Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh https://ejournal. id/index. php/pedagogik/index Vol. No. 2, 2025. PP. P-ISSN: 2337-7364 | E-ISSN: 2622-9005 ANALISIS TANTANGAN ONTOLOGIS. EPISTEMOLOGIS. DAN AKSIOLOGIS DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR Vita Arifa. Fitri Agustina Kusumaningrum2. Dian Budiarjo3. Sri Surachmi4. Fashihulisan5 1,2,3,4,5 Program Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar. Universitas Muria Kudus. Indonesia Email: 202503078@std. ARTICLE INFO Article History Received : 28-09-2025 Accepted : 19-10-2025 Published : 30-10-2025 Kata Kunci: Ontologis. Epistemologis. Aksiologis. Pembelajaran Bahasa Indonesia Keywords: Ontologis. Epistemologis. Aksiologis. Indonesian Language Learning ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar melalui perspektif ontologis, epistemologis, dan Dalam praktiknya, pembelajaran Bahasa Indonesia menghadapi dinamika yang kompleks akibat perubahan karakteristik peserta didik, perkembangan teknologi digital, serta perpindahan paradigma pembelajaran menuju kurikulum yang lebih fleksibel dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan metode studi literatur yang melibatkan berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, buku, dokumen kurikulum, serta hasil penelitian terdahulu. Hasil analisis menunjukkan bahwa tantangan ontologis muncul akibat sifat objek kajian Bahasa Indonesia yang majemuk dan Tantangan epistemologis terkait dengan dominasi metode pembelajaran konvensional yang belum mengakomodasi kebutuhan literasi modern. Sementara itu, tantangan aksiologis tampak pada lemahnya implementasi nilai-nilai literasi dalam perilaku berbahasa siswa, terutama di era media digital. Penelitian pembelajaran Bahasa Indonesia yang berbasis konteks, literasi kritis, dan penggunaan media digital secara terarah untuk meningkatkan kompetensi berbahasa peserta didik di Sekolah Dasar. ABSTRACT This study aims to analyze the challenges of Indonesian language learning in elementary schools through In practice. Indonesian language learning faces complex dynamics due to changes in student characteristics, the development of digital technology, and the shift in learning paradigms towards a more flexible and contextual curriculum. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. This study uses a qualitative descriptive-analytical approach with a literature study method involving various sources such as scientific journals, books, curriculum documents, and previous research results. The results of the analysis indicate that ontological challenges arise from the pluralistic and multidimensional nature of the object of Indonesian language study. Epistemological challenges are related to the dominance of conventional learning methods that have not yet accommodated the needs of modern Meanwhile, axiological challenges are evident in the weak implementation of literacy values in students' language behavior, especially in the digital media era. This study recommends the implementation of context-based Indonesian language learning, critical literacy, and the targeted use of digital media to improve students' language competence in elementary PENDAHULUAN Bahasa Indonesia memegang peran yang sangat penting sebagai bahasa pemersatu bangsa, bahasa resmi negara, serta sarana utama dalam proses pembelajaran di sekolah. Pada tingkat Sekolah Dasar, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan dasar seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, tetapi juga berfungsi membangun kemampuan literasi yang menjadi landasan bagi pembelajaran seluruh mata pelajaran. Peningkatan literasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD berkontribusi besar terhadap pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif peserta didik (Yani et al. , 2. Guru berperan dalam memperkuat literasi Bahasa Indonesia melalui penerapan strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk menumbuhkan literasi kritis siswa (Saputra & Parisu. Namun, hasil Studi internasional, salah satunya Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak siswa belum mampu memahami teks secara mendalam, membuat inferensi, maupun menilai isi bacaan secara kritis (OECD. Pada level nasional, hasil Asesmen Nasional (AN) yang mulai diterapkan Kemendikbudristek pada tahun 2021 juga memperlihatkan pola serupa, di mana Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. sejumlah besar siswa sekolah dasar masih mengalami kesulitan dalam memahami bacaan dan mengaitkannya dengan situasi sehari-hari (Kemendikbudristek, 2. Kondisi tersebut menegaskan perlunya penguatan literasi sejak jenjang awal pendidikan melalui pendekatan yang dapat menstimulasi kemampuan berpikir Dari perspektif pendidikan, pembelajaran Bahasa Indonesia masih cenderung monoton dan berbasis hafalan. Guru lebih fokus pada pemahaman kaidah kebahasaan secara teoretis daripada kemampuan penggunaan bahasa secara fungsional dan Hal ini mengakibatkan siswa tidak mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kebutuhan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan kenyataan di lapangan menunjukkan beberapa tantangan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD yang masih bersifat konvensional, berpusat pada guru, dan kurang mengakomodasi model pembelajaran inovatif. Yani . juga menegaskan bahwa metode yang kurang variatif membuat siswa menjadi pasif dan tidak memiliki ruang untuk mengembangkan gagasan secara mandiri. Selain itu, rendahnya kemampuan berbahasa dan literasi siswa juga dipengaruhi oleh kurangnya inovasi dalam strategi pengajaran serta meningkatnya penggunaan gawai tanpa kontrol (Zahra et al. , 2. Perkembangan teknologi serta dinamika sosial masyarakat turut memengaruhi minat baca, pola berbahasa, dan kualitas interaksi siswa. Anak-anak kini lebih akrab dengan berbagai konten visual dan platform digital daripada bacaan panjang, sehingga kebiasaan membaca menjadi berkurang. Penggunaan media digital memiliki dampak besar terhadap minat baca siswa sekolah dasar, terutama ketika pemanfaatannya kurang diawasi oleh guru maupun orang tua (Arifah et al. , 2. Selain itu, kehadiran media sosial dan teknologi digital juga memengaruhi praktik berbahasa Indonesia, yang semakin sering digunakan secara bebas, tidak mengikuti kaidah yang berlaku, bahkan bercampur dengan bentuk bahasa lain (Bangun et al. , 2. Filsafat memiliki tiga ranah utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi merupakan bagian filsafat yang mengkaji hakikat realitas atau keberadaan sesuatu (Paramida et al. , 2. Secara umum, ontologi mempelajari konsep tentang AuadaAy dan menelaah dasar-dasar logis dari seluruh entitas yang eksis (Munip et al. Melalui kajian ini, ontologi berupaya menjelaskan serta menguji validitas suatu ilmu pengetahuan. Sementara itu, epistemologi adalah cabang filsafat yang meneliti hakikat, kebenaran, sumber, metode, serta struktur pengetahuan. Dalam konteks Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. pendidikan, epistemologi menjadi landasan untuk menentukan kebenaran materi yang diajarkan serta memilih metode ilmiah yang tepat dalam memperoleh dan menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik. Pembahasan epistemologi juga mencakup bagaimana metode atau pendekatan dalam proses memperoleh ilmu itu Dari sisi aksiologi, ilmu pengetahuan dipandang melalui manfaat dan nilai yang Aksiologi memusatkan perhatian pada penentuan nilai baik atau buruk serta hubungan antara nilai, penilaian, dan realitas objektif (Karisna et al. , 2. Dalam pendidikan, aksiologi menegaskan pentingnya tujuan dan nilai guna pendidikan dalam membentuk karakter, etika, dan kemampuan sosial siswa, bukan sekadar menambah Untuk memahami persoalan tersebut, pendekatan filosofis melalui kajian ontologis, epistemologis, dan aksiologis diperlukan. Kajian ontologis mengkaji hakikat Bahasa Indonesia sebagai objek pembelajaran yang bersifat dinamis. Kajian epistemologis menelaah bagaimana pengetahuan Bahasa Indonesia ditransformasikan. Sedangkan kajian aksiologis mengkaji manfaat dan nilai pembelajaran Bahasa Indonesia bagi kehidupan peserta didik (Rokhmah, 2. Melalui penelitian literatur ini, penulis berupaya menganalisis tantangan-tantangan tersebut dan menyajikan rekomendasi strategis yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar agar lebih bermakna, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar melalui perspektif ontologis, epistemologis, dan aksiologis. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif Metode studi literatur dipilih karena sesuai untuk menelusuri konsep, teori, dan prosedur penelitian kepustakaan (Fadli, 2. Proses kajian dilakukan dengan menelaah berbagai sumber seperti jurnal, buku, dokumen kurikulum, serta hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia dan pendekatan filosofis dalam pendidikan. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, yaitu mengkaji fenomena, konsep, dan temuan penelitian terdahulu tanpa melakukan eksperimen atau pengumpulan data Dalam prosesnya, peneliti mereview isi jurnal dan buku secara sistematis Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. dengan mengikuti langkah-langkah yang telah ditetapkan sesuai kebutuhan penelitian. Penelitian diawali dengan pencarian artikel yang relevan dengan tema secara terencana dan terstruktur agar diperoleh hasil yang valid dan komprehensif. Pada penelitian ini terkumpul lima jurnal/buku yang membahas tantangan ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Artikelartikel tersebut diperoleh melalui pencarian di Google Scholar dan aplikasi Mendeley sebagai alat manajemen referensi. Sumber yang direview dari rentang tahun 2020Ae2025, di mana seluruh jurnal kemudian dievaluasi dan disusun dalam sebuah tabel yang memuat nama peneliti, tahun publikasi, judul penelitian, serta hasil atau tantangan utama dari masing-masing penelitian. Data yang terkumpul tersebut dianalisis isinya . ontent analiysi. , yaitu teknik yang digunakan untuk mengkaji perilaku manusia secara tidak langsung melalui analisis terhadap komunikasi mereka seperti konsep, pendapat, teori-teori, prinsip-prinsip, dan semua jenis komunikasi yang dapat dianalisis (Yusliani, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam kajian literatur ini data penelitian menggunakan analisis tantangan Ontologi. Epistimologi dan Aksiologi pembelajaran Bahasa Indonesia sebagaimana yang disajikan dalam tabel di bawah ini. Tabel 1. Analisis Tantangan Ontologi. Epistimologi dan Aksiologi Pembelajaran Bahasa Indonesia Penulis (Tahu. Judul Tantangan Artikel/ Tantangan Ontologi Tantangan Aksiologi Epistimologi Buku Minahul Pembelajar 1. Peserta Masih Pembelajaran sering Mubin an Bahasa Sherif Indonesia metode ceramah Juniar di Sekolah berbahasa yang Dasar beragam sehingga tidak memperoleh etika berbahasa atau Aryanto kebanggaan nasional. belajar aktif. Manfaat kompetensi dasar. Guru sebagai alat berpikir Guru kritis belum tercapai karena keterampilan menulis dan membaca sesuai seperti mind Aulihat dan ucapkanAy, atau 3. Guru belum konsisten tetapi sebagai alat dalam menanamkan nilai-nilai Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. Penulis (Tahu. Judul Artikel/ Buku Tantangan Ontologi Tantangan Epistimologi Keterbatasan Pembelajaran pemahaman guru pada teori bahasa, penerapan strategi kurang efektif. Amna Hakikat Bahasa Metode Ali. Bahasa dan sistem simbol yang pembelajaran kurang Sheyfil Implikasiny Masih da Dea a dinamis: Siswa SD didominasi hafalan Fenica. Pembelajar mengalami variasi dan ceramah, tidak an Bahasa kemampuan karena Silvina Indonesia praktik berbahasa. Noviya Di Sekolah sosial-kultural dan 2. Ketimpangan Dasar terus berubah. Bahasa sebagai alat Keterbatasan buku. Siswa media digital, dan pemerolehan bahasa tidak optimal. memaknai bahasa 3. Variasi kemampuan Indonesia sebagai literasi awal: Siswa dengan lingkungan Bahasa mengalami kesulitan bukan hanya mata Penggunaan Decenni Pengemban 1. Mengembangkan Kesulitan Amelia gan dalam membedakan . Pembelajar materi esensial dan an Bahasa terpadu . , non-esensial dalam Indonesia menyatukan seluruh di sekolah Kurikulum Merdeka, . Bahasa Indonesia sangat luas Memadukan Perlu pola pikir guru dari teacher-centered centered , untuk Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Tantangan Aksiologi melalui bahasa. Bahasa pembentuk karakter dan Tantangan karena siswa penguatan nilai bahasa Indonesia Pembelajaran masih belum maksimal Kurikulum terhadap era digital. Keterlibatan nilai sosial seperti kerja sama, literasi budaya, dan konsisten muncul. Memastikan belajar bermakna dan otentik bagi peserta didik agar mereka dapat menggunakan bahasa hidup . kill for lif. Hal penggunaan Penilaian Nyata (Authentic Assessmen. peserta didik benarbenar Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. Penulis (Tahu. Judul Artikel/ Buku Tantangan Ontologi terkotak-kotak (Holisti. Siti Zafira Qia Meningkat Pemahama n Bahasa Indonesia Melalui Metode Edukatif Interaktif di Sekolah Dasar Tantangan hakikat pemaknaan dan SD yang masih . iasan/metafor. dalam Puisi dan Peribahasa. Kesalahan tanda baca berdampak pemahaman dan hakiki dari sebuah Suharto Moh Salimi, . Pembelajar an Bahasa Indonesia di sekolah Tantangan keutuhan memastikan bahwa objek pembelajaran . enyimak, berbicara, membaca, terintegrasi dan saling Tantangannya adalah Bahasa Tantangan Epistimologi pembelajaran teoritis Tantangan inovasi guru: pembelajaran konvensional yang terlalu berorientasi pada hafalan. Tantangan untuk pendekatan guru, ketersediaan media metode interaktif . isalnya, permainan, diskusi, dan visualisas. Tantangan inovasi dan pedagogis: mengatasi penggunaan metode berpusat pada peserta pendekatan saintifik , model CIRC. Think Talk Write. Paired Storytelling. Tantangannya adalah menyesuaikan strategi pembelajaran dengan analisis kebutuhan dan Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Tantangan Aksiologi terhadap perkembangan intelektual mental. Tantangan Bahasa Indonesia dengan cara yang lebih . ukan hanya soal lulus ujia. , tetapi sebagai sarana untuk melatih empati, kepekaan, kreativitas , serta memahami dunia di sekeliling mereka melalui bahasa. Pembelajaran bahasa sebagai identitas Tantangan fungsionalitas komunikatif: memastikan diperoleh memiliki nilai guna . Tantangannya menciptakan siswa yang secara baik dan benar sesuai dengan tujuan dan kehidupan sehari-hari , . enyusun paragraf, dan tek. dan teks sastra dan nonsastra Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. Penulis (Tahu. Judul Artikel/ Buku Tantangan Ontologi Indonesia sistemis, serta sebagai Tantangan Epistimologi Tantangan Aksiologi termasuk gaya belajar Tantangan Ontologis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Secara ontologis, seluruh penulis menyoroti bahwa hakikat bahasa sebagai objek pembelajaran memiliki kompleksitas yang tinggi. Bahasa bukan hanya kumpulan aturan, tetapi medium komunikasi, alat berpikir, serta sistem budaya. Pada kajian Juniar dan Aryanto . , tantangan ontologis muncul dari keragaman kemampuan berbahasa siswa dan kecenderungan pembelajaran yang masih mengutamakan teori. Hal serupa terlihat pada temuan Ali dkk. , yang menyoroti sifat bahasa sebagai fenomena sosial kultural sehingga kemampuan siswa sangat dipengaruhi latar belakang keluarga dan lingkungan. Pada penelitian Decenni Amelia . , tantangan ontologis berfokus pada keutuhan unsur bahasa dan perlunya integrasi fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, serta keterampilan berbahasa agar pembelajaran tidak terkotak-kotak. Sementara itu. Qia . menegaskan tantangan ontologis dalam kemampuan siswa memahami makna abstrak, terutama kiasan, metafora, dan tanda baca yang memengaruhi pemaknaan teks. Kajian Suhartono dan Salimi . juga memperkuat bahwa secara ontologis pembelajaran Bahasa Indonesia menuntut guru memahami bahasa sebagai struktur sistematis-sistemis yang berkaitan dengan budaya dan harus diajarkan secara terpadu. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan tantangan utama terletak pada hakikat bahasa yang kompleks, sifatnya yang beragam, dinamis, terintegrasi, serta memiliki tingkat abstraksi tertentu yang tidak mudah dipahami siswa SD. Guru harus memahami bahasa tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai sistem bermakna yang mencakup aspek sosial, budaya, dan kognitif sehingga hakikat Bahasa Indonesia sebagai objek kajian yang dinamis belum dipahami secara mendalam oleh siswa. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. Tantangan Epistemologis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Dari aspek epistemologis, tantangan berfokus pada bagaimana pengetahuan bahasa diperoleh, diajarkan, dan dipahami. Juniar dan Aryanto . menyoroti bahwa metode ceramah masih dominan dan guru belum memaksimalkan strategi pembelajaran yang memberi pengalaman nyata bagi siswa. Rendahnya pemahaman guru terhadap teori belajar modern menyebabkan strategi kurang efektif. Ali dkk. menambahkan persoalan epistemologis berupa ketimpangan akses sumber belajar dan rendahnya kemampuan literasi awal. Penggunaan teknologi yang belum merata membuat pemerolehan bahasa tidak optimal. Amelia . menyoroti tantangan epistemologis pada guru yang kesulitan memilih materi esensial dalam Kurikulum Merdeka dan belum sepenuhnya meninggalkan pola pikir lama yang bersifat teachercentered. Qia . juga melihat tantangan epistemologis pada kurangnya inovasi guru, pendekatan konvensional, serta minimnya media kreatif untuk pembelajaran Dalam kajian Suhartono dan Salimi . menggarisbawahi tantangan dalam penyesuaian pedagogis, yaitu bagaimana guru mampu menerapkan berbagai model seperti saintifik. CIRC, atau Think Talk Write sesuai kebutuhan siswa yang Keseluruhan studi menunjukkan bahwa tantangan epistemologis mencakup keterbatasan metode, kurangnya pembaruan strategi, kesenjangan sumber belajar, serta kesulitan guru dalam menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik siswa. Hal ini memperlambat proses pemerolehan bahasa yang seharusnya aktif, kontekstual, dan berbasis pengalaman. Metode pembelajaran juga belum sepenuhnya mendukung penguatan literasi modern Tantangan Aksiologis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Dari sisi aksiologis, pembelajaran Bahasa Indonesia belum sepenuhnya menunjukkan manfaat atau nilai yang seharusnya diperoleh siswa dari proses belajar Juniar dan Aryanto . menjelaskan bahwa nilai kebahasaan seperti etika berbahasa, kemampuan berpikir kritis, serta karakter nasional masih belum ditanamkan secara optimal. Pada kajian Ali dkk. menyatakan bahwa tantangan aksiologis terlihat pada pembelajaran bahasa yang belum maksimal dalam mendukung pembentukan karakter, identitas nasional, kemampuan berpikir kritis, dan literasi Kurikulum pun belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan era digital. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. Amelia . menekankan perlunya penilaian autentik agar nilai pembelajaran benarbenar bermakna dan dapat digunakan sebagai keterampilan hidup . kill for lif. Qia . menggarisbawahi bahwa nilai pembelajaran bahasa harus berkembang menjadi media membangun empati, kreativitas, dan pemahaman kemanusiaan, bukan sekadar mengejar nilai akademik. Suhartono dan Salimi . mengemukakan bahwa tantangan aksiologis mencakup pentingnya memastikan bahwa kemampuan berbahasa memiliki fungsi nyata dalam kehidupan, terutama kemampuan menulis, membaca pemahaman, dan komunikasi efektif. Tantangan Aksiologis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD dapat disimpulkan belum sepenuhnya menghasilkan nilai guna yang kuat bagi siswa. Pembelajaran belum mampu menanamkan nilai-nilai berbahasa secara optimal dalam perilaku siswa. Nilai moral, sosial, budaya, berpikir kritis, serta kemampuan komunikasi fungsional masih lemah. Penilaian dan praktik pembelajaran perlu lebih otentik, kontekstual, dan humanis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar menghadapi tantangan yang kompleks dalam aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Hakikat Bahasa Indonesia sebagai objek kajian yang dinamis belum dipahami secara mendalam oleh siswa. Dari sisi epistemologis, metode pembelajaran belum sepenuhnya mendukung penguatan literasi modern. Sementara secara aksiologis, pembelajaran belum mampu menanamkan nilai-nilai berbahasa secara optimal dalam perilaku siswa. Dengan demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan berbasis literasi untuk menjawab tantangan Berdasarkan temuan yang didapatkan dalam penelitian ini, dapat disarankan beberapa hal, yaitu: . Guru perlu mengembangkan pembelajaran berbasis teks dan berbasis proyek agar siswa lebih aktif. Media digital seperti video, aplikasi membaca, dan permainan edukatif harus dimanfaatkan secara optimal. Sekolah perlu membangun budaya literasi melalui program membaca harian, sudut baca, dan festival . Kerja sama antara sekolah dan keluarga harus diperkuat untuk membiasakan Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh Arifa. Kusumaningrum. Budiarjo. Surachmi. , & Fashihulisan. Pedagogik: Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Aceh. PP. penggunaan bahasa yang baik. Pelatihan guru terkait pedagogi bahasa dan literasi digital perlu ditingkatkan. REFERENSI