Vol. No. 1, 20225, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202525818 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Peran koperasi siswa dalam pembentukan karakter jujur dan tanggung jawab di sekolah menengah pertama Tiwi Rohani1. Ponidi1 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Article Info ABSTRACT Article history: Received Apr 10 , 2025 Revised May 27th, 2025 Accepted Jun 17th, 2025 Keyword: koperasi siswa, pendidikan karakter, tanggung jawab, pembelajaran kontekstual. Pendidikan karakter menjadi dimensi krusial dalam sistem pendidikan modern, terutama dalam membentuk nilai-nilai dasar seperti kejujuran dan tanggung Salah satu wahana potensial yang dapat dimanfaatkan dalam penanaman nilai tersebut adalah koperasi siswa, yang memberi ruang praktik nyata bagi siswa dalam mengelola tanggung jawab dan membangun integritas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran koperasi siswa dalam membentuk karakter jujur dan tanggung jawab peserta didik di SMP Negeri 4 Sei Rampah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah, satu guru pembina koperasi, dan enam siswa aktif yang bertugas sebagai pengelola koperasi. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa koperasi siswa berkontribusi dalam membentuk karakter jujur melalui praktik transaksi yang transparan, pelaporan keuangan harian, serta pengembalian uang dan barang sesuai Nilai tanggung jawab terbentuk melalui pelaksanaan tugas yang konsisten, inisiatif siswa dalam bekerja tanpa diperintah, serta pembagian kerja yang mendorong kedisiplinan. Namun, penelitian juga menemukan kendala berupa terbatasnya pengawasan dari guru karena keterbatasan waktu dan sistem monitoring yang belum optimal. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa koperasi siswa tidak hanya berperan sebagai wadah kewirausahaan, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter yang efektif jika didukung sistem pembinaan dan pengawasan yang terstruktur. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan program koperasi siswa yang terintegrasi dengan pendidikan karakter, serta kontribusi teoretis dalam mendukung pendekatan experiential learning sebagai strategi pendidikan moral berbasis aktivitas nyata di sekolah menengah pertama. A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Tiwi Rohani. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Email: tiwi0309212087@uinsu. Introduction Pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif dan penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan juga bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik yang berintegritas dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, pendidikan karakter menjadi fondasi utama yang harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran di sekolah. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari Rohani. Ponidi. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. sejauh mana sekolah mampu menumbuhkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dalam diri peserta didik. Seperti diungkapkan oleh Nurgiansah . , pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, terutama kejujuran, merupakan elemen fundamental dalam membentuk warga negara yang berkarakter dan bermoral tinggi. Penanaman nilai-nilai karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan verbal atau ceramah semata, tetapi harus diberikan melalui pengalaman nyata dan kontekstual yang memungkinkan peserta didik menginternalisasi nilai-nilai tersebut secara utuh. Dalam hal ini, koperasi siswa (Kopsi. merupakan salah satu media pendidikan karakter yang potensial, karena memberi ruang bagi siswa untuk terlibat langsung dalam pengelolaan organisasi, pengambilan keputusan, hingga tanggung jawab terhadap keuangan dan pelayanan. Rizki dan Khasanah . dalam penelitiannya tentang "koperasi kejujuran numerasi" menunjukkan bahwa koperasi siswa tidak hanya membina aspek kewirausahaan, tetapi juga menjadi wahana efektif untuk menumbuhkan nilai kejujuran melalui praktik langsung dalam kegiatan ekonomi sederhana. Koperasi siswa bukan hanya berfungsi sebagai tempat berlatih kewirausahaan, tetapi juga merupakan ruang pembelajaran sosial yang efektif. Di dalam koperasi, siswa belajar mengelola keuangan, melayani pelanggan, bekerja sama dalam tim, hingga bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Nilai kejujuran tercermin dari sikap siswa dalam menyampaikan laporan transaksi secara transparan dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Musbikin . , kejujuran merupakan keselarasan antara hati, ucapan, dan perbuatan, yang menjadi dasar kepercayaan sosial. Sementara itu, tanggung jawab tampak dalam kedisiplinan siswa menjalankan tugas koperasi, menjaga kerapian toko, serta menyelesaikan tugas harian dengan penuh komitmen. Sudrajat . menyatakan bahwa tanggung jawab merupakan karakter moral yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian sosial peserta didik. Penelitian oleh Arifatin . menunjukkan bahwa melalui koperasi siswa, nilai kejujuran dan tanggung jawab dapat ditanamkan secara bertahap dan berkelanjutan. Keterlibatan siswa secara langsung dalam pengelolaan koperasi memperkuat karakter mereka melalui pembiasaan, bukan sekadar instruksi verbal. Farida dan Rohani . juga menemukan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk koperasi siswa, memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter tanggung jawab. Dengan demikian, koperasi siswa tidak sekadar sebagai alat belajar ekonomi, tetapi juga sebagai media pembentukan moral yang hidup dan kontekstual. Namun, dalam praktiknya, potensi koperasi siswa dalam pendidikan karakter masih belum sepenuhnya Banyak koperasi hanya difungsikan sebagai unit usaha tanpa integrasi dengan program pendidikan karakter. Di SMP Negeri 4 Sei Rampah, koperasi siswa sepenuhnya dikelola oleh peserta didik tanpa pengawasan teknologi seperti CCTV atau pendampingan guru secara penuh. Meski demikian, koperasi tetap berjalan aktif dan tertib. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana aktivitas koperasi siswa mampu membentuk karakter jujur dan tanggung jawab secara mandiri tanpa intervensi intensif dari guru? Apakah pembelajaran karakter melalui pengalaman langsung ini cukup efektif untuk membentuk nilai moral secara internal pada siswa? Sayangnya, kajian-kajian terdahulu lebih banyak menyoroti koperasi siswa dari perspektif kewirausahaan (Nuryantini & Mirlana, n. Mawarzani & Adipta, 2019. Kurniawan, 2. , tanpa mengelaborasi secara spesifik peran koperasi dalam pembentukan karakter. Beberapa penelitian memang menyinggung nilai kejujuran (Utomo et al. , 2022. Restuningtyas & Utomo, 2. atau tanggung jawab (Rosanti et al. , 2024. Nawawi et al. , namun belum banyak yang mengkaji keduanya secara simultan dalam konteks koperasi siswa. Selain itu, banyak studi sebelumnya masih bersifat deskriptif dan tidak mengaitkan temuan lapangan dengan penguatan teori pendidikan karakter secara eksplisit. Padahal, untuk menciptakan dampak akademik dan praktis yang signifikan, diperlukan pendekatan analitis yang mampu menjelaskan hubungan antara aktivitas koperasi dan pembentukan karakter siswa secara komprehensif. Dalam konteks ini, koperasi siswa sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan nilai-nilai karakter menjadi perilaku nyata. Seperti disampaikan oleh Triwiyanto . , pembelajaran yang bermakna harus mampu menghubungkan pengalaman langsung peserta didik dengan tujuan Oleh karena itu, integrasi pendidikan karakter melalui koperasi siswa perlu diperkuat melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, dan kebijakan sekolah. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: "Bagaimana peran koperasi siswa dalam membentuk karakter jujur dan tanggung jawab peserta didik di SMP Negeri 4 Sei Rampah?" Rumusan ini penting karena menyentuh dua nilai karakter yang sangat mendasar dalam kehidupan sosial sekaligus menyoroti konteks yang belum banyak dikaji secara mendalam dalam literatur sebelumnya. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Peran koperasi siswa dalam pembentukan karakterA Sejalan dengan rumusan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam peran koperasi siswa dalam membentuk karakter jujur dan tanggung jawab peserta didik di SMP Negeri 4 Sei Rampah, serta mengidentifikasi bagaimana aktivitas koperasi berfungsi sebagai media pembelajaran karakter yang kontekstual dan bermakna. Diharapkan, hasil penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan pendekatan pendidikan karakter berbasis pengalaman, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis bagi sekolah dalam mengembangkan program koperasi siswa yang edukatif, terarah, dan berdampak nyata terhadap pembentukan kepribadian peserta didik. Method Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus intrinsik. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian diarahkan pada pemahaman mendalam mengenai dinamika pembentukan karakter jujur dan tanggung jawab siswa melalui aktivitas koperasi siswa di SMP Negeri 4 Sei Rampah. Studi kasus intrinsik memungkinkan peneliti mengeksplorasi secara detail konteks spesifik yang menjadi pusat perhatian tanpa dimaksudkan untuk digeneralisasi secara luas, namun memberikan pemahaman kontekstual yang bermakna dan kaya terhadap fenomena yang diteliti. Lokasi penelitian dipilih secara purposif, dengan mempertimbangkan bahwa SMP Negeri 4 Sei Rampah memiliki unit koperasi siswa yang aktif, melibatkan langsung siswa dalam pengelolaan harian, dan telah menjadi bagian dari praktik pembelajaran karakter. Kegiatan koperasi yang berjalan cukup stabil dan mendapat dukungan dari pihak sekolah menjadikan lokasi ini relevan sebagai locus penelitian. Dengan demikian, pemilihan lokasi ini bukan bersifat kebetulan, tetapi karena adanya fenomena yang selaras dengan fokus studi dan memungkinkan peneliti mengkaji proses pembentukan karakter secara empiris. Informan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria yang ditentukan sebelumnya. Informan utama adalah kepala sekolah yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang kebijakan dan pengelolaan koperasi di sekolah. Informan kunci adalah siswa yang secara aktif bertugas di koperasi siswa, minimal selama satu semester berturut-turut, dan telah mengikuti pelatihan atau pengarahan. Sementara itu, informan pendukung adalah guru pembina koperasi yang terlibat langsung dalam supervisi dan pembinaan siswa. Pemilihan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa ketiga kelompok informan tersebut memiliki informasi yang kredibel, relevan, dan beragam sudut pandang terhadap objek kajian. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara yang disusun berdasarkan indikator karakter jujur dan tanggung jawab, yang merujuk pada teori pendidikan karakter dari Lickona dan Thomas . serta kebijakan pendidikan karakter nasional. Pedoman wawancara terdiri dari 68 butir pertanyaan, yang terbagi ke dalam tiga kelompok sesuai peran informan: 23 butir untuk kepala sekolah, 25 butir untuk siswa koperasi, dan 20 butir untuk guru pembimbing. Pertanyaan dirancang untuk mengeksplorasi persepsi, pengalaman, praktik, serta tantangan dalam implementasi nilai karakter dalam aktivitas koperasi siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yakni observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap aktivitas siswa saat menjalankan tugas di koperasi, interaksi mereka dengan pelanggan . esama sisw. , serta keterlibatan guru dalam pembinaan. Wawancara dilakukan secara langsung dengan semua informan, didokumentasikan melalui rekaman suara dan catatan Dokumentasi yang dikumpulkan meliputi foto kegiatan, struktur organisasi koperasi siswa, buku kas harian, serta laporan tahunan koperasi. Ketiga sumber data ini diintegrasikan secara triangulatif, baik melalui konfirmasi silang antar sumber maupun pencocokan temuan observasi dengan hasil wawancara dan dokumen tertulis, guna memastikan konsistensi serta meningkatkan validitas data. Validitas data diuji melalui teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari kepala sekolah, siswa, dan guru pembina. Sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain itu, teknik member check juga diterapkan dengan cara mengonfirmasi hasil sementara kepada informan untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan makna yang dimaksudkan oleh partisipan. Analisis data dilakukan mengikuti model interaktif Miles dan Huberman . alam Sugiyono, 2. , yang mencakup tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan secara terus-menerus sejak awal pengumpulan data dengan memilah informasi relevan sesuai fokus Penyajian data disusun dalam bentuk narasi tematik dan matriks kategorisasi, yang memungkinkan peneliti melihat pola-pola hubungan antarkategori. Kesimpulan ditarik secara induktif melalui pengamatan berulang terhadap kecenderungan data serta validasi silang dengan informan. Tahapan ini dilakukan secara iteratif untuk menjaga akurasi dan keutuhan makna. Aspek etika penelitian juga menjadi perhatian penting. Sebelum pengumpulan data, peneliti menyampaikan penjelasan tujuan dan proses penelitian kepada semua informan, serta memperoleh persetujuan partisipasi Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Rohani. Ponidi. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. secara sadar . nformed consen. Peneliti menjamin kerahasiaan identitas partisipan, menyamarkan nama-nama informan, serta menjaga keamanan data yang diperoleh selama dan setelah proses penelitian. Dengan demikian, penelitian ini dilakukan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan prinsip etika penelitian sosial. Results and Discussions Peran Koperasi Siswa dalam Membentuk Karakter Jujur Berdasarkan Temuan penelitian menunjukkan bahwa koperasi siswa di SMP Negeri 4 Sei Rampah berperan signifikan dalam membentuk karakter kejujuran siswa melalui praktik langsung. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, siswa yang bertugas di koperasi secara aktif melakukan pencatatan keuangan, melaporkan hasil transaksi harian, dan menjaga integritas dalam pengelolaan barang dan uang. Misalnya, seorang siswa mengatakan "Kalau ada kelebihan uang dari pembeli, langsung saya laporkan. Kalau ada yang lupa dicatat, kami rapat dan periksa bersama. Ay (Informan Kunci, 2. Aktivitas ini secara langsung merefleksikan kejujuran dalam tindakan nyata. Menurut Musbikin . , kejujuran merupakan kesesuaian antara ucapan, tindakan, dan niat hati. Dalam konteks koperasi siswa, kejujuran tidak hanya menjadi nilai abstrak, tetapi juga prinsip kerja yang harus dipegang dalam kegiatan ekonomi kecil ini. Kepercayaan guru kepada siswa menjadi motivasi moral, bukan peluang penyimpangan. Tabel 1 indikator kejujuran yang ditemukan dalam praktik koperasi siswa Indikator Kejujuran Berkata dan mencatat dengan benar Temuan Lapangan Siswa mencatat semua transaksi sesuai jumlah dan melaporkannya setiap hari Mengakui kesalahan Jika terdapat kesalahan pencatatan, siswa melakukan klarifikasi dalam rapat koperasi Tidak mengambil milik orang lain Tidak ditemukan kasus kehilangan barang atau uang selama observasi berlangsung Selanjutnya, guru pembina secara berkala memberikan pembinaan moral setiap minggu. Mereka tidak hanya memeriksa pembukuan, tetapi juga memberikan pemahaman tentang nilai kejujuran dalam kehidupan seharihari. Hal ini selaras dengan temuan Utomo . yang menegaskan bahwa koperasi siswa menjadi ruang transformatif untuk penguatan nilai karakter melalui pembiasaan konkret. Gambar 1 Kegiatan Jual Beli Koperasi Peran Koperasi Siswa dalam Membentuk Karakter Tanggung Jawab Berdasarkan Selain kejujuran, karakter tanggung jawab juga terbentuk secara signifikan melalui aktivitas koperasi siswa. Berdasarkan observasi dan wawancara, siswa yang bertugas tidak hanya mengelola penjualan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi operasional harian koperasi. Mereka hadir tepat waktu, mengatur stok, dan menyusun laporan keuangan tanpa harus diperintah. Tanggung jawab dalam konteks koperasi tidak hanya individual, tetapi juga kolektif. Beberapa siswa bahkan menunjukkan sikap solidaritas dengan menanggung kesalahan bersama dan membantu rekan yang berhalangan Hal ini sejalan dengan konsep tanggung jawab menurut Lickona . , yang melibatkan komitmen jangka panjang, kepedulian sosial, dan kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap tindakan. Dalam wawancara, salah satu guru menyatakan AuKami beri mereka kepercayaan penuh, dan anak-anak membuktikan mereka bisa menjaga kepercayaan itu. Mereka belajar tanggung jawab secara alami. Ay (Informan Pendukung, 2. Penemuan ini memperkuat hasil penelitian Nuryantini . yang menunjukkan bahwa koperasi siswa bukan hanya arena bisnis, melainkan sarana pembentukan kepribadian melalui kerja nyata. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Peran koperasi siswa dalam pembentukan karakterA Tabel 2 indikator tanggung jawab yang teridentifikasi Indikator Tanggung Jawab Menyelesaikan tugas tepat waktu Berinisiatif menjalankan tugas Menjaga menanggung kesalahan Temuan Lapangan Siswa datang sesuai jadwal, membuka dan menutup koperasi sesuai SOP Siswa menyusun ulang barang tanpa diperintah, mencatat stok kosong, dan melaporkannya Siswa menunjukkan sikap kolektif ketika terjadi kesalahan, dan tidak menyalahkan orang lain Tantangan dalam Pengawasan Pembentukan Karakter Walaupun koperasi siswa menunjukkan kontribusi positif dalam pembentukan karakter, penelitian ini juga menemukan tantangan signifikan, terutama dalam aspek pengawasan. Keterbatasan waktu guru pembina menjadi kendala utama. Guru harus membagi waktu antara tugas mengajar dan membimbing koperasi, sehingga tidak dapat melakukan pengawasan langsung secara konsisten. AuKadang saya tidak bisa awasi langsung karena jadwal mengajar. Kami percaya kepada anak-anak, tapi tetap harus ada sistem kontrol. Ay (Informan Utama, 2. Kondisi ini berdampak pada potensi kurangnya pengawasan real-time, sehingga rawan terjadi kesalahan pencatatan atau kelalaian. Untuk mengatasi hal ini, guru menerapkan sistem pembagian tugas, rotasi tanggung jawab, laporan harian, dan evaluasi berkala. Selain itu, pemberian reward pada akhir semester juga menjadi motivasi eksternal agar siswa menjaga konsistensi perilaku jujur dan bertanggung jawab. Tabel 3 Tantangan Tantangan Pengawasan Pembentukan Karakter Aspek Tantangan Analisis Keterbatasan waktu guru Guru tidak bisa selalu mengawasi langsung karena tanggung jawab mengajar Jumlah pembina terbatas Hanya satu atau dua guru aktif membina koperasi siswa Sistem rotasi siswa Ketika ada siswa berhalangan, harus ada rotasi cepat tanpa mengganggu kelas Risiko kelalaian transaksi Perlu sistem pengecekan silang secara rutin dan dokumentasi transparan Teori pengawasan organisasi menurut Putri Ramasari & Syajida . menekankan pentingnya kontrol internal dan evaluasi berkala sebagai bagian dari menjaga kualitas sistem kerja. Maka dalam konteks koperasi siswa, sistem pengawasan berbasis kepercayaan perlu diimbangi dengan sistem dokumentasi yang kuat dan Kontribusi Teoretis dan Praktis Penelitian ini memperluas kajian tentang pendidikan karakter dengan menampilkan integrasi antara nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam satu aktivitas nyata. Berbeda dari penelitian Utomo . yang hanya menyoroti kejujuran, atau Nuryantini . yang menekankan tanggung jawab dalam kewirausahaan, studi ini memaparkan bagaimana dua nilai tersebut dapat tumbuh secara bersamaan dalam konteks koperasi siswa di jenjang pendidikan menengah pertama. Secara teoretis, temuan ini menguatkan konsep experiential learning dan situated moral learning, yaitu bahwa nilai-nilai karakter dapat ditumbuhkan melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas sosial bermakna. Secara praktis, penelitian ini memberikan gambaran konkret bagi sekolah lain tentang bagaimana merancang koperasi siswa tidak hanya sebagai kegiatan ekonomi, tetapi sebagai instrumen pendidikan karakter yang efektif. Conclusions Berdasarkan Penelitian ini menyimpulkan bahwa koperasi siswa di SMP Negeri 4 Sei Rampah memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter jujur dan tanggung jawab peserta didik. Keterlibatan langsung siswa dalam menjalankan aktivitas koperasiAimulai dari pencatatan transaksi, pelaporan hasil penjualan, hingga pengelolaan stok barangAitelah menjadi sarana nyata bagi siswa untuk membiasakan diri bersikap jujur, bertindak transparan, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban. Kejujuran siswa tercermin dari konsistensi mereka dalam mencatat dan menyampaikan hasil transaksi tanpa manipulasi, sementara sikap tanggung jawab terwujud dari kedisiplinan, inisiatif, dan komitmen mereka dalam melaksanakan tugas koperasi secara mandiri tanpa harus diingatkan. Meskipun terdapat tantangan berupa keterbatasan waktu guru pembimbing dan minimnya pengawasan langsung, sekolah berhasil membentuk sistem pendampingan yang memadai melalui evaluasi berkala dan pemberian insentif, sehingga aktivitas koperasi tetap berjalan selaras dengan tujuan pendidikan karakter. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Rohani. Ponidi. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Hasil penelitian ini memberikan implikasi teoritis yang penting terhadap pengembangan konsep pendidikan Temuan memperkuat pendekatan experiential learning dan situated moral learning, yang menekankan bahwa pembentukan nilai-nilai moral tidak cukup diajarkan secara teoritis, tetapi harus dialami langsung dalam konteks sosial yang nyata dan bermakna. Dalam hal ini, koperasi siswa berperan sebagai laboratorium sosial yang memungkinkan internalisasi nilai karakter melalui interaksi dan tanggung jawab sehari-hari. Implikasi praktis dari penelitian ini menunjukkan bahwa koperasi siswa tidak hanya dapat berfungsi sebagai unit usaha sekolah, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran karakter yang efektif. Oleh karena itu, sekolah-sekolah lain dapat mempertimbangkan penguatan peran koperasi dengan menambahkan sistem rotasi kerja yang terstruktur, pembimbingan karakter secara berkala, serta ruang refleksi siswa terhadap nilai-nilai moral yang dipraktikkan selama menjalankan koperasi. Di sisi lain, temuan ini juga mengandung implikasi kebijakan, khususnya dalam pengelolaan koperasi berbasis pendidikan karakter. Sekolah disarankan untuk menyusun kebijakan internal yang mendukung pengembangan koperasi siswa tidak hanya dari segi manajemen ekonomi, tetapi juga pembinaan moral. Hal ini dapat dilakukan melalui alokasi waktu khusus bagi guru pembina, pembentukan struktur organisasi koperasi yang melibatkan siswa secara aktif, serta pemanfaatan teknologi seperti aplikasi pencatatan atau pengawasan digital sederhana. Program pemberian penghargaan atau insentif juga terbukti dapat menjadi motivasi positif bagi siswa untuk terus menjunjung nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Namun demikian, perlu disadari bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan, terutama karena ruang lingkupnya yang sempitAiberfokus hanya pada satu sekolah dengan jumlah informan terbatas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk dilakukan pada lebih banyak sekolah dengan beragam karakteristik, agar hasilnya dapat digeneralisasikan secara lebih luas. Penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi strategi peningkatan efektivitas pengawasan dalam pengelolaan koperasi siswa, termasuk pengaruh penggunaan teknologi dan pelibatan lebih banyak aktor sekolah dalam proses pembinaan karakter. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan teori pendidikan karakter, perancangan program koperasi siswa yang berbasis nilai moral, serta pembuatan kebijakan sekolah yang mendukung pembentukan karakter siswa secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan. References