EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 Mei 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 NILAI-NILAI MULTIKULTURAL DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM NUR RAHMI. MUHAMMAD TANG Program pascasarjana pendidikan agama Islam (PAI) STAI Al-Furqan Makassar Email Nurrahmi88902@gmail. Muhammadtang. mt78@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan nilai-nilai multikultural dalam pengembangan kurikulum pendidikan. Secara umum, nilai-nilai multikultural meliputi penghargaan terhadap keragaman budaya, penerimaan terhadap perbedaan, serta promosi inklusi dan keadilan sosial. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengintegrasikan nilai-nilai multikultural dalam pengembangan kurikulum. Serta kurikulum ini berguna untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan adil. Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan atau library research dengan menggunakan analisis isi . sebagai pendekatannya. Data bersumber dari referensi kepustakaan yaitu dari buku dan Jurnal. Teknik analisis datanya menggunakan teknik analisisnya Miles dan Huberman yaitu kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai multikultural dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang keberagaman budaya, mengurangi prasangka, dan mempromosikan toleransi, saling menghormati, menjaga persatuan, saling menghargai antar etnis serta kerjasama antarbudaya . otong royon. Implikasinya yaitu institusi pendidikan perlu merevisi dan memperbarui kurikulum mereka untuk mencerminkan nilai-nilai multikultural, dengan tujuan menciptakan generasi yang lebih peka terhadap perbedaan dan siap berkontribusi dalam masyarakat global yang beragam. Kata Kunci: nilai-nilai Multikultural. Pengembangan Kurikulum ABSTRACT This study aims to analyze and describe multicultural values in curriculum development in In general, multicultural values include appreciation for cultural diversity, acceptance of differences, and the promotion of inclusion and social justice. The main objective of this research is to identify and integrate multicultural values into curriculum This curriculum is intended to create a more inclusive and equitable learning This research is a type of library research using content analysis as its approach. The data sources are literature references, namely books and journals. The data analysis technique employs the Miles and Huberman analysis method, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The results show that a curriculum that integrates multicultural values can enhance students' understanding of cultural diversity, reduce prejudice, and promote tolerance, mutual respect, unity, appreciation between ethnic groups, and intercultural cooperation . otong royon. The implication is that educational institutions need to revise and update their curricula to reflect multicultural values, with the goal of creating a generation that is more sensitive to differences and ready to contribute to a diverse global society. Keywords: multicultural values, curriculum development PENDAHULUAN Setelah Islam dianut, ajaran tersebut menyebar ke seluruh dunia dan ke berbagai negara. Islam diterima oleh banyak orang, namun bukan berarti tidak ada masalah di kalangan Belakangan ini fenomena klaim kebenaran tentang pemahaman Islam menyebar Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 Mei 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 di kalangan umat Islam (Karl Raymund Popper, 1. Hal ini terjadi pada tingkat individu, lokal dan global. Agama mengkritik pemahaman orang atau kelompok lain dan meyakini bahwa pemahaman tersebut adalah yang paling akurat. Hal ini terutama berlaku dalam Islam. Pendekatan yang ketat, tertutup, ahistoris, dipengaruhi paradigma pemahaman yang dogmatis dan normatif, dipandang sebagai bentuk pencarian kebenaran. Filsafat ilmu Popper menyatakan bahwa setiap gagasan atau konsep mempunyai kemungkinan salah atau benar dan kebenaran teoritis dapat diverifikasi melalui falsifikasi dan konfirmasi (Samsu Rizal Panggabean, 2. Saat ini di Indonesia diperlukan perubahan paradigma pendidikan karena pendidikan Islam belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang majemuk dan multikultural. Mengingat Indonesia merupakan negara dengan beragam ras, suku, bahasa, budaya dan agama, maka perlu adanya perubahan paradigma monokultural yang selama ini dianut menjadi paradigma pendidikan multikultural (Khairul Hammy, 2. Ia berperan penting dalam membentuk perilaku masyarakat terpelajar dan AumencerahkanAy negara bagi generasi muda masa depan. Oleh sebab itu, hingga saat ini pendidikan masih dianggap sebagai instrumen penting dalam mencerdaskan anak-anak Bangsa. Penerapan pengembangan pola pendidikan berbasis multikultur ini dimaksudkan agar pola pendidikan multikultural dapat memenuhi kebutuhan individu untuk hidup bersama dalam keragaman. Beberapa pendidik mengemukakan bahwa, pendidikan multukultural berarti mengajarkan keragaman kebudayaan (Abdul Khoir Hs, 2. Fungsi utama kurikulum sebagai tujuan pendidikan adalah untuk, mengarahkan seluruh kegiatan pendidikan, dan mempengaruhi hasil belajar. Pengembangan kurikulum ini sangat penting untuk dirancang dengan hati-hati dan mempertimbangkan landasan pengembangan Pengembangan kurikulum harus mempunyai fondasi yang kuat, tahan lama, dan mudah digunakan untuk peserta didik. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam memerlukan landasan yang didasarkan pada hakikat penerimaan manusia dengan keberagaman yang ada. Dalam menanamkan sikap saling menghargai, menyetarakan, dantidak membedakan satu sama lain maka diperlukan landasan multikultural untuk mengembangkan Kurikulum PAI (Nurul Aulia Verona, 2. Internalisasi nilai-nilai multikultural dengan pendekatan taksonomi Bloom mengarah pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Moh. Irmawan Jauhari, 2. Kognitif berarti mengetahui, cognition . yaitu perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Muhibbin Syah, 2. Afektif yaitu berhubungan atau berkenaan dengan emosi seperti suka, benci, simpati, antipati, dan lain sebagainya (Haidar Putra Daulay, 2. Afektif meliputi tujuan- tujuan yang berhubungan dengan sikap, nilai, perasaan, dan minat (Moh. Uzer Usman. Psikomotorik merupakan gabungan antara kognitif dan afektif. Penanaman ranah kognitif juga memiliki berdampak positif terhadap perkembangan ranah psikomotorik (Muhibbin Syah, 2. Kognitif yang baik tidak terlepas dari kecakapan psikomotor. Siswa yang berprestasi dalam kognitif pasti akan mempunyai dorongan berbuat baik . , dan kedua hal tersebut akan mengarah kepada kekuatan psikomotorik (Muhibbin Syah, 2. METODE PENELITIAN Penulisan artikel ini menggunakan metode studi kepustakaan (Library Researc. , dimana perolehan data diambil dari buku, jurnal, dan bahan bacaan yang memiliki kesinambungan dengan yang dibahas terkait nilai-nilai pengembangan kurikulum Kemudian langkah yang diambil oleh penulis yaitu melakukan analisis data dari data-data tersebut kemudian dituang ke dalam tulisan. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai- nilai Multikultural Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 Mei 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Nilai Secara umum, dalam masyarakat, konsep nilai seringkali dikaitkan dengan konsep Nilai didefinisikan sebagai hubungan antara layanan atau produk dan kesediaan seseorang untuk membayar. Barang dan kebutuhan pokok dianggap berharga dalam konteks ekonomi karena dapat memenuhi kebutuhan masyarakat (M. Misbah. Taki . Namun makna nilai dalam perdebatan ini berbeda dengan konsep ekonomi. Karena nilai adalah tentang manusia dan tindakannya. Zakiyah Darajat mengartikan nilai sebagai seperangkat keyakinan yang menjadikan seseorang sebagai pribadi dan memberikan pola berpikir, merasakan, berkomunikasi, dan berperilaku tertentu (Zakiyah Darajat, 1. Nilai merupakan disposisi yang lebih luas, lebih mendasar, dan lebih bertahan lama dibandingkan sikap pribadi. Nilai dianggap sebagai bagian pribadi seseorang dan dapat digunakan untuk memahami jati diri suatu kelompok atau bangsa. Hubungan didasarkan pada nilai evaluatif dan berkaitan dengan objek (Saifuddin Azwar, 1. Nilai menentukan sikap hubungan dapat berasal dari berbagai nilai. Pengertian nilai sebagai keyakinan atau identitas bersama diatur lebih lanjut dalam bentuk norma. Norma adalah kualitas dan nilai pribadi menurut suatu sistem nilai. Nilai-nilai bersama adalah nilai-nilai yang mengarah pada perilaku positif baik bagi pelakunya maupun orang lain. Materi hendaknya mempunyai nilai-nilai yang terpadu atau terkoneksi dengan materi lain sehingga siswa dapat menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dan mempengaruhi pola pikir dan perilakunya sendiri. Tema pendidikan agama Islam sangat penting karena menekankan pada nilai-nilai yang bersumber dari ajaran Islam. Multikultural Keberagaman budaya yang ada di Indonesia mencakup banyak perbedaan seperti budaya, adat istiadat, agama, bahasa, ras dan suku. Sederhananya, setiap manusia memiliki ciri khasnya masing-masing. Tidak ada dua orang yang sama. Hal ini menjadikan Indonesia terkenal sebagai negara majemuk. Konsep yang menggambarkan upaya yang mencerminkan beragam tujuan dan strategi dalam menanggapi dinamika etnis di dalam dan antar negara disebut multikulturalisme. Ahmad Rivai Harahap mengemukakan bahwa. Multikulturalisme maknanya merujuk pada sikap, kebijakan, dan tindakan masyarakat yang berbeda ras, budaya, dan agama, namun berupaya mengembangkan semangat persatuan bangsa dan melestarikan keberagaman tersebut (Ahmad Rivai harahap, 2. Secara linguistik, istilah multikulturalisme terdiri dari dua kata: AupluralityAy yang berarti jamak, dan AucultureAy yang berarti kebudayaan. Di sini, budaya tidak hanya berarti penerimaan terhadap identitas yang berbeda, namun juga keberagaman dalam arti luas, termasuk ideologi, politik, dan ekonomi. Keberagaman budaya secara sederhana merupakan makna dari multikulturalisme (Sulalah. Melihat definisi di atas, sepertinya semuanya memiliki tujuan yang sama. Dengan kata lain melalui pendidikan kita dapat mewujudkan bangsa yang kuat, maju, adil dan makmur tanpa adanya diskriminasi berdasarkan kebangsaan, ras atau agama. , dan budaya. Semangatnya adalah memperjuangkan kesejahteraan bersama di segala bidang berdasarkan kebanggaan dan rasa hormat terhadap negara lain. Oleh karena itu, program pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak, tanpa memandang kebangsaan, agama, budaya atau multikulturalisme, bertujuan untuk memperkuat persatuan nasional dan identitas serta citra nasional di dunia internasional. Berdasarkan definisi yang berbeda tersebut, penulis mendefinisikan multikulturalisme sebagai keragaman budaya yang mencakup nilai, institusi, adat istiadat, dan kebijakan suatu masyarakat. menemukan Multikulturalisme saat ini digunakan sebagai kebijakan dan wacana politik di banyak negara berkembang. Pengertian multikulturalisme sendiri sangat luas dan dapat merujuk pada masyarakat yang bercirikan keberagaman ras dan etnis . Untuk memahami multikulturalisme dalam konteks Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 Mei 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 pendidikan, secara etimologis terdiri dari dua istilah yaitu pendidikan dan multikulturalisme. Pendidikan adalah kegiatan sadar dan terencana yang bertujuan untuk secara aktif menciptakan lingkungan pendidikan bagi pengembangan kekuatan mental, pengendalian diri, keterampilan perilaku, kecerdasan, moral, dan kemampuan mulia siswa. Lebih lanjut, pendidikan multikultural merupakan proses yang memungkinkan masyarakat mencapai potensi maksimalnya dengan tetap menjaga keberagaman dan homogenitas yang berasal dari keberagaman budaya, ras, suku, dan agama. Oleh karena itu, dalam perspektif humanistik, pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai proses mendidik keberagaman serta sikap dan perilaku yang menghargai keberagaman (Maslikhah, 2. Nilai-nilai Multikultural Nilai Saling Menghormati Nilai saling Menghormati berarti mengakui keberadaan dan hak setiap orang dalam hidup Anda. Setiap orang mempunyai latar belakang budaya, bahasa, suku, dan agama yang berbeda-beda. Menghargai orang lain berarti mempertimbangkan perbedaan-perbedaan tersebut dan menghormati hak setiap orang untuk hidup sesuai dengan keadaannya. Nilai Toleransi Toleransi merupakan sikap saling menghormati dan menghargai meskipun dalam lingkungan yang berbeda. Toleransi juga berarti menjaga persatuan dan persaudaraan demi kehidupan yang damai dan bahagia. Dalam masyarakat multikultural, toleransi merupakan landasan penting untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan inklusif. Nilai Persatuan Nilai-nilai pemersatu tersebut menghormati keberagaman masyarakat Indonesia. Unit ini merupakan upaya untuk memajukan nasionalisme di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan menghormati keberagaman, masyarakat dapat membangun identitas nasional yang kuat dan solidaritas yang kuat antar kelompok yang berbeda. Nilai Gotong Royong Gotong Royong atau kerja sama merupakan jenis kerja sama yang berbasis pada kerja sama Artinya kita saling membantu dan bekerja sama demi kebaikan individu, kolektif, dan umum. Nilai gotong royong mencerminkan sikap jujur seluruh warga negara dan kesediaannya membantu dan mendukung sesama, apapun latar belakangnya. Nilai Solidaritas Antar Etnis Solidaritas antar etnis merupakan rasa saling percaya antara masyarakat suatu negara dengan kelompok etnis lain. Ketika klan bekerja sama, mereka menghormati dan mendukung satu sama lain. Hal ini penting untuk membangun kehidupan yang harmonis dan damai di Indonesia, dimana keberagaman etnis menjadi salah satu kekuatan negara. Beberapa indikator-indikator yang terdapat dalam nilai multikultural sekurangkurangnya yaitu sebagai berikut: Belajar dan memahami hidup dalam perbedaan, resolusi konflik dan rekonsiliasi kekerasan, membangun saling percaya . , menjunjung sikap saling menghargai . utual respec. , memelihara saling pengertian . utual uderstandin. , terbuka dalam berfikir, apresiasi dan interdepedensi (Zakiyyudin Baidhawy, 2. Dalam pandangan ataupun perspektif Islam, nilai-nilai multikultural yang berprinsip pada demokrasi, kesetaraan, keadilan, persatuan dan toleransi. Ternyata sangat kompatibel dengan pengalaman historis umat Islam dan doktrin-doktrin Islam. Adapun doktrin Islam yang mengandung prinsip demokrasi, kesetaraan, keadilan, persatuan dan toleransi antara lain, ditemukan keberadaannya Dalam Al-QurAoan surat al-Syura ayat 38 yaitu: Membahas tentang demokrasi. Terjemahnya: Audan . orang-orang yang menerima . seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka . dengan musyawarah antara mereka. dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Ay Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 Mei 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Konsep musyawarah dalam Islam didukung oleh beberapa hadist, di antaranya yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: AuBarang siapa yang ingin mengambil keputusan yang tepat hendaklah ia bermusyawarahAy (HR. At-Tirmidz. Dalam QS. al-Hadid ayat 25 yaitu: Membahas tentang kesetaraan. Terjemahnya: AuSesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca . supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, . upaya mereka mempergunakan besi it. dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong . Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. Ay Dalam QS. al-AAoraf ayat 181, yaitu: Membahas tentang keadilan Terjemahnya: Audan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu . mereka menjalankan keadilan. Ay Dalam QS. Al-Hujurat ayat 9, yaitu: Membahas tentang persatuan Terjemahnya: Audan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Ay Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, yaitu: Membahas tentang toleransi Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 Mei 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Terjemahnya: AuHai manusia. Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Ay Ayat ini menunjukkan bahwa semua manusia adalah setara dimata Allah kecuali dalam hal ketakwaan (HR. Ahma. Dari kelima ayat al- QurAoan di atas maka penulis dapat menarik benang merahnya bahwa ayat Al-QurAoan telah memberikan landasan moral dan etik bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil, baik dalam soal ucapan, sikap, maupun perbuatan. Perlakuan adil yang dimaksud di sini ialah perlakuan yang berkaitan dengan interaksi sosial antara orang muslim satu dengan orang muslim lainnya dan antara orang muslim dengan orang non-muslim. Pendidikan dan multikultural secara nyata mempunyai kaitan yang erat. Teori Pengembangan Kurikulum Kurikulum tidak boleh bersifat statis namun harus bersifat dinamis karena memperbaiki kurikulum, diperlukan pelatihan intensif bagi lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial. Oleh karena itu, perlu adanya peninjauan dan penerapan kurikulum sejalan dengan perubahan yang terjadi saat ini. Antara abad ke-15 dan ke-20, para pendidik mengembangkan kurikulum dalam empat tahap utama yaitu: desain, implementasi, evaluasi, dan revisi/adaptasi. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan nilai-nilai Al-Quran dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum untuk membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan toleran. Berikut ini beberapa ahli pendidikan yang mengemukakan teori tentang pengembangan kurikulum antara lain: John Amos Comenius . Comenius mengembangkan teori pendidikan yang disebut Didactica Magna yang berarti Aupendidikan yang baikAy. Teori ini memberikan alat untuk membantu siswa menyerap materi pembelajaran dengan lebih mudah. Ralph Tyler . Dalam bukunya. Foundations of Curriculum and Teaching. Tyler menguraikan empat tahapan utama pengembangan kurikulum: Putuskan tujuan pendidikan apa yang ingin Anda capai. Pilih metode pengajaran yang akan Anda gunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Klasifikasi materi pendidikan menurut metode pengajaran yang dipilih. Menentukan metode evaluasi untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan program pelatihan. Hilda Taba . Teori Hilda Taba serupa dengan teori Tyler, namun Taba memberikan rincian yang lebih spesifik pada setiap tahapannya untuk memudahkan pelaksanaan pengembangan kurikulum. Harold B. Alberti . Alberti menekankan pentingnya sumber daya pendidikan . ang disebutnya unit sumber day. dalam pengembangan kurikulum, berbeda dengan Tyler dan Taba yang lebih fokus pada tahapan pengembangan kurikulum. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 2 Mei 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 David Warwick . Warwick mengusulkan model desain kurikulum yang berhubungan langsung dengan materi dan tidak melenceng dari tujuan. Evelina M. Vicencio . Vicencio menyarankan empat tahap pengembangan kurikulum. Perancangan . Perencanaan . Eksekusi . Evaluasi . Menurut teori ini, hingga abad ke-20, perancangan kurikulum lebih fokus pada pengenalan materi dan metode Vicenio kepada siswa (Zainul Kiram, 2. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pengembangan kurikulum merupakan langkah terpenting menuju pendidikan inklusif dan terintegrasi. Kurikulum yang mengintegrasikan atau memasukkan nilai-nilai multikultural ke dalam proses pembelajaran membantu siswa memahami dan menghormati berbagai perbedaan bahasa, budaya, suku dan agama serta mengedepankan toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Dalam membuat kurikulum, tidak cukup hanya mengkaji nilai-nilai multikultural secara teoritis, namun juga menerapkannya secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai multikultural yang hendaknya siswa terapkan dalam kehidupan sehari-hari meliputi nilai saling menghormati, nilai toleransi, nilai kerukunan atau persatuan, nilai kerjasama atau gotong royong, dan nilai kerjasama antar suku. Pengembangan kurikulum melibatkan beberapa tahapan, antara lain perancangan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. DAFTAR PUSTAKA