Guidance: Jurnal Bimbingan dan Konseling Volume 22 Nomor 2 Desember 2025. Halaman 409-420 https://uia. e-journal. id/guidance https://doi. org/10. 34005/guidance. PELATIHAN ASERTIVITAS UNTUK MENCEGAH PERILAKU PERUNDUNGAN Nadya Hazna Aprita*1. Ria Wardani2. Meilani Rohinsa3 Universitas Kristen Maranatha Bandung. Indonesia E-mail: nadyahazna@gmail. Info Artikel Accepted: Agustus 2025 Published: Desember 2025 Abstract This study aims to design an assertiveness training program to prevent bullying behavior among junior high school students at AuXAy Junior High School in Bandung City. This research employed a quantitative experimental method involving 20 adolescent participants, consisting of 10 students in the experimental group and 10 students in the control group, aged between 12 and 14 years. The participants were selected using the purposive sampling technique. The intervention was conducted four times, each session lasting 90 minutes. Data were collected using questionnaires and analyzed using the Mann-Whitney and Wilcoxon tests. The results showed that assertiveness training effectively improved adolescentsAo assertive abilities. These findings indicate a significant difference in assertiveness between the group that received the training and the group that did not, demonstrating that the intervention had a positive impact on the development of adolescentsAo assertive behavior. Keywords: adolescent. assertiveness training. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membuat rancangan pelatihan asertivitas untuk mencegah perilaku perundungan pada remaja SMP "X" Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif metode eksperimental dengan subjek penelitian 20 orang remaja yang terdiri dari 10 kelompok eksperimen dan 10 kelompok kontrol dengan rentang usia 12 Ae 14 tahun. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan partisipan Intervensi dilakukan sebanyak 4 kali dengan durasi 90 menit. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji mann-whitney dan uji Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan asertivitas efektif meningkatkan kemampuan asertif remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang menunjukkan peningkatan asertivitas pada kelompok yang mendapatkan pelatihan dan memberikan dampak positif terhadap perkembangan asertif remaja dibandingkan dengan kelompok remaja yang tidak mendapatkan pelatihan. Kata kunci: remaja. pelatihan asertif. p-ISSN1978-6794 e-ISSN 2715-5307 A2025 Guidance: Jurnal Bimbingan dan Konseling Alamat korespondensi: Kampus FKIP UIA. Jalan Jatiwaringin No. PENDAHULUAN melempar dengan barang, menghukum Perilaku perundungan pada remaja dengan cara berkeliling lapangan dan push adalah masalah psikososial yang semakin Kedua, perundungan verbal yaitu mendapatkan perhatian dalam konteks pendidikan dan kesehatan mental. Perilaku ini tidak hanya berdampak negatif pada perilaku memaki, menghina, menjuluki, korban sehingga menyebabkan berbagai meneriaki dengan memalukan di depan permasalahan yaitu gangguan kecemasan, umum, menuduh, menyoraki, menyebar depresi dan penurunan harga diri (Rigby, 2. , pada pelaku perundungan dampak perundungan mental atau psikologi yang yang terjadi yaitu berisiko mengalami dianggap paling berbahaya karena bentuk perundungan ini tidak tertangkap mata perilaku antisosial di masa dewasa (Cook atau telinga, dan dilakukan secara diam- et al, 2. Perundungan merupakan masalah serius yang memerlukan perhatian perilaku perundungan mental diantaranya, dari profesional dengan latar belakang memandang sinis dan penuh ancaman Indonesia (Suci Kusnadi, 2. Ketiga. Contoh mengucilkan, mempermalukan, meneror Kasus perundungan yang terjadi pada remaja berkembang dari waktu ke merendahkan, memelototi serta mencibir waktu dimulai sejak individu pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Sekolah Menengah Perilaku perundungan pada remaja Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah dapat ditemukan sejak individu berusia Atas (SMA). Perundungan merupakan delapan tahun, hal tersebut terjadi karena perilaku agresif yang dilakukan secara perilaku agresif, mengintimidasi, atau terhadap individu lain (Rettew. , & menindas dengan sasaran teman sebaya Pawlowski. S, 2. Menurut Laporan yang dianggap menyendiri, cenderung dari Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa, bereaksi atau membalas, kurang percaya 2. , perundungan dikategorikan menjadi diri, mempunyai kebutuhan khusus, atau tiga jenis. Pertama, perundungan fisik yaitu menampar, menimpuk, menginjak Perilaku terjadi karena anak usia delapan tahun mulai mencurahkan minat dan perhatian pada teman sebaya, aktivitas tim sebagian besar siswa setiap hari di sekolah keluarga, guru ataupun saudara kandung. ataupun secara tidak langsung (Smith P. Di usia ini, anak juga mendapat kepuasan dengan bergantung kepada teman sebaya (Marotz. Lynn R. K & Eilen Aleen, 2. Siswa berusia 13 hingga 15 tahun Remaja . he melakukan perundungan untuk memeroleh atau setara dengan 150 juta siswa mengaku mengalami kekerasan antarteman sebaya perilaku perundungan untuk mendapatkan baik di dalam dan di sekitar sekolah. Satu reputasi dalam interaksi sosial mereka dari tiga siswa dalam kelompok usia ini (Houghton dkk, 2. Lokasi yang mengalami perundungan yang berujung dijadikan tempat perundungan di kawasan pada perkelahian fisik (UNICEF, 2. sekolah yaitu kawasan yang bebas dari Sistem Informasi Online Perlindungan pengawasan guru ataupun orangtua seperti Perempuan (Simfoni-PPA) di ruang kelas, kantin, toilet, pekarangan, menjelaskan kasus perundungan di Jawa lapangan, dan lorong sekolah (Sejiwa. Barat dalam 3 tahun terakhir tercatat Alasan yang memperkuat pelaku 186 kasus pada 2020, 1. melakukan perundungan yaitu adanya kasus pada 2021 dan tahun 2022 terdapat perasaan iri hati hingga dendam kepada 001 kasus. Dari data tersebut diperoleh bahwa potensi terjadinya perundungan diskriminatif, pengalaman masa lalu dan dilakukan pada cakupan tempat lebih luas, masalah dalam keluarga (Marrison, dalam Astuti, 2. Anak sebaliknya, di rumah, di tempat umum. Perilaku perundungan jika tidak bahkan di era teknologi seperti dewasa ini perundungan kerap terjadi di media sosial mengalami harga diri rendah, perilaku . (Sejiwa, 2. Remaja antisosial, depresi, kurang percaya diri dan yang terlibat perilaku perundungan tidak terbatas pada remaja lakiAilaki atau obat-obatan terlarang. Di masa depan, perilaku perundungan yang terus menerus potensi yang sama untuk menjadi pelaku, dilakukan akan mengakibatkan perilaku korban dan penonton perundungan (Kim, agresif hingga dewasa yang memicu et al. Hal tersebut memengaruhi pelaku perundungan melakukan tindakan kekerasan dan kriminal (Sullivan et, al, observasi (Snyder. , & Sickmund. Perundungan tergolong jenis agresi Faktor yang menyebabkan hal antar pribadi yang unik dan kompleks serta tersebut terjadi yaitu pengaruh teman memiliki bentuk bervariasi dalam berbagai sebaya (Espelage. Swearer. Selain itu, faktor lainnya yang dianggap sebagai fenomena kelompok di memengaruhi adalah persepsi individu lingkungan sosial yang melibatkan korban dan pelaku yang didukung oleh beberapa merasa bahwa perundungan dapat diterima faktor yang menggalakan, memelihara dan atau dihargai dalam kelompok dimana ia mendukung pelaku perundungan. Dampak berada, maka individu tersebut memiliki Perundungan Jika perundungan dapat disebabkan juga oleh perilaku perundungan (Salmivalli. hubungan dengan teman sebaya, keluarga. Voeten. M, 2. Pengaruh sosial dan guru, tetangga dan interaksi sosial di budaya, norma sekolah juga memiliki lingkungan bukan hanya karena karakter kontribusi yang besar untuk remaja terlibat pelaku saja (Swearer. , & Hymel. S, dalam perundungan (Gini. G, 2. Intervensi psikologi yang efektif Remaja perundungan merasakan ketidaknyamanan, terapi perilaku kognitif (Mumbauer. C & takut, sulit konsentrasi di sekolah sehingga Kelso, (Sutrisno. A, 2. , program self-esteem akademik hingga keinginan remaja untuk bunuh diri (Denise, et al, 2. Selain (Rachmawati. I, 2. , program berbasis dari sisi korban, pelaku perundungan sekolah (Arango. C, 2. , dan pelatihan merasa terperangkap sebagai pelaku dan asertivitas (Alberti dan Emmons, 2. tidak dapat membina hubungan sehat. Pelatihan asertivitas terbukti efektif untuk memiliki perspektif lain terhadap korban, meningkatkan keterampilan komunikasi menganggap diri kuat, merasa banyak sehat, empati dan kontrol diri (Ersanli & yang tidak menyukainya dan rendahnya Korkut, 2. Remaja yang memiliki rasa empati (Coloroso, 2. Saat remaja tingkat asertivitas rendah cenderung lebih menyaksikan perundungan yang dilakukan mudah terlibat dalam perundungan baik terhadap individu lain, maka remaja sebagai pelaku ataupun korban (Espelage & Holt, 2. , dan sebaliknya remaja yang memiliki kemampuan asertif yang tinggi cenderung faktor-faktor tekanan teman sebaya, menolak ajakan berdampak pada korban yang mengalami negatif dan mempertahankan batas pribadi (Hawkins et, al, 2. Pelatihan mencegah perilaku perundungan dilakukan penyesuaian diri saat dewasa (Beattie. Remaja seringkali tidak menyadari telah melakukan perundungan kepada dipersepsikan sebagai perilaku yang wajar, dianggap sebagai gurauan bukan suatu penyiksaan, proses tumbuh dewasa dan ketahanan dengan cara mempromosikan agresi yang tidak menimbulkan korban keterampilan sosial, komunikasi dan anger (Siswanti & Widayanti, 2. Ditinjau management yang positif, meningkatkan dari data dan penelitian yang diperoleh, harga diri serta mengurangi perilaku pelecehan pada remaja (Holt et al dalam pencegahan perundungan pada remaja Lynn R. K & Eilen Aleen, 2. SMP "X" Kota Bandung. Upaya yang Beberapa intervensi perundungan yang dapat dilakukan untuk mencegah perilaku dilakukan di sekolah biasanya hanya perundungan pada remaja yaitu dengan terfokus pada pelaku perundungan yang cara memfokuskan remaja untuk menolak memiliki permasalahan. Selain itu, guru menjadi pelaku perundungan dan tidak perundungan di kemudian hari. Untuk mengalami cedera fisik, sedangkan bentuk upaya holistik dan integratif. Jika remaja perundungan lainnya baik secara verbal, telah menjadi korban perundungan, remaja relasional dan psikologis dianggap tidak akan mengalami dampak yaitu rendahnya berbahaya (Djuwita, 2. Selain itu, self-esteem, permasalahan yang terjadi antarsiswa di mampu melawan pelaku, merasakan rasa sekolah hanya dianggap oleh guru sebagai sakit secara fisik dan psikologis, serta takut sekolah (Astuti, 2. dilakukan dan siswa yang menjadi korban kekerasan dianggap hal wajar. Padahal yang serius jika pelaku perundungan Pelatihan asertif diberikan pada keterampilan untuk berinteraksi dengan perundungan sehari-hari. Sesi keempat, cara yang sehat dan menghindari konflik remaja diberikan materi mengenai kaitan untuk mencegah perilaku perundungan (Horne. , & Caspi. M, 2. Selain memfokuskan remaja agar mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menghadapi situasi perundungan sekolah dengan lebih efektif (Espelage, remaja diberikan materi untuk menerapkan , & Swearer. M, 2. dan peran penting keterampilan asertif sebagai salah satu upaya untuk mencegah perundungan kehidupan sehari-hari, hambatan apa saja pada siswa remaja (Ainiyah & Cahyati, yang remaja temui saat menghadapi situasi Akbar, et al, 2021 dan Selvinda, et, , 2. Dalam penelitian ini, pelatihan mempertahankan asertivitas dalam situasi asertivitas akan dilakukan dalam waktu 4 perundungan dalam kehidupan sehari-hari. kali pertemuan dengan durasi 90 menit. Sesi kelima dilanjutkan dengan action plan Sesi pertama akan membahas mengenai konsep perundungan untuk menyamakan setelah mengikuti 4 sesi pelatihan. Selain dilanjutkan dengan konsep asertivitas dan manipulasi . anipulation chec. Cek perbedaan dari perilaku asertif, agresif manipulasi adalah metode pengukuran serta pasif. Sesi kedua akan memaparkan mengenai keterampilan asertivitas yang independen telah berjalan sesuai dengan terdiri dari konsep membangun harga diri, rencana penelitian (Sani & Todman. Langkah yang akan dilakukan yaitu nyaman, melatih kemampuan mengatakan memberikan angket tertulis di akhir sesi tidak dan memertahankan diri dalam untuk memeroleh informasi mengenai situasi perundungan serta langkah-langkah Pada sesi ketiga, partisipan manipulasi kondisi, serta menanyakan penelitian eksperimen secara prosedural perundungan, serta menerapkan langkah- untuk menjelaskan hubungan sebab akibat antara variabel independen dan variabel sangat sering, sering, tidak setuju dan dependen (Myers & Hansen, 2. sangat tidak setuju. Tahap METODE dilakukan dalam rancangan penelitian ini Penelitian yang digunakan yaitu adalah mengelompokkan remaja menjadi kuantitatif yang bertujuan untuk menguji dua kelompok yaitu eksperimen dan suatu teori dengan memerinci hipotesis - kontrol dan keduanya diberikan kuesioner hipotesis spesifik, mengumpulkan cara pre-test memerinci hipotesis - hipotesis, dan mengumpulkan data untuk mendukung eksperimen diberikan pelatihan asertivitas dan kelompok kontrol tidak diberikan hipotesis-hipotesis Selanjutnya. Setelah Desain eksperimen yang digunakan adalah pre- perilaku perundungan sebagai post-test. test-post-test Setelah itu, dilakukan uji statistik dari Variabel independen kedua kelompok tersebut dan diperoleh yang digunakan dalam penelitian yaitu hasil dari kedua kelompok. Teknik uji pelatihan asertivitas dan variabel dependen statistik yang digunakan yaitu uji non- (Creswell, 2. Dalam Mann-Whitney penelitian ini, penulis menggunakan teknik Wilcoxon. Tujuan dari uji statistik yaitu purposive sampling dalam menentukan Untuk kelompok . ksperimen dan kontro. dan berdasarkan dari teori Alberti & Emmons variabel asertivitas perilaku perundungan . yang telah diadaptasi ke dalam pada kelompok eksperimen sebelum dan Bahasa Indonesia oleh Suryani. Oci Eka sesudah pemberian intervensi, serta untuk . Skala ini terdiri dari 37 item memeriksa perbedaan tingkat asertivitas dengan nilai validitas instrumen yang perilaku perundungan pre-test dan post- 302 - 0. 701 dengan nilai test pada kelompok eksperimen dan reliabilitas instrumen 0. Setiap item kelompok kontrol. diukur menggunakan skala likert yang terdiri dari empat alternatif jawaban yaitu HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Deskripsi partisipan penelitian Usia Kelompok Eksperimen M = 13. SD = 0. R = 12 - 14 Jenis Kelamin Kelompok Eksperimen % Laki-laki = 50 . = . % Perempuan = 50 . = . Usia Kelompok Kontrol M = 12. SD = 0. R = 12 - 14 Jenis Kelamin Kelompok Kontrol % Laki-laki = 50 . = . % Perempuan = 50 . = . Berdasarkan memiliki rata-rata sebesar 12. 7, standar deviasi sebesar 0. 675 dan rentang usia 12- eksperimen memiliki rata-rata sebesar 14 tahun. Jenis kelamin kelompok kontrol 1, standar deviasi sebesar 0. 567 dan rentang usia 12-14 tahun. Adapun jenis laki-laki kelamin kelompok eksperimen adalah Usia Tabel 2. Hasil uji pre-test antar kelompok berdasarkan nilai rank Kelompok Mean Rank Skor Asertivitas Eksperimen 12. Kontrol Berdasarkan tabel 2 Hasil uji pre- eksperimen adalah 12. 00, sedangkan nilai test kelompok berdasarkan nilai rank mean rank kelompok kontrol adalah 9. menunjukkan nilai mean rank kelompok Tabel 1 Hasil uji post-test antar kelompok berdasarkan nilai rank Kelompok Mean Rank Skor Asertivitas Eksperimen 13. Kontrol Berdasarkan tabel 3 Hasil uji post- eksperimen memiliki nilai lebih tinggi test antar kelompok berdasarkan nilai secara signifikan dibandingkan dengan mean rank kelompok eksperimen 13. kelompok kontrol. sedangkan nilai mean rank kelompok Kelompok Tabel 4 Hasil perbandingan pre-test dan post-test antar kelompok Mann-Whithney U Exact Sig . Berdasarkan Pre-test Post-Test pre-test perbandingan pre-test dan post-test antar kelompok memiliki nilai p = 0. 280 > 0. Sedangkan, hasil perbandingan post-test berarti H0 diterima, artinya tidak terdapat antar kelompok eksperimen dan kontrol memiliki nilai p= 0. 029 < 0. 05 berarti H1 diperoleh nilai 0. 359 yang tergolong ditolak, artinya terdapat perbedaan yang medium effect, signifikan antara kelompok eksperimen perbedaan yang moderat pada pre-test dan kontrol pada hasil post-test. kedua kelompok. Sedangkan, nilai effect Tabel 2 Hasil Perhitungan Effect Size Pre-test Post-Test Nilai Effect Size Berdasarkan artinya terdapat post-test diperoleh nilai 0. 682 yang tergolong large effect antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. perhitungan effect size kedua kelompok Tabel 3 Hasil uji pre-test dan post-test antar kelompok berdasarkan nilai signifikansi Post-test & pre-test Post-test & pre-test kelompok kontrol kelompok eksperimental Asymp. Sig. -taile. Tabel 4. 6 Hasil uji pre-test dan post-test antar kelompok berdasarkan nilai signifikansi menunjukkan nilai 0. 139 yang Demikian berarti H0 diterima, artinya tidak terdapat kelompok kontrol. Tabel 7 Hasil manipulation check Pertanyaan Saya mengetahui apa yang dimaksud asertivitas Saya ingin menerapkan asertivitas dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah perilaku Saya memahami bahwa diri saya berharga Saya mampu mengekspresikan penolakan saat oranglain mengajak saya untuk melakukan perundungan Saya merasa lebih percaya diri untuk mengatakan tidak terhadap ajakan yang salah dari teman Saya akan menanggapi dengan respon positif jika ada pandangan negatif dari lingkungan terhadap saya Saya merasa mampu menghadapi situasi ketika saya atau oranglain menjadi target perundungan dengan cara yang tegas namun sopan Saya mampu menyatakan kritik atas ajakan Saya memahami perbedaan antara perilaku asertif, agresif dan pasif Setelah pelatihan, saya tahu bagaimana menyampaikan ketidaksukaan saya terhadap perilaku perundungan tanpa bersikap kasar Berdasarkan Total manipulation check diperoleh gambaran dalam kehidupan sehari-hari mereka untuk seluruh partisipan memahami asertivitas mencegah perilaku perundungan. PEMBAHASAN hari untuk memperkuat harga diri, dan Penelitian menghindari konflik yang tidak sehat. menguji efektivitas pelatihan asertivitas Peningkatan guna mencegah perilaku perundungan. Remaja berada dalam masa pencarian pencegahan perilaku perundungan baik identitas dan membutuhkan pengakuan sebagai pelaku, korban ataupun saksi sosial sehingga penting untuk memiliki (Rigby, kemampuan untuk menyatakan pendapat, keterlibatan dalam perilaku perundungan menetapkan batasan dan memertahankan karena remaja yang asertif cenderung tidak diri dari tekanan teman sebaya sebagai kehendak dan tidak membiarkan dirinya Sejalan dan oranglain disakiti (Rigby, 2. dengan pelatihan yang telah dilakukan Remaja dengan keterampilan asertif yang dalam penelitian ini, pelatihan asertivitas baik akan mampu menetapkan batasan pribadi, mampu melakukan penolakan mengembangkan sikap positif terhadap terhadap ajakan negatif dari teman sebaya diri sendiri, berkomunikasi secara terbuka dan tegas (Alberti & Emmons, 2. Alberti & Emmons . mengemukakan konflik agresif. mendorong remaja lebih percaya diri, dikembangkan melalui pelatihan, terutama mengenali diri dan bertindak secara lebih konstruktif dalam situasi sosial dan secara (Santrock. Pelatihan asertivitas keterampilan sosial pada remaja. Selain itu, adanya peningkatan asertivitas selaras perilaku perundungan (Alberti & Emmons, dengan karakteristik perkembangan remaja protective factor dalam upaya pencegahan asertif, tidak akan menjadi target ataupun Remaja mampu memertahankan diri secara sehat Peningkatan skor asertivitas pada Asertivitas (Santrock, 2. dan tidak agresif (Parada, 2. bahwa remaja mulai mengembangkan perilaku asertif dalam kehidupan sehari418 SIMPULAN Pelatihan asertivitas efektif dalam meningkatkan kemampuan asertif remaja. Sebelum terdapat perbedaan hasil statistik pada Setelah asertivitas, pada kelompok eksperimen terdapat perbedaan yang menunjukkan adanya peningkatan setelah mendapatkan Secara pelatihan asertivitas dapat memberikan dampak positif yang bermakna terhadap perkembangan perilaku asertif remaja dibandingkan dengan remaja yang tidak mendapatkan pelatihan asertivitas. DAFTAR PUSTAKA