JPAP 10 . ISSN (Ceta. : 2548-6233. ISSN (Onlin. : 2548-6241 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan https://jurnalpasca. id/index. php/jpap/index Pengaruh Kompetensi Pengetahuan. Kepribadian dan Keterampilan Lulusan SMK Program Keahlian Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) terhadap Kepuasan Pengguna Lulusan di Kabupaten Lombok Barat Muhammad Fachry1*. Muhammad Makki1. Asrin1. Fahrudin1. Abdul Kadir Jaelani1 Program Studi Magister Administrasi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. DOI: 10. 29303/jpap. Sitasi: Fachry. Makki. Asrin. Fahruddin, & Jaelani. Pengaruh Kompetensi Pengetahuan. Kepribadian dan Keterampilan Lulusan SMK Program Keahlian Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) terhadap Kepuasan Pengguna Lulusan di Kabupaten Lombok Barat. (JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan, 10. , 176Ae183. https://doi. org/10. 29303/jpap. *Corresponding Author: Muhammad Fachry. Program Studi Magister Administrasi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. muhammadfachryalhindi@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi pengetahuan, kepribadian dan keterampilan terhadap kepuasan pengguna lulusan SMK Keahlian Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) di Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif dengan pendekatan ex post facto. Data diperoleh melalui kuesioner dengan skema rating scale dan dilengkapi oleh wawancara semistruktur. Kemudian, data yang diperoleh diolah dalam bentuk angka dan dianalisis menggunakan SmartPLS. Populasi yang akan diteliti adalah 15 DU/DI dan instansi yang tersebar di Kota Mataram dan Lombok Barat dengan responden sejumlah 200 Orang dan sampel sejumlah 127 Orang atau 63,5% dari total populasi dengan taraf kesalahan 5%. Sampel dalam penelitian ini beragam antara lain Owner. Manajer Cabang. Karyawan Senior. Rekan Kerja yang selevel dan Guru Produktif . ari 3 SMK Asa. yang mengikuti perkembangan pasca sekolah siswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi pengetahuan lebih berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna lulusan daripada kompetensi kepribadian dan keterampilan. Hal ini dikarenakan kompetensi kepribadian dan keterampilan tergolong dalam threshold competencies sementara kompetensi pengetahuan tergolong kedalam differential competencies yang artinya kompetensi pengetahuan menjadi aspek pembeda dalam penilaian kompetensi di industry Oleh karena itu sekolah harus meningkatkan kualitas KBM dan mengembangkan sistem evaluasi mutu lulusan SMK berbasis 3 Kompetensi tersebut. Kata Kunci: Pengetahuan. Kepribadian. Keterampilan. Lulusan. Kepuasan. Pendahuluan Luaran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia masih kurang memuaskan. Hal tersebut dibuktikan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK di Indonesia masih menjadi yang tertinggi . ari jenjang pendidikan lai. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia pada tahun 2024, dari 6,47 juta orang yang menganggur sebanyak 9,01 persen merupakan lulusan SMK, disusul oleh lulusan SMA sebanyak 7,05 persen. Fenomena terkait rendahnya serapan lulusan SMK dalam dunia kerja di Indonesia juga terjadi di NTB. Berdasarkan informasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB yang rilis pada Agustus 2024, 200 orang yang menganggur sebanyak 9,31 persen merupakan lulusan SMK, disusul oleh lulusan SMA sebanyak 4,95 persen. Sementara penyumbang TPT paling rendah adalah tamatan SD ke bawah yaitu sebesar 2,15 persen. Kondisi ini tidak jauh beda dengan kondisi di tingkat nasional, bahkan perbandingan angka pengangguran antara lulusan SMK dengan SMA di NTB lebih tinggi dari pada angka nasional yaitu sejumlah 4,36 persen atau hampir setengah dari jumlah pengangguran lulusan SMK. Terdapat banyak faktor penyebab, secara umum adalah ketimpangan antara jumlah lapangan kerja dengan jumlah lulusan SMK setiap tahunnya (Lombok Post, 2. dan ketidak sesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri (CNBC, 2. A 2026 Published by Posgraduate University of Mataram. This open access article is distributed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Bahkan didalam beberapa situasi, banyak lulusan SMK yang pekerjaannya diambil oleh lulusan dari SMA atau MA dikarenakan lulusan SMK tidak memiliki kecakapan kerja . mployability skil. yang meliputi keterampilan personal, intrapersonal, kebiasaan, sikap dan perilaku (Prianto et al. , 2. Beberapa fakta diatas akhirnya menyimpulkan bahwa faktor kompetensi menjadi penting untuk dimiliki dan diukur saat memasuki dunia kerja, sehingga penulis merasa penting untuk meneliti tentang pengaruh dari kompetensi lulusan SMK terhadap kepuasan Industri . engguna Terdapat beberapa program keahlian di SMK yang sulit terserap dunia kerja di NTB, salah satunya adalah Program Keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Berdasarkan temuan awal peneliti di 2 SMK Negeri dengan jurusan APHP di Lombok Barat, hanya terdapat 5 sampai 10 orang saja lulusan APHP yang terserap di Dunia kerja secara linier . esuai dengan kompetensi jurusanny. Beberapa diantaranya memilih untuk bekerja lintas jurusan, lanjut kuliah dan mayoritas belum bekerja kembali setelah resign. Hal ini menjadi persoalan, mengingat disaat yang bersamaan geliat industrialisasi sedang berkembang pesat di Lombok dan sektor yang banyak dikelola adalah Agribisnis Peternakan dan Pertanian. Akan tetapi, fakta diatas disatu sisi mengkonfirmasi kebenaran bahwa faktor penyebab tingginya Pengangguran Terbuka di NTB adalah ketidakpuasan dan ketidakpercayaan industry atau DU/DI terhadap Lulusan SMK APHP di NTB. Meskipun masalahnya urgent, kajian tentang lulusan SMK masih belum mendapat perhatian khusus. Padahal hasil dari penelitian ini akan mempermudah para kepala sekolah atau pemangku kebijakan dalam mengembangkan budaya mutu di sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Oleh karena itu melalui penelitian ini, peneliti mengukur kepuasan pengguna lulusan SMK APHP dengan melihat pengaruh dari 3 variabel yang menjadi profil kompetensi lulusan SMK secara umum antara lain variable Pngetahuan . emahaman tentang pekerjaa. , kepribadian . ikap dan perilaku kerja secara . emampuan praktik dan kerjasam. Adapun lokasi yang dipilih oleh peneliti adalah lulusan SMK APHP Kabupaten Lombok Barat. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memiliki jurusan atau kompetensi keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian di Lombok Barat antara lain SMKN 1 Narmada. SMKN 2 Lingsar dan SMKN 1 Kuripan. Hipotesis H1 : Terdapat pengaruh kompetensi Pengertahuan lulusan terhadap kepuasan pengguna lulusan SMK di Lombok Barat Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 176-183 H2 : Terdapat pengaruh kompetensi Kepribadian lulusan terhadap kepuasan pengguna lulusan SMK di Lombok Barat H3 : Terdapat pengaruh kompetensi keterampilan lulusan terhadap kepuasan pengguna lulusan SMK di Lombok Barat. Metode Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif yang menjelaskan fakta dan fenomena dilapangan secara numerik menggunakan pendekatan ex post facto yang artinya peneliti menggunakan perlakuan terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, melainkan mengkaji fakta yang telah terjadi Fakta ini diperoleh menggunakan kuesioner yang berisi sejumlah pernyataan dengan skema rating scale yang merefleksikan berbagai aspek penelitian dan disebarkan kepada responden secara purposive sampling. Melalui pendekatan ini data yang diperoleh diolah dalam bentuk angka dan dianalisis menggunakan SmartPLS. Kemudian untuk memperkuat kualitas data, peneliti menggunakan wawancara semistruktur yang ditujukan langsung kebeberapa responden kunci yang dapat merangkap informan secara snowball sampling karena otoritasnya untuk menjelaskan dan memberi informasi soal variabel Data yang diperoleh melalui wawancara akan diolah dan singkronkan dengan data kuesioner. Adapun dalam penelitian ini populasi yang akan diteliti adalah 16 DU/DI yang tersebar di Kota Mataram dan Lombok Barat dengan responden sejumlah 200 Orang. Jika menggunakan rumus Isaac and Michael (Sugiyono, 2. peneliti mengambil sampel sejumlah 127 Orang atau sekitar 63,5% dari total populasi dengan taraf kesalahan 5%. Sampel dalam penelitian ini beragam antara lain Owner. Manajer Cabang. Karyawan Senior. Supervisor. Rekan Kerja yang selevel dan Guru Produktif . ari 3 SMK Asa. yang mengikuti perkembangan pasca sekolah siswa. Pemilihan sampel ini didasarkan 2 kriteria yaitu: 1. ) memiliki otoritas menilai kinerja atau kompetensi karyawan Lulusan SMK APHP Lombok Barat di lokasi kerjanya. ) Pernah terlibat langsung dengan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan Lulusan SMK APHP Lombok Barat. Hasil dan Pembahasan Hasil Uji Validitas Validitas Konvergen Loading factor atau outer model bertujuan mengukur sejauh mana indikator atau variabel pengukuran secara akurat mewakili konstruk yang Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 176-183 mendasari atau variabel laten dalam model SEM-PLS (Structural Equation Modelling with Partial Least Square. Temuan fase ini menunjukkan korelasi yang kuat antara indikator dan variabel laten. Nilai outer loading yang melebihi 0,60 menandakan bahwa semua indikator dalam evaluasi ini valid . isa dipercay. dan mampu mengukur variabel yang diwakilinya secara Secara umum, seluruh indikator pada empat variabel dalam penelitian ini memenuhi prasyarat kelulusan outer loading Ou 0,60, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh konstruk memiliki validitas konvergen yang baik. Dengan demikian, model penelitian memiliki fondasi pengukuran yang kuat untuk melanjutkan pada analisis struktural . nner mode. secara menyeluruh. (AVE) lebih besar dari 0,50. Ini berarti bahwa masingmasing konstruk mampu menjelaskan lebih dari 50 indikator-indikatornya. Dengan terpenuhinya kriteria CronbachAos Alpha, composite reliability, dan AVE, pengukuran . uter mode. sudah valid dan reliabel. Average Variance Extracted (AVE). Cronbach's alpha dan Composite reliability AVE berfungsi untuk menilai seberapa besar varians indikator yang dapat dijelaskan oleh variabel laten, di mana nilai AVE di atas 0,50 menunjukkan bahwa konstruk mampu menangkap lebih dari separuh varians indikator yang mengukurnya (Hair et al. , 2. Sementara itu. CronbachAos alpha dan Composite Reliability digunakan untuk menilai konsistensi internal indikator dalam satu konstruk, dengan batas minimal reliabilitas 0,70 sebagai kriteria kelayakan (Hair et al. Melalui ketiga ukuran tersebut, penelitian ini memastikan bahwa konstruk kompetensi lulusan dan kepuasan industri yang dianalisis benar-benar valid, reliabel, dan mampu menggambarkan fenomena secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Tabel 2. Hasil Uji Fornell-Larcker criterion Variabel Kepribadian Kepuasan Industri Keterampilan Pengetahuan Sumber: Data Primer Hasil Uji . Tabel 1. Hasil Average Variance Extracted (AVE) Variabel Cronbach's alpha Kepribadian Kepuasan Industri Keterampilan Pengetahuan Sumber: Data Primer Hasil Uji . Average variance extracted (AVE) Secara menunjukkan bahwa seluruh variabel dalam penelitian ini memiliki nilai CronbachAos Alpha dan Composite Reliability diatas 0,70. Dengan demikian, instrumen yang digunakan dapat dikatakan stabil dan mampu mengukur konstruk secara konsisten. Nilai composite reliability . yang berada pada rentang 0,91Ae0,93 juga memperkuat bahwa konstruk sudah memenuhi standar reliabilitas PLS-SEM. Dalam konteks validitas konvergen, seluruh variabel menunjukkan nilai Average Variance Extracted Kriteria Fornell-Larcker Kriteria Fornell-Larcker digunakan untuk menilai korelasi antara variabel dengan dirinya sendiri, serta hubungannya dengan variabel lain. Kriteria ini dapat diuji dengan memeriksa nilai kuadrat dari Average Variance Extracted atau AVE (Hair et al. , . Akar kuadrat dari nilai Average Variance Extracted (AVE) suatu konstruk harus melebihi korelasi antara konstruk tersebut dengan konstruk lain dalam model. Secara keseluruhan, seluruh variabel dalam model memenuhi kriteria Fornell-Larcker, hal ini menunjukkan bahwa konstruk-konstruk yang digunakan benar-benar berbeda satu sama lain dan mengukur konsep yang Validitas diskriminan yang baik ini memberikan dasar yang kuat untuk melanjutkan analisis inner model, termasuk pengujian pengaruh Pengetahuan. Kepribadian, dan Keterampilan terhadap Kepuasan Industri. Dengan pemenuhan validitas ini, hasil analisis struktural nantinya dapat diinterpretasikan dengan lebih akurat, karena setiap variabel laten telah terbukti memiliki batasan yang jelas dibandingkan variabel Cross Loading Cross-loading adalah teknik yang digunakan untuk menilai seberapa baik indikator, yang dimaksudkan untuk mengukur konsep atau ide tertentu, secara akurat mewakili konsep tersebut (Hair et al. , 2. Tahap uji cross-loading dalam penelitian ini melibatkan penilaian korelasi antara indikator dari variabel laten dan indikator dari variabel laten lainnya. Menurut Hair et , . jika korelasi antara indikator dari suatu variabel laten lebih kuat daripada korelasi antara indikator dari variabel laten lainnya, dapat disimpulkan bahwa indikator dari variabel laten tersebut lebih efektif dalam menentukan dimensi blok. Secara menyeluruh, hasil mendukung kesimpulan bahwa seluruh variabel dalam model telah memenuhi validitas diskriminan Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 176-183 berdasarkan pendekatan indicator-level. Tidak terdapat indikator yang memiliki nilai loading lebih tinggi pada konstruk lain dibandingkan konstruk asalnya, sehingga model pengukuran dapat dipandang telah terdefinisi dengan baik. Dengan terpenuhinya prasyarat ini, hasil analisis inner model selanjutnya dapat diinterpretasikan dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. Konsistensi Internal Pada langkah ini, dua penilaian, reliabilitas komposit dan alpha cronbach, diterapkan untuk mengukur tingkat konsistensi internal (Auliya et al. Composite Reliability dan CronbachAos Alpha merupakan dua ukuran penting yang digunakan untuk menilai konsistensi internal dan keandalan konstruk dalam penelitian. Kedua ukuran ini membantu memastikan bahwa indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur konstruk tertentu menunjukkan hasil yang konsisten dan dapat diandalkan. Nilai CronbachAos Alpha berkisar antara 0 hingga 1, dimana nilai 0. 70 atau lebih tinggi menunjukkan keandalan yang baik. Sementara itu, nilai Composite Reliability yang lebih tinggi dari 0. 70 juga dianggap menunjukkan keandalan yang baik, dan semakin mendekati 1, semakin baik Nilai R-square sebesar 0. 937 menunjukkan bahwa Kepribadian. Pengetahuan. Keterampilan mampu menjelaskan 93. 7 persen variasi pada Kepuasan Industri. Hal ini menunjukkan bahwa tiga dimensi kompetensi lulusan SMK Program Keahlian Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) memberikan kontribusi yang sangat kuat dalam membentuk tingkat kepuasan pengguna lulusan. Nilai R-square adjusted sebesar 0. 936, yang hampir identik dengan nilai R-square, menandakan bahwa model tetap stabil meskipun disesuaikan dengan jumlah prediktor yang digunakan. Perbedaan yang sangat kecil antara keduanya menunjukkan efisiensi model serta minimnya bias akibat kompleksitas model . Relevansi prediktif (Q-Squar. Tabel 5. Hasil Uji relevansi prediktif (Q-Squar. Construct crosO SSE validated redundancy Sumber: Data Primer Hasil Uji . Tabel 3. Composite Reliability dan CronbachAos Alpha Variabel Cronbach's Composite . Kepribadian Kepuasan Industri Keterampilan Pengetahuan Sumber: Data Primer Hasil Uji . Composite . Secara keseluruhan, kombinasi nilai CronbachAos Alpha, rho_a, dan rho_c yang konsisten tinggi memberikan bukti empiris bahwa model pengukuran dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria reliabilitas yang dipersyaratkan dalam analisis PLS-SEM. Reliabilitas yang kuat pada seluruh konstruk menjadi dasar penting bagi kelanjutan pengujian model struktural, karena hasil hubungan antar variabel laten akan memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi. Tahap selanjutnya melibatkan pengujian model Tahap ini mencakup penilaian berbagai metrik, termasuk R-Square, relevansi prediktif (Q-Squar. FSquare. Goodness of Fit (GoF), dan koefisien jalur. R Square Tabel 4. Hasil Uji R Square R-square Variable Kepuasan Industri Sumber: Data Primer Hasil Uji . R-square adjusted QA (=1SSE/SSO) Secara keseluruhan, nilai QA yang diperoleh menunjukkan bahwa model struktural dalam penelitian ini memiliki relevansi prediktif yang memadai dalam menjelaskan variabel Kepuasan Pengguna Lulusan. Kemampuan prediktif yang bersifat moderat ini mengindikasikan bahwa Pengetahuan. Kepribadian. Keterampilan berperan penting dalam memprediksi kontribusinya belum berada pada kategori prediksi yang kuat. Goodness of Fit (GoF) Konsep Goodness of Fit (GoF) mengukur sejauh mana model statistik atau matematika secara akurat cocok atau selaras dengan data yang diamati. yaycuya = Ooyaycuyco ycu ycI 2 yaycuya = Oo0. 937 ycu 0. yaycuya = Oo0. yaycuya = 0. Nilai Goodness of Fit (GoF) sebesar 0. menunjukkan bahwa model penelitian memiliki tingkat kesesuaian yang sangat tinggi terhadap data empiris yang menunjukkan bahwa communality . epresentasi kualitas indikato. dan nilai R-square Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 176-183 . epresentasi kekuatan prediktif variabel eksoge. telah memenuhi kriteria kualitas model yang sangat Kombinasi dari dua aspek ini menjadikan GoF sebagai cerminan integritas struktural dan pengukuran yang solid. Dengan demikian, hasil penelitian ini memiliki tingkat validitas model yang tinggi dan dapat dijadikan dasar kuat dalam penyusunan rekomendasi kebijakan pendidikan maupun pengembangan kurikulum yang berbasis kebutuhan industri. Pengujian Hipotesis Tabel 6. Hasil Path coefficients Kode Variabel Kepribadian -> Kepuasan Pengguna Keterampilan -> Kepuasan Pengguna Pengetahuan -> Kepuasan Pengguna Sumber: Data Primer Hasil Uji . Original sample Sample mean Standard deviation (O) (M) (STDEV) Pembahasan Kompetensi Pengetahuan terhadap kepuasan pengguna lulusan . Kompetensi pengetahuan yang dimiliki oleh lulusan SMK APHP memberikan dampak positif terhadap kepuasan pengguna lulusan . empat mereka Hasil uji menunjukkan bahwa nilai T-statistics untuk hubungan antara X1 dan Y adalah 18. 744 dengan P-value sebesar 0. 000 yang jauh lebih kecil dari 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada kekhasan faktor kepuasan terhadap kompetensi karyawan dalam Industri pangan. Hal ini memperkuat argumentasi yang disampaikan oleh Teori KANO (Xu et al. , 2. yang menjelaskan bahwa tidak semua fitur layanan atau jasa dalam sebuah industri dapat mempengaruhi kepuasan konsumen, kepuasan biasanya muncul ketika ada fitur yang menimbulkan Auefek kejutAy terhadap konsumen. Dalam klasifikasi teori KANO kompetensi keterampilan masuk dalam fitur Mustbe . ebutuhan dasa. karena keterampilan sebagai Baker adalah variabel utama dalam penyeleksian kerja dan itu wajib Lalu kompetensi kepribadian masuk dalam fitur One-Dimensional (Kebutuhan Kinerj. yang mana fitur ini penggunaannya bersifat proporsional. Jika fitur ini digunakan dengan baik, maka akan semakin tinggi kepuasan dan begitu pula sebaliknya. Contohnya kecepatan kerja seorang karyawan, jika semakin cepat menyelesaikan kerjanya maka konsumen akan semakin Sementara itu kompetensi pengetahuan masuk dalam fitur Attractive (Kebutuhan Kejuta. karena memberikan nilai tambah besar pada kepuasan pengguna meski tidak diharapkan harus ada Contohnya Karyawan mampu mengambil inisiatif dalam mengerjakan tugas atau dapat memahami dengan cepat pekerjaan yang mereka kerjakan karena memang sudah memahami hal itu Sedangkan fitur Indifferent (Kebutuhan Netra. dan Reverse (Kebutuhan Berlawana. tidak T statistics (|O/STDEV|) P values berhubungan dengan kompetensi melainkan latar belakang karyawan dan penampilan mereka. Selain pengetahuan karyawan lulusan SMK APHP juga dapat dijelaskan dalam model kepuasan konsumen SERVQUAL (Parasuraman et al. , 1. Model ini menekankan lima dimensi utama dalam layanan yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, yaitu tangibles . spek fisik seperti fasilitas dan tampilan karyawa. , reliability . eandalan karyawan dalam melaksanakan tugas atau pekerjaanny. , responsiveness . esigapan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaa. , assurance . ompetensi yang dimiliki karyawa. , dan empathy . ikap kerja karyawa. Jika kompetensi pengetahuan selaras dengan kelima dimensi ini, karyawan dapat meningkatkan kualitas layanan yang diberikan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan pelanggan. Kemudian hasil penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Prasetyo, et , . yang menjelaskan bahwa masih ada kesenjangan antara harapan perusahaan dengan lulusan SMK Bidang RPL mengharapkan soft skill berbasis kompetensi pengetahuan seperti berpikir kritis dan kreatif serta pemahaman konteks perlu ditingkatkan di sekolah. Selain itu hasil ini diperkuat juga oleh penelitian Antara dan Martini et al. , . yang menunjukkan bahwa kreativitas kerja berpengaruh berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan yang secara lansgsung akan membuat pengguna lulusan . emimpin DU/DI) puas. Hal ini juga diperkuat oleh hasil wawancara yang menganggap Kompetensi Pengetahuan (X. dengan indikator variabel seperti Inisiatif, pembelajar yang mandiri, berpikir analitis, berpikir konseptual dan memahami cara kerja organisasi itu penting dan sangat berpengaruh terhadap kinerja dan kepuasan pennguna Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Kemampuan belajar akan sangat berpengaruh terhadap performa mereka saat bekerja, karena dalam industri kuliner insting dan kemampuan menalar menentukan konsistensi kualitas produk dan Inisiatif dan memahami SOP juga menjadi kunci karena sangat mempengaruhi atmosfer Kompetensi Kepribadian terhadap kepuasan pengguna lulusan . Kompetensi Kepribadian (X. tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pengguna Lulusan (Y). Hal ini terlihat dari nilai Original Sample (O) 002, dengan nilai T-statistic 0. 137 dan p-value 891, jauh di atas batas signifikansi 0. Temuan ini mengindikasikan bahwa karakter personal lulusan belum menjadi pertimbangan utama dalam menilai kepuasan industri di wilayah penelitian. Jika disampaikan oleh Teori KANO tentang efek kejut sebagai salah satu penentu kepuasan kompetensi kepribadian . engan indikator seperti Tekun. Empati. Berorientasi Kemampuan Kemampuan kepemimpinan yang merupakan dasar karakteristik karyawan akan menjadi faktor yang biasa saja karena sudah lumrah. Ketika ada kompetensi lain yang akhirnya memberi nilai beda . eperti kompetensi pengetahua. , itu akan menjadi efek kejut. Dengan demikian. Kompetensi Kepribadian (X. tidak dapat berdiri sendiri untuk melampaui ekspektasi yang pada akhirnya meningkatkan kepuasan pengguna lulusan sesuai dengan mekanisme. Dalam menjelaskan temuan ini, peneliti menggunakan dua teori milik McClelland yaitu Iceberg Model of Competency . dan Theory of Needs . Teori pertama (Iceberg Model of Competenc. menjelaskan bahwa kompetensi terbagi kedalam dua bagian yaitu threshold competencies . ompetensi dasa. dan differentiating competencies . ompetensi pembed. Threshold competencies merupakan kompetensi minimum yang harus dimiliki individu untuk dapat melaksanakan pekerjaan, namun tidak berfungsi sebagai pembeda kinerja seperti keterampilan dasar memasak dan tekun Sebaliknya, differentiating membedakan individu berkinerja unggul dengan individu berkinerja rata-rata, yang umumnya bersifat mendalam dan sulit diamati seperti motivasi dan konsep diri. Jika hasil penelitian menunjukkan kompetensi kepribadian tidak signifikan, maka kompetensi tersebut masih berada pada level threshold. Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 176-183 belum berkembang menjadi kompetensi pembeda . evel Kemudian, jika peneliti menggunakan teori McClelland yang kedua (Theory of Need. , perilaku dan penilaian atasan . ermasuk posisi lain dalam kategori pengguna lulusa. dipengaruhi oleh kebutuhan dominan yang dimilikinya, yaitu kebutuhan berprestasi . Ac. , kebutuhan berkuasa . Po. , dan kebutuhan afiliasi . Af. Dalam konteks dunia kerja, terutama pada sektor industri pengolahan hasil pertanian, atasan cenderung memiliki nAch . ebutuhan berprestas. dan nPow . ebutuhan akan kontrol dan efektivita. yang relatif tinggi. Hal ini diperkuat oleh penelitian Robles . mengenai persepsi eksekutif terhadap perusahaan menghargai soft skills, namun itu tidak selalu menjadi dasar utama dalam evaluasi kinerja atau kepuasan pemberi kerja. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian lulusan berfungsi sebagai faktor pendukung, bukan faktor penentu utama kepuasan Oleh karena itu, penguatan kurikulum SMK tidak cukup hanya menekankan pembentukan pencapaian kinerja dan hasil kerja terukur agar dapat memenuhi kebutuhan motivasional pengguna lulusan. Hasil penelitian ini sejalan Laker dan Powell . dan Finch et al. , . menjelaskan bahwa kemampuan aplikatif dan hasil kerja, bukan oleh karakteristik kepribadian semata. Seperti yang disarankan Industri Pangan di Indonesia dalam penelitian terbaru oleh Aghniya . yang memprioritaskan penerapan Standard Operating Procedure (SOP). Good Manufacturing Practice (GMP), pemahaman dasar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), pengoperasian mesin pengolahan pangan. Kompetensi Keterampilan terhadap kepuasan pengguna lulusan . Nilai koefisien jalur sebesar 0. 015, nilai T-statistic 714, dan p-value 0. 475 menegaskan bahwa pengaruh yang diuji berada pada tingkat yang tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun keterampilan penting secara praktis, namun dalam konteks penelitian ini tidak menjadi faktor penentu kepuasan industri. Jika dilihat dari perpektif personAejob fit Theory, keterampilan yang didapatkan lulusan APHP di sekolah belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan teknis dan teknologi yang digunakan oleh DU/DI sebagai pengguna lulusan karena keterampilan teknis Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan biasanya bersifat kontekstual (Kristof-Brown et al. Ketidaksesuaian ini menyebabkan kemampuan yang dimiliki lulusan belum dimanfaatkan secara optimal oleh pengguna, sehingga dianggap tidak memberikan kontribusi langsung terhadap kepuasan Selain itu, menurut Expectation Confirmation Theory (Oliver, 1. kepuasan terbentuk dari proses perbandingan antara ekspektasi awal pengguna dan kompetensi aktual yang dirasakan. Dalam konteks pengguna lulusan SMK jurusan APHP, ekspektasi terhadap keterampilan teknis lulusan umumnya bersifat standar dan umum, hal ini dikarenakan keterampilan tersebut dipandang sebagai kompetensi yang masih dapat dikembangkan dan disesuaikan melalui pelatihan lanjutan di tempat kerja (Rahim et al. , 2. Oleh karena itu, meskipun lulusan memiliki keterampilan teknis yang memadai, kondisi tersebut tidak selalu menghasilkan positive confirmation yang cukup kuat untuk meningkatkan kepuasan pengguna. Sebaliknya, pengguna lulusan cenderung memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap kompetensi keterampilan, seperti seperti keterampilan teknis dasar atau keterampilan khusus APHP seperti Quality Control sehingga pemenuhan aspek pengetahuan lebih berpotensi menghasilkan konfirmasi positif dan membentuk Oleh karena itu, ketidaksignifikanan pengaruh kompetensi keterampilan dalam penelitian ini mencerminkan rendahnya kontribusi keterampilan teknis awal terhadap evaluasi kepuasan pengguna lulusan, bukan menunjukkan bahwa keterampilan tidak memiliki peran penting dalam pengembangan kinerja lulusan secara jangka panjang (Nugraha et al. , 2. Selain itu dalam konteks pekerjaan vokasional berbasis SOP . eperti yang diterapkan pada industri pangan dan kuline. , pengguna lulusan lebih menilai kesiapan kognitif dan pemahaman kerja. Seperti yang dikemukakan oleh Mariano & Tantoco . bahwa keterampilan teknis lulusan Pendidikan vokasi cenderung bersifat homogen karena dibentuk melalui kurikulum dan pelatihan berbasis standar. Dalam kondisi tersebut, keterampilan praktis dipandang sebagai kompetensi dasar yang harus dimiliki, namun bukan faktor pembeda utama dalam menilai kepuasan pemberi kerja. Selain itu, kepuasan pengguna lulusan Pendidikan vokasi lebih ditentukan oleh pemahaman kerja, kepatuhan terhadap SOP, dan kesiapan kognitif dalam menjalankan tugas. Hal ini relevan dengan karakteristik DU/DI pengguna lulusan APHP yang menerapkan sistem kerja berbasis prosedur baku, alasannya adalah karena lulusan APHP yang mayoritas berperan sebagai Baker sangat membutuhkan kecerdasan dan ketelitian, karena kesalahan kecil bisa Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 176-183 berdampak besar pada produk baik dari segi kualitas atau kuantitas. Hal ini juga diperkuat oleh informasi awal pada saat peneliti wawancara, uji instrument dan wawancara lanjutan saat penelitian. Dalam praktik dunia kerja, keterampilan teknis sering kali dipandang sebagai kompetensi yang dapat dilatih dan ditingkatkan melalui pembinaan internal perusahaan. Akibatnya, pengguna lulusan tidak menjadikan keterampilan awal sebagai menekankan pada kesiapan pengetahuan dasar yang dimiliki lulusan. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Pengetahuan (X. berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pengguna Lulusan (Y). Sementara itu, kompetensi Kepribadian (X. dan Kompetensi Keterampilan (X. tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Pengguna Lulusan (Y). Hal ini dikarenakan kompetensi kepribadian dan keterampilan tergolong dalam threshold competencies . ompetensi dasa. sementara kompetensi pengetahuan tergolong . ompetensi pembed. yang artinya kompetensi pengetahuan memiliki Auefek kejutAy dalam penilaian kompetensi oleh pengguna lulusan di industri pangan. Berdasarkan data dan kesimpulan diatas penulis menyarankan kepada Kepala Sekolah SMK APHP se Lombok Barat agar meningkatkan kualitas KBM sebagai Tonggak Kompetensi Pengetahuan siswa dan lulusan. Selain itu tidak lupa juga membangkan level dari Kompetensi Kepribadian dan Keterampilan agar tidak hanya berada pada level dasar, tetapi berkembang menjadi kompetensi pembeda yang relevan. Kemudian kepada DU/DI diharapkan agar dapat memperkuat SMK menyelenggarakan pelatihan internal untuk Karyawan Lulusan SMK APHP pasca diterima. Kemudian saran yang terakhir untuk pemangku kebijakan Pendidikan vokasi di NTB diharapkan Menyusun strategi pengembangan program keahlian APHP berbasis Industri dan permasalahan lokal serta sistem evaluasi mutu lulusan SMK berbasis 3 Kompetensi (Pengetahuan. Kepribadian dan Keterampila. Daftar Pustaka