` Vol 06 No 02 October 2026 http://jurnal. com/index. php/gerasi https://doi. org/10. 56404/jels. Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Dengan Reading Disability di Sekolah Dasar 1Hasan, 2leni Marlina, 3Eka Yulianti, 4Sugerman 1,2,3,4Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Yapis Dompu. Indonesia. 1hasanbsiyapis@gmail. com, 2sayalenimarlina@gmail. com, 3eka24547@gmail. erman@gmail. ABSTRAK: Kemampuan membaca permulaan merupakan keterampilan literasi dasar yang sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik pada jenjang sekolah dasar. Namun, sebagian peserta didik mengalami reading disability yang menghambat kemampuan mengenali huruf, membaca suku kata, hingga memahami bacaan sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan membaca permulaan pada peserta didik kelas i yang mengalami reading disability di SD Negeri 1 Woja serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 peserta didik kelas i, terdapat empat peserta didik yang mengalami kesulitan membaca permulaan. Kesulitan tersebut meliputi mengenali huruf alfabet, membedakan huruf vokal dan konsonan, mengenali huruf digraf, membaca suku kata, membaca kalimat sederhana, serta memahami isi bacaan. Faktor penyebabnya berasal dari faktor internal, seperti keterbatasan kemampuan kognitif, serta faktor eksternal berupa rendahnya minat baca, kurangnya pendampingan orang tua, dan terbatasnya bimbingan belajar di rumah. Upaya yang dilakukan sekolah meliputi pemberian bimbingan membaca tambahan, penyediaan media pembelajaran, dan pendampingan secara individual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa identifikasi dini, kolaborasi antara sekolah dan orang tua, serta intervensi membaca yang berkelanjutan merupakan langkah penting untuk meningkatkan kemampuan membaca peserta didik yang mengalami reading disability. Katakunci : Membaca Permulaan. Reading Disability. Literasi. Sekolah Dasar. Penelitian Kualitatif. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting bagi seluruh manusia. Melalui pendidikan, seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup seiring dengan perkembangan zaman Munif dkk. Pendidikan juga dapat dipahami sebagai proses transformasi pengetahuan (Taboer dkk. , 2. Hal ini ditegaskan dalam Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan, dan tidak diskriminatif dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai-nilai keagamaan, nilai budaya, serta kemajuan bangsa. Dengan demikian. Pendidikan memiliki kurikulum dan perangkat ajar yang jelas agar Pendidikan terarah dan jelas SaAoadi dan Ilhamsyah . Berdasarkan undang-undang tersebut, sistem pelaksanaan pendidikan di sekolah, khususnya pada jenjang sekolah dasar, perlu memperhatikan keberagaman yang dimiliki peserta didik, baik dalam kemampuan berpikir maupun keterampilan Keberagaman kemampuan membaca sering ditemukan pada peserta didik. Menurut Abdullah D. dan Rizka R. , siswa yang mengalami kesulitan belajar umumnya menghadapi hambatan pada keterampilan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Peserta didik yang mengalami reading disability memiliki gangguan dalam mengenali huruf, angka, simbol, maupun tanda baca yang digunakan dalam kalimat (Dwi dkk. , 2. Apabila siswa mengalami gangguan dalam kemampuan tersebut, maka siswa akan mengalami kesulitan membaca yang dikenal sebagai disleksia (Oktaviyanti dkk. , 2. AuLearning difficulty is a student's condition in receiving lessons that will cause an obstacle in a person's learning process. person's learning processAy Dianah . Kesulitan membaca atau disleksia berkaitan dengan aspek kognitif yang dapat berdampak pada bidang akademik lainnya, terutama pada pembelajaran yang menuntut kemampuan membaca. Dengan demikian, menurut Marwati S. , membaca merupakan bagian yang sangat penting, terutama pada tahap membaca permulaan. Membaca permulaan berkaitan erat dengan perkembangan akademik anak usia sekolah, khususnya pada siswa kelas satu hingga kelas tiga yang masih mengalami kesulitan membaca (Assifa. , 2. Perkembangan kemampuan membaca dimulai dari tahap membaca permulaan hingga tahap perkembangan membaca selanjutnya. Menurut Nurani dkk. , membaca pada hakikatnya merupakan kegiatan yang kompleks karena tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan berbagai aktivitas, seperti aktivitas visual, proses berpikir, psikolinguistik, dan Proses visual merupakan kegiatan menerjemahkan simbol tulisan berupa huruf menjadi kata-kata lisan. Sementara itu, proses berpikir mencakup aktivitas mengenali kata, memahami bacaan, melakukan interpretasi, membaca secara kritis, serta memahami secara kreatif. Kemampuan membaca permulaan perlu dikuasai oleh peserta didik, khususnya di kelas dasar, karena kemampuan tersebut akan memengaruhi pembelajaran pada jenjang yang lebih tinggi. Namun, kondisi ini berbeda pada peserta didik yang mengalami reading disability. Pada anak normal, kemampuan membaca umumnya sudah berkembang pada usia 6Ae7 tahun, sedangkan anak dengan gangguan tersebut mengalami hambatan dalam membaca yang dapat terus berlanjut hingga masa dewasa. Reading disability ditandai oleh ketidakmampuan seseorang dalam membaca dengan tepat dan lancar. Namun, banyak orang tua maupun guru yang belum menyadari bahwa peserta didik sedang mengalami kesulitan belajar membaca (Agnestia dkk. , 2. Karakteristik peserta didik yang mengalami kesulitan membaca dapat terlihat dari perilaku membaca yang tidak biasa, seperti merasa tegang, gugup, dan gelisah Vol. 06 No. 02 October 2026 saat membaca (Aisyah dkk. , 2. Membaca merupakan suatu proses terpadu yang melibatkan berbagai aktivitas, seperti mengenali huruf dan kata, menghubungkannya dengan bunyi serta makna, hingga menarik kesimpulan dari isi bacaan. Menurut Pritami dkk. , membaca adalah proses yang mencakup penafsiran kode dan pemahaman makna. Secara umum. Tarigan dalam Muammar . mendefinisikan membaca sebagai kegiatan memahami pola-pola bahasa melalui simbol atau gambaran tertulis. Membaca permulaan adalah keterampilan dasar yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh setiap pembaca. Pada tahap ini, anak mulai dikenalkan dengan hurufhuruf alfabet dari A sampai Z, kemudian belajar melafalkannya sesuai dengan bunyi masing-masing huruf. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di SD Negeri 1 Woja, ditemukan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan membaca peserta didik kelas i sekolah dasar. Guru kelas i menyampaikan bahwa terdapat empat peserta didik yang mengalami reading disability, yaitu H. B, dan S. Keempat peserta didik tersebut masih berada pada tahap membaca permulaan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru inisial Hj, dia mengatakan bahwa permasalahan dalam aktivitas belajar yang dialami peserta didik terlihat ketika membaca teks, yaitu masih berada pada tahap mengeja setiap huruf. Selain itu, peserta didik memerlukan waktu yang cukup lama dalam menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan membaca serta mengalami kesulitan dalam menggabungkan huruf saat dibaca. Adapun upaya yang telah dilakukan guru untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menyediakan buku panduan membaca dan memberikan latihan membaca secara privat kepada peserta didik secara bergiliran. Berdasarkan masalah yang dipaparkan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan membaca permulaan pada siswa reading disability di SD Negeri I Woja. Berdasarkan tujuan penelitian ini diharapkan berguna dan bermanfaat menjadi bahan acuan bagi semua orang dalam meningkatkan kemampun membaca permulaan pada siswa reading disability. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Menurut Sugiyono . , metode penelitian kualitatif merupakan metode yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang bersifat alamiah, berbeda dengan penelitian Dalam metode ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi atau gabungan. Analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan pada pemaknaan daripada generalisasi. Vol. 06 No. 02 October 2026 Penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan penelitian yang berfokus pada fenomena atau gejala yang terjadi secara alami. Penelitian ini bersifat mendasar dan menekankan pada kondisi yang natural, sehingga pelaksanaannya tidak dilakukan di laboratorium, melainkan langsung di lapangan. Dalam penelitian kualitatif, data yang diperoleh dapat berupa hasil wawancara, catatan lapangan, serta dokumentasi seperti foto, rekaman, dan video. Data yang dianalisis pada penelitian ini dilakukan dengan mengolah data yang diperoleh melalui wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi secara sistematis. Peneliti mengorganisasikan data ke dalam kategori-kategori tertentu, menguraikannya ke dalam unit-unit, menyusun pola, memilih data yang penting untuk dipelajari, serta menarik kesimpulan agar mudah dipahami baik oleh peneliti maupun orang lain. Menurut Widodo dalam Napitupulu dkk. , analisis data merupakan kegiatan yang sangat penting dalam penelitian dan memerlukan ketelitian dari peneliti. Penelitian ini menggunakan analisis nonstatistik, yaitu analisis yang diterapkan pada data yang bersifat kualitatif. Analisis data memiliki peranan penting karena data yang telah dikumpulkan dari lapangan tidak akan bermakna tanpa adanya proses analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Membaca permulaan merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena melibatkan kemampuan mengingat simbol-simbol grafis berupa huruf, mengenali bunyi dari simbol tersebut, serta menyusunnya menjadi rangkaian kata dan kalimat yang bermakna. Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam membaca permulaan umumnya termasuk dalam kategori reading disability. Reading disability adalah gangguan yang menyebabkan peserta didik mengalami hambatan dalam mengenali huruf, angka, simbol, maupun tanda baca yang digunakan dalam kalimat. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SD Negeri 1 Woja, terdapat 20 peserta didik di kelas i, dan 4 di antaranya mengalami kesulitan membaca Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terhadap peserta didik kelas i tersebut, diperoleh data bahwa terdapat empat peserta didik yang mengalami kesulitan membaca atau reading disability pada tahap membaca permulaan, yaitu sebagai berikut. Kesulitan Membaca Permulaan pada Peserta Didik Reading Disability Kelas i Berinisial (H) Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta didik berinisial (H) masih mengalami kesulitan dalam mengenal huruf AAeZ. Selain itu, peserta didik juga mengalami hambatan dalam mengenali huruf vokal, huruf konsonan, dan huruf digraf. Vol. 06 No. 02 October 2026 membaca suku kata, membaca kalimat sederhana, membaca nyaring, melafalkan huruf dengan benar, memahami isi bacaan, membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang tepat, serta membaca dengan memperhatikan tanda baca seperti titik (. ) dan koma (,). Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh deskripsi bahwa peserta didik berinisial (H) merasa senang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Namun, kendala yang dihadapi adalah kurangnya bimbingan belajar di rumah serta minimnya perhatian orang tua dalam mendampingi belajar karena keterbatasan pemahaman mengenai pendidikan. Kesulitan Membaca Permulaan pada Peserta Didik Reading Disability Kelas i Berinisial (A) Hasil observasi terhadap peserta didik berinisial (A) menunjukkan adanya kesulitan dalam membaca permulaan, seperti mengenali huruf diagraf, membaca suku kata, membaca kalimat sederhana, membaca nyaring, melafalkan huruf dengan benar, memahami isi bacaan, membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang tepat, serta membaca dengan memperhatikan tanda baca seperti titik (. ) dan koma (,). Hasil wawancara dengan peserta didik berinisial (A) menunjukkan bahwa perasaan yang dirasakan selama proses pembelajaran berlangsung cenderung biasa saja. Selain itu, peserta didik juga kurang mendapatkan bimbingan dari orang tua saat belajar di rumah. Kesulitan Membaca Permulaan pada Peserta Didik Reading Disability Kelas i Berinisial (B) Berdasarkan hasil observasi, peserta didik berinisial (B) mengalami berbagai kesulitan dalam membaca permulaan. Hambatan yang dialami meliputi kesulitan mengenal huruf AAeS, mengenali huruf konsonan dan huruf digraf, membaca kalimat sederhana, membaca nyaring, melafalkan huruf dengan tepat, memahami isi bacaan, mengeja kata, memahami kosakata, membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar, serta membaca dengan memperhatikan tanda baca seperti koma (,) dan titik (. Hasil wawancara menunjukkan bahwa peserta didik berinisial (B) merasa senang mengikuti kegiatan belajar. Namun, peserta didik masih kurang aktif dalam bertanya dan kurang memperoleh bimbingan dari keluarga saat belajar di rumah, sehingga kemampuan membacanya masih berada pada tahap membaca Kesulitan Membaca Permulaan pada Peserta Didik Reading Disability Kelas IV Berinisial (S) Hasil observasi terhadap peserta didik berinisial (S) menunjukkan adanya kesulitan dalam membaca permulaan, seperti mengenali huruf konsonan, mengenali huruf digraf, membaca suku kata, membaca kalimat sederhana. Vol. 06 No. 02 October 2026 membaca nyaring, melafalkan huruf dengan benar, memahami isi bacaan, membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang tepat, serta membaca dengan memperhatikan tanda baca seperti titik (. ) dan koma (,). Berdasarkan hasil wawancara, peserta didik berinisial (S) merasa senang selama mengikuti proses pembelajaran. Akan tetapi, kurangnya dukungan dan pemahaman orang tua terhadap pendidikan menyebabkan peserta didik masih berada pada tahap membaca awal. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, peneliti kemudian melanjutkan wawancara dengan kepala sekolah SD Negeri 1 Woja pada tanggal 08 Februari 2026 pukul 08. 00 WIB. Wawancara berlangsung di ruang kepala sekolah mulai pukul 08. 00 hingga 10. 00 WIB. Dari hasil wawancara terkait kebijakan sekolah terhadap peserta didik yang mengalami reading disability atau kesulitan membaca, kepala sekolah menyampaikan bahwa sekolah memberikan beberapa bentuk dukungan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik. Dukungan tersebut meliputi penyediaan media pembelajaran yang dapat membantu proses membaca, pemberian bimbingan belajar atau les, serta penambahan waktu khusus untuk membimbing peserta didik dalam membaca. Selain itu, peneliti juga menanyakan mengenai fasilitas khusus yang diberikan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan membaca. Kepala sekolah menjelaskan bahwa sekolah menyediakan tambahan waktu bimbingan khusus guna membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan membaca permulaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, dapat dipahami bahwa pihak sekolah memberikan kebijakan serta fasilitas khusus bagi peserta didik yang mengalami reading disability. Selain melakukan wawancara dengan kepala sekolah, peneliti juga melakukan wawancara dengan guru kelas i SD Negeri 1 Woja pada tanggal 09 Februari 2026 pukul 09. 00 WIB. Dalam wawancara tersebut, peneliti menanyakan mengenai adanya tandatanda gangguan kesehatan fisik yang berkaitan dengan kesulitan membaca, seperti gangguan penglihatan, pendengaran, dan berbicara. Guru kelas i menyampaikan bahwa selama proses pembelajaran berlangsung tidak ditemukan adanya gangguan kesehatan fisik yang berhubungan dengan kesulitan membaca pada peserta didik. Peneliti juga menanyakan mengenai kemampuan peserta didik dalam membedakan dan mencocokkan huruf. Guru menjelaskan bahwa beberapa peserta didik sudah mampu membedakan huruf, sedangkan Sebagian yang lainnya masih mengalami kesulitan dalam membedakannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas i SD Negeri 1 Woja, dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang mengalami reading disability tidak menunjukkan adanya gangguan kesehatan fisik. Selain itu, kemampuan peserta didik dalam membedakan huruf masih beragam, di mana sebagian sudah Vol. 06 No. 02 October 2026 mampu mengenali huruf dengan baik, sementara sebagian lainnya masih mengalami Adapun upaya yang telah dilakukan guru untuk membantu peserta didik dalam membaca yaitu dengan memberikan waktu tambahan untuk bimbingan belajar serta menyediakan fasilitas pendukung bagi peserta didik. Faktor Penghambat Kemampuan Membaca Permulaan pada Peserta Didik Reading Disability Faktor penyebab kesulitan belajar dapat berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal pada diri peserta didik. Faktor internal merupakan penyebab yang berasal dari dalam diri peserta didik, seperti kemungkinan adanya disfungsi Sementara itu, faktor eksternal berasal dari lingkungan di luar diri peserta didik, seperti lingkungan sekolah, keluarga, serta strategi pembelajaran yang Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah SD Negeri 1 Woja mengenai faktor penghambat kemampuan membaca permulaan pada peserta didik reading disability, beliau menjelaskan bahwa faktor penghambat tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor yang paling memengaruhi kemampuan membaca peserta didik adalah kurangnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya pendidikan, sehingga orang tua belum mampu memberikan pendampingan belajar secara optimal kepada peserta didik di rumah. Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh guru kelas i yang menyampaikan bahwa faktor penghambat kemampuan membaca permulaan pada peserta didik antara lain rendahnya minat baca serta kurangnya bimbingan dari keluarga. Selain itu, peneliti juga mengajukan pertanyaan kepada kepala sekolah mengenai pandangan guru terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan membaca permulaan serta cara mengidentifikasi peserta didik yang mengalami reading disability. Kepala sekolah menjelaskan bahwa kesulitan membaca yang dialami peserta didik dipengaruhi oleh kurangnya perhatian orang tua serta rendahnya pemahaman orang tua terhadap pentingnya pendidikan. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa cara untuk mengetahui peserta didik yang mengalami kesulitan membaca permulaan dilakukan melalui kegiatan home visit atau kunjungan rumah. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat memperoleh informasi langsung dari orang tua mengenai situasi dan kondisi peserta didik di rumah. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas, peneliti menemukan bahwa kemampuan membaca pada peserta didik reading disability dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan orang tua mengenai pendidikan. Pembahasan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada semester genap tahun 2026 di kelas i SD Negeri 1 Woja, diketahui bahwa jumlah peserta didik Vol. 06 No. 02 October 2026 kelas i sebanyak 20 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat 4 peserta didik yang mengalami kesulitan membaca permulaan, yaitu peserta didik berinisial H. B, dan Dalam penelitian ini, aspek yang digunakan sebagai indikator untuk menganalisis kesulitan membaca permulaan pada peserta didik kelas i di SD Negeri 1 Woja meliputi kemampuan membaca huruf, membaca huruf vokal, membaca huruf konsonan, membaca huruf digraf, membaca suku kata, serta membaca kalimat Kesulitan-Kesulitan yang Dialami Peserta Didik dalam Membaca Permulaan. Peneliti telah melakukan observasi dan wawancara terhadap peserta didik, kepala sekolah, dan guru kelas i, serta melengkapi data melalui dokumentasi. Dari hasil tersebut diperoleh informasi mengenai kesulitan membaca permulaan pada peserta didik reading disability kelas i SD Negeri 1 Woja. Berdasarkan hasil pembahasan dan temuan terhadap 20 peserta didik, terdapat 4 peserta didik yang mengalami reading disability dan mengalami kesulitan dalam membaca permulaan. Kesulitan membaca permulaan tersebut ditandai dengan adanya kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki peserta didik dengan prestasi belajar yang dicapai, yang disebabkan oleh hambatan dan gangguan dalam proses membaca permulaan. Faktor penyebab kesulitan membaca permulaan pada peserta didik reading disability dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kondisi fisik, intelektual, dan psikologis peserta didik. Sementara itu, faktor eksternal berasal dari lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil temuan penelitian bahwa dapat diketahui kesulitanya pada peserta didik kelas i SD Negeri 1 Woja secara umum tergolong cukup baik. Namun, peserta didik yang mengalami reading disability masih menghadapi beberapa kendala dalam membaca permulaan, di antaranya sebagai berikut. Kesulitan Mengenal Huruf Ketidakmampuan peserta didik kelas i SD Negeri 1 Woja dalam mengenali hurufhuruf alfabet menjadi salah satu faktor yang menghambat kemampuan membaca Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan peserta didik, guru kelas, dan kepala sekolah, diketahui bahwa peserta didik yang belum mengenal huruf umumnya jarang mengulang pelajaran di rumah karena kurangnya bimbingan dari keluarga. Selain itu, peserta didik juga cenderung pasif atau lebih banyak diam saat proses pembelajaran berlangsung di kelas. Kesulitan Membaca Huruf Vokal Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa empat peserta didik berinisial H. B, dan S mengalami kesulitan yang berbeda-beda dalam membaca huruf vokal. Salah satu kesulitan yang dialami peserta didik adalah membedakan huruf vokal yang memiliki bentuk hampir mirip, seperti huruf u kecil Vol. 06 No. 02 October 2026 dengan huruf n kecil. Kesulitan yang dialami peserta didik disebabkan oleh rendahnya daya ingat, sehingga mereka mengalami hambatan ketika membaca huruf-huruf vokal yang memiliki bentuk hampir sama. Akibatnya, peserta didik sering keliru atau tertukar dalam membaca huruf yang tampak mirip. Belum Mampu Membaca Huruf Konsonan sebagian peserta didik kelas i SD Negeri 1 Woja masih mengalami kesulitan dalam membaca huruf konsonan. Kesulitan tersebut muncul karena peserta didik belum mampu mengucapkan bunyi konsonan tertentu, seperti huruf p dan f, serta kesulitan membedakan huruf konsonan yang bentuknya hampir sama, seperti huruf b dan d. Kesulitan Mengenal Huruf Digraf beberapa peserta didik kelas i SD Negeri 1 Woja juga mengalami kesulitan dalam mengenali huruf digraf dan cara membacanya, seperti ny, ng, sy, dan kh. Hal ini terjadi karena peserta didik lebih sering diajarkan huruf vokal dibandingkan pengenalan huruf digraf. Kesulitan Membaca suku kata merupakan bagian atau penggalan kata berdasarkan pengucapannya. Beberapa peserta didik kelas i SD Negeri 1 Woja masih mengalami kesulitan dalam membaca suku kata. Pada tahap ini, peserta didik sebenarnya sudah mengenal huruf alfabet, tetapi belum mampu menggabungkan huruf menjadi satu pengucapan kata yang Oleh karena itu, peserta didik memerlukan bimbingan dan latihan secara rutin agar kemampuan membacanya dapat berkembang lebih cepat. Kesulitan Membaca Kalimat Sederhana Peserta didik kelas i SD Negeri 1 Woja juga mengalami hambatan dalam membaca kalimat sederhana. Peserta didik sering berhenti setelah membaca satu kata dan mengalami kesulitan untuk melanjutkan pada kata berikutnya. Hal ini disebabkan oleh belum optimalnya keterampilan pemecahan kode . , kurangnya pemahaman terhadap makna kata, serta rendahnya kelancaran membaca. Kegiatan membaca yang dilakukan secara rutin dapat membantu peserta didik menjadi lebih lancar dalam mengenali huruf maupun rangkaian kalimat. Sebaliknya, apabila kegiatan membaca jarang dilakukan, maka kemampuan membaca peserta didik akan menurun secara bertahap. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, pembahasan, ditemukan beberapa factor penyebab serta dampak dari kemampuan membaca permulaan pada peserta didik reading disability di SD Negeri 1 Woja. Dampak dari kesulitan membaca permulaan tersebut adalah peserta didik mengalami hambatan dalam mengikuti proses pembelajaran berkelanjutan yang berkaitan dengan kegiatan membaca. Selain itu, kesulitan tersebut juga berpengaruh pada pelaksanaan ujian sekolah, di mana peserta didik mengalami kesulitan dalam membaca dalam memahami soal-soal yang Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan yang disebabkan oleh keterbatasan peneliti. Meskipun demikian, peneliti telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh hasil penelitian yang baik dan sesuai dengan tujuan penelitian. Vol. 06 No. 02 October 2026 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul AuAnalisis Kesulitan Membaca Permulaan pada Peserta Didik Reading Disability di SD Negeri 1 WojaAy, peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan. nHasil penelitian menunjukkan bahwa membaca permulaan pada peserta didik reading disability kelas i SD Negeri 1 Woja secara umum tergolong cukup baik. Dari total 20 peserta didik, terdapat 4 peserta didik yang mengalami reading disability atau kesulitan membaca. Adapun faktor penghambat membaca permulaan pada peserta didik reading disability di kelas i SD Negeri 1 Woja yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik, seperti aspek kognitif, kondisi fisik, dan faktor Sementara itu, faktor eksternal yang ditemukan meliputi rendahnya minat baca peserta didik serta kurangnya bimbingan belajar di rumah dalam membantu peserta didik mengembangkan kemampuan membaca. Berdasarkan kesimpulan penelitian, peneliti memberikan beberapa saran kepada pihak SD Negeri 1 Woja sebagai berikut. Bagi Guru Guru diharapkan lebih memperhatikan perkembangan kemampuan membaca peserta didik. Apabila ditemukan peserta didik yang menunjukkan gejala reading disability atau kesulitan membaca, sebaiknya guru segera memberikan penanganan yang tepat. Selain itu, guru juga dapat mengadakan kegiatan belajar di perpustakaan guna meningkatkan pengalaman dan minat membaca peserta didik. Bagi Peserta Didik Peserta didik diharapkan lebih sering belajar di rumah dan mengulang kembali materi yang telah diberikan di sekolah. Selain itu, peserta didik juga perlu lebih aktif bertanya kepada guru apabila mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran. Bagi Orang Tua Orang tua diharapkan dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk mendampingi dan membimbing peserta didik dalam belajar. Selain itu, orang tua juga perlu menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan pihak sekolah agar perkembangan peserta didik dapat dipantau secara optimal. DAFTAR RUJUKAN Abdullah. Dahliana dan Rizka M. Reading Intervantion for Students with Reading Disabilities. Jurnal Serambi PTK . Volume IV. No. Juni 2017 Agnestia S. , 2025. Analisis Pelaksanaan Budaya Literasi Sebagai Strategi Dalam Menumbuhkan Keterampilan Membaca Peserta Didik Di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPDP/ P-ISSN 2461-078X | E-ISSN 2654-783X Volume 11. Nomor 1. Tahun 2025, halaman 237 Ae 251. Vol. 06 No. 02 October 2026 Aisyah S. , 2021. Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Pendekatan Whole Language Di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu Volume 4 Nomor 3 Tahun 2020 Halm. 637 Ae 643. Assifa. , 2025. Pengembangan Media Magnet Alfabet (Margaret. Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Siswa Kelas II SDS Mutiara II. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPDP/ P-ISSN 2461-078X | E-ISSN 2654-783X Volume 11. Nomor 1. Tahun 2025, halaman 551 Ae 558. Diana Falhabibah Saifur Ridzal. MuAoalimin. Lailatul Usriyah. THE INFLUENCE OF DYSLEXIA ON CHILDREN'S PSYCHOLOGICAL DEVELOPMENT. Journal Of Scosial Reaserch. Vol. No. DOI : https://doi. org/10. Dwi. , 2021. Analisis Faktor-Faktor yang Menghambat Belajar Membaca Permulaan pada Siswa Sekolah Dasar. JURNAL BASICEDU Volume 5 Nomor 4 Tahun 2021 Halaman 2611 - 2616 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu. Marwati S. , 2025. Pengembangan Media Pembelajaran Big Book Jelajah Kata Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas I Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPDP/ P-ISSN 2461-078X | E-ISSN 2654-783X Volume 11. Nomor 1. Tahun 2025, halaman 178 Ae 192. Munif M. And Dkk. , 2025. Effectiveness of a Student-Centered Learning Approach in Improving Academic Achievement. Journal of educasion and learning sciences. Vol 05No 01 March 2025. Napitupulu M. , 2025. Analisis Penerapan Disiplin Kerja Dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir Kota Gunungsitoli. Visi Sosial Humaniora (VSH). Volume: 06. No 02 Desember 2025 . Nurani Z. , 2021 Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Anak Usia Sekolah Dasar. JURNAL BASICEDU Volume 5 Nomor 3 Tahun 2021 Halaman 1462 - 1470 Research Learning Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu. Oktaviyanti. , 2022. Analisis Pengaruh Media Gambar terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar. JURNALBASICEDU Volume 6 Nomor 4 Tahun 2022 Halaman 5589 Ae 5597. Pritami A. , 2024. ANALISIS KESULITAN MEMBACA PERMULAAN PADA KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri ISSN Cetak : 2477-5673 ISSN Online : 2614-722X Volume 10 Nomor 02. Juni 2024 SaAoadi. Ahmad and Ilhamsyah, 2024. The Role Of Strategic ManagementIn Competency-Based Curriculum Development. Journal of educasion and JELS. Vol October. DOI https://doi. org/10. 56404/jels. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: ALFABETA CV. Vol. 06 No. 02 October 2026 Tarigas M. , 2022. Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Peserta Didik Kelas Ii Sekolah Dasar Negeri 30 Pontianak Selatan. PA L A P AJurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan. Volume 10. Nomor 2. November 2022. 442459https://ejournal. id/index. php/palapa. Taboer. , 2020. Prediktor Kesulitan Membaca Permulaan Di Sekolah Dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan. Volume 29. No. November 2020, hlm. 182 Ae 190. Adlini. Dinda. Yulinda. Chotimah. , & Merliyana. Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6. , 974Ae https://doi. org/10. 33487/edumaspul. Vol. 06 No. 02 October 2026