Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 PENGGUNAAN PERANGKAP GETAH UNTUK MENDETEKSI HAMA DOMINAN PADI (Oryza sativa L) MENGGUNAKAN SISTEM TANAM HAZTON DI HAMPARAN PERAK SUMATERA UTARA Windy Amelia1*. Ameilia Zuliyanti Siregar2* Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Indonesia. Jalan Dr. Mansur No. Padang Bulan. Kec. Medan Baru. Kota Medan. Sumatera Utara 20222. E-mail: windya238@gmail. com, ameilia@usu. Submit: 13-11-2023 Revisi: 02-08-2024 Diterima: 12-08-2024 ABSTRAK Penggunaan Perangkap Getah Untuk Mendeteksi Hama Dominan Padi (Oryza sativa L) Pada sistem tanam Hazton di Hamparan Perak Sumatera Utara. Tanaman padi merupakan komoditas utama pangan penduduk Indonesia dengan produksi sekitar 54. 75 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan luas panen 0,45 juta hektar atau mengalami kenaikan sebanyak 40,87 ribu hektar . ,39 perse. dibandingkan tahun 2021. Produksi padi sangat dipengaruhi budidaya, varietas tanam dan serangan hama dan penyakit pada tanaman Penelitian ini bertujuan menginventarisasi keanekaragaman serangga di Desa Hamparan Perak. Kecamatan Hamparan Perak. Kabupaten Deli Serdang. Sumatera Utara pada bulan April hingga Juli 2023. Penelitian ini menggunakan Purposive Random Sampling dengan 4 variasi getah, yaitu getah karet (Hevea brasiliensi. , kemudian getah nangka (Artocarpus heterophyllu. , getah pepaya (Carica papay. , dan getah jarak pagar (Jatropha curca. dengan sistem tanam Hazton. Dari hasil identifikasi serangga menunjukkan serangga yang tertangkap pada lahan tanaman padi menggunakan getah karet (H. yaitu 2397 individu, merupakan yang terbanyak daripada ke tiga getah lainnya dengan 8 ordo dan 29 famili, manakala terendah menggunakan getah jarak (J. ordo, 29 famili, 1159 individ. Adapun perhitungan indeks keanekaragaman (HA. :(HAogk=2,98. H'gn=1,88. H'gp=3,30. H'gj=3,. Indeks Kekayaan Jenis (RA. (RAogk=7,78. RAogn=7,73. RAogp=7,10, dan RAogj=7,. , dan Indeks Kemerataan (EA. :(EAogk=0,88. EAogn=0,55. EAogp=0,98 dan EAogj=0,. Status fungsi serangga teridentifikasi pada lahan menggunakan ke lima getah tersebut sebanyak 5 jenis yaitu herbivor, polinator, predator, parasitoid dan scavenger. Kata kunci : Keanekaragaman, serangga. IR Nutri Zinc. Getah tanaman, padi. ABSTRACT The Use of Sap Trap to Detect the Dominant Pests of Rice (Oryza sativa L) in the Hazton planting system in Hamparan Perak. North Sumatera. The rice crop system, the main food commodity for the Indonesian population with a production of around 54. 75 million tons of milled dry grain (MDG) with a harvest area of 45 million hectares or an increase of 40. 87 thousand hectares . 39 percen. compared to 2021. Rice production is strongly influenced by cultivation, planting varieties and pest and disease attacks on rice plants. This study aims to inventory insect diversity in Hamparan Perak Village. Hamparan Perak District. Deli Serdang Regency. North Sumatra from April to July 2023. This study used Purposive Random Sampling with 4 variations of sap, namely rubber sap (Hevea brasiliensi. , jackfruit sap (Artocarpus heterophyllu. , papaya sap (Carica papay. , and Jatropha curcas sap with Hazton planting system. The results showed that insects caught on land using rubber latex (H. were 2397 spesies, the most of the three other latex other with 8 orders and 29 families, while the lowest was using jatropha sap (J. orders, 29 families, 1159 As for the calculation of the diversity index (H'): (H'gk=2. H'gn=1. H'gp=3. H'gj=3. Species Richness Index ((R'): (R'gk=7. R'gn=7. R'gp=7. 10, and R'gj=7. , and Index of Evenness (E'): (E'gk=0. E'gn=0. E'gp=0. 98 and E'gj=0. The status of insect functions identified on the land using the five gums as many as 5 types, namely herbivores, pollinators, predators, parasitoids and scavengers. Keywords : Diversity, insects. IR Nutri Zinc, plant sap, rice. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Penggunaan Perangkap Getah A Amelia dan Siregar PENDAHULUAN Tanaman padi merupakan komoditi pangan utama yang dikonsumsi lebih dari 70% penduduk Indonesia. Produksi padi di Sumut sepanjang tahun 2022 adalah sebanyak 2,09 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) (BPS, 2. Produksi padi di Indonesia khususnya di Sumatera Utara sewaktu waktu dapat meningkat maupun Adapun salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi padi adalah hama tanaman padi. Hama yang terdapat pada tanaman padi antara lain seperti wereng coklat (Nilavarpata lugen. Lembing hijau (Nezara viridul. , lalu walang sangit (Leptocorisa acut. , hama sundep (Scirpophaga innotat. Hama Putih (Nymphula depunctali. , wereng hijau (Nephotettix apicali. (Baehaki, 2. Petani kerap kali menggunakan bahan kimia sebagai langkah awal membasmi hama dan penyakit pada lahan padi mereka. Hal ini disebabkan oleh hasil yang efektif dan efisien dalam mengendalikan hama dengan cara yang praktis dan menguntungkan petani. Akan tetapi dampak dari penggunaan bahan kimia akan kita rasakan seiring bertambahnya waktu, dimana terjadi ledakan OPT di lahan pertanaman padi. Pada kondisi demikian, populasi serangga hama akan meningkat apabila penggunaan pestisida tidak sesuai anjuran. Selain itu, penggunaan bahan kimia seperti pestisida dapat bersifat bioaktif dan merupakan bahan beracun. Oleh karena itu, perlu Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang meliputi pengendalian secara mekanik, pemanfaatan musuh alami, budidaya tanaman sehat dan pengamatan berkala. Prinsip PHT ini telah menjadi hal yang dominan dilakukan untuk melakukan perlindungan tanaman sejak tahun 1960an (Horgan, 2. Kehadiran OPT dan fluktuasi serangannya di areal pertanian sangat Sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman, bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem pengendalian hama terpadu. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pengendalian populasi terhadap organisme pengganggu tanaman dengan menggunakan berbagai teknik pengendalian. Contohnya seperti pengendalian mekanis. Pengendalian mekanis merupakan salah satu cara pengendalian yang dapat dilakukan secara langsung menggunakan tangan maupun Disini penulis menggunakan alat sebagai bahan penelitian untuk melihat apakah dengan penggunaan alat ini dapat mempengaruhi tingkat populasi hama. Adapun alat yang digunakan adalah kombinasi alat perangkap kuning dengan beberapa percobaan tanaman getah sebagai pengganti perekat. Tanaman getah memiliki potensi yang dapat menjadi bahan alternatif perekat (Fitri, 2. Getah tanaman merupakan cairan kental yang keluar dari batang, daun, bunga, tangkai atau buah setelah tanaman diberi Beberapa getah dapat diuji coba di lapangan untuk memerangkap Getah-getah Ini mengandung beberapa senyawa yang bersifat toksik pada beberapa jenis serangga hama (Galih, 2. Getah yang diuji coba tidak hanya dapat merekatkan serangga tetapi beberapa getah seperti getah karet dan getah pepaya memiliki ciri khas bau yang dapat menarik serangga untuk datang. Adapun getah yang akan diuji coba di lapangan sebagai pengendali mekanik serangga untuk lem perekat pada perangkap hama seperti getah karet (Hevea brasiliensi. , getah nangka (Artocarpus heterophyllu. , getah pepaya (Carica papay. dan terakhir getah jarak pagar (Jatropha curca. Selain pengendalian hama, faktor lain yang dapat menaikkan produksi tanaman padi adalah work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. dengan melakukan penerapan sistem tanam padi yang tepat. Salah satu rekomendasi pemerintah untuk petani yaitu penerapan sistem tanam hazton. Diperkirakan dengan sistem tanam hazton, produktivitas padi dapat meningkat dengan pengaturan pola tanam 25-30 batang/lubang. Dengan demikian, jumlah anakan dan bulir padi akan lebih banyak, sehingga produktivitas padi dapat meningkat dibandingkan dengan metode tanam lainnya. Penanaman bibit tua ditujukan agar pembungaan, pengisian dan panen yang seragam dan umur panen yang lebih cepat. Penanaman bibit dalam jumlah banyak ditujukan agar tanaman tidak stress saat pindah tanam, tidak membentuk anakan banyak dan berlanjut sehingga anakan produktif berasal dari indukan (Badan Litbang Pertanian, 2. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Padi Varietas Unggul Baru Inpari IR Nutri Zinc. Getah karet (Hevea brasiliensi. , (Artocarpus heterophyllu. , getah pepaya (Carica papay. , dan jarak pagar (Jatropha curca. serta Alkohol 70% untuk mengawetkan serangga. Alat yang digunakan adalah. Botol vial untuk menampung getah tanaman, pisau untuk menyayat tanaman, tiang pancang/ajir sebagai penopang, sampul bening/ plastik untuk merekatkan getah, label nama sebagai penanda, handphone untuk mendokumentasikan kegiatan. Pinset Mikroskop untuk mengidentifikasi METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada Pertanaman padi di Desa Paya Bakung. Kecamatan Hamparan Perak. Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2023 sampai dengan selesai. Identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Penentuan Lokasi Pengamatan Lokasi pengamatan dilakukan di Desa Hamparan Perak. Kecamatan Hamparan Perak ,Sumatera Utara, dengan titik koordinat . A LU 37Ao41AoAo,98A LS 33Ao4AoA. Lahan penelitian berukuran 12 x 16 meter, dimana dalam satu petakan sawah berukuran tersebut terdapat 4 perangkap penelitian, untuk lebih jelasnya, tercantum pada gambar 6 desain denah plot berikut ini : Gambar 1. Denah Plot Penelitian. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Penggunaan Perangkap Getah A Amelia dan Siregar Dari denah plot penelitian diatas dapat kita lihat terdapat 4 titik lokasi pemasangan perangkap getah dimana masing masing warna menunjukkan getah apa saja yang digunakan seperti warna merah merupakan getah karet, kuning menunjukkan getah nangka, biru menunjukkan getah pepaya dan warna hijau menunjukkan getah jarak. Pengambilan Sampel Pengambilan tertangkap pada masing-masing titik sampel perangkap yang telah Pengambilan serangga dilakukan hingga 8x pengamatan dengan rentang waktu 1 Pengambilan sampel dilakukan pada 2 fase yaitu fase vegetatif tanaman dan fase generatif, dimana untuk fase vegetatif dimulai dari 37 HST, 43 HST, 49 HST dan 55 HST. Untuk fase generatif dimulai dari 61 HST, 67 HST, 73 HST dan terakhir pada 79 HST. Pengukuran Faktor Lingkungan Suhu Suhu yang diukur adalah suhu perangkap dengan menggunakan Hygrothermometer. Pengukuran suhu mengaktifkan alat Hygrothermometer kemudian dibiarkan selama A 5 detik dan membaca skalanya. Kelembaban Pengukuran kelembaban di tempat pemasangan perangkap dilakukan Hygro Thermometer yaitu dengan cara mengaktifkan alat Hygrothermometer kemudian membiarkan selama A 5 detik dan membaca skalanya. Pengukuran kelembaban dilakukan pada pagi hari pukul 08. 00 WIB. Derajat Keasaman . H) Pengukuran derajat keasaman . H) dilakukan dengan mengukur pH menggunakan alat ukur pH digital. Intensitas Cahaya Intensitas cahaya dan lama berpengaruh pada pertumbuhan dan kegiatan reproduksi tumbuhan di daerah tropis, lamanya siang dan malam relatif sama, yaitu 12 jam sedangkan daerah yang memiliki empat musim, lamanya siang hari dapat mencapai 16Ae20 jam. Respon tumbuhan terhadap fotoperiode dapat berupa pembungaan, perkecambahan, dan perkembangan. Intensitas cahaya diukur menggunakan Luxmeter. Peubah Amatan Jumlah dan Jenis Serangga Tertangkap. Serangga yang tertangkap Diidentifikasi dan dihitung sesuai dengan kelompok famili masing-masing setiap serangga pada setiap pengamatan. Nilai Frekuensi Mutlak. Frekuensi Relatif. Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif pada setiap Dengan diketahuinya jumlah populasi serangga tertangkap yang telah diidentifikasi maka dapat dihitung nilai frekuensi mutlak, frekuensi relatif, kerapatan mutlak dan pengamatan sesuai dengan rumus Mueller-Dombois dan Ellenberg . Kerapatan Mutlak (KM) Kerapatan Mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditentukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak Kerapatan relatif (KR) work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Jumlah dan Jenis Serangga Tertangkap Dari hasil penelitian yang dilakukan sebanyak 8 kali pengambilan sampel pada ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 lahan padi dengan perangkap getah karet, getah nangka, getah pepaya dan getah jarak, maka diperoleh jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada areal pertanaman padi dapat dilihat pada Tabel Tabel 1. Jumlah dan jenis serangga yang tertangkap pada lahan padi dengan pemanfaatan Perangkap Getah Karet (GK). Getah Nangka (GN). Getah Pepaya (GP) dan Getah Jarak (GJ) Ordo Coleoptera Diptera Hemiptera Famili Coccinellidae Chrysomelidae Carabidae Staphylinidae Muscidae Drosophilidae Mycetophilidae Tipulidae Culicidae Cecidomyiidae Tachinidae Ceratopogonidae Chironomidae Alydidae Pentatomidae Coreidae Corixidae Delphacidae Cicadellidae Genus Coccinella Dicladispa Ophionea Paederus Musca Condylostylus Mycetophyllia Tipula Anopheles Aphidoletes Tachinid Culicoides Chironomus Leptocorisa Scotinophara Riptortus Cenocorixa Nilaparvata Nephotettix Vespidae Mymaridae Apidae Crambidae Noctuidae Asteloeca Anagrus Apis Scirpophaga Hymenoptera Lepidoptera Orthoptera Odonata Pyralidae Hesperiidae Acrididae Coenagrionidae Libellulidae Cnaphalalocro Pelopidas Oxya Agriocnemis Orthetrum Ketarangan : Gk : Getah Karet Gn: Getah Nangka Gp : Getah Pepaya Gj : Getah Jarak This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Penggunaan Perangkap Getah A Amelia dan Siregar Dari data tabel diatas dapat kita lihat pada perangkap getah karet jumlah serangga terbanyak yaitu pada ordo Hemiptera. Famili Alydidae, genus Leptocorisa yaitu sebanyak 408 ekor serangga. Dan jumlah serangga terendah terdapat pada Ordo Lepidoptera. Famili Noctuidae, pada perangkap getah nangka jumlah serangga terbanyak yaitu pada ordo Hemiptera. Famili Alydidae. Genus leptocorisa dengan jumlah serangga 225 ekor serangga, sedangkan jumlah terendah terdapat pada Ordo Diptera. Famili Drosophilidae, dengan total jumlah serangga yaitu 33 ekor serangga, pada perangkap getah pepaya jumlah serangga terbanyak yaitu pada Ordo Diptera. Famili Culicidae. Genus Anopheles dengan jumlah serangga 78 ekor serangga, sedangkan jumlah terendah terdapat pada ordo Coleoptera . Famili carabidae dengan total jumlah serangga yaitu 17 ekor serangga, pada perangkap getah pepaya jumlah serangga terbanyak yaitu pada ordo Diptera. Famili Chironomidae. Genus Chironomus dengan jumlah serangga 78 ekor serangga, sedangkan jumlah terendah terdapat pada ordo Lepidoptera. Famili Noctuidae, dengan total jumlah serangga yaitu 13 ekor Dari dilakukan, nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi pada lahan padi dengan Getah tanaman karet yaitu pada ordo Hemiptera. Famili Alydidae yaitu dengan nilai KM = 408 dan KR = 17,22% sedangkan yang terendah yaitu pada famili Noctuidae dengan nilai KM = 16 dan KR 0,67%. Pada lahan padi dengan getah tanaman nangka kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi yaitu pada famili Alydidae dengan nilai KM = 225 dan KR = 9,79% sedangkan yang terendah pada famili Drosophilidae dengan nilai KM = 33 dan KR = 1,43%. Untuk padi dengan getah pepaya kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi yaitu pada famili Culicidae dengan nilai KM = 78 dan KR = 6,39% sedangkan yang terendah pada famili Carabidae dengan nilai KM = 17 dan KR = 1,39% Untuk padi dengan getah Jarak kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi yaitu pada famili Chironomidae dengan nilai KM = 78 dan KR = 6,72% sedangkan yang terendah pada famili Trygonidae dengan nilai KM = 16 dan KR = 1,38%. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan data status peran serangga pada keempat perangkap mengalami keseimbangan ekosistem dikarenakan pada perangkap tersebut mendapatkan jenis selain herbivor atau hama, yaitu kelompok serangga lain seperti predator, scavenger atau pemakan bangkai, polinator hingga parasitoid. Putra . menyatakan bahwa serangga dapat ditemukan hampir di seluruh ekosistem. Ekosistem yang beragam membuat jenis serangga juga ikut beragam. Serangga herbivora biasa disebut hama, tetapi tidak semua serangga merugikan tanaman. Terdapat serangga berguna seperti penyerbuk, pemakan bangkai, predator dan parasitoid. KESIMPULAN Kesimpulan dari hasil penelitian Penggunaan Perangkap getah karet lebih efektif dibandingkan getah nangka, getah pepaya dan getah jarak sebagai pilihan pengendalian ramah meningkatkan produksi tanaman padi. Populasi serangga teridentifikasi pada getah karet sebanyak 2369 spesies dengan masing-masing 8 ordo dan 29 famili, getah nangka 2298 spesies, getah pepaya 1760 spesies,dan getah jarak 1159 work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. spesies dengan masing masing 8 Ordo dan 29 Famili. Getah karet memiliki nilai R=7,77 . HAo=2,98. E=0,88. Pada Getah nangka nilai R=7. HAo= 1,88 . E=0,55. Getah Pepaya memiliki nilai R=7,10 HAo=3,30 E=0,98 serta getah jarak memiliki nilai R=7,05. HAo=2. E=0,97. Status fungsi serangga pada lahan padi dengan getah karet, getah nangka, getah pepaya dan getah jarak terbagi menjadi 5 kelompok yaitu herbivor, predator, polinator, parasitoid dan UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada Ibu Ameilia Zuliyanti Siregar selaku pembimbing serta masyarakat desa Paya Bakung yag telah membantu dalam melakukan penelitian ini serta kepada Universitas Sumatera Utara yang telah mewadahi untuk berjalannya penelitian DAFTAR PUSTAKA