BALANCE : JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS Vol 10. No 2. November 2025. Hal 191 - 204 Pengaruh Struktur Modal. Pertumbuhan Laba, dan Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laba Perusahaan Sektor Barang Konsumer Primer di Bursa Efek Indonesia Oleh : Info Artikel : Forentina Vivi Universitas Widya Dharma Pontianak. Pontianak. Kalimantan Barat. Indonesia forentinavivi2@gmail. Diterima : 22 Agustus 2025 Direview : 1 September 2025 Disetujui : 10 September 2025 Hengky Leon2 Universitas Widya Dharma Pontianak. Pontianak. Kalimantan Barat. Indonesia hengkyleon11@gmail. Co Author *hengkyleon11@gmail. ABSTRACT This study aims to determine the effect of capital structure, profit growth, and company size on earnings quality. The type of research uses a quantitative approach with associative The population of this study consists of primary consumer goods sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange, totaling 132 companies. Sampling was carried out using criterion sampling techniques, resulting in a sample of 90 companies. Data analysis techniques used ordinary least squares with Statistical Product and Service Solution (SPSS) software version 26. Simultaneously, the feasibility of the regression model can be accepted, meaning that capital structure, profit growth, and company size influence earnings quality. Partially, company size has a negative effect on earnings quality, while capital structure and profit growth do not have an effect on earnings quality. This indicates that the scale of the company determines the quality of earnings, but the management of funding and changes in the company's earning conditions do not affect the reliability of earnings information, and there are other factors such as profitability, liquidity, and the quality of corporate governance that can influence. Keywords: Profit Quality. Profit Growth. Capital Structure. Firm Size ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan terhadap kualitas laba. Jenis penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif. Populasi penelitian ini adalah perusahaan sektor barang konsumer primer di Bursa Efek Indonesia berjumlah 132 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik kriteria sampel, diperoleh sampel sebanyak 90 perusahaan. Teknik analisis data menggunakan ordinary least square dengan alat software Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 26. Secara simultan, kelayakan model regresi dapat diterima artinya struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba. Secara parsial, ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba serta struktur modal dan pertumbuhan laba tidak berpengaruh terhadap kualitas Ini menunjukkan bahwa skala perusahaan menentukan kualitas laba namun pengelolaan pendanaan dan perubahan kondisi laba perusahaan tidak memberikan pengaruh terhadap informasi keandalan laba dan ada faktor lain seperti profitabilitas, likuiditas dan kualitas tata kelola perusahaan yang dapat mempengaruhi. Kata Kunci: Kualitas Laba. Pertumbuhan Laba. Struktur Modal. Ukuran Perusahaan *Corresponding AuthorAos ISSN PRINT : 2548-7523 | E-ISSN : 2613-8956 https://ojs. um-palembang. id/index. php/balance. Email : balance. aktfeb@gmail. Forentina. Hengky PENDAHULUAN Perusahaan sektor barang konsumer primer di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Sektor ini terdiri dari perusahaan yang memproduksi atau mendistribusikan barang yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat sehingga permintaan terhadap produk dari sektor ini relatif stabil setiap hari. Berbeda dengan sektor lainnya, barang konsumer primer berfokus pada kebutuhan pokok sehingga tetap dibutuhkan meskipun kondisi ekonomi sedang Contoh perusahaan dalam sektor ini antara lain: produsen makanan dan minuman kemasan, industri ritel seperti supermarket dan toko obat-obatan, perusahaan produk pertanian, produsen rokok, hingga penyedia kebutuhan rumah tangga pribadi. Keberadaan sektor ini sangat penting karena berkaitan dengan kebutuhan pokok yang harus segera dipenuhi serta menjamin ketersediaan barang-barang dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil. Anisa . Sektor barang konsumer primer umumnya tetap mampu menjaga kelangsungan usahanya. Konsistensi tersebut membuat sektor ini berperan sebagai salah satu penopang kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi secara Selain itu, sektor ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi investor karena memiliki peluang perkembangan yang relatif terjaga dengan tingkat permintaan yang stabil dan potensi pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan. Kualitas laba merupakan hal penting dalam menilai kinerja keungan perusahaan. Laba tidak hanya dilihat sebagai angka keuntungan yang tercatat dalam laporan tetapi juga sebagai informasi yang menunjukkan kondisi perusahaan yang Menurut Santoso & Handoko . Kualitas laba dipahami sebagai sejauh mana informasi laba mampu mencerminkan keadaan perusahaan yang sesungguhnya. Laba yang memiliki kualitas baik tidak hanya memperlihatkan jumlah keuntungan yang diperoleh tetapi juga menjalankan kegiatan usahanya secara sehat dan Informasi laba yang disajikan dengan baik akan memberikan gambaran yang jelas, relevan, serta dapat dipercaya sehingga bermanfaat bagi para pemangku kepentingan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam penyusunan laporan keuangan, kualitas laba menjadi sangat penting karena laba sering dijadikan acuan utama untuk menilai kinerja Apabila laba yang ditampilkan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya maka laporan keuangan dapat berfungsi sebagai sumber informasi yang andal untuk menilai peluang perusahaan di masa depan. Sebaliknya, jika laba yang disajikan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya maka pengguna laporan keuangan dapat memperoleh pemahaman yang kurang tepat mengenai kinerja perusahaan. Anggrainy . Oleh karena itu, penting untuk memahami faktorfaktor yang memengaruhi kualitas laba agar informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat lebih bermanfaat bagi para pihak. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kualitas laba adalah struktur modal. Struktur modal yaitu perbandingan antara modal yang diperoleh dari pinjaman . dan modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Menurut Pratama & Sunarto . , struktur modal digunakan untuk melihat sejauh mana perusahaan memanfaatkan dana dari kreditur dalam membiayai asetnya. Semakin besar porsi utang dibandingkan modal sendiri, perusahaan akan memiliki kewajiban pembayaran yang lebih tinggi. Putra & Dewi . Penelitian yang dilakukan oleh Sari & Wiyanto . , menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh positif terhadap kualitas laba namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari et , . yang menunjukkan bahwa struktur modal tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Faktor lain yang bisa memengaruhi kualitas laba adalah pertumbuhan laba, yaitu persentase perubahan laba satu periode ke periode Pertumbuhan laba menjadi salah satu indikator kinerja keuangan perusahaan. Kenaikan laba yang stabil menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kinerja operasionalnya. Puspitasari et al. , . Penelitian yang dilakukan oleh Abidin et al. , . berpengaruh positif terhadap kualitas laba namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Amanda & NR . yang menunjukkan bahwa pertumbuhan laba tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Faktor memengaruhi kualitas laba adalah ukuran Ukuran perusahaan mencerminkan skala operasional dan kemampuan manajemen dalam merumuskan kebijakan strategi yang efektif yang memungkinkan perusahaan untuk bertahan dan menunjukkan perhatian terhadap kepentingan berbagai pihak baik internal maupun eksternal. Forentina. Hengky Holly et al. , . Perusahaan yang mempunyai skala yang besar biasanya memiliki sumber daya dan kapasitas yang lebih banyak dibanding perusahaan kecil. Safitri & Afriyenti . Penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari et al. menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba, berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Isabella et al. , . yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Berikut disajikan rata-rata kualitas laba pada perusahaan sektor barang konsumer primer di Bursa Efek Indonesia periode tahun 20222024 yang disajikan pada Gambar 1 sebagai berikut Sumber: Tinjauan Literatur . Gambar 1. Rata-Rata Kualitas Laba Hasil perhitungan rata-rata kualitas laba dengan menggunakan rasio arus kas operasi menunjukkan adanya perubahan dari tahun ke tahun pada. Pada tahun 2022, kualitas laba berada pada angka yang cukup tinggi yaitu 3,31. Kondisi ini mencerminkan bahwa laba yang dicatat perusahaan periode tersebut didukung oleh arus kas dari kegiatan operasi. Pada tahun 2023, ratarata kualitas laba mengalami penurunan yang cukup besar hingga bernilai negatif yaitu 1,88. Nilai ini menunjukkan bahwa laba akuntansi yang dilaporkan pada periode tersebut tidak sepenuhnya diikuti oleh arus kas operasi sehingga kualitas laba menjadi rendah. Memasuki tahun 2024, kualitas laba kembali meningkat menjadi positif sebesar 0,56 walaupun nilainya belum sebesar tahun 2022. Angka ini memperlihatkan adanya upaya perusahaan dalam memperbaiki kinerja arus kas operasi sehingga kualitas laba perlahan membaik. Akan tetapi, tren fluktuasi dari positif ke negatif lalu kembali ke positif menandakan bahwa kualitas laba pada perusahaan sektor barang konsumer primer masih belum stabil. Fenomena ini menarik untuk diteliti lebih lanjut karena sektor barang konsumer primer merupakan sektor yang memperoduksi kebutuhan pokok masyarakat dengan permintaan yang relatif stabil setiap harinya. Namun, hasil perhitungan ratarata kualitas laba justru memperlihatkan kondisi yang tidak stabil. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kualitas laba dengan lebih jelas. Penelitian ini menjadi penting karena berfokus pada sektor barang konsumer primer di Bursa Efek Indonesia yang memiliki karakteristik seperti kemampuan bertahan pada saat kondisi ekonomi Dengan meneliti kembali pengaruh struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan terhadap kualitas laba, penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih jelas serta membantu manajemen dan para pemangku kepentingan dalam membuat keputusan yang tepat. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah struktur modal, pertumbuhan laba dan ukuran perusahaan baik secara parsial maupun secara simultan dapat memengaruhi kualitas laba? Sehingga, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas laba dapat dipengaruhi oleh struktur modal, pertumbuhan laba dan ukuran perusahaan baik secara parsial maupun secara simultan. KAJIAN PUSTAKA Teori Agency Teori agensi menggambarkan hubungan kerja antara prinsipal . dan agen . Sebagai agen, manajer memiliki tanggung jawab untuk menjalankan operasional perusahaan dengan tujuan mendukung kepentingan prinsipal. Namun, manajer juga memiliki kepentingan pribadi yang kadang berbeda dari kepentingan prinsipal. Jensen & Meckling . Perbedaan kepentingan ini dapat menimbulkan masalah agensi yang muncul karena konflik antara tujuan prinsipal dan agen. Konflik anatara prinsipal dan agen muncul karena adanya tindakan manajemen yang tidak selalu Forentina. Hengky sejalan dengan kepentingan pemilik, terutama karena manajemen memiliki informasi internal perusahaan yang lebih lengkap. Hal ini dapat memengaruhi keputusan operasional sehingga pencapaian keuntungan perusahaan tidak selalu Anggrainy . Dalam situasi asimetri informasi, manajer memiliki kebebasan dalam pengambilan keputusan yang kadang dapat berdampak pada laporan laba rugi perusahaan. Untuk memastikan tujuan perusahaan terpenuhi, prinsipal atau pemegang saham dapat menerapkan mekanisme pengendalian dan pengawasan yang sesuai terhadap tindakan manajer. Jensen & Meckling . Kualitas Laba Kualitas laba merupakan ukuran untuk menilai sejauh mana laporan laba perusahaan mencerminkan kondisi dan kinerja yang sesungguhnya, bukan sekedar jumlah laba yang dilaporkan. Luas et al. , . Konsep ini menekankan kemampuan perusahaan dalam menyajikan informasi laba yang jujur, transparan, dan dapat dipercaya sehingga laporan tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengambilan Menurut Santoso & Handoko . , indikator ini membantu menilai apakah laba yang dilaporkan relevan dan konsisten dengan realitas operasional perusahaan dan apakah terdapat peningkatan dalam penyajian laporan laba seiring Perusahaan yang memiliki kualitas tinggi adalah perusahaan yang mampu menghasilkan dan menyajikan laba dengan cara yang mencerminkan kinerja dan kondisi keuangan yang sebenarnya. Informasi laba yang disajikan harus andal dan dapat dipercaya, sehingga pihak eksternal merasa yakin dalam menilai kinerja perusahaan. Narita & Taqwa . Struktur Modal Struktur modal adalah perbandingan antara modal internal perusahaan seperti modal sendiri dan laba ditahan dengan modal eksternal berupa utang lancar maupun jangka panjang. Struktur modal berperan dalam mengatur pendanaan yang digunakan untuk menjalankan operasional perusahaan. Afridayani & Putren . Struktur modal menggambarkan komposisi keuangan suatu perusahaan yang terdiri dari perbandingan antara dana yang diperoleh dari utang jangka panjang . ong term liabilitie. dan ekuitas pemegang saham . hareholders equit. Kedua sumber ini menjadi bagian utama yang operasional serta memenuhi kewajiban yang ada. Amanda & NR . Pertumbuhan Laba Pertumbuhan laba adalah perubahan laba bersih dari satu period ke periode berikutnya. Menurut Sumertiasih & Wirawan . , peningkatan laba biasanya mencerminkan laba yang lebih tinggi dibandingkan periode Namun, laba yang dilaporkan harus mencerminkan kondisi sebenarnya dari perusahaan agar dapat dianggap relevan. Oleh karena itu, kemampuan perusahaan dalam meningkatkan labanya dianggap sebagai indikator kinerka yang Anggrainy . Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan mengacu pada skala besar atau kecilnya suatu entitas, yang dapat dikategorikan dengan berbagai cara, seperti, pendapatan, total aset, maupun total ekuitas. Pratama & Sunarto . Menurut Hidayat & Adityaningsih . , perusahaan yang memiliki ukuran yang lebih besar memiliki keunggulan berupa ketersediaan sumber daya yang lebih memadai serta akses yang lebih luas terhadap sumber pendanaan, termasuk pasar modal. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk lebih mudah memperoleh dana tambahan, misalnya melalui penerbitan saham baru, yang kemudian dapat digunakan untuk mendukung aktivitas operasional maupun pengembangan usaha. Dengan demikian, ukuran perusahaan tidak hanya menunjukan besar atau kecilnya penjualan atau aset perusahaan, perusahaan dalam mengelola kegiatan usahanya. Rohmansyah et al. , . Kerangka Pemikiran Dari hasil pengembangan kerangka teori yang sudah disusun maka disampaikan kerangka pemikiran pada Gambar 2 . Forentina. Hengky Struktur Modal (X. Pertumbuhan Laba (X. H3 Ukuran Perusahaan (X. H4 Sumber: Tinjauan Literatur . Kualitas Laba (Y) Gambar 2. Kerangka Pemikiran Pengembangan Hipotesis Pengaruh struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan terhadap kualitas laba. Dalam teori agensi, perbedaan peran antara pemilik dan manajemen dapat memengaruhi pengawasan dan transparansi laporan keuangan. Struktur modal menunjukkan perbandingan anatara utang dan modal sendiri. Keseimbangan antara modal sendiri dan utang dapat membantu perusahaan menjaga kestabilan keuangan serta konsistensi laporan laba. Dengan pengelolaan yang tepat, kemungkinan terjadinya penyajian informasi yang kurang tepat dapat berkurang sehingga kualitas laba yang dihasilkan perusahaan menjadi lebih baik. Pertumbuhan laba juga menunjukkan perubahan laba bersih dari waktu ke waktu dimana pertumbuhan laba yang stabil biasanya lebih mampu menjaga konsistensi laporan keuangan dan memberikan gambaran yang lebih andal mengenai kinerja perusahaan. Sementara itu, ukuran perusahaan menggambarkan skala besar kecilnya suatu perusahaan dimana perusahaan yang berskala lebih besar biasanya memiliki sistem pengelolaan dan pelaporan yang lebih terstruktur sehingga kualitas informasi laba yang disajikan dapat lebih terjaga. Dengan demikian, kombinasi ketiga variabel tersebut secara bersama-sama dapat memberikan pengaruh terhadap kualitas laba karena pendanaan, kinerja pertumbuhan laba dan skala perusahaan berperan dalam menentukan ketepatan informasi laba yang dilaporkan. Selain itu, pengujian ini dilakukan untuk melihat model regresi apakah sudah layak atau belum. Penelitian yang dilakukan oleh Anggarani & Yudi . menunjukkan bahwa struktur modal, pertumbuhan laba dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai H1: Struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba. Pengaruh struktur modal terhadap kualitas laba Struktur modal adalah perbandingan antara modal sendiri dan dana pinjaman yang dimiliki perusahaan untuk memibayai aktivitas Pengelolaan struktur modal yang baik dapat membantu perusahaan untuk menyeimbangan risiko dan manfaat dari sumber pendanaan yang digunakan. Dengan adanya keseimbangan ini, kondisi keuangan perusahaan lebih terjaga sehingga laporan keuangan yang disusun dapat memberikan gambaran yang lebih tepat. Pratama & Sunarto . Dalam teori agensi, konflik antara pemilik dan manajemen dapat memengaruhi kualitas laporan laba, karena manajemen memiliki akses informasi internal yang lebih lengkap. Penerapan struktur modal yang tepat, seperti penggunaan utang secara optimal, dapat membantu mengurangi potensi perbedaan kepentingan ini dengan mendorong manajemen mengelola sumber daya hanya perusahaan secaara lebih efektif. Penelitian yang dilakukan oleh Anggrainy . serta Santoso & Handoko . menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut: H2: Struktur modal berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Forentina. Hengky Pengaruh pertumbuhan laba terhadap kualitas Pertumbuhan laba adalah peningkatan laba bersih dari satu perode ke periode berikutnya. Peningkatan laba menunjukkan adanya perbaikan kinerja dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya yang dimiliki. Apabila laba yang diperoleh perusahaan semakin meningkat secara konsisten maka laporan keuangan yang dihasilkan akan lebih dapat diandalkan karena mencerminkan kondisi yang stabil. Anggrainy . Dalam teori agensi, perubahan laba yang baik menunjukan bahwa manajemen menjalankan tanggungjawaabnya secara efisien sesuai kepentingan pemilik, sehingga laporan laba yang dihasilkan lebih relevan dan dapat diandalkan. Penelitian yang dilakukan oleh Sumertiasih & Wirawan . serta Khofsoh & Faidah . menunjukkan bahwa pertumbuhan laba berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut: H3: Pertumbuhan laba berpengaruh positif terhadap kualitas laba Pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan berdasarkan total aset yang dimiliki. Perusahaan dengan skala yang besar biasanya memiliki kegiatan operasional yang lebih banyak dan Dalam teori agensi, kondisi ini dapat meningkatkan perbedaan kepentingan antara pemilik dan manajemen, karena manajemen memiliki akses informasi internal yang lebih Sehingga, keandalan laporan laba pada perusahaan besar cenderung lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan kecil. Penelitian yang dilakukan oleh Azizah & Asrori . serta Puspitasari et al. , . menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai H4: Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba METODOLOGI PENELITIAN Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah jenis data penelitian yang berfokus pada pengujian teori melalui pengukuran variabel yang dinyatakan dalam bentuk angka serta mneganalisis data dengan menggunakan metode statistik. Anggrainy . Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan sektor barang konsumer primer di Bursa Efek Indonesia tahun 2022-2024. Metode pengambilan sampel berdasarkan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria Adapun kriteria sampel dalam Tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Data Sampel Penelitian Kriteria Sampel Perusahaan sektor barang konsumer primer yang terdafar di Bursa Efek Indonesia Perusahaan yang telah melakukan Initial Public Offering (IPO) sesudah tahun 2022 Perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan yang lengkap Jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria sampel Jumlah data sampel yang digunakan . perusahaan x 3 tahu. Sumber: Data Olahan . Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Kualitas laba (Y) Kualitas laba adalah kemampuan perusahaan dalam menyajikan laporan laba yang akurat, transparan, dan mencerminkan kondisi Indikator ini digunakan untuk menilai apakah laba yang dilaporkan konsisten dengan aktivitas operasional perusahaan. Santoso & Handoko . Perhitungan kualitas laba berdasarkan penelitian oleh Azizah & Asrori . Jumlah . Struktur Modal (X. Struktur modal adalah perbandingan antara total ekuitas dan total utang yang digunakan operasionalnya. Afridayani & Putren . Struktur modal memberikan gambaran bagi perusahaan dalam menentukan cara penggunaan dana baik dari sumber internal maupun eksternal. Hal ini dilakukan Forentina. Hengky dengan cara menghitung rasio Debt to Equity Ratio (DER) yang membandingkan total utang dengan total ekuitas perusahaan. DER dihitung dengan membagi total utang dengan total ekuitas. Jika hasil rasio DER kurang dari 1 atau dibawah 100 persen menunjukkan bahwa utang perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan total ekuitas yang dimiliki. Dalam situasi yang tidak menguntungkan seperti permasalahan keuangan, perusahaan masih memiliki kemampuan untuk melunasi semua Sebaliknya, jika rasio DER lebih besar dari 1 atau diatas 100 persen, ini berarti bahwa utang perusahaan melebihi modal bersih yang dimilikinya. Santoso & Handoko . Rumus untuk menghitung struktur modal berdasarkan penelitian Santoso & Handoko . sebagai Keterangan: t: Laba bersih periode sekarang t-1: Laba bersih periode sebelumnya Pertumbuhan Laba (X. Pertumbuhan laba adalah perubahan laba bersih dari satu periode ke periode berikutnya. Pertumbuhan laba yang positif mencerminkan keuangan perusahaan yang relatif stabil. Perubahan laba ini juga menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan keuangan untuk periode berikutnya serta menjadi informasi bagi pihak internal maupun eksternal perusahaan. Anggrainy . Pengukuran pertumbuhan laba berdasarkan penelitian oleh Kurniawan & Aisah . sebagai berikut: Teknik Analisis Data Teknik analisis data menggunakan ordinary least square (OLS) dengan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) Sumber data yang digunakan adalah data Data diperoleh melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia di w. Metode analisis yang digunakan adalah analisis statistis deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, uji koefisien determinasi, uji f dan uji t. Struktur Modal Pertumbuhan Laba Ukuran Perusahaan Kualitas Laba Valid N (Listwis. Sumber: Output SPSS . Ukuran Perusahaan (X. Ukuran perusahaan adalah nilai yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan yang dapat diukur melalui tingkat pendapatan, total aset, serta total ekuitas. Ukuran perusahaan diukur dengan Logaritma Natural (L. dari total aset. Hal ini dikarenakan besarnya total aset dari tiap perusahaan berbeda bahkan memiliki selisih yang besar sehingga metode ini bisa membantu mengurangi pengaruh nilai ekstrem. Ayem & Solop . Rumus untuk menghitung ukuran perusahaan berdasarkan penelitian oleh Ayem & Solop . sebagai berikut: Analisis Statistik Deskriptif Berikut disajikan hasil uji statistik deskriptif dalam Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Uji Deskriptif Statistik Minimum Maximum Pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 270. Diketahui variabel struktur modal memiliki nilai minimum -23,6167, nilai maksimum 54,9798, dan nilai mean 2,0118 dengan standar deviasi 5,5710. Variabel pertumbuhan laba diketahui memiliki nilai minimum -38,2169, nilai maksimum 192,5374, dan Mean Std. Deviation nilai mean 1,6141 dengan standar deviasi 18,1598. Variabel ukuran perusahaan diketahui memiliki nilai minimum 10,5895, nilai maksimum 31,0231, dan nilai mean 22,4576 dengan standar deviasi 5,6125. Variabel kualitas laba diketahui memiliki nilai minimum -601,5930, nilai maksimum 230,2035, dan nilai mean 1,2146 dengan standar deviasi 41,1302. Forentina. Hengky Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui kondisi data yang ada sehingga dapat menentukan model analisis yang paling sesuai. Widiyanti & Syarif . Pengujian asumsi klasik ini mencakup uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Uji Normalitas Pada penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Kriteria pengambilan keputusan untuk One-Sample Kolmogorov-Smirnov, jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05 maka data terdistribusi normal sedangkan jika nilai signifikan kurang dari 0,05 maka data belum terdistribusi normal. Berikut disajikan hasil uji normalitas dalam Tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandarized Residual Normal Parameters a,b Most Extreme Diifferences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal Calculated from data Liliefors Significance Correction This is a lower bound of the true significance Sumber: Output SPSS . Pada Tabel 3, terdapat data outlier sebanyak 140 data yang dikeluarkan dari data sampel sehingga diketahui bahwa nilai Asymp. Sig . -taile. sebesar 0,200 dimana nilai signifikan tersebut lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Untuk multikolinearitas, dapat dilihat nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Kriteria pengambilan keputusan multikolinearitas adalah apabila nilai tolerance lebih dari 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10 maka dapat dikatakan tidak terjadi gejala Berikut disajikan hasil uji multikolinearitas dalam Tabel 4 sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas Coefficient Model Tolerance VIF Struktur Modal Pertumbuhan Laba Ukuran Perusahaan Dependent Variable: Kualitas Laba Sumber: Output SPSS, 2025 Pada Tabel 4, diketahui bahwa semua variabel memiliki nilai tolerance diatas 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi gejala multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Dalam penelitian ini, heteroskedastisitas diuji menggunakan metode Glejser. Kriteria pengambilan keputusan untuk metode Glejser Forentina. Hengky adalah dengan membandingkan nilai signifikan dari masing-masing variabel dengan 0,05 setelah regresi diabsolutkan. Apabila nilainya lebih dari 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Sebaliknya, apabila kurang dari 0,05 maka terjadi gejala heteroskedastisitas. Berikut disajikan tabel hasil uji heteroskedastisitas dalam Tabel 5 sebagai Tabel 5. Hasil Uji Heteroskedastisitas Coefficient Model Sig. Struktur Modal Pertumbuhan Laba Ukuran Perusahaan Dependent Variable: ABS_RES Sumber: Output SPSS . Pada Tabel 5, diketahui bahwa semua variabel memiliki nilai signifikan lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan tidak terjadi gejala Uji Autokorelasi Untuk autokorelasi dapat dilihat nilai durbin-watson. Kriteria pengambilan keputusan autokorelasi adalah dengan membandingkan nilai dU < d < 4 Ae dU. Berikut disajikan tabel hasil uji autokorelasi dalam Tabel 6 sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Autokorelasi Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: . Ukuran Perusahaan. Pertumbuhan Laba. Struktur Modal Dependent Variabel: Kualitas Laba Sumber: Output SPSS . Pada Tabel 6, diperoleh nilai durbinwatson sebesar 2,106. Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan maka nilainya 1,761 < 2,106 < 2,239 maka dapat disimpulkan tidak terjadi gejala autokorelasi. Durbin-Watson Analisis Regresi Berganda Analisis regresi berganda digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh dan arah hubungan antara variabel independen dan dependen. Uji regresi berganda mencakup analisis regresi linear, koefisien determinasi, uji sigifikansi simultan . ji F) dan uji signifikan parsial . Berikut disajikan tabel hasil uji regresi linear berganda dalam Tabel 7 sebagai berikut: Tabel 7. Hasil Uji Regresi Linear Berganda Modell Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Std. Error Beta (Constan. Struktur Modal Pertumbuhan Laba Ukuran Perusahaan Variable Dependent: Kualitas Laba Sumber: Output SPSS . Sig Forentina. Hengky Pada Tabel 7, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = a b1X1 b2X2 b3X3 e dimana jika dijelaskan dalam bentuk angka sebagai berikut: Y = 2,005 0,147X1 0,067X2 Ae 0,040X3 Keterangan: = Kualitas laba = Konstanta = Struktur modal = Pertumbuhan laba = Ukuran perusahaan = Error Pada Tabel 7, diketahui struktur modal dan pertumbuhan laba masing-masing memiliki arah positif terhadap kualitas laba. Namun, ukuran perusahaan memiliki arah negatif terhadap kualitas Model Secara parsial, ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba dikarenakan nilai signifikansi dibawah 0,05 . ,001 < 0,. Sedangkan, struktur modal dan pertumbuhan laba tidak berpengaruh terhadap kualitas laba dikarenakan nilai signifikansi diatas 0,05 . ,273 > 0,. ,644 > 0,. Uji Koefisien Determinasi Pengujian koefisien determinasi untuk melihat kontribusi yang diberikan model regresi. Kontribusi ini dapat dilihat dari nilai adjusted r Jika nilai tersebut mendekati satu maka kontribusi yang diberikan sangat besar. Berikut disajikan tabel hasil uji regresi linear berganda dalam Tabel 8 sebagai berikut: Tabel 8. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summary R Square Adjusted R Square Predictors: . Ukuran Perusahaan. Pertumbuhan Laba. Struktur Modal Dependent Variabel: Kualitas Laba Sumber: Output SPSS . Pada Tabel 8, diketahui nilai Adjusted R Square sebesar 0,067 . ,7 perse. , hal ini menunjukkan bahwa struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan dapat menjelaskan sebesar 6,7 persen variabel kualitas laba. Sedangkan sisanya yaitu 93,3 persen dijelaskan oleh variabel diluar model regresi. Model Reggresion Residual Total Sumber: Output SPSS . Uji F Uji F digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Selain itu juga digunakan sebagai uji kelayakan model Kriteria pengambilan keputusan untuk uji F dengan membandingkan nilai signifikansi dengan 0,05. Apabila nilai signifikansi kurang dari 0. maka terdapat hubungan secara simultan dan model regresi layak. Berikut disajikan tabel hasil uji F dalam Tabel 9 sebagai berikut: Tabel 9. Hasil Uji F ANOVA Sum of Mean Squares Square Pada Tabel 9, diperoleh nilai signifikan sebesar 0,008 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan secara bersama-sama Std. Error of the Estimate Sig berpengaruh terhadap kualiatas laba dan uji kelayakan model dikatakan layak. Forentina. Hengky Pembahasan Pengaruh Struktur Modal. Pertumbuhan Laba dan Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laba Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal, pertumbuhan laba dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba dengan nilai signifikan sebesar 0,008 < 0,05 sehingga H1 diterima. Hal ini sejalan dengan penelitian Anggarani & Yudi . serta teori agensi yang menekankan pentingnya kerja sama antara manajemen dan pemilik dalam menghasilkan laporan keuangan yang andal sehingga uji kelayakan model dapat diterima. Struktur modal yang dikelola dengan baik membantu menciptakan disiplin melalui pengawasan dari pihak pemberi pinjaman, pertumbuhan laba yang stabil menunjukkan kinerja yang baik, dan perusahaan yang berskala besar biasanya memiliki sistem pengendalian yang lebih baik. Dengan demikian, ketiga faktor tersebut membantu mengurangi perbedaan informasi anatara prinsipal dan agen sehingga kualitas laba tetap terjaga. Pengaruh Struktur Modal terhadap Kualitas Laba Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal tidak berpengaruh terhadap kualitas laba dengan nilai signifikan sebesar 0,273 > 0,05 sehingga H2 ditolak. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Anggrainy . serta Santoso & Handoko . Ini menunjukkan bahwa mungkin struktur pendanaan perusahaan dikelola dengan baik sehingga perbedaan antara utang dan modal sendiri tidak secara langsung memengaruhi keandalan informasi laba perusahaan. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan teori agensi karena komposisi utang terhadap ekuitas mengendalikan manajemen. Namun, ternyata komposisi tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap kualitas laba. Kemungkinan hal ini terjadi karena perusahaan sudah memiliki tata kelola dan pengawasan yang efektif sehingga kualitas laba tetap terjaga tanpa dipengaruhi oleh komposisi utang terhadap ekuitas perusahaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra & Dewi . Pengaruh Pertumbuhan Laba terhadap Kualitas Laba Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan laba tidak berpengaruh terhadap kualitas laba dengan nilai signifikan sebesar 0,644 > 0,05, artinya H3 ditolak. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Sumertiasih & Wirawan . serta Khofsoh et al. , . Ini menunjukkan bahwa kenaikan atau penurunan laba bersih dari satu periode ke periode berikutnya tidak selalu diikuti oleh perubahan pada keandalan kualitas informasi laba yang dilaporkan. Pertumbuhan atau penurunan laba yang terjadi mungkin disebabkan oleh faktor Misalnya dari kegiatan operasional sektor barang konsumer primer berupa produksi dan penjualan kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, barang rumah tangga, serta barang keperluan pribadi. Permintaan terhadap produkproduk ini cenderung stabil sepanjang tahun sehingga perubahan laba tiap tahunnya tidak begitu Sebagian pertumbuhan atau penurunan laba yang terjadi juga bisa berasal dari kegiatan di luar operasional perusahaan seperti penjualan aset tetap, keuntungan atau kerugian selisih kurs, serta pendapatan bunga. Kegiatan ini biasanya hanya terjadi pada satu periode tertentu dan tidak berkaitan dengan proses produksi atau penjualan sehingga perubahaan terhadap keandalan informasi laba bisa berubah-ubah. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan teori agensi yang menganggap bahwa pertumbuhan laba bisa menjadi tanda baik bagi pemilik dalam menilai kinerja manajemen. Namun dalam penelitian ini, pertumbuhan laba tidak terbukti memengaruhi kualitas laba dimana kemungkinan manajemen mengetahui lebih detail mengenai sumber pertumbuhan laba sementara pemilik hanya melihat hasil akhir pertumbuhannya saja sehingga keandalan informasi laba yang diterima pemilik tidak selalu terlihat sepenuhnya. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amanda & NR . Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laba Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba dengan nilai signifikan sebesar 0,001 < 0,05, artinya H4 diterima. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Azizah & Asrori . serta Puspitasari et al. , . Ini menunjukkan bahwa perusahaan yang berskala lebih besar cenderung Forentina. Hengky memiiliki kualitas laba yang rendah. Artinya, jika ukuran perusahaan skala kecil, bisa jadi kualitas laba yang dihasilkan lebih baik. Meskipun perusahaan skala besar memiliki nilai laba yang besar, namun bukan berarti kualitas laba ditunjukkan dari angka saja. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori agensi yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar kemungkinan adanya perbedaan informasi yang dapat menurunkan keandalan informasi laba yang menyebabkan bahwa kualitas laba tidak selalu diukur dari skala perusahaannya melainkan dari sisi bagaimana pencapaian laba dapat tercapai dengan baik. KESIMPULAN Secara simultan, kelayakan model regresi dapat diterima artinya struktur modal, pertumbuhan laba, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba. Secara parsial, ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap kualitas laba serta struktur modal dan pertumbuhan laba tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Hal ini ditunjukkan dari nilai adjusted r square yang bernilai sebesar 6,7 persen saja yang dapat mewakili keseluruhan variabel dalam model regresi tersebut. Ini menunjukkan bahwa skala perusahaan menentukan kualitas laba namun pengelolaan pendanaan dan perubahan kondisi laba perusahaan tidak memberikan pengaruh terhadap informasi keandalan laba dan ada faktor lain yang mempengaruhi diluar dari model penelitian ini. Rekomendasi Dalam penelitian ini, peneliti telah berusaha untuk mengembangkan penelitian ini dengan baik, namun masih terdapat keterbatasan sehingga perlu dilakukan perbaikan untuk peneliti Keterbatasan dalam penelitian ini adalah . peneliti hanya melakukan pengamatan pada perusahaan sektor barang konsumer primer di Bursa Efek Indonesia selama tiga tahun, yaitu dari tahun 2022 sampai dengan tahun 2024. Sehingga adanya keterbatasan informasi dan data yang tidak . adanya data perusahaan yang dilakukan outlier diatas 50 persen dikarenakan kesulitan untuk memenuhi uji asumsi klasik yang menjadi syarat utama meskipun begitu data yang diuji sudah memenuhi syarat. nilai koefisien determinasi di dalam penelitian ini hanya sebesar 6,7 persen saja sehingga sebagian besar banyak dijelaskan oleh variabel lain diluar model regresi. Untuk peneliti selanjutnya disarankan dapat menambah tahun pengamatan lebih dari tiga tahun supaya hasil yang diperoleh lebih akurat. Selain itu, untuk peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian serupa, sebaiknya lebih mempertimbangkan serta mencari variabel independen lainnya seperti profitabilitas, likuiditas dan kualitas tata kelola perusahaan yang berhubungan dengan kualitas laba. DAFTAR PUSTAKA