IMPLEMENTASI PROGRAM STANDAR KECAKAPAN UBUDIYAHAKHLAKUL KARIMAH DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA: STUDI KUALITATIF DI MIN 3 PACITAN Wahyu Dwi Handayani. Ismail Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan Email: dwihandayaniwahyu332@gmail. com, ismail@isimupacitan. Abstract: The formation of students' character is the main challenge in current education in the midst of globalization and the threat of moral Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) three Pacitan responded to these challenges by implementing the Ubudiyah Skills and Akhlakul Karimah (SKUA) standard program. This research aims to describe the implementation of the SKUA program which includes planning, implementation and evaluation, and its impact on the formation of students' character. This research uses descriptive qualitative methods with data collection techniques through interviews, observation and The results of research on the SKUA program at MIN 3 Pacitan show a series of structured daily habits, such as welcoming students at the front of the school gate, dhuha and noon prayers in congregation, reading the Asma'ul Husna, memorizing daily prayers before learning Islamic Religious Education and learning the QurAoan using the Ummi method. Evaluation is carried out at the end of each semester through assessment of religious practices, memorization, and observations of etiquette which are reported to parents in a special SKUA report card. The implementation of this program to be effective in developing students' Islamic character, where students are more diligent in praying, disciplined, and show polite attitudes in everyday life. ARTICLE HISTORY Received: April 2026 Revised : April 2026 Accepted : April 2026 KEYWORDS Implementation. Ubudiyah Competency Standards Akhlakul Karimah (SKUA). Student Character. MIN 3 Pacitan KEYWORDS Implementasi. Standar Kecakapan Ubudiyah Akhlakul Karimah (SKUA). Karakter Siswa. MIN 3 Pacitan Abstrak: Pembentukan karakter peserta didik adalah tantangan utama pada pendidikan terkini di tengah arus globalisasi serta ancaman degradasi moral. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) tiga Pacitan merespon tantangan tersebut dengan mengimplementasikan program standar Kecakapan Ubudiyah dan Akhlakul Karimah (SKUA). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program SKUA yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi, dan dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian program SKUA di MIN 3 Pacitan menunjukan serangkaian pelaksanaan pembiasaan harian yang terstruktur, seperti penyambutan peserta didik di depan pintu gerbang sekolah, sholat dhuha serta sholat dzuhur berjamaah, pembacaan Asma'ul Husna, menghafal doAoa sehari-hari sebelum pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan pembelajaran AlQur'an dengan metode Ummi. Evaluasi dilakukan setiap akhir semester melalui penilaian praktik ibadah, hafalan, dan pengamatan adab yang dilaporkan pada orang tua dalam raport khusus SKUA. Implementasi program ini efektif dalam menjadikan karakter Islami peserta didik, dimana siswa lebih rajin beribadah, disiplin, serta memperlihatkan sikap sopan santun pada kehidupan sehari-hari. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . PENDAHULUAN Karakter ialah cerminan yang berasal dari tabiat, tingkah laku , sifat serta pemikiran seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang ditentukan tingkat pendidikan, sosial dan pengalaman yang diperoleh seseorang yang berasal dari lingkungan sekitarnya. Karakter pula membedakan setiap tabiat, sifat juga pemikiran seseorang, sehingga lingkungan yg baik mampu membentuk karakter yg positif, dan lingkungan yang jelek bisa menghasilkan karakter yg negatif (Silaban. Barat. Gaol, & Purba, 2. Pembentukan karakter siswa merupakan tantangan utama dalam pendidikan modern, terutama di tengah gempuran globalisasi dan degradasi moral yang mengancam generasi muda. Di Indonesia, pendidikan karakter sebagai prioritas nasional sebagaimana diamanatkan pada Undang-Undang No. Tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional serta Kurikulum Merdeka yang menekankan penguatan nilai-nilai keagamaan serta moral. Pendidikan adalah salah satu hal krusial dalam menghasilkan insan yang berkualitas, mempunyai karakter, serta bisa bersaing di tengah perubahan dunia global, serta membawa masyarakat menjadi bangsa yang cerdas dan memiliki martabat. Pendidikan adalah proses yang terus berlangsung seumur hidup, tidak hanya untuk memberi pengetahuan, tetapi juga untuk melatih keterampilan, membangun nilai-nilai moral, serta membentuk sikap sosial yang membentuk kepribadian seseorang (AlMubarok & Mustofa, 2. Pendekatan dalam pendidikan mulai berubah dari yang hanya mengajar di sekolah menjadi proses belajar yang melibatkan berbagai lingkungan dan cara yang lebih kreatif. Ini menuntut kita untuk meninjau kembali arti pendidikan secara menyeluruh, baik dari sudut pandang teori maupun praktik, agar pendidikan bisa menghadapi tantangan zaman sekarang dan nanti, terutama dalam menghasilkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Islam (Nafsaka. Kambali. Sayudin, & Astuti, 2. Pendidikan Islam dilandaskan pada ajaran dan nilai-nilai Islam, yang bertujuan membuat karakter yang baik, mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan secara persuasif dan lembut, serta mengandung nilai-nilai ketuhanan yang bermula dari Al-Qur'an dan Hadist (Septianti. Muhammad, & Susandi. Pendidikan Agama Islam artinya perjuangan sadar dan terencana dalam rangka mempersiapkan siswa supaya menyakini, memahami serta mengamalkan ajaran Islam melalui aktivitas bimbingan, pengajaran serta pembinaan yang sudah dipengaruhi untuk mencapai tujuan yag sudah ditetapkan, dan mengakibatkan ajaran-ajaran kepercayaan Islam yang telah dianutnya itu menjadi pandangan hidupnya sebagai akibatnya bisa mendatangkan keselamatan dunia serta akhirat kelak (Kartika & Arifudin, 2. Pendidikan Agama Islam memainkan peran penting untuk membentuk kepribadian, nilainilai moral, serta jiwa spiritual siswa, sehingga diharapkan dapat muncul penerapan Pendidikan Agama Islam yang mampu meningkatkan peran pendidikan dalam membentuk karakter dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan (Fitrianto. Banyaknya pengaruh lingkungan luar terhadap anak yang tidak berdasarkan nilainilai Islam semisal terpapar konten dari media yang tidak didasarkan pada nilai Islam. Kurangnya kebiasaan serta kesadaran anak untuk taat dan disiplin dalam beribadah, seperti kesadaran anak dalam melaksanakan sholat lima waktu dengan baik, dzikir sehabis sholat, doAoa, serta membaca Al-QurAoan berdasarkan kaidah tajwid. Maka, perlu adanya peningkatan kualitas pendidikan di madrasah dalam pembentukan karakter anak yang cakap dalam ibadah . dan berakhlak mulia . khlakul karima. serta membangun kebiasaan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . anak yang berlandaskan nilai-nilai Islam di madrasah seperti program SKUA di MIN 3 Pacitan, sehingga diharapkan dapat mengatasi permasalahan karakter anak pada masa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) merupakan forum pendidikan dasar berbasis Islam memiliki kiprah strategis pada pembentukan karakter melalui program keislaman Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah. Adanya kebijakan yang ditetapkan oleh ketua wilayah satuan kerja kementerian agama provinsi Jawa Timur berkenaan dengan program Standar Kecakapan UbudiyahAkhlakul Karimah (SKUA) dalam Surat Edaran No. : Kw. 4/1/HK. 8/1925/2012 berkaitan dengan pelaksanaan SKUA yang diserahkan pada masing-masing forum pendidikan atau madrasah (Ali. Mukharomah, & Fattah, 2. Maka diharapkan madrasah sebagai tempat belajar agama Islam dapat menerapkan standar yang jelas agar siswanya memiliki kekuatan keagamaan dan perilaku yang baik. Maka dari itu, madrasah harus mampu memberikan pendidikan yang bukan hanya mengajarkan pengetahuan, namun juga membuat pembelajaran dalam sikap ibadah . dan sifat baik . khlakul karima. Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah (SKUA) adalah pedoman untuk membantu guru dalam mengukur serta menaikkan kemampuan spiritual dan moral peserta didik. Proses penerapan program SKUA mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian secara teratur, di mana guru berperan sebagai pembimbing dan penginspirasi (Prayoga & Sahri, 2. Beberapa penelitian yang membahas tentang pembiasaan program Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah (SKUA) pada madrasah dalam artikel jurnal, seperti jurnal yang berjudul Implementasi Program Standar Kecakapan Ubudiyah dan Akhlaqul Karimah (SKUA) dalam Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Madrasah Ibtidaiyah (MunfaAoati. Murtasia. Anggraini, & Ilmiya, 2. Implementasi SKUA Dan Pembentukan Sikap Spiritual (Afifi, 2. Efektifitas Standar Kecakapan Ubudiyah dan Akhlakul Karimah (SKUA) Dalam Mencetak Karakter Religius Siswa (Ali. Mukharomah, & Fattah, 2. Pelaksanaan Program Standar Kecakapan Ubudiyah dan Akhlakul Karimah (SKUA) Melalui Kegiatan Pembiasaan Di MAN 4 Madiun (Zuhriyyah, 2. Pembentukan Karakter Religius Melalui Program Pembiasaan Keagamaan Siswa Kelas X Di MAN 4 madiun (Lutfiana, 2. Secara keseluruhan penelitian ini menunjukkan bahwa Standar Kecakapan Ubudiyah dan Akhlakul Karimah adalah alat evaluasi dan pembiasaan yang efektif untuk memastikan seluruh siswa memiliki kemampuan dasar ibadah yang sama . , menginternalisasi atau mengubah pengetahuan agama menjadi karakter . , keberhasilannya sangat ditentukan oleh metode pembiasaan, keteladanan guru, dan evaluasi rutin . eperti buku kendali atau ujian lisa. Namun, efektivitas program SKUA dalam pembentukan karakter siswa masih perlu dieksplorasi secara mendalam karena banyaknya tantangan yang dihadapi seperti perbedaan kemampuan anak dalam menghafal materi, perbedaan latar belakang keluarga, keragaman siswa dan perbedaan latar belakang sosial siswa. Program Standar Kecakapan Ubudiyah menekankan penguatan ibadah harian siswa seperti asmaAoul husna, sholat dhuha berjamaAoah, doAoa dan dzikir setelah sholat, hafalan surat-surat pendek, jadwal adzan siswa secara bergantian, sholat dzuhur berjamaAoah, membaca Al-QurAoan, sementara Akhlakul Karimah berfokus pada pembinaan akhlak mulia yang sesuai ajaran Islam seperti anak salim pada guru ketika penyambutan siswa pagi hari di depan pintu gerbang, salim ketika selesai sholat dan doAoa, mengajarkan adab berbicara AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pada guru, orang tua, dan teman, adab makan dan minum, membuang sampah pada Implementasi kedua program ini di MIN 3 Pacitan menjadi kasus menarik karena sekolah tersebut telah mengintegrasikan program SKUA ke dalam kegiatan ekstrakurikuler dan intrakurikuler. Adanya metode pembiasaan jam pembelajaran mengaji Al-QurAoan menggunakan metode UMMI di MIN 3 Pacitan yang di dalam pelaksanaanya ada pembelajaran tahfidz Al-QurAoan, mengaji dari jilid 1 s/d jilid 6. Al-QurAoan, ghoroibul QurAoan, tajwid dan wisuda Al-QurAoan (Imtihan dan Khotmul QurAoa. menjadikan salah satu keunggulan program pembiasaan MIN 3 Pacitan. Sejalan dengan penelitian tersebut, penelitian ini mengambil obyek penelitian implementasi program standar kecakapan ubudiyah-akhlakul karimah dalam pembentukan karakter siswa: studi kualitatif di MIN 3 Pacitan diharapkan memberikan wawasan tentang bagaimana program tersebut diterapkan di madrasah dan dampaknya terhadap siswa karena tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan implementasi program SKUA dalam pembentukan karakter siswa di MIN 3 Pacitan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi serta menilai karakter anak yang terbentuk dengan adanya penerapan program SKUA di MIN 3 Pacitan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Jenis penelitian ini dipilih karena untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai Implementasi Program Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah (SKUA) Dalam Pembentukan Karakter Siswa: Studi Kualitatif di MIN 3 Pacitan. Penelitian kualitatif menghasilkan data deskritif, baik dalam bentuk tulisan maupun ucapan dari pelaku yang diamati. Penelitian kualitatif deskriptif menggambarkan keadaan yang sesungguhnya di lapangan. Jenis penelitian ini dipilih untuk memberikan kemudahan dalam memperoleh pemahaman mengenai pengalaman, persepsi, dan praktik yang dijalani oleh siswa pada implementasi program Standar Kecakapan Ubudiyah dan Akhlakul Karimah (SKUA) dalam pembentukan karakter siswa: studi kualitatif di MIN 3 Pacitan (M. Afdhal Chatra P et al. , 2. Penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan kegiatan suatu obyek secara jelas dengan mengumpulkan data berupa teks, gambar, audio, video, atau observasi. Maka dalam pelaksanaan penelitian, peneliti terlibat langsung untuk mengamati keadaan lapangan dan memahami fenomena secara alami di lingkungan MIN 3 Pacitan (Suprayitno. Ahmad. Tartila. SaAodianoor, & Aladdin, 2. Penelitian ini dilaksanakan di MIN 3 Pacitan karena sesuai dengan pertimbangan bahwa madrasah tersebut mempunyai ciri khusus pada penerapan program pembiasaan keagamaan yang terstruktur melalui instrumen SKUA. Instrumen pada penelitian ini memakai beberapa tahapan mulai dari tahapan wawancara, tahapan observasi, serta tahapan dokumentasi menjadi penguat data. sumber data yg dimaksud pada penelitian ini ialah subyek penelitian, dimana pada penelitian ini sumber data diperoleh berasal dua macam yaitu data primer diperoleh asal wawancara pribadi dengan informan kunci yaitu kepala Sekolah, koordinator Keagamaan/pengajar PAI, perwakilan siswa dan data sekunder berupa dokumen pendukung seperti buku kendali SKUA, artikel jurnal, profil madrasah, jadwal pembiasaan, serta foto aktivitas pembiasaan. Teknik pengumpulan data merupakan proses krusial pada penelitian, sebab tujuan pokok penelitian ini adalah mendapatkan data serta mengumpulkan data. Tekhnik pengumpulan data pada penelitian ini memakai teknik triangulasi metode yaitu Observasi atau pengamatan langsung terhadap aktivitas AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pembiasaan ibadah dan perilaku akhlak siswa di lingkungan madrasah. Wawancara mendalam dengan tanya jawab semi-terstruktur untuk menggali strategi implementasi, kendala, dan dampak program SKUA. Dokumentasi untuk mengumpulkan data tertulis mengenai kurikulum SKUA dan catatan perkembangan karakter siswa (M. Afdhal Chatra P et al. , 2. Pada penelitian ini memakai tekhnik analisis data yang dilakukan secara interaktif dengan model Miles. Huberman, serta Saldana yang terdiri dari tiga tahapan yaitu Kondensasi Data (Data Condensatio. merupakan tahap awal analisis data setelah data Kondensasi ialah proses menentukan, menyederhanakan, serta memfokuskan data yang relevan dengan fokus penelitian. Penyajian Data (Data Displa. Menemukan makna berasal data yang diperoleh serta menyusunya menjadi bentuk isu yg sederhana, komplek, dan sistematis agar fenomena implementasi SKUA mudah dipahami sehingga peneliti mudah dalam menarik kesimpulan. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawin. Menarik makna dari data yang telah diproses untuk menjawab tujuan penelitian sehingga menjadi informasi yang bermakna dan mudah dipahami. Keabsahan temuan diuji menggunakan Triangulasi sumber yaitu dengan membandingkan keterangan antar informan. Triangulasi teknik yaitu membandingkan hasil observasi menggunakan hasil wawancara dan dokumen. Triangulasi waktu yaitu menguji kredibilitas data dengan observasi, wawancara, dokumentasi pada waktu yang tidak bersamaan. Sebagai akibatnya peneliti akan memperoleh data yang benar saat hasil data dari ketiga cara itu sama (Widiyanti. Djaenab, & Irsyad, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Program Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah di MIN 3 Pacitan Dalam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), implementasi berarti penerapan atau pelaksanaan. Implementasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh pihak berwenang atau suatu forum yang bertujuan agar menjalankan atau merealisasikan program untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditetapkan. intinya suatu rencana yang ditentukan memiliki tujuan atau target yang akan dicapai sehingga dibutuhkan berbagai tindakan untuk mencapainya (Dr. Muhammad Yusran Amir. SKM, 2. Schubert . berpendapat bahwa implementasi bermuara pada aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu system, ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekedar aktivitas akan tetapi kegiatan yang terencana dan dilakukan dengan sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu implementasi tidak berdiri sendiri tapi dipengaruhi suatu obyek berikutnya, dalam penelitian ini implementasi dipengaruhi oleh program SKUA (Zainuri et al. , 2. Madrasah menjadi lembaga pendidikan Islam resmi mempunyai peran krusial dalam menghasilkan serta menyebarkan karakter keagamaan siswa. Kurikulum yang berlandaskan nilai-nilai Islam dilengkapi dengan berbagai program pembiasaan yang berkaitan dengan ibadah dan akhlak, diperlukan untuk menjadi pedoman bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan di dunia. Kegiatan yang menggabungkan pembelajaran, pembiasaan, serta kegiatan ekstrakurikuler dengan menerapkan nilai-nilai karakter yang berlandaskan keagamaan diharapkan dapat membantu pengembangan spiritual, sosial, dan kemampuan intelektual siswa secara maksimal. Salah satu program yang bisa membantu hal itu ialah standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah (SKUA). AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah (SKUA) merupakan program pemerintah dari kementrian agama satuan kerja wilayah Jawa Timur kepada semua lembaga pendidikan yang berada di bawah naunganya baik jenjang Madrasah Ibtidaiyyah (MI). Madrasa Tsanawiyah (MT. Madrasah Aliyah (MA). Tujuan dari program Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah (SKUA) adalah supaya materi Pendidikan Agama Islam dapat tersampaikan lebih baik secara afektif, kognitif, maupun psikomotorik (M. Bagus Ridlo Hidayatulloh S. Sos & Ellya Adin Rahmawati, 2. Kementerian Agama wilayah Jawa Timur menyampaikan kebijakan tambahan, yaitu setiap forum pendidikan madrasah atau sekolah yang berada dalam naungan Kementerian Agama harus menyelipkan materi SKUA ke dalam kurikulum resmi. Namun demikian, lembaga pendidikan tetap diberi kebebasan untuk mengadaptasi dan melaksanakan SKUA sesuai keadaan masing-masing. Peraturan pemerintah mengenai program SKUA yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor: Kw. 4/1/HK. 8/1925/2012 menyatakan bahwa pelaksanaan program SKUA tetap menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah. Secara umum, kegiatan dalam SKUA merupakan program sekolah atau muatan lokal, dengan keefektifan program terpenuhinya ketuntasan materi SKUA yang mencakup praktik ubudiyah dan akhlakul karimah sebagai syarat mengikuti ujian akhir di sekolah (Ali et al. Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah yaitu program yang dirancang untuk mengukur standar atau patokan dari kecakapan siswa yang terdiri dari kecakapan ubudiyah seperti membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan kaidah tajwid, hadist, fiqih, akidah akhlak, sholat berjamaAoah, dzikir, doAoa sestelah sholat, asmaAoul husna, dan kecakapan akhlakul karimah atau memiliki akhlak yang baik dalam kegiatan sehari-hari (Aisyah. Ada dua unsur program SKUA yang sangat penting yaitu ubudiyah dan akhlakul Ubudiyah merupakan Ibadah, yakni menunaikan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari, yang memerlukan rasa penghambaan serta diimplementasikan menjadi hidup dalam pencerahan sebagai hamba, atau pada pengertian lain semua bentuk ibadah yang dikerjakan supaya mendapat nilai atau pahala lebih disertai ridho dari Allah Swt. Ibadah secara bahasa berarti, hina dina, tunduk, kuat, sesuatu yang tidak disenangi, ketaatan, sesuatu yang dimiliki. Lebih lebih jelasnya lagi AS-SyayiAo menerangkan bahwa ubudiyah secara terminologi berasal dari istilah atau morfologinya merupakan menghinakan diri serta menundukkan hawa nafsu sebab hanya Allah Swt yang maha besar , menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya dengan penuh rasa cinta serta penghormatan. Sedangkan di terminologi para ahli agama artinya mengesakan Allah SWT, ridho pada Nya, sebab hal itu sebenarnya menerapkan suatu perintah yg ada dalam Al-Qur'an serta Hadits. Akhlakul karimah ialah budi pekerti luhur yang mempunyai beberapa komponen krusial didalamnya yakni wajib bersikap baik pada Alloh swt sebagai pengatur segala urusan insan, serta dalam bersikap baik terhadap semua makhluk. Az-Zarnuji menyampaikan didalam kitabnya yang berjudul taAolimul mutaAoallim bahwa diantara murid yang baik ialah memahami, mengerti, serta mempraktekkan etika istiadat berkomunikasi dengan guru (Tamam & Muhid, 2. Tujuan dari program SKUA ialah supaya siswa menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai Islam. Karena nilai dalam Islam ialah suatu hal yang mempunyai dasar kebenaran paling kokoh yang bersumber dari kebenaran paling atas yaitu Alloh swt. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Sebagaimana nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari maka berbagai sumber mengungkapakan tentang nilai. Berdasarkan sumbernya, nilai terbagi menjadi dua yaitu nilai Illahiyah dan nilai Insaniyah. Nilai Illahiyah adalah nilai yang lahir dari keyakinan petunjuk supernatural yaitu berasal dari Alloh SWT. Nilai Illahiyah dibagi menjadi nilai keimanan atau tauhid dan akhlak, nilai ubudiyah, dan nilai muamallah. Nilai insaniyah merupakan nilai yang lahir atau terbentuk dari budaya dan kondisi masyarakat sekitar baik individu ataupun suatu Nilai insaniyah dibagi menjadi nilai etika, sosial, dan estetika (Qomari, 2. Program standart kecakapan ubudiyah dan akhlakul karimah disusun berdasarkan nilai Illahiyah dan nilai Insaniyah dalam menciptakan lingkungan baik yang bisa memeberi dampak positif bagi peserta didik. Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Pacitan menerapkan Standar kecakapan UbudiyahAkhlakul Karimah memiliki target utama supaya anak memiliki kecakapan pada bidang ibadah serta memiliki akhlak baik terhadap orang tua, guru, dan adab yang baik di lingkungan masyarakat sesuai dengan nilai Illahiyah dan nilai Insaniyah. MIN 3 Pacitan mengintegrasikan program SKUA dalam kegitan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Dalam kegiatan intrakurikuler masuk dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam aqidah akhlak, fiqih. Al-QurAoan-hadist, sejarah kebudayaan islam (SKI) dan bahasa Arab. Dalam kegiatan ekstrakurikuler adanya pembiasaan dalam hal ubudiyah yaitu pembiasaan membaca asmaAoul husna, pembiasaan murojaAoah hafalan, pembiasaan sholat dhuha berjamaAoah, pembiasaan sholat dzuhur berjamaAoah, doAoa dan dzikir setelah sholat, jadwal adzan sholat dzuhur bergantian, pembelajaran Al-QurAoan metode Ummi dan dalam hal akhlakul karimah yaitu salim pada guru ketika penyambutan di depan pintu gerbang, salim setelah sholat, adab makan dan minum ketika dapat jatah makan bergizi gratis (MBG), membudayakan senyum sapa salam, sehingga harapan Bapak Kepala Sekolah MIN 3 Pacitan adab bisa menjadi suatu budaya. Pelaksanaan program SKUA lebih bersifat personal dan ditekankan pada peningkatan kompetensi individual ataupun bisa dikerjakan secara klasikal juga, pada pelaksanaannya terdiri dari tiga kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada Pengujian kecakapan SKUA dilakukan penilaian pada raport khusus SKUA (Zuhriyyah. Pelaksanaan SKUA di MIN 3 Pacitan terdapat serangkaian kegiatan didalamnya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian akhir setelah pelaksanaan kegiatan. Perencanaan merupakan suatu proses memikirkan serta menetapkan secara matang arah, tujuan, dan tindakan sekaligus mempelajari berbagai sumber daya serta metode atau teknik yang sesuai. Perencanaan mengarahkan tujuan organisasi serta memutuskan prosedur terbaik untuk mencapainya. Mekanisme itu bisa berupa pengaturan sumber daya dan penetapan metode. MIN 3 Pacitan merumuskan serangkaian kegiatan SKUA melalui rapat yang dipimpin oleh koordinator SKUA. Pada perumusan kegiatan SKUA menetapkan tugas dan penanggungjawab pada masing-masing kegiatan pembiasaan, menetapkan capaian target pembiasaan, menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan dan menetapkan jadwal kegiatan. Pelaksanaan program SKUA MIN 3 Pacitan dilaksanakan pada hari Senin sampai Kamis dan berjalan dengan tertib dan kondusif, dalam proses pelaksanaannya, siswa diberikan pelayanan pengembangan yang berupa penguatan, pengayaan, dan percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi masing-masing siswa. Rangkaian AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pelaksanaan program SKUA dalam sehari Mulai dari pagi sebelum bel masuk berbunyi siswa datang salim dengan guru piket yang menyambut siswa di depan pintu gerbang. Setelah bel masuk berbunyi pukul 06. 30 anak-anak mengambil air wudhu bagi yang belum berwudhu dari rumah dan menjalankan sholat dhuha berjamaAoah. Kelas 1 dan 2 sholat dhuha berjamAoah di kelas masing-masing dibimbing wali kelas. Kelas 3 dan 4 sholat di masjid dengan jadwal imam dari guru piket yang sudah terjadwal. Kelas 5 dan 6 sholat dhuha berjamaAoah di mushola at-tarbiyah dengan imam guru piket yang sudah terjadwal. Dilanjutkan murojaAoah surat-surat pendek, dzikir dan doAoa bersama, setelah selesai siswa bersalaman dengan bapak/ibu guru yang mendampingi sholat. Pukul 07. 30 masuk kelas masing-masing, sebelum pembelajaran dimulai anak-anak pembiasaan membaca asmaAoul husna dengan teks yang dibagikan pada siswa dan dilanjutkan doAoa mau belajar. Pembiasaan membaca Al-QurAoan. Tekhnik supaya anak bisa lancar dalam membaca Al-Quran adalah dengan menerapkan metode pembelajaran Al-Quran. Metode merupakan cara yang dipakai guru untuk memberikan pelajaran agar siswa bisa membaca Al-Quran dengan benar secara tajwid dan makhroj (Muiz & Umatin, 2. Metode yang dipakai pada pembelajaran Al-QurAoan di MIN 3 Pacitan adalah metode Ummi. Pembelajaran Al-QurAoan dengan metode Ummi di MIN 3 Pacitan masuk pada jam efektif pelajaran dengan jadwal pembelajaran yang dibagi dalam tiga sesi yaitu sesi pertama kelas 1 dan 3 dibagi pada jam 30, sesi kedua kelas 2 dan 4 jam 10. 30, sesi ketiga kelas 5 dan 6 jam 12. Masing-masing sesi dibagi 14 kelompok yang diajar 13 guru murni pengajar AlQurAoan dan dibantu oleh dua guru ASN yang mengajar Pendidikan Agama Islam yaitu Bp. Imam Shobari mengajar pada sesi ke-2 dan Bp. Edi Susanto mengajar pada sesi pertama dan Pada jam pelajaran Al-QurAoan dengan metode Ummi terdapat tahfidz juz 30 dengan target sesuai dengan capaian jilid anak pada jilid 1 target hafalan surat An-nas sampai Allahab, jilid 2 target hafalan surat An-nashr sampai Al-kautsar, jilid 3 target hafalan surat AlmaAoun sampai Al-fiil. Jilid 4 target hafalan surat Al-Humazah sampai At-takatsur, jilid 5 target hafalan Surat Al-qoriAoah dan Al-Aoadiyat, jilid 6 target hafalan Surat Az-zalzalah dan Albayyinah. Al-QurAoan. Ghorib. Tajwid, target hafalan Al-qodr sampai Al-AAola. Bagi siswa yang sudah mencapai target terakhir yaitu khatam Al-QurAoan, selesai belajar ghorib dan tajwid maka dilaksanakan munaqosyah di akhir semester, dan pembelajaran level selanjutnya yaitu tahfidz juz 30 dan 29. Metode Ummi menggunakan 7 tahapan pembelajaran yaitu pembukaan, appersepsi, penanaman konsep, pemahaman konsep, latihan, evaluasi, penutup (Zulkarnain, 2. Waktu ideal pembelajaran yaitu 1 jam . Metode Ummi MIN 3 Pacitan mendapat pantauan langsung dari Ummi Madiun Raya yang secara berkala mengadakan supervisi pembelajaran pada madrasah. Sebelum pelaksanaan sholat dzuhur ada pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dimana dalam pelaksanaanya dibimbing dan diarahkan oleh wali kelas masing-masing dengan mengajarkan adab makan dan minum dengan berdoAoa sebelum makan dan minum, makan dan minum sambil duduk, makan dan minum dengan tangan kanan, mensyukuri makanan yang didapat dan berdoAoa setelah makan. Siang hari pada pukul 11. mengumandangkan adzan yang dilakukan anak sesuai dengan piket yang sudah terjadwal dan dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaAoah yang diikuti oleh seluruh warga sekolah dengan tempat seperti dalam pelaksanaan sholat dhuha dan imam dari guru piket yang AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . sudah terjadwal. Hafalan dan murojaAoah doAoa sehari-hari dilakukan sebelum pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pentingnya mengajarkan pembiasaan ubudiyah dan akhlakul karimah anak sejak dini agar anak bisa mengetahui dan merasakan manfaat dari ibadah untuk kehidupan sekarang sampai nanti kelak di akhirat. Pembiasaan-pembiasaan ubudiyah sholat dzuhur berjamaAoah dalam program SKUA, hal ini dilakuka karena untuk menanamkan pada anak pentingnya mejalankan sholat fardu lima waktu karena sholat merupakan tiang agama, dan mempunyai keutamaan seperti yang disebutkan dalam hadist yang diiriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Amr. Rasulullah bersabda yang artinya:AySiapa yg menjaga sholat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan di hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka dia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. pada hari kiamat, dia akan beserta Qorun. Fir'aun. Haman, dan Ubay bin Kholaf. " (HR. Ahma. (Almajid, 2. Pembiasaan Sholat dhuha diajarkan pada siswa karena sholat dhuha adalah sholat sunah yang sangat dianjurkan sebab mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan seharihari, yang dibahas secara lengkap dalam kitab Mirojul Mukminin Mukjizat Shalat Dhuha. Batas waktu sholat dhuha dimulai setelah matahari terbit sampai setinggi tombak, dan berakhir sebelum tiba waktu zuhur . ebelum zawa. Sama seperti sholat fardu, sholat dhuha selain membantu mengalirkan rezeki, juga mempunyai keistimewaan. Salah satu keistimewaannya ialah menjadi sarana memohon ampunan dosa. Berbagai mukjizat yang didapat dari berdzikir pagi hari juga dapat dibaca dalam buku Kisah Nyata Keberkahan Para Pengamal Shalat Dhuha & Tahajud (Damayanti. Anugrah, & Kusnandar, 2. Pembiasaan membaca dan menghafal asmaAoul husna pada anak karena memiliki keutamaan seperti yang disebutkan dalam firman Alloh yang menjelaskan tentang namanama dan sifat-sifat-Nya yaitu pada Q. Al-AAorof ayat 180 yang berbunyi: aAOa a OIa aI EaIA AONa a aN n aOa aA aAO Oa aIEaOIA a AaO a NcEaEa eE a aI e a E a I aO Aa A a o AO a aeIaaNA e aAO ENaOIa O aE aaOIa AA Artinya: Dan Allah memiliki Asma'ul-husna . ama-nama yang terbai. , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Ay (QS. Al-AAoraf: . Dari Abi Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda AuBahwasanya Allah punya 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Siapa yang menjaganya akan masuk surga. Ay (HR. Bukhari no. 2736 dan Ahmad 7. (Wijaya, 2. Pembiasaan membaca Al-QurAoan perlu diajarkan karena Al-QurAoan merupakan pedoman hidup manusia sehingga menjadi hal yang penting untuk anak bisa membaca AlQurAoan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid dan makhroj serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, karena sebaik-baik manusia ialah orang yang belajar AlQurAoan dan yang mengajarkanya (Salim et al. , 2. Berbagai sarana dan prasarana diusahakan Kepala Madrasah MIN 3 Pacitan untuk mendukung berjalanya pembelajaran SKUA terkhusus pembelajaran Al-QurAoan dengan metode Ummi seperti perekrutan guru mengaji metode Ummi, meja mengaji, alat peraga dan tiyang penyangga alat peraga pembelajaran mengaji metode Ummi. Harapan besar madrasah dengan adanya pembiasaan pada program standar kecakapan ubudiyah-akhlakul karimah dapat membentuk karakter AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Islami anak sejak dini yang cakap dalam ibadah dan berperilaku baik sesuai dengan AlQurAoan dan Hadist. Evaluasi pelaksanaan program adalah tahap untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan program ini berhasil dijalankan. Evaluasi dilakukan setiap akhir semester dengan melakukan penilaian pada siswa. Penilaian SKUA MIN 3 Pacitan meliputi hafalan asmaAoul husna, praktik wudhu dan tayamum, praktik membersihkan najis yang menempel pada pakaian, praktik adzan dan iqomah, praktik sholat dhuha, hafalan doAoa sehari-hari, penilaian adab kepada teman, orang tua, dan guru. Standar penilaian sesuai dengan capaian target siswa per kelas. Penilaian adab diberikan angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk diisi siswa dengan jujur, penilaian membaca Al-QurAoan dilakukan oleh guru pengajar mengaji metode Ummi setiap hari pada buku prestasi yang juga ditandatangani orang tua sebagai laporan kegiatan pembelajaran mengaji setiap hari di sekolah. Sehingga, penilaian dalam raport diisi sesuai dengan capaian peserta didik dalam belajar Al-QurAoan dan hafalan surat sesuai dengan target jilid yang dicapai. Bagi peserta didik yang sudah mencapai target terakhir yaitu khatam Al-QurAoan, selesai belajar ghorib dan tajwid maka dilaksanakan pra munaqosyah yang diuji oleh guru mengaji metode Ummi MIN 3 Pacitan, dilanjutkan dengan munaqosyah di akhir semester yang diuji oleh ustadz dari tim Ummi Madiun Raya. Lulus munaqosyah maka dilaksanakan wisuda Al-QurAoan metode Ummi yaitu khotmul qurAoan dan imtihan dan diberikan Ijazah. MIN 3 Pacitan sudah melaksanakan munaqosyah Al-QurAoan metode Ummi sebanyak 4 kali dan Insya Alloh 5 kali pada tahun 2026 yang sudah direncanakan pada bulan Mei Pada tahun 2026 Insya Alloh juga ada munaqosyah tahfidz juz 29 dan 30. Keseluruhan hasil penilaian dirangkum dalam satu raport SKUA yang dilaporkan kepada orang tua di akhir semester bersamaan dengan penerimaan raport akademik. Sehingga, wali murid mengetahui sejauh mana kemampuan putra-putrinya dalam hal ubudiyah dan akhlakul karimah di sekolah dan bisa bersinergi dengan madrasah dalam mendidik, membimbing, mengawasi anak ketika beribadah di rumah. Adanya penerimaan dua raport pada akhir semester diharapkan selain cakap dalam akademis, anak juga cakap dalam ubudiyah dan akhlakul karimah. Karakter Siswa Yang Terbentuk Dengan Adanya Program SKUA Di MIN 3 Pacitan Pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku, penambahan ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup agar peserta didik menjadi lebih dewasa dalam pemikiran dan sikap. Pendidikan merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga menjadikan manusia menjadi beradab (Rinja Efendi. Pd I. Pd & Asih Ria Ningsih. Hum, 2. Pendidikan merupakan pintu utama bagi sebuah bangsa untuk mencetak generasi emas penerus bangsa yang unggul akan intelektualitas dan berkarakter (Pambayun. Firmansyah. Nurkhasanah. Indayati, & Masfiah. Tujuan pendidikan Indonesia dalam membentuk karakter tercantum pada UU No. Tahun 2003 yang mendifinisikan pendidikan sebagai usaha yang sadar dan terencana untuk membangun suasana belajar yang aktif dalam mengembangkan potensi siswa, supaya mereka mempunyai kekuatan spiritual, moral yang baik, kecerdasan, kepribadian, pengendalian diri, dan keterampilan yang bermanfaat untuk diri mereka serta masyarakat. Pendidikan tidak hanya berfokus pada akademis namun juga pada pengembangan sikap dan tingkah laku yang baik. Pendidikan karakter perlu dimulai sedini mungkin baik melalui pendidikan formal maupun nonformal (AlMubarok & Mustofa, 2. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Menurut Simon Philips, karakter adalah sekumpulan nilai-nilai yang membentuk sebuah sistem, yang menjadi dasar dari cara seseorang berpikir, berperilaku, dan bertindak. Sebaliknya. Doni Koesoema menganggap karakter adalah refleksi dari kepribadian. Kepribadian disebut menjadi ilustrasi atau karakteristik khas, atau pola atau sifat yang dimiliki seseorang yang terbentuk berasal pengalaman-pengalaman yang diterima berasal Winnie pada quari menyadari bahwa konsep karakter memiliki 2 makna yang tidak sama. Pertama, ia memberikan bagaimana seorang bertingkah laku . Jika seseorang melakukan tindakan tidak jujur, kejam, atau rakus, maka orang tersebut membagikan sikap yg buruk . Jika seseorang bertindak jujur serta suka membantu orang lain, berarti dia membagikan sifat yang baik dan terpuji. Kedua, istilah karakter erat hubunganya dengan AopersonalityAo. Seorang baru dapat dikatakan 'orang yang berkarakter' jika perilakunya sesuai dengan standar moral. Dari sudut pandang itu, karakter tersebut berkaitan dengan moralitas yang kuat dan memiliki makna yang positif, tidak bersifat Sehingga, orang yang mempunyai karakter adalah orang yang memiliki nilai-nilai moral yang baik. Oleh sebab itu, pendidikan karakter dengan tidak langsung bertujuan untuk membentuk sifat atau cara berperilaku yang didasarkan pada nilai moral yang baik, bukan nilai moral yang jelek. Pandangan ini didukung oleh Peterson serta Seligman, yang secara langsung mengaitkan kekuatan karakter dengan kebajikan. Kekuatan karakter dianggap sebagai komponen psikologis yang membangun kebajikan (HIDAYAH, 2. Agama Islam mendefinisikan bahwa karakter adalah tujuan utama pendidikan. Pendidikan karakter dalam Islam disebut dengan pendidikan akhlak. Ukuran baik dan buruk akhlak berpedoman pada Al-QurAoan dan Sunnah. Pendidikan Agama Islam mempunyai orientasi pada pembinaan karakter setiap individu. Pendidikan karakter menurut Islam adalah upaya yang dilakukan oleh pendidik secara sadar kepada siswa untuk membentuk kepribadian yang baik. Tujuannya adalah mengajarkan dan membentuk nilai moral, etika, serta sikap berbudaya dan berakhlak mulia. Hal ini membantu siswa mengenali mana hal yang baik dan buruk, serta mampu menerapkan kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan meliputi pendidikan, pengajaran, bimbingan, dan pelatihan yang didasarkan pada Al-Quran dan As-Sunah (Yunita & Mujib. Nilai-nilai Islam berasal dari ajaran agama Islam itu sendiri. Salah satu bentuk dari pengamalan nilai-nilai agama Islam adalah sikap, akhlak, sopan santun, tingkah laku, budi pekerti, atau yang disebut dengan karakter. Salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang paling terkenal adalah, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak" (Arti. Sagala, & Kusuma, 2. Program Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul Karimah (SKUA) yang meliputi pendidikan, pengajaran, bimbingan, pelatihan, dan teladan yang diberikan guru dapat membentuk karakter baik siswa yang sesuai dengan Al-QurAoan dan As-Sunnah. Diharapkan karakter siswa terbentuk dari pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan setiap hari sesuai dengan program SKUA. Pendidikan keagamaan pada forum pendidikan adalah sebuah institusi yang memberikan pelajaran kepada peserta didik, sehingga bisa membentuk karakter yang mulia dan juga dapat menjadi pedoman dalam pendidikan jiwa dan agama, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah, salah satunya ialah dengan pembiasaanpembiasaan dalam ubudiyah dan akhlakul karimah. Pembiasaan-pembiasaan yang telah dijadwal dalam program SKUA di MIN 3 Pacitan dalam hal ubudiyah anak menjadi rajin sholat dhuha, rajin sholat dzuhur berjamaAoah ketika AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . di sekolah, mampu menghafal asmaAoul husna melalui pembiasaan setiap hari, anak-anak MIN 3 Pacitan menjadi paham dzikir dan doAoa yang harus dipanjatkan ketika selesai sholat, mengerti urutan dan tata cara berwudhu, anak-anak MIN 3 Pacitan dapat membaca AlQurAoan sesuai kaidah tajwid dan menghafal surat-surat pendek melalui metode Ummi. Dalam hal akhlakul karimah yaitu salim pada guru ketika pagi hari di depan pintu gerbang mengajarkan anak untuk sopan, ramah pada orang yang lebih tua dan itu mempengaruhi sebagian besar anak MIN 3 Pacitan pada saat bertemu dengan Bapak/Ibu guru diberbagai tempat anak-anak terbiasa menyapa dan salim pada Bapak/Ibu guru, hal tersebut menghilangkan sifat sombong dan acuh tak acuh pada anak. Bimbingan ketika dapat makan bergizi gratis (MBG) mengingatkan anak cuci tangan dan berdoAoa sebelum makan dan minum, makan atau minum baiknya sambil duduk dan memakai tangan sesuai tuntunan Rosululloh SAW. Pembiasaan-pembiasaan di MIN 3 Pacitan tersebut ternyata mempengaruhi anak-anak dalam pembentukan karakter Islami yaitu anak-anak lebih rajin beribadah dan memiliki sifat sopan . enyum, salam dan sap. KESIMPULAN Proses Implementasi Program SKUA dalam pembentukan karakter siswa di MIN 3 Pacitan dilakukan secara terencana melalui tiga tahapan utama yaitu Perencanaan yang dilakukan melalui rapat koordinasi untuk menetapkan penanggung jawab, target capaian, jadwal, serta sarana prasarana pendukung seperti perekrutan guru mengaji dan alat peraga. Pelaksanaan yaitu dengan program yang diintegrasikan ke dalam kegiatan intrakurikuler . ata pelajaran PAI) dan ekstrakurikuler berupa pembiasaan harian yang terstruktur. Kegiatan meliputi penyambutan siswa dengan bersalaman . , sholat dhuha dan dzuhur berjamaah, membaca AsmaAoul Husna, serta pembelajaran Al-QurAoan metode Ummi. Evaluasi yaitu dengan penilaian yang dilakukan setiap akhir semester mencakup praktik ibadah, hafalan surat pendek, dan pengamatan adab. Hasilnya dilaporkan kepada orang tua melalui raport khusus SKUA yang menyertai raport akademik. Penerapan program SKUA pada madrasah terbukti efektif dalam membentuk karakter Islami siswa melalui metode pembiasaan . yaitu terbentuknya karakter ubudiyah dimana siswa menjadi lebih disiplin dan rajin dalam beribadah, lancar membaca Al-QurAoan sesuai tajwid, serta hafal doa-doa harian dan AsmaAoul Husna. Karakter akhlakul karimah yaitu siswa menunjukkan perilaku sopan santun, ramah, dan rendah hati yang tercermin dari budaya "senyum, sapa, salam" serta penerapan adab makan dan minum sesuai sunnah. Keunggulan spesifik yang menjadi salah satu nilai tambah di MIN 3 Pacitan adalah penggunaan metode Ummi dalam pembelajaran Al-QurAoan yang dipantau langsung oleh tim Ummi Madiun Raya, serta adanya program munaqosyah dan wisuda . hotmul qurAoa. sebagai bentuk standarisasi kualitas bacaan siswa. Penelitian Implementasi Program Standar Kecakapan Ubudiyah-Akhlakul dalam Pembentukan Karakter Siswa: Studi Kualitatif di MIN 3 Pacitan ini sayangnya memiliki keterbatasan hanya dilakukan di lingkungan madrasah sehingga hanya dapat dilihat kebiasaan anak dari hasil pembiasaan di lingkungan madrasah. Peneliti berharap pada penelitian selanjutnya kebiasaan anak dari hasil pembiasaan anak dapat diteliti lebih luas di lingkungan keluarga dan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA