Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU Echi Amianu Pendidikan Agama Katolik. STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Email : echi112101@gmail. Agnes Angi Dian Winei STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Fransiskus Janu Hamu STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Abstract. Kalimantan is a multicultural area with natural integration, so that it is always connected to the cosmos naturally. With instincts as homo-religion, the people of Kalimantan use nature as a mediation to present a transcendent specifically to local metacosmic elements which is pejoratively called Animism. One sample of this animism is Keramat Abeh of Dayu Village in the Miwit Abeh ritual, in which the original Ma'anyan Dayak people of Dayu village believe in the superpower of this ancestor both historically and empirically. However, the presence of Christian soteria also touched the population, so that many generations were born with culture and raised by religion. Often the new generation, which still has a narrow and tendentious perspective, thinks that animist rituals are taboo, and vice versa, those who were brought up by culture also think that Christianity is just the same means without any privileges. From here, there is ambivalence and indecision in viewing cultural traditions and it is not uncommon for inequality to occur in the portion of cultural and religious life due to narrow local This study aims to see . how Christianity views local animist rituals and cultural views of animist rituals towards Christianity, . how the enculturation of the Church understands and carries itself appropriately in animist rituals without friction. Data obtained through interviews, observation and literature study. The results of the research . Christian and cultural perspectives show that there is no deviation between these two aspects, they have similarities in appearance even though they are composed of conceptual differences, . The way to understand and learn from each other is through extensive dialectical complexity accompanied by the implications of morality in action, that is the packaging in Enculturation of the Faith against animism. Keywords: Enculturation of Faith. Animism Received Juli 07, 2022. Revised Agustus 2, 2022. September 22, 2022 * Echi Amianu, echi112101@gmail. ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU Abstrak. Kalimantan merupakan wilayah multikultur dengan integrasi alam, sehingga selalu berkoneksi dengan kosmos secara natural. Dengan naluri sebagai homo-religio , masyarakat Kalimantan menjadikan alam sebagai mediasi untuk menghadirkan suatu transenden secara khusus pada unsur metakosmis lokal yang secara peyoratif disebut Animisme. Salah satu Sample dari animisme ini ialah Keramat Abeh Desa Dayu dalam ritual miwit Abeh, dimana masyarakat dayak maAoanyan orisinal desa Dayu meyakini adikuasa dari leluhur ini secara historik maupun empirik. Namun kehadiran soteria kristiani juga menjamah Penduduk , sehingga banyak generasi yang lahir dengan budaya dan dibesarkan oleh agama. Kerap kali generasi baru yang masih memiliki perspektif yang picik dan tendensius ,mengangap bahwa ritual animisme merupakan hal yang tabu, begitu pula sebaliknya mereka yang dibesarkan oleh budaya juga mengangap kristiani hanya sarana yang sama tampa keistimewaan. Dari sini terjadilah ambivalensi dan kebimbangan dalam memandang Tradisi budaya dan tidak jarang terjadi ketimpangan dalam porsi kehidupan berbudaya dan beragama karena sempitnya wawasan lokal. Penelitian ini ditujukan untuk melihat . Bagaimana pandangan kristianitas terhadap ritual animisme lokal dan pandangan budaya ritual animisme terhadap agama kristianitas ,. Bagaimana enkulturasi Gereja dalam memahami dan membawa diri secara tepat dalam ritual animisme tampa pergesekan. Data diperoleh melalui wawancara , observasi dan studi literatur. Hasil penilitian . perspektif kristiani dan kultural menunjukan tidak ada deviasi antara kedua aspek ini mereka memiliki kesamaan rupa meskipun tersusun oleh perbedaan konseptis, ( 2 ) Jalan untuk saling memahami dan belajar ialah melalui kompleksitas dialektik yang ekstensif diiringi dengan implikasi moralitas dalam tindakan itulah kemasan dalam Enkulturasi Iman terhadap animisme. Kata kunci: Enkulturasi Iman. Animisme LATAR BELAKANG Manusia pada hakekatnya merupakan mahluk yang bebas dan independen sehingga secara rasio instingtif , manusia memiliki alasan untuk berekspresi luas dalam menciptakan, membentuk dan menentukan kehidupan yang dimilikinya. Namun keistimewaan yang dimiliki manusia itu juga terkadang beriringan dengan naluri manusia yang secara alamiah selalu mencari dan merunjuk pada sesuatu yang melampaui kodrat Nya . sehingga terbentuklah unsur religius (Wattimena, 2. Selain itu manusia adalah mahluk yang mampu mengembangkan action ( tindakan ) dan behavior ( kelakuan ) dengan maksimal berdasarkan keperluan hidup. Karenanya menurut Koentjananinggrat Aumanusia terbentuk melalui pengaruh dari akal budi Aydan akal budi itulah yang merangkai dan mendesain sistem hidup manusia baik secara interpersonal , interaksi dengan alam , hingga pada hal yang melampaui kodrat, dan semua itu diramu dalam pengejawantahan Budaya (Koentjoraningrat, 2. Budaya dan Agama merupakan 2 pilar kehidupan yang selalu beriringan . Berdasarkan Laporan Willowbank dari komite Lausanne Ay Kebudayaan merupakan sistem terpadu yang memuat kepercayaan, nilai , dan adat-istiadat yang membentuk jati diri , martabat , keamanan, dan kontinuitas hidup Ay, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa budaya memiliki koherensi dengan agama itu sendiri. Namun, jika masuk lagi dalam konteks Asia pada dunia ketiga tentu akan diperhadapkan dengan pluralistis yang pekat baik dari segi linguistik, kultur maupun pola hidup sehingga banyak memicu diversitas religio-kultural yang esoteris. Sisi Kekhususan ini terfokus pada regio-kultur SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 asia yang terintegralisasi dengan unsur kosmik seperti elemen-elemen alam yang selalu dibutuhkan sekaligus ditakuti oleh manusia dan itulah yang dipercaya khalayak sebagai kekuatan kosmis , dalam psikologis humanis reaksi ini disebut sebagai Homo religius dimana hasrat dan rasa kereligiusan merupakan hal yang kodrati. Dalam risetnya pada Teologi pemerdekaan asia Aloysius Pieris mengatakan bahwa kepercayaan dan integrasi pada kekuatan Alam disebut sebagai Auagama kosmisAy yang secara peyoratif disebut Animisme (Pieris, 1. Jika diselisik secara ekstensif kedalam ranah regional dan ditinjau lebih spesifik pada kultur Dayak maka relevanlah apa yang maksudkan dengan aninisme itu. Menurut (Riswanto , 2. Suku dayak Merupakan etnik orisinil yang mendominasi teritori Kalimantan dan terdiaspora hampir menempati seluruh wilayah Kalimantan, namun secara demografis hanya ada dua wilayah di pulau Kalimantan yang dihuni oleh mayoritas suku Dayak, yaitu wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Suku Dayak di wilayah Kalimantan Tengah memiliki karakteristik kebudayaan yang khas hal ini dapat dilihat dari pola hidup mereka yang menyatu dengan alam, khususnya hal ini dapat dilihat dalam kehidupan supranatural yang ada didalamnya menurut (Darmadi, 2. Penulis melakukan riset dengan memakai Pendekatan kuantitatif deskriptif dengan berbagai elaborasi mulai dari study literatur/studi pustaka, wawancara , hingga observasi dan visitasi lapangan untuk menggarap informasi yang diperlukan. Penulis membatasi populasi animisme Dayak dalam sampel Animisme Keramat Abeh Dayak maAoanyan Desa dayu sebagai refresentatif metakosmis lokal karenanya riset ini akan terfokus pada bagaimana sikap gereja dalam memahami Animisme khususnya Keramat Abeh Desa dayu, sehingga Penulis membingkai semua itu dalam risetAu ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYUAy. LITERATUR REVIEW Sececah Tentang MaAoanyan Dayak Maanyan berdasarkan naratif saga lokal secara etimologis dikaji melalui diksi Ma dan Anyan, yang Berarti menuju Tanah Datar sehingga dapat dikatakan bahwa leluhur suku MaAoanyan adalah sekelompok nomaden yang menuju tanah datar . Jika ditinjau lagi kedalam tataran demografis, di dalam bukunya Koentjaraningrat mengatakan dayak Ma'anyan terdispora di pelbagai wilayah Borneo, mulai dari Barito Selatan, yaitu di pinggir timuf Sungai Barito, terkhusus pada cabang sungainya seperti Telang . Patai. Dayu dan Karau. Di Timur, daerah suku-bangsa Ma'anyan bersentuhan dengan wilayah orang Banjar dari daerah Hulu Sungai dari Propinsi Kalimantan Selatan. di barat berbatasan dengan suku Bakumpai , dan orang Banjar dari daerah Hulu Sungai dari Sungai Barito. di selatan dibatasi tanah paya-paya di selatan Sungai Patai, dan di utara sampai ke Sungai Ayu di sebelah utara Buntuk . bu kota Kabupaten Barito Selata. daerah aliran sungai-sungai Karau dan Ayu, orang Ma'anyan banyak bercampur dengan suku-bangsa Dayak lain, yaitu suku-bangsa I-awangan, yang memang sudah mendiami wilayah itu sebelum orang Ma'anyan memasukinya (Koentjaraningrat, 2. Dalam kehidupan berkoloni Dayak Maanyan menggunakan tradisi lisan sebagai sarana yang sekaligus yang memainkan peran utama dalam tatanan hidup mereka menurut (Diman, 2. , hal ini juga searus dengan konteks dan ranah Dayak Maanyan yang selalu mewariskan segala sesuatu secara pragmatis melalui tradisi lisan hal ini dapat dilihat dari pewarisan budaya yang cenderung subjektif karena praktis dan lisan yang tentu secara tidak langsung mempengaruhi corak kultur yang ada didalamnya mulai dari ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU seni, alat bahasa ,religius, hingga pola kehidupan yang konservatif dan lokalis , hal ini juga relevan dengan yang dikatakan tokoh budaya berindisial (K. N) yakni budaya dayak maAoanyan akan hilang digerus oleh zaman jika generasi sekarang tidak memiliki minat untuk meneruskannya melalui edukasi budaya . radisi lisa. Penyaluran melalui tradisi lisan ini juga secara langsung bersentuhan dengan kehidupan rohaniah masyarakat dayak maAoanyan yang secara beregenerasi teramplifikasi secara lisan dari keturunan ke keturunan , khususnya kepercayaan terhadap hal yang transenden karena mereka menganggap hal itu adalah bagian integral dalam kehidupan mereka yang diyakini memiliki fungsi untuk keberlangsungan tatanan kehidupan, dan hal ini dikonsepkan dalam kepercayaan keharingan yang merupakan agama autentik Dayak. Apa itu animisme dan bagaimana Ritual Animisme dalam Dayak maAoanyan ? Animisme diadopsi dari bahasa latin anima yang berarti AurohAy. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Animisme diartikan sebagai kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda. Dan Menurut Caroline Pooney Animisme merupakan keyakinan terhadap makhluk gaib dan roh-roh adikuasa, yang mayoritasnya didominasi oleh bangsa-bangsa yang belum terjamah oleh soteriologi samawi (Pooney, 2. Lalu dalam risetnya juga Afandi mengatakan Animisme adalah kepercayaan kepada mahluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini mempunyai jiwa yang mesti di hormati agar Jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari petaka dan roh jahat serta dalam kehidupan seharian mereka (Afandi, 2. Serta dalam bukunya Raymundus mengatakan animisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda itu berjiwa dan berspirit serta berkekuatan yang dapat memengaruhi manusia secara langsung dan tidak langsung, namun kekuatan itu dapat di kontrol oleh manusia (Blolong, 2. Sehingga dapat dikatakan bahwa Animisme merupakan kepercayaan kepada Roh, dan mahluk supranatural yang diyakini memiliki kekuatan yang berguna untuk kehidupan, dan kuasa itu termuat dalam maujud tertentu . enda keramat, mahluk hidup, hingga unsur alam lainny. Jika hal ini dikaitkan secara spesifik pada Dayak MaAoanyan maka akan mengerucut pada seremoni lokal yang adikodratif, dimana kultur dan kesahajaan masyarakat dayak maAoanyan selalu menyatu dengan natural , dan secara tidak langsung mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap sesuatu, hal ini dibingkai dalam agama Didalamnya agama pribumi ini terdapat ritus dan upacara keagamaan yang bersifat supranatural dan gaib. didalam bukunya Koentjaraningrat mengatakan Umat Kaharingan percaya bahwa alam sekitar hidup mereka itu penuh dengan mahluk-mahluk halus dan roh-roh (MaAoanyan disebut kame/ala. yang menempati tiang rumah, batu-batu besar, pohon-pohon besar, hutan belukar, air , serta segala unsur alam disekeliling area pemukimam (Koentjaraningrat, 2. Berdasarkan cerita rakyat (MaAoanyan disebut tanuhu. Menurut tempat tinggalnya dan kekuatannya, mahluk supranatural itu mempunyai Gelarnya masing-masing , yang secara harafiah dapat dibagi ke dalam tiga klasifikasi , pertama ada Allah tala / Ranying Hatalla Langit . Bawin Jata Balawang Bulau, serta beberapa pembantunya yang diyakini bertempat pada wilayah yang tidak mampu dijangkau yakni surga dan merupakan yang tertinggi, kedua yaitu golongan rohroh baik (MaAoanyan disebut Hengau,alimu maAoeh,amirue datu/roh leluhu. yang bisa terikat di dalam raga seseorang yang memiliki khodam maupun tempat tertentu khususmya dalam atribut manas/maonyan saramen, dan terakhir golongan roh-roh jahat (MaAoanyan disebut adiau,bajat,tuntin ds. yang dipercaya bersemayam di pepohonan tua. SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 gedung tua/berprasejarah, hutan , hingga berkeliaran bebas dan hidup berdampingan dengan manusia. Dilihat dari pola dan kerangka hidupnya dayak maAoanyan yang selalu menyatukan sesuatu pada hal yang melampaui jangkauan kodrati untuk mendampingi hidup mereka, maka animisme dalam dayak maAoanyan selalu mengacu pada bagaimana masyarakat lokal menjadikan suatu yang supranatural dan magis menjadi bagian dalam kehidupannya yang secara bersamaan memainkan peranan penting di dalamnya baik sebagai anutan, sandaran , hingga penopang hidup. Dan hal ini termuat dalan upacara, ritual serta praktik okultisme yang selalu dilakukan dalam waktu dan sutuasi tertentu baik kepada leluhur. Tuhan/Allah tala , dan kelompok roh lainnya . Hal ini juga sesuai dengan yang dikatakan Syamsir Salam, dalam buku: Agama Kaharigan: Akar-Akar Budaya Suku Dayak di Kalimantan Tengah yakni Kepercayaan yang berlaku umum dan lumrah dalam masyarakat Dayak adalah roh para leluhur, di mana orang-orang percaya dengan mahluk gaib dan menjadikan itu sebagai bagian integral dalam hidup mereka melalui praktik yang bersifat magis (Salam, 2. Apa itu Ritual keramat Abeh dayak maAoanyan desa dayu ? Kronik Singkat Desa Dayu Disinyalir dari (Bartim, 2. Desa Dayu merupakan desa sentral dari Provinsi Kalimantan Tengah, kabupaten Barito Timur . Kecamatan Karusen Janang. Berdasarkan cerita rakyat Awalnya Desa Dayu dikenal dengan sebutan Mawuntu. Mawuntu berasal dari kata Mawitu dalam bahasa MaAoanyan yang berarti lurus. Desa ini dibangun setelah Kerajaan Nansarunai hancur oleh invansi Maja Pahit dan rakyatnya tersebar ke berbagai wilayah yang dari antaranya adalah kelompok perintis desa dayu. Hingga pada suatu saat ada petunjuk melalui mimpi para pendiri yakni memandu lurus untuk berjalan menuju daerah yang memiliki 2 sungai dengan air berwarna Jernih dan merah yang berbatasan dan inilah yang menjadi petunjuk tempat kediaman mereka yang baru. Sehingga mereka mendatangginya, ternyata wilayah yang sesuai harapan dan dalam wilayah itu terbagi menjadi 2 pembagian yakni amungin dan mawuntu . Namun setelah beberapa lama terjadi insiden didesa Mawuntu yakni mereka diserbu oleh koloni semut rangrang dengan kuantitas besar sehingga memaksa kelompok ini berpindah lagi . Namun terjadi kontradiksi sebagian kebratan untuk pindah dan sebagiannya setuju. Sebagian berkata AuHayuAy atau ayo Sebagian lagi berkata AuAdaAy atau jangan. Sehingga dari dua kata tersebut. AuHayu dan AdaAy, terbentuklah nama Dayu. Desa Dayu memiliki tokoh legenda yang diyakini sebagai pelindung tokoh ini bernama Abeh. Tokoh Abeh adalah tokoh yang dianggap suci dan keramat oleh masyarakat desa Dayu. Dan setiap tahun pada tanggal 10 di bulan Juli akan diadakan ritual AuMiwit AbehAy yang berlangsung selama 7 hari diiringi dengan persta dan kurban. Ritual ini berlangsung sejak tahun 1957 untuk menghormati pelindung desa Dayu tersebut. Deskripsi Riwayat Abeh Berdasarkan cerita saga yang beredar dimasyarakat dayu . Pada zaman tokoh ini Desa Dayu masih hidup dirongrong dan dihantui oleh dari pihak lain dari luar beripa ancaman dan cekaman, hingga desa Dayu meminta bantuan Patis Layang dan Patis Burung . anglima daya. untuk mencari pelindung baru sama seperti masa saat dalam naungan kerajaan Nansarunai. Kemudian, dua Pria itu bersemedi pada Sang Hiang Madu Wasa/Tuhan agar memohon sosok yang mampu menjaga kampung halaman. Pada saat kedua Orang itu bermohon pada sebuah pohon tinggi ternyata secara mengejutkan mereka mendapati seekor Manu Jagau merah sepuh dan saat mereka mau menangkapnya sangatlah sulit. Mala berdoa lagi mereka, dan berlahan Manu/ayam tersebut menemui ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU mereka sehingga dapat mereka tangkap tepatnya diatas pohon tinggi tadi. Setelah turun dari pohon. Manu/ayam tadi tiba-tiba berkonfigurasi menjadi Bayi lalu dinamai Damung Uluy Undru. Bayi itu kemudian terus Bertumbuh , hingga meminang seorang dan mempunyai anak cucu. Menurut kesaksian seorang tokoh adat Berindisial (K. mengatakan Abeh adalah manusia Biasa yang diberi kurnia, dalam perjalanan hidup tokoh ini sangatlah baik dan sangat loyal dalan hal keagamaan khususnya agama pribumi dan tokoh ini dikatan beliau sebagai sosok ayah yang baik karena berhasil menuntun anak,cucunya menuju kebajikan hidup. Seiring berjalannya waktu. Damung Uluy Undru Yang semakin tua pada saat anak cucunya berangkat ke ladang, tiba-tiba badai hujan bersama dengan kilat guntur terjadi. Kala itu Damung Uluy Undru sedang menganyam Namun ketika Keluarganya pulang dari ladang mereka kebingungan mencari Kakek mereka, hingga didapati mereka sebuah patung menyerupai manusia terkapar pada Taju/guci . Mereka pun Berkata :Auhen iti Datu/BuyutAy dan mereka menamai peristiwa itu Abeh . sehingga gelar Abeh diketahui hingga pada apa dikenal saat ini. Jadi Abeh bukanlah nama melainkan gelar konon katanya Nama abeh pamali untuk disebut. Lalu setelah tragedi malamnya masyarakat datang karna peristiwa tak biasa itu. Warga bertanya-tanya bagaimana seorang manusia bisa menjadi patung. Sehingga Salah satunya dari anaknya tertidur dan mendanpatkan visiun/penglihatan dalam mimpinya. Damung Uluy Undru harir melalui mimpi itu lalu menerangkan kebenaran peristiwa itu karena ia memang berubah menjadi patung kemudian Ia berjanji akan menjaga Desa Dayu. berpesan takala masyarakat Dayu mau bertemu dengannya harus membuat upacara khusus dan harus menyebut Ia dengan gelaran Abeh . Sehingga ritual Miwit Abeh selalu dilaksanakan rutin setiap tahun sebagai tradisi yang diwariskan. Gambar 1. Potret Patung Keramat Abeh . ttps://folksofdayak. com/20 18/03/11/abeh-pantheon-desa-dayu/) Gambar 2. Potret Balai keramat Abeh . ttps://folksofdayak. m/2018/03/11/abeh-pantheon-desadayu/) Mekanisme Ritual Keramat Abeh Berdasarkan dari beberapa wawancara dan obsevasi yang dilakukan penulis terhadap beberapa tokoh adat Khuusnya Mantir berindisial (K. N) dan beberapa awam Ritus Keramat abeh AuMiwit AbehAy Berasal dari kata tunggal Miwit yang berarti memberi makan/memberi hidup. Ritual dilaksanakan secara berkala setiap tahun tepatnya pada bulan Juli tanggal 10 , namun sebelum Ritual akan diadakan perta adat serta kurban sebegai bentuk persiapan akan penyambutan penurunan Abeh. Pra-ritual itu akan dilaksanakan selama 7 hari yang akan di isi oleh beberapa ritus lokal keharingan seperti ritual persiapan belian dengan kiat tertentu yang diiringi dengan musik tradisional, seperti kenong, agung, dan beberapa alat musik perkusi tradisional. Pesta-pesta yang SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 bermakna untuk memberi nuansa kegembiraan menjelang penurunan Abeh pesta ini seperti perjudian, tari tradisional,tarung ayam dll. Hingga pada muaranya akan diadakan upacara kurban binatang ternak sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih akan bantuan sosok adikodratif ini. Upacara Penurunan akan dilaksanakan pada hari yang ketujuh yang akan dipusatkan pada Balai/tempat bersemayamnya patung Abeh ini , sosok yang dipercaya untuk menurunkan Abeh dari kediamannya Ialah seseorang yang memiliki garis keturunan dengan Abeh itu sendiri, dan hal itu bisa dilihat secara Patrilineal maupun Matrilineal sehingga tidak sembarang orang yang dipercaya untuk membawa Abeh, karena jika tidak demikian konon katanya akan terjadi hal magis di area Gambar 3. Potret ritual Keramat Abeh Gambar 4. Potret ritual Keramat Abeh Apa itu Enkulturasi dalam Gereja Katolik ? Enkulturasi dalam KBBI berarti AupembudayaanAy kemudian (Havilland, 1. mengartikan enkulturasi adalah kegiatan edukasi yang dilaksanakan seseorang yang bersumber dalam masyarakat dengan adat kebiasaan pokoknya sehingga pada masa dewasa menciptakan kepribadian tertentu. Lalu Adamson Hoebel mengatakan enkulturasi adalah keadaan seseorang menginternalisasi hasil kebudayanya dalam kehidupan (Tri Widiarto, 2. Enkulturasi yaitu pengolahan edukasi budaya dalam waktu jangka panjang dengan didukung oleh pengaruh pendidikan formal maupun pendidikan non formal yang berjalan secara tidak sengaja. (Baker, 2. Arti enkulturasi adalah bagian daripada proses sosial yang dilakukan individu dan kelompok terkait pembelajaran budaya sebagai anggota masyarakat tertentu. Sehingga dapat dikatakan Enkulturasi adalah proses yang dilakukan individu/komunitas dalam memahami dan mengasimilisasi pikiran serta sikapnya dengan lingkungan hidup seperti kultur . Norma hidup , tatanan sosial, serta perubahan taraf Hal ini juga sesuai dengan yang dikatakan Koentjoroningrat Enkulturasi adalah konsep pemersatu masyarakat dengan lingkungan yang secara harfiah disamakan dengan proses pembudayaan . dan memiliki nilai otonom (Koentjaraningrat, 2. Kilasan Enkulturasi dalam sejarah Gereja Segala unsur dalam gerejawi baik romania maupun konstatnopel merupakan hasil dari pemahaman akan budaya Yahudi yang merupakan ranah utama dari karya keselamatan Allah karenanya hal itu adopsi dalam bentuk dan citra gereja Kristiani saat ini namun dengan impresi yang baru khususnya dalam aspek liturgis. sehingga sesuailah yang dikatakan Hoffman dalam bukunya bahwa Liturgi Gereja berakar dari tradisi religius Yahudi (Hoffman, 1. Yesus dan para murid menghadirkan tradisi agama Yahudi dengan segala simbolisasinya. dimana unsur simbolik-liturgis dari tradisi Yahudi dipergunakan Yesus sebagai sarana karya-Nya. Begitu pula Gereja Perdana yang merayakan ibadatnya dengan sistesis dari simbol religi Yahudi. Hanya saja, seluruh unsur ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU simbolik-liturgis Yahudi itu di rancang dalam bentuk baru menurut terang Misteri Paskah Yesus Kristus. Seperti yang dinyatakan (Martasudjita, 2. dalam risetnya bahwa segala tata ruang, tata waktu, tata gerak, struktur doa dan berbagai unsur simbol liturgis dari tradisi Yahudi memperoleh makna baru dalam terang Misteri Paskah Kristus. Hal ini dapat dilihat dari, berbagai ritus dalam agama katolik yang selalu bernuansa Yahudi ,namun hal ini diperbaharuhi dengan pemaknaan yang baru dengan kehadiran Yesus Kristus. Sehingga jika Yesus dikatakan memahami dan membawa diri dengan budaya Yahudi yang merupakan panggung karya keselamatan-Nya hal itu tepat, karena Yesus berkarya dengan memahami lingkungan sekitarnya bahkan membawa lingkungan sebagai sarana dalam karya keselamatannya, contoh yang dinyatakan (Martasudjita, 2. yakni Pada Perjamuan Malam Terakhir. Yesus menggunakan simbol-simbol dari tradisi perjamuan paskah Yahudi. Ia menggunakan roti dan anggur yang bahkan menjadi materia utama untuk sakramen Ekaristi kita. Yesus juga menggunakan doa dan struktur doa berkat dalam tradisi perjamuan paskah Yahudi. Bagaimana Enkulturasi dalam kitap suci dan perspektif Gerejawi Dirujuk dari konstitusi Liturgi Vatikan II No. 37-40 AuPada ( Luk 24:27 dan . Hukum Musa, kitab nabi-nabi, dan mazmur adalah persiapan untuk kedatangan Putra Allah di bumi. Alkitab Perjanjian Lama, yang berisi hidup dan kebudayaan bangsa Israel, juga merupakan sejarah keselamatan. Pada kedatangan-Nya di dunia. Putra Allah, yang Aulahir dari seorang perempuan, dan hidup di bawah hukumAy (Gal 4:. memadukan Diri dengan situasi sosial dan budaya Umat Perjanjian. Dengan mereka Ia hidup dan berdoa (AG, . Dengan menjadi seorang manusia. Ia menjadi anggota suatu bangsa, anggota suatu negara serta zaman dan dalam cara tertentu. Ia menyatukan Diri dengan seluruh bangsa manusia (GS, . Sebab Aukita semua satu dalam Kristus, dan kodrat kemanusiaan kita sama-sama beroleh hidup dalam Dia. Oleh karena inilah Ia disebut AoAdam Baru (PG. Karenannya Allah mengutus Yesus ke dunia bukan tanpa alasan. Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 4:10 menunjukkan tujuan kedatangan Yesus dalam kemanusiaan-Nya yaitu untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutusNya (Yoh. Namun disamping adanya tugas perutusan. Kristus juga secara tidak langsung terintegrasi dengan profan bersama dengan unsur didalam melalui inkarnasi , sehingga melalui itu Yesus tentu harus mampu mengkontekstualisasi segala hal dengan sikap dan penempatan diri yang tepat berdasarkan pemahaman yang baik terhadap sistem kehidupan yang dimiliki-Nya. Inilah yang juga disebutkan dalam dokumen KV II Gaudium Et Spes sebagai penyatuan kemanusiaan Kristus dengan Dunia khususnya dalam (GS, . tentang Allah yang mewahyukan diri-Nya sepenuhnya dalam Putra-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman. karenanya Gereja pula dalam sepanjang zaman hidup dalam pelbagai situasi, dan telah memamfaatkan beraneka sumber budaya dalam memahami jemaat yang beragam. Dalam penilitiannya (Kuncoro, 2. mengatakan bahwa Paulus juga menunjukan berbagai strateginya dalam memahami medan perutusannya dengan kebebasan yang dimilikinya, sehingga Ia bebas juga untuk menjadi hamba setiap orang demi pewartaan. Dalam 1 Korintus 9:19-22. Pada ayat 19 Paulus berkata: AuSungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orangA. Ay Dalam ayat ini, penggunaan kata eleutheros memiliki makna bebas dan disusul dengan antonim hamba. Tujuan Paulus untuk menjadi hamba dan melepaskan kebebasannya adalah demi keberhasilan pekabaran Injil kepada banyak orang sekalipun berbeda Sehingga dari militansi Paulus Gereja juga mengutip bahwa harus menghormati kebudayaan, tetapi sekaligus juga mengundang kebudayaan tersebut untuk memurnikan SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 dan menyucikan dirinya , karena rahmat keselamatan itu berlaku secara universal meskipun dan perwujutan yang berbeda. Tapi bukan berarti gereja sepenuhnya bisa memadukan unsur budaya dalam persatuan penuh . Gereja bisa saja menolak jika itu yidak relevan dengan unsur imanen . Karenannya dalam surat Yohanes Paulus II. Surat Apostolik Vicesimus quintus annus 1988 mengatakan hakekat liturgis harus sesuai dengan hakekat Gereja yang berarti panggilan. METODOLOGI Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode deskriptif yang tersentralisasi pada tatanan etnografis dan religio. Penelitian kualitatif deskriptif merupakan Aumetode penelitian yang digunakan untuk menemukan dan menguraikan pengetahuan terhadap subjek penelitian dan perilakunya pada waktu tertentu secara objektif ,empirik dan sistematik Ay (Mukhtar, 2. Berdasarkan sebutannya , penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk menggambarkan keadaan, indikasi serta gejala yang ditemukan pada saat penelitian dilakukan. Fokus penelitian ini adalah Sample Animisme Dayak maAoanyan yakni Ritual Miwit Abeh Desa dayu dengan gereja kristiani dan lokus Penelitian ini berlokasi Di wilayah kabupaten Barito timur, kecamatan karusen Janang. Desa Dayu. Data Primer penelitian diperoleh dengan memanfaatkan instrumen wawancara terstruktur yang dilaksanakan bersama dengan 3 orang awam yang hidup dalam naungan agama dan dibesarkan dengan budaya , 1 orang Mantir/penghulu adat, 2 orang pastor Dayak dan 1 orang Frater Alasan penulis memilih 7 narasumber ini sebagai refresentatif karena mereka merupakan subjek dalam animisme miwit Abeh dan pelaku dalam Gereja yang membudaya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur dan tunjauan pustaka Wawancara yang dilaksanakan dengan menyusun kajian pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan kepada narasumber secara verbal maupun non verbal . edia cha. , hal ini untuk menghindari pembicaraan yang liar dan melebar agar fokus penelitian dapat terarah pada tujuan (Sugiyono, 2. Data yang diperoleh dianalisa dan diolah dengan memanfaatkan metode analisis (Miles dan Hubberman, 1. , yang terbagi dalam tiga tahap, yakni reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Desa Dayu merupakan desa pusat dari Kecamatan Karusen Janang. Kabupaten Barito Timur . Kalimantan Tengah. Desa ini didominasi oleh suku dayak MaAoanyan dan merupakan wilayah autentik dari agama keharingan sehingga sebelum masuknya nasrani, mayoritas Desa ini adalah agama Keharingan sebagai primodial. Berdasarkan observasi penulis, topografi desa dayu memanjang dan menyebar mengikuti jalan negara dan meluas kedalam yang terbagi menjadi beberapa komplek sehingga cangkupan desa ini cukup luas, ditengah desa terdapat bundaran yang sekaligus sebagai refresentatif dari keramat Abeh , yang dikatakan sebagai pelindung Desa, dekat Bundaran terdapat balai tempat bersemayamnya keramat Abeh. Berdasarkan lapisan religio, desa Dayu yang sekarang didominasi oleh Kristianitas dengan Protestan sebagai ordinal tertinggi. Namun Katolik berdasarkan kesaksian Umat merupakan agama tertua kedua yang ada di desa ini, karena ritus dalam katolik yang terlalu komplek dan rumit serta dari segi pelayanan pastoral yang juga terbatas akhirnya sebagian dari umat katolik teralokasi ke agama lutheran yang lebih Pragmatis dan instan. Meskipun begitu tidak melunturkan animo Penduduk desa untuk kehidupan gerejawi. ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU Jika dilihat dari lapisan kultural desa ini juga memiliki intensitas budaya yang masih kental dengan berbagai ritual magis, meskipun dari segi perkembangannya Desa ini termasuk golongan desa Swasembeda karena mulai terjadi transformasi yang didapat dari trasmisi teknologi dan faktor eksternal lainnya. Meskipun begitu aspek kultur tetap menjadi nilai yang sakral, hal ini juga masih mempengaruhi pola hidup masyarakat yang percaya pada asumsi mitos dalam masyarakat seperti kepuhunan. Bagaimana pandangan kristianitas terhadap ritual animisme Miwit Abeh dan pandangan ritual animisme terhadap agama kristianitas ? Perspektif Kristianitas terhadap Animisme Dalam dokumen KV II Nostra Aetate mengatakan pada zaman kita bangsa manusia semakin erat bersatu dan hubungan-hubungan antara pelbagai bangsa Gereja mempertimbangkan dengan lebih cermat, manakah hubungannya dengan agama-agama bukan kristiani. Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antarmanusia, bahkan antarbangsa. Gereja di sini terutama mempertimbangkan manakah hal-hal yang pada umumnya terdapat pada bangsa manusia, dan yang mendorong semua untuk bersama-sama menghadapi situasi sekarang (NA. Hal ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya gereja sudah diperhadapkan dengan Pluralitas yang multidimensi, lalu ini juga sama dengan yang dikatakan oleh Pannikar Bahwa kebenaran dunia ada dalam korelasi antara unitas dan multiplisitas. Dimana pertemuan antara agama merupakan kontinuitas kedalaman pengalaman antara Agama (Kanisius, 2. Sehingga disparitas iman merupakan bentuk tantangan bagi Gereja untuk mampu mengupayakan dan belajar menghadapi realitas dunia dengan tepat tampa mengesampingkan nilai keselamatan dan kemanusiaan , itulah yang sebut dalam Pernyataan Nostra Aetate sebagai AuPersaudaraan semesta tampa deskriminasiAy (NA. Berdasarkan pada hasil wawancara terhadap beberapa tokoh agama dan kaum Klerus , peneliti mendapatkan bahwa para mayoritas Informan baik dari golongan Klerus maupun awam mereka tidak mempermasalahkan dengan kehadiran Animisme dan segala praktik ritual yang ada didalamnnya selama itu tidak memicu fanatisme, konfrontasi dan kejahatan lainnya. Tradisi ini dianggap sebagai unsur unitas yang menyatu dan meresap secara natural dalam umat lokalis , sehingga mayoritas Narasumber Klerus mengatakan bahwa agama keharingan merupakan fondamen dan pilar kehidupan dayak yang tidak bisa dipisahkan maupun dihakimi secara sepihak melalui perspektif agamais kristianitas, mereka juga memperkokoh argumennya dengan mengutip beberapa pernyataan dalam dokumen konsili vatikan II seperti (NA. yang mengungkapkan bahwa Gereja dengan tulus menghormati, menghargai, bahkan menerima dengan tepat segala yang baik dan suci diluar lingkup katolik, karena Gereja percaya bahwa melalui itu juga mampu membiaskan sinar kebenaran untuk mengarahkan semua orang. Dari pernyataan itu Informan menyatakan secara afirmatif bahwa mereka juga menerima dalam arti menghargai segala unsur yang baik dalam kehidupan khususnya dalam hal ritual Lalu Para klerus juga merujuk kembali argumen mereka dengan ungkapan yang terdapat pada Dokumen KV II (LG. yakni Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil. Sehingga dengan demikian Narasumber beranggapan bahwa melalui segala hal yang mengarahkan hidup pada kebaikan ,sejatinya merupakan wajah dari evangelisasi. SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 Namun mereka juga menyertakan distansi dan skala yang wajar antara Iman dan Budaya khususnya ritual Animisme karena gereja tidak bisa secara inklusi menautkan unsur yang tidak relevan masuk secara bebas tampa pertimbangan. Batasan ini dikemukakan oleh mereka agar pembawaan gerejawi tidak terlalu jauh menyeludup kedalam budaya , selain itu untuk menghindari terbentuknya sinkretisme yang melunturkan citra Kristus karena perpaduan antara unsur lain yang tidak seharusnnya. Hal ini narasumber kaitkan Dalam KV II telah mengungkapkan bahwa ada 2 tingkatan pengatahuan yang saling terpisah dan bekerja secara otonom berdasarkan caranya sendiri namun juga saling bersinergi yakni Iman dan akal budi (GS. serta mereka mengambil seorang antropolog juga yang mengatakan bahwa manusia terbentuk dari akal budi Aydan akal budi itulah yang merajut wujut sistem kehidupan termasuk Budaya (Koentjaraningrat, 2. memang Gereja mengakui secara holistis akan adanya pancaran kebenaran dari suatu yang suci dan benar dalam segala sistem kehidupan. Namun, jika itu mengancam dan membuat keberadaan Gereja menjadi tercampur aduk oleh hal lain sehingga meretakan hakekat dan subtansial dari gerejawi, disinilah yang mereka katakan penimbangan akan terjadi melalui akal budi dan kebijaksanaan yang presisi . Dalam Seri dokumen Gerejawi No. Pertimbangan inkulturasi harus ditempa melalui tinjauan study Historis , biblis, dan teologis, serta penilaian yang cermat tentang seberapa koheren unsur etnografis agar mampu diadopsi dan dipakai gerejawi. Mayoritas dari mereka mengungkapkan peran Enkulturasi sebagai cara Gereja agar mampu merasuk lebih jauh dalam memahami, belajar dan beradaptasi dengan konteks kultural, sehingga terciptannya pembawaan yang sesuai saat berhadapan dengan budaya secara spesifik dalam Ritual-ritual berparas animisme yang termuat didalamnnya. Gereja yang menerima segala hal yang berwajah kebajikan, juga harus menimbang hal itu dengan paradigma yang sesuai dengan konsep iman, sehingga penyesuaian itu sewarna dengan rupa gereja. Inilah yang juga dikatakan Mayoritas dengan menghargai dengan bijak sana. Mereka mengatakan, umat kristiani bisa saja berkontribusi dalam mempersiapkan segala jalan upacara ritual animisme yang membentuk kebersamaan sosial , namun tidak untuk ikut terlibat dalam penyembahan mistis yang ada didalamnya , meskipun makna dari ritual itu berkonotasi sama dengan konsep iman, alasannya karena akan merunjuk pada subordinasi dan dualime yang akhirnya menganggap bahwa gereja juga hanya sebagai alternatif. Lalu kembali lagi para narasumber ini mengatakan bahwa dialog dan moral yang baik dengan warga lokal merupakan jalan yang akurat untuk mampu belajar dan memahami budaya dengan tepat karena mereka mengibaratkan bahwa ada kala dalam kondisi yang terpaksa seseorang kritiani harus masuk terlibat dalam ritual itu, hal ini karena faktor ambilineal/keturunan, desakan eksternal, hingga moralitas Sehingga dapat direkapitulasi bahwa mayoritas informan gerejawi merumuskan bahwa pembawaan diri individu kristiani akan baik jika disertai dari segi dialog dan moral yang sesuai, dengan demikian gereja mampu memahami dan belajar dengan tepat dan searah tampa menyebabkan konfrontasi maupun pergesekan, inilah yang mereka sebut juga sebagai sudur pandang moderasi beragama yang sejati. Karena dengan pemahaman yang baik terhadap Budaya gereja mampu membawa diri dalam perwujutan iman yang Perspektif Masyarakat keharingan terhadap kehadiran Kristianitas Menurut M. Reville agama adalah energi pemicu kehidupan manusia, yaitu sebuah hubungan yang menyatukan rasio manusia dengan rasio mistis yang transenden dan eksesif , dengan keterikatan itu maka akan memperoleh ketentraman. Lalu dalam ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU Buku nya Reza A. A juga mengatakan bahwa manusia merupakan Homo Relogiosus yang pada dasarnya merupakan tipekal yang selalu merunjuk pada agama dan secara alamiah menciptakan dan menjadikan agama sebagai bagian dalam hidup (Wattimena, 2. , hal ini mengartikan bahwa secara kodrati manusia selalu menjadikan agama sebagai fundamental dalam hidup yang digubah dalam berbagai bentuk salah satunya kepercayan kosmik AuKeharingganAy. Bagaimana Enkulturasi Gereja dalam memahami dan membawa diri secara tepat dalam ritual animisme tampa pergesekan ? Berdasarkan uraian perspektif dari kedua pokok bahasan ini yang ditelaah dari seginya masing-masing. Peneliti membuat parafrasa , bahwa ada beberapa unsur menonjol dalam pembahasan dua aspek ini adalah : Kompleksitas dialektik Para Informan menjadikan komunikasi dan interaksi sebagai konsentris, baik dari sisi kristiani maupun masyarakat keharingan pribumi. Berdasarkan konsiderasi pada inti ungkapan para narasumber mereka menjadikan jalan dialog sebagai salah satu kiat dan upaya untuk saling memahami. Pernyataan ini juga selaras dengan dalam KV II yang mengatakan bahwa Gereja mengajak putra-putriNya agar bijak dan penuh kasih , melalui dialogis dan kemitraan yang baik dalam berhubungan dengan agama-agama lain ( NA. Konsep dialog disini bukan hanya pada tataran komunikasi yang sempit yang hanya mengkoarkan nilai toleransi dan menghargai , namun bagaimana menjadikan dialog sebagai sarana kristiani untuk menjamah aspek kultur secara jauh dan luas , sehingga itulah yang dikatakan narasumber bahwa perbedan itu bisa dijadikan sejiwa dengan saling beriringan tampa memaksa perpaduan didalamnnya, inilah yang menuntun menuju keselarasan , dimana melalui jalan diagolis yang kompleks. Kristianitas mampu menjadikan Ritual Animisme sebagai wadah dalam menghidupi nilai kebersamaan , bukan hanya pada medan menghargai lalu berjalan masing-masing , namun bagaimana interaksi yang dilakukan bisa saling menopang dalam kesatuan. Dialog yang utuh dimaksud disini ialah memahami dan menyentuh aspek dialektis secara jauh, baik dari segi penafsiran makna linguistik yakni menghindari ambiguitas tafsir terhadap budaya , kajian kronis atau melihat secara historik ,hingga pemahanam tampa menghakimi melalui interkultur diatopikal. Hal ini sesuai dengan konsep Panikkar dalam Hermeneutik tiga tingkat dalam dialektik interkultur yakni : Morfologi, diakronis dan Diatopikal (Kanisius, 2. Sehingga Kompleksitas dielektik yang menyentuh segala unsur hidup memungkinkan Kristiani mampu memahami Konsep budaya secara jauh khususnya dalam hal animisme lokal, dengan dialek yang utuh upaya untuk belajar terhadap budaya bisa terjangkau lebih jauh sehingga segala konsep iman yang dipegang dengan segala distansi yang dimilikinya , mampu di olah dengan kooperasi yang baik antara pihak melalui komunikasi dan interaksi berdaya jangkau luas, salah satu dosen penulis juga yang pernah melakukan riset perjumpaan antara relogio dan kultur juga mengatakan bahwa dialogis yang dipilih Gereja dan budaya adalah mutlak karenanya diperlukan komunikasi yang membangun dalam segi kultural dan religius (Hamu, 2. Lalu bagaimana bentuk dan harapan gereja melalui dialog yang kompleks ini, tentunya dialog harus dilandaskan pada pengharapan dan cinta , yang akan menghasilkan buah didalam Sehingga bukan hanya bisa memahapi secara total melalui dialektik namun menghadirkan buah rohani didalamnnya. SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 Implikasi Moral Singgungan moral dan etika didalam pernyataan para Informan juga menjadi tolak ukur terkait bagaimana ekspresi iman terhadap animisme, dimana moral yang merupakan seperangkat konsep dan ide yang menuntun perilaku hidup dengan corak dasar tertentu yang dipegang oleh sekelompok manusia dalam lingkungan hidup tertentu, tentunya dengan memahami kaidah moralitas yang berlaku dalam Budaya menjadi jalan yang sesuai untuk menempatkan diri dengan baik dalam ranah kultur. Khususnya pada Ritual Mayoritas narasumber yang menyatakan bahwa kesadaran moral yang baik merupakan bentuk tanggapan yang etis untuk berhadapan dengan unsur animisme karena tingkah laku dan sopan santun merupakan konfigurasi dari komunikasi yag baik , maksudnya bahwa tidak cukup seseorang bereksplorasi dan belajar tentang ritual animisme hanya dengan sarana dialogis yang komunikatif namun juga harus disertai dengan kesadaran moral sehingga apa yang dipahami secara verbal dapat diimplentasikan secara rill melalui pemahaman yang baik dan buruk dalam etika. Korelasi yang saling melengkapi antara dialektik dan moralitas dalam Enkulturasi Iman Gereja dalam menanggapi Animisme tidak cukup hanya berkata dalam aluanan menghargai namun bagaimana gereja mampu berdialog dengan interaksi dan komunikasi yang ekstensif serta percakapan lintas budaya itu sekiranya mampu dibawa dan disertai oleh sikap dan watak yang sesuai melalui keterkaitan moral didalamnya . Sehingga disilah letak Enkulturasi iman terhadap akidah metakosmis lokal animisme didalam rutual keramat abeh Desa dayu. Dimana Iman Kristiani tidak bisa menuntut pandangan secara sepihak namun Seorang kristiani harus mampu belajar dan memahami unsur budaya secara luas melalui komunikasi dialektik yang tentu bergandengan dengan ekspresi terhadap unsur budaya dengan manifestasi watak dan tabiat yang asasi beradap melalui pembawaan moralitas yang baik karena asimilisasi diri. Sehingga benarlah apa yang dianggap gereja dalam KV II yang mengatakan bahwa Gereja mengajak putra-putriNya agar bijak dan penuh kasih , melalui dialogis dan kemitraan yang baik dengan kepercayaan lain sehingga mampu saling memelihara kekayaan rohani dan moral serta nilai sosio-budaya yang terkandung didalmnnya (NA,. Korelasional antara kompleksitas dialektis yang bergandengan dengan moralitas dalam Enkulturasi iman terhadap animisme lokal dapat diiluistrasikan dalam bagan berikut : Kompleksitas Enkulturasi Iman Moralitas Gambar 5. Bagan Korelasional dialektik dan moral dalam enkulturasi iman Dari Bagan diatas dapat dijelaskan bahwa Kompleksitas Dialektik memiliki korelasi yang saling melengkapi dan parsial dengan implikasi moral, karena secara konseptis seseorang Kristiani harus dituntut untuk mampu membangun relasi yang ekstensif dan komprehensif dengan tataran kemajemukan kultural khususnya Animisme. Namun hal itu juga harus disertai dengan perwujutan etika dan etiket yang layak saat ENKULTURASI IMAN TERHADAP ANIMISME . PERTEMUAN GEREJA DENGAN RITUAL MIWIT ABEH DAYAK MAAoANYAN DESA DAYU bergelut didalmnnya agar kehadiran Seseorang kristiani dapat diterima secara moral. Kedua Aspek pendekatan gerejawi ini menjadi Jalan untuk enkulturasi Iman dalam pemahaman dan belajar terhadap Animisme Lokal Khususnya dalam ritual Miwit abeh KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dari visitasi, elaborasi variabel , hingga observasi baik melalui Instrumen wawancara maupun kajian literatur terhadap ritual animisme keramat Abeh Desa Dayu. Akhirnya peneliti memberikan bahwa tegangan pada anggapan yang ambigu dan sempit terhadap animisme lokal sehingga munculah beberapa asumsi dan persepsi tidak wajar terhadap rutual animisme budaya , disebabkan oleh watak iman yang hanya berpusat pada keyakinan sepihak tampa mau melihat secara jauh dan mempelajari secara mendalam dengan nilai persaudaraan melalui komunikasi dan pembawaan diri yang baik , untuk memahami distingsi akan kepercayaan, khususnya dalam perjuampaan antara Kristianitas dan Ritual animisme perlu adanya daya dialektis yang menjangkau secara luas baik secara bahasa, historik , hingga dalam dimensi ruang dan sosial lalu upaya untuk memahami melalui arah komunikasi yang ekstensif akan seimbang bergandengan dengan pembawaan watak dan tabiat kristianitas yang secitra dengan Kristus dengan pembawaan diri yang sesuai dalam moral dan berlandas pada konsep iman kristiani tampa Karena para Mayoritas Nanasumber menyatakan bahwa moderasi beragama yang sejati khususnya kepada pandangan terhadap ritual animisme, bila seseorang mampu menempatkan diri secara bijaksana tampa mengakibatkan pergesekan antara keyakinan yang terdikatomi. Maksudnya Ialah Melalui Dialektis yang komprehensif dan implikasi moral yang selaras maka enkulturasi Iman dalam memahami dan belajar terhadap budaya animisme menjadi lebih utuh dan rasional. Karena itu baik dari golongan Kristiani maupun eks-kristiani dalam menanggapi hal yang berbau okultisme khusunya dalam ritual animisme tidak bisa , secara eksplisit memberikan label tabu dan keji atas dasar pemahaman iman secara sepihak , namun diharapkan mampu membangun dialog yang menjamah secara luas masuk kedalam Budaya itu sehingga saling terkoneksi, serta melalui komunikasi yang baik tentu harus diiringi dengan tabiat yang beradap melalui kesadaran akan moral, karena dengan demikian Seseorang mampu memahami dan belajar dari keberagaman dengan enkulturasi iman yang inklusif dan menjangkau luas. Namun sekali Lagi Peneliti memakai sample Animisme dari kultur untuk melakukan penelitian karenanya tentu riset ini , memiliki taraf kesalahan dengan persentase tertentu karena tidak ada generalisasi. Penulis juga sadar akan banyaknya kekurangan dalam segi literatur dan elaborasi topik, sehingga penilitian ini bersifat simpleks dan sempit. Maka akan menjadi sebuah kehormatan jika riset ini disempurnakan melalui rujukan yang lebih akurat dan reliadibel . Penulis memaparkan ini secara objektif berdasarkan relitas data dan lapangan meskipun secara keseluruhan masih jauh dari kata sempurna, karenanya juga kritik, saran dan tanggapan yang membangun terhadap riset ini akan sangat membantu dalam kelanjutan penilituan ini secara kontinu. SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 33-48 DAFTAR PUSTAKA