Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026. Page: 1-11 Gambaran Kesiapan Ibu Hamil Usia Muda Menghadapi Persalinan di Puskesmas Kubu II Karangasem Ni Nyoman Ayu Ningsih1*. I Nyoman Wirata2. Ni Ketut Somoyani3 1,2,3 Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Denpasar. Denpasar DOI: https://doi. org/10. 47134/mpk. *Correspondence: Corryati Yunus Email: corryatiyunus1954@gmail. Received: 05-11-2025 Accepted: 16-12-2025 Published: 28-01-2026 Copyright: A 2026 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (BY SA) . ttp://creativecommons. org/licenses/by/ 0/). Abstract: The purpose of this study is to find out the Overview of the Readiness of Young Pregnant Women to Face Childbirth at the Kubu II Health Center. This research was conducted from April 25 to May 9, 2025. This type of research is a quantitative research with a Cross Sectional approach design, using a questionnaire sheet in the form of a checklist with a sample of 35 people. The sampling technique of this study is with the total sampling method. The results of the study conducted on 35 people found that as many as 22 people . 9%) did not have physical readiness to face childbirth. A total of 25 people . 4%) were not psychologically prepared to face childbirth and as many as 26 people . 3%) were not financially ready. The advice that can be given is the need to strengthen education and support from families for young pregnant women in preparing for Keywords: Young age pregnancy. Characteristics. Physical. Psychological. Financial Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Kesiapan Ibu Hamil Usia Muda Menghadapi Persalinan di Puskesmas Kubu II. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 25 April sampai dengan 9 Mei 2025. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain pendekatan Cross Sectional, menggunakan lembar kuesioner berupa checklist dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang. Teknik pengambilan sampel penelitian ini dengan metode total sampling. Hasil penelitian yang dilakukan ke 35 orang didapatkan bahwa sebanyak 22 orang . 9%) belum memiliki kesiapan fisik untuk menghadapi persalinannya. Sebanyak 25 orang . 4%) tidak siap secara psikologis dalam menghadapi persalinan serta sebanyak 26 orang . 3%) belum siap secara finansial. Adapun saran yang dapat diberikan yaitu perlu adanya penguatan edukasi dan dukungan dari keluarga untuk ibu hamil usia muda dalam mempersiapkan persalinannya. Kata kunci: Kehamilan usia muda. Karakteristik. Fisik. Psikologis. Finansial Pendahuluan Jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) adalah sebuah indikator krusial dalam sektor Kesehatan di Indonesia. Berdasarkan statistik. AKI di Indonesia tercatat mencapai 189 per 000 kelahiran hidup. Meskipun angka ini masih tergolong tinggi. AKI di Indonesia telah menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Untuk mengurangi angka ini, pemerintah menetapkan target baru AKI Indonesia menjadi 183 per 100. 000 kelahiran hidup yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Secara bersamaan, dalam konteks Sustainable Development Goals (SDG. Indonesia berupaya untuk mencapai AKI di bawah 70 per 100. 000 kelahiran hidup pada tahun 2030 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. https://journal. id/index. php/mpk Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026 2 of 11 Namun, dalam upaya mencapai target tersebut, tenaga kesehatan menghadapi berbagai tantangan, di antaranya adalah banyaknya komplikasi yang dialami oleh perempuan hamil itu sendiri. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu hamil mencakup masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Berbagai faktor dapat menyebabkan komplikasi kehamilan, salah satunya adalah usia ibu yang terlalu muda. Kehamilan yang terjadi pada usia 14-20 tahun, baik bagi remaja yang telah menikah maupun yang belum, dianggap sebagai kehamilan terlalu muda. Status kehamilan ini meningkatkan risiko tinggi terhadap kematian ibu dan bayi, akibat psikologis yang mungkin dialami wanita muda, seperti ketakutan, kekecewaan, penyesalan, dan harga diri yang rendah terkait dengan kehamilan. Selain itu, kehamilan pada usia muda juga berdampak negatif pada kesehatan reproduksi perempuan karena organ reproduksinya belum siap untuk beraktivitas seksual dan melahirkan. Salah satu akibat seriusnya adalah meningkatnya risiko kanker endometrium. Wanita yang melahirkan pada usia muda memiliki peluang tinggi untuk mengidap kanker endometrium. Karenanya, semakin muda usia seorang ibu saat hamil, semakin tinggi ancamannya terhadap kesehatannya (Djama. T dkk. , 2. Kehamilan pada usia terlalu muda juga berisiko untuk melahirkan bayi prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR), serta mengalami perdarahan saat persalinan, yang berpotensi meningkatkan kematian ibu dan bayi. Kehamilan di usia muda terkait pula dengan kehamilan yang tidak diinginkan serta aborsi yang tidak aman. Angka kematian neonatal, postneonatal, serta kematian bayi dan balita dari ibu yang berusia di bawah 20 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan ibu berusia 20-39 tahun. Tingginya angka kehamilan di kalangan remaja dapat dilihat dari Angka Spesifik Fertilitas (ASFR). Angka fertilitas pada kelompok usia 15-19 tahun (ASFR 15-. menunjukkan penurunan yang minim dalam lima tahun terakhir dan masih jauh dari target RPJMN 2014, yaitu 30 kelahiran per 1000 perempuan (Hapsari, 2. Tingkat komplikasi dan masalah yang terjadi pada kehamilan di bawah 20 tahun mencapai 39,5%, dan abortus adalah komplikasi yang paling umum. Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk memberikan informasi mengenai dampak kehamilan pada usia di bawah 20 tahun kepada remaja. Bagi ibu yang hamil di usia remaja, sebaiknya melakukan kunjungan antenatal care (ANC) setidaknya enam kali selama masa kehamilan. Upaya promosi dan pencegahan harus ditingkatkan 2 serta melibatkan berbagai sektor untuk menunda kehamilan pada usia di bawah 20 tahun (Nita, dkk. Menurut Survey Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2023 pada umur 10-19 tahun yang merupakan kelompok rentan dan sedang hamil sebanyak 12,8%, prevalensi terbanyak terjadi usia ibu hamil 10-14 tahun yaitu 24,6% dan di usia 15 19 tahun 12,8%. Berdasarkan data Profil Karangasem 2024 jumlah ibu hamil usia dini < 20 th sebanyak 274 orang. Dimana Puskesmas Kubu II dengan jumlah ibu hamil usia muda tertinggi sebanyak 60 orang, kedua Puskesmas Kubu I sebanyak 37 orang, disusul Puskesmas Rendang 35 Menurut profil Dinas Kesehatan Karangasem, bahwa jumlah komplikasi yang tertangani pada ibu hamil, bersalin dan nifas. Puskesmas Bebandem adalah puskesmas yang komplikasi kehamilannya terbanyak yaitu 133%, kemudian dilanjutkan dengan https://journal. id/index. php/mpk Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026 3 of 11 Puskesmas Manggis I sebanyak 118% dan yang ketiga Puskesmas Kubu II (Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem, 2. Berdasarkan data diatas, komplikasi selama hamil, bersalin, dan nifas banyak terjadi di Kabupaten Karangasem, sehingga tidak menutup kemungkinan kejadian komplikasi selama hamil, bersalin dan nifas dialami juga oleh ibu hamil yang terlalu muda, maka perlu adanya persiapan menghadapi persalinannya. Mempersiapkan persalinan harus dilakukan dengan baik untuk memastikan kelancaran dan kesehatan ibu serta bayi yang akan lahir. Persiapan ini mencakup aspek fisik, emosional, serta logistik yang perlu dipertimbangkan oleh ibu hamil dan keluarga. Ibu hamil perlu lebih memahami kebutuhan yang diperlukan untuk persiapan persalinan. Beberapa persiapan tersebut meliputi perencanaan tempat bersalin, persiapan kendaraan, tempat melahirkan, tenaga kesehatan yang akan 3 menolong saat melahirkan, kesiapan calon pendonor darah, kesiapan biaya persalinan dan pendampingan suami/keluarga saat proses persalinan (Retna dkk. , 2. Persiapan yang diperlukan oleh ibu hamil mencakup kesiapan fisik, yang penting membantu mereka menjalani ritme selama proses persalinan. Seorang ibu hamil dianggapsiap secara fisik jika daya tahan tubuhnya baik, tidak mudah Lelah dan tetap Meningkatnya fleksibilitas serta stamina tubuh menunjukkan kesiapan fisik. Selain itu, peningkatan kualitas tidur, penurunan rasa sakit di pinggang, dan berkurangnya kesulitan bernapas juga merupakan indicator yang positif. Ibu hamil dapat disebut siap secara psikologis jika ibu hamil tersebut merasa tenang, santai, serta bahagia selama masa kehamilan, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan mampu berpikir dengan optimis. Kondisi mental yang demikian mampu membantu otot ibu untuk menghadapi tekanan saat Ketika ibu merasa santai, ibu hamil bisa mengatur pernapasannya lebih baik, membuat napasnya menjadi lebih dalam, sehingga janin dan tubuh mendapatkan lebih banyak oksigen. Kegembiraan yang dialami oleh ibu dapat memperkuat rasa percaya diri ibu hamil dalam menghadapi proses melahirkan. (Apsari dkk. , 2. Menurut penelitian awal yang dilakukan pada bulan September 2024, ditemukan bahwa terdapat 50 ibu hamil berusia muda di Puskesmas Kubu II. Ibu hamil yang berusia muda ini mengalami beberapa masalah kesehatan seperti anemia dan kekurangan energi Masalah kesehatan yang dialami oleh ibu ibu hamil muda ini dapat berdampak pada perkembangan janin, yang berpotensi mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, dan lain lain. Dengan pertimbangan tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melaksanakan 4 penelitian dengan judulAuGambaran Kesiapan Ibu Hamil Usia Muda Menghadapi Persalinan di Puskesmas Kubu II KarangasemAy. Metode Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kubu II Karangasem. Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil usia muda di wilayah kerja Puskesmas Kubu II berjumlah 50 orang. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan dalam penelitian ini dimana pengambilan sampel dengan menentukan kriteria-kriteria tertentu, jumlah sampel dalam penelitian ini 50 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan menggunakan https://journal. id/index. php/mpk Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026 4 of 11 instrumen pedoman pencatatan. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Responden Subjek pada penelitian ini adalah 35 ibu hamil usia muda yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kubu II. Responden diberikan lembar 52 kuesioner yang didalamnya berisi pertanyaan tentang karakteristik dari responden tersebut. Distribusi karakteristik responden dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut. Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa ibu hamil usia muda terbanyak di umur 18-19 tahun sebanyak 23 orang . 7%), rentang usia 16-17 tahun sebanyak 8 orang . 9%) dan rentang usia O15 tahun sebanyak 4 orang . 4%). Berdasarkan tabel diatas responden memiliki Tingkat Pendidikan yang sama yaitu Tingkat Pendidikan Sekolah Dasar (SD dan SMP). Pekerjaan dari ibu hamil usia muda inipun semua tidak bekerja karena sebagian besar ibu hamil tidak bersekolah. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliana dan Wahyuni, 2020, yang menunjukkan bahwa usia dapat mempengaruhi seseorang. umumnya, semakin cukup umur, seseorang akan memiliki tingkat kematangan dan kekuatan yang lebih tinggi, yang berarti mereka memiliki lebih banyak pengalaman dan Komplikasi kehamilan lebih sering terjadi pada ibu hamil yang lahir di bawah usia normal (Manuaba, 2. Menurut data di atas, ibu hamil di usia 18 hingga 19 tahun memiliki risiko sedang karena mereka berada di usia reproduksi sehat. Namun, ibu hamil di usia 18 hingga 19 tahun belum siap secara fisik, psikologis, atau finansial untuk melahirkan anak. Hal ini dapat terjadi karena ibu hamil memilih menikah muda karena menikah dan mempunyai anak diatas umur 20 tahun sudah dianggap terlalu tua untuk menikah dan mempunyai anak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karmilasari dkk. 2022, yang menemukan bahwa pendidikan adalah faktor yang sangat penting dan memengaruhi pemikiran seseorang. Pendidikan ibu sangat penting untuk melakukan kunjungan ANC dan mempersiapkan persalinan, tetapi ini tidak berarti ibu dengan https://journal. id/index. php/mpk Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026 5 of 11 pendidikan rendah tidak melakukan kunjungan ANC sesuai standar, yaitu minimal enam kali selama kehamilanya. Tingkat Pendidikan responden yang rendah diakibatkan oleh budaya menikah muda didesa yang beranggapan bahwa menikah diatas 20 tahun sudah terlalu tua sehingga banyak ibu hamil yang memilih menikah setelah tamat SD maupun SMP. Selain karna hal tersebut, ibu hamil dengan pendidikan yang rendah terjadi karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang sehingga mereka memilih menikah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Pekerjaan ibu hamil terlalu dini berdampak pada kesiapan mental, keuangan, dan akses ke perawatan kesehatan. Manuaba . menyatakan bahwa pekerjaan ibu hamil dapat dikategorikan sebagai tidak bekerja, yang berarti mereka bergantung pada keluarga dan rentan terhadap stres. Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Apsari dkk. 2022, yang menemukan bahwa ibu hamil dapat mengurangi kecemasan mereka karena bekerja adalah pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu, yang membuat mereka lebih fokus pada pekerjaan mereka. Ibu hamil yang bekerja memiliki banyak peluang untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga mereka dapat memperluas pengetahuan dan wawasan mereka. Bekerja dapat membantu keluarga membayar biaya kehamilan. Pekerjaan ibu hamil sangat berkaitan dengan pendidikan ibu, pendidikan ibu yang rendah akan susah mendapatkan pekerjaan dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak. Jika mereka bekerja, penghasilan yang didapat tidak sebanding dengan usaha dan biaya yang telah mereka keluarkan seperti makan, dan transportasu ke tempat bekerja, sehingga banyak ibu hamil yang memilih menjadi ibu rumah tangga/tidak bekerja. Kesiapan Fisik Ibu Hamil Usia Muda dalam Menghadapi Persalinan Tabel 2. Kesiapan Fisik Ibu Hamil Usia Muda dalam Menghadapi Persalinan Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 35 responden yang telah diberikan lembar kuesioner didapatkan hasil bahwa dari 35 orang responden sebanyak 26 orang ibu hamil belum memiliki kesipaan fisik untuk menghadapi persalinannya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Apsari dkk. , 2022, yang menemukan bahwa persiapan fisik dapat membantu ibu hamil menjaga ritme saat menjalani persalinan. Apabila stamina ibu hamil baik, tidak mudah lelah atau lemas, ibu hamil dianggap siap secara fisik. Peningkatan daya tahan dan fleksibilitas tubuh Peningkatan kualitas tidur, penurunan nyeri pinggang, dan penurunan kesulitan bernapas. Berdasarkan hal tersebut ibu hamil usia muda memiliki resiko tinggi komplikasi yang akan dialami jika tidak mempersiapkan fisik yang baik untuk melahirkan. Wanita yang berusia di atas 20 tahun menunjukkan tingkat kecemasan yang signifikan ketika https://journal. id/index. php/mpk Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026 6 of 11 menghadapi proses melahirkan. Usia ibu hamil yang lebih dari 20 tahun berdampak pada persiapan mereka terkait kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Kehamilan pada usia di bawah 20 tahun dapat menyebabkan berbagai masalah, mengingat kondisi fisik belum sepenuhnya siap (Ridayanti dkk. , 2. Kesiapan fisik ibu hamil juga menyangkut kesiapan nutrisi ibu selama kehamilan, persalinan, dan perkembangan nifas juga berkorelasi dengan kondisi fisik ibu hamil yang lebih muda. Memenuhi kebutuhan nutrisi ibu selama kehamilan sangat penting karena nutrisi yang baik membantu ibu tetap sehat dan janin berkembang dengan baik (Saputra dan Anggraeni, 2. Makanan yang dikonsumsi ibu hamil mencakup zat gizi makro dan mikro yang diperlukan oleh ibu selama kehamilan dari trimester I hingga trimester i. Janin yang sedang dikandung membutuhkan jumlah dan kualitas gizi yang cukup dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Ibu hamil memerlukan makanan yang baik dan sehat dalam jumlah yang cukup . idak berlebihan atau kekuranga. (Rahmawati, 2. Edukasi selama kehamilan sangat penting bagi ibu hamil, edukasi ini dapat melalui kelas ibu hamil maupun konseling lansung ke pasien. Namun kelas ibu 58 hamil hanya diadakan satu kali setiap bulannya dimasing-masing desa. Konseling perorangan juga tidak efektif karena banyaknya pasiennya. Padahal dengan meningkatkan edukasi selama kehamilan dapat meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi persalinan. Selain edukasi selama kehamilan, penyerapan informasi ibu hamil tentang kehamilan, persalinan dan masa nifas berkaitan dengan Tingkat pendidikan ibu. Tingkat pendidikan seorang ibu berperan penting dalam melakukan kunjungan ANC dan persiapan menghadapi persalinan, namun bukan berarti ibu yang memiliki pendidikan rendah tidak melakukan pemeriksaan ANC sesuai standar minimal empat kali selama masa kehamilan. Jika pendidikan ibu rendah, hal ini dapat menghambat kemampuan mereka dalam menerima informasi dan pengetahuan terbaru (Karmilasari dkk. , 2. Kesiapan Psikologis Ibu Hamil Usia Muda dalam Menghadapi Persalinan Tabel 3. Distribusi Kesiapan Psikologis Ibu Hamil Usia Muda dalam Menghadapi Persalinan Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebanyak 35 responden yang telah diberikan lembar kuesioner didapatkan hasil bahwa dari 35 orang responden sebanyak 22 orang ibu hamil belum memiliki kesipaan psikologis untuk 53 menghadapi persalinannya dan 13 orang lainnya sudah memiliki kesiapan psikologis untuk menghadapi persalinan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani dan Amran, 2024 menunjukkan sebagian responden tidak siap dalam menghadapi persalinan. Hal ini https://journal. id/index. php/mpk Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026 7 of 11 dikarenakan ibu hamil usia muda kurang mendapatkan informasi dan dukungan dari keluarga terdekat sehingga menyebabkan ibu merasa cemas dan khawatir tentang Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil tidak menerima dukungan keluarga dalam persiapan persalinan. Ibu yang akan melahirkan sangat membutuhkan dukungan dari keluarga dan orang terdekatnya. Dukungan ini membantu mereka menjadi lebih siap untuk persalinan. Dukungan psikologis dari suami dan keluarga dapat meliputi pendampingan saat melakukan kelas ibu hamil, pendamping ibu hamil saat bersalin untuk mengatasi rasa cemas ibu hamil saat bersalin karena ada rasa aman dan nyaman yang dirasakan oleh ibu hamil. Rasa nyaman dan aman yang dirasakan oleh ibu hamil saat bersalin dapat diciptakan karena pendamping mampu mengurangi rasa nyeri ibu hamil ketika bersalin dengan memijat lembut diarea pinggang kebawah. Memberikan semangat kepada ibu hamil tanpa mengintimidasi ibu hamil karena tahu bahwa proses persalinan memang sakit. Edukasi antenatal selama proses kehamilan melalui kelas ibu hamil sangat penting Penyampaian materi edukasi antenatal yang menyeluruh dapat membantu meningkatkan kesiapan mental ibu hamil. Materi ini mencakup informasi tentang proses kelahiran, teknik untuk relaksasi, serta cara mengelola rasa sakit, yang semuanya berperan dalam meningkatkan rasa percaya diri dan kesiapan ibu hamil. Materi edukasi antenatal yang berkaitan dengan teknik relaksasi, pernapasan, serta manajemen nyeri juga dapat membantu meredakan rasa cemas yang disebabkan oleh ketakutan saat menghadapi Ketika edukasi ini disampaikan secara menyeluruh, itu berfungsi untuk mempersiapkan ibu hamil menghadapi beragam situasi, sehingga membuat mereka lebih siap serta lebih tenang secara mental dan emosional (Sujawaty dkk. , 2. Kesiapan Finansial Ibu Hamil Usia Muda dalam Menghadapi Persalinan Tabel 4. Distribusi Kesiapan Finansial Ibu Hamil Usia Muda dalam Menghadapi Persalinan Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebanyak 35 responden yang telah diberikan lembar kuesioner didapatkan hasil 25 orang belum memiliki kesiapan finansial dalam menghadapi persalinan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Farida dkk. , 2019, yang menunjukkan bahwa pendapatan suami menentukan kesiapan finansial untuk memenuhi kebutuhan ibu hamil muda. Kehamilan memerlukan biaya seperti makanan bergizi untuk ibu dan janin, biaya persalinan, pakaian ibu hamil, dan https://journal. id/index. php/mpk Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol: 3. No 1, 2026 8 of 11 kebutuhan bayi setelah lahir. Jika ibu memiliki pendapatan yang cukup, mereka akan lebih siap untuk menjalani kehamilan. Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan bahwa banyak ibu hamil yang belum mempersiapkan perlengkapan untuk ibu dan bayi. Hal ini terjadi karena ada budaya dimasyarakat bahwa ibu hamil harus membeli perlengkapan bayi setelah usia kandungan 7 bulan. Ini mengakibatkan banyak ibu hamil yang memilih untuk membeli perlengkapan ibu dan bayi sesudah usia kandungan 7 bulan. Persiapan transportasi ibu hamil ketika akan melahirkan juga masih belum dipikirkan oleh ibu hamil, ini karena kurangnya informasi yang didapat oleh ibu hamil tentang layanan yang dapat diakses oleh pasien contohnya jika dikarangasem ada Antar Jemput Pasien (AJP) yang merupakan program dari Kabupaten Karangasem agar memudahkan transportasi pasien ke fasilitas kesehatan. Persiapan biaya ibu hamil dapat meliputi penggunaan BPJS kesehatan untuk bersalin, dan biaya lain yang perlu dipersiapkan. Hal ini dapat terjadi karena ibu hamil pertama dan belum tahu yang perlu dipersiapkan, sehingga dibutuhkan edukasi tentang persiapan finansial ini agar ibu hamil siap secara finansial. Sangat penting bagi ibu yang akan melahirkan untuk mempersiapkan keuangan mereka untuk memenuhi kebutuhan selama kehamilan dan setelah persalinan. Ini termasuk persiapan untuk biaya persalinan. Persalinan memerlukan banyak uang, tergantung pada kondisi ekonomi ibu dan kemampuan mereka untuk membayarnya. Menurut Noviyanti dkk. , 2023, persiapan keuangan termasuk perencanaan dana, asuransi kesehatan untuk ibu hamil muda, perencanaan anggaran keuangan, tabungan, persiapan transportasi, dan perlengkapan ibu dan bayi. Pendamping ibu saat bersalin akan lebih berkonsentrasi pada ibu hamil jika sudah memiliki persiapan keuangan ini. Kesimpulan Karakteristik responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil berada pada rentang usia 18Ae19 tahun, tidak bekerja . ebagai ibu rumah tangg. , dan memiliki tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP). Dalam hal kesiapan menghadapi persalinan, sebagian besar ibu hamil usia muda tidak siap secara fisik maupun psikologis, sehingga membutuhkan dukungan keluarga untuk mengurangi rasa khawatir. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki kesiapan finansial dalam menghadapi proses persalinan. Daftar Pustaka