Jurnal AUDHI Vol. No. Januari 2023. Pages 96-108 p-ISSN: 2662-2469. e-ISSN: 2774-8243 https://jurnal. id/index. php/AUDHI STRATEGI GURU MENSTIMULASI MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN PRACTICAL LIFE ANAK 4-5 TAHUN Aulia Ul Badriyah1. Fidesrinur2 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Fakultas Psikologi dan Pendidikan. Universitas Al Azhar Indonesia. Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 12510 Penulis untuk korespondensi/E-mail: auliaulbadriyah50. aub@gmail. Abstrak Ae Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi guru dalam menstimulasi kemampuan motorik halus melalui kegiatan Practical life, apa saja faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam menstimulasi kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan Practical life, serta apa saja kegiatan rutinitas yang dilakukan guru dalam menstimulasi kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan Practical life pada usia 4-5 tahun. Perkembangan motorik halus mengacu pada organisasi otot-otot kecil seperti jari dan tangan, yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi dengan tangan, serta penggunaan alat untuk mengerjakan suatu benda. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian adalah 1 orang kepala sekolah dan 6 orang guru kelas A. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi serta teknik analisa data menggunakan model Milles and Hubberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Strategi yang dilakukan oleh guru adalah demonstrasi, pemecahan masalah dan pengajaran langsung. Faktor pendukung dalam menstimulasi motorik halus adalah alat peraga atau apparatus Montessori menggunakan benda sesungguhnya yang dijumpai anak dikehidupan sehari-hari, metode montessori, kerjasama antara guru dan orang tua, pelatihan guru mengenai metode Montessori, dan rekan kerja. Sedangkan Faktor penghambat dalam menstimulasi motorik halus anak adalah kurangnya dukungan orang tua dan kesabaran anak saat bermain. Kegiatan rutinitas yang dilakukan guru dalam menstimulasi kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan Practical life adalah menuang, melipat, dan kegiatan lainnya. Kesimpulan adalah kegiatan practical life dapat menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun dengan menggunakan strategi pembelajaran demontrasi, pecahan masalah dan pengajaran lagsung. Kata Kunci: motorik halus, strategi guru, kegiatan practical life Abstract: This study aims to find out how the teacher's strategy is in stimulating fine motor skills through Practical life activities, what are the supporting and inhibiting factors in stimulating children's fine motor skills through Practical life activities, as well as what are the routine activities carried out by the teacher in stimulating children's motor skills. fine motor skills of children through practical life activities at the age of 4-5 years. Fine motor development refers to the organization of small muscles such as fingers and hands, which requires precision and hand coordination, as well as the use of tools to work on an object. This study used a qualitative descriptive approach with 1 school principal and 6 class A teachers as subjects. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation as well as data analysis techniques using the Milles and Hubberman model which consisted of data reduction, data presentation, and conclusion. The results showed that: The strategies used by the teacher were demonstrations, problem solving and direct teaching. Supporting factors in stimulating fine motor skills are Montessori props or apparatus using real objects that children encounter in everyday life, the Montessori method, collaboration between teachers and parents, teacher training on the Montessori method, and colleagues. While the inhibiting factor in stimulating children's fine motor skills is the lack of parental support and children's patience while playing. Routine activities carried out by the teacher in stimulating children's fine motor skills through Practical life activities are pouring, folding, and other activities. The conclusion is that Badriyah. Fidesinur. Vol. No. 2, 2023, pp. practical life activities can stimulate the fine motor development of children aged 4-5 years by using demonstration learning strategies, problem solving and direct teaching. Keywords: fine motor, teacher strategy, practical life activitie penggunaan kelompok otot kecil seperti jari dan tangan, yang seringkali membutuhkan ketelitian dan koordinasi dengan tangan, mengerjakan sesuatu dengan alat. Dan, menurut (Damayanti & Aini, 2. , perkembangan motorik halus mengacu pada organisasi otototot kecil seperti jari dan tangan, yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi dengan tangan, serta penggunaan alat untuk mengerjakan suatu benda. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Perkembangan pengorganisasian kelompok otot kecil seperti jari tangan dan tangan yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi dengan tangan, kemampuan yang dapat digunakan untuk menggunakan alat. PENDAHULUAN ondasi mendasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak sekolah adalah pendidikan anak usia dini (PAUD). Anak mengenal kehidupan melalui bermain di PAUD, dengan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang PAUD diharapkan dapat membentuk kepribadian anak agar anak memperoleh pendidikan untuk masa depan. Menurut Pasal 1 ayat 14 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. PAUD adalah suatu upaya pembinaan pada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu tumbuh kembang yang baik secara jasmani dan rohani, agar anak siap memasuki pendidikan lebih lanjut (Pemerintahan, 2. Tujuan dari PAUD adalah untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya, sehingga dipersiapkan secara optimal untuk mencapai kedewasaan di kemudian hari (Idris & Risaldy, 2. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru harus memberikan teknik pembelajaran yang sesuai Adapun perkembangan anak usia dini terdiri dari beberapa aspek, yaitu: Perkembangan Moral dan Agama. Fisik Motorik. Kognitif. Bahasa. Seni dan Sosial Emosional (Permendikbud RI. Adapun Tujuan dari perkembangan motorik halus menurut Sumantri dalam (Sari & 'Aziz, 2. adalah: . Mampu mengembangkan keterampilan motorik berhubungan dengan keterampilan gerak Mampu menggerakkan anggota tubuh yang berhubungan dengan gerak jari jemari. Mampu mengkoordinasi indera mata dan aktivitas tangan. dan, . Mampu mengendalikan beraktivitas motorik halus. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 137 tahun 2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini (Permendikbud RI, 2. , indikator capaian perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun adalah: . Membuat garis vertikal, horizontal, lengkung kiri/kanan, miring kiri/kanan, dan lingkaran. Menjiplak bentuk. Mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang Melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan media,. Mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media. dan, . Mengontrol gerakan tangan yang meggunakan Perkembangan fisik motorik sama pentingnya dengan bidang perkembangan lainnya, dan dapat digunakan sebagai tolak ukur awal untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan anak. Perkembangan fisik motorik dibagi menjadi 2, salah satunya yang harus dibangun di dalam diri anak yaitu kemampuan motorik halus anak. Menurut (Abessa, et al. , 2. , kemampuan motorik halus adalah gerakan yang melibatkan koordinasi mata-tangan dan manipulasi bendabenda kecil. Sedangkan Sumantri dalam (Damayanti & Aini, 2. menyatakan bahwa Badriyah. Fidesinur. Vol. No. 2, 2023, pp. otot halus . enjumput, mengelus, mencolek, mengepal, memelintir, memilin, memera. seharusnya sudah berkembang pada anak usia 4-5 tahun. Selama masa ini, kemampuan motorik halus anak harus dikembangkan secara teratur dan sedemikian rupa sehingga keterampilan motorik halusnya tumbuh secara Kemampuan motorik halus pada anakanak, terutama koordinasi antara mata dan tangan, sangat penting untuk diajarkan selama tahap perkembangan ini. Guru sebagai pendidik yang bertanggung jawab dalam melakukan interaksi dan stimulasi motorik halus anak di sekolah harus memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang perkembangan motorik halus pada anak didiknya agar dapat menstimulasi motorik halus anak di sekolah melalui kegiatan Practical life. Oleh karena itu. Maria Montessori mulai menggunakan life skill untuk membantu anak-anak dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan yang sebenarnya, yang memungkinkan anak untuk transisi ke dalam kehidupan di masyarakat. Diperkirakan bahwa melalui latihan praktis, guru dapat membantu anak-anak meningkatkan kemampuan motorik halus anak (Ningsih. Mayar, & Eliza, 2. Strategi adalah gambaran tentang bagaimana berperilaku untuk mencapai tujuan yang telah Strategi dapat berupa pola-pola luas tindakan guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar guna mencapai tujuan yang telah digariskan (Djamarah & Zain. Menurut (Suyadi, 2. , strategi digunakan untuk merencanakan taktik agar mencapai tujuan dengan sukses. Strategi dapat didefinisikan sebagai rencana yang mencakup urutan kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut (Rantina, 2. , kegiatan Practical life adalah aktivitas yang terdiri dari aktivitas Practical life dan aktivitas yang dapat membantu anak mengembangkan aktivitas motorik, fokus, dan kemandirian. Kegiatan Practical life dimaksudkan untuk mengajar dan meningkatkan keterampilan motorik, otot, dan koordinasi, memberikan anak-anak rasa menyelesaikan tugas-tugas tanpa bantuan orang dewasa (Guttek, 2. Menurut Kostelnik dalam (Masitoh, 2. , terdapat tujuh jenis strategi pembelajaran yang dapat dijadikan dasar untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran pada pendidikan anak usia dini. Berikut adalah jenisjenis strategi pembelajaran: Kegiatan eksploratori, yaitu strategi yang anak-anak mengembangkan penyelidikan langsung melalui tahapan spontan, memungkinkan mereka belajar membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan kapan melakukannya. Penemuan terbimbing, yaitu strategi yang bertujuan agar mereka membangun koneksi dan mengembangkan konsep saat mereka terlibat dengan barang dan orang. Guru harus merencanakan pengalaman bagi anak agar mereka dapat menemukan sesuatu. Pemecahan masalah, suatu strategi yang mengantisipasi, dan mengamati hasil dari tindakan mereka dalam metode ini peran guru adalah sebagai fasilitator. Diskusi, merupakan strategi pembelajaran yang menunjukkan adanya kontak timbal balik atau reciprocal contact antara pengajar dengan anak, dimana guru bercakap-cakap dengan anak, anak bercakap-cakap dengan guru, dan anak bercakap-cakap dengan anak Menurut (Masnipal, 2. , dalam kegiatan Practical life diajarkan empat latihan yang berbeda, yaitu: . Merawat diri . ontoh berpakaian, mengancing baju, memasang tali sepatu, mencuci tanga. Merawat lingkungan . isal membersihkan meja. Hubungan sosial . elajaran sopan santun, hormat menghormat. dan, . Kontrol gerakan dan koordinasi . ontoh berjalan, melompat, melatih keseimbangan, menuangkan benda dalam gela. Tujuan dari area latihan Practical life yang terdapat pada artikel yang ditulis oleh (Bhatia. Davis, & Shamas-Brandt, 2. adalah menstimulasi dan menguatkan ketiga jari dan pergelangan tangan Melalui kegiatan Practical life juga dapat membantu guru dalam membangun koordinasi antara mata dengan tangan yang merupakan prasyarat perkembangan motorik anak. (Fajriani, 2. Kemampuan motorik halus khususnya dalam tugas Practical life. Badriyah. Fidesinur. Vol. No. 2, 2023, pp. Belajar Kooperatif, yaitu Strategi yang digambarkan sebagai pembelajaran di mana anak-anak berkolaborasi dalam kelompok yang cukup kecil, dan setiap anak dapat berpartisipasi dalam kegiatan bersama yang ditentukan dengan jelas tetapi tidak terusmenerus, dan diawasi langsung oleh Demonstrasi, pendekatan yang melibatkan pemikiran tentang bagaimana proses terjadi atau bagaimana sesuatu bekerja, serta bagaimana tugas itu diselesaikan. Pengajaran Langsung, yaitu pendekatan pembelajaran yang membantu anak-anak mengenali kata-kata, taktik, fakta, dan dengan baik dan strategi guru yang digunakan juga mampu mengembangkan kemampuan motorik halus pada anak secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini akan fokus pada kegiatan practical life pada anak usia 4-5 tahun yang dapat dijadikan solusi alternatif untuk menstimulasi kemampuan motorik halus METODE PENELITIAN Tempat yang menjadi objek penelitian adalah PG-TK Al-Hamidiyah Depok, sekolah tersebut terletak di jalan Raya Sawangan No. Rangkapan Jaya. Kec. Pancoran Mas. Kota Depok. Jawa Barat 16435. Alasan dipilihnya PG-TK Al-Hamidiyah. Depok lembaga tersebut merupakan salah satu lembaga yang menggunakan metode Montessori sebagai kurikulum pembelajaran yang di gunakan dan kegiatan Practical life termasuk salah satu area yang di ajarkan dengan menggunakan metode Montessori. Waktu yang digunakan peneliti untuk penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal dikeluarkannya izin penelitian dalam kurun waktu kurang lebih 3 . bulan dari bulan Juli - September. Menurut (Nurjanah. Suryaningsih, & Putra, 2. keterlambatan dalam keterampilan motorik halus dapat menyebabkan rendahnya harga diri, iri pada anak-anak lain, ketergantungan, dan rasa malu pada anak-anak. Ini juga dapat mempersulit anak-anak untuk memulai sekolah karena keterampilan motorik halus diperlukan saat bermain dan menulis dengan teman sekelas mereka. Rasa ketergantungan pada anak mengarah pada pencapaian yang jauh di bawah kemampuan Untuk menghindari situasi ini, sangat penting bagi pendidik untuk mendidik keterampilan motorik halus di awal kehidupan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan suatu fenomena, peristiwa, atau gejala berdasarkan data lapangan (Sugiyono, 2. Subjek penelitian adalah 1 orang kepala sekolah dan 6 orang guru kelas A. Teknik pengumpulan data berupa observasi. Peneliti menggunakan teknik triangulasi untuk menguji keabsahan data penelitian. Serta teknik analisa data yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan kepala sekolah dan salah satu guru kelas A di PG-TK Al-Hamidiyah Depok, sekolah tersebut adalah salah satu pusat pendidikan yang menggunakan kegiatan Practical life dalam proses pembelajaran yang diterapkan kepada Kegiatan Practical life yang diterapkan adalah mencuci tangan dan mengeringkan tangan, menggosok gigi, menuangkan benda cair ke dalam wadah gelas lain, mengancing pakaian, mencuci alat makan, menyendokan benda ke dalam wadah lain, dan meronce Tabel 1. Kisi-kisi Observasi Namun berdasarkan hasil observasi awal di kelas A PG-TK Al-Hamidiyah Depok selama 1 minggu terdapat 15 dari 20 anak sudah dapat melatih kemampuan motorik halusnya dalam melakukan kegiatan kegiatan Practical life. Hal kemampuan motorik halus anak dikembangkan Motorik Halus Membuat garis kiri/kanan, kiri/kanan, dan Menjiplak Kehidupan Praktis Merawat . erpakaian, tali sepatu. Merawat Strategi Pembelajaran Demostrasi Eksplorasi Badriyah. Fidesinur. Vol. No. 2, 2023, pp. Mengkoordinasi kan mata dan Melakukan berbagai media. Mengekspresika n diri dengan berbagai media. Mengontrol gerakan tangan . enjumput, . isal Kontrol gerakan dan . ontoh untuk merencanakan pembelajaran yang mencakup urutan kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan murid, seperti penggunaan metodologi dan pemanfaatan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Berdasarkan pada hasil pengamatan bahwa strategi yang digunakan guru dalam meningkatkan motorik halus anak adalah kegiatan eksploratori, pemecahan masalah, demonstrasi, dan pengajaran langsung. Terbimbing Kegiatan eksploratori dalam kehidupan seharihari Guru mendampingi dan menyediakan bahan serta peralatan bermain yang dibutuhkan agar anak terdorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan secara langsung. Guru menyediakan media kegiatan Practical yang dibutuhkan oleh anak seperti mangkuk, biji-bijian, sendok dan media lainnya, dengan disediakannya media tersebut anak dapat bermain kegiatan Practical life sambil melakukan eksplorasi. Pemecahan Masalah Saat melakukan kegiatan guru mengawasi kegiatan anak dengan sesekali memberikan komentar, pujian dan juga jika terdapat anak yang melakukan kesalahan guru memberikan cara yang benarnya agar anak dapat terdorong untuk berlatih terus sampai anak berhasil (Masitoh, 2. Hal tersebut terlihat saat guru membebaskan anak melakukan kegiatan Practical life yang terdapat di dalam kelas dan guru memantau saat anak melakukan kegiatan, jika terdapat anak yang kesulitan atau melakukan kesalahan saat melakukan kegiatan Practical life guru akan memperbaikinya. Diskusi