SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 MAHASISWA SEBAGAI PRESSURE GROUP : FENOMENA SILENT MAJORITY DI ERA REFORMASI Aip Syarifudin Dosen tetap Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Muhammadiyah Cirebon. Jl. Tuparev No. 70 Cirebon. Telp/Fax: 0231-209806 syarifudin@umc. Abstrak Dalam sejarah perkembangannya. Negara Republik Indonesia tidak luput dari peran serta mahasiswa sebagai salah satu bagian masyarakat yang dianggap memiliki kemampuan lebih dalam mengawal terselenggaranya pemerintahan. Mahasiswa dengan fungsinya sebagai agent of change dan agent of social control harus mampu memberikan kontribusi yang nyata bagi pemerintahan. Namun ada fenomena yang menarik saat ini, kebanyakan mahasiswa sudah tidak mampu lagi berada pada posisi pemerhati dan pengaplikasi pembangunan masyarakat. Mahasiswa dengan dengan berbagai macam kesibukannya seperti sengaja memposisikan diri atau diposisikan sebagai penonton saja tanpa memberikan masukan dan kritik yang Situasi semacam ini bukanlah hal yang serta merta terjadi, tentu ada upaya yang mengarahkan agar mahasiswa tidak terlalu kritis dalam menyikapi roda pemerinntahan. Secara internal kemahasiswaan itu sendiri saat ini mahasiswa terlalu banyak disibukan dengan aktifitas lain yang tidak menopang pengembangan dirinya sebagai mahasiswa yang produktif, sehingga disebutlah sebagai silent majority serta tidak mampu menjadi pressure Keyword : Silent Majority. Pressure Group Disisi lain, pemerintahan sebagai kajian ilmiah pun mengalami Sebelumnya kajian tersebut hanya memfokuskan pada State (Negar. untuk melihat fenomena pemerintahan. Kemudian Governance. Secara keilmuan pun beralih dari paradigma Government to Governance yakni pembahasan pemerintahan dengan melihat tiga aras sektor yakni State. Privat, dan Civil Society (Pierre dan peters dalam Cornelis lay dan wawan masudi. JSP), sehingga dianggap masalah-masalah Negara karena pembahasannya menyeluruh dari tiga Dari fakta hasil analisis World Bank 1989 dan pergeseran kajian pemerintahan secara ilmiah Government Governance di tahun 1990an, maka Pendahuluan Kemerosotan negara-negara Afrika dalam pembangunan menjadi World Bank yang membuahkan laporan berjudul AuSub Saharan Africa: From Crisis To Sustainable GrowthAy Tahun 1989. Analisis World Bank saat itu terpuruknya negara-negara Afrika hegemoni kekuatan politik domestik dengan kata lain kekuatan negara. Hal ini mendorong World Bank merekomendasikan gagasan untuk melibatkan sektor lain dalam proses pembangunan yakni sektor Privat guna memajukan ekonomi, sektor Civil Society dimaksudkan untuk mengkontrol kekuatan Negara serta untuk melimitasi keterlibatan negara . brahamsen 2000 dalam masudi. JSP). SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 kelompok penekan Negara (Pressure Grou. Meskipun demikian tentulah pressure group adalah salah satu entitas yang berada di level masyarakat (Civil Societ. Setiap faham betul betapa pentingnya kekuatan di level Civil Society. Terlebih negara kita sendiri yang telah memuntahkan rezim otoritarian dan menelan rezim demokrasi kini, maka pertanyaannya adalah seberapa besarkah peran entitas Civil Society? Tentunya jika mahasiswa telah disebutkan sebagai entitas yang berada di level Civil Society yakni sebagai kelompok penekan (Pressure Grou. , maka seberapa pengaruhkah mahasiswa bagi negara? Dalam menjawab hal tersebut, penulis menggunakan sudut pandang Negara sebagai dasar acuan. Adapun teori yang digunakan yaitu teori tentang Negara yang di dalamnya mencakup penjelasan tentang posisi dan keharusan entitas Civil Society khusunya dalam interaksinya dengan Hingga saat ini, terdapat tiga teori tentang Negara, pertama yaitu teori Trias Politica yang digagas oleh Montesquieu. Teori kedua yaitu teori Sistem Politik dari David Easton, dan yang ketiga adalah Teori Bola Lampu dari Gabriel A. Almond. Sedangkan pembahasan topic dalam tulisan ini penulis menggunakan kacamata teori Sistem Politik David Easton. Hal ini dalam teori Sistem Politik Easton. Civil Society mendapat porsi pembahasan yang cukup dan didalamnya juga terdapat pembahasan tentang interaksi level Civil Society dalam proses politik. Easton memaparkan bahwa . istem politi. berjalan dengan mekanisme input politik, proses bisa ditarik benang merah dalam fokus tulisan ini adalah menguatnya kekuatan masyarakat . ivil societ. Hal ini juga dipengaruhi oleh paham demokrasi yang telah tersebar di pelbagai belahan dunia. Begitupun Indonesia, sebagai paham bernegara hadir di kekuatan Mahasiswa dan rakyat . eople powe. menyeru turunnya aktor pemegang rezim pada saat itu. Dalam fenomena ini kekuatan Civil Society menguat bukan hanya untuk melimitasi kekuasaan Negara tapi bahkan untuk menggergaji rezim. Pressure Group pada Negara Tulisan mengelaborasi satu dari tiga sector Governance yaitu Civil Society dalam kaitannya dengan pembangunan Negara. Terlebih di Indonesia yang kekuatan masyarakat memiliki peran sentral guna mengimbangi maupun menjalankan fungsi check and balances system. Adapun objek yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Namun membahas objek tersebut, penulis akan menekankan bahwa di level Civil Society terjadi pengorganisasian Di sinilah terkadang timbul kekeliruan, asumsi umum lebih mengatakan setiap organisasi di level masyarakat sudah pasti Civil Society Organization (CSO), padahal secara bangunan teoritis tidaklah Mahasiswa sebagai objek telaah dalam tulisan ini bukan merupakan CSO, karena statusnya agen perubahan atau agent of change, mahasiswa dan fungsinya lebih tepat SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 politik, output politik dan feedback10. Adapun input politik tersebut adalah . pada negara. Input politik sendiri bisa berupa tuntutan . Setelah masuk dari input politik tersebut . upport or deman. maka akan berlanjut pada tahap proses politik. Disinilah wilayahnya lembaga-lembaga memproses aspirasi dari masyarakat. Kemudian tahap berikutnya adalah output politik yakni hasil dari proses politik tersebut yang berupa keputusan maupun Proses berdampak langsung pada masyarakat sehingga menimbulkan feedback atau umpan balik dan mempengaruhi bagian awal dari skema sistem politik yaitu input. Lantas bagimanakah dengan Pressure Group? Sebelum mengulas kontribusi mahasiswa pada Negara, maka diperlukan pemahaman historis mengenai pergerakan mahasiswa yang telah mempengaruhi sistem politik Indonesia di era sebelum Dalam Indonesia, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan bernegara. Menurut Adi Suryadi Culla11 sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa senantiasa berdiri pada garda terdepan dalam setiap perubahan sejarah yang terjadi di Indonesia, bahkan karena peran kesejarahannya tersebut mahasiswa diperibahasakan sebagai generasi patah tumbuh hilang berganti, tentunya kita tidak akan lupa bagaimana peranan Budi Utomosebuah STOVIA mempelopori perjuangan merebut kemerdekaan melalui jalur organisasi pada tahun 1908, kepeloporannya ini dicatat sebagai pionir serta menjadi perjuangan kemerdekaan, dari bentuk tradisional perlawanan fisik beralih ke bentuk pergerakan organisasi Pada tahun 1920-an, para pemuda kembali mengukir sejarah. Para pemuda yang tersebar dalam kemudian bersatu dalam tekad yang tertuang dalam ikrar sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Ikrar tersebut menyatukan seluruh pemuda lewat satu tanah air, satu bangsa dan satu Sejarah Pergerakan Mahasiswa sebagai Pressure Group Dari skema sistem politik ala Easton tersebut, terlihat bahwa entitas yang berada di level Civil Society termasuk kelompok Pressure Group. Pressure Group tersebut memiliki andil dalam memberikan masukan yang dihasilkan dari reaksi yang keputusan atau tindakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berupa kebijakan publik. Kemudian mereka akan menentukan sikap . atau memberikan tuntutan . 10Novi hendra dalam Whisnu Sentosa Makalah AuHMI Berinsan Cita Bukan Pencari Kuasa : Suatu Studi Pada input Politik Status dan Fungsional HMIAy. Makalah pernah disajikan dalam lomba LKTI Badko HMI Jawa Barat bulan Maret 11 Adi Suryadi Culla. Patah Tumbuh Hilang Berganti : Sketsa Pergolakan Mahasiswa Dalam Politik dan Sejarah Indonesia 1980-1998. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1. Hal SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 Selanjutnya, pada peristiwa deklarasi kemerdekaan pada Agustus Diraihnya Indonesia tidak terlepas dari peran para pemuda dan mahasiswa yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta melakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia setelah kekalahan Jepang dari tentara sekutu. Peranan mahasiswa pasca kemerdekaan terus Salah satu peran sosial kemerdekan adalah saat lahirnya gerakan mahasiswa di tahun 1966. Menurut Khatimi Bahri12 gerakan mahasiswa 1966 dianggap sebagai agen perubahan sosial dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia. dianggap mampu mengartikulasi secara tepat apa yang menjadi kegelisahan dan tuntutan rakyat ketika itu, melalui Tritura (Tiga Tuntutan Rakya. mendapat dukungan luas masyarakat untuk menggerakan perubahan yang berujung dengan kejatuhan penguasa Orde Lama. Masuknya era Orde Baru tidak terlepas dari peran generasi mahasiswa 1966 yang didukung oleh Militer dalam setiap aksinya. Menurut Eep Saefulloh Fattah13 konsolidasi awal pemerintahaan Orde Baru menjadi masa bulan madu antara militer dengan mahasiswa, dalam masa tersebut tumbuh harapan besar ditengah mahasiswa bahwa penguasa baru ini akan bersikap dibandingkan penguasa sebelumnya (Orde Lam. Tetapi masa bulan madu itu kemudian dengan cepat berubah memasuki tahun 1970-an, terutama semenjak tahun 1971. Pada masa itu, mulai bertumbuhan komunitas-komunitas kritis ditengah mahasiswa, sehingga mengakibatkan kepentingan perubahan yang dicitacitakan kepentingan yang dimiliki oleh negara dalam meletakan dasar-dasar modernisasi pembangunan secara Selanjutnya kecewa dari dalam diri mahasiswa terhadap kebijakan pembangunan yang ditempuh oleh pemerintah Orde Baru. Mahasiswa menggelar berbagai aksi demonstrasi di berbagai kampus sebagai bentuk Puncaknya terjadi pada 15 januari 1974 yang dimotori oleh Dewan Mahasiswa (DM) UI, ketika kedatangan Perdana Menteri (PM) Tanaka, demonstrasi besar-besaran yang membakar kota Jakarta. Perlawanan mahasiswa mencapai puncaknya pada peristiwa malari. Adapun aksi mahasiswa tersebut memiliki tujuan untuk memperingatkan pemerintah pembangunan yang diambil kepada Rezim Orde baru menamakan diri sebagai rezim demokrasi Namun nyatanya Orde Baru yang harapkan menjadi angin segar selepas keluar dari Orde lama berubah bak menjadi Monster. Rezim pada saat itu mengeras, menjadi Disaat yang sama keluarlah ketentuan yuridis yang sangat berpengaruh pada kehidupan gerakan mahasiswa yakni kebijakan NKKBKK. 12 Khatimi Bahri. Fase-Fase Gerakan Mahasiswa dalam Fahruz Zaman Fadhly . Mahasiswa Menggugat : Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998. (Bandung : Pustaka Hidayah. Hal 56 13 Eep Saefulloh Fattah. Konflik. Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru : Manajemen Konflik Malari. Petisi 50 dan Tanjung Priok. (Jakarta : Burung Merak Press, 2. Hal 116-117. SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 efek negatif dari kebebasan itu Kedua, munculnya wajah gerakan yang parsial atau terpecah, tidak terintegrasikan. Gerakan silent majority saat ini memang sangat terlihat di era reformasi dimana demokrasi kini sedang dijunjung. Mahasiswa pada umumnya kini tidak melakukan peranannya seperti dalam skema sistem politik David Easton sebagai Pressure Group. Hal ini terlihat dari realitas dua variable yang cukup Pada variabel pertama misalnya, menjamurnya ideologi sebagainya itu menjadi nyata ada pada mahasiswa jaman sekarang. Ini menjadi tanda sekaligus memudarnya tradisi religiusitas dalam kultur berorganisasi di kalangan mahasiswa. Pada variabel kedua, terjadi gerakan yang parsial. Tentulah kita telah mencerna semua, bahwa mahasiswa terlalu disibukkan oleh kegiatan politik internal organisasi. Saling rebut kekuasaan, akhirnya terjadi faksionalisasi . Disaat itu pula lah gerakan mahasiswa menjadi gerakan yang terdiam . ilent majorit. Karena terkonsolidasikan lantaran terus sibuk dengan fluktuasi konflik politik internal organisasi sendiri. Pada akhir episodenya, rezim Orde baru pun tumbang oleh kekuatan kelompok mahasiswa. Mahasiswa menuntut kebebasan yang pemerintahan Orde baru. 1988 adalah menjadi tahun puncak berhentinya rezim ini sekaligus menjadi sejarah gerakan mahasiswa terbesar saat ini. The Silent Majority Nur Aida Mardhalita . menyebutkan bahwa ada kesamaan kontemporer di era demokrasi dengan gerakan Mahasiswa tahun 80an. Secara menyeluruh dua gerakan di zaman yang berbeda ini beresensikan AuSilent MajorityAy. Bagi Mardhalita jika pada Orde baru menjadi gerakan yang terdiam lantaran kebijakan negara seperti NKK-BKK, namun pada era kontemporer justru gerakan mahasiswa terdiam karena kebebasan itu sendiri. Perlu disadari era demokrasi tentulah sangat erat dengan hawa Disaat yang sama bisa konsumerisme, hedonisme dan lainlain. Tentunya berpengaruh pada kondisi gaya kehidupan mahasiswa, khususnya Kerana disaat itu pula tidak akan pernah terjadi integrasi mahasiswa di tahun 1966, ataupun menjadikan rezim sebagai Common Enemy di tahun 1998. Gerakan hari ini lebih cenderung bersifat parsial, kerana berjalan masing-masing. Berdasarkan Mardhalita, gerakan silent majority dilihat dengan dua variabel. Pertama, materialisme, individualisme sebagai Epilog : Hidupkan Mahasiswa. Selamatkan Indonesia Masukan yang baik akan menjadi keluaran yang baik. Pun begitulah dalam alur bernegara. Jika Easton dalam paparan sebelumnya menyebutkan bahwa dalam suatu negara terjadi pola alur input politik, proses politik, output politik dan Maka akan juga terjadi logika, masukan yang baik pada negara akan menjadi keluaran yang baik pada Negara. Input politik yang SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 baik maka akan menjadi kebijakan publik yang baik. Jika kita sudah mensadari bahwa mahasiswa adalah entitas pressure group yang berada di level Civil Society. Dalam hal ini secara fungsi berinteraksi pada negara dan memberikan masukan pada negara, maka logika umum pun berlaku. Jangan-jangan krisisnya kebijakan publik negara yang populis adalah karena krisis pula pada input politik dari Civil Society. Maka dari situlah logika mahasiswa harus berbicara. Menjaga Indonesia maka harus lebih dulu menjaga mahasiswa. Jika mahasiswa terjaga maka input politik yang di masukan pada proses politik negara akan mengeluarkan kebijakan publik yang populis. Disisi yang lain mahasiswa yang menelorkan aktoraktor hasil didikannya akan menjadi leader yang baik bagi negara karena terdidik dengan baik saat menjadi Dengan penulis dalam menjawab fenomena mahasiswa ini sebagai solusinya Pertama, kembali pada kederisasi mahasiswa berkualitas secara intelektual dan kritis secara faktual. Dalam konteks ini dunia Kemahasiswaan harus Baik secara akademik profesional maupun secara mental Kedua, memilah dan memilih isu strategis. Hal yang dipandang masalah publik dan mandasar sangatlah relevan mahasiswa kaji. Dengan demikian hasil analisis mahasiswa akan menjadi manfaat bagi masyarakat umum. Masih banyak sekali isu umum yang perlu di kaji oleh organisasi mahasiswa yang notabene akan memberikan input politik pada Negara. Kemudian salah satu hal yang sangat urgent dan membutuhkan mewujudkan good goverment adalah bersih, mewarisi azas luber. Maka kemudian kontribusi mahasiswa dalam mengawal terselenggaranya hajat politik di Indonesia yang bersih dan bermartabat adalah dengan langkah langkah sebagai berikut : Mahasiswa Sebagai agen informasi independen dan objectif. Mahasiswa yang secara peran dan fungsi selain kaum intelektual mahasiswa juga selama ini berpartisipasi dalam pembangunan pemikiran ilmiah yang kritis terhadap pembanangunan daerah dimana peran social control mengkrtisi kebijakan kebijakan daerah dengan temuan temuan objektifitas penelitiannya selama pemerintah sebelumnya, tentu menjadi sumber catatan kritis dan masyarakat umum. Catatan Penyelenggaraan tersebut dapat disebarkan secara independen dan objektif kepada khalayak umum menjadi sebuah dasar pengetahuan dan pertimbangan dalam memilih pemimpin di periode berikutnya apakah akan mampu mencapai visi misinya atau tidak. Mahasiswa sebagai agen perubahan paradigma dari politik praktis ke politik idealis Independensi dan idealisme mahasiswa tidak diragukan lagi, dalam hal ini mahasiswa memiliki ciri bahwa pemikiran kritisnya menjadi tameng idealismenya untuk melaksanakan hal hal yang Pemikiran langkah tersebut dapat ditularkan SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 kepada masyarakat luas bahwa dalam memilih pemimpin kepala daerah harus sesuai dengan pemikiran objektifitas masyarakat itu sendiri bukan atas dasar Menjadi pemilih cerdas yang Dalam mahasiswa yang cerdas bisa memanfaatkan momentum pemilu untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya baik kualitas pribadinya kemahasiswaan yang diikutinya. Dalam prosesi pemilihan kepala daerah biasanya mahasiswa dan organ kemahasiswan menjadi sangat seksi, menjadi rebutan para calon kepala daerah. Disamping kemahasiswaan juga dianggap memiliki konsepsi pemikiran dan perubahan yang lebih baik. Dari tersebut mahasiswa harus menjadi pemilih cerdas yang visioner yaitu cerdas memilih pemimpin yang benar benar berkomitmen kepada pembangunan daerahnya yang lebih baik lagi. Menjadi partner penyelenggara pemilu baik pelaksana pemungutan suara maupun pengawas pemilihan Mahasiswa yang sejatinya adalah sebagai agen social control tidak terlepas juga sebagai control pemilukada, dengan kapasitas dan jaringan yang luas mahasiswa dapat mudah penyelenggaraan pemilu dan segala macam informasi yang berkaitan dengan itu. Mahasiswa dengan kecerdasan sosialnya harus masyarakat bahwa saat inilah masa yang pas untuk merubah daerah sesuai dengan harapan masyarakat. Selain mahasiswa juga harus menjadi patner menjadi mahasiswa kritis dan solutif sangat diharapkan bisa membantu penyelenggaraan pemilukada yang meminimalisir atau bahkan bisa membantu merealisasikan pemilu yang bersih tanpa kecurangan pemilu. Kesimpulan Dalam rangka berbangsa dan peranan yang sangat penting untuk mengawal segala bentuk proses Pengawalan dimulai dari arena pemilihan umum baik pemilukada ataupun pemilu Banyak tugas dan peran yang bisa dilakukan oleh mahasiswa dengan kafasitasnya yang luar biasa. Mahasiswa dianggap mampu kepada masyarakat agar bisa menjadi pemilih yang cerdas sekaligus pemerhati pelaksanaan pemerintahan. Masyarakat yang cerdas dan melek politik akan mampu melahirkan para petarung politik sehingga tidak salah dalam menentukan arah kebijakan. Kemudian masyarakat yang cerda dan melek politi pun akan mampu menjadi mitra pemerintah sekaligus menjadi pengingat ketika pemerintah sudah mulai keluar dari track good Mahasiswa kesehariannya harus bisa bergerak secara masif dan interaktif, tidak malah menjadi bagian masyarakat yang hanya mampu diam tanpa memberikan masukan apapun kepada Silent Majority adalah merupakan kemunduran yang luar biasa, karena sejatinya mahasiswa SOSFILKOM Vol. XI No. 02 Tahun 2017 Whisnu Sentosa Makalah AuHMI Berinsan Cita Bukan Pencari Kuasa : Suatu Studi Pada input Politik Status dan Fungsional OrganisasiAy. Makalah pernah disajikan dalam lomba LKTI Badko HMI Jawa Barat bulan Maret harus mampu bergerak secara cerdas dan sustainable dalam mengawal kebijakan dari pemerintah, sehingga menikmati pemerintahan yang bersih dan berkualitas. Referensi