Persona. Jurnal Psikologi Indonesia September 2015. Vol. No. 03, hal 288 - 295 Kematangan Emosi. Efikasi Diri dan Perilaku Merokok Remaja Laki-Laki Usia 12-15 Tahun Supeno Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Suroso suroso@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract. Emotional maturity, self-efficacy, and Smoking Behavior examined in a correlational quantitative research. Subjects were 131 Adolescence on 12 Ae 15 Year of Ages. Researcher developed two research instrument of measurement, namely the scale of smoking behavior and the scale of emotional maturity. Data of study variables were analyzed with the multiple regression analysis. The results of the analysis are: . R = 0,181. F = 2,179, p = 0,177 . > 0,. showed no correlation of emotional maturity and self-efficacy with smoking behavior on 12 Ae 15 Year of Ages simultaneously, . r partial = - 0,173, p = 0,049 . < 0,. shows the correlation of emotional maturity with smoking behavior is a negative direction and . r partial = - 0,055, p = 0,534 . > 0,. shows no correlation self-efficacy with smoking behavior Keywords : emotional maturity, self-efficacy, smoking behavior Intisari. Kematangan emosi, efikasi-diri, dan perilaku merokok dikaji dalam penelitian kuantitatif korelasional. Subjek penelitian adalah 131 remaja laki-laki usia 12 Ae 15 tahun di Kabupaten Nganjuk. Peneliti mengembangkan dua alat ukur penelitian, yaitu skala perilaku merokok dan skala kematangan emosi. Data variabel penelitian dianalisis dengan analisis regresi ganda. Hasil analisis adalah: . R = 0,181. F = 2,179, p = 0,177 . > 0,. Kematangan emosi dan efikasi-diri secara simultan tidak berhubungan dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 Ae 15 . r parsial = - 0,173, p = 0,049 . < 0,. Kematangan emosi secara tersendiri berhubungan negatif dan signifikan dengan perilaku merokok remaja lakilaki usia 12 Ae 15 tahun. r parsial = - 0,055, p = 0,534 . > 0,. Efikasi-diri secara tersendiri tidak berhubungan dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 Ae 15 tahun. Kata kunci : kematangan emosi, efikasi-diri, perilaku merokok PENDAHULUAN Permulaan merokok umumnya di usia remaja, meskipun sebelumnya sudah mulai bereksperimen dengan rokok, sebagian besar remaja mulai merokok secara teratur sekitar waktu pubertas. Remaja yang mulai merokok sejak awal memiliki kemungkinan lebih besar mengembangkan kecanduan nikotin jangka panjang dibanding remaja yang memulai merokok pada masa remaja akhir. Remaja yang merokok sejak remaja awal memiliki risiko lebih besar mengalami penyakit yang berhubungan dengan rokok. Prevalensi merokok di kalangan remaja harus dikurangi untuk mencegah konsekuensi kesehatan yang berhubungan dengan tembakau (Stavrou dkk. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Kematangan Emosi. Efikasi Diri dan Perilaku Merokok Remaja Laki-Laki Usia 12-15 Tahun melakukan survey di Indonesia tahun 2006 terhadap remaja berusia 13-15 tahun. Hasil survey menunjukkan, 24,5% remaja laki-laki dan 2,3% remaja perempuan merupakan perokok, 3,2% diantaranya sudah kecanduan. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan 3 dari 10 pelajar mencoba merokok sejak dibawah usia 10 tahun. Hasil survey tersebut juga menunjukkan bahwa akibat gencarnya iklan yang dilakukan oleh industri rokok, maka sebanyak 92,9% anak-anak terekspos dengan iklan yang berada di papan reklame dan 82,8% terekspos iklan berada di majalah dan koran (Ginting, 2. Ginting . mendokumentasikan data yang menunjukkan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang mempunyai konsumsi rokok 6,6% dari konsumsi dunia, yang memprihatinkan dari 3 juta remaja yang merokok ada 20% adalah anak SMP dan tiga tahun terakhir 30% dari jumlah siswa SMP sebagai perokok aktif. Indonesia termasuk 5 negara dengan konsumsi rokok terbesar di dunia. Konsumsi tembakau di Indonesia meningkat 7 kali lipat dalam jangka waktu 3 tahun . , dan prevalensi penggunaan tembakau di Indonesia telah meningkat dalam segala usia Perilaku merokok kemungkinan besar terjadi pada individu yang banyak mengalami gangguan emosi dibandingkan individu yang memiliki stabilitas emosi. Keputusan remaja untuk merokok kemungkinan didorong oleh pencapaian emosi yang kurang matang. Remaja yang tidak matang secara emosional mekanisme pertahanan diri dengan cara Merokok meningkatkan kasan emosi yang lebih matang dan lebih dewasa dibanding remaja yang tidak Pada masa remaja awal, remaja memutuskan apakah akan merokok atau tidak Niat untuk merokok atau tidak merokok pada remaja awal kemungkinan distimulasi oleh perkembangan efikasi-diri. Efikasi-diri mengacu pada keyakinan individu dalam kemampuannya untuk menyelesaikan tugas khusus. Efikasi-diri tinggi diteorisasikan memfasilitasi proses perubahan perilaku dalam dua poin, yaitu pembentukan niat perilaku dan menterjemahkan niat pada perilaku (Bandura dalam Scholtz, dkk. , 2. Tugas perkembangan masa remaja ditandai adanya keadaan badai dan stres . torm and stre. Stres dan konflik tidak dapat mengawal diri dan sering mengambil keputusan negatif yang akhirnya merusak diri Remaja biasanya mengambil jalan mudah untuk menyelesaikan masalah yang menyebabkan remaja terjebak dalam berbagai masalah sosial, dan kemudian mencoba mengatasi masalah dengan mencoba untuk Dinamika psikologis dan efikasi-diri untuk mengambil keputusan merokok atau tidak merokok pada remaja awal dapat diidentifikasi dalam proses pelaksanaan niat ke dalam perilaku. Pelaksanaan niat membutuhkan Beberapa menghambat dan menghalangi pelaksanaan Kesulitan menyelesaikan masalah yang tidak dikuasai dan karaktersitik masalah yang dihadapi. Kediakmamuan menyelesaikan konflik dalam diri dan masalah yang sedang dihadapi membuat remaja mencoba mencari pelampiasan dengan merokok dan kemudian mengambil keputusan untuk merokok. Individu membutuhkan efikasi-diri agar tetap merasa kompeten dan efektif menghadapi berbagai situasi yang penuh dengan tekanan (Schwarzer, , 1. Individu menghadapi faktor penghambat dengan alternatif memperkuat efikasi-diri, sehingga memiliki rasa percaya kemungkinan untuk mengambil keputusan Supeno dan Suroso Perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 Ae 15 tahun Merokok adalah menghisap rokok. Rokok adalah gulungan tembakau yang dibalut daun nipah atau kertas (Poerwodarminto. Perilaku merokok merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seseorang berupa membakar dan menghisap serta menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya (Lestari & Purwadani, 2. Menurut Theory of Planned Behavior, penentu paling penting dari kinerja perilaku adalah niat individu untuk berperilaku. Niat mencakup motivasi untuk terlibat dalam perilaku yang ditentukan oleh tiga konstruksi, yaitu: . Sikap . valuasi positif atau negati. Norma subjektif . erasaan disetujui atau tidak disetui oleh orang yang dihormat. , dan. Persepsi pengendalian . ersepsi bahwa diberlakukannya perilaku dapat dicapai atau tida. Selain itu, perasaan kontrol perilaku diasumsikan mengerahkan pengaruh langsung pada perilaku. Hal ini karena individu memiliki persepsi yang akurat Namun, seringkali gagal bertindak atas niatnya. Hal ini karena motivasi tidak cukup untuk menjamin kinerja perilaku, terutama pada saat mencapai tujuan yang sulit. Misalnya, pada perilaku yang berpotensi adiktif, seperti berhenti merokok, sebagian besar upaya berhenti merokok menghasilkan kegagalan (Kovac dkk. , 2. Protection Motivation Theory (PMT) menjelaskan perilaku merokok remaja hanya berfokus pada penjelasan perilaku seperti faktor-faktor meningkatkan atau mengurangi kesempatan bagi remaja untuk merokok atau tidak merokok (Stavrou dkk. , 2. Para peneliti di Centers for Disease Control and Prevention . menciptakan model perilaku merokok yang disebut faktor risiko psikososial dalam inisiasi Meskipun model tersebut lebih komprehensif daripada Theory of Planned Behavior, tetapi masih sangat deskriptif, model menganalisis berbagai masalah yang diusulkan berhubungan dengan inisiasi merokok remaja. Selanjutnya, model gagal untuk menjelaskan alasan remaja tidak merokok (Stavrou dkk. Akibatnya, literatur yang ada pada subjek merokok remaja tetap terputus, kurang model diagnostik untuk menjelaskan, secara lebih holistik faktor di balik perilaku merokok Stavrou dkk. , . memperkaya model pada faktor risiko psikososial dalam inisiasi merokok dan membangun sebuah model kerja yang mencoba untuk menangkap faktor di balik proses keputusan remaja untuk merokok atau tidak merokok. Fokus dalam model proses keputusan merokok pada remaja 12 sampai 18 tahun karena usia yang paling penting bagi seseorang untuk mulai merokok, serta untuk menjadi seorang perokok. Stavrou mendokumentasikan aspek-aspek perilaku merokok pada remaja, yaitu: . Ketersediaan rokok . aktor promos. , remaja mudah menemukan rokok, distribusi sampel gratis rokok oleh industri rokok. Keluarga merokok . aktor keluarg. , ayah merokok, ibu merokok, saudara merokok, . Peningkatan kesan . aktor normati. , merokok membuat remaja merasa keren, merasa dewasa, merasa bahwa orang lain mengagumi dirinya. Situasi yang menekan (Distressing Situatio. aktor pribad. , menghadapi masalah pribadi, menghadapi masalah keluarga, menjadi stres ketika belajar, khawatir tentang catatan sekolah, merasa tertekan. Kurang pengetahuan . aktor informas. , tidak tahu bahaya merokok, tidak tahu akibat negatif dari . Arti fungsional yang diperoleh dari merokok . aktor pribad. , menghisap rokok memuaskan, merokok penting dalam hidup, merokok membuat merasa nyaman . , merokok memberi kesenangan. Kematangan Emosi. Efikasi Diri dan Perilaku Merokok Remaja Laki-Laki Usia 12-15 Tahun merokok menenangkan saraf, merokok membuat merasa lebih baik, merokok memberi kekuatan untuk mengatasi masalah. Imitasi panutan selain keluarga . aktor normati. , untuk meniru politisi yang merokok, untuk meniru guru-guru yang merokok, dan. Tindakan terhadap perilaku merokok . aktor promos. , jika lebih banyak pembatasan merokok diberlakukan di sekolah. jika lebih banyak pembatasan yang diberlakukan pada penjualan rokok kepada anak-anak. jika lebih banyak pembatasan merokok diberlakukan di tempat-tempat hiburan. Kematangan emosi Individu yang mampu mengendalikan reaksi kompleks dan mengandung derajat aktivitas yang tinggi dari adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat adalah individu yang memiliki kematangan emosi. Kematangan emosi adalah keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi, pribadi yang matang emosinya tidak lagi menampilkan - emosi anak-anak (Chaplin. Kematangan emosi adalah kemampuan untuk membedakan dan mengidentifikasi dengan tepat emosi diri, kebebasan untuk mengekpresikan emosi sesuai dengan situasi tertentu (Hambarick, 2. Kematangan meningkatnya emosi-emosi kecil seperti kemarahan, kebencian dan frustrasi ke arah pemahaman penuh kasih dan kontrol diri. Orang yang matang secara emosional mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan karena itu tahu bagaimana menanggapi orang lain dan menciptakan hubungan emosional. Tingkat kematangan emoi menciptakan jenis hubungan dan koneksi yang penuh dengan Kematangan emosi adalah tentang memiliki naluri, kebijaksanaan, kontrol dan kedewasaan untuk keluar dari kesulitan emosional dan kesalahpahaman. Kematangan emosi adalah semua tentang kemampuan mengembalikan harmoni emosional dalam hubungan apapun dan dengan siapapun, baik itu dengan anggota keluarga, teman dan rekan Kematangan emosi membuat orang bisa tersenyum dan bersikap empati, bersikap baik dan hangat, menjadi emosional murah hati, dan percaya pada intuisi diri dan kebijaksanaan emosional (Wealthnol, 2. Kematangan emosi menurut Haber . alam Klever, 2. adalah kemampuan individu untuk membimbing kehidupan berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan, proses kognitif dibandingkan emosional. I-position . osisi say. , dan ketahanan terhadap tekanan Menurut Klever . kematangan emosi disebut juga dengan apek-aspek fungsional tingkat diferensiasi diri. Menurut Skowron dan Friedlander . apek-aspek fungsional tingkat diferensiasi diri adalah: . Emotional reeactivity, mencerminkan sejauh lingkungan dengan luapan emosional, labilitas emosional, atau hipersensitivitasl . I Position, mencerminkan rasa yang jelas tentang diri dan keyakinan seseorang ketika ditekan untuk melakukan hal yang sebaliknya. Emotional Cutoff, mencerminkan perasaan terancam oleh keintiman dan merasa kerentanan yang berlebihan dalam hubungan dengan orang lainl . Fusion With Others, mencerminkan keterlibatan emosi yang berlebihan dalam hubungan dengan orang lain, termasuk triangulasi dan identifikasi yang berlebihan terhadap orang tua. Efikasi-diri Efikasi-diri keyakinan individu terhadap kapabilitas diri untuk meningkatkan prestasi dalam kehidupan. Efikasi-diri dapat berupa bagaimana perasaan individu, cara berpikir, motivasi diri, dan Supeno dan Suroso keinginan memiliki sesuatu (Bandura, 1. Efikasi-diri menunjuk pada keyakinan individu tentang kepasitas untuk menggunakan kontrol peristiwa yang mempengaruhi hidupnya (Bandura dalam Mikkelsen & Einarsen, 2. Efikasi-diri adalah keyakinan individu bahwa dirinya dapat menjalankan perilaku pada tingkat yang diperlukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan (Geller dkk, 2. Proposisi kunci teori efikasi-diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuan yang benar-benar menentukan perilaku apa yang akan dilakukan, berapa banyak usaha yang akan dilakukan, dan berapa lama individu akan mempertahankan perilaku ketika keberhasilan tertunda (Lyman, dkk. , 1. Efikasi-diri adalah keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah secara efektif. Efikasi-diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan Individu dengan efikasi-diri tinggi memiliki komitmen memecahkan masalah dan tidak akan menyerah ketika menyadari strategi yang sedang digunakan tidak berhasil (Reivich & Shatty, 2. Individu dengan efikasi-diri tinggi akan efektif menghadapi tantangan, kemampuan diri, cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan (Bandura. Oliver dan Paull . mengemukakan aspek efikasi-diri umum (Generalized Selfefficacy atau Global Self-efficac. , yaitu serangkaian keyakinan yang relatif bertahan lama bahwa individu dapat mengatasi masalah secara efektif dalam berbagai situasi. Menurut Choi . walaupun pengukuran efikasi-diri menitikberatkan pada tugas khusus, beberapa peneliti menyatakan bahwa efikasi-diri dalam situasi dan konteks khusus dapat ditransformasi pada efikasi-diri global . eperti efikasi-diri Menurut teori kognisi sosial, efikasi-diri digeneralisasikan pada perbedaan tugas menurut pengalaman penguasaan tugas Efikasi-diri global menjelaskan perbedaan individual ketika seseorang secara jelas menampakkan penguasaan tugas khusus. HIPOTESIS Berdasarkan dari rumusan masalah dan landasan teori diatas, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah : . Ada hubungan negative antara Kematangan emosi dan efikasi diri dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12-15 tahun. Ada hubungan negative kematangan emosi dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12-15 Ada hubungan negative efikasi diri dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12-15 tahun. METODE Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian korelasional dengan menggunakan variabel bebas kematangan emosi dan efikasi diri dengan variabel tergantung adalah perilaku Subyek penelitian adalah remaja laki-laki usia 12-15 tahun yang telah merokok di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Subjek dipilih dengan menggunakan teknik peer to peer sampling dengan jumlah subjek sebanyak 131 remaja. Penelitian ini menggunakan skala perilaku merokok berdasarkan teori Stavrou dkk . dengan 5 aspek yaitu : . Promosi,. Keluarga. Normatif. Pribadi dan . Aspek Corrected-Item-TotalCorrelation skala perilaku merokok antara 0,302 Ae 0,696 dengan Reliabilitas Alpha = 0,730. Skala kematangan emosi dikembangkan berdasarkan teori Skowron dan Friedlander . dengan 4 aspek yaitu emotional reeactivity. I Position, emotional cut off, fusion with others Emotional reeactivity. CorrectedItem-Total-Correlation skala kematangan emosi antara 0,261 Ae 0,560 dengan Reliabilitas Alpha = 0,722. Sedangkan skala Efikasi-diri diukur dengan 10 aitem favourabel skala Efikasi-Diri Global (ED-G) dari Jerusalem dan Kematangan Emosi. Efikasi Diri dan Perilaku Merokok Remaja Laki-Laki Usia 12-15 Tahun Schwarzer . alam Schwarzer dkk, 1. versi Bahasa Inggris dengan bobot faktor 0,40 Ae 0,60, skala diadaptasi dalam Bahasa Indonesia. Uji hipotesa menggunakan teknik statistik regresi ganda dengan menggunakan Seri Program Statistik (SPS 2. HASIL Dari analisis data dengan menggunakan regresi ganda diperoleh hasil F regresi = 2,179 dengan p = 0,177 . > 0,. Hasil ini berarti hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini bahwa ada hubungan negative kematangan emosi dan efikasi-diri dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 Ae 15 tahun Selain itu dari pengujian antara masing masing variabel bebas terhadap variabel tergantung perilaku merokok menunjukan bahwa : . Nilai korelasi parsial antara kematangan emosi dengan komitmen kerja didapatkan hasil r = -0,173 dengan p = 0,049 . < 0,. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis yang berbunyi ada hubungan negative kematangan emosi dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 Ae 15 tahun diterima. Nilai korelasi parsial antara efikasi diri dengan perilaku merokok didapatkan hasil r = - 0,055 dengan p = 0,534 . > 0,. Hasil ini menunjukkan, bahwa hipotesis yang berbunyi ada hubungan efikasi-diri dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 Ae 15 tahun PEMBAHASAN Kematangan emosi dan efikasi-diri tidak berhungan dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 - 15 tahun. Temuan penelitian menunjukkan proporsi variasi tinggi rendahnya perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 - 15 tahun tidak dapat dijelaskan melalui kematangan emosi dan efikasi-diri. Kematangan emosi dan efikasi-diri merupakan variabel psikologis yang bersifat positif dan tidak menghasilkan kemungkinan keluaran variabel negatif, yaitu perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 - 15 tahun. Tidak adanya hubungan tersebut tidak sesuai dasar teori. Kematangan emosi dan efikasi-diri tidak menurunkan niat remaja untuk memutuskan tidak merokok. Kematangan emosi secara tersendiri berhubungan dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 - 15 tahun. Kematangan emosi menyeimbangkan emosi dan fungsi intelektual. keintiman dan kemandirian dalam hubungan antar individu. kemampuan untuk membedakan pikiran dari perasaan, dan. individu untuk memilih antara dipandu oleh Kemampuan-kemampuan emosinya matang akan mendorong remaja membuat keputusan untuk tidak merokok. Remaja yang emosinya matang merespon rangsangan lingkungan dengan luapan emosional, labilitas emosional, atau hipersensitivitas . erlalu pek. yang rendah. Remaja yang emosinya matang memiliki rasa yang jelas tentang diri dan kemampuan untuk berpikir mematuhi keyakinannya ketika ditekan untuk melakukan hal yang sebaliknya. Remaja yang emosinya matang tidak merasa terancam oleh keintiman dan merasa rentan yang berlebihan dalam hubungan dengan orang lain. Remaja yang emosinya matang tidak melibatkan emosi yang berlebihan dalam hubungan dengan orang lain, termasuk hubungan segitiga dan identifikasi yang berlebihan terhadap orang tua. Remaja yang emosinya matang kemungkinan tidak akan merokok mesti mengalami berbagai masalah yang berkaitan dengan merokok dan mengarah pada pertimbangan remaja untuk merokok atau tidak merokok, yaitu faktor promosi, keluarga, normatif, pribadi dan faktor informasi. Remaja yang emosinya matang dapat diprediksi tidak akan terpengaruh untuk merokok meski ada Supeno dan Suroso promosi yang dilakukan oleh para produsen Misalnya promosi rokok gratis dari industri rokok dan promosi pembatasan rokok. Remaja yang emosinya matang kemungkinan juga tidak akan terpengaruh untuk merokok meski anggota keluarganya merokok dan juga tidak ingin memperoleh kesan diri dari perilaku Remaja yang emosinya matang juga mungkin tidak akan merokok meski menghadapi masalah pribadi. Remaja yang emosinya matang kemungkinan tidak akan merokok walaupun kurang edukasi akibat merokok atau kurang pengetahuan bahaya Remaja dengan emosi matang mampu mempertahankan dorongan emosi, memahami emosi diri untuk diarahkan kepada tindakantindakan positif, tidak menggantungkan diri kepada orang lain, sadar dan bertanggung jawab menjalankan keputusan, menerima kelemahan maupun kelebihan dan menerima diri secara fisik maupun psikis dengan baik. Remaja yang matang emosinya kemungkinan pelampiasan keadaan emosi. Remaja dengan emosi matang berperilaku menghindari rokok Efikasi-diri merupakan variabel internal yang Efikasi-diri secara parsial tidak berhubungan dengan perilaku merokok remaja laki-laki usia 12 - 15 tahun. Tidak adanya DAFTAR PUSTAKA