Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 PROGRAM LAYANAN BELAJAR KEAGAMAAN DALAM MENINGKATKAN SPIRITUALITAS ANAK SEJAK DINI Nur Hafidz* Affitri Praptia Barkah** *Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto. Indonesia **UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Indonesia *E-mail: n. hafidz@unu. **E-mail: affialfa@gmail. Abstract Every child is born with the potential for goodness, namely the growth of a sense of self-potential, primary and secondary needs to be able to recognize, and awareness of the existence of God Almighty in The communication skills that are built will become a daily habit. Moreover, with a religious learning service program that improves children's spirituality from an early age. There is one Putra Harapan Kindergarten institution that implements a religious learning service program in improving the spirituality of early childhood. This religious learning service program is to make parents aware of the importance of spiritual intelligence being realized. From here it is important to research the religious learning service program in improving children's spirituality from an early age. The goal is, the religious learning service program in improving children's spirituality from an early age can recognize Islam . Islam, and ikhsa. in every aspect of spiritual development in the Harapan Putra Kindergarten school room. This research method uses descriptive qualitative by taking seven samples of children, teachers, and principals at Putra Harapan Kindergarten aged 4-6 years and obtaining the impact of the religious learning service program. Data collection techniques use observation, interviews, and documentation with an active participation model. The results of the study indicate that the religious learning service program in improving children's spirituality from an early age through: . Religious Learning Services for Individuals. Religious Learning Services for Groups. Spiritual Implications for Children from an Early Age. These three points are where children will experience changes in their spiritual attitudes and reason which will be evident in their daily religious learning. Keywords: learning services, religious, spiritualist, early childhood Abstrak Setiap anak lahir mempunyai potensi kebaikan, yakni tumbuh rasa potensi diri, kebutuhan primer dan sekunder dapat mengenal, dan kesadaran adanya Tuhan yang maha Esa dalam Kemampuan komunikasi yang dibangun akan menjadi kebiasaan setiap harinya. Terlebih dengan program layanan belajar keagamaan yang meningkatkan spiritual anak sejak Ada salah satu lembaga TK Putra Harapan yang menerapkan program layanan belajar keagamaan dalam meningkatkan spiritual anak usia dini. Program layanan belajar keagamaan ini untuk menyadarkan orang tua pentingnya kecerdasan spiritual diwujudkan. Dari sinilah penting untuk meneliti program layanan belajar keagamaan dalam meningkatkan spiritual anak sejak dini. Tujuannya, program layanan belajar keagamaan dalam meningkatkan spiritual anak sejak dini dapat mengenal keislaman . man, islam, dan ikhsa. dalam setiap aspek perkembangan spiritual di ruang sekolah TK Harapan Putra. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan mengambil tujuh sampel anak, guru, dan kepala sekolah di TK Putra Harapan yang berusia 4-6 tahun dan memperoleh dampak dari program layanan belajar keagamaan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan model partisipasi aktif. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa program layanan belajar keagamaan dalam meningkatkan spiritualis anak sejak dini melalui: Layanan Belajar Keagamaan untuk Individu. Layanan Belajar Keagamaan untuk Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 Kelompok. Implikasi Spiritual Anak Sejak Dini. Tiga poin inilah, anak akan memperoleh perubahan dalam sikap dan akal spiritual yang akan melekat dengan dibuktikan keseharian selama belajar keagamaan. Kata Kunci: layanan belajar, keagamaan, spiritualis, anak usia dini Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 PENDAHULUAN Era sekarang ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam layanan orang tua dan guru terhadap pendidikan anak usia dini yang berkaitan dengan potret ideal seorang Sementara itu keinginan orang tua dan guru supaya anak yang cerdas intelektual, tetapi saat ini mulai menginginkan anak selain cerdas intelektual juga cerdas spiritualnya. Belum tentu pergeseran paradigma ini bukannya tanpa sebab (Erfayliana. Ada empat faktor determinan terkait pergeseran era pendidikan sekarang ini (Wiyani, 2. Pertama, kesadaran orang tua terhadap pelayanan belajar keagamaan menjadi investasi mereka bukan hanya dunia tetapi juga di akhirat. Hal itu menjadikan orang tua menginginkan agar anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah. Dalam hal ini anak sholeh/sholehah itu adalah indikator anak memiliki kecerdasan spiritual. Kedua, orang tua mulai gelisah melihat berbagai fakta yang terjadi di lingkungan sekitar yang berkaitan masyarakat yakni berbagai kasus kekerasan kepada anak didik yang mudah ditemui di berbagai berita di media massa. Ketiga, orang tua atau guru mewaspadai dampak negatif yang menimbulkan era komunikasi berbasis Saat ini media sosial seperti instagram, tiktok, facebook, dan twitter kepribadian ganda (Hafidz Raden Diana Rachmy UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2. Nyatanya anak menjadi yang penurut, tetapi di dunia maya anak menjadi pribadi yang suka bahkan menebarkan kebencian. Selama kebiasaan itu berlanjut, tidak menutup kemungkinan sikap di dunia maya dapat mempengaruhi sikap dunia Keempat, orang tua dan guru kehidupannya semakin menantang dan tidak bisa pahami. Jika orang tua tidak memiliki kesadaran atas layanan pendidikan anak, pada fase remaja anak mudah diombang-ambing oleh ketidakjelasan (Hermawan, 2. Tentunya jika digali lebih mendalam dan komprehensif dapat ditemukan lagi faktor determinan yang bersumber dari pergeseran paradigma pada diri orang tua. Lembaga melayani pendidikan pun harus merespons pergeseran tersebut. Diakui atau tidak lembaga pendidikan menjadi pihak yang ikut menentukan berbagai potret ideal seorang anak. Apakah lembaga melayani pendidikan yang melahirkan intelektualnya? Ataukah lembaga Danar johar dan Ian Marshal kecerdasan spiritual . piritual quotien. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 bahwa kecerdasan spiritual dibentuk oleh orang tua dan lingkungan yang mendukung dari kebutuhan fase anakanak dalam keseharian. Jika anak sudah mahir dalam kecerdasan spiritualis, maka akan cerdas pula intelektualnya (Pristiwanti et al. , 2. Untuk mewujudkan peserta didik yang unggul melalui intelektual sekaligus spiritual dengan guru mengajar di sekolah seharusnya bersifat holistik atau menyeluruh. Arti holistik adalah melayani pendidikan berupa kesehatan, perawatan, gizi, pengembangan anak usia dini dengan masyarakat, organisasi, maupun tokoh masyarakat lainnya. Di sekolah, anak belajar sangat Sistem belajar dengan desain kurikulum melalui strategi dan pendekatan sudah ditentukan, tetapi pendekatan yang sesuai kebutuhan diperhatikan sepenuhnya oleh guru. Kebutuhan karakter ataupun moral anak lebih dominan banyak dikenal oleh orang tua di rumah (Munir, 2. Dari komunikasi dan peran orang tua terhadap bagaimana layanan belajar anak di rumah memberi pengaruh spiritual anak sejak dini. Meskipun, tugas guru telah memprogram banyak kegiatan belajar keagamaan, tetapi harus ada estafet program keagamaan dengan orang tua (Ambariani & Suryana, 2. Misalnya, program di sekolah ada mengaji juz amma atau suratan pendek, maka ketika di rumah, kemampuan anak selama belajar di Dari sinilah, konsep kolaborasi atau kerjasama guru dan orang tua kecerdasan spiritualisme anak sejak Siti Habsoh. Endin Nasrudin, dan Adi Rosadi pelaksanaan bimbingan belajar oleh orang tua dalam perkembangan moral spiritual anak di raudhatul athfal. Hasil Siti Habsoh. Endin Nasrudin, dan Adi Rosadi, pertama, adanya orang tua yang bersikap apatis dalam melakukan bimbingan belajar dalam perkembangan moral spiritual anak, dengan alasan sibuk pekerjaan rumah tangga. Kedua, orang tua kepada anaknya sudah maksimal hanya ada beberapa hal yang harus bimbingan kepada anak. Ketiga, faktor pendukung masih pada kesadaran orang tua selalu mendidik dan anak-anak kegiatan belajar dan adanya suasana keluarga yang penuh kasih sayang nyaman bagi anak belajarnya. Keempat, adanya perbedaan yang dibimbing belajar orang tua degan perkembangan moral spiritual anak di sekolah, anak Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 yang dibimbing belajar oleh orang tua lebih patuh, tapi ketika di sekolah anak tidak mau dibimbing oleh guru (Habsoh et al. , 2. Hakikat bimbingan keagamaan siswa-siswi belajar mengembangkan fitrah melalui keimanan, akal dan kemampuan yang diberi oleh Allah SWT kepada manusia dasar-dasar kehidupan dari Allah dan rasul-Nya, bila di atas problem kesadaran orang spiritualnya terbatas, maka budaya pengasuhan dalam layanan belajar keagamaan belum maksimal. Ada orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaannya, karirnya dan jabatannya mengasuh anak diberikan ke pembantu atau panti asuh (Asmawati, 2. Dari sinilah, kerugian orang tua dalam kasih sayang dan kelekatan terhadap anakanak sangat kurang sehingga tumbuh kembang fase remaja anak tidak ada menyenangkan dari orang tuanya. Beberapa PAUD kecerdasan spiritual. Salah satunya adalah TK Putra Harapan Bantarsoka Jl. KS. Tubun Gang Slobor. RT 4 RW 6. Kelurahan Kober Kecamatan Purwokerto Barat. Kober. Kec. Purwokerto Barat. Kab. Banyumas. TK Putra Harapan ini mengedepankan kurikulum aspek nilai agama dan moral. Salah satu program yang setiap kali peneliti observasi adalah, layanan ibadah, layanan mengaji, layanan kisah, dan layanan hari keagamaan. Setiap anak umur 4 tahun sampai 6 tahun di TK Putra Harapan di ajari moral mulai dari berbaris antri, jujur, disiplin berangkat sekolah, dan hafalan hadis serta suratan pendek. Dalam artikel ini peneliti akan mendeskripsikan bagaimana program layanan belajar keagamaan dalam meningkatkan kecerdasan spiritual anak usia dini di TK Putra Harapan Purwokerto Barat. Deskripsi akan mencakup aspek melalui. Layanan Belajar Keagamaan untuk Individu. Layanan Belajar Keagamaan untuk Kelompok. Implikasi Spiritual Anak Sejak Dini. METODE Peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif . ield researc. (Sugiyono, 2. dengan metode studi kasus di TK Putra Harapan Bantarsoka. Melalui observasi belajar keagamaan anak usia dini, dengan menggunakan cara program layanan belajar untuk meningkatkan kecerdasan spiritual anak sejak dini yang dilatih dengan program layanan belajar keagamaan. Penelitian dilaksanakan di TK Putra Harapan Bantarsoka Jl. KS. Tubun Gang Slobor. RT 4 RW 6. Kelurahan Kober Kecamatan Purwokerto Barat. Kober. Kec. Purwokerto Barat. Kab. Banyumas. Subjek penelitian ini adalah Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 guru dan kepala sekolah, serta peserta didik usia 4-6 tahun yang tahun 20232024. Peneliti meneliti program layanan belajar keagamaan sejak usia dini selama di sekolah. Teknis pengambilan data dalam penelitian ini yakni menggunakan observasi, wawancara. Observasi, dilakukan peneliti untuk memperoleh data melalui pengamatan pada anakanak TK Putra Harapan Purwokerto Barat dalam melakukan aktivitas program layanan belajar keagamaan spiritual sejak dini seperti, salat, puasa, bersabar, berdoa, mengucapkan hal-hal baik, bersedekah, dan hafalan hadis dan suratan pendek untuk membentuk karakter spiritual dari program yang telah didesain oleh para guru TK Putra Harapan Bantarsoka. Metode dokumentasi dilakukan mengabadikan fenomena, teks dokumen, karya, dan kegiatan lembaga pendidikan lewat Misalnya, kegiatan program hafalan hadis dan suratan pendek, mempraktikkan kebiasaan religius, dan merefleksikan kesadaran spiritual anak usia dini. Analisis teknik kualitatif melalui: . Reduksi Data mengambil pokok pada hal yang bersifat penting, . penyajian datanya untuk memahami sesuatu yang terjadi, kemudian melakukan reduksi datanya dengan adanya penyajian data, . penarikan kesimpulan ini untuk mengumpulkan data, membaca banyak literatur, hingga penarikan dalam kesimpulan sesuai kenyataan di lapangan (Lexy J. Moleong, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian anak sejak usia dini. Pada kanak-kanak merupakan fase kritis dalam perkembangan spiritual, di nilai-nilai keimanan, moralitas dan akhlak mulia Melalui program layanan belajar keagamaan, upaya penguatan spiritual dapat dilakukan secara terstruktur dan terarah, mencakup pembelajaran yang interaktif, mendidik dan relevan dengan kebutuhan anak. Peningkatan spiritual pada anak hubungan mereka dengan Yang Maha Pencipta, tetapi juga mempengaruhi pembentukan karakter, etika, sosial, dan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan. oleh karena itu, program-program ini pendekatan pendidikan agama dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pada pembahasan ini, akan dikaji pentingnya program layanan belajar keagamaan, implementasi program tersebut dalam lingkungan pendidikan. Penelitian menumbuhkan generasi berakhlak Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 mulia, beriman, dan kesadaran spiritual yang kuat sejak dini (Supriani & Arifudin, 2. Program keagamaan di TK Putra Harapan Purwokerto menanamkan nilai-nilai spiritual sejak dini melalui berbagai kegiatan yang terstruktur dengan usia anak. ini dirancang untuk membantu sekaligus mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa program layanan belajar ibadah tersebut di antara lain: Pertama. Tahfidz Al-QurAoan. Program ini bertujuan untuk membantu anak menghafal ayat-ayat Al-QurAoan secara bertahap, yang dimulai dari surahsurah pendek. Metode yang digunakan meliputi pengulangan (MurajaAoa. , dari (Talaqq. Kedua, berjamaoah. Kegiatan ini mengajarkan tata cara shalat yang benar, membiasakan anak untuk disiplin, serta memahami pentingnya ibadah. Anak- anak diajak untuk mengikuti shalat berjamaAoah di sekolah secara rutin. Ketiga, hafalan doAoa harian. Anak-anak diajarkan berbagai doAoa harian untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, meliputi doAoa sebelum dan sesudah makan, doAoa masuk dan keluar kamar mandi. Keempat. Hafalan Hadits pendek. Anakanak diperkenalkan dengan hadits- hadits pendek yang berisi moral dan nilai-nilai keislaman untuk ditanamkan dalam kehidupan mereka. Manfaat dari beberapa program layanan belajar ibadah tersebut kesadaran spiritual pada anak dalam memahami konsep ibadah, nilai-nilai moral dan pentingnya memiliki hubungan dengan Allah sejak dini. Kemudian, anak-anak nantinya akan terbentuk karakter islami dan terbiasa dengan etika sosial yang baik. Kegiatan program layanan ibadah TK Putra Harapan dilakukan pada kelompok A . sia 4-5 tahu. dan B . sia 5-6 tahu. dengan pendekatan bermain sambil belajar agar anak-anak merasa antusias dan tidak tertekan. Terdapat secara keseluruhan 18 pendidik dengan rincian dua guru . sebagai pengajar dan pendamping bertindak sebagai teladan membimbing anak-anak dengan sabar dan konsisten. Anak-anak diberikan penghargaan sederhana, seperti pujian memotivasi mereka dalam mengikuti Dengan program layanan belajar keagamaan ini. TK Putra Harapan belajar yang kondusif untuk penguatan spiritual anak sejak dini, sehingga membentuk generasi muda yang menghadapi masa depan. Program layanan keagamaan di TK Putra Harapan pada kelompok A Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 yang berusia 4-5 tahun dirancang dengan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan dan moral, dan karakter islami. Program layanan keagamaan yang diberikan pada kelompok A pastinya memiliki kapasitas yang berbeda dengan program layanan keagamaan yang diberikan pada kelompok B. Program layanan keagamaan tersebut di Pertama, kegiatan Tahfidz AlQurAoan. kegiatan tahfidz ini dilakukan setiap pagi dari selama 10 menit . ukul 00 - 08. Anak-anak diajak menghafal surah-surah pendek dengan metode talaqqi . erhadapan langsung antara guru dan muri. dan dengan murajaAoah . Ustadzah membacakan ayat, kemudian anakanak mendengarkan setelah itu menirukan bacaan tersebut secara kelompok atau individu. Setelah itu, ustadzah mengulang kembali surah yang sudah dilafalkan kurang lebih 3-5 kali pengulangan bacaan surah. Suasana memberikan motivasi berupa apresiasi Anak-anak umumnya terlihat antusias, meski beberapa masih kesulitan mengikuti lafal dengan benar. Ustadzah DI menjelaskan bahwa tahfidz dimulai dari surah-surah pendek seperti Al-fatihah. An-Nas. AlFalaq Al-Ikhlas. Metode menirukan bacaan dari mimik wajah ustadzah dan pengulangan dianggap efektif karena anak-anak lebih mudah Ustadzah pendekatan bermain, seperti membuat kompetisi hafalan untuk meningkatkan anak-anak. Dokumen tahfidz merupakan bagian wajib dalam jadwal harian. Setiap anak memiliki buku hafalan dan mencatat kemajuan Berdasarkan laporan target hafalan untuk kelompok A yaitu dari surat Al-Fatihah sampai Al-Maun sampai dua semester. Kedua, program shalat berjamaAoah dilaksanakan setiap dua kali sehari sebelum pulang sekolah yaitu shalat dhuha pada pukul 08. 30 dan shalat dzuhur pukul 11. Anakanak diarahkan untuk mengambil wudhu terlebih dahulu dengan bimbingan ustadzah. Selama shalat, ustadzah bertindak sebagai imam dan memberikan instruksi gerakan serta Selain itu, ustadzah pendamping mengawasi pelaksanaan dalam shalat. Anak-anak terlihat bersemangat, meski bimbingan dalam gerakan dan bacaan. Bacaan surah yang dibacakan dalam kegiatan shalat berjamaAoah yaitu surah yang sedang dalam proses penghafalan maupun yang sudah dihafal. Ustadzah DI menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan membiasakan anak melaksanakan shalat secara Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 Selain itu, anak-anak diajarkan tata cara berwudhu dan bacaan shalat Ustadzah juga sering memberikan cerita singkat tentang keutamaan shalat berjamaAoah untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap ibadah. Evaluasi kehadiran anak dalam kegiatan shalat berjamaAoah. Berdasarkan laporan anakanak kelompok A rata-rata telah memahami posisi shaf shalat, tata cara berwudhu dan gerakan shalat. Ketiga, hafalan doAoa harian dilakukan setiap pagi dan sebelum kelompok A hafalan doAoa harian yaitu 10 doAoa harian tertentu, seperti doAoa sebelum belajar, doAoa sebelum dan sesudah makan, doAoa sebelum tidur dan sesudah bangun tidur, doAoa masuk da keluar kamar mandi, doAoa turun hujan, doAoa selesai belajar dan doAoa Ustadzah membantu anak-anak menginat doAoa dengan lebih mudah. Anak-anak terlihat menikmati metode ini, dan suasana kelas menjadi lebih interaktif. Ustadzah DI menyatakan bahwa metode bernyanyi sangat efektif, terutama untuk anak usia dini. Anak diajak menghafal doAoa dengan irama yang menarik, sehingga mereka lebih mudah mengingat dan menerapkan di Ustadzah juga meminta kerjasama orang tua untuk mendukung pembiasaan doAoa di lingkungan Putra Harapan mencantumkan target hafalan doAoa harian untuk setiap bulan. Evaluasi dilakukan melalui penilaian lisan secara individu, dengan hasil rata-rata anak kelompok A telah menghafal lima doAoa harian utama dalam satu semester. Keempat, hafalan hadits pendek dilakukan setiap hari setelah hafalan doAoa harian. Target hafalan hadits pendek pada kelompok A yaitu 5 hadits pendek di antaranya hadits tentang kebersihan sebagian dari iman, hadits sesama muslim bersaudara, hadits orang yang bermanfaat, hadits iabadah yang paling utama dan hadits iman Ustadzah pengulangan dengan memberikan penjelasan arti hadits melalui cerita atau ilustrasi sederhana. Anak-anak terlihat tertarik ketika ustadzah menggunakan media visual untuk membantu pemahaman mereka. Ustadzah DI menjelaskan bahwa hadits pendek yang diajarkan, seperti Aukebersihan adalah sebagian dari imanAy, hadits ini dipilih karena yang paling relevan dengan kehidupan anak-anak. anak-anak diajak berdiskusi tentang penerapan hadits tersebut, misalnya dengan menjaga kebersihan diri dan Dokumen mencatat hafalan hadits anak pada kelompok A. Berdasarkan laporan, anak-anak telah menghafal dua hadis pendek selama satu semester. Penilaian dilakukan secara kelompok untuk mengurangi tekanan pada anak. Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 Pada anak . sia 5-6 tahu. di kelompok B mendapatkan perhatian khusus dalam meningkatkan spiritual dirancang untuk menanamkan nilainilai islami secara praktis dan Program layanan keagamaan di TK Putra Harapan untuk kelompok B sama dengan kelompok A namun yang menjadi pembeda yaitu target yang dicapai. Setiap kegiatan yang disusun untuk membangun fondasi spiritual yang kokoh bagi anak, sekaligus menjalani kehidupan dengan nilai-nilai keislaman yang kuat. Pembahasan wawancara dengan pendidik dan analisis dokumen terkait pelaksanaan program layanan keagamaan di kelompok B. Melalui terstruktur, sehingga mereka dapat dengan mudah memahami, menghafal, dan mempraktikkan ajaran agama sehari-hari. Pembahasan berikut akan menjelaskan secara rinci mengenai implementasi program layanan keagamaan di TK Putra Harapan untuk kelompok B. Gambar 1 adalah program Tahfidz Al-QurAoan pada kegiatan tahfidz untuk kelompok B dilakukan setiap pagi selama 20 menit pukul Anak-anak menghafal surah-surah pendek dengan murajaAoah . erhadapan ustadzah dan pengulanga. Ustadzah anak-anak berkelompok, sementara ustadzah pendamping membantu anak-anak yang mengalami kesulitan dalam proses penghafalan. Anak-anak terlihat cukup fokus dan mampu menghafal surah baru dalam waktu yang relatif Gambar 1. Program Tahfidz Al-QurAoan Ustadzah TR menyatakan bahwa anak-anak usia 5-6 tahun . elompok B) memiliki daya ingat yang lebih baik dibanding kelompok usia lebih muda, menghafal surah dengan durasi lebih Target surah yang diajarkan di antaranya dari surah Al-Fatihah sampai surah Ad-Dhuha, dan ayat-ayat tertentu QS. Al-Baqarah: 225. AlBaqarah: 284-286 dan QS. Al-Kahfi: 110. Pengulangan dengan metode murajaAoah dilakukan sebanyak 5 kali pengulangan untuk setiap kelompok kecil bahkan individu. Dokumen kurikulum dan evaluasi menunjukkan bahwa anak kelompok B rata-rata mampu menghafal lima surah pendek Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 selama satu semester. Kemajuan setiap individu dicatat dalam buku portofolio anak, yang juga dibagikan kepada orang tua untuk mendorong latihan di berjamaAoah yaitu surah yang sudah dihafal, proses penghafalan maupun yang akan dihafal pada anak. Dengan begitu proses hafalan surah lebih Ketika salah satu anak bertindak sebagai imam, ini akan melatih jiwa keberanian, tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan pada diri anak. Ustadzah menggunakan pendekatan praktik langsung, di mana anak-anak gerakan dan bacaan hingga lancar. Selain itu, anak-anak diajak berdiskusi tentang pentingnya shalat sebagai ibadah utama dalam agama Islam. Dokumentasi kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata anak kelompok B telah memahami niat berwudhu, tata cara berwudhu, tata cara berwudhu, doAoa selesai berwudhu dan melaksanakan shalat dengan urutan gerakan yang benar. Buku kehadiran dan keterlibatan anak dalam kegiatan shalat berjamAoah. Ketiga, hafalan doAoa harian yang menjelang kegiatan tertentu, target pada kelompok B hafalan doAoa harian yaitu 20 seperti dzikir pagi, doAoa harian tertentu, seperti doAoa sebelum dan sesudah belajar, doAoa sebelum dan sesudah makan, doAoa sebelum tidur dan sesudah bangun tidur, doAoa masuk dan keluar kamar mandi, doAoa turun hujan, doAoa selesai belajar, doAoa sebelum dan sesudah wudhu, doAoa berpergian, doAoa memakai dan melepas pakaian, doAoa masuk dan keluar masjid, doAoa Gambar 2. Shalat BerjamaAoah Kedua, berjamaAoah dilaksanakan setiap hari sebelum anak pulang sekolah pada Gambar 2. Kegiatan berjamaAoah dilaksanakan dua kali dengan rincian shalat dhuha pukul 08. 00 dan shalat dzuhur 11. 30- 11. Anak-anak diarahkan untuk berwudhu secara mandiri di bawah pengawasan Selama shalat, salah satu anak secara bergantian dipilih untuk menjadi imam dengan arahan ustadzah dalam bacaan dan gerakan dengan Kelompok B terlihat lebih mandiri dan tertib dalam pelaksanaan shalat dibandingkan kelompok A, meskipun tetap memerlukan koreksi pada beberapa bacaan. Ustadzah TR menjelaskan bahwa anak kelompok B mulai diajarkan bacaan shalat secara lengkap, termasuk doAoa iftitah, tasyahud akhir beserta dzikir dan doAoa diakhir shalat. Bacaan surah pendek pada saat shalat Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 bercermin, doAoa penutup majelis dan Anak-anak kelompok B terlihat lebih percaya diri doAoa bersama-sama individu, meskipun beberapa masih mengandalkan panduan dari guru. Ustadzah bahwa anak dari kelompok B diajarkan lebih banyak variasi doAoa dibandingkan pada kelompok A, karena kemampuan Metode yang digunakan meliputi pengulangan, bernyanyi dan diskusi tentang makna doAoa. Ustadzah juga melibatkan orang tua untuk melatih doAoa di rumah, sehingga pembiasaan menjadi lebih efektif. Dokumentasi evaluasi hafalan menunjukkan bahwa anak kelompok B rata-rata telah menghafal 10 doAoa harian Penilaian dilakukan secara individu setiap akhir bulan untuk mengukur kemajuan pada Ketiga, hafalan hadits pendek dilakukan setiap hari setelah hafalan doAoa harian. Target hafalan hadits pendek pada kelompok B yaitu 10 hadits pendek di antaranya hadits tentang kebersihan sebagian dari iman, hadits sesama muslim bersaudara, hadits orang yang bermanfaat, hadits ibadah yang paling utama dan hadits iman yang paling utama, hadits keutamaan belajar Al-QurAoan, hadits kepemimpinan, hadits shalat sebagai penyejuk, hadits malu dan iman dan hadits senyum adalah sedekah. Anak-anak kelompok B diajarkan hadits yang berkaitan dengan akhlak mulia, seperti AuKebersihan adalah sebagian dari imanAy dan AuSenyum adalah sedekahAy. Ustadzah menggunakan metode bercerita dan memberikan anak-anak memahami isi hadits. Ustadzah menjelaskan bahwa anak kelompok B sudah mampu memahami makna hadits secara Mereka sering diajak menerapkan nilai-nilai hadits dalam sehari-hari, menjaga kebersihan atau berbuat baik Ustadzah memberikan tugas kecil, seperti mempraktikkan hadits di rumah dan menceritakan pengalaman tersebut di Dokumen menunjukkan bahwa anak- anak dari kelompok B rat-rata mampu menghafal lima hadits pendek setiap semester. Ustadzah mencatat hafalan anak dalam lembar penilaian, yang juga digunakan untuk melaporkan perkembangan spiritual anak kepada orang tua. KESIMPULAN Program layanan keagamaan di TK Putra Harapan telah berjalan dengan berhasil menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai spiritual pada usia dini. Perbedaannya untuk nilai-nilai keagamaan dengan pendekatan yang menyenangkan, sedangkan kelompok Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta PISSN: 2548-9232. EISSN: 2775-3573 Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024: 231-244 B diarahkan pada pengembangan dan Pelaksanaan program ini kompeten, kurikulum yang terstruktur dan metode yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Keberhasilan program ini terlihat dari kemampuan anak-anak dalam mempraktikkan nilai-nilai islami di sehari-hari. Hal menunjukkan bahwa program layanan keagamaan di TK Putra Harapan mampu memberikan fondasi spiritual yang kuat bagi perkembangan anak yang berkomitmen dalam mencetak generasi muda berakhlak mulia. DAFTAR PUSTAKA