MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI DESA MINGGIR KECAMATAN WINONGAN KABUPATEN PASURUAN 1,2,3 Silvi Wulandari1. Nurun Ayati Khasanah,2 Fitria Edni Wari3 Program S1 Kebidanan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto ABSTRACT Stunting is a nutritional problem throughout the world, including Indonesia. SSGI results in 2021 the prevalence rate of stunting in Indonesia reaches 24. 4% with Pasuruan 10% in 2021 and 13. 4% in 2022. The purpose of this study was to determine the relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in toddlers aged 24-59 months in Mingir Village. This type of research uses analytic observational with a cross sectional design. Sampling was determined by simple random sampling of 315 respondents. Retrieval of data from secondary data. Bivariate analysis using the Chi-Square test. The results of the chi- square test showed that there was a significant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in toddlers aged 24-59 months in Minggir Village . =0. 000<0. with OR=0. 045<1 test results, meaning that toddlers who are exclusively breastfed are a factor protective against stunting by 0. 045 times. Exclusive breastfeeding can reduce the incidence of stunting. Therefore, health workers need to promote exclusive breastfeeding and recommend giving additional food in the form of animal protein. Keywords: stunting, exclusive breastfeeding, toddlers, nutrition PENDAHULUAN Gizi buruk merupakan fenomena yang melekat pada permasalahan gizi yang di alami oleh sekelompok usia balita (Puji Dwi, 2. Menurut Kartikawati, 2011 . alam Indrahwati, 2. Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada anak balita sehingga menyebabkan tinggi anak tidak sesuai dengan usianya. Stunting pada balita memerlukan perhatian khusus karena dapat menghambat perkembangan fisik dan mental anak yang secara tidak langsung akan berkaitan dengan risiko kesakitan dan kematian. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4% atau menurun 6,4% dari angka 30,8% pada 2018 (Kemenkes Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), target dan capaian prevalensi stunting di Jawa Timur dari tahun 2019 sebesar 26,86% terus mengalami penurunan pada tahun 2020 sebesar 25,64% dan pada tahun 2021 sebesar 23,5% (Kominfo Jatim 2. Di Kabupaten Pasuruan sendiri, prevalensi stunting dari tahun 2020 mencapai 21,5% dan 18,10% pada tahun 2021, terakhir menyentuh angka 13,4% pada tahun 2022 artinya, prevalensi stunting selama tiga tahun terakhir sudah mengalami penurunan seharusnya pada tahun 2022 ini, sudah tidak ada lagi balita yang mengalami stunting (Kominfo Pasuruan, 2. Berdasarkan Studi Pendahuluan data yang diperoleh di Desa Minggir dari 20 balita usia 24-59 bulan di dapatkan 4 balita . %) yang stunting dan 16 balita . %) yang tidak stunting. Salah satu faktor penyebab kejadian stunting pada balita adalah kekurangan gizi pada masa kehamilan dan setelah lahir melalui pemberian ASI dan MPASI. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2021, sekitar 52,5 % atau hanya setengah dari 2,3 MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM juta bayi berusia kurang dari enam bulan yang mendapat ASI eksklusif di Indonesia, atau menurun 12 persen dari angka di tahun 2019. Di Provinsi Jawa Timur cakupan pemberian ASI Eksklusif pada tahun 2020 sebesar 79,0% mengalami penurunan pada tahun 2021 mencapai 71,7% (Profil Dinkes Jatim, 2. dengan Kabupaten Pasuruan tahun 2021 sebesar 71,5% juga mengalami penurunan dari 2020 yang menyentuh angka 76,2% dan Kecamatan Winongan mencapai 70,8% (Profil Dinkes Pasuruan, 2. Praktik menyusui yang optimal adalah kunci untuk menurunkan stunting pada anak di bawah usia lima tahun, demi mencapai target global dan nasional untuk mengurangi stunting hingga 40 persen (Paranietharan, 2. Berdasarkan penelitian dengan judul ASI Eksklusif Sebagai Faktor Protektif Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita 24-59 Bulan (Rafika Surya dkk, 2. diperoleh hasil yang signifikan dalam pemberian ASI Eksklusif pada balita 24-59 bulan dapat menjadi faktor protektif terhadap stunting. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuHubungan pemberian asi eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Minggir Kecamatan Winongan Kabupaten PasuruanAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Minggir Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan, pada bulan Maret tahun 2023. Sebanyak 315 sampel dipilih secara Simple Random Sampling dari seluruh balita berusia 24-59 bulan dengan memperhatikan kriteria eksklusi dan inklusi. Data diperoleh dari data sekunder yaitu data laporan gizi untuk mendapakan data stunting dan data pemberian ASI eksklusif dan buku kohort untuk data usia ibu, pekerjaan ibu, pendidikan terakhir ibu, jenis kelamin balit dan usia balita. Data dianalisis dengan analisis univariat untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat. HASIL PENELITIAN Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Di Desa Minggir Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan Tabel 1 Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Di Desa Minggir Kecamatan Winongan Pemberian ASI Eksklusif Asi Eksklusif Non Asi Eksklusif Total Stunting Total Stunting Tidak Stunting p-value (CI 0,000 . ,0230,. Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa balita yang di beri ASI eksklusif sebagian besar tidak mengalami stunting sebanyak 227 responden . ,1%) dan sisanya MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM mengalami stunting sebanyak 19 responden . %). Sedangkan balita non ASI eksklusif sebagian besar mengalami stunting sebanyak 45 responden . ,4%) dan sisanya tidak stunting sebanyak 24 responden . Hasil analisis bivariat dengan uji chi square menggunakan SPSS diketahui nilai p-value = 0,000< 0,05 sehingga H0 ditolak, artinya ada hubungan yang signifikan antara ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita umur 24-59 bulan di Desa Minggir. Dari hasil uji Odds Ratio diperoleh nilai OR=0,045< 1, berarti bahwa balita yang diberi ASI Eksklusif menjadi faktor protektif . aktor resiko penghamba. terjadinya stunting sebesar 0,045 kali dibanding balita yang tidak diberi ASI Eksklusif. PEMBAHASAN Balita pendek . dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang dan tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar dan hasilnya berada di bawah Secara fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya . Kependekan mengacu pada anak yang memiliki indeks TB/U rendah. Pendek dapat mencerminkan baik variasi normal dalam pertumbuhan ataupun defisit dalam Stunting adalah pertumbuhan linear yang gagal mencapai potensi genetik sebagai hasil dari kesehatan atau kondisi gizi yang suboptimal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rafika Surya dkk . dengan judul ASI Eksklusif Sebagai Faktor Protektif Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita 24-59 Bulan diperoleh hasil yang signifikan dalam pemberian ASI Eksklusif pada balita 24-59 bulan dapat menjadi faktor protektif terhadap stunting sedangkan pemberian non ASI Eksklusif dapat menjadi faktor risiko balita mengalami stunting. Penelitian lain yang di lakukan oleh Purnamasari & Rahmawati . dengan judul Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24-59 Bulan menunjukkan bahwa pemberian ASI Eksklusif memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita umur 24-59 bulan, dimana balita yang mendapatkan ASI Eksklusif akan mengurangi risiko kejadian stunting. Menurut Hanindita . , melakukan pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir merupakan salah satu intervensi spesifik nutrisi untuk mencegah dan mengurangi gangguan stunting secara langsung. ASI cukup mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah Vitamin E, terutama di kolostrum. Dalam ASI juga terdapat vitamin D. ASI mengandung zat protektif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan bayi. Bayi yang mendapat ASI lebih jarang menderita penyakit, karena adanya zat protektif dalam ASI. Di samping itu ASI juga mempunyai efek psikologis yang menguntungkan. Waktu menyusu kulit bayi akan menempel pada kulit ibu. Kontak kulit dini ini akan besar pengaruhnya pada perkembangan. Waktu menyusui antara ibu dan bayi akan menimbulkan rasa aman bagi bayi, untuk menimbulkan dasar kepercayaan pada bayi, dengan mulai dapat mempercayai orang lain . maka akan timbul rasa percaya pada diri sendiri (Tarigan, 2. ASI eksklusif memiliki kontribusi yang besar terhadap tumbuh kembang dan daya tahan tubuh anak. Anak yang diberi ASI eksklusif akan tumbuh dan berkembang secara optimal karena ASI mampu mencukupi kebutuhan gizi bayi sejak lahir sampai umur 24 Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada anak, faktorfaktor tersebut dapat berasal dari diri anak itu sendiri, maupun dari luar diri anak tersebut. Faktor penyebab stunting dapat disebabkan oleh faktor langsung maupun tidak langsung. MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Penyebab langsung dari kejadian stunting adalah asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsung adalah pola asuh, pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan, budaya ekonomi, dan masih banyak lagi (Handayani, 2. ASI eksklusif bukan hanya sebagai nutrisi yang sesuai untuk kebutuhan bayi tetapi juga sebagai upaya pencegahan infeksi. Dalam upaya pencegahan stunting pada balita selain penerapan ASI eksklusif juga harus didukung dengan perbaikan kondisi sosial dan ekonomi, tingkat pendidikan, masalah penyakit infeksi, dan pemberdayaan Berdasarkan dari hasil penelitian ini dan beberapa penelitian yang sejalan dengan penelitian ini dan yang telah dilakukan kaitannya dengan manfaat pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Sutarto, . dan Andini . yang sama-sama meneliti tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita. PENUTUP Hasil penelitian ini Terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Minggir Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Tempat penelitian rutin dalam memperbaharui data jumlah balita di setiap bulannya dapat mengetahui seberapa banyak balita yang mengalami stunting sehingga dapat lebih memaksimalkan pencegahan dan penanganan stunting melalui posyandu tematik stunting . , voucher belanja nutrisi . , penyediaan sanitasi . asih Agaw. dan KIE Bersanding . omunikasi informasi dan edukasi media massa bersama sadar stuntin. DAFTAR PUSTAKA