WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026, pp. 1Ae11 pAaISSN: 1410Aa9344. eAaISSN: 2549Aa5631 DOI: https://doi. org/10. 23917/warta. Community-Based Intervention Using Integrated Toga from Cultivation to Processed Products for the Prevention of Stunting in Toddlers in Sanggrahan Village Rina Sri Widayati1,* . Nur Amalina1 . Suratman2 . Galih Pramuja inngam Fanani1 . Sintha Harlina Putri1 . Meidiana Nurul Aisyah1 . Bekti Setiyaningrum1 . Aulia Galuh Ani Sekar Arum1 . Dewangga Eka Saputra1 . Ilma Na isah Miftahul Jannah1 . Aulia uswatun Khasanah1 1 Universitas AoAisyiyah Surakarta. Indonesia 2 Universitas Sebelas Maret Surakarta. Indonesia Email: rinasw@aiskauniversity. Abstract Article Info Received: 12/09/2025 Revised: 15/10/2025 Accepted: 23/10/2025 Published: 17/03/2026 Keywords: stunting. TOGA. KWT. PKD, community development Copyrights A Author. This work is licensed under a Creative Commons AttributionAaNonCommercial 4. International License (CC BYAaNC All writings published in this journal are personal views of the author and do not represent the views of this journal and the authorAos af iliated institutions. Stunting remains a major health problem in Sanggrahan Village, with 11 children under ive recorded as stunted and an adolescent anemia prevalence of 57%. The village has strong potential resources, including 95 active health cadres, home gardens that can be utilized for family medicinal plants (TOGA) cultivation, and local institutions such as the Women FarmersAo Group (KWT) and the Village Health Post (PKD). The aim of this community service program (PKM) is to improve the knowledge, attitudes, and practices of health cadres and the community. develop natural resources such as home gardens and unused land. implement community midwifery service create a golden generation. improve the communityAos economy. encourage the use of websiteAabased technology. The program was carried out using the AssetAaBased Community Development (ABCD) method, which applies persuasive, educative, participatory, and normative approaches. The implementation included several stages: socialization, training, mentoring, technology application, and sustainability. The results showed signi icant improvements in the capacity of health cadres. KWT, and the community in managing TOGA and producing innovative herbalAabased products such as ginger powder, moringa nuggets, and healthy moringabased snacks. Village institutions were also strengthened through the establishment of a Nutrition Post (Pondok Giz. , while PKD played an important role in nutrition education, early detection of stunting, and the use of educational tools. In addition, the UMKM Expo proved effective in expanding promotion and marketing of local products. This communityAabased intervention generated a dual impact: improving community health status through stunting prevention while simultaneously fostering economic independence. As a followAaup, continuous mentoring, product diversi ication, quality standardization, and strengthening of marketing networks are recommended to optimize and enhance program The synergy between KWT and PKD may serve as a sustainable empowerment model based on local potential and village wisdom. Intervensi Berbasis Komunitas Melalui Toga Terpadu dari Budidaya sampai Produk Olahan untuk Pencegahan Stunting pada Balita di Desa Sanggrahan Abstrak Kata Kunci: stunting. TOGA. KWT. PKD. Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan di Desa Sanggrahan, community development ditandai dengan 11 balita stunting dan prevalensi anemia remaja 57%. Desa memiliki potensi berupa 95 kader kesehatan aktif, lahan pekarangan untuk konservasi tanaman obat keluarga (TOGA), serta kelembagaan lokal seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Pos Kesehatan Desa (PKD). Tujuan PKM ini adalah meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku kader kesehatan maupun masyarakat. mengembangkan potensi sumber daya alam berupa pekarangan dan lahan kosong. strategi pelayanan kebidanan komunitas. menciptakan generasi emas. meningkatkan perekonomian masyarakat. serta mendorong penerapan teknologi berbasis website. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan metode AssetAaBased Community Development (ABCD), melalui pendekatan persuasif, edukatif, partisipatif, dan normatif. Implementasi dilakukan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, penerapan teknologi, dan keberlanjutan. Hasil menunjukkan peningkatan kapasitas kader kesehatan. KWT, dan masyarakat dalam pengelolaan TOGA serta produksi olahan herbal inovatif seperti serbuk jahe, nugget kelor, dan camilan sehat berbasis kelor. Kelembagaan desa diperkuat melalui pembentukan Pondok Gizi, sementara PKD berperan dalam edukasi gizi, deteksi dini stunting, dan penggunaan alat peraga edukasi. Expo UMKM terbukti efektif memperluas promosi dan pemasaran produk lokal. Intervensi berbasis komunitas ini memberikan dampak ganda, yaitu peningkatan status kesehatan melalui pencegahan stunting sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Sebagai tindak lanjut, direkomendasikan adanya pendampingan berkelanjutan, diversi ikasi produk olahan, standardisasi mutu, serta penguatan jejaring pemasaran agar hasil program lebih optimal dan berdaya saing. Sinergi antara KWT dan PKD dapat menjadi model pemberdayaan berkelanjutan berbasis potensi lokal dan kearifan desa. PENDAHULUAN Desa Sanggrahan merupakan Desa yang terletak di selatan Desa Cemani, sebelah timur Desa Manang, sebelah barat Desa Kwarasan, sebelah utara Desa Dedangan. Mayoritas penduduk bekerja di perusahaan karena lokasi berdekatan dengan pabrik PT. KONIMEX, luas daerah: 184. 3535km2, jumlah penduduk: 8. 807 jiwa, kepadatan 29 jiwa/km2. Potensi yang dimiliki meliputi sumber daya manusia dalam hal ini kader kesehatan yang aktif sebanyak 95, potensi lahan pekarangan yang masih bisa dialokasikan untuk konservasi toga, mata pencaharian masyarakat sebagian besar berdagang, diantaranya beberapa toko herbal dan kampung KB sebagai wahana pengembangan kegiatan dalam bidang kesehatan. Tujuan PKM yaitu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku kader kesehatan maupun masyarakat, mengembangkan potensi berupa sumber daya alam . ekarangan dan lahan koson. , mengimplementasikan strategi pelayanan kebidanan komunitas, menciptakan generasi emas, meningkatkan perekonomian masyarakat dan penerapan teknologi berbasis website. Permasalahan kesehatan yang ditemukan di Desa Sanggrahan menunjukkan masih adanya tantangan terkait stunting, pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat. Tercatat sebanyak 11 balita mengalami stunting. Desa Sanggrahan memiliki 95 kader kesehatan yang sebagian besar juga berperan sebagai tim pendamping stunting. Meskipun jumlah kader cukup memadai, pelaksanaan program kerja rutin, seperti pemberian zat besi dan pemberian makanan tambahan pada balita belum berjalan optimal. Selain itu, prevalensi anemia pada remaja masih relatif tinggi, yaitu sekitar 57%. Desa Sanggrahan juga memiliki lahan terbuka serta lahan kosong yang berpotensi dikembangkan untuk budidaya tanaman obat keluarga, namun hingga saat ini belum dikelola secara Di samping itu, pemanfaatan teknologi dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan juga belum diterapkan secara optimal. Solusi yang direncanakan untuk mengatasi permasalahan di Desa Sanggrahan dilakukan melalui strategi pendekatan pelayanan kebidanan komunitas. Pendekatan ini dilaksanakan dengan metode AssetAaBased Community Development (ABCD) yang mencakup sosialisasi, pelatihan, pendampingan, penerapan teknologi, serta penyusunan rencana tindak lanjut. Fokus utama diarahkan pada konservasi tanaman obat keluarga (TOGA) melalui kegiatan penanaman tanaman seperti jahe, serai, dan kelor, pembuatan formula herbal, serta produksi berbagai olahan berbasis herbal. Permasalahan kesehatan yang menjadi perhatian meliputi kurangnya pengetahuan, sikap, dan perilaku WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 2 masyarakat terhadap isu kesehatan, khususnya terkait anemia, angka kejadian anemia, dampak anemia terhadap kesehatan, stunting beserta risikonya, serta pentingnya peranan nutrisi. Upaya penanggulangan diarahkan pada optimalisasi potensi lokal melalui konservasi TOGA. Hasil kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Sanggrahan meliputi: . panen TOGA, . sosialisasi program kerja dan musyawarah masyarakat desa, . pembentukan Pondok Gizi Desa Sanggrahan, . penyerahan teknologi kepada mitra, . pelatihan produksi, pengemasan, pemasaran, dan pengelolaan keuangan, . pelatihan serta pendampingan kader kesehatan dalam penggunaan Alat Peraga Edukasi (APE), . pelatihan dan pendampingan produksi serta pengemasan produk herbal, . pemutaran video edukasi terkait stunting, . pelatihan pendampingan penyusunan menu sehat berbahan dasar kelor, serta . penyelenggaraan Expo UMKM Desa Sanggrahan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat di Desa Sanggrahan dapat berjalan secara partisipatif dan berkesinambungan. Program yang dilaksanakan memberikan berbagai manfaat di berbagai bidang. Dari segi kesehatan, kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan anemia dan stunting, sehingga mendukung terciptanya generasi yang sehat dan produktif. Dari sisi ekonomi, program ini berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat melalui pengembangan produk herbal, strategi pemasaran, serta penguatan kegiatan UMKM. Secara sosial, kegiatan ini memperkuat peran kader kesehatan dan mendorong partisipasi masyarakat dalam mewujudkan desa sehat. Di bidang lingkungan, pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan kosong untuk konservasi tanaman obat keluarga (TOGA) mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian desa. Sementara itu, di bidang teknologi, program ini mendorong penerapan sistem berbasis website untuk mendukung pelayanan kesehatan, promosi produk herbal, serta manajemen program secara berkelanjutan. METODE Metode pendekatan yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan mitra adalah metode pendekatan ABCD (Asset Based Community Developmen. ABCD merupakan model pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan pemanfaatan aset dan potensi yang dimiliki oleh komunitas masyarakat setempat, terdiri dari aset manusia, aset isik, aset alam, aset sosial dan aset inansial. Berdasarkan teori ABCD, tahap penting yang perlu dilakukan sebelum menjalankan program pemberdayaan adalah mengenal karakteristik masyarakat berdasarkan potensi yang dimiliki dengan cara melakukan studi tipologi masyarakat (Astawa et al. , 2. Metode Asset Based Community Development meliputi metode: . persuasif yaitu pendekatan yang bersifat ajakan kepada masyarakat tanpa unsur paksaan, agar termotivasi untuk terlibat dan berperan dalam kegiatan pengabdian yang akan dilakukan, . edukatif, yaitu pendekatan yang mengandung unsur pendidikan untuk mendinamisasikan masyarakat menuju kemajuan yang diharapkan, . partisipatif, yaitu pendekatan yang berorientasi kepada upaya peningkatan peran serta masyarakat secara langsung dalam kegiatan pengabdian yang akan dilakukan, dan . normatif yaitu pendekatan yang didasarkan kepada norma, nilai, hukum, dan peraturan perundangan yang berlaku. Metode Asset Based Community Development digunakan pada setiap kegiatan yang akan diimplementasikan ke mitra maupun masyarakat yang meliputi kegiatan: . sosialisasi, . pelatihan, . pendampingan, . implementasi teknologi, dan . Pelaksanaan kegiatan pengabdian di Desa Sanggrahan dirancang melalui beberapa tahapan implementatif yang sistematis, mulai dari identi ikasi masalah hingga evaluasi program. Tahapan ini disusun untuk memastikan bahwa solusi yang direncanakan dapat terlaksana dengan efektif dan berkesinambungan. Tahapan pelaksanaan kegiatan meliputi: . Identi ikasi masalah dan kebutuhan yaitu melalui survei awal, wawancara dengan kader kesehatan, musyawarah desa, serta observasi lapangan guna memetakan permasalahan utama yaitu stunting, anemia, dan pemanfaatan lahan pekarangan, . Perencanaan program yaitu melibatkan kader kesehatan, perangkat desa, serta perwakilan masyarakat dalam penyusunan rencana kegiatan. Tahap ini mencakup penyusunan strategi edukasi, pemanfaatan lahan untuk konservasi TOGA, serta perencanaan pelatihan dan pendampingan masyarakat, . Pelaksanaan kegiatan yaitu Implementasi program yang dilakukan dengan beberapa bentuk kegiatan, antara lain: Edukasi dan Sosialisasi, . Pelatihan dan Pendampingan, . Penguatan Kelembagaan, . Penerapan Teknologi, . Konservasi TOGA, . Evaluasi Program. Instrumen dan Perangkat yang digunakan yaitu: . Instrumen edukasi yakni modul, lea let, video edukasi stunting, dan alat peraga edukasi (APE), . Instrumen konservasi TOGA yakni bibit tanaman . ahe, serai, kelo. , peralatan tanam, dan media tanam, . Instrumen pelatihan yakni peralatan produksi herbal, alat pengemasan, serta perangkat teknologi sederhana, . Instrumen evaluasi yakni kuesioner preAatest dan postAatest, pedoman wawancara, serta lembar observasi partisipatif. Gambar 1 merupakan alur metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Sanggrahan. WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 3 Gambar 1. Alur pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan intervensi berbasis masyarakat melalui pemanfaatan TOGA terpadu di Desa Sanggrahan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Terdapat peningkatan signi ikan dalam kapasitas kader kesehatan dan masyarakat, penguatan kelembagaan desa melalui pembentukan Pondok Gizi, pengembangan produk herbal inovatif, produk camilan sehat dan pemanfaatan teknologi untuk edukasi dan promosi. Hasil ini konsisten dengan temuan dalam literatur yang menunjukkan efektivitas edukasi gizi berbasis daun kelor dalam meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat, menunjukkan bahwa edukasi gizi seimbang dan pemanfaatan daun kelor secara signi ikan meningkatkan kategori pengetahuan ibu mengenai pencegahan stunting dari 41,7% menjadi 100% (Werdaningtyas, 2. Temuan ini sejalan dengan peningkatan pemahaman kader dan masyarakat Desa Sanggrahan pascaintervensi. Selain itu, praktik serupa juga dilaporkan di Desa Kepuhdoko, di mana pelatihan budidaya TOGA berbasis partisipatif berhasil menumbuhkan pemahaman dan keterlibatan aktif perempuan masyarakat dalam pencegahan stunting (Fahimah et al. , 2. Hal ini menguatkan pentingnya pendekatan komunitas dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi lokal untuk tujuan kesehatan. Tak hanya dalam aspek pengetahuan, pemanfaatan daun kelor sebagai bahan pangan juga telah terbukti membantu mencegah stunting dalam berbagai format produk. Sebagai contoh, pelatihan pembuatan biskuit daun kelor di Desa Mananggu berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat dan kemampuan pengolahan pangan bernutrisi tinggi (Rasdianah & Makkulawu, 2. Intervensi di Desa Sanggrahan yang mengkombinasikan edukasi, pelatihan produksi, konservasi TOGA, dan inovasi produk herbal menawarkan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. Pembentukan Pondok Gizi sebagai pusat edukasi dan penguatan kelembagaan lokal memastikan bahwa hasil intervensi tidak bersifat temporer tetapi menjangkau jangka panjang. Lebih jauh lagi, pendekatan semacam ini memperkuat konsep pemberdayaan masyarakat dalam kerangka pembangunan berbasis kearifan lokal. Pemberdayaan tersebut tidak hanya meningkatkan status kesehatan melalui pencegahan stunting, tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi melalui pengembangan produk lokal dan pemasaran UMKM. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa intervensi berbasis komunitas memiliki dampak ganda, yaitu pada pencegahan stunting sekaligus kesejahteraan masyarakat. Kelompok Wanita Tani adalah kumpulan ibuAaibu atau para wanita yang mempunyai aktivitas di bidang pertanian yang tumbuh berdasarkan keakraban, keserasian, serta kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian untuk bekerjasama meningkatkan produktivitas usaha tani. Kelompok Wanita Tani (KWT) merupakan organisasi atau kelompok masyarakat yang mempunyai potensi mendorong pemanfaatan lahan pekarangan untuk pemenuhan ketahanan pangan keluarga(Alsidiq et al. , 2. Anggota KWT memiliki peran ganda, yaitu sebagai pengelola pangan rumah tangga sekaligus sebagai pengasuh anak dalam keluarga. Namun, potensi besar ini belum dioptimalkan sepenuhnya karena berbagai tantangan yang dihadapi oleh KWT. Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi fokus utama pemberdayaan karena mereka adalah agen perubahan yang paling dekat dengan anak, keluarga, dan lingkungan(Saputra & Bakhtiar, 2. Anggota KWT di Desa Pulorejo. Kota Mojokerto, memainkan peran proaktif dalam mendukung ketahanan pangan keluarga melalui berbagai kegiatan operasional yang mereka jalankan secara mandiri(Utomo et al. , 2. Pelatihan dan pembinaan yang terstruktur menjadi kunci dalam memfasilitasi peningkatan kapasitas Tidak hanya keterampilan, pelatihan juga mencakup penggunaan alat produksi, pengemasan, dan WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 4 strategi pemasaran produk herbal. Studi JIPEMAS di Dusun Ngelosari menunjukkan bahwa pendirian AuTaman TOGA percontohanAy sekaligus pelatihan budidaya, pascapanen, pengemasan, dan pemasaran secara terpadu memungkinkan KWT menghasilkan produk jamu yang berkualitas dan menjadikannya sebagai model sinergi antara konservasi dan kesehatan masyarakat(Rahardjo et al. , 2. Gambar 2 merupakan panen TOGA dan sosialisasi program kerja. Gambar 2. Panen TOGA dan Sosialisasi Program Kerja Pelaksanaan kegiatan pada KWT (Kelompok Wanita Tan. Desa Sanggrahan menunjukkan kemajuan yang signi ikan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Di awal program, aktivitas ini terbatas pada penanaman jahe, serai, dan kelor di lahan Ketapang. Setelah adanya intervensi, kegiatan ini berkembang dengan hasil panen tanaman obat keluarga (TOGA) berupa jahe, serai, dan kelor yang dapat dimanfaatkan lebih jauh. Dalam hal pemahaman terhadap program, sebelumnya hanya sekitar 30% anggota yang mengerti tentang program lanjutan tahun kedua, sedangkan kebanyakan anggota belum memiliki pemahaman yang jelas. Namun setelah sosialisasi, seluruh anggota KWT . %) dapat memahami tujuan dari program lanjutan yang didanai oleh KemenristekAaDIKTI. Kelompok Wanita Tani (KWT) terbukti memiliki potensi besar dalam mengolah Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi produk bernilai tambah. Salah satu studi menyoroti pelatihan yang diselenggarakan di Desa Wonosari, di mana anggota KWT dilatih menghasilkan produk olahan berbasis serai dan jahe seperti wedang serai jahe celup, permen gummy, dan sabun serai. Pelatihan ini secara signi ikan meningkatkan kapasitas produksi dan perekonomian kelompok, serta mengoptimalkan potensi sumber daya alam local(Fauziah, 2. Studi lain di Desa Kemetul menemukan bahwa melalui pelatihan pembuatan simplisia dan produk jamu seperti AuWAodank Ginger PlusAy serta jamu siap minum . eady to drin. seperti kunyit asem dan beras kencur, anggota KWT berhasil membuka outletAiCafe Jamoe KemetulAiuntuk menjual produknya. Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan peserta hingga 96,6% (Fadhilah et al. , 2. Expo UMKM terbukti efektif sebagai platform untuk memperkenalkan produk khas lokal kepada publik yang lebih luas. Dalam satu penelitian di Desa Pakapasan Hilir, kegiatan Expo UMKM membantu produk kerupuk lokal (Kerupuk Antia. lebih dikenal masyarakat, memfasilitasi promosi yang lebih efektif dan meningkatkan daya tarik pasar (Tasya Kamila et al. , 2. Pada konteks produk TOGA, penggunaan Expo UMKM memperkuat visible marketing dengan memasarkan produk olahan herbal seperti yang dilakukan oleh KWT di beberapa lokasi. Hal ini meningkatkan peluang penjualan, branding, dan daya saing produk lokal. Tabel 1 merupakan sspekaspek sebelum dan sesudah pemberdayaan. Tabel 1. Aspekaspek sebelum dan sesudah pemberdayaan Aspek Produksi Ae Pengetahuan Produksi Ae Keterampilan Produksi Ae Standardisasi Sebelum Pemberdayaan Sesudah Pemberdayaan 70% anggota pada kategori rendah, hanya 10% kategori baik. Pengetahuan terbatas pada penggunaan TOGA untuk konsumsi 73% anggota pada kategori rendah, hanya 12% kategori baik. Belum mampu mengolah produk secara standar. 72% anggota pada kategori baik. Memahami inovasi produk, higienitas, dan pencatatan keuangan sederhana. Belum ada serti ikasi, produk belum memenuhi standar industri. 73% anggota pada kategori baik. Mampu membuat produk inovatif . aselor, teh kelor, nugget, kue herba. dengan teknik yang lebih terstandar. 100% produk atau sebanyak 6 produk memperoleh P-IRT, mulai ada kontrol kualitas dan legitimasi produk. WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 5 Aspek Sebelum Pemberdayaan Pemasaran Ae Akses Pasar Terbatas pada promosi mulut ke mulut dan konsumsi lokal. Pemasaran Ae Strategi Promosi Belum ada strategi pemasaran formal, belum mengenal digital marketing. Pemasaran Ae Jangkauan Pasar Keuangan Manajemen Keuangan Keuangan Penghasilan Hanya lingkup desa dan tetangga sekitar. Belum ada pembukuan karena proses bisnis belum berjalan KWT belum memiliki penghasilan karena belum melakukan produksi Sesudah Pemberdayaan 100% Produk dipasarkan melalui Expo UMKM desa, mulai dikenal di pasar lebih 100 % kegiatan pemasaran Sudah menggunakan media sosial (WhatsApp. Instagram. Faceboo. , memiliki desain kemasan dan branding. 100% produk KWT Menjangkau konsumen luar desa Terdapat pembukuan sederhana yang dikuasai 30% anggota KWT KWT mengalami peningkatan penghasilan sebesar 100%, dengan pendapatan bersih ratarata setiap bulan 1. Gambar 3. Produksi Toga dan Expo UMKM Gambar 3 merupakan produksi TOGA dan expo UMKM. Kemampuan produksi juga menunjukkan peningkatan. Sebelumnya, keterampilan anggota dalam menciptakan produk dari jahe, serai, dan kelor masih rendah . %), cukup 15%, dan baik 12%. Setelah mendapat pendampingan, sebagian besar anggota menunjukkan kemampuan yang baik . %), cukup 15%, dan hanya 18% yang masih rendah. Tabel 2 menunjukkan tingkat keterampilan produksi sebelum dan sesudah pendampingan. Tabel 2. Tingkat keterampilan produksi sebelum dan sesudah pendampingan Tingkat Keterampilan Produksi Sebelum Pendampingan (%) Setelah Pendampingan (%) Baik Cukup Rendah Selain itu, kualitas kegiatan Expo UMKM Desa Sanggrahan juga meningkat. Semula Expo hanya menampilkan produk UMKM umum tanpa promosi dari hasil karya kader KWT. Namun setelah intervensi. Expo digunakan sebagai media promosi untuk produk hasil panen TOGA, seperti serbuk jahe, serai, kelor (Jaselo. , berbagai produk pangan bergizi hasil inovasi kader, seperti nugget kelor, camilan sehat berbasis kelor, dan produk yang telah mendapat izin PAaIRT telah dipromosikan. Hal ini berhasil menarik perhatian masyarakat, baik dari dalam maupun luar desa. Dari segi sarana pendukung, awalnya KWT tidak memiliki peralatan untuk mengolah hasil panen. Setelah program berjalan, kelompok telah mempunyai alat yang dapat digunakan untuk produksi hasil panen TOGA. anggota pengetahuan juga berkembang mengenai produksi, pengemasan, pemasaran, dan pencatatan keuangan. Sebelumnya, pengetahuan sebagian besar anggota tergolong rendah . %), sedang . %), dan baik hanya 10%. Setelah mengikuti pelatihan, proporsi pengetahuan meningkat menjadi rendah 8%, sedang 20%, dan baik 72%. Gambar 4 merupakan alat KWT dan PKD. WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 6 Gambar 4. Alat KWT dan PKD Pos Kesehatan Desa (PKD) merupakan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Pos Kesehatan Desa (PKD) berfungsi sebagai unit pelayanan primer di tingkat desa yang memfasilitasi deteksi dini, edukasi kesehatan, dan rujukan sederhana untuk masalah gizi dan pertumbuhan anak. Kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan melalui PKD meliputi pelatihan kader, penyuluhan gizi, dan pemutaran media edukasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pelaksanaan program pencegahan stunting dan program gizi lainnya. Pelatihan kader posyandu atau PKD yang berfokus pada kelas balita dan praktik stimulasi tumbuh kembang dilaporkan meningkatkan skor pengetahuan dan keterampilan kader secara signi ikan, sehingga kemampuan deteksi dini dan intervensi lokal menjadi lebih efektif (Purnama Eka Sari et al. , 2. Gambar 5 merupakan sosialisasi PKD dan KWT. Gambar 5. Sosialisasi PKD dan Sosialisasi KWT Pelaksanaan pada kegiatan PKD (Pos Kesehatan Des. Sanggrahan juga menunjukkan hasil yang positif. Pada awalnya, pemahaman kader tentang program lanjutannya masih sangat minim, hanya sekitar 30% kader yang Namun setelah sosialisasi, seluruh kader . %) memahami program lanjutan yang didanai oleh KemenristekAaDIKTI. Sarana pendukung untuk kader juga meningkat. Sebelum adanya program, kader tidak memiliki alat untuk mendukung deteksi risiko stunting. Setelah intervensi, kader kini memiliki peralatan yang membantu dalam deteksi dini risiko stunting dan penanganannya. Dari aspek keterampilan, kemampuan kader WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 7 dalam menggunakan alat peraga edukasi untuk stimulasi pertumbuhan sebelumnya sebagian besar rendah . %), cukup . %), dan hanya sedikit yang baik. Setelah pelatihan, keterampilan kader meningkat dengan drastis, dengan hasil 50% baik, 35% cukup, dan hanya 15% yang masih rendah. Tabel 3 merupakan tingkat keterampilan sebelum dan seudah penelitian. Tabel 3. Tingkat keterampilan sebelum dan seudah penelitian Tingkat Keterampilan Sebelum Penelitian (%) Setelah Penelitian (%) Baik Cukup Rendah Kajian dalam bibliometrik dalam Medical Technology and Public Health Journal mengungkapkan bahwa publikasi ilmiah terkait pencegahan stunting di Indonesia mengalami peningkatan signi ikan pada periode 2018Ae2023. Tren ini menegaskan urgensi pendekatan berbasis komunitas, termasuk pemanfaatan PKD dan lembaga lokal lainnya, sebagai strategi nasional dalam memperkuat ketahanan gizi dan kesehatan masyarakat. Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya inovasi intervensi, seperti penggunaan alat peraga edukasi (APE), media edukasi berbasis teknologi, serta pelibatan kelompok masyarakat seperti KWT dalam penyediaan pangan sehat berbasis sumber daya lokal (Putri & Yuadi, 2. Sosialisasi kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) dirancang untuk mendorong pemahaman teknis budidaya TOGA, pengolahan pasca panen, dan tata kelola usaha mikro . roduksi, pengemasan, pemasaran, pembukuan sederhan. Pelatihan terstruktur yang menggabungkan praktik lapang, demontrasi alat, serta pendekatan kelas praktis terbukti meningkatkan kesiapan teknis anggota KWT untuk memproduksi bahan baku dan produk olahan bernilai tambah. Hasil kajian menunjukkan bahwa intervensi pelatihan dan pendampingan dapat meningkatkan kapasitas produksi KWT dan mengoptimalkan sumber daya lahan pekarangan untuk konservasi TOGA (Rekanta et al. , 2. Sinergi antara PKD dan KWT menjadi kunci. PKD menyediakan platform edukasi gizi dan akses ke sasaran . bu balita, remaj. , sedangkan KWT menyediakan pasokan bahan pangan bernutrisi (TOGA) dan kapasitas produksi olahan yang dapat dimanfaatkan sebagai PMT . emberian makanan tambaha. atau produk jualan UMKM. Kolaborasi formal ini memperkuat jejaring lokal untuk pencegahan stunting dan ketahanan pangan berbasis komunitas (Soedarmadi et al. , 2. Berdasarkan jurnal AuPembuatan Serbuk Jahe Herbal (SEJA) untuk Pencegahan Stunting di Desa LomayaAy, kegiatan penyuluhan dan pelatihan pembuatan serbuk jahe herbal berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Lomaya mengenai pemilihan jahe yang baik, cara pengolahan, serta manfaat serbuk jahe sebagai peningkat imunitas tubuh untuk mendukung pencegahan stunting. Masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi dan menerima manfaat langsung dari kegiatan ini. Ke depan, disarankan adanya pelatihan budidaya jahe yang lebih baik dan pengembangan proses pengemasan agar produk memiliki nilai tambah dan berpotensi dipasarkan secara luas (Madania et al. , 2. Nugget kelor adalah inovasi pangan tambahan berbasis daun kelor yang kaya nutrisi dan cocok untuk mendukung pertumbuhan balita. Di Kelurahan Sayar. Serang, edukasi dan pelatihan pembuatan nugget daun kelor meningkatkan asupan gizi balita dan memperkuat pertahanan terhadap stunting. Di Desa Teja. Majalengka, pendekatan edukatif juga mendorong pemanfaatan kelor sebagai PMT melalui nugget ayam kelor, yang meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap stunting dan gizi (Handayani et , 2. Gambar 6 merupakan penerapan Edukasi dan Hasil Olahan Pangan Jaselor serta Nugget Kelor Gambar 6. Penerapan Edukasi dan Hasil Olahan Pangan Jaselor serta Nugget Kelor Metode edukasi mengenai stunting juga berkembang. Sebelumnya, edukasi hanya dilakukan secara verbal dengan bantuan lea let, tanpa adanya inovasi dalam menu tambahan. Setelah program, kader sudah dapat WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 8 memanfaatkan video edukasi tentang stunting yang dibuat oleh tim, serta menghasilkan makanan pangan inovatif berbahan kelor, seperti nugget, serbuk jahe, serai, kelor (Jaselo. dan camilan sehat nugget kelor sebagai inovasi PMT (Pemberian Makanan Tambaha. di desa. Di bidang kelembagaan, rumah kosong di desa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini sudah difungsikan sebagai Pondok Gizi Desa yang berfungsi sebagai pusat layanan edukasi gizi dan kesehatan masyarakat. SIMPULAN Dari hasil dan pembahasan pelaksanaan kegiatan intervensi berbasis masyarakat melalui pemanfaatan TOGA terpadu di Desa Sanggrahan dapat disimpulkan bahwa program ini berhasil meningkatkan kapasitas kader kesehatan, anggota KWT, serta masyarakat desa secara menyeluruh. Peningkatan tersebut terlihat pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan praktik dalam pengelolaan TOGA, produksi olahan herbal . eperti serbuk jahe, nugget kelor, camilan sehat, dan produk inovatif lainny. , serta penguatan kelembagaan melalui pembentukan Pondok Gizi. Expo UMKM juga menjadi sarana promosi yang efektif untuk memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas, sekaligus mendukung kemandirian ekonomi masyarakat. Di sisi lain. PKD berfungsi optimal dalam memberikan layanan edukasi kesehatan, deteksi dini risiko stunting, serta memfasilitasi kolaborasi antara KWT dan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Kolaborasi KWT sebagai penyedia bahan dan produk pangan sehat dengan PKD sebagai pusat edukasi dan layanan kesehatan memperlihatkan sinergi yang kuat dalam membangun ketahanan pangan, pencegahan stunting, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Berdasarkan capaian tersebut, disarankan agar program serupa dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dengan dukungan pemerintah desa, perguruan tinggi, dan mitra terkait untuk menjaga keberlanjutan hasil yang telah diperoleh. Pelatihan dan pendampingan perlu diperluas, khususnya dalam hal diversi ikasi produk, standardisasi mutu, dan perolehan izin edar agar produk olahan TOGA dapat bersaing di pasar lebih luas. Selain itu, optimalisasi sarana PKD sebagai pusat edukasi dan pelayanan kesehatan desa perlu terus ditingkatkan dengan memperkuat fasilitas, media pembelajaran, serta kompetensi kader. Kolaborasi formal antara PKD dan KWT juga perlu dijaga dan ditingkatkan agar sinergi dalam pencegahan stunting dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal dapat terus berjalan secara efektif dan berkelanjutan. PERSANTUNAN Ucapan terimakasih kami berikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementriaan Pendidikan Tinggi. Sains dan teknologiIndonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk pendanaan untuk program dan publikasi skema Pemberdayaan Desa Binaan Anggaran Tahun 2025, dan Rektor Universitas 'Aisyiyah Surakarta yang memberikan kesempatan dan fasilitas untuk memperlancar dan menunjang kegiatan program serta Kepala Desa Sanggrahan dan Mitra yang telah berkenan bersinergi untuk pelaksanaan program ini. KONTRIBUSI PENULIS Pelaksanaan kegiatan mulai dari proses pemanenan, kegiatan musyawarah masyarakat desa, pelatihan dan pendampingan mitra PKD dan KWT,kegiatan evaluasi:RSW. NA. GPIF. SHP. MNA. BS. AGASA. DES. INMJ. Penyusunan artikel: RSW. SHP. MNA. Analisis program RSW. NA. GPIH. Promosi dan pemasaran RSW. NA. GPIF. SHP. MNA. BS. AGASA. DES. INMJ. Revisi artikel RSW. SHP. MNA Con lict of Interest Penulis menyatakan bahwa terdapat kon lik kepentingan dalam penulisan dan publikasi artikel ini. Seluruh proses pengabdian masyarakat semua program kegiatan yang dilakukan,analisis data, penulisan, serta penyampaian hasil dilakukan secara obyektif dan independen tanpa adanya pengaruh dari pihak manapun yang dapat mempengaruhi isi artikel ini. WARTA LPM. Vol. No. Maret 2026 | 9 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk program dan publikasi dari Anggaran Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementriaan Pendidikan Tinggi. Sains dan teknologi Nomor 0069/C. 3/A. 04/2025 tanggal 23 Mei 2025. REFERENSI