikiran, perasaan, dan pengalaman Kepercayaan ini menjadi fondasi yang kuat dalam membangun hubungan yang sehat dan mendukung perkembangan emosional serta sosial mereka. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Melalui komunikasi yang baik, dukungan emosional dapat diberikan kepada remaja untuk membantu mereka menghadapi berbagai tantangan dan stres yang sering muncul pada masa transisi Orang tua, guru, dan teman sebaya yang mendengarkan dengan empati dapat memberikan rasa aman dan kenyamanan yang diperlukan oleh remaja untuk mengatasi kesulitan mereka. Selain itu, orang dewasa yang menunjukkan empati dan kemampuan komunikasi yang baik dapat menjadi teladan yang positif bagi remaja. Dengan memperhatikan cara orang dewasa berkomunikasi, remaja belajar bagaimana mengekspresikan diri secara asertif, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menangani konflik dengan cara yang konstruktif. Komunikasi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran sosial yang penting. Dalam interaksi sehari-hari, remaja mengembangkan keterampilan seperti mendengarkan, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik. Keterampilan ini tidak hanya membantu mereka dalam membangun hubungan yang sehat tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang matang dan kompeten dalam menghadapi dinamika sosial di masa depan. Sementara itu, identitas diri remaja berkembang melalui eksplorasi dan komitmen. Komunikasi yang jujur dan terbuka membantu mereka mengeksplorasi berbagai peluang dan menentukan jati diri. Feedback yang diterima melalui komunikasi dapat membantu mereka membentuk citra diri yang realistis dan positif. Selain teori Erikson . , beberapa teori lain relevan dalam memahami perkembangan kepribadian remaja, antara lain: Teori Belajar Sosial Bandura (Ansani & Samsir, 2. Teori ini menekankan bahwa remaja belajar perilaku melalui observasi dan peniruan. Dengan mengamati orang-orang di sekitar mereka, remaja mengembangkan pola perilaku baru. Teori Kognitif-Perilaku. Teori yang dikembangkan oleh Aron Beck (Oemarjoedi. K, 2. ini menyoroti interaksi antara pikiran, emosi, dan tindakan. Komunikasi dapat digunakan untuk membantu remaja mengubah pola pikir negatif dan perilaku yang tidak produktif. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi pada Remaja Efektivitas komunikasi pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari keluarga, teman sebaya, teknologi, serta kondisi sosial dan emosional mereka. Berikut adalah faktor-faktor utama yang memengaruhi komunikasi remaja: Lingkungan Keluarga. Orang tua yang terbuka, mendukung, dan responsif terhadap kebutuhan emosional anak dapat membangun rasa percaya diri dan kemandirian pada remaja (Rahmaniar. , 2. Komunikasi yang terbuka membuat remaja merasa dihargai dan lebih mudah mengungkapkan perasaan atau masalah. Sebaliknya, orang tua yang terlalu sibuk atau emosionalnya kurang hadir dapat menghambat komunikasi, menyebabkan anak merasa diabaikan. Gaya komunikasi yang otoriter atau permisif juga dapat memengaruhi kemampuan remaja dalam menghadapi konflik atau tekanan sosial, sehingga mengurangi efektivitas komunikasi mereka di luar keluarga. Teman Sebaya . Kelompok teman sebaya memainkan peran penting sebagai sumber dukungan sosial utama bagi remaja. Melalui interaksi dengan mereka, remaja belajar berbagai keterampilan sosial, seperti bernegosiasi, menyelesaikan konflik, dan membangun hubungan yang bermakna. Namun, teman sebaya juga dapat menjadi sumber tekanan sosial, terutama jika norma kelompok mendorong perilaku negatif atau menyimpang. Tekanan ini dapat memengaruhi cara remaja berkomunikasi, baik dalam upaya menyesuaikan diri dengan kelompok maupun dalam mempertahankan identitas mereka Hubungan yang sehat dengan teman sebaya membantu remaja mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal, seperti mendengarkan aktif dan menyampaikan pendapat secara asertif. Teknologi. Media sosial kini menjadi wadah utama bagi remaja untuk berkomunikasi, memperluas jaringan sosial, dan mengekspresikan diri (Nugraeni. , 2. Meskipun memberikan peluang besar, wadah atau platform ini juga membawa risiko seperti cyberbullying, kecemasan sosial, dan ketergantungan yang berlebihan. Selain itu. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. kemampuan remaja untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sangat menentukan bagaimana mereka memanfaatkan media sosial. Kurangnya literasi digital dapat menyebabkan kesalahpahaman atau penyalahgunaan, yang berpotensi menimbulkan dampak negatif pada komunikasi mereka. Terakhir, komunikasi yang cepat dan instan melalui teknologi sering kali tidak dapat menggantikan kedalaman komunikasi tatap muka yang esensial untuk membangun hubungan yang bermakna dan mendalam. Faktor Sosial dan Emosional. Keadaan emosional, norma budaya, dan kesadaran diri sangat memengaruhi komunikasi remaja. Remaja yang stres atau cemas cenderung lebih tertutup, sedangkan yang percaya diri lebih terbuka. Norma budaya yang membatasi ekspresi emosi dapat menghambat komunikasi, terutama dalam situasi yang membutuhkan keterbukaan. Kesadaran diri, yakni pemahaman remaja tentang dampak kata-kata dan tindakan mereka terhadap orang lain, membantu mereka menyesuaikan cara berkomunikasi dan membangun hubungan yang sehat. Penelitian Terdahulu Berbagai penelitian telah dilakukan terkait komunikasi di keluarga daerah pesisir. Misalnya Elita et al. , . mengkaji hubungan antara fungsi keluarga secara umum dengan status mental remaja di daerah pesisir. Meskipun relevan, penelitian ini tidak secara khusus membahas komunikasi dalam keluarga sebagai faktor utama, melainkan lebih luas mencakup berbagai fungsi keluarga. Selanjutnya. Triwardhani and Chaerowati . meneliti komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak di Desa Nelayan Cirebon, namun kajiannya tidak spesifik pada kelompok usia remaja. Selain itu, penelitian ini tidak secara eksplisit menghubungkan komunikasi dengan pembentukan identitas atau kepribadian, yang merupakan aspek penting dalam perkembangan remaja Adapun Fatimah . menyoroti ketidaksetaraan gender dalam pola komunikasi antara remaja dan orangtua di daerah pesisir Sulawesi Selatan. Fokus utama penelitian ini adalah pada dinamika gender dalam komunikasi, bukan pada efektivitas komunikasi dalam membentuk kepribadian remaja secara keseluruhan. Berdasarkan tinjauan ini, terlihat adanya research gap terkait komunikasi remaja di daerah pesisir, khususnya dalam mengkaji efektivitas komunikasi remaja dengan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosial dalam pembentukan kepribadian. Penelitian sebelumnya belum secara spesifik mengeksplorasi bagaimana pola komunikasi dapat memengaruhi pembentukan kepribadian remaja di daerah pesisir yang memiliki karakteristik sosial dan budaya yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menyoroti peran komunikasi dalam keluarga dan lingkungan sosial remaja pesisir terhadap pembentukan kepribadian mereka. Metode Penelitian Desain penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi, yang merupakan bagian dari metode penelitian kualitatif. Menurut Emzir . , etnografi adalah ilmu yang mempelajari dan menuliskan tentang suku bangsa atau, dalam konteks yang lebih kontemporer, kelompok budaya. Dalam pendekatan etnografi ini, peneliti mengamati subjek penelitian dengan cara berinteraksi langsung dalam kondisi yang wajar. Penelitian dilakukan dengan mengamati gaya komunikasi, gaya hidup, dan kebudayaan masyarakat, khususnya di lingkungan pesisir. Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah (MA) Hasyimiyah. Desa Tajungwidoro. Mengare. Mengare merupakan sebuah wilayah yang dikelilingi oleh vegetasi mangrove yang beragam dan menjadi daya tarik wisata. Pulau ini terletak di barat daya Kecamatan Bungah. Kabupaten Gresik, dan memiliki puluhan hektar tambak ikan yang menjadi ciri khas daerah tersebut, terutama Bandeng Mengare. Mayoritas penduduk di wilayah ini adalah masyarakat nelayan yang kehidupannya sangat bergantung pada sumber daya laut, dengan ikan sebagai penghasilan utama. Adapun langkah-langkah penelitian meliputi: Studi Literatur. Tahap awal penelitian dilakukan dengan mengumpulkan literatur yang relevan, termasuk buku dan jurnal, untuk memahami konsep efektivitas komunikasi dan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. kaitannya dengan pembentukan kepribadian remaja. Literatur ini menjadi dasar teori dan landasan berpikir penelitian. Studi Lapangan. Studi lapangan dilakukan di Lembaga Pendidikan MA Hasyimiyah Tanjung Widoro Mengare. Peneliti mengumpulkan data dengan observasi langsung, wawancara sistematis, dan analisis dokumen untuk memahami efektivitas komunikasi dalam pembentukan kepribadian remaja. Instrumen Pengumpulan Data Data empirik dikumpulkan melalui tiga metode utama: Observasi (Pengamata. Observasi dilakukan untuk memahami interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak di lingkungan pesisir Desa Tanjung Widoro Mengare. Kabupaten Gresik termasuk gaya komunikasi dan pola kebudayaan mereka. Wawancara. Teknik wawancara sistematis digunakan untuk menggali informasi mendalam tentang efektivitas komunikasi. Responden meliputi sepuluh siswa kelas XI dan XII MA Hasyimiyah baik laki-laki maupun perempuan dan pihak lain yang relevan, seperti orang Analisis Dokumen. Dokumen terkait pendidikan keluarga digunakan sebagai data pendukung untuk menganalisis efektivitas komunikasi dalam pembentukan kepribadian Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu metode yang bertujuan mengidentifikasi makna, menjelaskan, dan menempatkan data dalam konteksnya masingmasing. Data yang diperoleh dilukiskan dalam bentuk kata-kata untuk memberikan gambaran yang jelas dan terstruktur. Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Proses ini bertujuan menyederhanakan data menjadi bentuk yang lebih mudah dipahami dan Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan hasil dari observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Pendekatan ini memastikan kesimpulan yang valid dan dapat dipercaya. Hasil dan Pembahasan Hubungan Komunikasi dengan Pembentukan Kepribadian Remaja Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi antara siswa di MA Hasyimiyah dengan orangtua mereka secara langsung memengaruhi pembentukan kepribadian. Komunikasi yang kurang efektif, akibat keterbatasan waktu interaksi karena orangtua sibuk bekerja, sering kali mengakibatkan keterikatan emosional yang rendah dan perasaan tidak dihargai pada anak. Hal ini berdampak negatif pada pengembangan kepribadian remaja, seperti kemampuan mereka untuk berempati, menjalin hubungan sosial, dan membuat keputusan (Wenling et al. , 2. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka memungkinkan remaja merasa diterima, sehingga mereka dapat mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan interpersonal yang lebih baik. Peran Teman Sebaya. Selain orangtua, teman sebaya juga berperan penting dalam pembentukan kepribadian remaja. Hubungan yang positif dengan teman sebaya dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan bekerja sama. Namun, tekanan sosial negatif dari kelompok teman sebaya, seperti norma yang mendorong perilaku menyimpang, dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional mereka (Muslimin et al. , 2023. Hidayah et al. , 2. Pengaruh ini menunjukkan pentingnya lingkungan sosial yang mendukung untuk membantu remaja mengembangkan kepribadian yang sehat. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Tantangan Komunikasi dan Implikasinya pada Kepribadian Remaja Komunikasi antara orangtua dan remaja di daerah pesisir menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi pembentukan kepribadian mereka: Kesenjangan Generasi dan Perbedaan Perspektif. Kesenjangan generasi membuat remaja merasa bahwa orangtua tidak memahami dunia mereka, terutama terkait teknologi dan dinamika sosial modern. Ketidakmampuan orangtua untuk menjembatani kesenjangan ini dapat menyebabkan remaja merasa diabaikan, sehingga hubungan emosional melemah dan kepribadian mereka menjadi kurang berkembang. Kebutuhan Otonomi dan Ekspresi Diri. Remaja yang sedang mencari identitas cenderung membutuhkan ruang untuk berekspresi. Ketika orangtua terlalu mengontrol tanpa memberikan ruang bagi remaja untuk mandiri, komunikasi menjadi terbatas, yang dapat menghambat perkembangan kepribadian remaja. Hambatan Teknologi dan Literasi Digital. Keterbatasan akses teknologi di daerah pesisir mengurangi peluang remaja untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau mengakses informasi yang relevan. Selain itu, kurangnya literasi digital dapat membatasi kemampuan remaja untuk memanfaatkan media sosial secara positif, yang berpotensi menghambat pengembangan identitas dan kepribadian mereka Pengaruh Media Sosial. Media sosial menawarkan peluang untuk ekspresi diri, tetapi juga membawa risiko jika tidak digunakan secara bijak. Ketergantungan pada media sosial dapat menggantikan komunikasi langsung dengan keluarga, yang berperan penting dalam membentuk nilai dan norma kepribadian remaja (Nugraeni. , 2. Hambatan Bahasa dan Budaya Lokal. Penggunaan dialek lokal sering menciptakan kesalahpahaman, terutama dalam komunikasi lintas generasi. Selain itu, norma budaya yang kaku dapat membatasi kemampuan remaja untuk mengekspresikan emosi atau pendapat mereka secara terbuka, yang menghambat pembentukan identitas yang autentik. Ketidakpastian Ekonomi dan Tekanan Sosial. Kondisi ekonomi yang tidak stabil memengaruhi suasana hati dan motivasi remaja, yang dapat mengurangi efektivitas komunikasi mereka. Tekanan dari teman sebaya juga berisiko memengaruhi perilaku mereka, terutama jika norma kelompok mendorong perilaku negatif. Tekanan Akademik dan Ketidakstabilan Emosi. Tekanan akademik yang tinggi dapat membuat remaja merasa stres dan tertutup, sehingga membatasi komunikasi mereka dengan keluarga. Ketidakstabilan emosi yang sering terjadi pada remaja juga dapat mengganggu hubungan sosial, yang pada akhirnya berdampak pada kepribadian mereka. Kesimpulan Komunikasi antara orang tua dan anak remaja di lingkungan MA Hasyimiyah Desa Tanjung Widoro. Mengare. Bungah. Gresik, memiliki peran penting dalam membentuk kecerdasan intrapersonal remaja. Semakin efektif komunikasi yang terjalin sejak usia dini, semakin besar kontribusinya terhadap perkembangan keberanian, rasa diterima, dan kemampuan anak untuk membuat keputusan yang sesuai dengan potensinya. Pola komunikasi yang terbuka juga membantu orang tua menyampaikan harapan yang realistis, mendukung perkembangan kepribadian remaja yang Di daerah pesisir, pola komunikasi remaja dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Tantangan seperti keterbatasan akses teknologi dan norma budaya yang membatasi, turut memengaruhi kualitas komunikasi dengan orang tua, teman sebaya, dan lingkungan sosial. Untuk itu, diperlukan strategi komunikasi yang inklusif dan mendukung dari masyarakat dan pembuat kebijakan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu remaja pesisir mengatasi hambatan komunikasi, mengembangkan kepribadian yang tangguh, dan meningkatkan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk masa depan mereka. Penelitian ini terbatas pada satu sekolah di Desa Tanjung Widoro, sehingga hasilnya sulit Data yang diperoleh dari wawancara dan observasi juga berpotensi bias subyektivitas. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. dan pengaruh teknologi komunikasi modern seperti media sosial belum dieksplorasi secara mendalam. Penelitian mendatang sebaiknya mencakup wilayah yang lebih luas, menggunakan metode campuran untuk data yang lebih komprehensif, serta mengeksplorasi dampak media sosial terhadap pola komunikasi remaja di daerah pesisir. Pernyataan Konflik Kepentingan Para penulis menyatakan tidak ada potensi konflik kepentingan terkait dengan penelitian, penulisan, dan/atau publikasi dari artikel ini. Daftar Pustaka