http://journal. id/index. php/anterior PERSEPSI REKOGNISI TOLERANSI KEBERAGAMAN SISWA DALAM UPAYA PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SDN JATINEGARA KAUM 11 PAGI PERCEPTIONS OF TOLERANCE RECOGNITION OF STUDENT DIVERSITY IN EFFORTS TO IMPLEMENT MULTICULTURAL EDUCATION AT SDN JATINEGARA KAUM 11 PAGI Muhammad Azhar Nawawi1* Arifin Maksum Nina Nurhasanah *1Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA 1. Jakarta Timur. DKI Jakarta. Indonesia. 2Universitas Negeri Jakarta 2. Jakarta Timur. DKI Jakarta. Indonesia. 3Universitas Negeri Jakarta 3. Jakarta Timur. DKI Jakarta. Indonesia. *email: azharnawawi@uhamka. amaksum@unj. nnurhasanah@unj. Kata Kunci: Rekognisi 1 Toleransi Keberagaman 2 Pendidikan Multikultural 3 Dst Keywords: Recognition 1 Diversity Tolerance 2 Multicultural Education 3 Etc Abstrak Penelitian ini mengkaji terkait persepsi toleransi keberagaman siswa di SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi. Toleransi keberagaman adalah salah satu bentuk karakter yang mencerminkan nilai-nilai hak asasi manusia di dalamnya. Sebagai makhluk sosial siswa tidak hidup dengan keseragaman budaya yang sama dengan dirinya, tetapi di lingkungan sekolah sekolah siswa jutru menjumpai keberagaman sebagai indivdu yang plural dan multikultur. Untuk itu sangat penting menanamkan karakter toleransi keberagaman pada siswa di sekolah dasar sebagai bekal untuk hidup dalam lingkungan sosial yang beragaman melalui penerapan pendidikan berbasis multikultural dengan pendekatan teori rekognisi dari Axel Honneth. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik penelitian purposive sampling dalam bentuk angket dengan model skala likert. Pengambilan data dilakukan dalam jaringan . melalui wadah GoogleForm sejak September-November. Analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa toleransi siswa terhadap keberagaman telah meningkat di SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi, dari presentase data persepsi toleransi keberagaman siswa meningkat positif dengan data indikator aspek kedamaian dengan keseluruhan pernyataan menunjukan hasil sebesar 46. pada data indikator aspek menghargai perbedaan dan individu dengan keseluruhan pernyataan menunjukan hasil sebesar 43. 2%, dan pada data indikator aspek kesadaran dengan keseluruhan pernyataan menunjukan hasil 8% dengan skala skor tertinggi adalah 100%. Dengan demikian dengan menerapkan pendidikan berbasis multikultural dengan pendekatan teori rekognisi dari Axel Honneth memberikan peningkatan positif bagi persepsi toleransi keberagaman siswa di SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi. Abstract This research examines the perception of tolerance of student diversity at SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi. Tolerance of diversity is one form of character that reflects human rights values in it. As social beings, students do not live with the same cultural uniformity as themselves, but in the school environment students encounter diversity as plural and multicultural individuals. For this reason, it is very important to instill the character of tolerance of diversity in students in elementary schools as a provision for living in a diverse social environment through the application of multicultural-based education with a recognition theory approach from Axel Honneth. This research uses a quantitative approach. Data collection used purposive sampling research techniques in the form of a questionnaire with a Likert scale model. Data collection was conducted online through the GoogleForm platform from September-November. Data analysis used descriptive statistical techniques. The results of the research conducted show that students' tolerance for diversity has increased at SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi, from the percentage of data on the perception of students' tolerance for diversity has increased positively with data on indicators of aspects of peace with the whole statement showing results of 46. 5%, on data indicators of aspects of respect for differences and individuals with the whole statement showing results of 43. 2%, and on data indicators of aspects of awareness with the whole statement. A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/bysa/4. 0/). Anterior Jurnal. Volume 24 Special Issue I. Februari 2025. Page 28 Ae 33 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 PENDAHULUAN Pendidikan secara umum diartikan sebagai upaya untuk menumbuhkan dan mengembangakan potensi bawaan seseorang baik secara ifisk maupun mental, sesuai dengan nilai-nilai masyarakat dan kebudayaannya. Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1930 dalam kongres pertama Taman Siswa menyebutkan, bahwa pendidikan diartikan secara umum sebagai daya untuk menjunjung tumbuhnya nilai budi pekerti . atin atau karakte. , kekuatan pikiran . , dan daya tahan tubuh anak . (Nandaniati et al. , 2. Melalui pandangan tersebut pendidikan dinilai sangat penting untuk meningkatkan kualitas seorang anak dalam mempersiapkan masa depannya. Sebagai instansi pendidikan, sekolah diharapkan mampu membentuk sumber daya manusia yang berkualitas tinggi yang dapat bersaing dengan masyarakat global. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran di kelas sebagai bentuk aktualisasi peningkatan sumber daya manusia di sekolah (Meilia & Erlangga, 2. Berdasarkan uaian tersebut pendidikan disimpulkan memiliki peran penting dalam mengembangkan kepribadian, pengetahuan maupun karakter manusia dalam konteks ini adalah siswa. Pendidikan karakter menjadi landasan terpenting dalam proses pendidikan agar seluruh siswa memiliki karakter yang kuat sehingga mereka dapat berhasil menjalani kehiduapan bersama orang lain. Kemampuan untuk beradabtasi secara sosial, kultural, maupun fisik membutuhkan hak dan perlindungan hak manusia dalam hal solidaritas, kebebasan, toleransi dan tanggung jawab. Sehingga, setiap siswa di sekolah dasar memiliki rasa aman dan nyaman dalam menerima hak tersebut di lingkungan masyarakat (Arif et al. , 2. Bebas dari perilaku diskriminasi dan mendapatkan rasa aman dan nyaman merupakan wujud dari hak dasar yang harus dimiliki setiap manusia. Karakter toleransi sangat penting bagi siswa untuk diinternalisasikan karena manusia adalah makhluk sosial yang plural dan multikultur. Dalam dunia pendidikan, semua pihak bertanggung jawab untuk memastikan perlilaku intoleran wajib dihindari (Suciartini, 2. Secara filosofis, toleransi berasal dari kata Latin "tolerable" dan biasanya digambarkan sebagai daya tahan atau kata lainnya "memegang" hal yang tidak disukai atau bahkan dibenci. (Forst, 2. Dalam pandangan ini, toleransi dapat didefinisikan sebagai menahan apa yang tidak disukai, mengancam, atau menyebabkan perasaan buruk. Ismail dalam (Husna et al. , 2. juga menganggap toleransi sebagai perasaan menghargai perbedaan yang dimiliki oleh orang lain tetapi kita tidak Sedangkan (Hjerm et al. , 2. menjelaskan toleransi yaitu sikap atau perilaku yang menunjukkan nilai Toleransi juga diartikan sebagai keterbukaan dan sikap penerimaan terhadap perbedaan (Wahab & Kahar. Oleh karena itu, toleransi didefinisikan sebagai menerima perbedaan . alam hal praktik budaya, ideologi, atau buday. secara sadar untuk mencegah diri menghalangi, melarang maupun perilaku mengganggu orang lain (Verkuyten et al. , 2. Keberagaman menimbulkan konflik bukan hanya di masyarakat. Siswa sekolah dasar menghadapi masalah konflik tentang keberagamanan karena keberagaman ini sering menyebabkan kesalahpahaman. Contoh keberagaman yaitu siswa yang rajin di sekolah seringkali hanya ingin berinteraksi dengan siswa yang dinilai rajin juga, siswa yang beragama Islam memilih untuk lebih berinteraksi dengan siswa yang beragama Islam juga. Hal ini menunjukan bahwa siswa belum memiliki sikap toleransi seperti menghargai, menerima dan menghormati segala jenis perbedaan, yang dapat menyebabkan perselisihan atau pertentangan. (Anggraeni et al. , 2. Sekolah Dasar menjadi wadah pembelajaran di mana siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang topik yang diajarkan oleh guru. mereka juga belajar norma, nilai, dan sikap seperti sikap toleransi yang dapat membangun karakter yang baik. Adapun skala karakter toleransi dalam penelitian (Supriyanto & Wahyudi, 2. meliputi aspek sebagai berikut: Tabel 1. Aspek Karakter Toleransi Aspek indikator karakter toleransi ini lah yang kemudian dijadikan sebagai rujukan penelitian ini untuk mengukur sejauh apa internalisasi karakter toleransi pada siswa di sekolah dasar. Globalisasi mendorong berbagai kemajuan dan keterbukaan, untuk itu perlu bagi suatu individu untuk membangung solidaritas sosial diantara individu-individu yang lain, mereka harus dididik untuk melindungi hak-hak asasi manusia saling menghargai, untuk bersama mencapai tujuanya (Saidang & Suparman, 2. Di lingkungan sekolah, sangat penting untuk memahami hak asasi manusia setiap orang agar kehidupan sosial tidak saling menindas kemanusiaan setiap individu lain. Memberikan pemahaman terkait rekognisi berupa pengakuan hak-hak masyarakat kepada siswa sangat penting dikenalkan dan diajarkan dalam pencegahan terjadinya pelanggaran hak asasi Muhammad Azhar Nawawi. Arifin Maksum Dan Nina Nurhasanah. Persepsi Rekognisi Toleransi Keberagaman Siswa Dalam Upaya Penerapan Pendidikan Multikultural Di SDN Jatinegara Kaum 1I Pagi manusia di lembaga pendidikan. Axel Honneth menciptakan teori rekognisi dengan tiga komponen utama untuk dipelajari, yakni pengakuan, kekuasaan, dan penghormatan (Marta, 2. Salah satu pendekatan yang bisa diupayakan adalah melalui pendidikan berbasis multikultural. Menurut Hilda Hernandez pada bukunya yang berjudul Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context. Process, and Content. Dalam (Naim, 2. telah didefinisikan menjadi dua klasifikasi sebagai dimensi konseptual pendidikan berbasis multikultural bagi pendidik sebagai poin penting. Pertama didefinisikan dengan menekan pendidikan berbasis multikultural untuk mewujudkan perspektif yang membenarkan terjadinya fenomena sosial, ekonomi, dan realitas politik dalam keberlangsungan sosial yang kompleks dan beragam (Plura. secara kultur (Multikultu. yang dialami oleh setiap individu. Definisi ini bertujuan untuk merefleksikan setiap individu terkait pentingnya keberagaman gender, budaya, etnisitas, ras, agama, ekonomi dan status sosial dalam proses pendidikan. Defnisi operasional tentang pendidikan berbasis multikultural. Dalam konstualisasinya, pendidikan berbasis multikultural merupakan proses pembelajaran yang bersifat empowering. Pendidikan berbasis multikultural menurut Hernandez, memiliki visi pendidikan dan pembelajaran dengan seharusnya dan selayaknya dapat diberikan kepada semua siswa. Dengan demikian rekognisi toleransi keberagaman siswa dapat diupayakan dengan menerapkan pendidikan berbasis multikultural di sekolah dasar. Hal tersebut menjadi landasan peneliti ddalam melakukan penelitian tentang sejauh mana tentang Persepsi Rekognisi Toleransi Keberagaman siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dengan ini peneliti memiliki rumusan masalah yaitu AuBagaimana fenomena Persepsi Rekognisi Toleransi Keberagam Siswa Dalam Upaya Penerapan Pendidikan Multikultural Di SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi?Ay. Sekolah dasar menjadi salah satu lembaga institusi yang berperan penting memberikan pemahaman nilai-nilai karakter dan menanamkan nilai-nilai rekognisi toleransi siswa di kehidupan sosialnya, selain itu juga peran guru yang professional dalam menjalankan tugasnya dapat mendorong pembinaan karakter siswa di sekolah dasar, sehingga dengan demikian jika itu diimplementasikan secara komprehensif siswa tidak akan menghilangkan nilai-nilai karakter utamanya salah satunya karakter toleransi. Oleh karena itu untuk mengetahui pemahaman Rekognisi Toleransi Keberagaman Siswa diperlukannya pengungkapan untuk mengetahui persepsi mengenai rekognisi karakter toleransi keberagaman siswa di SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi. METODOLOGI Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif. Dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa purposive sampling dalam bentuk angket dengan model skala likert (Sugiono, 2. skala likert adalah model penelitian dengan menggunakan angket sebagai instrumennya untuk mengukur pendapat, persepsi, maupun sikap individu atau kelompok terkait fenomena sosial yang sedang terjadi. Sebelum digunakan angket telah di validasi oleh dua orang ahli yakni ahli materi dan ahli bahasa dengan kriteria hasil validasi angket tersebut layak untuk digunakan. Pengambilan data menggunakan survei persepsi rekognisi toleransi keberagaman siswa dilakukan pada bulan September sampai November dilakukan secara daring . alam jaringa. Subjek yang dipilih dalam penelitian ini yaitu siswa SDN JATINEGARA KAUM 11 PAGI dengan jumlah 164 siswa. Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik statistik deskriptif dengan perhitungan presentase. Teknik analisis statistik deskriptif digunakan dengan tujuan memaparakan deskripsi terkait objek penelitian mmaupun fenomena yang diteliti menggunakan data yang diperoleh dari sampel atau subjek peneliti. Kemudian data tersebut disajikan hingga tahap penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data angket toleransi keberagaman siswa dengan tiga aspek indikator yakni, indikator aspek kedamaian, indikator aspek perilaku diskriminasi dilingkungan sekolah, dan indikator aspek kesadaran. Dengan indikator pertama terkait pernyataan aspek kedamaian dirincikan sebagai berikut: Tabel 2. Pernyataan Aspek Kedamaian Anterior Jurnal. Volume 24 Special Issue I. Februari 2025. Page 28 Ae 33 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Berdasarkan Aspek Kedamaian terdapat dua belas penyataan yang menjadi tolak ukur survei persepsi rekognisi toleransi keberagaman siswa, adapun data yang ditemukan dengan perincian sebagai berikut: Grafik 1. 1 Presentase Indikator Aspek Kedamaian Total keseluruhan dari dua belas aspek pernyataan memperoleh data dengan perincian, 46. 5% menyatakan selalu, 21. menyatakan sering, 14. 5% menyatakan kadang-kadang, 7% menyatakan jarang, 10. 8% menyatakan tidak pernah. Indikator kedua terkait pernyataan aspek menghargai perbedaan antar individu dirincikan sebagai berikut: Tabel 3. Pernyataan Aspek Menghargai Perbedaan dan Individu Berdasarkan Aspek Menghargai Perbedaan dan Individu terdapat dua belas penyataan yang menjadi tolak ukur survei persepsi rekognisi toleransi keberagaman siswa, adapun data yang ditemukan dengan perincian sebagai berikut: Grafik 1. 2 Presentase Indikator Aspek Menghargai Perbedaan dan Individu Total keseluruhan dari dua belas aspek pernyataan memperoleh data dengan perincian, 43. 2% menyatakan selalu, 12. menyatakan sering, 8% menyatakan kadang-kadang, 3. 9% menyatakan jarang, 32. 4% menyatakan tidak pernah. Indikator ketiga terkait pernyataan aspek kkesadaran dirincikan sebagai berikut: Tabel 4. Pernyataan Aspek Kesadaran Muhammad Azhar Nawawi. Arifin Maksum Dan Nina Nurhasanah. Persepsi Rekognisi Toleransi Keberagaman Siswa Dalam Upaya Penerapan Pendidikan Multikultural Di SDN Jatinegara Kaum 1I Pagi Berdasarkan Aspek Kesadaran terdapat lima belas penyataan yang menjadi tolak ukur survei persepsi rekognisi toleransi keberagaman siswa, adapun data yang ditemukan dengan perincian sebagai berikut: Grafik 1. 3 Presentase Indikator Aspek Kesadaran Total keseluruhan dari lima belas aspek pernyataan memperoleh data dengan perincian, 62. 8% menyatakan selalu, 15. menyatakan sering, 9. 5% menyatakan kadang-kadang, 3. 1% menyatakan jarang, 9. 4% menyatakan tidak pernah. Pembahasan Melalui penerapan pendidikan berbasis multikultural pada siswa sekolah dasar mampu mendorong terjadinya rekognisi karakter toleransi keberagaman pada siswa di sekolah dasar. Pendidikan berbasis multikultural memiliki pandangan yang mengakui fenomena sosial, politik, dan ekonomi dalam keberlangsungan sosial yang kompleks dan beragam (Plura. secara kultur (Multikultu. yang dialami oleh setiap individu. Definisi ini bertujuan untuk merefleksikan setiap individu terkait pentingnya keberagaman gender, budaya, etnisitas, ras, agama, ekonomi dan status sosial dalam proses pendidikan. Dalam konstualisasinya, pendidikan berbasis multikultural merupakan proses pembelajaran yang bersifat empowering. Pendidikan berbasis multikultural menurut Hernandez, memiliki visi pendidikan dan pembelajaran dengan seharusnya dan selayaknya dapat diberikan kepada semua siswa. Membentuk pergaulan yang sehat di lingkungan masyarakat maupun sekolah tanpa adanya perbedaan perlakuan terhadap orang lain dengan membangun pendekatan teori perkembangan anak yang disampaikan oleh Ivan Petrovich Pavlov terkait respon dan stimilus dalam lingkungan pergaulan ditopang oleh rasa malu dan rasa bersalah. Dari data angket persepsi karakter toleransi keberagam yang diperoleh dari siswa SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi, setelah penerapan pendidikan berbasis multikultural dengan menggunakan teori rekognisi dari Axel Honneth, dengan tiga indikator toleransi sebagai acuan yakni aspek kedamaian, aspek menghargai perbedaan dan individu, dan aspek kesadaran menunjuk respon persepsi yang positif dengan presentase yang signifikan dari masing-masing indikator dengan skala presentase tertinggi adalah 100%, yaitu ditinjau pada aspek kedamaian menunjukan presentase persepsi positif sebesar 5%, pada aspek menghargai perbedaan dan individu menunjukan presentase persepsi positif sebesar 43. 2%, dan pada aspek kesadaran menunjukan presentase persepsi positif sebesar 62. Maka dengan demikian berdasarkan data temuan terkait persepsi rekognisi toleransi keberagaman siswa dengan penerapan pendidikan berbasis multikultural dengan pendekatan teori Rekognisi Axel Honneth menunjukan dampak positif dan signifikan terhadap persepsi toleransi keberagaman siswa di SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi siswa terhadap keberagaman telah meningkat di SDN Jati Negara Kaum 11 Pagi, dan presentase data persepsi toleransi keberagaman siswa meningkat positif. Untuk meningkatkan rekognisi karakter toleransi keberagaman siswa, pendidikan berbasis multikultural dapat digunakan untuk menanamkan hak-hak sipil siswa dalam lingkungan sekolah. Indikator karakter toleransi mencakup aspek kedamaian, menghargai perbedaan, dan kesadaran. Rekognisi dapat digunakan apabila melalui tahap mencintai sebagai sikap yang memberikan afeksi kepada seseorang, kemudian menjadi aturan umum untuk saling menerima semua orang. Data dari penelitian ini menunjukkan sikap positif terhadap rekognisi karakter toleransi keberagaman siswa melalui pendekatan pendidikan berbasis multikultural dengan menerapan teori rekognisi dari Axel Honneth. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT tuhan yang Maha Esa yang memberikan izinnya terhadap penyelesaian penelitian ini, tak lupa juga disampaikan ucapan terima kasih kepada pihak yang terlibat dalam penelitian ini, kepada siswa, guru dan kepala sekolah di SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi yang telah mengizinkan sekolahnya menjadi tempat penelitian, juga kepada Dosen Pembimbing Bpk. Prof. Dr. Arifin Maksum. Pd dan Ibu Dr. Nina Nurhasanah. Pd, serta kampus FKIP UHAMKA dan UNJ yang telah memberikan banyak ilmu dan pengetahuan sehingga terselesaikanlah penelitian ini, semoga penelitian ini bisa memberikan dampak yang positif dan manfaat bagi pendidikan khususnya di pendidikan dasar. Anterior Jurnal. Volume 24 Special Issue I. Februari 2025. Page 28 Ae 33 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 REFERENSI