Peningkatan Citra Pembelajaran IPS Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah Lokal Indari Program Studi S2 Pendidikan Ilmu Sosial dan Hukum. Universitas Negeri Surabaya ndhaindari@gmail. ST. Fatimah MTsN Sumber Bungur Pamekasan 3. Jawa Timur stfatimah0708@gmail. Adi Mulyadi Program Studi Teknik Elektro. Universitas PGRI Banyuwangi. Jawa Timur adimulyadi@unibabwi. Abstrak Pendidikan bertujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan dalam rangkaian pengembangan sumber daya manusia yang bermutu. Mata pelajaran IPS merupakan program pengajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Siswa diharapkan memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi masalah yang di hadapinya sendiri maupun yang terjadi di masyarakat. Model pembelajaran inovatif untuk menumbuhkan aktivitas siswa guna mengenal kebudayaan dan masalah lokal pada pembelajaran IPS yakni model pembelajaran berbasis masalah atau yang lebih dikenal dengan Problem Based Learning. PBL juga dimaknai sebagai model pembelajaran yang menantang siswa agar belajar, bekerjasama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata. Tujuan dari penelitian ini adalah . untuk mengetahui cara meningkatkan pembelajaran IPS melalui pembelajaran berbasis masalah. untuk mengetahui apakah pemebelajaran IPS berbasis masalah dapat meningkatkan motibvasi belajar siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen. Desain eksperimen yang digunakan adalah kuasi eksperimen Nonequivalent Control Group Pretest-posttest Design (NCP-PD). Siswa lebih menguasai konsep IPS dan memiliki kemampuan memecahkan masalah social, serta citra pembelajara IPS berbasis masalah memotivasi siswa dalam pembelajaran di kelas. Kata Kunci: Citra Pembelajaran 1. IPS 2. NCP-PD 3 Improving Social Science Learning Image Through Local Problem-Based Learning Abstract Education aims to improve the quality of life in the series of developing quality human resources. The social studies subject is a teaching program that aims to develop students' potential to be sensitive to social problems that occur in Students are expected to have a positive mental attitude towards correcting all inequalities that occur and are skilled at dealing with the problems they face themselves and those that occur in society. An innovative learning model to foster student activity in order to get to know local culture and problems in social studies learning, namely the problem-based learning model or better known as Problem Based Learning. PBL is also interpreted as a learning model that challenges students to learn, work together in groups to find solutions to real problems. The aims of this research are . to find out how to improve social studies learning through problem-based learning. to find out whether problem-based social studies learning can increase students' learning The method used in this research is a quasi-experimental method. The experimental design used was a quasi-experimental Nonequivalent Control Group Pretest-posttest Design (NCP-PD). Students are better at mastering the IPS concept and have the ability to solve social problems, as well as the problem-based IPS learning image motivates students in learning in class. Keywords: Learning Image 1. IPS 2. NCP-PD 3 PENDAHULUAN Manusia dan lingkungan merupakan sistem yang integral dalam membentuk ekosistem. Manusia sangat tergantung terhadap lingkungan hidupnya, baik lingkungan fisik dan sosial. Pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama masyarakat dunia. Seperti yang dinyatakan Ward & Dubos bahwa bumi hanyalah satu . nly one eart. yang kelangsungan hidupnya sangat tergantung kepada manusia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan (Ward & Dubos, 1. Cara pandang manusia terhadap lingkungan sangat mempengaruhi interaksi manusia dengan lingkungannya. Krisis-krisis global yang terjadi saat ini dapat dilacak dari cara pandang manusia dengan lingkungannya. Selama ini yang dominan adalah menempatkan manusia sebagai penguasa dan pusat dari tatanan alam semesta . , manusia merasa bebas memanfaatkan lingkungan bahkan mengeksploitasi tanpa memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan (Muhaimin, 2. Berbagai permasalahan lingkungan seperti: pemanasan global, penipisan lapisan ozon, hujan asam, perubahan iklim yang tidak menentu, kerusakan lingkungan, krisis sumber daya alam, pencemaran lingkungan, desertifikasi, penurunan keanekaragaman hayati, kebakaran hutan, deforestasi, kekeringan, banjir, erosi, intrusi air laut, dan sebagainya yang terjadi dalam skala lokal, nasional dan global merupakan permasalahan bersama yang harus ditanggulangi secara kolektif (Muhaimin, 2. Perlakuan manusia terhadap alam sangat ditentukan oleh pandangan atau pendekatan manusia terhadap alam itu sendiri (Riza, 2. Kesadaran untuk mencintai dan melestarikan lingkungan hidup di bumi ini harus ditanamkan sejak dini, dipupuk sejak kecil, agar tertanam kuat hingga dewasa dan dapat diaplikasikan secara kontinyu dalam kehidupan sehari-hari (Septiarini, 2. Pendidikan bertujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan dalam rangkaian pengembangan sumber daya manusia yang bermutu (Hamalik, 2. sejalan dengan pendapat tersebut pengembangan kurikulum menjadi bukti besarnya keinginan pemerintah untuk menjadikan setiap warganya dapat menjadi modal pembangunan (Amrullah. Ibrahum, & Widodo, 2. Pendidikan dipercaya memiliki peran yang strategis untuk menumbuhkembangkan kepedulian lingkungan, nilai, moralitas, dan keterampilan yang mendukung terhadap pembangunan berkelanjutan, yang pada akhirnya menciptakan perilaku-perilaku yang efektif untuk berpartisipasi dalam mewujudkan kelestarian lingkungan (Maryani, 2. Membangun etika, tanggung jawab, kearifan, kesadaran, kecerdasan ruang harus ditransformasikan secara berstruktur, konsisten, dan kesinambungan dalam suatu sistem yang melembaga yaitu dunia pendidikan. Pendidikan mempunyai tugas mulia dan menjadi fondasi yang penting bagi pengembangan intelektual, emosional, kultural, dan sosial peserta didik. Tujuan pendidikan yang hakiki adalah menumbuhkembangkan cara berfikir, bersikap, dan berperilaku yang bertanggungjawab selaku individual, warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia. Melalui dunia pendidikan, peserta didik dapat diperkenalkan dengan masalah-masalah nyata yang terjadi di sekitar kehidupannya sehari-hari. Peserta didik perlu memahami bahwa setiap manusia, termasuk peserta didik itu sendiri, ikut menjadi penyebab terjadinya berbagai masalah yang terjadi di muka bumi dan perlu memahami akan pentingnya pembangunan berkelanjutan untuk dapat menopang keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di masa yang akan datang (Septiarini, 2. Mata pelajaran IPS merupakan program pengajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di Siswa diharapkan memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi masalah yang di hadapinya sendiri maupun yang terjadi di masyarakat (Pertiwi. Japa, & Suartama. Hal ini sejalan dengan pembelajaran yang menghadirkan permasalahan lingkungan hidup dalam kehidupan di sekitar siswa. IPS pada dasarnya merupakan rekonstruksi sosial yang dihadirkan dalam dunia pendidikan dan pembelajaran (Muhaimin, 2. Dengan belajar secara langsung dan menganalisis berbagai fakta, peristiwa, dan permasalahan sosial masyarakat siswa dapat membentuk kerangka berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial. Model pembelajaran inovatif untuk menumbuhkan aktivitas siswa guna mengenal kebudayaan dan masalah lokal pada pembelajaran IPS yakni model pembelajaran berbasis masalah atau yang lebih dikenal dengan Problem Based Learning (Pertiwi et al. , 2. PBL adalah proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang akan diperlukan dalam kehidupan nyata. Amir . memberikan pendapat bahwa PBL juga dimaknai sebagai model pembelajaran yang menantang siswa agar belajar, bekerjasama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah . untuk mengetahui cara meningkatkan pembelajaran IPS melalui pembelajaran berbasis masalah. untuk mengetahui apakah pemebelajaran IPS berbasis masalah dapat meningkatkan motibvasi belajar siswa. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi Desain eksperimen yang digunakan adalah kuasi eksperimen Nonequivalent Control Group Pretest-posttest Design dimana kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Teknik pengumpulan data terdiri dari tes kemampuan memecahkan masalah sosial. Untuk instrumen pelengkap, digunakan lembar observasi, angket tanggapan siswa, dan pedoman wawancara dengan guru. Penelitian ini berlokasi di Mts Negeri Sumber Bungur Pamekasan 3. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa dan siswi kelas VII Mts Negeri Sumber Bungur Pamekasan 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Melalui Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learnin. , pembelajaran diarahkan pada cara peserta didik memecahkan masalah. Dengan mengetahui bahwa dampak dari perilaku yang peserta didik lakukan setiap hari dapat menciptakan masalah dan gangguan pada kelestarian lingkungan, peserta didik diharapkan dapat memiliki kompetensi ekologis yang baik. Pencapaian kompetensi ekologis ini diharapkan dapat mengubah perilaku para peserta didik secara bertahap ke arah yang lebih baik, menjadikan peserta didik sebagai warga negara yang baik sebagaimana menjadi tujuan utama mata pelajaran IPS dan pada akhirnya terciptalah generasi-generasi muda emas yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungannya. Penggunaan model pembelajaran berbasis masalah bisa menutur siswa aktif dalah pros pembelajaran dikelas. Untuk memahami materi yang sedang disampaikan guru, siswa diminta memecahkan sebuah masalah yang dihadapai dan dengan menerapkan model pembelajaran ini dapat membangun siswa memperoleh pengetahuan sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan keterampilan dalam menyelesaikan masalah. Model pembelajaran berbasis masalah sangat penting untuk menjembatani gap antara pembelajaran di sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpaidi luar sekolah. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis masalah memiliki implikasi sebagai Mendorong kerja sama dalam menyelesaikan tugas Memiliki elemen-elemen belajara magang, hal ini mendorong pengamatan dan dialog dengan orang lain, sehingga secara bertahap siswa dapat memahami peran orang yang diamati atau yang diajak berdialog . lmuan, guru, dokter dan sebagainy. Melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri, sehingga memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahaman terhadap fenomena tersebut dengan mandiri. Di dalam IPS terdapat kecakapan mengolah dan menerapkan informasi merupakan keterampilan yang sangat penting untuk mempersiapkan menjadi warga negara yang mampu berpartisipasi secara cerdas dalam masyarakat demokrasi. Oleh karena itu berikut keterampilan yang diperlukan sehingga menjadi menjadi unsur dalam dimensi IPS dalam proses pembelajaran, yaitu: Keterampilan meneliti Keterampilan berfikir Keterampilan berfikir social Keterampilan berkomunikasi. Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusus pengetahuan mereka sendiri tentang dunia social dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks. Proses pemebelajaran yang dilakukan oleh guru dengan melibatkan siswa sebagai objek ternyata membuahkan hasil. Siswa sangat antusias dalam menganasis masalah dan cara penyelesaiannya yang baik. Sehingga kemandirian dan rasa kepercayaan diri siswa dengan diterapkannya model pembelajaran berbasis masalah. Adapun sintaks pembelajaran berbasis masalah dalam penelitian ini berdasarkan sintaks yang dirumuskan oleh Hadi dan Nur (Trianto, 2009:. Pada pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 . langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian analisis hasil kerja siswa. Kelima langkah tersebut dijelaskan berdasarkan langkah-langkah pada Tabel 1 berikut ini: Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah Tahap Tingkah laku guru Guru pembelajaran, menjelaskan logistik Tahap-1 fenomena atau demonstrasi atau cerita Orientasi siswa kepada masalah memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih. Guru Tahap-2 Mengorganisasikan siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang Guru mendorong siswa untuk Tahap-3 Membimbing penyelidikan sesuai, melaksanakan eksperimen, individual maupun kelompok untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Guru Tahap-4 merencanakan dan menyiapkan karya Mengembangkan dan menyajikan yang sesuai seperti laporan, video, dan hasil karya model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan penguasaan konsep IPS dan kemampuan memecahkan masalah sosial siswa. Sehingga dapat dinyatakan bahwa penguasaan konsep IPS dan kemampuan memecahkan masalah sosial siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Peningkatan yang terjadi di kelas eksperimen lebih baik dikarenakan model pembelajaran berbasis masalah menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah, sehingga siswa akan mempelajari bagaimana memecahkan masalah dan siswa bisa menggali pengetahuan mereka sendiri secara mandiri dalam meningkatkan penguasaan konsep IPS mereka. Melalui pembelajaran berbasis masalah peran tradisional guru dan siswa mengalami perubahan. Siswa menjadi menjadi lebih bertanggungjawab dan lebih termotivasi dengan perasaan yang lebih baik dan lebih berprestasi, membentuk pola bagi mereka untuk menjadi pebelajar yang sukses selamanya, menjadi praktisi yang lebih baik bagi profesi Pembelajaran menjadi relevan dan autentik, pembelajaran yang bermanfaat bagi masa depan mereka kelak, dan melalui PBM dipromosikan cara berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. belajar berbagai peran orang tua dengan melibatkan mereka dalam pengalaman nyata atau dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Selain itu untuk melengkapi pernyataan di atas. Sudjana dalam Trianto . juga menyatakan bahwa manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya. Wina Sanjaya, . juga menyatakan bahwa di antara kelebihan pembelajaran berbasis masalah adalah pemecahan masalah . roblem solvin. dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata, dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan, dapat mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya, dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa, dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru, dan pemecahan masalah . roblem solvin. dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. Sementara itu Svipack et. Al. Weisberg. Gesten. Raptin et. al, dalam Paul A Toro . menyatakan bahwa AuThe Ability to Generate Alternative Solutions is a Focal Social Problems Solving Skills for Elementary School Aged ChildrenAy (Kemampuan untuk menghasilkan solusi alternatif adalah fokus kemampuan memecahkan masalah sosial bagi anak usia sekolah dasa. SIMPULAN Berdasarkan pada hasil penelitian tentang peningkatan citra pembelajaran IPS berbasis masalah, maka diperoleh simpulan sebagai berikut: Pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru melalui diskusi kelompok kecil melalui tahap orientasi siswa kepada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya pemecahan masalah, dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan Siswa lebih menguasai konsep IPS dan memiliki kemampuan memecahkan masalah social, serta citra pembelajara IPS berbasis masalah memotivasi siswa dalam pembelajaran di kelas. REFERENSI