Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Pertukaran Sosial dalam Program CSV Sambung Listrik Gratis oleh PT PLN (Perser. UIK TJB Safir Nur Muhammad1* dan M. Jacky2 Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISH-Unesa 19053@mhs. Abstract CSV (Creating Shared Valu. is different from CSR activities which in general only focus on Empowerment. Capacity Building. Charity and Infrastructure Programs which do not have to be directly related to the company's core business. In the CSV concept, companies must try to create shared value between the company and the community by taking into account long-term interests and making business activities a means of meeting the social and environmental needs of the community. In the CSV concept, companies play a dual role, namely creating economic value and creating social value simultaneously and together . without prioritizing or setting aside one of them. This research focuses on identifying the shared values created from the Program CSV Sambung Listrik Gratis between PT PLN (Perser. UIK TJB and beneficiaries using the perspective of Social Exchange theory from Peter M Blau. This research use desciptive qualitative approach. The aim of this study is to identify forms of exchange . ntrinsic & extrinsi. and patterns of exchange relations . alanced & unbalance. according to Peter M Blau. The results of the research found that the exchanges in this program are intrinsic as well as extrinsic and the pattern of exchange relations is an unbalanced exchange with a subordinated position on the part of the beneficiary and the birth of power on the part of PT PLN (Perser. UIK TJB. Keywords : Social Exchange. CSV. Power. Subordination Abstrak CSV (Creating Shared Valu. berbeda dengan kegiatan CSR yang secara umum hanya berkutat pada Empowerment. Capacity Building. Charity, dan Infrastructure Program yang tidak harus berhubungan langsung dengan core business Dalam konsep CSV, perusahaan harus berusaha menciptakan nilai bersama antara perusahaan dan masyarakat dengan memperhatikan kepentingan jangka panjang dan menjadikan kegiatan bisnis sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan sosial dan lingkungan masyarakat. Dalam konsep CSV perusahaan memainkan peran ganda yakni menciptakan nilai ekonomi . conomic valu. dan menciptakan nilai sosial . ocial valu. secara beriringan dan bersama . tanpa mengutamakan atau mengesampingkan salah satunya. Penelitian ini berfokus pada identifikasi nilai bersama yang tercipta dari Program CSV Sambung Listrik Gratis antara PT PLN (Perser. UIK TJB dengan penerima manfaat menggunakan perspektif teori Pertukaran Sosial dari Peter M Blau. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah berusaha mengidentifikasi bentuk pertukaran . ntrinsik & ekstrinsi. dan pola hubungan pertukaran . eimbang & tidak seimban. menurut Peter M Blau. Hasil penelitian yang ditemukan adalah bahwa pertukaran dalam program ini berbentuk intrinsik sekaligus ekstrinsik serta pola hubungan pertukaran bersifat pertukaran tidak seimbang dengan posisi subordinasi di pihak penerima manfaat dan lahirnya kekuasaan di pihak PT PLN (Perser. UIK TJB. Kata kunci: Pertukaran Sosial. CSV. Kekuasaan. Subordinasi Pendahuluan Sejak tahun 2021 PT PLN (Perser. sebagai perusahaan BUMN terbesar di Indonesia telah melaksanakan program CSV, salah satunya adalah Program CSR Sambung Listrik Gratis. Program tersebut bertujuan untuk memberikan sambungan pemasangan baru gratis kepada rumah tangga kurang mampu yang belum memiliki saluran listrik. CSV merupakan bentuk baru dari CSR. Creating Shared Value (CSV) merupakan konsep yang merujuk kepada metode strategis bahwa perusahaan dapat mengubah masalah sosial menjadi peluang bisnis (Manan, 2. Sesuai dengan Stakeholder Theory . eori pemangku kepentinga. , kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dilakukan oleh perusahaan terhadap penduduk di sekitar daerah operasinya. Hal ini karena masyarakat dan perusahaan memiliki hubungan sosial yang saling bergantung satu sama lain. Hubungan sosial menurut Peter M Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Blau didasarkan pada pertukaran yang saling menguntungkan antara individu. Blau dalam teorinya mengatakan pertukaran sosial terjadi karena adanya kepentingan individu dalam mencapai tujuan pribadi atau kelompoknya. Dalam konteks program CSR Sambung Listrik Gratis, pertukaran sosial terjadi antara PT PLN (Perser. dengan masyarakat desa ring 1 dan desa ring 2 perusahaan. Penelitian ini menjadi penting dilakukan karena beberapa alasan, yang pertama karena masyarakat penerima manfaat adalah masyarakat pra sejahtera yang terdata masuk dalam DTKS. Kedua masih belum ada penelitian terdahulu yang membahas mengenai CSVAipenelitian sebelumnya hanya membahas CSRAidalam perspektif pertukaran sosial Peter M Blau. Alasan pertama bahwa masyarakat pra sejahtera merupakan salah satu kaum rentan yang mempunyai posisi inferior. Pada posisi inferior tersebut mereka tidak mempunyai banyak opsi ketika dilakukan hubungan sosialAidalam hal ini program CSV. Bentuk inferior ini terlihat ketika peneliti melakukan small research saat melakukan survei SROI dan IKM. 10 dari 34 penerima manfaat mengatakan mereka sangat berterima kasih dan merasa tidak mampu membalas atas bantuan yang diterima. Seperti yang dikatakan oleh salah satu penerima manfaat yakni DSA bahwa bantuan ini nominalnya cukup tinggi dan memiliki tingkat kebermanfaatan yang keberlanjutan dan dia mengatakan sangat berterima kasih akan hal itu. Dari penelitian terdahulu yang ada terdapat beberapa persamaan topik dan teori dari keseluruhan yang Persamaan topik dan teori tersebut yakni sama-sama membahas mengenai CSR dengan perspektif teori Pertukaran Sosial dari Peter M Blau. Persamaan pendekatan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah dari Sabilillah . dengan Rofiq . yang sama-sama menggunakan pendekatan Kualitatif Studi Case. Untuk perbedaan yang pertama dari penelitian dengan penelitian Sabilillah adalah pada penelitian ini berusaha melihat Bagaimana bentuk dan pola hubungan pertukaran yang terjadi antara PT PLN (Perser. UIK TJB dan penerima manfaat warga Desa Kedungleper. Tidak seperti penelitian Sabilillah yang hanya melihat tanggapan masyarakat saja. Perbedaan kedua dari penelitian selanjutnya yakni penelitian Kurniawan . adalah bahwa pada penelitian ini berusaha mengidentifikasi sifat ekstrinsik dan intrinsik sekaligus pertukaran seimbang dan tidak seimbang. Sedangkan penelitian Kurniawan . hanya melihat sifat pertukaran ekstrinsik dan intrinsiknya saja. Perbedaan selanjutnya dari penelitian Beloan . adalah dari pendekatan yang digunakan. Pada penelitian ini digunakan kualitatif deskriptif. Berbeda dengan Beloan yang menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Penelitian ini juga berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rofiq . Penelitian ini mengkaji hubungan pertukaran sosial antara stakeholder masyarakat desa ring 1 dan ring 2 perusahaan dengan perusahaan itu sendiri. Sedangkan penelitian Kurniawan mengkaji pertukaran sosial antara perusahaan dan karyawannya. Berdasar tinjauan dari penelitian terdahulu yang telah dilakukan dan urgensi penelitian yang telah dipaparkan, ditemukan bahwa masih belum ada penelitian yang secara khusus membahas mengenai perspektif pertukaran sosial oleh Peter Blau dalam program CSV. Secara keseluruhan dari penelitian yang ada bahwa penelitian yang dilakukan memiliki perbedaan di bidang topik, pendekatan, unit analisis, dan pertanyaan penelitian. Kajian Pustaka. 1 Bentuk Pertukaran Sosial Intrinsik dan Ekstrinsik (Peter M Bla. Bentuk-bentuk hubungan sosial dapat dikategorikan menurut apakah manfaatnya intrinsik atau Seperti yang digariskan oleh Blau dalam bukunya "Excursus on Love", yang mengeksplorasi hubungan cinta, kesenangan yang melekat muncul dari hubungan itu sendiri. Banyak pertukaran unik terjadi dalam hubungan semacam itu, melambangkan ketertarikan emosional dan timbal balik. Objek material, seperti hadiah, mungkin dipertukarkan sebagai simbol kasih sayang daripada alasan praktis atau ekonomi (Johnson, 1981:. Kebahagiaan, cinta, kasih sayang, pemenuhan, dan kehormatan adalah contoh penghargaan intrinsik. Menurut Blau, pertukaran memiliki sifat ekstrinsik ketika digunakan hanya sebagai alat untuk mendapatkan imbalan tertentu dan bukan untuk hubungan itu sendiri. Dalam pertukaran yang bersifat ekstrinsik, imbalan dapat terlepas dari hubungan pertukaran. Dalam hal ini, imbalan tersebut dapat Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 dipertukarkan dengan individu lain tanpa memperhatikan hubungan yang ada. Contoh pertukaran ekstrinsik dapat ditemukan dalam pertukaran ekonomi di mana fokus utama adalah nilai materi daripada nilai hubungan interpersonal. Di sisi lain, pertukaran intrinsik terjadi ketika nilai pertukaran muncul dari dalam hubungan itu sendiri. Misalnya, dalam hubungan romantis, pertukaran hadiah berfokus pada nilai emosional dan makna sentimental dari hadiah tersebut, bukan hanya nilai materi yang terkandung di dalamnya. Menurut Blau, pertukaran ekonomi dianalogikan dengan pertukaran ekstrinsik, tetapi pertukaran sosial dianalogikan dengan pertukaran intrinsik. Ada banyak variasi antara kedua jenis pertukaran ini, terutama dalam prosedurnya. Negosiasi dan tawar-menawar terlibat dalam pertukaran ekonomi, tetapi tidak dalam pertukaran sosial. Akibatnya, tidak adanya aspek kesadaran yang disengaja menentukan validitas penghargaan sosial. Ketika insentif sosial dipertanyakan, itu mungkin menunjukkan kerusakan dalam hubungan atau gangguan dalam keseimbangan komitmen timbal balik. Perbedaan antara pertukaran ekstrinsik dan intrinsik harus dipahami dalam konteks yang lebih luas. Hal ini disebabkan karena dalam banyak proses pertukaran, terjadi campuran antara imbalan ekstrinsik dan intrinsik. Artinya, kombinasi keduanya terjadi secara bersamaan. Sebagai contoh, dalam konteks pernikahan, sebelum menikah, seseorang mungkin mempertimbangkan berbagai faktor seperti penampilan fisik, status ekonomi, dan kedudukan sosial saat memilih pasangan, dan mereka membandingkannya dengan alternatif lain. Ini adalah contoh pertukaran ekstrinsik. Namun, setelah menikah, faktor-faktor tersebut menjadi tidak relevan, dan pertukaran lebih didasarkan pada emosi dan komitmen yang kuat. Pola pertukaran ini muncul secara alami dalam hubungan tersebut. 2 Kekuasaan dan Ketidakseimbangan dalam Pertukaran (Peter M Bla. Individu, menurut Blau, sangat ingin membangun koneksi dengan orang lain. Manfaat yang ditransfer antar mitra berpotensi membangun atau merusak hubungan ini. Ketidakseimbangan dalam imbalan dapat menyebabkan disintegrasi hubungan dan eksploitasi kekuasaan. Manfaat ini mungkin intrinsik, seperti cinta dan kasih sayang, atau ekstrinsik, seperti uang dan harta benda. Namun, ketidakseimbangan kekuatan dapat muncul karena masing-masing kelompok mungkin tidak dapat memberikan manfaat yang sama. Menurut definisi Weber, batas kekuasaan adalah "kemampuan seseorang atau kelompok untuk memaksakan kehendak mereka kepada orang lain, bahkan jika ada penolakan, baik melalui pengurangan penghargaan atau hukuman reguler, selama ada sanksi negatif. " Konsep Richard Emerson dikutip oleh Blau . 4: . untuk menjelaskan hubungan kekuasaan-ketergantungan dan mengkaji perbedaan kekuasaan di dalam dan di antara kelompok. Teknik Richard Emerson untuk memeriksa perbedaan kekuasaan dalam hubungan dibahas oleh Blau . 4: . Individu yang membutuhkan bantuan orang lain memiliki empat pilihan di bawah pengaturan ini. Pertama, mereka dapat menawarkan layanan yang sangat berharga sehingga penyedia sangat ingin membalasnya dengan layanan mereka sendiri, yang menghasilkan keuntungan bersama. Kedua, orang dapat mencari penyedia layanan alternatif dan terlibat dalam pertukaran timbal balik, meskipun melalui jenis koneksi yang berbeda. Ketiga, mereka dapat menggunakan paksaan untuk memaksa seseorang yang mampu memberikan layanan untuk melakukannya, sehingga mendapatkan kendali atas penyedia. Keempat, mereka dapat belajar menarik diri tanpa mengharapkan atau mencari pengganti jasa tersebut. Blau . 4: . mengusulkan empat pilihan bagi mereka yang secara sosial bergantung pada orang lain untuk beberapa layanan. Jika tidak satu pun dari alternatif ini yang layak, mereka wajib menerima persyaratan penyedia karena mereka memerlukan layanan tersebut dan tidak dapat menerimanya di tempat lain. Ini menghasilkan dinamika kekuatan di mana penyedia memiliki otoritas atas penerima Untuk menjaga kekuatan ini, penyedia harus menyadari keuntungan dari pertukaran dan menghalangi pemasok lain dalam kegiatan pelayanan yang sama (Blau, 1964: . Blau selanjutnya berargumen . 4: . bahwa hanya perintah hukum yang harus diikuti. Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Ketika terjadi ketidakseimbangan dalam pertukaran sosial, seringkali menimbulkan perbedaan dan disparitas kekuasaan, karena pihak tertentu merasa lebih dominan dan memiliki kemampuan untuk menundukkan pihak lain sementara pihak lain dikendalikan dan mengalami tekanan. Peter M. Blau memandang kekuasaan sebagai kapasitas individu atau kelompok untuk memaksakan kehendak mereka kepada orang lain. Untuk mendapatkan kekuasaan atas orang lain, seseorang dapat menggunakan strategi atau metode yang melibatkan memberi sebanyak mungkin kepada mereka yang membutuhkan, dalam upaya untuk menunjukkan status yang lebih unggul dan lebih dominan. Teknik ini sering mengakibatkan mereka yang dikendalikan merasa berhutang dan mengembangkan rasa ketergantungan, sehingga memperkuat dinamika kekuatan antara kedua pihak. Menurut teori pertukaran Peter M. Blau, konsep biaya, imbalan, dan keuntungan tidak hanya berlaku dalam pertukaran antara individu, tetapi juga dalam pertukaran antara kelompok. Dalam perspektif Blau, pertukaran antar kelompok memiliki tiga poin utama: . Pertukaran ekstrinsik dan intrinsik, . Timbulnya kekuasaan, dan . Struktur sosial pada level makro. 3 Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai CSR menggunakan teori pertukaran sosial oleh Peter M Blau sudah dilakukan sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Sabilillah, 2023 dengan judul AuTANGGAPAN MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP PENGADAAN MESIN TEMPEL DALAM PROGRAM CSR PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN (Studi PT. Kangean Energy Indonesi. Ay. Dalam penelitian tersebut digunakan pendekatan kualitatif dengan sifat penelitian studi Hasil penelitian berupa yaitu tanggapan masyarakat nelayan terkait program pengadaan mesin tempel yang dianggap positif dan negatif. Tanggapan positif karena bantuan mesin tempel oleh PT Kangean Energi Indonesia memberikan manfaat bahwa hasil tangkapan nelayan bisa meningkat. Negatif karena banyak dari penerima program adalah salah sasaran dan diprioritaskan untuk pendukung dari kepala desa brakas. Penelitian lain mengenai CSR menggunakan teori pertukaran sosial Peter M Blau juga dilakukan oleh Kurniawan, dkk 2021 dengan judul AuPERTUKARAN SOSIAL MELALUI PROGRAM CS) PT. TIMAH Tbk PADA MASYARAKAT DESA TANJUNG GUNUNGAy. Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif deskriptif, dan temuan menunjukkan bahwa kedua pihak dalam unsur intrinsik memiliki hubungan sosial yang kuat dan pemahaman yang sama satu sama lain. Komponen ekstrinsik, sementara itu, menunjukkan tiga efek pada bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan. Senada dengan itu. Beloan . menggunakan teknik kualitatif dan analisis fenomenologis dalam karyanya AuMENGUNGKAP MOTIF DI BALIK PELAKSANAAN CSR PERUSAHAAN PADA PT XYZ di MAKASSARAy. Studi ini menemukan bahwa bisnis sekarang menerapkan CSR lebih sejalan dengan kapitalisme yang sebelumnya merupakan tradisi, ini ditandai dengan tujuan pertukaran dan branding. Motif pertukaran, yang menganut ungkapan "Saya memberi agar Anda berkontribusi," adalah kekuatan pendorong paling umum di balik peningkatan keuntungan. Penelitian selanjutnya mengenai CSR dengan teori pertukaran sosial Peter M Blau dilakukan oleh Rofiq, 2012 yang berjudul AuEFEKTIVITAS PROGRAM CSR BAGI KESEJAHTERAAN KARYAWAN (Studi Kasus di PT. Meiji Indonesia Bangil AePasurua. Ay. Studi kasus dengan kualitatif mendalam digunakan sebagai metodologi. Rofiq menemukan bahwa ketika upaya CSR dilaksanakan, ada pertukaran sosial antara perusahaan dan karyawannya. Kesejahteraan karyawan PT Meiji Indonesia menjadi prioritas utama dalam menjalankan bisnis, sehingga terjadi peningkatan fokus pada karyawan sebagai bentuk CSR. Salah satu langkah yang dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha dan keseimbangan dengan fungsi dan peran sosial, serta menjaga kelestarian lingkungan perusahaan dan menjamin kesinambungan usaha ke depan, adalah pelaksanaan program CSR PT Meiji Indonesia yang terbukti sangat berhasil di meningkatkan kesejahteraan karyawan. Dari penelitian terdahulu yang sudah dipaparkan terdapat beberapa persamaan topik dan teori dari keseluruhan yang ada. Persamaan topik dan teori tersebut yakni sama-sama membahas mengenai CSR dengan perspektif teori Pertukaran Sosial dari Peter M Blau. Persamaan pendekatan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah dari Sabilillah . dengan Rofiq . yang sama-sama Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 menggunakan pendekatan Kualitatif Studi Case. Untuk perbedaan yang pertama dari penelitian dengan penelitian Sabilillah adalah pada penelitian ini berusaha melihat Bagaimana bentuk dan pola hubungan pertukaran yang terjadi antara PT PLN (Perser. UIK TJB dan penerima manfaat warga Desa Kedungleper. Tidak seperti penelitian Sabilillah yang hanya melihat tanggapan masyarakat saja. Perbedaan kedua dari penelitian selanjutnya yakni penelitian Kurniawan . adalah bahwa pada penelitian ini berusaha mengidentifikasi sifat ekstrinsik dan intrinsik sekaligus pertukaran seimbang dan tidak seimbang. Sedangkan penelitian Kurniawan . hanya melihat sifat pertukaran ekstrinsik dan intrinsiknya saja. Perbedaan selanjutnya dari penelitian Beloan . adalah dari pendekatan yang digunakan. Pada penelitian ini digunakan kualitatif deskriptif. Berbeda dengan Beloan yang menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Penelitian ini juga berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rofiq . Penelitian ini mengkaji hubungan pertukaran sosial antara stakeholder masyarakat desa ring 1 dan ring 2 perusahaan dengan perusahaan itu sendiri. Sedangkan penelitian Kurniawan mengkaji pertukaran sosial antara perusahaan dan karyawannya. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk menginvestigasi dan memahami fenomena tertentu dalam setting kehidupan yang nyata (Denzin & Lincoln dalam Sni'uth. Metode ini digunakan untuk membuat deskripsi yang sistematis, faktual, dan akurat mengenai fenomena yang sedang diteliti. Dengan menggunakan metode ini, diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas dan rinci untuk menganalisis apa yang dilihat atau didengar sebagai hasil dari Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan status kelompok manusia, objek, kondisi, sistem pemikiran manusia, atau peristiwa yang bersifat deskriptif. Penelitian ini bersifat deskriptif karena memberikan gambaran tentang perubahan yang membentuk suatu gejala atau memberikan uraian deskriptif tentang suatu realitas sosial yang kompleks guna memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang realitas tersebut. Menurut Suwarma Al Muchtar, lokasi penelitian merupakan tempat peneliti melangsungkan penelitiannya sekaligus mendapatkan data yang diperlukan. Pemilihan lokasi penelitian yang tepat tergolong sebagai komponen penting dalam rangkaian proses penelitian yang dilakukan. Di dalam memilih lokasi penelitian tentunya disertai beberapa hal yang menjadi pertimbangan peneliti, yang diharapkan dapat membuat peneliti mampu menemukan hal yang bermakna (Nurgiansah, 2. Lokasi penelitian dilakukan di dua desa yakni Desa Tubanan dan Desa Kedungleper. Desa Tubanan sebagai perwakilan desa ring 1 sedangkan Desa Kedungleper sebagai perwakilan desa ring 2 Perusahaan. Pertimbangan pemilihan lokasi ini didasarkan atas data yang didapatkan peneliti sebagai rujukan atau latar belakang penelitian ini. Data dari AuDATA LISMUR TAHUN 2015-2022 KAB. JEPARAAy menyatakan bahwa di Desa Tubanan merupakan daerah yang paling banyak dilaksanakan program di desa ring 1 dan Desa Kedungleper merupakan daerah yang paling sedikit dilaksanakan program di desa ring 2. Atas dasar hal ini merupakan hal yang penting dilaksanakannya penelitian untuk bisa mengerti karakteristik dari stakeholder masyarakat yang nantinya bisa digunakan untuk evaluasi dan perencanaan program lain yang baik kedepannya. Menurut Tatang M. Amirin . alam Rahmadi, 2. , subjek penelitian merupakan informan sumber keterangan data sebagai keterangan penelitian atau bisa diartikan sebagai seseorang yang mengenainya ingin diperoleh informasi. Sementara Muhammad Idrus . alam Rahmadi, 2. menyatakan bahwa subjek adalah individu dengan informasi yang menunjang keperluan data suatu penelitian (Rahmadi. Subjek atau informan penelitian kali ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang mana pilihan ini didasari atas tujuan tertentu. Tujuan pemilihan subjeknya sendiri yakni untuk mengidentifikasi pertukaran sosial dalam program CSR Sambung Listrik Gratis. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, dimana peneliti memberikan kategorisasi sesuai dengan kebutuhan data penelitian. Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Subjek dalam penelitian ini adalah aktor yang terlibat dalam Program CSR Sambung Listrik Gratis yakni antara perusahaan dan individu penerima manfaat. Subjek tersebut adalah Assistant Manager TJSL sebagai penanggungjawab dan pemimpin dari setiap kegiatan CSR di PT PLN (Perser. UIK TJB. Penelitian ini merupakan penelitian sosiologi ekonomi dan pengambilan subjek dari penerima manfaat diambil 3 orang dari perwakilan di tingkatan 3 posisi ekonomi di dua desa jadi seluruh penerima manfaat ada 6 orang. Tiga posisi ekonomi tersebut diambil berdasarkan data IKM dan SROI AuProgram CSR Sambung Listrik GratisAy tahun 2022 yakni posisi ekonomi yang paling rendah, sedang, dan tinggi di antara keseluruhan penerima manfaat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisa Creswell. Hasil dan Pembahasan Dalam pandangan Blau, pertukaran dikategorikan sebagai ekstrinsik ketika tujuan utamanya adalah untuk memperoleh imbalan tambahan dan bukan untuk membangun hubungan itu sendiri (Sni'uth. Dalam pertukaran ekstrinsik, imbalan memiliki potensi untuk terlepas dari hubungan Sebagai contoh nyata, setiap transaksi ekonomi dapat dianggap sebagai pertukaran yang bersifat ekstrinsik. Di sisi lain, pertukaran yang bersifat intrinsik terjadi ketika pertukaran didasarkan pada hubungan itu sendiri. Sebagai contoh, dalam hubungan romantis, ketika pasangan saling memberikan hadiah, mereka tidak hanya melihat nilai ekonomis dari hadiah tersebut, tetapi juga makna yang terkandung di dalamnya (Supriyono, 2. Menurut Blau, ketidakseimbangan pertukaran terjadi ketika ada perbedaan dalam imbalan yang diberikan dalam proses pertukaran, yang mengakibatkan adanya perbedaan status. Pihak yang memiliki status lebih tinggi adalah mereka yang memberikan imbalan yang lebih besar yang tidak dapat dibalas oleh pihak penerima. Keadaan ini disebut sebagai pertukaran yang tidak seimbang. Akibat ketidakseimbangan tersebut, pihak penerima berada dalam posisi subordinasi (Sni'uth, 2. Mereka harus menyesuaikan diri dengan tuntutan pihak yang memberi agar tetap menerima apa yang mereka Dengan kata lain, pihak penerima memiliki kewajiban untuk menyesuaikan diri dengan keinginan, tuntutan, atau pengaruh pihak yang memberi. Di sisi lain, pertukaran menjadi seimbang ketika kedua pihak saling memberikan imbalan yang sebanding, sehingga tidak ada posisi subordinasi yang terjadi. Hasil kesimpulan sementara dari perspektif Penerima manfaat adalah bahwa program CSV Sambung Listrik Gratis ini bersifat campuran dengan bentuk ekstrinsik sekaligus intrinsik. Bentuk ekstrinsik terlihat dari semua penerima manfaat yang menilai dan menjalin hubungan dengan PT PLN (Perser. UIK TJB dalam program ini sebagai tujuan ingin mendapatkan bantuan sambungan listrik gratis. Namun bentuk pertukaran ini juga dapat bersifat intrinsik karena menurut 5 penerima manfaat (Abdul. Sumah. Edi. Risma dan Rukmi. menganggap bahwa program ini merupakan usaha dari perusahaan untuk mempererat hubungan antara masyarakat dengan penerima manfaat. Kesimpulan sementara dari subjek penerima manfaat dengan kondisi ekonomi tinggi adalah bahwa mereka menunjukkan gestur biasa dan mengakui rasa balas budi terhadap PT PLN (Perser. UIK TJB atas sambungan listrik yang diberikan. Namun, mereka tidak memiliki sumber daya finansial yang cukup untuk secara substansial membalas budi perusahaan. Sebagai gantinya, mereka memberikan dukungan dan pujian aktif serta mengikuti penyuluhan yang diadakan oleh PT PLN. Hal ini menunjukkan bahwa pertukaran yang tidak seimbang ini memengaruhi posisi mereka, yang secara aktif menunjukkan dukungan dan mengakui kekuasaan PT PLN sebagai respons terhadap sambungan Sementara itu, kesimpulan sementara dari subjek penerima manfaat dengan kondisi ekonomi sedang dan rendah adalah bahwa mereka juga menunjukkan gestur rasa hormat terhadap PT PLN (Perser. UIK TJB dan mengakui rasa balas budi terhadap sambungan listrik yang diberikan. Namun, mereka tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk secara substansial membalas budi Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Sebagai respons, mereka memberikan dukungan dan pujian aktif serta mengikuti penyuluhan yang diadakan oleh PT PLN. Pertukaran yang tidak seimbang ini menyebabkan mereka berada dalam posisi inferior, di mana mereka secara aktif menunjukkan dukungan kepada PT PLN sebagai bentuk penghargaan dan respons terhadap pemberian sambungan listrik. 1 Bentuk Pertukaran Intrinsik dan Ekstrinsik Pertukaran di atas dapat diidentifikasi sebagai pertukaran intrinsik karena dalam hubungan di atas kedua belah pihak tidak ada negosiasi mengenai imbalan dan pengorbanan yang dilakukan. Menurut Peter M Blau dalam suatu hubungan bersifat intrinsik jika tidak ada negosiasi. Atau dengan kata lain menurut (SniAouth, 2. bahwa suatu hubungan pertukaran yang dipertanyakan imbalannya akan jatuh pada pertukaran ekstrinsik. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dan temuan data ketika ditanyakan apakah terjadi negosiasi mengenai imbalan tidak ditemukan adanya negosiasi imbalan Analisis pertukaran sosial dari temuan data yang ada mengenai program CSV Sambung Listrik Gratis oleh PT PLN (Perser. dapat dilakukan dari dua perspektif yang berbeda, yaitu dari sisi penerima manfaat dan dari sisi perusahaan itu sendiri. Dari sisi penerima manfaat, temuan data menunjukkan adanya elemen pertukaran sosial yang bersifat intrinsik. Misalnya. Lastri, seorang penerima manfaat, melihat program ini sebagai tindakan yang menunjukkan perhatian perusahaan terhadap masyarakat, yang membantu mereka mendapatkan akses listrik gratis. Begitu pula dengan Abdul. Sumah. Risma. Rukmin, dan Edi, mereka mengaitkan program ini dengan hubungan yang semakin erat antara PT PLN (Perser. dan masyarakat, serta menganggapnya sebagai bentuk perhatian dan upaya menjalin hubungan yang harmonis. Mereka memberikan nilai penting pada hubungan sosial yang terjalin melalui program ini, menunjukkan karakteristik pertukaran yang lebih mendalam dan intrinsik. Dari sisi PT PLN (Perser. , program CSV Sambung Listrik Gratis merupakan salah satu upaya perusahaan untuk menjalin hubungan yang positif dengan masyarakat. Mandat dari General Manager menekankan pentingnya menjalin hubungan yang harmonis dengan stakeholder masyarakat desa di sekitar perusahaan. PT PLN (Perser. menganggap program ini bertujuan untuk membangun hubungan yang positif dengan masyarakat, dengan tujuan memperkuat posisi perusahaan dalam komunitas tersebut. Perusahaan menyadari pentingnya adanya timbal balik antara perusahaan dan masyarakat, yang menunjukkan perhatian terhadap pertukaran yang lebih intrinsik dalam hubungan Program CSV Sambung Listrik Gratis dalam perspektif penerima manfaat menunjukkan bahwa penerima manfaat menghargai hubungan sosial yang terjalin melalui program ini. Mereka melihat program ini sebagai bentuk kepedulian dan kesadaran dari PT PLN (Perser. terhadap masyarakat yang kurang mampu, dan mengaitkannya dengan hubungan yang semakin erat antara perusahaan dan Penerima manfaat memberikan nilai penting pada pertukaran yang lebih dalam dan makna yang ada di balik program ini. Dalam perspektif PT PLN (Perser. , program ini dianggap sebagai salah satu upaya perusahaan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan memperkuat posisinya dalam Perusahaan menyadari pentingnya hubungan yang positif dan timbal balik antara perusahaan dan masyarakat, yang menunjukkan kesadaran terhadap pertukaran yang lebih intrinsik dan mendalam. Secara keseluruhan, program CSV Sambung Listrik Gratis melibatkan pertukaran sosial yang lebih dari sekadar imbalan ekstrinsik. Baik dari sisi penerima manfaat maupun PT PLN (Perser. , terdapat kesadaran akan pentingnya hubungan sosial yang terjalin melalui program ini, serta adanya kepedulian dan timbal balik dalam hubungan perusahaan dan masyarakat. Pertukaran sosial yang terjadi dalam program ini melibatkan komponen intrinsik yang lebih mendalam, seperti kepedulian, kesadaran, dan makna yang ada di balik program ini. Hal ini menunjukkan bahwa program CSV Sambung Listrik Gratis memiliki dampak yang lebih signifikan dalam membangun hubungan sosial yang bermakna antara PT PLN (Perser. dan masyarakat. Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 2 Pola Hubungan Pertukaran Blau menyatakan bahwa perbedaan imbalan dalam suatu proses pertukaran mengakibatkan munculnya perbedaan status. Pihak dengan status yang lebih tinggi adalah pihak yang memberikan keuntungan yang lebih besar dan tidak dapat dibalas oleh pihak penerima. Inilah yang disebut sebagai pertukaran tidak seimbang. Karena tidak seimbang maka pihak penerima berada dalam posisi subordinasi (Prakoso, 2. Perasaan tidak mampu membalasAiada rasa hutang budiAiini yang akan dijadikan sebagai indikator bahwa seorang aktor/individu sedang mengalami subordinasi dalam penelitian ini. Menurut Peter M Blau dalam bukunya Exchange and Power In Social Life pertukaran yang tidak seimbang akan mengakibatkan posisi subordinasi pada aktor yang tidak mampu membalas ganjaran yang ada (SniAouth, 2. Dengan kata lain semakin banyak pemberian yang dilakukan oleh aktor terhadap aktor lain maka akan semakin besar kekuasaan yang ia miliki. Melalui temuan data yang sudah dipaparkan terlihat bahwa dalam hubungan antara PT PLN (Perser. UIK TJB dengan masyarakat penerima manfaat terjadi potensi hubungan pertukaran yang tidak Hal ini ditandai dengan posisi ekonomi yang timpang antara raksasa korporasi PT PLN UIK TJB sebagai PLTU dengan penerima manfaat yang merupakan masyarakat miskin penerima DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosia. DTKS sendri meliputi masyarakat Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Penerima Bantuan dan Pemberdayaan Sosial serta Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Sampai di titik ini perbedaan sumber daya yang ada hanya bersifat potensial dan belum bisa menjadi bentuk kekuasaan jika tidak terjalin hubungan pertukaran. Dari paparan teori di atas mengenai perbedaan pertukaran ekonomi dan pertukaran sosial, dapat diklasifikasikan bahwa Program CSV Sambung Listrik Gratis ini bersifat sebagai pertukaran sosial karena beberapa alasan. Pertama, dalam temuan data yang sudah dipaparkan tidak ditemukan negosiasi mengenai biaya & manfaat, kredit, maupun kontrak dalam program ini. Kedua, meskipun objek yang dipertukarkan secara kasat mata adalah komoditas tapi secara harfiah objek ini bermakna sebagai hadiah . dari pihak perusahaan ke masyarakat miskin di desa ring 1 dan desa ring 2. Ketiga, dari temuan data yang dipaparkan terlihat ada usaha untuk Aumenyediakan lebih dari yang dimilikinya dalam memberikan insentif bagi orang lain untuk meningkatkan persediaannyaAy dari pihak perusahaan berupa bantuan listrik yang cukup besar nilainya. Dalam kondisi ekonomi tinggi, subjek penerima manfaat menunjukkan pertukaran yang tidak seimbang dengan PT PLN (Perser. UIK TJB. Meskipun mereka mengakui rasa balas budi terhadap sambungan listrik yang diberikan, mereka tidak memiliki sumber daya finansial yang cukup untuk membalas budi tersebut. Sebagai kompensasi, mereka memberikan dukungan aktif dan pujian kepada perusahaan serta mengikuti penyuluhan yang diadakan. Hal ini menggambarkan bahwa pertukaran tidak seimbang ini memengaruhi posisi subjek, di mana mereka secara aktif menunjukkan dukungan dan mengakui kekuasaan PT PLN sebagai respons terhadap pemberian sambungan listrik. Di sisi lain, subjek penerima manfaat dengan kondisi ekonomi sedang dan rendah juga mengalami pertukaran yang tidak seimbang dengan PT PLN. Meskipun mereka mengakui rasa balas budi atas sambungan listrik yang diterima, mereka tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk membalas budi tersebut. Sebagai tanggapan, mereka memberikan dukungan aktif dan pujian kepada PT PLN serta mengikuti penyuluhan yang diadakan. Pertukaran yang tidak seimbang ini menyebabkan subjek berada dalam posisi subordinasi, di mana mereka secara aktif menunjukkan dukungan kepada perusahaan sebagai bentuk penghargaan dan respons terhadap pemberian sambungan listrik. Dari perspektif teori pertukaran sosial, terlihat bahwa subjek penerima manfaat mengakui kekuasaan PT PLN dan berusaha menjaga hubungan yang positif dengan perusahaan tersebut. Meskipun mereka tidak dapat secara substansial membalas budi perusahaan dalam bentuk finansial, mereka memberikan dukungan aktif dan pujian sebagai bentuk kompensasi. Selain itu, partisipasi dalam penyuluhan juga menunjukkan adanya perubahan sikap subjek sebagai respons terhadap pertukaran yang tidak Dalam situasi ini, subjek cenderung tunduk kepada PT PLN dan berusaha mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan. Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Analisis teori pertukaran sosial juga menunjukkan adanya perbedaan dalam posisi subjek berdasarkan kondisi ekonomi. Subjek dengan kondisi ekonomi tinggi mungkin merasa lebih berdaya dalam membalas budi perusahaan, namun ketidakmampuan finansial mereka tetap menghasilkan pertukaran yang tidak seimbang. Di sisi lain, subjek dengan kondisi ekonomi sedang dan rendah menghadapi kesulitan finansial yang lebih besar, sehingga pertukaran yang tidak seimbang tersebut menempatkan mereka dalam posisi inferior yang cenderung menunjukkan dukungan aktif. Secara keseluruhan, analisis berdasarkan teori pertukaran sosial Peter M. Blau menunjukkan bahwa subjek penerima manfaat dalam Program CSV sambungan listrik PT PLN (Perser. UIK TJB mengalami pertukaran yang tidak seimbang. Meskipun mereka mengakui rasa balas budi terhadap sambungan listrik, keterbatasan sumber daya finansial menghasilkan kompensasi dalam bentuk dukungan aktif dan partisipasi dalam kegiatan perusahaan. Pertukaran yang tidak seimbang ini menciptakan dinamika yang mengarah pada posisi subordinasi dan ketergantungan subjek terhadap PT PLN sebagai respons terhadap manfaat yang diterima. Pertukaran Sosial menjadi dasar terjadinya dan terus berlangsungnya interaksi sosial antar individu. Pertukaran sosial mendorong Integrasi dengan cara menciptakan kepercayaan, diferensiasi, mendorong konformitas . dan nilainilai kolektif. Kesimpulan Program CSV ini menciptakan dinamika hubungan sosial antara PT PLN (Perser. dengan masyarakat penerima manfaat. Terjadi berbagai bentuk pertukaran sosial, baik intrinsik maupun ekstrinsik, serta pola hubungan yang tidak seimbang antara PT PLN (Perser. dan penerima manfaat. Berdasarkan hasil penelitian AuPertukaran Sosial dalam Program CSV Sambung Listrik Gratis oleh PT PLN (Perser. UIK TJBAy akan diringkas melalui dua poin berikut: Bentuk pertukaran yang terjadi antara PT PLN (Perser. UIK TJB dengan penerima manfaat adalah bentuk pertukaran intrinsik dan ekstrinsik. Bentuk pertukaran intrinsik dan ekstrinsik terlihat dari sisi penerima manfaat maupun pihak PT PLN (Perser. Dari sisi penerima manfaat bentuk intrinsiknya adalah mereka menganggap program ini sebagai usaha dari perusahaan untuk mempererat hubungan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar. Selain itu bentuk intrinsik lain dari sisi penerima manfaat adalah mereka juga merasa diperhatikan sebagai bagian dari masyarakat lingkungan perusahaan. Sedangkan bentuk ekstrinsiknya dari penerima manfaat adalah ada keinginan untuk mendapatkan sambungan listrik baru secara gratis. Dari sisi perusahaan bentuk intrinsiknya terlihat dalam motivasi diadakannya program ini sebagai bentuk usaha menjalin hubungan yang harmonis dengan stakeholder masyarakat desa di sekitar perusahaan. Sedangkan bentuk ekstrinsiknya adalah keinginan untuk memperbaiki reputasi perusahaan serta penambahan jumlah pelanggan baru sambungan PLN. Pertukaran intrinsik yang terjadi merupakan bentuk mendorong terciptanya integrasi sosial lewat Resiprositas bertumpu pada asumsi dasar bahwa orang bersedia melakukan pertukaran sosial karena dalam persepsi mereka masing-masing akan ada kemungkinan untuk mendapat penghargaan . Penghargaan dapat berbentuk uang, dukungan sosial, penghormatan, dan Bentuk resiprositas tersebut adalah penghargaan berupa hubungan harmonis dari sisi PT PLN (Perser. dan penghargaan berupa rasa diperhatikan dan rasa hubungan yang erat dari sisi penerima manfaat. Terjadi pola hubungan pertukaran yang tidak seimbang antara PT PLN (Perser. UIK TJB dengan penerima manfaat masyarakat desa ring 1 dan desa ring 2 perusahaan. Pola hubungan pertukaran yang tidak seimbang dari sisi penerima manfaat adalah ditandai dengan keinginan untuk membalas budi tapi mereka tidak mampu melakukannya karena keterbatasan ekonomi. Artinya imbalan dari PT PLN (Perser. UIK TJB masih belum mampu mereka balas secara setara. Rasa ketidakmampuan untuk balas budi menciptakan apa yang disebut Blau sebagai subordinasi. Sikap subordinasi tersebut terlihat dari gestur, lontaran pujian serta dukungan dari penerima manfaat ke perusahaan, dan berubahnya frekuensi mengikuti penyuluhan yang sebelumnya jarang menjadi sering bahkan selalu ikut setelah diberikan bantuan sambungan listrik gratis. Paradigma. Volume 12. Number 03, 2023 Daftar Pustaka