https://doi. org/10. 61578/honai. Jurnal Pendidikan. Administrasi. Sains. Ekonomi, dan Pemerintahan PERAN PEMERINTAH DESA DALAM PENGELOLAAN SITUS PERBENGKELAN PALEOLITIK NGRINJANGAN DI DESA SOOKA. KECAMATAN PUNUNG Riska Amelia1. Yusuf Adam Hilman2. Insyira Yusdiawan Azhar3 Progam Studi Ilmu Pemerintahan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Ponorogo Ponorogo. Jawa Timur Email Korespondensi: 545471adamongis@gmail. Abstrak Kajian ini berjudul Peran Pemerintah Desa Dalam Pengelolaan Situs Bengkel Paleolitik Ngrijangan Desa Sooka Kecamatan Punung. Tujuan dari penelitian ini yakni ingin mengetahui peran pemerintah desa dalam pengelolaan situs yang ada di desa Sooka, dengan adanya situs bengkel di Ngrijangan yang telah ditemukannya artefak-artefak di wilayah desa Sooka berawal dari Ngijangan yang dijadikan sebagai bengkel pembuatan alat-alat artefak. Peran desa dalam pengelolaan situs adalah dengan membentuk struktur organisasi arkeologi dan juga Pokdarwis yang bekerjasama dengan masyarakat desa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan proses pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan yang memberikan informasi mengenai peran pemerintah desa dalam pengelolaan situs bengkel manusia purba paleolitikum adalah tim yang terlibat dalam pengelolaan bengkel antara lain kepala desa, ketua lembaga arkeologi, anggota Pokdarwis dan masyarakat sekitar. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa peran pemerintah desa dalam pengelolaan situs bengkel paleolitik desa Ngrijangan di Desa Sooka adalah pemerintah desa membuat peraturan dan organisasi yang mengatur dan memelihara situs bengkel tersebut agar tetap terjaga dan mampu. menjadikan tempat tersebut sebagai wisata bengkel yang dapat dikenali dan dengan berjalannya situs tersebut dapat menjadi aset desa. Kata Kunci: Pemerintahan Desa. Pengelolaan. Lokasi THE ROLE OF THE VILLAGE GOVERNMENT IN THE MANAGEMENT OF THE NGRINJANGAN PALEOLITHIC WORKSHOP SITE IN SOOKA VILLAGE. PUNUNG DISTRICT Abstract This study is entitled The Role of Village Government in Management of the Ngrijangan Paleolithic Workshop Site. Sooka Village. Punung District. The aim of this research is to find out the role of the village government in managing sites in Sooka village, with the existence of a workshop site in Ngrijangan where artifacts have been found in the Sooka village area starting from Ngijangan which was used as a workshop for making artifact tools. The role of the village in Copyright A 2023 Riska Amelia1. Yusuf Adam Hilman2. Insyira Yusdiawan Azhar3 47 Lisencee Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena Submitted: 22/11/2023. Accepted: 30/11/2023. Published: 31/12/2023 Peran Pemerintah Desa Dalam Pengelolaan Situs Perbengkelan Paleolitik Ngrinjangan Di Desa Sooka. Kecamatan Punung managing the site is to form an archaeological organizational structure and also a Pokdarwis which collaborates with the village community. The method used in this research is a qualitative descriptive method with a data collection process using interviews, observation and The informants who provided information regarding the role of the village government in managing paleolithic ancient human workshop sites were the team involved in managing the workshop, including the village head, head of the archaeological institution, members of the Pokdarwis and the surrounding community. The results of this research can be explained that the role of the village government in managing the Ngrijangan village paleolithic workshop site in Sooka Village is that the village government creates regulations and organizations that regulate and maintain the workshop site so that it remains maintained and capable. the place a recognizable tourist workshop and as it progresses the site can become a village asset. Keywords: Village Government. Management. Site Pendahuluan Perlindungan hukum terhadap warisan budaya, seperti yang tertuang dalam Peraturan Nomor 11 Tahun 2011, merupakan suatu upaya yang bertujuan untuk memastikan bahwa warisan leluhur dihormati dan dilestarikan (Pratikno dkk. , 2. Peraturan ini tidak hanya memberikan dasar hukum, tetapi juga mendorong pengawasan serta kepatuhan terhadap aturan hukum sebagai langkah pencegahan terhadap kerusakan atau penyelewengan terhadap warisan budaya tersebut. Melalui implementasi peraturan ini, masyarakat diarahkan untuk memahami pentingnya menjaga situs-situs budaya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas dan sejarah mereka. Kegiatan pelestarian situs budaya bertujuan untuk memelihara nilai-nilai kultural yang tinggi agar tetap dihargai dan diapresiasi oleh masyarakat (Solatiah, 2. Upaya ini melibatkan serangkaian kegiatan, mulai dari pengawasan aktif terhadap situs-situs tersebut hingga penyelenggaraan program edukasi kepada masyarakat tentang signifikansi budaya yang ada. Dengan demikian, tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa warisan budaya tidak hanya dipahami secara historis, tetapi juga dijaga agar tetap relevan dan dihormati di tengah perubahan Langkah-langkah pelestarian ini memperlihatkan komitmen untuk menjaga keragaman budaya dan mencegah kemungkinan terkikisnya nilai-nilai penting dalam warisan budaya tersebut. Penelitian sebelumnya tentang pelestarian cagar budaya menggambarkan beragam fokus yang berbeda. Sulistyanto . menyoroti pentingnya partisipasi aktif masyarakat dan kondisi lingkungan dalam memastikan kelangsungan cagar budaya. Al-Hamid . menitikberatkan pada peran pemerintah daerah dalam menerapkan regulasi yang kuat untuk melindungi serta merawat cagar budaya secara efektif. Di sisi lain. Apriadi . memfokuskan perhatiannya pada tindakan nyata dalam memelihara keutuhan fisik dan manajerial dari cagar budaya, menunjukkan bahwa upaya pelestarian tidak hanya tentang regulasi, tetapi juga pengelolaan aktif dari aspek fisik dan Penelitian ini berfokus pada peran pemerintah desa Sooka dalam menjaga keberlangsungan situs perbengkalan Paleolitik Ngrinjangan. Situs ini merupakan tempat bengkel manusia purba dari budaya Paleolitik yang disebut Pacitania. Ngrinjangan dikenal sebagai situs terbesar di dunia yang menyimpan beragam peralatan batu untuk aktivitas berburu dan mengumpulkan makanan, termasuk berbagai jenis kapak, pahat, dan alat lainnya. Pacitan, terkenal dengan lanskap karstnya yang luas, terutama di wilayah Kecamatan Punung. Donorojo, dan sebagian Pringkuku, berada dalam kompleks Pegunungan Sewu yang mencakup Gunung Kidul dan Wonogiri. Karst yang kering dengan sistem sungai bawah tanah dan formasi batu yang unik telah menciptakan lingkungan ideal bagi peradaban manusia prasejarah. Situs Ngrinjangan, yang terletak di Desa Sooka Kecamatan Punung, membentang di area seluas sekitar 5 hektar, melingkupi beberapa dusun di sekitarnya. Sungai Baksooka, yang menjadi bagian integral dari situs ini, diakui sebagai bengkel manusia prasejarah terbesar yang diekskavasi oleh ahli Paleontolog dan Geolog ternama dari Jerman. GHR Von Koeningswald dan Tweedie. Di lokasi Copyright A 2023 Riska Amelia1. Yusuf Adam Hilman2. Insyira Yusdiawan Azhar3 48 Lisencee Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena Submitted: 22/11/2023. Accepted: 30/11/2023. Published: 31/12/2023 Peran Pemerintah Desa Dalam Pengelolaan Situs Perbengkelan Paleolitik Ngrinjangan Di Desa Sooka. Kecamatan Punung ini, berbagai alat sederhana untuk berburu dan mengumpulkan makanan pada masa prasejarah ditemukan, menggambarkan kehidupan dan aktivitas manusia purba di daerah tersebut. Pegunungan Sewu, dengan keringnya lanskap karst dan jaringan sungai bawah tanahnya, tidak hanya menawarkan lanskap yang menakjubkan tetapi juga menjadi saksi bisu peradaban manusia purba. Situs Ngrinjangan di Desa Sooka. Punung, menandai keberadaan kawasan ini sebagai pusat kehidupan prasejarah yang penting. Temuan benda-benda sederhana untuk kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan yang dilakukan oleh ahli Paleontolog dan Geolog ternama memberikan gambaran tentang adaptasi manusia pada masa prasejarah di lingkungan yang keras Lokasi ini mencerminkan bagaimana kehidupan manusia prasejarah berevolusi dan beradaptasi dengan lingkungan karst yang kering dan terjal, menambah nilai historis dan arkeologis yang signifikan bagi Pacitan dan sekitarnya. Cagar budaya di Pacitan, atau budaya Pacitanian, memberikan wawasan penting bahwa pusat-pusat penemuan alat-alat paleolitik mengungkap adanya jejak perbengkelan alat. Ini menunjukkan bahwa manusia prasejarah seperti Pihtecanthoropus erectus telah mengembangkan keahlian lokal dalam pembuatan alat-alat batu paleolithik, mengalami transformasi signifikan dalam teknologi pembuatan alat-alat tersebut. Dalam sejarah Prasejarah Asia Tenggara, peran Indonesia khususnya dalam merekonstruksi perkembangan alat-alat paleolithik sangatlah penting (Suprapta. Situs Ngrinjangan kurang mendapat perhatian dan pengawasan yang memadai, meningkatkan risiko gangguan, seperti pencurian, pemindahan, dan penyelundupan benda-benda cagar budaya yang memiliki nilai budaya yang tinggi. Kondisi ini memerlukan perhatian tidak hanya dari pihak pemerintah atau lembaga terkait, tetapi juga partisipasi luas masyarakat untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan situs serta cagar budaya sebagai bagian berharga dari sejarah Indonesia. Keterlibatan masyarakat, atau konservasi berbasis masyarakat, sangat penting dalam upaya menjaga kelestarian cagar budaya ini. Dalam proses ini, pemberian pengetahuan kepada masyarakat tentang pencegahan kerusakan lingkungan yang dapat mengancam kualitas bendabenda cagar budaya serta penyadaran terhadap kerusakan yang terjadi dan faktor penyebabnya menjadi penting untuk mendorong partisipasi aktif dalam menjaga kelestariannya (Susanti, 2. Penelitian oleh Rizky Nindya Nunggalsari dan Soebijantoro tentang "Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan Dalam Pelestarian Museum Buwono Keling di Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan" menyoroti kurangnya responsivitas Pemerintah Kabupaten terhadap Museum Buwono Keling. Mereka menekankan potensi museum ini sebagai objek wisata edukatif yang penting terkait kehidupan pra sejarah manusia. Namun, dalam kenyataannya, upaya pelestariannya tampak kurang optimal. Upaya untuk menjadikannya sebagai sumber edukasi yang berharga mengenai masa lalu tampaknya terhambat oleh kurangnya perhatian dan dukungan dari pihak pemerintah setempat. Dalam tulisannya tentang "Pemanfaatan Cagar Budaya di Kabupaten Pacitan sebagai Media Penunjang Pendidikan Sejarah," Blasius Suprapta menekankan pentingnya peran media pembelajaran, khususnya dalam konteks pembelajaran sejarah. Fokusnya terutama pada museum dan situs bersejarah yang memainkan peran kunci sebagai media pembelajaran yang tidak hanya sekadar mendidik, tetapi juga memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam terhadap sejarah. Suprapta menyoroti bahwa keberadaan media-media tersebut secara substansial membantu dalam meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap sejarah serta mendorong keterlibatan yang lebih aktif dalam pembelajaran sejarah. Dewi Susanti dalam tulisannya tentang "Strategi Konservasi Berbasis Masyarakat pada Kompleks Situs Gua Prasejarah Bellae Kabupaten Pangkep. Provinsi Sulawesi Selatan," menyoroti kondisi kurang optimal dalam upaya perlindungan terhadap gua prasejarah di Kabupaten Pangkep. Meskipun Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar memiliki tanggung jawab atas pelestariannya, kondisi gua tersebut masih terus memburuk. Dewi menekankan perlunya pendekatan konservasi yang lebih berfokus pada partisipasi aktif masyarakat setempat dan organisasi desa untuk menjaga situs prasejarah dan lingkungannya. Dia menyarankan bahwa Copyright A 2023 Riska Amelia1. Yusuf Adam Hilman2. Insyira Yusdiawan Azhar3 49 Lisencee Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena Submitted: 22/11/2023. Accepted: 30/11/2023. Published: 31/12/2023 Peran Pemerintah Desa Dalam Pengelolaan Situs Perbengkelan Paleolitik Ngrinjangan Di Desa Sooka. Kecamatan Punung melibatkan masyarakat dalam proses konservasi akan memberikan keuntungan besar dalam menjaga keberlangsungan situs bersejarah serta menjaga nilai-nilai budaya yang ada di sekitarnya. Dewi memperkuat pentingnya keterlibatan langsung masyarakat dan organisasi desa sebagai bagian integral dari usaha pelestarian, sehingga situs prasejarah tidak hanya dijaga secara fisik namun juga menjadi warisan berkelanjutan yang tetap terawat dengan baik. Perbedaan antara penelitian sebelumnya dan penelitian ini terletak pada fokusnya. Penelitian sebelumnya cenderung mempertimbangkan evolusi cagar budaya di Pacitan, sementara penelitian ini lebih memusatkan perhatian pada peran yang dimainkan oleh pemerintah desa dalam memperluas dan mengorganisir perkembangan cagar budaya paleolithik dan benda-benda prasejarah lainnya. Sehingga, tujuan dari penelitian ini untuk menguraikan peranan yang dimainkan oleh pemerintah desa dalam mengurus situs perbengkelan paleolitik Ngrinjangan di Desa Sooka. Kecamatan Punung. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mendalam, menggunakan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Dengan pendekatan studi kasus, fokusnya terarah pada pengamatan terperinci terhadap situasi yang terjadi di wilayah tertentu, memberikan gambaran komprehensif mengenai berbagai aspek yang ada. Penelitian dilakukan di kantor Bupati dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pacitan sebagai pusat informasi dan kegiatan terkait cagar budaya. Melalui metode purposive sampling, lima informan yang termasuk Kepala Desa Sooka. Ketua Arkeologi Desa Sooka, dan tiga warga masyarakat dipilih untuk memastikan akurasi data dengan mengadopsi pendekatan triangulasi, sehingga dapat menghadirkan sudut pandang yang komprehensif. Hasil dan Pembahasan Situs perbengkelan Ngrijangan di Desa Sooka. Punung, menggambarkan kekayaan kawasan geografis Gunung Sewu yang menjadi pusat peradaban prasejarah di Indonesia. Letaknya yang berada di wilayah pegunungan karst, terdiri dari jajaran bukit karst yang berbentuk kubah-kubah yang tererosi oleh air dan membentuk ratusan bukit kerucut. Wilayah ini mengalami pengangkatan batuan gamping terumbu koral dari Kala Miosen pada Kala Plestosen. Keunikan geologi inilah yang menjadi tempat tinggal bagi manusia prasejarah dan menghasilkan banyak tinggalan cagar budaya, khususnya dari masa Pra Sejarah, termasuk situs perbengkelan Ngrijangan. Pelestarian cagar budaya di kawasan Gunung Sewu, termasuk situs perbengkelan Ngrijangan, merupakan tanggung jawab yang melibatkan seluruh komunitas. Ini bukan hanya tanggung jawab sebagian kecil masyarakat, tetapi melibatkan semua lapisan dan komponen Kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya ini harus meresap dalam seluruh komunitas, bukan hanya sebagai tanggung jawab tertentu. Setiap individu dan kelompok dalam masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan situs ini sebagai warisan berharga bagi masa depan. Internasional, kawasan Gunung Sewu diakui sebagai tempat bersejarah yang kaya, terutama pada masa Paleolitik dan Mesolitik. Pentingnya situs-situs prasejarah di sini menjadi perhatian global sebagai titik sentral dari peradaban masa lampau di Indonesia. Dalam upaya pelestariannya, penting bagi pemerintah, komunitas lokal, serta para pakar dan ahli untuk terus berkolaborasi secara aktif dalam mempertahankan nilai dan kekayaan cagar budaya yang ada di situs perbengkelan Ngrijangan dan kawasan sekitarnya. Copyright A 2023 Riska Amelia1. Yusuf Adam Hilman2. Insyira Yusdiawan Azhar3 50 Lisencee Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena Submitted: 22/11/2023. Accepted: 30/11/2023. Published: 31/12/2023 Peran Pemerintah Sejak tahun 2017, pemerintah desa di bawah arahan Eko Wahyudi telah memulai pembentukan pokdarwis yang melibatkan unsur perangkat desa, wilayah, dan kaum muda dalam menjaga serta mengelola situs perbengkelan paleolitik. Upaya ini mencakup serangkaian tindakan yang dilakukan secara aktif baik oleh pemerintah desa maupun masyarakat untuk menjaga kebersihan situs dan melaksanakan pengawasan demi melestarikan warisan cagar budaya yang menjadi aset berharga bagi desa tersebut. Selain menggalakkan pemeliharaan, pemerintah desa juga berkomitmen membangun struktur galeri purbakala dan museum kecil sebagai langkah konkrit untuk memperkenalkan serta menjaga penemuan-penemuan artefak purbakala yang ada di desa Ini menjadi upaya konkret dalam memberikan apresiasi serta melestarikan warisan bersejarah yang menjadi identitas penting bagi Desa Sooka. Dari perspektif Danang Wijanarko, peran arkeologi sangat terlihat dalam menyokong pelestarian situs perbengkelan. Mereka tidak hanya memberikan pelatihan dan pendampingan, tetapi juga bertanggung jawab atas pengawasan berkelanjutan dalam menjaga kelestarian situs. Dalam perannya sebagai fasilitator, arkeologi tidak hanya memberikan pengetahuan terkait situs perbengkelan paleolitik kepada masyarakat, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk pemahaman yang lebih dalam tentang warisan bersejarah tersebut. Hal ini menandai pentingnya peran arkeologi sebagai penghubung antara warisan budaya dan masyarakat dalam upaya Dari perspektif Adita Fauzal, hubungan erat antara pemerintah desa dengan anggota arkeologi, terutama Balai Arkeologi Trowulan, mencerminkan kolaborasi yang kuat. Pemerintah desa aktif dalam mendukung berbagai proses administratif terkait situs ini, termasuk memberikan pengakuan resmi atas pentingnya situs tersebut sebagai warisan budaya. Langkah-langkah yang diambil, seperti pembangunan galeri purbakala, museum kecil, dan perpustakaan, merupakan upaya konkrit pemerintah desa untuk melestarikan cagar budaya ini secara bertahap, dengan target penyelesaian dalam beberapa tahun ke depan. Semua inisiatif ini bertujuan untuk memperkenalkan serta merawat warisan budaya sebagai elemen yang tak terpisahkan dari identitas serta kekayaan kultural desa Sooka, menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian dan promosi nilai-nilai sejarah lokal. Hasil wawancara menegaskan bahwa keterkaitan antara pemerintah desa, dunia arkeologi, dan kelompok sadar wisata . sangatlah penting karena mereka memiliki tujuan bersama dalam mengembangkan potensi situs perbengkelan manusia purba. Kolaborasi mereka menjadi fondasi yang kuat untuk memperkenalkan situs ini kepada khalayak yang lebih luas, menjadikannya sebagai sumber pembelajaran yang berharga bagi pelajar, sekaligus mengubahnya menjadi destinasi wisata sejarah yang memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat umum. Dalam upaya bersama ini, mereka tidak hanya bertujuan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya, tetapi juga ingin mengungkap potensi edukatif dan ekonomis yang ada di balik situs bersejarah ini. Sinergi antara pemerintah, ahli arkeologi, dan kelompok sadar wisata menjadi fondasi kuat dalam menghadirkan situs ini sebagai titik fokus pembelajaran sejarah yang menarik dan destinasi wisata yang memberikan dampak positif bagi ekonomi dan kesadaran sejarah masyarakat setempat serta Langkah pemerintah desa dalam pengelolaan situs perbengkelan paleolitik Ngrijangan desa Sooka Kecamatan Punung Menurut hasil wawancara dengan Eko Wahyudi dan Danang Wijanarko pada tanggal 29 dan 31 Juli 2023, terlihat bahwa upaya pengelolaan cagar budaya melalui pembentukan struktur arkeologi dan pokdarwis untuk mengamankan temuan arkeologi di Desa Sooka. Pokdarwis bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk melaporkan dan menjaga benda-benda bersejarah yang Ini termasuk langkah-langkah untuk mencegah kehilangan atau peredaran ilegal Melalui perizinan dan fasilitas yang sedang dalam proses pembangunan, desa berupaya Copyright A 2023 Riska Amelia1. Yusuf Adam Hilman2. Insyira Yusdiawan Azhar3 51 Lisencee Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena Submitted: 22/11/2023. Accepted: 30/11/2023. Published: 31/12/2023 Problematika Sistem Rekrutmen Perangkat Desa Di Desa Mojokembang Kecamatan Pacet Mojokerto menjadikan situs perbengkelan paleolitik sebagai destinasi wisata edukasi sejarah. Kerjasama juga terjalin dengan berbagai pihak seperti Balai Arkeologi Trowulan. Dinas Pendidikan, dan Dinas Pariwisata sebagai bentuk dukungan dalam pengelolaan situs perbengkelan paleolitik. Dalam upaya pelestarian situs perbengkelan paleolitik. Eko Wahyudi dan Danang Wijanarko menyoroti peran pokdarwis yang dibentuk oleh desa sebagai mitra aktif masyarakat Pokdarwis ini bertanggung jawab dalam melaporkan penemuan artefak arkeologi, menjaga keamanan situs, dan menghindari peredaran ilegal artefak. Selain itu, sinergi antara desa dengan Balai Arkeologi Trowulan serta dukungan dari instansi seperti Dinas Pendidikan dan Pariwisata menjadi aspek krusial dalam upaya memperkenalkan situs perbengkelan paleolitik. Langkah ini bertujuan untuk mengubah situs ini menjadi tujuan wisata edukasi sejarah yang dipersembahkan oleh desa, menekankan pada kepentingan pencerahan sejarah serta pendidikan bagi para pengunjung yang tertarik untuk mengunjungi dan belajar dari kekayaan sejarah yang ada. Menurut wawancara dengan Eko Wahyudi dan Danang Wijanarko, upaya pelestarian cagar budaya di Desa Sooka mengandalkan kerjasama antara pokdarwis yang melibatkan masyarakat setempat dengan dukungan dari Balai Arkeologi Trowulan dan instansi seperti Dinas Pendidikan dan Pariwisata. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjadikan situs perbengkelan paleolitik sebagai destinasi wisata edukasi sejarah yang berkelanjutan. Kendala yang dialami dalam langkah pengelolaan situs perbengkelan paleolitik Ngrijangan desa Sooka Kecamatan Punung Hasil wawancara menunjukkan beberapa kendala dalam pelestarian cagar budaya. Menurut Eko Wahyudi pada 29 Juli 2023, kendala yang dihadapi adalah banyaknya orang dari luar yang mencari batu akik di Desa Sooka dan menemukan artefak prasejarah yang kemudian dibawa Masyarakat setempat juga tidak selalu tertib dalam menjaga situs, beberapa menjual artefak Bahkan, warga asing tanpa izin juga masuk dan membawa temuan artefak dari desa Di sisi arkeologi, menurut Danang Wijanarko pada 31 Juli 2023, kendalanya adalah kurangnya exposure di media sosial karena keterbatasan SDM untuk mengelolanya. Sedangkan menurut Adita Fauzal pada tanggal yang sama, banyak masyarakat yang masih awam terhadap artefak sehingga saat diminta atau dibeli oleh orang luar, mereka memberikannya tanpa memahami nilai sejarahnya. Ini menunjukkan masih ada kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap artefak sejarah. Gambar 1. Wawancara dengan Adita Fauzan. Masyarakat Desa Sooka Peran pemerintah desa dalam mengelola penelitian dan pelestarian situs perbengkelan paleolitik Ngrijangan di Desa Sooka telah tercermin sebagai bagian dari strategi regulasi dan Sebagai regulator, pemerintah desa telah mengambil langkah proaktif dengan menetapkan peraturan yang mengatur keberadaan dan pelestarian situs bersejarah ini. Melalui pembentukan struktur arkeologi, mereka mengatur dan memastikan pengelolaan situs oleh kelompok sadar wisata . Peran ini tidak hanya sebatas dalam pembuatan peraturan, tetapi juga dalam pengawasan dan bimbingan terhadap pokdarwis, yang berperan sebagai pengelola situs perbengkelan paleolitik. Copyright A 2023 Riska Amelia1. Yusuf Adam Hilman2. Insyira Yusdiawan Azhar3 52 Lisencee Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena Submitted: 22/11/2023. Accepted: 30/11/2023. Published: 31/12/2023 Problematika Sistem Rekrutmen Perangkat Desa Di Desa Mojokembang Kecamatan Pacet Mojokerto Sebagai fasilitator, pemerintah desa juga memberikan dukungan keuangan untuk pembangunan infrastruktur pendukung. Langkah pembangunan di sekitar lokasi penemuan artefak menjadi bukti nyata dari komitmen pemerintah desa dalam memastikan situs ini terjaga dan menjadi destinasi wisata yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Pembangunan pagar di area perbengkelan adalah upaya untuk mengontrol akses dan menjaga keamanan situs, sementara perlindungan sungai Baksooka, yang merupakan bagian penting dari situs penemuan artefak, menjadi salah satu fokus perlindungan yang diupayakan. Tidak hanya itu, rencana pembangunan museum kecil dan perpustakaan yang diusulkan di dekat balai desa menandakan upaya pemerintah desa untuk memfasilitasi pendidikan sejarah bagi masyarakat setempat. Museum ini akan menjadi tempat bagi berbagai artefak dan pengetahuan seputar sejarah perbengkelan paleolitik manusia purba. Dengan adanya perpustakaan, masyarakat Desa Sooka diharapkan dapat mengakses lebih banyak informasi sejarah melalui literatur dan bukubuku arkeologi, yang membantu meningkatkan pemahaman tentang nilai sejarah dan kebudayaan situs ini. Selain aspek fisik, pemerintah desa juga harus berperan dalam memberikan edukasi dan pengawasan yang lebih aktif terhadap situs tersebut. Partisipasi masyarakat Desa Sooka dalam proses pembangunan dan pelestarian situs perbengkelan manusia purba menjadi kunci dalam menjaga kelestarian situs ini sebagai aset penting dan bukti sejarah yang berharga. Kolaborasi yang kuat antara pemerintah desa, pokdarwis, dan masyarakat setempat menjadi pondasi yang kuat untuk keberhasilan dalam pelestarian dan peningkatan pemahaman akan nilai historis situs ini. Kesimpulan mengenai nilai sejarah yang terkandung di situs tersebut. Pokdarwis, bagian integral dari organisasi ini, berperan aktif dalam menjaga dan mempromosikan situs sebagai destinasi pariwisata prasejarah, memastikan bahwa keberadaannya dilestarikan dan dapat dinikmati oleh generasi masa Kerjasama antara pemerintah desa dengan Balai Arkeologi Trowulan menjadi poin kunci dalam upaya menjadikan situs perbengkelan sebagai warisan budaya yang berharga. Kolaborasi ini memperkuat langkah-langkah pelestarian dengan menyediakan fasilitas seperti museum kecil dan Fasilitas ini tidak hanya berperan sebagai tempat untuk mengelola penemuanpenemuan bersejarah, tetapi juga sebagai sumber belajar yang memungkinkan masyarakat untuk mendalami lebih dalam sejarah perbengkelan paleolitik manusia purba yang terdapat di desa Berikut saran dari peneliti yang dapat diberikan, sebagai berikut: Pemerintah desa perlu meningkatkan edukasi dan pengawasan terhadap situs, melibatkan masyarakat untuk menjaga dan menghargai situs sebagai warisan penting. Pelatihan yang lebih intensif diperlukan bagi pokdarwis dan masyarakat sekitar guna mengelola situs sesuai dengan program pemerintah desa. Perlunya orang yang berpengalaman dan berijazah khusus dalam pengelolaan situs Kerjasama antara pokdarwis dan ahli arkeologi dapat ditingkatkan untuk mendapatkan pengetahuan lebih mendalam tentang situs. Untuk penelitian selanjutnya, perlu eksplorasi lebih lanjut terhadap situs perbengkelan manusia purba di Desa Sooka, termasuk penggalian data yang lebih mendalam. Referensi