Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index PELATIHAN REKAYASA BANGUNAN DAN JALUR EVAKUASI MENGHADAPI BAHAYA KEBAKARAN UNTUK PRAKTISI MUDA DI KOTA MATARAM Suryawan Murtiadi*). Didi S. Agustawijaya. Akmaluddin. Ngudiyono. Ni Nyoman Kencanawati Magister Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Mataram Jalan Majapahit No. 62 Mataram. Nusa Tenggara Barat Korespondensi: s. murtiadi@unram. Artikel history : Received Revised Published : 25 Oktober 2022 : 2 Februari 2023 : 9 Februari 2023 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Kebakaran terjadi apabila ada tiga unsur yang bertemu yaitu sumber api . , material yang mudah terbakar . ombustible material. dan oksigen (O. Kebakaran merupakan bencana yang sering disebabkan oleh kelalaian manusia . uman erro. Dampak yang ditimbulkannya adalah kerugian harta benda, terhentinya usaha, terhambatnya perekonomian dan bahkan sampai jatuhnya korban jiwa. Data menunjukkan kejadian kebakaran yang menimpa bangunan perumahan dan pemukiman penduduk pada umumnya terbakar habis. Hal ini disebabkan karena bangunan tersebut menggunakan bahan atau elemen yang mudah terbakar. Sedangkan pada bangunan dengan rangka beton masih meninggalkan sisa rangka fisik. Sekalipun gedung atau tempat kerja pada umumnya telah dilindungi asuransi, namun tetap saja langkah pencegahan harus dilakukan. Solusi yang ditawarkan adalah pelatihan bagi masyarakat terutama para praktisi jasa konstruksi untuk melakukan mitigasi secara teratur mulai dari identifikasi, evaluasi, pengukuran dan pengelolaan risiko kebakaran. Metode pendekatan yang dilakukan adalah pelatihan disertai praktek dan teknik presentasi. Identifikasi tingkat kerusakan dan metode perbaikan infrastruktur khususnya bangunan gedung dan perumahan didemonstrasikan. Pelatihan dan evaluasi rambu-rambu jalur evakuasi dilaksanakan dengan tujuan untuk keselamatan seluruh penghuninya. Hasil kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman dan keterampilan peserta pelatihan tentang tingkat kerusakan infrastruktur. Hasil lainnya adalah mengetahui tata cara perbaikan kerusakan bangunan maupun infrastruktur akibat kebakaran. Peran serta dan pentingnya jalur evakuasi juga dipahami dengan baik. Simulasi dan evaluasi jalur evakuasi dilakukan mulai dari dalam lokasi permukiman menuju tempat aman berupa titik kumpul . ssembly poin. Dari kegiatan ini disimpulkan bahwa melalui pengaturan yang sistematis dan tindakan yang terprogram dengan baik maka dampak risiko kebakaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Kata kunci: Bangunan, evakuasi, kebakaran, mitigasi, risiko. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index PENDAHULUAN Kebakaran didefinisikan sebagai proses timbul dan menjalarnya api yang tidak Api sendiri merupakan proses kimia yang terjadi karena bertemunya tiga material utama yaitu bahan bakar, oksigen dan sumber panas awal berupa penyalaan . Dalam kebakaran bangunan, bahan bakar biasanya hadir karena elemen struktur atau furnitur yang mudah terbakar dan oksigen yang selalu ada dalam udara. Dalam statistik kebakaran, sumber awal panas umumnya terjadi secara tidak sengaja melalui berbagai mekanisme mulai dari gangguan peralatan, kabel listrik, panas berlebih pada pabrik mekanis, dan sebgainya. Pembakaran dengan sengaja, misalnya dalam perang, huru-hara ataupun terorisme, juga menjadi penyebab banyaknya kebakaran di gedung-gedung (EuroCode, 2002 dan Purkiss, 2. Pada tanggal 22 Agustus 2020, kebakaran terjadi di kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia di wilayah Kebayoran Baru. Jakarta Selatan. DKI Jakarta. Indonesia. Detik. mengabarkan api membakar gedung utama kompleks kejaksaan yang terletak paling depan dari jalan raya utama. Api berasal dari lantai 6 dan menjalar ke bagian-bagian lain. Sumber api bukan berasal dari arus pendek seperti dugaan semula, tetapi berasal dari open flame atau api terbuka. Berdasarkan hasil pemeriksaan, didapati ada sejumlah tukang yang berada di lantai 6, tepatnya di ruang Biro Kepegawaian. Tukang tersebut tengah melakukan renovasi di lantai tersebut. Ada sejumlah faktor yang mempercepat kebakaran. Salah satunya adalah akseleran pada lapisan luar gedung dan ada beberapa cairan minyak lobi yang mengandung senyawa hidrokarbon. Lagipula eksisting partisi gedung yang hanya disekat bahan mudah terbakar. Meskipun puluhan unit mobil pemadam kebakaran dan ratusan petugas damkar gabungan sudah dikerahkan, namun api baru bisa dipadamkan setelah 11 jam 20 menit. Pihak Kejagung menjelaskan kerugian sementara akibat kebakaran gedung utama itu yang ditaksir mencapai Rp 1,1 triliun. Ada dua jenis perkiraan kerugian, yaitu gedung dan bangunan serta peralatan. Perkiraan kerugian nilai gedung dan bangunan sebesar Rp 178. Masih jelas dalam ingatan kita pada Oktober 2020 terjadi kebakaran di Desa Baturotok. Kecamatan Batu Lanteh. Kabupaten Sumbawa. Kebakaran berawal dari meledaknya aki di salah satu rumah. Karena sebagian rumah penduduk terbuat dari kayu maka api cepat membesar dan menyebar ke rumah lainnya. Kepala BPBD Sumbawa menjelaskan bahwa akses jalan mobil pemadam kebakaran sulit, sehingga masyarakat hanya bisa berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya seperti Akhirnya kebakaran ini menghanguskan sekitar 120 unit rumah dengan 280 jiwa (Kompas,12 November 2. Sementara itu di Jakarta periode JanuariAgustus 2021 menunjukkan adanya 984 kasus kebakaran dengan kerugian materiil > 200 M (Antara, 31 Agustus 2. Data ini menunjukkan bahwa di Ibukota Negara terdapat rata-rata 4 rumah terbakar setiap hari. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Dokumen Rencana Strategis Universitas Mataram (Universitas Mataram, 2. merupakan penuangan Rencana Induk Penelitian yang diarahkan untuk mendukung tercapainya visi misi Unram. Dalam implementasinya, payung penelitian unggulan Unram dijabarkan menjadi tiga kelompok bidang ilmu yaitu Sain dan Teknologi. Agrokomplek, serta Sosial dan Humaniora. Ketiga kelompok tersebut mencakup delapan bidang kajian utama yang merupakan unggulan di tingkat Universitas. Fakultas, dan Pusat-Pusat Penelitian di lingkungan Universitas Mataram. Dari bidang unggulan yang telah dicanangkan Unram, pengabdian ini termasuk dalam bidang unggulan pengelolaan dan mitigasi bencana dengan melakukan kegiatan yang terintegrasi untuk keselamatan kebakaran. Murtiadi . dan Akmaluddin, dkk. menyatakan bahwa integrasi harus dimulai dari keseluruhan desain hingga proses konstruksi dan pemeliharaan lanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengurangi dampak risiko kebakaran. METODE KEGIATAN Langkah Kegiatan Dalam melaksanakan pelatihan identifikasi ini, dan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan target yang diinginkan, penetapan metode pelaksanaan menjadi sangat penting sehingga pelaksanaan kegiatan menjadi mudah dan tepat sasaran. Lokasi pelatihan ini dilaksanakan di Lingkungan Kebon Talo. Kecamatan Ampenan. Kota Mataram. Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah: A Memahami konsep dasar api A Memahami jenis kebakaran dan cara memadamkan api awal dengan aman A Memahami Alat Pemadam Api Ringan dan penggunaannya A Pengenalan tingkat-tingkat kerusakan infrastruktur akibat kebakaran A Tata cara perbaikan kerusakan infrastruktur A Pengenalan konsep desain dan pelaksanaan bangunan tahan api A Memahami manajemen keselamatan kebakaran gedung. Gambaran Teknologi Perbaikan Kebakaran menyebabkan terjadinya kerusakan infrastruktur baik rumah tinggal, bangunan pemerintah, fasilitas umum, jalan, jembatan dan bangunan lain. Kriteria tingkat kerusakan infrastruktur diantaranya rusak ringan, sedang dan berat. Kemampuan masyarakat dalam melakukan identifikasi kerusakan infrastruktur rata-rata sangat rendah, sehingga dalam upaya melakukan perbaikan terbatas. Dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kerusakan bangunan infrastruktur pada kegiatan ini dilakukan transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Tingkat-tingkat kerusakan infrastruktur dan upaya perbaikan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index dilakukan berdasarkan SNI 03-1736-200 dan SNI 1741: 2008. Perbaikan difokuskan pada bangunan dengan tingkat kerusakan ringan dan sedang. Gambaran rencana iptek yang diperkenalkan meliputi: A Pengenalan tingkat kerusakan bangunan A Metode identifikasi kerusakan bangunan A Langkah perbaikan kerusakan bangunan Jalur Evakuasi Jalur evakuasi adalah jalur yang dipakai manusia untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana atau suatu kejadian yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu keberadaan jalur dan sarana evakuasi merupakan salah satu hal yang diutamakan. Pentingnya melakukan evaluasi pada jalur dan sarana evakuasi adalah salah satu cara dalam mengurangi jatuhnya korban pada saat terjadi bencana. Jalur evakuasi yang ideal adalah jalur yang terpendek, tercepat dan teraman menuju tempat yang dianggap aman untuk menghindari keadaan darurat tersebut. Evaluasi pada jalur dan sarana evakuasi sangat perlu dilakukan secara berkala. Hasil evaluasi tersebut yang akan dijadikan bahan perbaikan pada jalur evakuasi untuk menjadi jalur yang layak digunakan saat terjadi keadaan darurat. Selain pentingnya evaluasi pada jalur dan sarana evakuasi, edukasi pada penghuni juga sangat penting. Minimnya pengetahuan masyarakat umum pada pentingnya menggunakan jalur evakuasi akan menyulitkan proses evakuasi pada saat terjadi keadaan darurat. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja mengatur para pengusaha konstruksi wajib melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja K3. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu proses sistematis dalam memeriksa, menentukan, membuat keputusan atau menyediakan informasi terhadap program yang telah dilakukan dan sejauh mana program tersebut tercapai. Jalur evakuasi merupakan akses yang dapat dinyatakan aman untuk dilalui sebagai jalur menuju sarana evakuasi atau ke tempat yang aman untuk menghindari bahaya. Sarana evakuasi dapat diartikan sebagai suatu tempat yang dijadikan titik kumpul dimana dinilai paling aman untuk sementara untuk menyelamatkan diri. Proses mengevaluasi jalur dan sarana evakuasi dapat dilakukan dengan beberapa Jalur dan sarana evakuasi harus direncanakan dengan baik sejak perancangan bangunan sesuai rencana penggunaannya. Pertama, dalam evaluasi perlu adanya analisis sirkulasi, yaitu pola penataan ruang dalam yang terjadi pada bangunan ini akan mempengaruhi aksesibilitas evakuasi penghuni dalam kondisi darurat, sehingga hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan. Kedua, analisis sarana jalur evakuasi menurut SNI 03-1746-2002 bahwa Sarana dan Prasarana Jalur Evakuasi meliputi pengeras suara, tangga evakuasi, pintu evakuasi, signage . , dan assembly point . itik kumpu. Ketiga, analisis waktu keluar dari bangunan yang terdampak. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Pengecekan rambu jalur evakuasi sangat perlu diperhatikan dan terus-menerus Sering rambu evakuasi tidak perhatikan atau dianggap kurang penting, kenyataannya, rambu sangat membantu dalam mengarahkan ke tempat evakuasi. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008, pada saat proses evakuasi, penghuni harus memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman dan meninggalkan lokasi yang terdampak. Beberapa contoh rambu evakuasi saat terjadinya bencana disajikan pada Gambar 1. Gambar 2, dan Gambar 3 yang merupakan rambu petunjuk arah, rambu evakuasi pada tangga dan rambu titik kumpul (SDMO ITS. Gambar 1. Rambu petunjuk arah jalur evakuasi Gambar 2 Rambu jalur evakuasi pada tangga Keterangan gambar: A Warna dasar putih dari bahan yang lentur dan tidak mudah sobek. A Warna hijau reflective memantulkan Gambar 3. Rambu tempat titik kumpul HASIL DAN PEMBAHASAN Kode praktik yang dituangkan dalam pelatihan ini adalah UU BANGUNAN GEDUNG NO 28/2002 yang digunakan sebagai pedoman untuk proteksi kebakaran Pasal 17 UU ini mengatakan bahwa persyaratan keselamatan bangunan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index gedung meliputi kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir. Untuk itu bangunan gedung wajib dilengkapi dengan: A Sarana penyelamatan jiwa A Akses pemadam kebakaran A Sistem proteksi kebakaran pasif dan aktif A Manajemen keselamatan kebakaran gedung (MKKG). Dasar hukum lainnya untuk memenuhi persyaratan keselamatan kebakaran adalah UU No. 28 Tahun 2002. PP No. 36 Tahun 2005, dan PerMen P. No. 26/PRT/M/2008. Sementara itu untuk dasar hukum MKKG (Manajemen Keselamatan Kebakaran Gedun. yang diuraikan meliputi: A Pemilik dan/atau pengguna bangunan yang mengelola bangunan gedung yang mempunyai potensi bahaya kebakaran ringan dan sedang dengan jumlah penghuni paling sedikit 500 orang wajib membentuk MKKG. A MKKG adalah bagian dari manajemen gedung untuk mewujudkan keselamatan penghuni bangunan dari kebakaran dengan mengupayakan kesiapan instalasi proteksi kebakaran agar kinerjanya selalu baik dan siap. A MKKG dipimpin oleh seorang Fire Safety Manager yang ditunjuk oleh pemilik, pengguna dan/atau badan pengelola bangunan gedung. Pada dekade terakhir ini, perhatian besar telah diberikan kepada komponen bangunan yang tahan api sebagai penghalang untuk mencegah atau menunda penyebaran api. Beton adalah material bangunan yang tidak terbakar dan merupakan isolator yang baik. Secara tradisional, beton memang sudah menempati posisi yang favorit dalam industri bangunan dengan segala kelebihannya. Oleh karena itu sifat, karakteristik dan perilaku beton pada suhu tinggi sangat penting untuk dipahami agar tercipta struktur banguan yang handal dan desain yang aman. Berdasarkan catatan dari hasil diskusi dan tanya jawab pada kegiatan ini, beberapa hal penting yang diperlukan untuk pemahaman masyarakat terkait perbaikan infrastruktur dapat disarikan sebagai berikut: A Kualitas suatu bangunan secara internal sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu keterampilan tukang, mutu bahan dan kelengkapan peralatan. Ketiga faktor ini harus diperhatikan karena saling berkaitan. Pengabaian salah satu faktor saja akan mengakibatkan turunnya kekokohan bangunan secara signifikan. A Penambahan perkuatan tingkat ketahanan api pada elemen struktur tahan kebakaran akan menambah biaya sekitar 15% dari biaya pembangunan biasa. A Dari hasil diskusi juga diperoleh saran dari peserta agar kegiatan seperti ini lebih sering dilakukan karena bermanfaat bagi praktisi jasa konstruksi. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Foto kegiatan pengabdian disajikan pada Gambar 2, 3, 4, dan 5 berturut-turut memperlihatkan saat acara pembukaan, presentasi dari narasumber, situasi peserta pelatihan dalam kelas, dan foto bersama seusai program pelatihan. Gambar 2. Acara Pembukaan Gambar 3. Presentasi Narasumber Gambar 4. Peserta Pelatihan Gambar 5. Selesai Pelatihan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari pelaksanaan program Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Kebon Talo. Kota Mataram ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: A Pelaksanaan kegiatan, baik penyuluhan maupun pelatihan identifikasi tingkat kerusakan dan upaya perbaikan infrastruktur paska kebakaran yang mengambil lokasi di Lingkungan Kebon Talo. Kota Mataram, berjalan dengan lancar sesuai harapan. A Realisasi perbaikan infrastruktur paska kebakaran mampu memberikan manfaat kepada para praktisi lapangan. Diharapkan pengetahuan ini dapat ditularkan pada praktisi maupun masyarakat di lokasi lain yang berpeluang terdampak kebakaran. Saran Saran yang dapat disampaikan setelah berhasilnya pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut: Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index A A Disarankan memberikan penjelasan secara holistic dan komprehensif disertai contohcontohnya selama kegiatan. Hal ini disebabkan pada saat tanya jawab diketahui bahwa masyarakat masih awam terhadap informasi menyeluruh dalam mengantisipasi hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan infrastruktur pasca kebakaran. Kegiatan serupa ini disarankan lebih sering dilakukan karena sangat bermanfaat bagi praktisi jasa konstruksi di lapangan dalam praktik mereka terutama di kawasan gedung atau permukiman yang berpotensi terdampak bahaya kebakaran. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Magister Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Mataram dalam pengelolaan LPPM Universitas Mataram yang telah memberi dukungan finansial terhadap kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA