Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 Kompetensi Universitas Balikpapan PENGARUH PENERAPAN METODE FUN LEARNING TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI KELAS Vi DI SMPN 5 SOLOK SELATAN Nabilah Jihana1. Ahmad Sabri2. Hidayati3 Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang1,2,3 pos-el: 2420010041@uinib. id1, ahmadsabri@uinib. id2, hidayati@uinib. ABSTRAK Kajian ini dilaksanakan berdasarkan pada kondisi dimana peserta didik di SMPN 5 Solok Selatan yang masih menunjukkan kurangnya minat sekaligus rendahnya hasil evaluasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Peserta didik kurang antusias, pasif, dan kurang fokus dalam pembelajaran karena praktik belajar mengajar yang terjadi di lapangan menunjukkan tingginya ketergantungan peserta didik pada penyampaian materi secara lisan oleh guru, yang pada akhirnya komunikasi timbal balik selama proses belajar mengajar tidak terjadi. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya minat belajar peserta didik dan hasil belajar yang hampir separuh dari total peserta didik belum tuntas. Studi ini dirancang untuk mengukur efektivitas dari penggunaan metode fun learning dalam menumbuhkan ketertarikan sekaligus memperbaiki nilai akhir peserta didik. Kajian ini bersandar pada kerangka penelitian kuantitatif yang menerapkan skema Quasi-experimental design, tepatnya dengan menggunakan pola kelompok kontrol yang tidak setara (Nonequivalent Control Group desig. Pengumpulan data dilakukan melalui angket dan tes. Kelas Vi A dijadikan kelas eksperimen, sedangkan Vi B sebagai kelas kontrol. Berdasarkan hasil penelitian, metode fun learning terbukti mampu meningkatkan minat belajar peserta didik secara signifikan dengan indeks N-Gain 0,75 . ategori tingg. dan tingkat efektivitas mencapai 75,95%. Peningkatan hasil belajar peserta didik turut dibuktikan oleh indeks N-Gain sebesar 0,71. Angka ini masuk dalam kriteria tinggi, dengan capaian persentase efektivitas di level 71,83%. Berbeda dengan temuan tersebut, eskalasi hasil pengujian yang terpantau pada kelas kontrol justru berada pada rentang yang lebih minim. Hasil analisis statistik menggunakan uji paired sample t-test . mengonfirmasi eksistensi disparitas yang bermakna pada tingkat ketertarikan dan perolehan belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Kata kunci: fun learning, minat belajar, hasil belajar ABSTRACT This study was conducted in response to the situation at SMPN 5 Solok Selatan, where students continue to show a lack of interest and low test scores in the subjects of Islamic Religious Education and Character Education. Students are unenthusiastic, passive, and lack focus during lessons because current teaching and learning practices show that students rely heavily on teachersAo oral delivery of material, which ultimately prevents two-way communication from occurring during the teaching and learning process. This situation has led to low student interest in learning, and nearly half of all students have not met the learning standards. This study was designed to measure the effectiveness of using the fun learning method in fostering interest while simultaneously improving studentsAo final grades. This study is based on a quantitative research framework that applies a quasi-experimental design, specifically using a nonequivalent control group design. Data collection was conducted through questionnaires and tests. Class Vi A was designated as the experimental class, while Class Vi B served as the control class. Based on the research results, the fun learning method was proven to significantly increase studentsAo interest in learning, with an N-Gain index of 0. igh categor. and an effectiveness rate of 75. The improvement in studentsAo learning outcomes was further evidenced by an N-Gain index of This figure falls within the high category, with an effectiveness rate of 71. In contrast to these findings, the improvement in test scores observed in the control class was actually within Vol. No. Juni 2026 Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 Kompetensi Universitas Balikpapan a narrower range. The results of statistical analysis using a paired-sample t-test confirmed the existence of a significant disparity in the levels of interest and learning outcomes between the experimental class and the control class. Keywords: fun learning, learning interest, learning outcomes PENDAHULUAN Di tingkat sekolah menengah pertama, keberadaan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti berfungsi sebagai instrumen fundamental dalam rancangan sistem Fungsi utama dari disiplin ilmu ini adalah menjadi sarana pembentukan kepribadian, penanaman nilai moral, serta pembiasaan tata krama dan etika bagi siswa yang berjalan beriringan dengan perannya sebagai penyalur nilai-nilai keagamaan. Namun pada tataran praktis di kelas, realita tantangan yang berpusat pada belum optimalnya antusiasme maupun capaian akademik siswa untuk mata pelajaran Sebagai salah satu elemen intrinsik yang krusial, ketertarikan atau minat peserta didik memegang peranan vital dalam menentukan tingkat keberhasilan mereka saat mengasimilasi topik bahasan di kelas. Peserta didik yang menunjukkan antusiasme dan minat belajar tinggi umumnya lebih fokus, aktif, serta mempunyai dorongan yang besar untuk lebih mengeksplorasi materi yang dipelajari, sehingga berimplikasi pada peningkatan kapasitas mereka dalam menyerap serta mengolah informasi yang disampaikan oleh guru. Dalam beberapa kasus, minat penurunan yang berdampak negatif terhadap proses pembelajaran. Penelitian oleh (Nauval et al. , 2. menunjukan bahwa guru mengalami kesulitan karena minat belajar anak rendah, guru perlu berbagai upaya motivasi, variasi metode pembelajaran, dan perhatian khusus agar siswa bisa lebih terlibat. Sejalan dengan premis tersebut, penelitian oleh (Maryani et al. , 2. mengonfirmasi Vol. No. Juni 2026 bahwasanya pada pembelajaran AqidahAkhlak di kelas X, minat belajar peserta didik turun karena kurangnya motivasi dan respon dari guru terhadap dinamika kelas Jika minat rendah, maka motivasi pun melemah, dan ini akan menurunkan performa dan pemahaman siswa dalam pelajaran agama serta karakter. Capaian pembelajaran berfungsi sebagai indikator dalam mengukur tingkat keberhasilan suatu proses Melalui hal ini, guru dan sekolah dapat mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran yang dirancang telah berhasil diwujudkan. Jika hasil setelah penerapan suatu metode atau strategi pembelajaran, maka dapat ditarik konklusi bahwa skenario pengajaran yang diterapkan terbukti berdaya guna dalam menjembatani penguasaan konsep oleh peserta didik. Kajian mutakhir yang digagas oleh (Ewit, 2. memberikan afirmasi pembelajaran yang beraneka ragam terbukti ampuh mendongkrak perolehan nilai peserta didik. Melalui observasi awal yang dilakukan pada tanggal 8 September 2025 bahwa proses pembelajaran di SMPN 5 Solok Selatan juga menghadapi permasalahan, ini dapat terlihat dari: . peserta didik kurang menunjukan antusias saat pelajaran berlangsung. kurangnya partisipasi dalam proses pembelajaran, enggan bertanya atau menjawab, serta keterlibatan fisik dan mental dalam proses pembelajaran masih rendah. peserta didik tampak acuh terhadap materi yang diajarkan, tidak menunjukkan rasa ingin tahu, dan tidak terdorong untuk mencari informasi lebih lanjut terkait pembelajaran. peserta didik mudah teralihkan oleh hal Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 lain, sering melamun, berbicara dengan teman, atau melakukan aktivitas di luar konteks pembelajaran. Fokus terhadap penjelasan guru atau kegiatan belajar tidak terjaga. Dalam pendidik di SMPN 5 Solok Selatan. Bapak Muhammad. HI, melalui sebuah wawancara diperoleh informasi bahwa pola interaksi edukatif di kelas masih memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran Dalam menjabarkan substansi pembelajaran kepada peserta didik, para guru cenderung mengandalkan metode lisan . sebagai strategi penyampaian yang paling dominan. Sementara itu, peserta didik umumnya berperan sebagai pendengar, mencatat informasi yang disampaikan, serta mengerjakan tugas atau soal yang Kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif seperti diskusi kelompok dan presentasi siswa belum dilaksanakan secara konsisten. Sementara itu, sudut pandang dari sisi siswa diwakili oleh Aira Meisya, pelajar kelas Vi SMPN 5 Solok Selatan. Melalui sesi wawancara, ia mengungkapkan bahwa kegiatan belajar cenderung monoton akibat tingginya intensitas penggunaan metode ceramah oleh guru. Peserta didik merasa kurang dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran, sehingga mereka mudah merasa jenuh dan kurang bersemangat saat mengikuti pelajaran. Peserta didik menyatakan. Aukadang saya mengantuk saat pelajaran berlangsung, karena hanya mendengarkan penjelasan guru terusAy. Secara ketuntasan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk gabungan kelas Vi A dan Vi B adalah 55,17% . dari 58 sisw. , sementara 44,83% siswa . dari 58 sisw. lainnya belum mencapai KKTP yaitu 74. Angka ini menegaskan bahwa memang masih diperlukan perhatian serius karena hampir separuh dari total peserta didik belum tuntas. Kondisi ini dipengaruhi Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan oleh metode pembelajaran yang kurang variatif, serta keterbatasan sumber Perlu penerapan metode yang lebih interaktif dan menyenangkan, serta monitoring dan evaluasi hasil belajar secara berkala agar ketuntasan belajar dapat meningkat. Berdasarkan fenomena tersebut semakin diperkuat oleh data hasil belajar yang menunjukkan bahwa tingkat pencapaian belajar mereka masih belum Atas dasar pertimbangan empiris tersebut, peneliti memfokuskan langkah pemecahan masalah melalui sebuah studi komparatif yang bertajuk: "Pengaruh Penerapan Metode Fun Learning Terhadap Minat dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas Vi di SMPN 5 Solok SelatanAy. Melalui penerapan metode fun learning, diharapkan terjadi kenaikan pada motivasi dan minat serta nilai akhir pembelajaran peserta didik, sekaligus diperoleh bukti empiris yang dapat digunakan sebagai dasar perbaikan kualitas pembelajaran. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa metode fun learning mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. (Tazkiyah et al. , 2. menyatakan bahwa penerapan fun learning pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam SDIT Albanna Denpasar meningkatkan antusiasme dan hasil belajar siswa, namun penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif sehingga tidak menguji pengaruh metode tersebut secara Selain itu, (Safitri, 2. menunjukkan bahwa metode fun learning dapat meningkatkan minat belajar peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Arab melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), tetapi penelitian tersebut hanya berfokus pada minat belajar tanpa mengukur hasil belajar. Berbeda penelitianpenelitian tersebut, penelitian ini Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen untuk menguji pengaruh metode fun learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di tingkat SMP. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengukuran dua variabel dependen secara bersamaan, yaitu minat belajar dan hasil belajar, sehingga mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas metode fun learning. Selain itu, penelitian ini memberikan bukti empiris pada konteks peserta didik SMP, yang memiliki karakteristik perkembangan berbeda dibandingkan peserta didik sekolah dasar maupun penelitian pada mata pelajaran selain PAI. METODE PENELITIAN Penelitian ini yaitu kuantitatif yang menerapkan skema Quasi-experimental design, tepatnya dengan menggunakan pola kelompok kontrol yang tidak setara (Nonequivalent Control Group desig. Dalam rancangan penelitian ini, penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan tanpa melalui prosedur pemilihan acak (Sugiyono, 2. Teknik pengumpulan terbagi dua yaitu penyebaran kuesioner dan angket. Kuesioner berupa pengumpulan data yang berfungsi memetakan karakteristik, sikap, kepercayaan, dan perilaku individu-individu penting di organisasi sehingga peneliti dapat mengevaluasi dampak dari penerapan sistem lama ataupun rancangan sistem baru terhadap individu tersebut (Siregar, 2. Angket digunakan untuk mengukur minat belajar peserta didik setelah penerapan metode fun learning. Instrumen angket terdiri 32 butir pertanyaan, dimana terdapat 27 butir yang valid dan 5 butir tidak valid. Penyusunan angket mengacu pada indikator minat belajar (Djaali, 2. yang meliputi: . perasaan senang, . keterlibatan peserta didik, . ketertarikan , dan . perhatian peserta Skala ini diterapkan untuk Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan memberikan penilaian pada setiap item pertanyaan yang berkaitan dengan minat belajar peserta didik. Adapun ketentuan dalam pemberian skor dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Pedoman Skor Angket Jawaban Skor Item Item Positif Negatif Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Kurang Setuju (KS) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Tes merupakan cara pemberian tugas atau serangkaian tugas, baik berupa pertanyaan yang harus dijawab. Guna mengukur tingkat prestasi maupun perilaku partisipan, hasil pengujian diformulasikan ke dalam angka numerik yang nantinya disandingkan dengan performa kelompok lain atau kriteria standar yang telah ditetapkan (Sudijono. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik pada materi yang telah diajarkan. Instrumen tes berbentuk soal pilihan ganda yang berjumlah 30 soal, terdapat 25 soal yang valid dan 5 soal tidak valid. Setiap jawaban benar diberikan skor 1, sedangkan jawaban salah diberikan skor Hasil tes kemudian dianalisis untuk mengetahui pengaruh penerapan metode fun learning terhadap hasil belajar peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan minat belajar peserta menggunakan metode fun learning Hasil minat belajar kelas yang menggunakan metode fun learning . elas eksperime. disajikan pada Tabel Merujuk pada paparan data kuantitatif tersebut, aspek minat belajar peserta didik mencatatkan eskalasi positif yang cukup signifikan, yakni sebesar 36,29%. Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 Tabel 2. Persentase pencapaian minat belajar peserta didik pada kelas yang menggunakan metode fun learning Deskripsi Pretest Posttest Rata-Rata Skor Skor Standar Presentase 36,29% 17,59% 40,85% Selanjutnya untuk memahami bagaimana signifikansi metode fun learning dapat memengaruhi minat belajar peserta didik maka disusun elaborasi mengenai tingkat capaian yang berhasil dihimpun (Tabel . Tabel 3. Analisis Deskriptif N-Gain Minat Belajar Kelas Eksperimen NGAI N_pers en_eks Valid . istwis Descriptive Statistics N Mini mum xim an Std. Devia Capaian efektivitas penggunaan metode fun learning pada kelompok diperoleh yaitu 75,91% dan termasuk dalam kategori efektif. Hasil penelitian dari (Zahro & Firdaus, 2. yang menyatakan bahwa penerapan metode fun learning ini menjadikan proses pembelajaran lebih Selain itu, partisipasi siswa dalam aktivitas kelompok meningkat, serta kemampuan mereka dalam mengalami peningkatan yang signifikan. Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Hal ini diperkuat oleh penelitian (Situlak, 2. yang menyatakan bahwa implementasi metode fun learning peningkatan minat belajar siswa secara Dengan disimpulkan bahwa dalam pembelajaran, pertumbuhan minat belajar peserta didik berhasil dipicu secara konstruktif melalui kehadiran metode ini. Peningkatan hasil belajar peserta menggunakan metode fun learning Berdasarkan hasil analisis (Tabel . , capaian hasil belajar peserta didik pada peningkatan setelah penerapan metode fun learning. Temuan ini menunjukkan bahwa metode fun learning efektif dalam mendukung proses pembelajaran, karena mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, meningkatkan keterlibatan peserta didik, serta memudahkan mereka dalam memahami Dengan demikian, penerapan metode fun learning memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Peningkatan tersebut mengindikasikan efektivitas metode fun learning dalam mendukung proses Tabel 4. Persentase pencapaian hasil belajar kelas eksperimen Deskripsi Pretest Posttest Rata-Rata Skor Skor Standar Presentase 30,42% 53,85% Kategori peningkatan nilai peserta didik pada kelas eksperimen dapat dijelaskan pada Tabel 5. Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 Kompetensi Universitas Balikpapan Tabel 5. Analisis Deskriptif N-Gain Hasil Belajar Descriptive Statistics Mini NGAI N_per Valid . istwi Maxi Mean Std. Devia Keefektifan penerapan metode fun learning pada kelas eksperimen ditinjau melalui nilai persentase N-Gain. Berdasarkan diperoleh persentase sebesar 71,83%, sehingga metode tersebut masuk dalam kategori cukup efektif. Adapun penelitian (Rahmawati & Salsabilla, 2. yang menyatakan bahwa metode fun learning yang digunakan menghasil peningkatan pada Temuan membuktikan bahwa pendekatan belajar yang menyenangkan . un learnin. pemahaman siswa terhadap pelajaran. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa metode fun learning memiliki kontribusi, selain memberikan stimulan langsung terhadap capaian hasil belajar, pendekatan ini juga bekerja secara tidak langsung dengan menstimulasi minat belajar siswa terlebih dahulu. Ketika minat meningkat, maka perhatian, motivasi, dan keterlibatan siswa juga meningkat, yang berdampak pada hasil Peningkatan minat belajar peserta didik pada kelas yang tidak Meskipun tanpa perlakuan khusus, capaian akhir pada kelompok kontrol tetap mengalami kenaikan dengan Vol. No. Juni 2026 persentase rata-rata sebesar 19,06% (Tabel . Tabel 6. Persentase Pencapaian Minat Belajar Kelas Kontrol Rata-Rata Skor Skor Standar Pretest Posttest Presentase 19,06% 17,33% Adapun kategori peningkatan minat belajar kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Analisis Deskriptif N-Gain NGAI N_per Valid . istwi Descriptive Statistics Mini Ma Me xim an Std. Devia Keefektifan pembelajaran pada mengimplementasikan metode fun persentase N-Gain. Hasil analisis 43,75%, sehingga pembelajaran tersebut dikategorikan kurang efektif. Hal ini didukung oleh penelitian (Alfarizi et al. , 2. yang menyatakan bahwa metode konvensional membuat siswa hanya mendengarkan secara pasif dan kurang terlibat dalam pembelajaran sehingga motivasi dan minat belajar menjadi kurang optimal. Selain itu, penelitian lain (Prayogi et al. , 2. menjelaskan bahwa pembelajaran yang monoton, seperti penggunaan metode konvensional secara terus-menerus, berpotensi menurunnya minat serta Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 memicu rasa jenuh terhadap materi yang Konklusi ini menunjukkan bahwa meskipun kelompok kontrol masih mencatatkan adanya pertumbuhan pada minat belajar, namun akselerasinya berjalan kurang maksimal yang Rendahnya peningkatan tersebut dipicu oleh keterbatasan metode ceramah yang cenderung menempatkan siswa sebagai partisipan pasif. Sebaliknya, kelas yang menerapkan pendekatan fun learning menunjukkan hasil yang lebih optimal karena mampu mendorong keterlibatan aktif siswa. Peningkatan hasil belajar peserta didik pada kelas yang tidak Tabel 8. Persentase pencapaian hasil belajar kelas kontrol Rata-Rata Skor Skor Standar Pretest Posttest Presentase 14,51% 23,08% Berdasarkan persentase capaian memperlihatkan di mana pertumbuhan minat belajar peserta didik secara kolektif menyentuh angka rata-rata 14,51%. Adapun kategori peningkatan dapat dilihat pada Tabel 9. Kompetensi Universitas Balikpapan Tingkat efektivitas pada kelas yang tidak menerapkan metode fun learning . elas kontro. menunjukkan persentase sebesar 0,33, sehingga dikategorikan tidak efektif. Sejalan dengan itu (Amelia et al. dalam penelitiannya yang menegaskan bahwa adanya peningkatan apabila proses pembelajaran dikemas Sebaliknya, pembelajaran yang tidak memberikan variasi aktivitas cenderung menurunkan tingkat antusiasme peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Hasil dari kelas kontrol ini mempertegas fakta bahwa metode keterbatasan dalam mengoptimalkan dibandingkan model pembelajaran yang aktif serta interaktif. Perbedaan minat belajar antara kelas yang menggunakan metode Pengujian hipotesis untuk melihat perbedaan minat belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dianalisis menggunakan uji t sampel independen . ndependent samples t-tes. berbantuan perangkat lunak SPSS. Tabel 10. Uji Paired Sample T-test kelas Pretest_eksperimenPosstest_eksperimen Tabel 9. Analisis deskriptif N-Gain hasil belajar kelas kontrol NGAI N_per Valid . istwi Descriptive Statistics Mini Ma Me mum xim an Vol. No. Juni 2026 Std. Devia Mean Std. Deviaton Std. Error Mean Tabel 11. Uji Paired Sample T-test kelas Pretest_kontrolPosstest_kontrol Mean Std. Deviaton Std. Error Mean Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 Berdasarkan Tabel 10 dan 11, diketahui bahwa nilai df . egree of freedo. adalah 28, yang diperoleh dari rumus df = n Oe 1. Nilai t hitung untuk minat belajar kelas eksperimen yaitu 15,55, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 13,00. Sementara itu, nilai ttabel yang diperoleh adalah 2,048. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai thitung pada kedua kelompok diuji yang hasilnya melampaui ttabel, dimana kelas eksperimen memperoleh 15,55 dan pada kelas kontrol memperoleh 13,00. Analisis ini juga diperkuat oleh capaian nilai sig . -taile. sebesar 0,000, yang secara statistik lebih kecil 0,05. Hasil penelitian (Arsyad et al. data tersebut membuktikan bahwa tingkat antusiasme dan minat belajar siswa berbeda nyata antara kelas dengan perlakuaan khusus dan yang tidak ada Hal tersebut membuktikan kemampuan adanya perlakuan khusus . etode mendongkrak minat belajar siswa yang tecermin dari meningkatnya perhatian serta rasa tertarik mereka selama Penelitian lain (Falih, 2. hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa tingkat minat belajar yang terbentuk pada kelas eksperimen menunjukkan diskrepansi . yang signifikan secara statistik dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini menegaskan bahwa metode yang menyenangkan . un learnin. keterlibatan siswa. Perbedaan hasil belajar antara kelas yang menggunakan metode fun learning dan yang tidak Peneliti menggunakan kriteria penilaian hasil belajar yang dapat dilihat pada Tabel 12. Pretest hasil belajar kelas eksperimen Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan Tabel 12. Distribusi frekuensi pretest hasil belajar kelas eskperimen Klasifikasi Interval Frek Persentase Sangat 90-100 0 Tinggi Cukup Rendah Jumlah Data Tabel 12 menunjukkan pada tahap awal . re-tes. , terdapat 24 peserta didik . %) yang capaiannya masih tergolong dalam kategori rendah dengan interval skor 0Ae71. Selanjutnya, pada kategori cukup dengan interval 72Ae79 terdapat 2 orang . %), dan pada kategori tinggi dengan interval 80Ae89 terdapat 3 orang . %). Peserta didik yang mencapai KKTP berjumlah 5 orang, sedangkan 24 orang lainnya belum KKTP. Hasil menyimpulkan bahwa perolehan ratarata pre-test sebesar 69,79 menunjukkan posisi kemampuan awal siswa yang masih tertahan pada rentang kategori Post-test Tabel 13. Distribusi frekuensi post-test hasil belajar kelas eksperimen Klasifikasi Interval Frek Persentase Sangat 90-100 17 Tinggi Cukup Rendah Jumlah Dilihat dari data Tabel 13 yang disajikan, jumlah peserta didik kategori tinggi yaitu 12 orang . %), sedangkan pada kategori sangat tinggi sebanyak 17 orang . %). Seluruh peserta didik, yaitu 29 orang, telah mencapai KKTP. Data ini memberikan kesimpulan bahwa setelah diberikan perlakuan . , nilai rata-rata post-test peserta didik di Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 kelas eksperimen menyentuh angka 90,90. Pretest hasil belajar kelas kontrol Tabel 14. Distribusi frekuensi pretest hasil belajar kelas kontrol Klasifikasi Interval Frek Persentase Sangat 90-100 0 Tinggi Cukup Rendah Jumlah Berdasarkan data pada Tabel 14, pada kategori cukup, jumlah peserta didik sebanyak 4 orang . %), sedangkan pada kategori rendah terdapat 25 orang . %). Peserta didik yang mencapai KKTP berjumlah 4 orang, sementara 25 orang lainnya belum mencapai KKTP. Hasil ini menunjukkan bahwa secara umum distribusi nilai pretest kelas kontrol berada pada kategori cukup dan rendah dengan rentang interval 72Ae79 dan 0Ae71. Demikian dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil pretest kelas kontrol sebesar 68,97. Post-test Tabel 15. Distribusi frekuensi post-test hasil belajar kelas kontrol Klasifikasi Interval Frek Persentase Sangat 90-100 3 10,35% Tinggi 41,37% Cukup 41,37% Rendah 6,90% Jumlah Data pada Tabel 15 menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik berada pada kategori tinggi dan cukup, masingmasing sebanyak 12 orang . ,37%). Sementara itu, peserta didik dengan kategori sangat tinggi berjumlah 3 orang . ,35%) dan kategori rendah sebanyak 2 orang . ,89%). Peserta didik yang mencapai KKTP berjumlah 21 orang. Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan sedangkan 8 orang lainnya belum mencapai KKTP. Melalui hasil perhitungan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa perolehan nilai rata-rata post-test pada kelompok kontrol adalah sebesar 78,90. Pengujian hipotesis mengenai perbedaan hasil belajar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dianalisis menggunakan uji t sampel independen . ndependent samples t-tes. Tabel 16. Uji Paired Sample T-test kelas Pretest_eksperimen Mean Posstest_eksperimen Std. Deviaton Std. Error Mean Tabel 17. Uji Paired Sample T-test kelas Pretest_kontrolMean Posstest_kontrol Std. Deviaton Std. Error Mean Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai df . egree of freedo. sebesar 28 yang dihitung menggunakan rumus df = n Oe 1. Nilai t hitung kelas eksperimen sebesar 33,79, sedangkan kelas kontrol sebesar 11,01. Tanda negatif ini menjadi bukti bahwa skor setelah perlakuan . ost-tes. memiliki nilai yang lebih besar daripada skor sebelum perlakuan . re-tes. Melalui ketetapan nilai ttabel sebesar 2,048, hasil pencapaia hasil kelas eksperimen lebih unggul dari kelas kontrol, hal ini dibuktikan oleh nilai thitung secara signifikan melebihi nilai ttabel, masingmasing sebesar 33,79 > 2,048 untuk kelompok eksperimen dan 11,01 > 2,048 untuk kelas kontrol. Disamping itu, uji Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 signifikansi . -taile. menghasilkan nilai sebesar 0,000. Nilai tersebut secara statistik berada pada ambang alpha yang ditetapkan . ,000 < 0,. Adapun hasil penelitian (Ritongga & Shahiba, 2. mengindikasikan adanya korelasi positif, di mana peserta didik yang memiliki motivasi dan minat merealisasikan capaian hasil belajar yang lebih optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode fun learning mampu meningkatkan minat belajar dan hasil belajar peserta didik. Temuan ini sejalan dengan teori konstruktivistik yang menjelaskan bahwa peserta didik membangun pengetahuannya secara aktif melalui pengalaman belajar yang Menurut (D. H, 2. kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif, berinteraksi, dan mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman yang telah dimiliki akan menghasilkan pemahaman yang lebih Dalam penelitian ini, metode fun learning menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik lebih antusias mengikuti pembelajaran, berani berpartisipasi, dan lebih mudah memahami Pendidikan Agama Islam. Kondisi meningkatnya minat belajar yang kemudian berdampak pada peningkatan hasil belajar. KESIMPULAN Terdapat adanya peningkatan minat belajar peserta didik pada kelas yang menggunakan metode fun learning. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis NGain minat kelas eksperimen yaitu 0,75 dengan kriteria gain ternormalisasi berada kategori tinggi dan presentase NGain yaitu 75,91% dalam kategori efektif (>. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho Hal ini menunjukkan adanya Vol. No. Juni 2026 Kompetensi Universitas Balikpapan peningkatan minat belajar peserta didik yang signifikan pada kelas yang menerapkan metode fun learning. Sedangkan hasil belajar ada peningkatan juga, dilihat dari nilai N-Gain yang diperoleh sebesar 0,71. Selain itu, persentase N-Gain adalah 71,83%, sehingga berada pada kategori cukup efektif dengan interval 56Ae75%. Ha bisa diterima dan Ho mendapat penolakan. Kelas kontrol . anpa metode fun learnin. terbukti tidak mengalami perkembangan pada tingkat minat belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari hasil N-Gain yaitu yaitu 0,43 dengan kriteria gain ternormalisasi pada kategori sedang dan presentase N-Gain yaitu 43,75% dalam kategori kurang efektif . Berdasarkan hasil pengujian tersebut, keputusan statistik yang diambil adalah menolak Ha dan Ho. Artinya, pembelajaran pada kelas kontrol tidak peningkatan pada aspek minat belajar Begitupun hasil belajar tidak adanya peningkatan kelas yang tidak menerapkan metode fun learning. Hal ini N-Gain ternormalisasi yaitu 0,33, menunjukkan bahwa tingkat peningkatan yang dicapai berada pada kriteria sedang dan presentase N-Gain yaitu 33,59% dalam kategori tidak efektif (<. Maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. Terdapat peningkatan minat belajar peserta didik antara kelompok yang diberikan perlakuan . dan kelompok tanpa perlakuan. Melalui uji paired samples t-test, kelas eksperimen mencatatkan nilai thitung sebesar 15. sementara kelas kontrol berada diangka Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan minat belajar yang signifikan antara kelas yang menerapkan metode fun learning dan kelas yang tidak Nabilah Jihana 1. Ahmad Sabri 2. Hidayati 3 Hasil adanya perbedaan capaian hasil belajar peserta didik antara kelas yang menerapkan metode fun learning dan kelas yang tidak menerapkannya. Berdasarkan analisis data, kelas eksperimen mencatatkan nilai t hitung 79, sedangkan kontrol berada pada angka 11. Hasil analisis ini mengonfirmasi penolakan Ho dan penerimaan Ha. Melalui hasil tersebut, ditegaskan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang nyata antara kelompok siswa dengan perlakuan fun learning dan kelompok kontrol yang menggunakan pendekatan konvensional. DAFTAR PUSTAKA