Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Self-Directed Learning in IPAS (Integrated Science and Social Studie. at MIN 2 Ende: A Study on Student-Centered Approaches Adip Putra1. Jainatul Abdiah2 1 MIN 2 Ende 2 MIS Sinar Baru Correspondence: adipputra2799@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Self-Directed Learning. IPAS, student-centered learning. MIN 2 Ende, integrated curriculum, teacher facilitation, student ABSTRACT This research aims to explore the implementation of Self-Directed Learning (SDL) in the context of IPAS (Integrated Science and Social Studie. at MIN 2 Ende. With the growing emphasis on student-centered learning, this study seeks to understand how SDL practices can foster independent learning, critical thinking, and problem-solving skills in students. The study utilizes a qualitative approach with classroom observations, interviews with teachers, and surveys of students to gather data on the effectiveness and challenges of SDL within the IPAS curriculum. The findings indicate that SDL encourages students to take responsibility for their learning by setting personal goals, engaging in self-assessment, and utilizing available However, challenges such as limited access to learning materials, varying levels of student motivation, and the need for teacher support in guiding the SDL process were identified. This research emphasizes the importance of teacher facilitation in creating an environment that nurtures self-directed learning while balancing structured guidance. It also highlights the need for further professional development for teachers to effectively integrate SDL strategies into their teaching practices. Overall, the study concludes that incorporating SDL into the IPAS curriculum at MIN 2 Ende has the potential to improve student engagement and learning outcomes, fostering a more autonomous and proactive approach to A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, metode pengajaran tradisional semakin dipertanyakan efektivitasnya dalam mempersiapkan siswa menghadapi tantangan di dunia yang semakin kompleks. Salah satu pergeseran besar dalam pendekatan pendidikan adalah beralihnya fokus ke pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa. Pendekatan ini menekankan pengembangan pembelajar yang mandiri, yang bertanggung jawab terhadap proses belajarnya dan terlibat secara aktif dalam setiap langkahnya. Di inti pembelajaran yang berpusat pada siswa terdapat konsep Self-Directed Learning (SDL), yang memberikan kekuatan kepada siswa untuk menetapkan tujuan belajar mereka sendiri, memantau perkembangan mereka, dan mencari sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. di MIN 2 Ende, di mana siswa didorong untuk mengeksplorasi pengetahuan secara holistik dan lintas disiplin. Budi . mengemukakan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mengembangkan keterampilan belajar sepanjang hayat. Penerapan SDL dalam pendidikan IPAS dipandang sebagai cara untuk mendorong siswa untuk mengambil peran aktif dalam proses belajar mereka, yang sebelumnya lebih banyak didominasi oleh instruksi guru. Dalam kelas tradisional, siswa seringkali bergantung pada guru untuk menentukan apa yang mereka pelajari dan bagaimana cara mempelajarinya. Sebaliknya. SDL Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengharuskan siswa untuk mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap perjalanan pendidikan mereka sendiri. Pergeseran tanggung jawab ini tidak hanya menguntungkan hasil akademik siswa tetapi juga perkembangan pribadi mereka. Menurut Sari . , siswa yang terlibat dalam SDL cenderung mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan regulasi diri, yang semuanya penting di dunia modern. Di MIN 2 Ende, kurikulum dirancang untuk mengintegrasikan konsep-konsep sains dan sosial, memberikan platform yang kaya bagi siswa untuk menghubungkan berbagai bidang Namun, meskipun kurikulum terpadu ini memiliki potensi besar, tantangan muncul dalam mendorong pembelajaran mandiri di kalangan siswa. Salah satu tantangan tersebut adalah keterbatasan sumber daya, karena siswa di daerah pedesaan atau yang kurang berkembang mungkin tidak memiliki akses mudah ke materi yang mendukung pembelajaran Setiawan . menekankan pentingnya memberikan akses ke berbagai sumber daya pembelajaran sebagai faktor utama dalam keberhasilan penerapan SDL di sekolah. Hal ini sangat penting dalam konteks MIN 2 Ende, di mana siswa menghadapi keterbatasan yang dapat membatasi peluang mereka untuk belajar secara mandiri. Peran guru dalam memfasilitasi SDL menjadi aspek krusial yang perlu diperhatikan. Guruguru di MIN 2 Ende dituntut untuk membimbing siswa melalui proses menjadi pembelajar mandiri, tetapi hal ini memerlukan perubahan dalam strategi pengajaran. Secara tradisional, guru di Indonesia lebih berperan sebagai sumber utama pengetahuan, dan sebagian besar aktivitas di kelas didominasi oleh instruksi dari guru. Sebaliknya. SDL mengharuskan guru untuk berperan sebagai fasilitator, mendukung siswa dalam perjalanan mereka tanpa memberikan jawaban langsung. Seperti yang disarankan oleh Kurniawan . , pelatihan guru sangat penting untuk secara efektif mengadopsi strategi SDL dalam pengajaran. Guru perlu dibekali keterampilan untuk menciptakan lingkungan yang mendorong motivasi diri, berpikir kritis, dan pemecahan masalah, sambil tetap menjaga struktur dalam proses Penelitian telah menunjukkan bahwa SDL dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar secara mandiri, yang pada gilirannya berkontribusi pada hasil belajar jangka panjang yang lebih baik. Dalam konteks IPAS, hal ini sangat penting karena mata pelajaran ini mengharuskan siswa untuk mengintegrasikan dan menerapkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu. Dengan belajar untuk bertanggung jawab atas pendidikan mereka, siswa dalam IPAS dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keterkaitan antara dunia alam dan sosial. Sebuah studi oleh Hidayati . menemukan bahwa siswa yang terlibat dalam SDL di mata pelajaran sains dan sosial menunjukkan peningkatan kinerja tidak hanya dalam mata pelajaran tersebut, tetapi juga dalam bidang akademik lainnya. Ini mendukung gagasan bahwa SDL memberikan pengalaman pendidikan yang lebih holistik. Namun, keberhasilan penerapan SDL dalam IPAS di MIN 2 Ende tergantung pada beberapa Salah satu faktor utama adalah tingkat motivasi siswa. Pembelajar mandiri perlu memiliki motivasi intrinsik untuk menetapkan tujuan, memantau kemajuan mereka, dan mencari sumber daya yang dibutuhkan. Hal ini sangat penting bagi siswa yang lebih muda, yang mungkin belum mengembangkan keterampilan regulasi diri yang kuat. Menurut Agus . , motivasi adalah salah satu pendorong utama dalam SDL. Tanpa motivasi yang cukup, siswa akan kesulitan untuk memulai inisiatif dan tetap berkomitmen pada tujuan belajar Oleh karena itu, memahami cara untuk memotivasi siswa sangat penting untuk keberhasilan SDL di kelas. Tantangan lain dalam menerapkan SDL dalam IPAS adalah proses penilaian. Metode penilaian tradisional, seperti ujian dan kuis, mungkin tidak cocok untuk mengukur kemajuan pembelajar SDL memerlukan pendekatan penilaian yang lebih fleksibel dan formatif yang dapat melacak perkembangan siswa dari waktu ke waktu dan mencerminkan kemampuan mereka dalam menerapkan pembelajaran. Menurut Prasetyo . , penilaian dalam SDL harus fokus Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pada proses, bukan hanya hasil akhir. Guru perlu mengembangkan strategi penilaian yang mendorong refleksi diri dan memberikan umpan balik yang mendukung perjalanan belajar siswa yang berkelanjutan. Hal ini sangat penting dalam IPAS, di mana integrasi konsep-konsep ilmiah dan sosial mengharuskan siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menghubungkan dan menerapkan pengetahuan dalam konteks dunia nyata. Selain tantangan motivasi dan penilaian, ada juga masalah dinamika kelas. SDL mengharuskan adanya perubahan dalam cara siswa berinteraksi dengan satu sama lain dan dengan guru Alih-alih hanya menerima informasi secara pasif, siswa harus berkolaborasi, berbagi ide, dan saling mendukung dalam proses pembelajaran. Aspek kolaboratif dari SDL dapat sulit diterapkan di kelas yang terbiasa dengan pembelajaran individu. Menurut Susanto . , menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif sangat penting untuk keberhasilan SDL, karena hal ini memungkinkan siswa untuk belajar dari satu sama lain dan mengembangkan keterampilan komunikasi serta kerja sama. Di MIN 2 Ende, membangun budaya kolaborasi sangat penting untuk memastikan bahwa SDL dapat berkembang di kelas. Manfaat potensial dari SDL tidak hanya terbatas pada pencapaian akademik. Dengan terlibat dalam SDL, siswa juga mengembangkan keterampilan hidup penting yang akan berguna jauh melampaui ruang kelas. Keterampilan ini meliputi disiplin diri, manajemen waktu, dan ketahanan, yang sangat penting untuk sukses baik di dunia akademik maupun kehidupan Menurut Nur . SDL menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab pada siswa, yang membantu mereka menjadi lebih proaktif dan mandiri dalam belajar. Keterampilan-keterampilan ini sangat penting dalam konteks abad ke-21, di mana kemampuan untuk beradaptasi, memecahkan masalah, dan bekerja secara mandiri sangat diperlukan untuk sukses di dunia kerja dan masyarakat. Secara keseluruhan, penerapan SDL dalam IPAS di MIN 2 Ende menawarkan peluang yang menjanjikan untuk meningkatkan keterlibatan siswa, pencapaian akademik, serta pengembangan keterampilan hidup yang penting. Namun, pendekatan ini tidak tanpa Guru perlu dilatih dengan baik untuk memfasilitasi SDL, siswa harus termotivasi untuk mengambil alih pembelajaran mereka, dan proses penilaian harus disesuaikan untuk mencerminkan tujuan SDL. Meskipun ada tantangan tersebut, manfaat SDL sangat jelas, dan dengan dukungan yang tepat, siswa di MIN 2 Ende dapat berkembang menjadi pembelajar yang mandiri dan proaktif. Dalam lanskap pendidikan yang terus berubah, mendorong SDL di sekolah-sekolah seperti MIN 2 Ende dapat memainkan peran penting dalam mempersiapkan siswa untuk masa depan. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi penerapan Self-Directed Learning (SDL) dalam pembelajaran IPAS di MIN 2 Ende. PTK dipilih karena pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi tindakan atau strategi pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar-mengajar. Berdasarkan model Kemmis dan McTaggart . PTK dilakukan dalam siklus yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui perbaikan Menurut Kurniawan . PTK memberi kesempatan untuk melihat langsung pengaruh penerapan metode pembelajaran terhadap perkembangan siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI MIN 2 Ende yang mengikuti mata pelajaran IPAS. Dalam penelitian ini, peneliti memilih kelas yang memiliki karakteristik heterogen dalam hal kemampuan akademik dan tingkat motivasi belajar. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, di mana kelas yang terpilih dianggap mewakili karakteristik yang relevan untuk penelitian ini. Metode ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh data yang lebih fokus dan relevan dengan tujuan penelitian. Setiawan . menyatakan bahwa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pemilihan sampel dengan cara ini dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai masalah yang diteliti. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan angket. Observasi dilakukan untuk menilai keterlibatan siswa dalam pembelajaran SDL, baik dari segi perilaku siswa selama proses pembelajaran maupun hasil belajar mereka. Wawancara dilakukan dengan guru dan siswa untuk mendapatkan perspektif mereka mengenai penerapan SDL dan dampaknya terhadap pembelajaran IPAS. Angket digunakan untuk mengukur tingkat motivasi dan persepsi siswa terhadap pembelajaran berbasis SDL. Seperti yang diungkapkan oleh Sari . , penggunaan berbagai instrumen ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh data yang lebih komprehensif dan objektif. Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini mencakup penerapan SDL dalam pembelajaran IPAS selama dua siklus. Setiap siklus dirancang dengan tahapan yang melibatkan perencanaan pembelajaran yang berbasis pada prinsip SDL, pelaksanaan tindakan pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif dalam mencari dan menggunakan sumber belajar secara mandiri, serta refleksi terhadap hasil pembelajaran yang dicapai. Peneliti juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk merancang kegiatan pembelajaran mereka sendiri, seperti memilih topik atau proyek yang relevan dengan kurikulum IPAS. Menurut Prasetyo . , penerapan tindakan yang kolaboratif dalam PTK dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan keterampilan belajar siswa. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui observasi dan wawancara, yang kemudian dianalisis dengan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul terkait penerapan SDL dalam pembelajaran IPAS. Data kuantitatif diperoleh dari hasil angket yang diolah untuk melihat perubahan tingkat motivasi dan keterlibatan siswa. Hasil analisis ini digunakan untuk menentukan apakah penerapan SDL berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran di MIN 2 Ende dan untuk merefleksikan serta merencanakan tindakan perbaikan untuk siklus berikutnya. Agus . menyatakan bahwa penggabungan kedua jenis analisis ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keberhasilan tindakan yang diambil dalam penelitian PTK. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama penerapan Self-Directed Learning (SDL) di kelas VI MIN 2 Ende, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mengatur tujuan pembelajaran mereka Meskipun mereka diberikan kebebasan untuk memilih topik dan merancang aktivitas belajar, sebagian besar siswa merasa bingung tentang bagaimana memulai proses belajar secara Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman mereka tentang konsep SDL serta terbatasnya pengalaman dalam mengelola pembelajaran secara mandiri. Hal ini sejalan dengan temuan Sari . , yang mengemukakan bahwa siswa yang belum terbiasa dengan pembelajaran mandiri membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Guru juga perlu berperan lebih aktif dalam memberikan arahan awal kepada siswa agar mereka lebih mudah memahami langkah-langkah dalam SDL. Pada siklus kedua, terdapat peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Setelah melalui tahap refleksi dan evaluasi, guru memberikan bimbingan lebih lanjut tentang cara menyusun rencana pembelajaran dan mencari sumber daya yang Sebagai hasilnya, siswa mulai merasa lebih percaya diri dalam menjalankan proses belajar mereka. Mereka mampu merencanakan kegiatan pembelajaran dengan lebih baik dan lebih aktif mencari informasi dari berbagai sumber, baik itu buku, internet, maupun media Hasil ini mendukung temuan Setiawan . , yang menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang cukup, siswa dapat mengembangkan kemampuan belajar mandiri secara Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Dalam hal motivasi, peneliti menemukan bahwa siswa yang terlibat dalam SDL menunjukkan peningkatan motivasi belajar. Berdasarkan hasil angket yang dibagikan setelah siklus kedua, sebagian besar siswa melaporkan bahwa mereka merasa lebih termotivasi karena dapat memilih topik yang mereka minati dan mengatur waktu belajar mereka sendiri. Motivasi intrinsik yang berkembang dari pengalaman belajar mandiri ini memberi dampak positif terhadap semangat mereka untuk mengikuti pembelajaran IPAS. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hidayati . yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis SDL dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa karena mereka merasa lebih terlibat dan memiliki kontrol atas proses belajar mereka. Namun, meskipun motivasi meningkat, terdapat tantangan dalam hal keterbatasan sumber daya yang dapat digunakan oleh siswa untuk mendalami materi lebih lanjut. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam mengakses sumber daya belajar yang lebih mendalam, seperti jurnal atau buku yang lebih spesifik terkait materi IPAS. Hal ini terutama terjadi pada siswa yang tinggal di daerah dengan akses internet yang terbatas. Hal ini sesuai dengan temuan Kurniawan . , yang menekankan bahwa keterbatasan sumber daya dapat menghambat efektivitas SDL, terutama di daerah yang memiliki akses informasi yang terbatas. Dari segi penguasaan materi, terdapat peningkatan yang signifikan setelah penerapan SDL pada siklus kedua. Siswa mampu mengaitkan konsep-konsep yang mereka pelajari dalam IPAS dengan kehidupan sehari-hari mereka, sebuah kemampuan yang sebelumnya kurang terlihat pada siklus pertama. Misalnya, saat membahas topik mengenai perubahan iklim dalam pembelajaran IPAS, siswa tidak hanya memahami teori yang diajarkan tetapi juga dapat mengidentifikasi contoh konkret dari kehidupan mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa SDL dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif terhadap materi yang diajarkan. Menurut Prasetyo . SDL memungkinkan siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang mereka peroleh dengan pengalaman pribadi mereka, yang meningkatkan daya serap mereka terhadap materi. Selain itu, pembelajaran SDL di kelas VI MIN 2 Ende juga memperlihatkan peningkatan dalam keterampilan kolaborasi antar siswa. Pada siklus kedua, siswa mulai terbiasa bekerja dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan topik yang mereka pilih bersama-sama. Meskipun awalnya ada sedikit hambatan dalam hal koordinasi dan pembagian tugas, setelah diberikan bimbingan oleh guru, mereka mulai menunjukkan kemajuan dalam hal kolaborasi. Mereka saling berbagi informasi dan menyelesaikan tugas kelompok dengan lebih efisien. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun SDL berfokus pada pembelajaran mandiri, kolaborasi tetap menjadi aspek penting dalam mencapai hasil yang optimal. Susanto . juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam SDL untuk memperkaya pemahaman siswa melalui diskusi dan pertukaran ide. Terkait dengan evaluasi pembelajaran, peneliti menemukan bahwa metode penilaian yang lebih fleksibel dan berbasis proses sangat membantu dalam mendukung penerapan SDL. Guru tidak hanya memberikan nilai berdasarkan hasil ujian, tetapi juga memberikan umpan balik yang berfokus pada proses belajar siswa, seperti keterlibatan mereka dalam diskusi, kemampuan mereka dalam mencari informasi, dan kemajuan mereka dalam mencapai tujuan Hal ini membuat siswa merasa dihargai atas usaha mereka dalam belajar, bukan hanya pada hasil akhir. Evaluasi berbasis proses ini sesuai dengan prinsip SDL, yang menekankan pentingnya refleksi diri dan pengembangan diri yang berkelanjutan. Agus . juga menegaskan bahwa penilaian berbasis proses dapat mendorong siswa untuk lebih fokus pada pembelajaran yang berkelanjutan daripada sekadar mencapai nilai tinggi dalam ujian. Meski terdapat banyak kemajuan, penelitian ini juga menemukan bahwa masih ada beberapa siswa yang kesulitan untuk tetap konsisten dalam menjalankan pembelajaran secara mandiri. Beberapa siswa menunjukkan ketergantungan pada guru untuk memberi arahan lebih rinci dan mengingatkan mereka tentang tenggat waktu tugas. Hal ini menandakan bahwa meskipun Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 penerapan SDL dapat meningkatkan otonomi belajar, beberapa siswa masih membutuhkan bimbingan yang lebih intensif agar dapat belajar mandiri dengan efektif. Menurut Nur . , meskipun SDL memberikan kebebasan dalam proses belajar, masih ada kebutuhan untuk memberikan dukungan yang cukup agar siswa tidak merasa terabaikan atau kehilangan arah dalam pembelajaran. Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan tingkat keberhasilan dalam penerapan SDL antara siswa yang memiliki latar belakang akademik lebih kuat dengan mereka yang memiliki latar belakang akademik lebih lemah. Siswa dengan latar belakang akademik lebih kuat cenderung lebih mudah beradaptasi dengan pendekatan SDL dan lebih cepat mencapai kemajuan. Sebaliknya, siswa dengan latar belakang akademik lebih lemah membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi dan cenderung memerlukan dukungan tambahan dari guru. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun SDL dapat diterapkan pada semua siswa, tingkat keberhasilan dan keefektifan penerapannya dapat bervariasi tergantung pada kesiapan awal siswa dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri. Setiawan . juga menyatakan bahwa siswa dengan kemampuan akademik lebih tinggi cenderung lebih sukses dalam mengimplementasikan SDL. Dalam hal pengelolaan waktu, beberapa siswa juga menghadapi kesulitan dalam merencanakan waktu belajar mereka secara efektif. Meskipun mereka diberi kebebasan untuk mengatur waktu belajar, beberapa siswa kesulitan untuk menyeimbangkan antara waktu belajar dengan kegiatan lainnya, seperti bermain atau bersosialisasi. Hal ini mencerminkan pentingnya keterampilan manajemen waktu dalam SDL. Peneliti menemukan bahwa dengan pelatihan dan bimbingan yang tepat, siswa dapat mulai mengembangkan keterampilan manajemen waktu yang lebih Kurniawan . juga mencatat bahwa manajemen waktu adalah keterampilan krusial yang perlu dikuasai siswa dalam pembelajaran mandiri. Salah satu hasil yang menggembirakan dari penerapan SDL ini adalah peningkatan kepercayaan diri siswa dalam belajar. Pada siklus pertama, banyak siswa yang merasa cemas dan kurang percaya diri dalam menyelesaikan tugas mandiri. Namun, setelah mereka mendapatkan lebih banyak pengalaman dan dukungan dari guru, mereka mulai merasa lebih percaya diri dalam mengelola tugas dan belajar secara mandiri. Kepercayaan diri ini bukan hanya terbatas pada aspek akademik, tetapi juga pada aspek sosial, di mana siswa lebih aktif dalam berdiskusi dan berbagi ide dengan teman-teman mereka. Prasetyo . menyebutkan bahwa pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka, yang pada gilirannya dapat memperbaiki hasil belajar mereka. Secara keseluruhan, penerapan SDL dalam pembelajaran IPAS di MIN 2 Ende menunjukkan hasil yang positif, meskipun ada tantangan yang harus diatasi. Keterlibatan siswa meningkat, motivasi belajar mereka bertumbuh, dan mereka mulai menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam memahami materi IPAS. Namun, untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas penerapan SDL, dukungan yang lebih intensif bagi siswa yang mengalami kesulitan dan pengelolaan sumber daya yang lebih baik harus terus diupayakan. Peneliti menyarankan agar sekolah lebih memperhatikan kesiapan siswa dan menyediakan sumber daya yang memadai untuk mendukung pembelajaran mandiri yang lebih efektif. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan di MIN 2 Ende mengenai penerapan Self-Directed Learning (SDL) dalam pembelajaran IPAS, dapat disimpulkan bahwa penerapan SDL memberikan dampak positif terhadap keterlibatan, motivasi, dan penguasaan materi siswa, meskipun terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Proses implementasi SDL di kelas VI menunjukkan peningkatan yang signifikan pada siklus kedua, baik dari segi keterampilan mandiri siswa maupun pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada siklus pertama, siswa mengalami kesulitan dalam mengatur tujuan pembelajaran mereka sendiri, yang disebabkan oleh kurangnya pengalaman dalam pembelajaran mandiri. Kebingungan ini terutama terlihat pada sebagian besar siswa yang belum terbiasa dengan pendekatan yang lebih otonom dalam belajar. Namun, setelah diberikan bimbingan dan arahan lebih lanjut pada siklus kedua, siswa mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam mengelola waktu belajar dan merencanakan kegiatan pembelajaran mereka. Mereka mulai lebih aktif dalam memilih topik yang mereka minati dan mencari sumber belajar yang relevan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, siswa dapat berkembang menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan proaktif. Penerapan SDL juga berhasil meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPAS. Salah satu faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan motivasi adalah kebebasan yang diberikan kepada siswa untuk memilih topik yang sesuai dengan minat mereka. Ketika siswa diberikan kebebasan dalam memilih materi yang ingin mereka pelajari, mereka merasa lebih bertanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini memperkuat pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan, karena mereka tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga mengaitkan konsep-konsep yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari mereka. Peningkatan motivasi ini sejalan dengan tujuan dari SDL, yaitu meningkatkan rasa kepemilikan siswa terhadap pembelajaran mereka sendiri. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan yang dihadapi dalam penerapan SDL, terutama terkait dengan keterbatasan sumber daya dan perbedaan kesiapan Keterbatasan akses terhadap sumber daya, terutama di daerah dengan koneksi internet yang terbatas, menjadi hambatan utama bagi siswa dalam mengakses materi pembelajaran yang lebih mendalam. Meskipun sebagian besar siswa dapat memanfaatkan buku teks dan media pembelajaran lainnya, beberapa siswa merasa kesulitan untuk menggali informasi lebih lanjut yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, keberhasilan penerapan SDL sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya yang mendukung, baik dalam bentuk materi fisik maupun akses ke Selain itu, perbedaan tingkat kesiapan siswa dalam mengelola pembelajaran secara mandiri juga menjadi faktor yang mempengaruhi keberhasilan SDL. Siswa dengan latar belakang akademik lebih kuat cenderung lebih cepat beradaptasi dengan pendekatan ini, sedangkan siswa dengan latar belakang yang lebih lemah membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat belajar mandiri dengan efektif. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang lebih individual dalam memberikan bimbingan kepada siswa, serta pengawasan yang lebih intensif pada siswa yang Guru harus mampu mengenali kebutuhan masing-masing siswa dan memberikan dukungan yang sesuai, baik dalam bentuk bimbingan langsung maupun melalui materi tambahan yang dapat membantu mereka lebih memahami materi. Secara keseluruhan, penerapan SDL dalam pembelajaran IPAS di MIN 2 Ende memberikan hasil yang positif dalam hal peningkatan keterlibatan siswa, motivasi belajar, dan penguasaan Meskipun ada tantangan yang harus dihadapi, seperti keterbatasan sumber daya dan perbedaan kesiapan siswa, dengan pendekatan yang tepat. SDL dapat diterapkan secara efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, disarankan agar penerapan SDL terus dikembangkan di MIN 2 Ende dengan memperhatikan perbedaan kebutuhan siswa dan menyediakan sumber daya yang memadai untuk mendukung proses belajar mandiri. Dengan demikian. SDL dapat menjadi salah satu metode yang efektif dalam menciptakan pembelajar yang lebih mandiri, aktif, dan bertanggung jawab dalam pendidikan di masa depan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES