Jurnal Agrium 16. September 2019. Hlm 144-150 ISSN 1829-9288 Inventarisasi dan Analisis Risiko Gulma Asing Invasif Pada Lahan Pertanian di Sawang Aceh Utara Nanda Firmansyah1*. Baidhawi2. Khusrizal2 dan Rd Selvy Handayani2 Mahasiswa Program Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh. Aceh Utara. Aceh. Indonesia Program Magister Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh. Aceh Utara. Aceh. Indonesia *Corresponding author: nandagurumadrasah@gmail. ABSTRAK Kehadiran gulma asing invasif (GAI) memberikan peluang terjadinya peristiwa yang tidak dikehendaki sebagai akibat dari tindakan pengelolaan tanaman introduksi yang menguasai dan menyebar pada lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan menganalisis resiko spesies GAI pada lahan pertanian di Sawang Aceh Utara. Titik lokasi pengambilan sampel dilakukan pada beberapa tipe penggunaan lahan (TPL) yaitu kebun/tegalan, huma/ladang, sawah non-irigasi, sawah irigasi, perkebunan, padang rumput, hutan rakyat, dan kolam/tambak. Jenis GAI dikoleksi secara langsung dari lapangan dengan metode jelajah, dan dianalisis menggunakan sistem scoring mengacu pada pedoman analisis risiko GAI dari KLHK (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana. dan FORIS (Forests in Southeast Asi. Indonesia. Hasil kajian memperlihatkan terdapat 659 individu GAI yang berasal dari 36 spesies dan 14 famili. Famili yang memiliki spesies GAI terbanyak adalah famili Poaceae. Jenis gulma terbanyak berasal dari jenis gulma berdaun lebar sebanyak 20 spesies, sedangkan jumlah spesies GAI terbanyak yaitu spesies Rhynchospora colorata (L. ) dengan jumlah 66 individu. Kategori risiko sangat tinggi disebabkan oleh spesies Axonopus compressus. Chromolaena odorata dan Paspalum conjugatum pada lahan tegalan/kebun, spesies Cyperus distans dan Rhynchospora colorata pada lahan ladang/huma, spesies Dactyloctenium aegyptium pada lahan padang rumput dan spesies gulma Panicum maximum pada lahan sawah irigasi. Kategori risiko sedang terdapat spesies gulma Ageratina adenophora pada lahan perkebunan dan spesies gulma Ageratum conyzoides pada lahan sawah non irigasi. Kategori risiko rendah terdapat spesies gulma Digitaria fuscescens pada lahan hutan rakyat dan Heliotropium indicum pada lahan perkebunan. Kata kunci: Inventarisasi, analisis risiko, gulma asing invasif, lahan pertanian ABSTRACT The presence of invasive weed species (IWS) in farming lands has threatened natural ecosystem by replacing native species. These alien species can spread rapidly and reduce crop yield. The objective of this study was to inventarize and analyze the impact of IWS in farming land in Sawang Aceh Utara. Exploratory inventory was employed to collect the samples from gardens, fields, irrigated and non-irrigated rice fields, plantations, grasslands, community forests and ponds, and the analysis using risk scoring system by KLHK (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana. and FORIS (Forests in Southeast Asi. Indonesia. The results showed that there were total 659 plants from 36 species and 14 families of invasive weeds. Family Poaceae was found to be the most abundant compared to others. Also, broadleaf weeds were recorded to be the highest in number . as well as species Rhynchospora colorata (L. ) . We observed that some species caused very high risks in the areas such as species Axonopus compressus. Chromolaena odorata and Paspalum conjugatum in gardens. Cyperus distans and Rhynchospora colorata in fields. Dactyloctenium aegyptium in grasslands and Panicum maximum in irrigated rice fields. Ageratina adenophora possessed medium risk in plantation as well as Ageratum conyzoides in non-irrigated rice For the low risk, it was generated by Digitaria fuscescens in community forests and Heliotropium indicum in plantations. Jurnal Agrium 16. September 2019. Hlm 144-150 ISSN 1829-9288 Keywords: Inventory, risk assessment, invasive weed species, farming land PENDAHULUAN Suatu spesies gulma yang melakukan pergerakan dari suatu wilayah/daerah menuju ke daerah lain dalam keadaan berbeda yang kemudian dengan perlahan mengokupasi pada habitat yang baru dikenal sebagai spesies invasif. Spesies introduksi dapat disebut invasif apabila ia mampu berkompetisi, dimana spesies asli akan kalah, terutama untuk mendapatkan sumber daya baik itu makanan, air, cahaya, ruang maupun berbagai materi dan energi yang lain (Ulfi et al. , 2. Selain itu, suatu spesies gulma dapat melakukan invasi pada suatu lingkungan apabila pada suatu daerah/lahan memiliki kemampuan yang lebih dominan dibandingkan tumbuhan atau tanaman aslinya (Tjitrosoedirdjo, 2. Cara spesies gulma berinvasi diketahui melalui tiga proses yakni proses introduksi, proses kolonisasi serta proses Invasif lebih kepada sifat dari suatu spesies gulma sebagai gambaran kinerjanya yang mendominasi dan mengancam ekosistem, habitat serta spesies yang ditemukan pada suatu daerah/lahan (Tjitrosoedirdjo et al. , 2. Proses invasi tidak terjadi secara serempak/sekaligus melainkan bertahap dan diawali dengan hadirnya spesies invasif pada suatu area lahan, yang kemudian terjadinya pengambil-alihan habitat/wilayah baru. GAI akan menjadi lebih mengusai pada areal pertumbuhannya dengan karakter pertumbuhan gulma yang cepat dan perakaran berkembang banyak serta rapat. Hal ini disebabkan oleh terjadinya penyerbukan lokal, dimana gulma akan lebih mampu memproduksi biji. Selain itu, penyebaran bijinya juga efektif, karena buahnya disukai hewan, dan bijinya yang ringan sangat mudah terbawa angin. Banyaknya biji yang dihasilkan akan berdampak terhadap cepatnya perkembangan gulma yang selanjutnya akan mendominasi area-area tertentu. Biji-biji ini juga mempunyai senyawa alelopati dan semua itu akan menjadi kendala atau hambatan bagi pertumbuhan dan perkembangan jenis tumbuhan asli (Tjitrossoedirdjo, 2. Pada suatu kawasan yang cukup luas kapasitas adaptif dari GAI dikategorikan tinggi. Hal ini mengakibatkan gulma cepat berkembang sehingga sangat dominan terhadap tumbuhan asli di tempat tersebut. Spesies GAI ini akan sangat berbahaya bila kondisi lingkungannya rusah dan Populasi spesies GAI ini di habitat barunya akan tumbuh dengan pesat dan relatif tidak terkendali. Disamping itu, di habitat baru ini, predator maupun penyakit sangat sedikit. Akibatnya, tanaman berkompetisi dengan GAI ini dalam ruang dan makanan, sehingga tanaman asli akan terdesak dan punah (McNeely et al. , 2001. Tjitrosoedirdjo et al. , 2016 ). Perlu disadari bahwa salah satu ancaman terbesar bagi kebersinambungan keanekaragaman hayati adalah munculnya GAI. Implikasi kehadiran GAI ini dapat merubah struktur dan komposisi spesies dalam ekosistem, dimana spesies tumbuhan asli akan kalah bersaing dan mengalami kepunahan. Dampak GAI terhadap lingkungan dan ekonomi begitu nyata, misalnya dalam bidang pertanian akan muncul jenis-jenis hama dan penyakit tanaman baru yang sangat asing dikarenakan sama sekali belum dikenali oleh petani dan cara penanganannya juga belum Dampak lainnya adalah terjadinya pencemaran ekosistem air. Semua hal itu akan mengakibatkan meningkatnya biaya-biaya yang diperlukan, terutama untuk pengendalian berbagai jenis hama dan penyakit tersebut (Tjitrosoedirdjo et al. , 2. Berbagai permasalahan yang dapat ditimbulkan oleh GAI sehingga dapat mengancam menimbulkan kerugian ekonomi. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi guna menginventarisasi dan menganalisis risiko yang dapat terjadi akibat keberadaan GAI. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada beberapa tipe penggunaan lahan (TPL) yaitu kebun/tegalan, huma/ladang, sawah non-irigasi, sawah irigasi, perkebunan, padang rumput, hutan rakyat dan kolam/tambak di Sawang. Aceh Utara. Provinsi Aceh, yang berlangsung dari bulan April hingga Juni 2018. Dalam penelitian ini digunakan alat-alat seperti GPS (Global Positioning Syste. , kamera, tali, meteran, alat tulis-menulis, modul pedoman analisis risiko tumbuhan asing invasif (Post Borde. (Tjitrosoedirdjo et al. , 2. dan buku catatan lapangan peralatan lapangan. Penelitian ini menggunakan metode survei dan untuk menentukan lokasi identifikasi GAI didasarkan pada teknik purposive sampling. Jumlah plot identifikasi yang dibuat adalah sebanyak 24 plot . plot untuk setiap jenis TPL). Metode plot bersarang digunakan untuk masingmasing tingkatan vegetasi gulma yang Jurnal Agrium 16. September 2019. Hlm 144-150 ISSN 1829-9288 diletakkan/diposisikan Plot dengan ukuran 10x10 meter dipergunakan untuk tingkat pohon . , plot dengan ukuran 5x5 meter untuk tingkat pancang . , sedangkan plot yang mempunyai ukuran 2x2 meter adalah untuk tingkat vegetasi dasar . (Gambar . Gambar 1. Posisi plot identifikasi gulma Identifikasi GAI dilakukan dengan cara melihat secara visual bentuk morfologi gulma . atang, daun dan bung. , kemudian dicocokkan dengan buku pedoman identifikasi gulma asing invasif oleh Setyawati et al. Langkah selanjutnya adalah mengelompokkan gulma berdasarkan famili, spesies, tipe gulma, dan wilayah asal gulma asing invasif kemudian dihitung jumlahnya. Sistem menentukan analisis resiko GAI. Sistem ini mengikuti analisis risiko tumbuhan asing invasif yang diterbitkan oleh KLHK (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutana. dan FORIS (Forests in Southeast Asi. Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan pada metode scoring berlaku bagi setiap gulma asing invasif pada setiap jenis TPL. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan ditemukan spesies gulma asing invasif berjumlah 659 individu, 36 spesies dan 14 famili. Dari data tersebut menunjukkan bahwa keberadaan gulma asing invasif sudah sangat beragam di Sawang. Aceh Utara. Tabel 2 menunjukkan famili Poaceae yang berjumlah 9 spesies dan merupakan famili spesies GAI terbanyak yang ditemukan di Famili Poaceae dikenal memiliki gulma rumput tahunan dan tergolong sangat tangguh, lebih toleran dengan suhu panas dan kekeringan dan dapat berkembang dengan baik pada tanah yang kurang subur (Tjitrosoedirdjo et , 2. Tipe GAI terbanyak adalah dari jenis gulma berdaun lebar dengan jumlah 20 spesies gulma asing invasif. Spesies gulma berdaun lebar yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu Chromolaena odorata L. Phyllanthus urinaria . Ludwigia octovalvis. Euphorbia heterophylla . Spigelia anthelmia L. Heliotropium indicum . Ageratina adenophora. Ageratina riparia. Sphagneticola trilobata. Hyptis capitata Jacq. Spilanthes iabadicensis. Ruellia tuberosa. Spermacoce laevis. Ageratum houstonianum. Amaranthus spinosus L. Ageratum conyzoides. Ludwigia perennis L. Mimosa pudica. Portulaca oleracea L. Jussiaea linifolia Vahl. , sedangkan jumlah spesies gulma asing invasif terbanyak adalah spesies Rhynchospora colorata (L. dengan jumlah 66 individu. colorata (L. termasuk dalam famili Cyperaceae dan digolongkan kedalam gulma teki (Nursanti dan Adriadi, 2. Dari hasil perhitungan analisis resiko GAI pada berbagai TPL di Sawang. Aceh Utara Utara resiko GAI masuk dalam kategori resiko rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi (Tabel . Kategori resiko rendah terdapat pada spesies gulma Digitaria fuscescens dan H. (Gambar . , kategori risiko sedang pada spesies gulma A. adenophora dan A. conyzoides (Gambar . , kategori resiko tinggi pada spesies gulma C. odorata, dan kategori resiko sangat tinggi pada spesies gulma Axonopus compressus. Cyperus distans. Dactyloctenium aegyptium. Panicum maximum dan Paspalum conjugatum (Gambar . Jurnal Agrium 16. September 2019. Hlm 144-150 ISSN 1829-9288 Tabel 1. Jumlah individu, spesies, dan famili gulma asing invasif di Sawang. Aceh Utara. No. Uraian Jumlah individu Jumlah spesies Jumlah famili Total Tabel 2. Inventarisasi gulma asing invasif di Sawang. Aceh Utara Famili Penggolongan Total Wilayah Asal Chromolaena odorata L. Berdaun Lebar Ageratina adenophora Berdaun Lebar Ageratina riparia Berdaun Lebar Sphagneticola trilobata Berdaun Lebar Amerika Selatan dan Tengah Amerika Tengah Meksiko dan India bagian Amerika Tropis Spilanthes iabadicensis Berdaun Lebar Belum diketahui Ageratum houstonianum Berdaun Lebar Amerika Tropis Ageratum conyzoides Berdaun Lebar Amerika Tropis Eleusine indica (L. ) Gaertn Berdaun sempit India Asteraceae Spesies Gulma Acanthaceae Ruellia tuberosa Berdaun Lebar India Barat Amaranthaceae Amaranthus spinosus L. Berdaun Lebar Amerika Tengah Boraginaceae Heliotropium indicum L Berdaun Lebar Asia Cyperaceae Cyperus distans L. Fimbristylis alboviridis Teki Teki Belum diketahui Asia Timur dan Selatan Cyperus rotundus Teki India dan Afrika Actinoscirpus grossus Teki Belum Diketahui Rhynchospora corymbosa L. Britton Teki Belum Diketahui Rhynchospora colorata L. Teki Asia Euphorbiaceae Euphorbia heterophylla L. Berdaun Lebar Meksiko Lamiaceae Hyptis capitata Jacq. Berdaun Lebar Amerika Tropis Loganiaceae Spigelia anthelmia L. Berdaun Lebar Mimosa pudica Berdaun Lebar Ludwigia octovalvis Berdaun Lebar Amerika Tropis Amerika Tropis dan Amerika Selatan Amerika Selatan Ludwigia perennis L. Berdaun Lebar Belum Diketahui Jussiaea linifolia Vahl Berdaun Lebar Amerika Mimosaceae Onagraceae Phyllanthaceae Phyllanthus urinaria L. Berdaun Lebar Asia Tropis Poaceae Paspalum conjugatum P. Bergius Berdaun sempit Amerika tengah Axonopus compressus Berdaun sempit Amerika Tropis Digitaria longiflora Berdaun sempit India Dactyloctenium aegyptium L. Berdaun sempit Kawasan tropis Digitaria fuscescens Berdaun sempit Madagaskar dan Sri lanka. Cina bagian selatan dan pasifik. Sepanjang Selatan sampai Timur Asia Pennisetum purpureum Berdaun sempit Afrika tropis Digitaria divaricatissima Berdaun sempit Australia Panicum maximum Berdaun sempit Afrika tropis Setaria pumila Berdaun sempit Belum Diketahui Jurnal Agrium 16. September 2019. Hlm 144-150 ISSN 1829-9288 Portulacaceae Portulaca oleracea L. Berdaun Lebar India dan Afrika Utara Rubiaceae Spermacoce laevis Berdaun Lebar Amerika Tropis Dari seluruh gulma yang telah diobservasi, gulma D. aegyptium termasuk ke dalam kategori resiko sangat tinggi dengan nilai indeks resiko tertinggi yaitu 960, nilai keinvasifan 12, nilai dampak 8 dan nilai potensi distribusi 10. Hal ini sesuai dengan karakteristik dan morfologi D. aegyptium yang memiliki akar serabut, perkembangbiakan dengan biji dan stolon sehingga cepat bereproduksi baik secara generatif maupun vegetatif. Digitaria fuscescens Heliotropium indicum Gambar 2. Gulma yang termasuk resiko rendah pada lahan pertanian di Sawang. Aceh Utara Ageratum conyzoides Ageratina adenophora Gambar 3. Gulma yang termasuk resiko sedang di lahan pertanian di Sawang Aceh Utara Gambar 4. Gulma yang termasuk resiko sangat tinggi di lahan pertanian di Sawang Aceh Utara Jurnal Agrium 16. September 2019. Hlm 144-150 ISSN 1829-9288 Tabel 3. Analisis Resiko Gulma asing invasif di Sawang. Aceh Utara. Nilai Risiko Spesies Gulma Ageratina adenophora Ageratum conyzoides Axonopus compressus Chromolaena odorata Cyperus distans Dactyloctenium aegyptium Digitaria fuscescens Heliotropium indicum Rhynchospora colorata Panicum maximum Paspalum conjugatum Keinvasifan Dampak Potensi Distribusi Indeks Risiko Kategori Risiko Sedang Sedang Sangat tinggi Tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Rendah Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Sangat tinggi Tabel 4. Rekomendasi pengelolaan gulma asing invasif di Sawang. Aceh Utara. Spesies Gulma Ageratina adenophora Ageratum conyzoides Axonopus compressus Chromolaena odorata Cyperus distans Dactyloctenium aegyptium Digitaria fuscescens Heliotropium indicum Rhynchospora colorata Panicum maximum Paspalum conjugatum Famili Tipe Lahan Rekomendasi Asteraceae Asteraceae Poaceae Asteraceae Cyperaceae Poaceae Poaceae Boraginaceae Cyperaceae Poaceae Poaceae Perkebunan Sawah non Irigasi Kebun/tegalan Kebun/tegalan Huma/ladang Padang Rumput Hutan Rakyat Perkebunan Huma/ladang Sawah Irigasi Kebun/tegalan Melindungi Situs Melindungi Situs Musnahkan investasi Mencegah Penyebaran Musnahkan investasi Musnahkan investasi Monitor Monitor Musnahkan investasi Musnahkan investasi Musnahkan investasi Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa terdapat 6 gulma asing invasif yang termasuk dalam rekomendasi Aomusnahkan investasiAo yaitu spesies compressus dan P. conjugatum dari famili Poaceae pada lahan tegalan/kebun, spesies C. distans dan R. colorata dari famili Cyperaceae pada lahan ladang/huma, spesies D. pada lahan padang rumput dan spesies gulma P. maximum pada lahan sawah irigasi. Gulma C. odorata mendapat rekomendasi mencegah penyebaran pada lahan tegalan/kebun. Spesies A. adenophora pada lahan perkebunan dan gulma conyzoides pada lahan sawah non irigasi direkomendasikan untuk melindungi situs. Sementara spesies gulma D. fuscescens pada lahan hutan rakyat dan spesies gulma H. pada lahan perkebunan direkomendasikan untuk dilakukan monitoring. KESIMPULAN GAI yang ditemukan di lahan pertanian di Sawang Aceh Utara berjumlah 659 individu yang berasal dari 36 spesies dan 14 famili. Famili yang memiliki spesies GAI terbanyak adalah famili Poaceae. Penggolongan jenis gulma terbanyak berasal dari jenis gulma berdaun lebar dengan jumlah 20 spesies. Sedangkan jumlah spesies GAI terbanyak adalah spesies Rhynchospora colorata (L. ) dengan jumlah 66 individu. Resiko kehadiran GAI pada lahan pertanian di Sawang Aceh Utara dikategorikan atas resiko sangat tinggi yang diindikasikan oleh kehadiran gulma Axonopus compressus. Chromolaena odorata dan Paspalum conjugatum pada lahan tegalan/kebun. Cyperus Rhynchospora colorata pada lahan ladang/huma dan Dactyloctenium aegyptium pada lahan padang rumput dan spesies gulma Panicum maximum pada lahan sawah irigasi. Adapun kategori resiko sedang didemonstrasikan oleh gulma Ageratina adenophora yang hadir pada lahan perkebunan dan gulma Ageratum conyzoides pada lahan sawah non irigasi, sedangkan kehadiran gulma Digitaria fuscescens pada lahan hutan rakyat dan Heliotropium indicum pada lahan perkebunan dikategorikan beresiko rendah DAFTAR PUSTAKA