Vol 5 No. - Agustus, pp 2933-2940 https://w. org/10. 59025/6ysrq183 Jurnal Masyarakat Madani Indonesia e-ISSN: 2829-6702 https://syadani. Integrasi Literasi Digital Melalui Video Blog (Vlo. Sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris Kontekstual Bagi Siswa SMA di Pulau Damer Hendrik Jacob Maruanaya1. Louisa Sarah Kamanasa1. Yulina Tiwery1. Fredi Meyer1. Dian Sartin Tiwery1 1Program Studi Diluar Kampus Utama Universitas Pattimura Kab. Maluku Barat Daya INFO ARTIKEL Diserahkan 29/06/2026 Direvisi 08/07/2026 Diterima 17/07/2026 Diterbitkan 31/07/2026 Kata Kunci: Literasi Digital. Vlog. Pembelajaran Bahasa Inggris Kontekstual. Wilayah 3T Corresponding author email: hjmaruanaya@gmail. ABSTRAK Pulau Damer di Kabupaten Maluku Barat Daya merupakan wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal . T) yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur pendidikan dan Rendahnya literasi digital serta kemampuan berbahasa Inggris menjadi tantangan utama bagi siswa sekolah menengah atas di wilayah tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengintegrasikan literasi digital ke dalam pembelajaran bahasa Inggris kontekstual melalui media Video Blog (Vlo. Program dilaksanakan selama satu minggu di SMA Negeri Aprian dan SMA Negeri 18 Maluku Barat Daya dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Project-Based Learning (PjBL). Siswa dilatih menyusun naskah, merekam, dan menyunting Vlog berdurasi 2Ae3 menit yang mengangkat tema budaya dan lingkungan Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata kemampuan berbicara bahasa Inggris dari skor 60 pada pre-test menjadi 77 pada post-test, atau mengalami peningkatan sebesar 28%. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan keterampilan literasi digital dasar siswa, terutama dalam penyusunan konten, pengambilan gambar, penyuntingan video, dan pemanfaatan media digital secara bertanggung jawab. Program ini tidak hanya meningkatkan kompetensi berbahasa Inggris, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, kemampuan kolaborasi, serta apresiasi terhadap budaya lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi Vlog dalam pembelajaran bahasa Inggris kontekstual merupakan strategi yang efektif dan berpotensi direplikasi sebagai model pembelajaran berbasis konteks di wilayah 3T maupun daerah terpencil lainnya. Copyright@ Author . Published by Alesha Media Digital. This is an open access article under the CC BY SA license. All writings published in this journal are personal views of the author and do not represent the views of this journal and the authorAos affiliated institutions. PENDAHULUAN Pulau Damer merupakan salah satu wilayah terpencil di Kabupaten Maluku Barat Daya yang memiliki kondisi geografis cukup menantang untuk pengembangan pendidikan. Letaknya yang jauh dari pusat pemerintahan provinsi dan hanya bisa diakses melalui transportasi laut membuat ketersediaan fasilitas pendidikan dan teknologi di daerah ini masih minim. Infrastruktur jaringan listrik, internet dan sarana digital di sekolah-sekolah juga belum memadai, sehingga kegiatan belajar mengajar masih banyak dilakukan secara konvensional tanpa dukungan media berbasis teknologi. Kondisi ini berdampak pada rendahnya literasi digital dan keterampilan abad ke-21 di kalangan siswa. Selain itu, kesenjangan kemampuan berbahasa Inggris di wilayah-wilayah terpencil seperti Damer juga cukup signifikan jika dibandingkan dengan daerah perkotaan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya tenaga pendidik yang memiliki kompetensi bahasa yang kuat, keterbatasan sumber belajar, serta minimnya eksposur Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol 5 No. - Agustus, pp 2933-2940 siswa terhadap penggunaan bahasa Inggris dalam konteks kehidupan nyata . Padahal, kemampuan berbahasa Inggris yang baik menjadi salah satu keterampilan esensial untuk beradaptasi dengan dunia global dan digital. Dalam konteks ini, pembelajaran bahasa Inggris kontekstual menjadi penting untuk diterapkan. Pendekatan ini menekankan pada pengajaran yang mengaitkan bahasa dengan situasi nyata kehidupan siswa agar mereka memahami fungsi bahasa sebagai alat komunikasi sosial . Melalui kegiatan yang berbasis konteks lokal, siswa dapat belajar bahasa dengan makna yang lebih relevan dan personal. Salah satu strategi inovatif yang dapat digunakan adalah integrasi literasi digital melalui pembuatan video blog (Vlo. Vlog tidak hanya berfungsi sebagai media untuk melatih keterampilan berbicara . peaking skil. , tetapi juga sebagai sarana pengembangan literasi digital dan kreativitas siswa . Dengan membuat Vlog yang berisi deskripsi tentang lingkungan dan budaya lokal mereka dalam bahasa Inggris sederhana, siswa belajar menggunakan bahasa dalam konteks nyata sambil mengasah kemampuan teknologi. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi bahasa Inggris siswa di Pulau Damer, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta keterampilan abad ke-21 yang sangat dibutuhkan di era digital. Melalui praktik terbaik ini, diharapkan pembelajaran bahasa di daerah terpencil dapat menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilandasi oleh sejumlah permasalahan utama yang dihadapi oleh sekolah di wilayah terpencil seperti Pulau Damer. Kondisi geografis yang sulit dijangkau, keterbatasan fasilitas digital, serta rendahnya kemampuan literasi digital dan bahasa Inggris di kalangan siswa menjadi tantangan nyata dalam proses pembelajaran . Dalam konteks tersebut, pembelajaran bahasa Inggris yang masih berfokus pada tata bahasa . rammar-focused learnin. dan penerjemahan teks tidak cukup efektif untuk membangun kemampuan komunikatif siswa . Diperlukan pendekatan yang mampu mengaitkan bahasa dengan kehidupan nyata dan melibatkan siswa secara aktif, sesuai dengan prinsip Contextual Teaching and Learning (CTL) . Selain itu, perkembangan teknologi yang semakin cepat menuntut peserta didik memiliki kemampuan literasi digital agar dapat memanfaatkan media digital secara produktif . Namun, di daerah seperti Pulau Damer, peluang ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan pelatihan dan model pembelajaran berbasis teknologi. Berdasarkan analisis tersebut, maka rumusan masalah dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut: Bagaimana mengintegrasikan literasi digital melalui media video blog (Vlo. dalam pembelajaran bahasa Inggris kontekstual bagi siswa SMA di Pulau Damer? Bagaimana efektivitas penggunaan Vlog dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dan literasi digital siswa? Apa saja faktor pendukung dan tantangan dalam penerapan pembelajaran bahasa Inggris berbasis Vlog di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur digital? Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan alternatif praktik pembelajaran bahasa Inggris yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan kompetensi digital siswa di wilayah Secara khusus, tujuan kegiatan ini adalah mengintegrasikan literasi digital ke dalam pembelajaran bahasa Inggris melalui pembuatan video blog (Vlo. yang menampilkan budaya lokal, meningkatkan kemampuan komunikasi siswa melalui pendekatan berbasis proyek, serta menumbuhkan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas . Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memberikan pengalaman belajar yang bermakna serta menyediakan model praktik pembelajaran yang dapat direplikasi di wilayah terpencil lainnya. Dengan tercapainya tujuan tersebut, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pembelajaran bahasa Inggris yang adaptif terhadap perubahan zaman dan tetap berakar pada konteks lokal Pulau Damer. Hendrik Jacob Maruanaya et al (Integrasi Literasi Digital Melalui Video Blog (Vlo. Sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris Kontekstual Bagi Siswa SMA di Pulau Dame. METODE PELAKSANAAN Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri Aprian dan SMA Negeri 18 Maluku Barat Daya yang berlokasi di Pulau Damer. Kabupaten Maluku Barat Daya. Provinsi Maluku. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama 1 minggu dan meliputi tiga tahap utama: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Peserta dalam kegiatan ini adalah siswa SMA kelas X dan XI sebanyak 25 orang yang memiliki minat dalam pembelajaran bahasa Inggris dan keterampilan teknologi. Selain itu, dua guru bahasa Inggris dilibatkan sebagai pendamping kegiatan. Peserta yang terlibat memiliki motivasi tinggi untuk belajar bahasa Inggris secara aktif. Mereka bersedia mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dan produksi Vlog, mampu bekerja kolaboratif dalam kelompok kecil. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menerapkan dua pendekatan pembelajaran utama, yaitu Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CT) . dan Pendekatan Berbasis Proyek (PjBL) . Pendekatan CTL menekankan keterkaitan antara pembelajaran bahasa dan kehidupan nyata siswa sehingga bahasa yang dipelajari menjadi lebih bermakna dan relevan dengan pengalaman mereka sehari-hari . Dalam konteks ini, unsur lokal Pulau Damer seperti alam, budaya, serta kehidupan sosial masyarakat dijadikan sumber belajar utama untuk memperkuat makna dan relevansi materi pembelajaran. Sementara itu, pendekatan PBL berfokus pada pengembangan proyek nyata berupa pembuatan video blog (Vlo. yang menampilkan potensi lokal siswa. Melalui kegiatan proyek ini, peserta didik dilatih untuk berkreasi, berkolaborasi, serta bertanggung jawab terhadap hasil karyanya, sehingga proses pembelajaran tidak hanya menumbuhkan keterampilan bahasa, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan abad ke-21 . Pendekatan CTL dan PBL diterapkan dengan prinsip student-centered learning, di mana siswa berperan aktif sebagai pembelajar dan kreator, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing. Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu tahap persiapan, pelatihan, dan produksi. Pada tahap persiapan, tim pelaksana melakukan koordinasi intensif dengan pihak sekolah dan guru bahasa Inggris untuk menentukan jadwal, peserta, serta kebutuhan teknis kegiatan. Beberapa langkah dilakukan pada tahap ini, antara lain melakukan survei terhadap sarana digital yang tersedia di sekolah dan menyusun modul pembelajaran berjudul AuDigital Literacy and Simple English VloggingAy. Tahap ini berfungsi untuk memastikan kesiapan seluruh pihak yang terlibat serta menyediakan sumber daya yang memadai bagi pelaksanaan program. Tahap berikutnya adalah pelatihan, yang berfokus pada pengenalan literasi digital dasar dan pembuatan video edukatif. Pada tahap ini, siswa memperoleh pelatihan mengenai konsep literasi digital . , etika dan keamanan digital, serta teknik dasar pengambilan gambar dan penyuntingan video menggunakan aplikasi CapCut. Selain itu, mereka juga belajar menulis naskah dalam bahasa Inggris sederhana untuk mendeskripsikan lingkungan atau budaya lokal. Dalam proses pembelajaran ini, siswa didampingi oleh fasilitator dan diberikan kesempatan untuk melakukan simulasi berbicara di depan kamera. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan teknis, tetapi juga melatih kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi lisan dalam bahasa Inggris. Tahap produksi merupakan inti dari kegiatan ini. Pada tahap ini, siswa dibagi menjadi enam kelompok kecil yang masing-masing memilih tema sesuai dengan konteks kehidupan mereka, seperti My Village. Our School, dan Our daily Activities. Setiap kelompok bertanggung jawab untuk menulis naskah, merekam, serta menyunting video berdurasi dua hingga tiga menit. Selama proses produksi, fasilitator memberikan bimbingan intensif baik dalam aspek bahasa yang meliputi tata bahasa . dan pengucapan . , maupun aspek teknis seperti pengambilan gambar dan penyuntingan video. Pendampingan ini memastikan bahwa setiap siswa mampu menghasilkan karya yang tidak hanya kreatif, tetapi juga komunikatif dan Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol 5 No. - Agustus, pp 2933-2940 Tahap terakhir adalah presentasi dan evaluasi, yang dikemas dalam bentuk kompetisi internal sebagai bentuk apresiasi terhadap hasil karya siswa. Seluruh video blog yang telah diproduksi dilombakan dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi belajar, menumbuhkan semangat kompetitif yang sehat, serta menghargai kreativitas dan kerja keras setiap kelompok. Dewan juri terdiri atas fasilitator yang merupakan dosen di bidang bahasa Inggris dan teknologi informasi. Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, yaitu kualitas bahasa Inggris . elancaran, pengucapan, dan struktu. , relevansi serta nilai edukatif konten, kreativitas visual, teknik penyajian, dan kerja sama dalam kelompok. Pemenang kompetisi ditetapkan dalam beberapa kategori, yaitu Juara 1. Juara 2. Juara 3, serta Juara Harapan 1 dan 2. Para pemenang memperoleh hadiah berupa alat tulis, sertifikat, dan publikasi karya mereka melalui kanal YouTube sekolah. Pemberian penghargaan ini tidak hanya berfungsi sebagai motivasi eksternal, tetapi juga sebagai bentuk pengakuan atas kompetensi dan dedikasi siswa. Mengacu pada teori Self-Determination . , apresiasi semacam ini berperan penting dalam memperkuat motivasi intrinsik siswa, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk terus belajar dan berkreasi secara mandiri. Evaluasi Kegiatan Evaluasi dilakukan dengan pendekatan campuran . ixed-metho. meliputi metode kuantitatif yaitu melalui pre-test dan post-test kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa, dan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan refleksi bersama siswa serta guru. Pendekatan etis dan kolaboratif dilaksanakan dengan memperhatikan etika pendidikan dan hak privasi siswa. Video hanya dipublikasikan dengan izin dari sekolah dan orang tua. Konten wajib bersifat edukatif dan menghargai budaya lokal. Guru dilibatkan sebagai mitra utama agar kegiatan dapat berkelanjutan. Kolaborasi aktif antara fasilitator, guru, dan siswa menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan . HASIL & PEMBAHASAN Hasil Kegiatan Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan literasi digital melalui media Video Blog (Vlo. sebagai sarana pembelajaran bahasa Inggris kontekstual menunjukkan hasil yang signifikan. Kegiatan ini berhasil memberikan dampak positif baik terhadap peningkatan kompetensi bahasa Inggris maupun terhadap penguatan keterampilan digital siswa. Secara umum, seluruh peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung dan memperlihatkan peningkatan kemampuan berbahasa yang terukur melalui evaluasi kuantitatif dan kualitatif. Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris Hasil pre-test dan post-test yang diberikan kepada 25 siswa, menunjukan adanya peningkatan kemampuan berbicara bahasa Inggris terutama dalam aspek: Pelafalan . , kefasihan berbicara . ketika mendeskripsikan lingkungan mereka, dan kosa kata . yang lebih bervariasi, terutama kata-kata yang berkaitan dengan budaya lokal dan alam sekitar. Tabel 1. Hasil Pre-Test dan Post-Test Kemampuan mendiskripsikan suatu lokasi secara lisan dalam bahasa Inggris Aspek Penilaian Pengucapan (Pronunciatio. Kefasihan (Fluenc. Kosa kata (Vocabular. Skor Rata-rata Pre-Test Skor Rata-rata Post-Test Peningkatan (%) Hendrik Jacob Maruanaya et al (Integrasi Literasi Digital Melalui Video Blog (Vlo. Sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris Kontekstual Bagi Siswa SMA di Pulau Dame. Rata-rata keseluruhan Rata-rata skor keseluruhan meningkat dari 60 menjadi 77, dengan rata-rata peningkatan sebesar 28%. Penggunaan digital storytelling dan produksi video mampu memperkuat keterampilan berbahasa melalui peningkatan keterlibatan emosional dan kesadaran kontekstual peserta didik . Dengan demikian, penggunaan Vlog terbukti efektif sebagai media yang mendorong siswa untuk berlatih berbicara secara alami dan bermakna sesuai dengan konteks kehidupan mereka. Penguatan Literasi Digital Selain peningkatan kemampuan bahasa Inggris, kegiatan ini juga berhasil memperkuat literasi digital siswa. Melalui proses pembuatan Vlog, siswa belajar berbagai keterampilan teknologi dasar, mulai dari menulis naskah untuk video, menggunakan kamera ponsel secara efektif, hingga melakukan proses penyuntingan sederhana menggunakan aplikasi CapCut. Mereka juga belajar tentang etika digital dan cara berbagi konten secara bertanggung jawab di platform daring. Pengalaman ini menumbuhkan kesadaran baru bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk tujuan positif dan produktif. Literasi digital bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga mencakup pemahaman kritis terhadap etika, tanggung jawab, dan tujuan penggunaan media digital . Dari segi produk, sebanyak lima kelompok siswa berhasil menghasilkan video berdurasi dua hingga tiga menit dengan tema yang bervariasi, seperti My Village. Our School, dan Our daily activities. Video tersebut menampilkan deskripsi mengenai lingkungan dan budaya lokal dalam bahasa Inggris sederhana. Beberapa hasil karya bahkan dipublikasikan melalui kanal YouTube dan memperoleh apresiasi positif dari guru serta masyarakat setempat. Keberhasilan ini memberikan rasa bangga bagi siswa karena mereka tidak hanya berperan sebagai pembelajar bahasa, tetapi juga sebagai kreator konten yang memperkenalkan potensi budaya Pulau Damer kepada dunia luar. Berikut adalah gambar beberapa produk vlog yang dihasilkan oleh siswa dalam kelompok. Gambar 1. Opening Vlog Kelompok 1 . Opening Vlog Kelompok 2 . Desa Ilih A. Gunung Api di Pulau Damer di konten vlog siswa . Proses pengambilan video . Proses pengambilan video . Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol 5 No. - Agustus, pp 2933-2940 Kegiatan ini memberikan dampak positif yang nyata terhadap siswa dalam berbagai aspek perkembangan diri dan pembelajaran. Salah satu dampak paling menonjol adalah meningkatnya kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa Inggris. Mereka mulai melihat bahasa bukan sekadar alat untuk menghadapi ujian, melainkan sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas diri dan memperkenalkan budaya lokal kepada orang lain. Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya daerah mereka, karena proses pembelajaran selalu dikaitkan dengan nilai-nilai dan konteks kehidupan sehari-hari di Pulau Damer. Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar menghargai potensi lokal dan merasa bangga menampilkan budaya mereka dalam bentuk karya digital. Dampak positif lainnya adalah meningkatnya motivasi belajar. Penerapan pembelajaran berbasis proyek terbukti membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan, interaktif, dan menantang dibandingkan dengan metode ceramah konvensional, sebagaimana juga dikemukakan oleh Coffin . dan Simpson . Hasil observasi dan wawancara sederhana juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menyatakan pembelajaran dengan Vlog membuat mereka Autidak takut salah berbicaraAy dan Aulebih berani tampil. Ay Guru bahasa Inggris yang terlibat dalam kegiatan ini memperoleh pengalaman baru dalam mengembangkan metode pembelajaran berbasis teknologi yang sederhana namun efektif. Kegiatan ini membuka wawasan guru tentang penerapan pendekatan Project-Based Learning (PBL) dan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan memanfaatkan potensi lokal. Selain itu, sekolah memperoleh produk pembelajaran digital pertama yang dapat dijadikan contoh bagi kelas lain. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap penguatan identitas budaya lokal melalui representasi digital. Dengan mendeskripsikan kampung dan budaya mereka dalam bahasa Inggris, siswa berperan sebagai duta budaya muda yang memperkenalkan Pulau Damer kepada dunia luar. Hal ini sejalan dengan konsep glocalization dalam pendidikan, yaitu pembelajaran global yang berakar pada konteks lokal . Namun demikian, kegiatan ini juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan jaringan internet dan aliran listrik yang tersedia dari jam 6 sore sampai jam 12 tengah malam, sehingga proses pengunggahan dan penyuntingan video harus dilakukan secara bertahap. Keterbatasan perangkat lunak pengeditan video juga membuat siswa harus beradaptasi dengan aplikasi sederhana yang tersedia di ponsel mereka. Selain itu, waktu pendampingan yang relatif singkat menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan seluruh kelompok dapat menyelesaikan proyek tepat waktu. Perbedaan kemampuan dasar bahasa Inggris antar siswa juga memerlukan pendekatan pengajaran yang fleksibel dan diferensiatif agar semua peserta tetap dapat berpartisipasi secara optimal. Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan kolaboratif dan adaptif. Fasilitator dan guru berperan aktif dalam mendampingi kelompok siswa dengan memberikan umpan balik langsung selama proses produksi. Dari keseluruhan proses, kegiatan ini membuktikan bahwa pembelajaran bahasa Inggris dapat dilakukan secara inovatif dan kontekstual meskipun dalam keterbatasan fasilitas. Integrasi teknologi sederhana seperti Vlog mampu membangun student agency-kesadaran bahwa siswa dapat menjadi pembelajar aktif dan kreator. Sebagai tindak lanjut, guru-guru di sekolah berkomitmen untuk menjadikan kegiatan Vlog project sebagai bagian dari kurikulum ekstrakurikuler tahunan. Selain itu, rencana kolaborasi lanjutan akan difokuskan pada pelatihan guru dalam mengembangkan pembelajaran berbasis media digital dan budaya lokal. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui integrasi literasi digital menggunakan media Video Blog (Vlo. dalam pembelajaran bahasa Inggris kontekstual di SMA Negeri Aprian dan SMA Negeri 18 Maluku Barat Daya berhasil meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris dan literasi digital siswa. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 60 pada pre-test menjadi 77 pada post-test atau meningkat sebesar 28%. Selain meningkatkan kompetensi bahasa, kegiatan ini juga mengembangkan Hendrik Jacob Maruanaya et al (Integrasi Literasi Digital Melalui Video Blog (Vlo. Sebagai Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris Kontekstual Bagi Siswa SMA di Pulau Dame. kreativitas, kepercayaan diri, kolaborasi, serta apresiasi terhadap budaya lokal. Model pembelajaran berbasis CTL dan Project-Based Learning (PjBL) ini berpotensi direplikasi di wilayah 3T lainnya sebagai alternatif pembelajaran yang kontekstual, inovatif, dan berkelanjutan UCAPAN TERIMA KASIH Tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam kegiatan PKM ini. Terima kasih kepada tim pengelola rumah pintar Punggur Cerdas yang telah mendukung terselenggaranya kegian ini dilokasi rumah baca, panitia yang telah menyusun rangkaian kegiatan dan menyukseskan program ini, serta peserta yang telah berpartisipasi dan sangat antusias mengikuti program ini. Diharapkan kegiatan dapat terlaksana secara berkelanjutan agar dapat dieksplorasi lebih dalam dan jangkauan lokasi menjadi lebih luas. DAFTAR PUSTAKA