E-ISSN 2798-8678 SEGARA WIDYA Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Volume 13 No. 2, 2025 P143-153 Analisis Kesesuaian Atmosfer Ruangan dengan Karakter Konsumen di Cafy Kota Denpasar Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari Program Studi Desain. Program Magister. Institut Seni Indonesia Bali Jln. Nusa Indah. Denpasar 80235. Indonesia kartikasari20014@gmail. Tren dan gaya hidup masyarakat yang dipengaruhi oleh globalisasi budaya mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Pola konsumsi masyarakat mengalami perubahan secara pesat. Salah satu contohnya adalah meningkatnya minat terhadap tempat untuk menikmati hidangan yang menyajikan makanan dan minuman dalam suasana santai dan nyaman. Cafe menjadi salah satu tempat yang direkomendasikan sebagai penunjang gaya hidup masa kini, karena fasilitas yang disediakan mendukung kenyamanan konsumen serta menawarkan berbagai pilihan atmosfer, terutama di cafecafe yang ada di Kota Denpasar. Peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana atmosfer ruangan memengaruhi preferensi karakter konsumen di cafe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi serta metode analisis data secara induktif, yang meliputi pengumpulan data, reduksi data dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atmosfer ruangan cafe memainkan peran penting dalam memengaruhi preferensi karakter konsumen dalam mengunjungi cafe. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengusaha cafe dalam menciptakan suasana yang sesuai dengan karakter konsumen yang ditargetkan, sehingga dapat meningkatkan loyalitas konsumen. Kata kunci: Cafy. Atmosfer Ruangan. Karakter Konsumen Trends and lifestyles of people influenced by cultural globalization have changed along with the times. People's consumption patterns have changed rapidly. One example is the increasing interest in places to enjoy dishes that serve food and drinks in a relaxed and comfortable atmosphere. Cafes are one of the recommended places to support today's lifestyle, because the facilities provided support consumer comfort and offer a variety of atmosphere choices, especially in cafes in Denpasar City. Researchers conducted a study aimed at understanding how the room atmosphere affects consumer character preferences in cafes. This study uses a qualitative method with data collection methods in the form of observation and documentation and an inductive data analysis method, which includes data collection, data reduction and data presentation. The results of the study indicate that the atmosphere of the cafe room plays an important role in influencing consumer character preferences in visiting cafes. This study is expected to provide insight for cafe entrepreneurs in creating an atmosphere that suits the character of the targeted consumers, so that it can increase consumer loyalty. Keywords: Cafys. Atmospheric Space. Consumer Character Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 PENDAHULUAN Perubahan gaya hidup telah meningkatkan kebutuhan masyarakat akan tempat yang nyaman di luar rumah, seperti cafe, untuk bersosialisasi dan menikmati suasana santai sambil menikmati hidangan makanan dan minuman. Kebutuhan ini tidak hanya oleh kaum muda, tetapi oleh berbagai kalangan. Adek Puspita Sari. Wan Dian Safina. Suhaila Husna Samosir, . mengungkapkan bahwa perkembangan pesat dalam usaha cafe mencerminkan dukungan terhadap aktivitas sosial (A. Sari dkk. Cafe dinilai sebagai tempat yang memiliki nilai tambah dikarenakan fasilitas yang disediakan sangat menunjang kenyamanan konsumen (Lestari & Soesanto. Maraknya perkembangan cafe tersebut juga dibarengi dengan tema dan tujuan Misalnya, beragam atmosfer ruang dengan konsep nuansa tradisional sampai modern, lengkap dengan iringan musik, harga terjangkau, hingga sajian menu menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi anak muda (Muawanah, 2. Cafe sering digunakan untuk bekerja hingga mengadakan pertemuan oleh masyarakat di Kota Denpasar. Kota Denpasar sebagai pusat kota di Pulau Bali, mengalami perkembangan pesat dalam usaha cafe. Menurut Data Bappenda dan Dinas Pariwisata Kota Denpasar pada situs ppid. id jumlah cafe di Kota Denpasar tahun 2022 mencapai 63 cafe, sedangkan tahun 2023 mencapai 168 Ungkapan ini menunjukkan bahwa perkembangan usaha cafe di Kota Denpasar sangat pesat (Data Detail - PPID Kota Denpasar, 2. Banyaknya pilihan cafe akan memudahkan konsumen untuk berpindah dan memilih sesuai dengan keinginan konsumen, serta produk dan harga yang ditawarkan kurang lebih serupa (Purnomo. Persaingan tidak lagi hanya terbatas pada produk makanan dan minuman, tetapi juga pada atmosfer ruangan yang ditawarkan oleh masing-masing cafe. Atmosfer ruangan meliputi aspek desain interior, tata letak, pencahayaan, musik, aroma dan suasana keseluruhan yang diciptakan oleh cafe berperan penting dalam memengaruhi pengalaman dan preferensi konsumen terhadap suatu cafe (Tomlinson, 1990: 20 . (Fauzi dkk. , 2. Karakter konsumen berperan penting dalam menentukan preferensi konsumen terhadap suatu cafe. Setiap konsumen memiliki selera, motif, dan tujuan yang berbeda ketika memilih cafe. Menurut Nugroho Setiadi, . , karakter konsumen dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan budaya yang membentuk preferensi terhadap suasana di cafe. Sebagai contoh, konsumen dengan karakter yang mencari produktivitas cenderung memilih cafe yang tenang dan mendukung suasana bekerja, sementara konsumen yang mencari hiburan atau relaksasi lebih mungkin memilih cafe dengan suasana yang santai dan interaktif (Setiadi, 2. Beberapa penelitian lainnya tentang preferensi konsumen terhadap interior ruang cafe, menyoroti adanya hubungan emosional ruang dengan pengalaman sensorik seperti aroma kopi, pencahayaan, dan musik yang secara signifikan dapat meningkatkan loyalitas dan keinginan untuk membeli (Chen & Lin, 2. Kuatnya dampak pengalaman sensorik seperti aroma kopi bahkan dapat meningkatkan emosi dan energi positif bagi pelanggan (Pinsuwan dkk. , 2. Aspek emosional dan psikologis konsumsi kopi, seperti kenikmatan dan status sosial, merupakan faktor pendorong yang signifikan bagi konsumen. Faktor-faktor ini berkontribusi pada pengalaman keseluruhan dan dapat memengaruhi loyalitas konsumen serta persepsi terhadap merek cafe (Samoggia dkk. , 2. Lingkungan cafe sebagai ruang sosial yang memberikan konsumen kebebasan untuk berekspresi, mampu menciptakan rasa kebersamaan dan keterikatan yang pada akhirnya meningkatkan loyalitas (Petrovici & Bejinariu, 2. Elemen-elemen desain interior yang spesifik turut berperan dalam Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 menarik dan mempertahankan pelanggan. Pengalaman ruang yang tak tergantikan dengan elemen desain interior yang spesifik, dapat memberikan kesan pengalaman sensorik yang tak terlupakan bagi konsumen. Pengalaman ini kemudian akan membuat konsumen berkunjung kembali, seperti cafe-cafe dengan tema tertentu contohnya pet-cafe atau cafe yang terinspirasi dari budaya populer (Jeong dkk. , 2025. Orth dkk. , 2012. Zhao dkk. , 2. Meskipun desain interior berdampak kepada psikologi konsumen, perlu juga memperhatikan faktor lain seperti perbedaan budaya, selera individu, dan latar belakang sosio-ekonomi. Bahkan tak jarang keberadaan produk khas suatu cafe akan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen itu sendiri (Kim dkk. , 2020. Vu dkk. , 2. Meskipun penelitian-penelitian tersebut telah membahas hubungan antara faktor psikologis konsumen dan suasana cafe, namun belum ditemukan pembahasan mengenai hubungan antara kesesuaian atmosfer ruang dan karakter konsumennya. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengisi celah tersebut sebagai pengembangan ilmu desain interior yang berhubungan dengan faktor psikis pada ruang-ruang komersial. Sementara itu, penelitian tentang atmosfer cafe di Denpasar menyoroti beberapa hal seperti kualitas produk yang lebih dominan dalam memengaruhi keputusan membeli ketimbang suasana toko (Wijaya, 2. , keputusan pembelian yang dipengaruhi oleh atmofer ruang cafe (Indrasari, 2025. Mawaddah, 2024. Sari, 2024. Yunika, 2. , konsep tematik ruang cafe (Dhana, 2. , cafe dan efek terapeutik pada ruang (Utari dkk. , 2. Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut, belum adanya penelitian yang secara eksplisit menjelaskan tentang hubungan antara atmosfer ruang dengan karakter pengunjung, sehingga faktor ini menjadi suatu kebaruan yang ditawarkan penelitian ini. Melalui penelitian ini, nantinya akan berimplikasi pada pertimbangan penataan ruang yang menawarkan keintiman pengunjung dengan atmosfer ruang cafe, yang pada akhirnya memberikan rasa akrab dan berpengaruh pada peningkatan pembelian. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor pembentuk dan penunjang atmosfer ruangan cafe di Kota Denpasar dalam memengaruhi preferensi karakter Analisis ditunjukan untuk memahami hubungan antara elemen-elemen atmosfer ruangan dan karakter kosumen. Pentingnya penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengusaha cafe dalam menciptakan suasana yang sesuai dengan target pasar yang diinginkan. Pada akhirnya, dapat meningkatkan loyalitas konsumen dan memperkuat daya tarik cafe di Kota Denpasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat kualitatif karena menganalisis pola perilaku konsumen, dalam hal ini berfokus pada preferensi akan atmosfer ruang. Penelitian kualitatif sangat relevan dalam mengungkap seluk-beluk perilaku konsumen, karena berfokus pada pemahaman AumengapaAy di balik keputusan, bukan hanya AuapaAy. Teknik-teknik seperti wawancara mendalam, fokus kelompok, etnografi, dan analisis konten lumrah digunakan untuk mengumpulkan data kontekstual yang terperinci. Metode-metode ini sangat berguna dalam studi eksplorasi, di mana tujuannya untuk mengungkap pola, motivasi, dan pengaruh yang mendasari yang membentuk pilihan konsumen (Anninou & Foxall, 2017. Xiao & Mi, 2. Selain itu, salah satu kekuatan utama dari metode kualitatif adalah kemampuannya untuk menangkap faktor-faktor dinamis dan sering kali tidak disadari yang memengaruhi pengambilan keputusan (Robayo-Pinzyn , 2. Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Peneliti mengamati langsung konsumen cafe terkait atmosfer ruangan di cafe, serta mengidentifikasi karakteristik konsumen di Kota Denpasar melalui berbagai platform sosial, seperti ulasan, foto, komentar, dan review. Pemilihan objek penelitian dilakukan berdasarkan pengamatan pada 6 website yang memberikan rekomendasi tentang cafe yang populer sebagai tempat nongkrong di Kota Denpasar, yaitu com, palingbali. com, mamikos. com, dewatiket. id, blog. id, orami. telah dipilih 3 cafe dengan jumlah pilihan rekomendasi terbanyak untuk menjadi objek penelitian. Ketiga cafe tersebut adalah 9/11 Cafy & Concept Store. The Alleyway Cafy dan Revayah Coffee Bali, selanjutnya mengamati langsung di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu psikologi konsumen dan ruang, seperti teori perilaku konsumen dan atmosfer ruang komersial, karena berhubungan dengan faktor emosi yang menjadi indikator utama dalam menentukan preferensi Pertama, teori psikologi konsumen oleh Solomon dkk. , yang menyatakan bahwa faktor terpenting bagi sebuah cafe dalam menarik pengunjung berhubungan dengan preferensi musik, cahaya, keluasan ruang, warna ruang, dan Teori ini juga sangat relevan dalam melihat dan mengukur preferensi atmosfer ruang pada cafe. Teori ini berkontribusi dalam mengukur variabel pembentuk atmosfer ruang yang ideal dalam membangkitkan emosi positif pengunjung, yang nantinya dapat diukur secara valid dan objektif. Penelitian ini menggunakan metode analisis data secara induktif. Metode analisis data secara induktif adalah memproses dan menyempurnakan data mentah, serta mengekstraksinya hingga memperoleh esensi dari data tersebut. Data yang telah diproses, disempurnakan, dan diekstraksi ini kemudian dapat dirumuskan ke dalam bentuk pernyataan teoritis yang dapat membawa ke dalam pemahaman baru tentang suatu fenomena dengan tiga langkah yang dilakukan adalah: . Pengumpulan data, yaitu mengumpulkan data menggunakan data pengamatan ulasan di sosial media, observasi, wawancara dan dokumentasi. Reduksi data, yaitu mengelompokkan temuan berdasarkan variabel yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan teori perilaku konsumen pada ruang cafe. Penyajian data, yaitu menafsirkan hasil temuan dengan konteks teori dan penelian terkait. ANALISIS DAN INTEPRETASI DATA Hasil pengamatan peneliti pada 6 website yang memberikan rekomendasi tentang cafe yang populer sebagai tempat nongkrong di Kota Denpasar, yaitu Gotravelly. Palingbali. Mamikos. Dewatiket. Blog. Cove. Orami. id, telah dipilih 3 cafe dengan jumlah pilihan rekomendasi terbanyak untuk menjadi objek penelitian. Ketiga cafe tersebut adalah 9/11 Cafy & Concept Store. The Alleyway Cafy dan Revayah Coffee Bali. Gambar 1. 9/11 Cafy & Concept Store. (Sumber: Ig:@911ccs dan Sari, 2. Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 Gambar 2. Revayah Coffee Bali. (Sumber: Sari, 2. Gambar 3. The Alleyway Cafy. (Sumber: Sari, 2. Peneliti melakukan pengamatan 3 cafe terpilih dari ulasan google dengan 9/11 Cafy & Concept Store yang memiliki 2. 896 ulasan konsumen. The Alleyway Cafy 355 ulasan konsumen, serta Revayah Coffee Bali memiliki 205 ulasan konsumen yang memberikan ulasan pribadi konsumen tentang atmosfer ruangan ketika berada di cafe beserta unggahan foto. Tabel 1. Data Observasi dan Wawancara Pengunjung dan Elemen Penunjang Atmosfer. (Sumber: Sari, 2. Aspek Preferensi waktu dan Demografi 9/11 Cafy & Concept 5 jam, makan, ngobrol, kerja, makanan/minuman 25 tahun ke atas The Alleyway Cafy Revayah Coffe Bali 25 menit-1. 5 jam, makan, ngobrol, kerja, pesan makanan/minuman 20 tahun ke atas 15 menit-1. 5 jam, makan, ngobrol, kerja sendiri, pesan kopi & makanan ringan 35 tahun ke atas Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 Preferensi jam Preferensi Atmosfer ruang (Area parki. Atmosfer ruang (Area indoor dan outdoo. Faktor vista Ramah, cepat. Parkir luas 00, ramai hari Rabu jam 12. Ramah, cepat. Parkir kurang luas Tersedia area indoor dan outdoor Tersedia area indoor dan outdoor Pengalaman melihat sunset Industrial Modern Tidak ada view Tidak ada view Klasik dan industrial Retro Meeting, event, dinner, kerja Berkumpul dan bersosialisasi dengan Penghawaan kurang nyaman meskipun ada AC & kipas Kerja individu dan meeting Aroma alam atau lingkungan di area outdoor,aroma makanan dan minuman seperti Western food dan kopi di area indoor aroma makanan dan minuman seperti makanan berat seperti Asian food dan kopi di area indoor Musik yang di lantunkan bergenre indie pop Pencahayaan alami dari atap terbuka di area courtyard yang masuknya cahaya alami pada siang Menggunakan lampu downlight sebagai ambient lighting dengan warna neutral white Stop kontak Banyak stop kontak untuk kerja Wifi Wifi cepat, namun beberapa merasa kecepatan rendah Musik yang di lantunkan bergenre jazz ringan Atmosfer ruang (Gaya ruan. Preferensi fungsi ruang Atmosfer ruang (Penghawaa. Aroma Atmosfer ruang (Musi. Atmosfer ruang (Pencahayaa. Faktor penunjang lain Penghawaan nyaman, tidak terlalu dingin atau Aroma alam atau lingkungan di area outdoor,aroma makanan dan minuman seperti makanan berat, dessert dan kopi di area indoor Musik yang di lantunkan bergenre slow lounge music Pencahayaan alami melalui jendela kaca besar untuk masuknya cahaya matahari ke dalam ruang pada siang lampu spotlight sebagai ambient lighting dengan warna warm light. Stop kontak Banyak stop kontak untuk kerja Wifi Wifi cepat, namun beberapa merasa kecepatan rendah Ramah, cepat, membantu Pengunjung sulit keluar masuk karena faktor akses Hanya indoor Penghawaan tidak nyaman karena AC & kipas angin Pencahayaan alami melalui jendela kaca besar untuk masuknya cahaya matahari ke dalam ruang pada siang Menggunakan lampu downlight sebagai ambient lighting dengan warna neutral white light Stop kontak Banyak stop kontak untuk Wifi Wifi cepat, namun beberapa merasa kecepatan rendah Donovan . , menjelaskan bahwa faktor utama yang membuat konsumer tertarik terhadap suatu ruang dapat dilihat berdasarkan pengalaman sensoriknya. Kondisi ini berperan sangat besar dalam membentuk respon emosional, evaluasi kognitif, dan keinginan untuk membeli. Elemen aktif seperti cahaya, musik, dan visual ruang secara aktif berpengaruh terhadap suasana hati dan perilaku pelanggan. Faktor ini senada dengan pendapat Soars . , yang menyatakan bahwa stimulus multi indera berpengaruh sangat besar terhadap pengalaman berbelanja konsumen, serta Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 mendorong perubahan perilaku secara tidak sadar. Selain itu. Spangenberg dkk. menyatakan bahwa aroma lingkungan yang sesuai dengan karakteristik gender, memberikan pengaruh signifikan dalam membentuk pengalaman berbelanja. Senada dengan hal tersebut. Douce dan Janssens . menerangkan bahwa aroma tidak hanya meningkatkan reaksi afektif, namun juga memperbaiki penilaian Di sisi lain, pengalaman multi sensorik terintegrasi dalam sebuah toko sangat dipengaruhi pula oleh musik. Spangenberg dkk. , meneliti bahwa elemen musik dan penciuman memiliki efek interaktif positif bagi pelanggan yang memengaruhi penilaiannya terhadap atmosfer toko. Faktor ini kemudian berdampak pada peningkatan kepuasan pelanggan dan waktu tinggal yang lebih lama. Melihat faktor-faktor ini, terdapat beberapa pertimbangan yang dapat dilihat dari data hasil tersebut, seperti pengalaman yang melibatkan elemen-elemen sensorik terhadap ruang yang kemudian berperan sebagai indikator kesesuaian atmosfer ruang dengan konsumen seperti faktor vista atau pemandangan. Data observasi dan wawancara pada 9/11 Cafy & Concept Store, mengindikasikan adanya preferensi konsumen dalam memilih cafe tersebut karena dapat melihat matahari terbenam. Faktor ini sejalan dengan temuan Saptyawati . , yang menyatakan bahwa faktor pemandangan alam dapat menjadi daya tarik unik dalam memengaruhi pilihan konsumen untuk berkunjung. Ditinjau dari pendekatan biofilik dalam ruang, pemandangan alam dapat memberikan pengalaman multi sensoris bagi manusia. Pengalaman manusia dekat dengan alam, mampu membangkitkan emosi positif seperti perasaan akrab, kedamaian, produktivitas dan rasa betah (Fukumoto dkk. Gong dkk. , 2023. Ramm dkk. , 2024. Shahda, 2. Preferensi atmosfer ruang cafe yang berhubungan dengan elemen biofilik tersebut, menunjukkan adanya pengalaman positif yang diperoleh pengunjung ketika berada dalam ruang. Oleh karena itu, pengunjung merasakan perasaan yang akrab dan intim ketika berada di Kondisi ini dikarenakan manusia memiliki ikatan yang inheren dengan alam dan lingkungannya (Wilson, 2. Ikatan ini mutlak diperlukan manusia sehingga tanpa disadari ketika dekat dengan alam, dirinya akan mengalami emosi Musik mampu memberikan pengaruh signifikan dalam membangkitkan emosi positif konsumen. Tifferet dan Herstein . , menyatakan bahwa musik lembut bervolume rendah dapat memberikan efek relaksasi bagi konsumen, yang kemudian berhubungan dengan interaksi sosial dalam suasana santai. Selain itu menurut Spangenberg dkk. , kombinasi musik dan aroma membentuk pengalaman multisensorik bagi pengunjuang yang mampu memperlama waktu kunjungan. Apabila dikomparasi dengan data yang ada terhadap ketiga cafe menunjukkan pengalaman multisensorik yang serupa namun dengan pendekatan yang berbeda, misalnya aroma yang dominan di area indoor berasal dari kopi dan makanan, termasuk dessert, western food, atau asian food, tergantung pada jenis cafenya. area outdoor aroma alam turut berkontribusi dalam membentuk atmosfer ruang yang lebih natural. Dari segi music, masing-masing cafe memiliki genre yang mendukung identitas dan target pasarnya. Cafe pertama memainkan slow lounge music,yang memperkuat suasana santai dan elegan, cafe kedua memilih musik indie pop, menciptakan suasana yang lebih santai, muda dan kontemporer dan cafe ketiga memainkan music jazz ringan, yang cocok dengan orang dewasa yang memberikan kesan rileks dan retro. Kombinasi musik dan aroma membentuk atmosfer yang sesuai dengan karakter konsumen. Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 Preferensi pengunjung terhadap ketiga cafe juga menunjukkan kebutuhan fungsi sebagai tempat kerja. Ketersediaan ruang yang luas dan penunjang seperti stop kontak menjadi salah satu preferensi untuk menunjang pekerjaan. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Doucy & Janssens . , apabila membangun atmosfer ruang yang menunjang produktivitas kerja haruslah mengutamakan strategi dalam meminimalkan distraksi. Selain itu, faktor musik dan aroma tetap memberikan peran signifikan dalam meningkatkan pengalaman afektif dalam kegiatan produktif (Spangenberg dkk. , 2005. Tifferet & Herstein, 2. Jika dilihat berdasarkan data yang ada, terdapat jam-jam sibuk yang perlu diperhatikan sebagai faktor yang dapat membuat distraksi bagi pengunjung yang ingin menjadikan ruang cafe untuk tempat bekerja. Tentunya variabel ini dapat diprediksi dengan melihat pola kunjungan seperti yang ditunjukkan oleh data, contohnya waktu kunjungan yang meningkat pada waktu rentang pukul 6 sore hingga 8 malam pada 9/11 Cafy & Concept dan The Alleyway Cafy, serta jam makan siang pukul 12 siang hingga jam 5 sore pada Revayah Coffe Bali. Akan tetapi pola kunjungan ini akan sangat sulit diketahui oleh pengunjung yang bukan merupakan pelanggan tetap, sehingga variabel ini perlu diperhatikan kembali sebagai pertimbangan fungsional dalam membangun atmosfer kerja pada ketiga cafe tersebut. Sedangkan apabila dilihat dari preferensi musik dan aroma, ketiga cafe tersebut menunjukan kesesuaian antara atmosfer ruang dan karakter konsumen. Musik dengan tempo lambat seperti slow lounge music, indie pop dan jazz ringan yang diputar di masing-masing cafe berfungsi untuk menciptakan suasana rileks dan nyaman untuk mengobrol santai maupun Begitu pula dengan aroma seperti kopi, makanan berat, atau dessert yang tercium di area indoor turut membentuk pengalaman multisensorik yang SIMPULAN Perbedaan dalam preferensi karakter konsumen antara cafe-cafe yang diteliti menunjukkan bahwa suasana diciptakan oleh atmosfer ruangan cafe memainkan peran penting dalam membentuk preferensi karakter konsumen. 9/11 Cafy & Concept Store menawarkan suasana yang hidup dan dinamis, cocok untuk karakter konsumen yang aktif dan sosial. The Alleyway Cafy menawarkan suasana yang tenang dan santai, cocok untuk karakter konsumen yang menghargai kedamaian, koneksi dengan alam dan lingkungan, sementara itu. Revayah Coffee Bali menawarkan suasana yang yang hangat dan nyaman, cocok untuk karater konsumen yang menghabiskan waktu berkualitas, menghargai keseimbangan antara produktifitas dan relaksasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada pengusaha cafe dalam menciptakan suasana yang sesuai dengan karakter konsumen yang ditargetkan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan loyalitas konsumen. DAFTAR RUJUKAN Anninou. , & Foxall. Consumer decision-making for functional foods: Insights from a qualitative study. Journal of Consumer Marketing, 34. , 552Ae https://doi. org/10. 1108/JCM-05-2016-1821 Chen. -T. , & Lin. -T. A study of the relationships among sensory experience, emotion, and buying behavior in coffeehouse chains. Service Business, 12. , 551Ae573. https://doi. org/10. 1007/s11628-017-0354-5 Data DetailAiPPID Kota Denpasar. https://ppid. id/?page=DataDetail&language=id&domian=ppid. id&data_id=167642330 Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 Dhana. ANALISIS IMPLEMENTASI KONSEP POP-ART DALAM DESAIN INTERIOR CAFE KONE BALI. Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior. Budaya, dan Lingkungan Terbangun, 4. Article 2. https://doi. org/10. 59997/vastukara. Doucy. , & Janssens. The Presence of a Pleasant Ambient Scent in a Fashion Store: The Moderating Role of Shopping Motivation and Affect Intensity. Environment Behavior, 45. , 215Ae238. https://doi. org/10. 1177/0013916511410421 Fauzi. Punia. , & Kamajaya. BUDAYA NONGKRONG ANAK MUDA DI KAFE (Tinjauan Gaya Hidup Anak Muda Di Kota Denpasa. Fukumoto. Shimoda. , & Hoshino. The effects of different designs of indoor biophilic greening on psychological and physiological responses and cognitive performance of office workers. PLOS ONE, 19. , e0307934. https://doi. org/10. 1371/journal. Gong. Zoltyn. , & Jynos. Healthy Dwelling: The Perspective of Biophilic Design in the Design of the Living Space. Buildings, 13. , 2020. https://doi. org/10. 3390/buildings13082020 Indrasari. PENGARUH SOCIAL MEDIA MARKETING. KUALITAS PELAYANAN. DAN STORE ATMOSPHERE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA PESSO CAFyO SANUR [Thesis. Universitas Mahasaraswati Denpasa. https://eprints. id/id/eprint/8233/ Jeong. Lee. , & Lee. Cafy or art exhibition? Which experience is more effective in luxury fashion flagships? Journal of Fashion Marketing and Management: International Journal, 29. , 252Ae268. https://doi. org/10. 1108/JFMM-12-2022-0269 Kim. Choi. , & Hyun. Coffee House ConsumersAo Value Perception and Its Consequences: Multi-Dimensional Approach. Sustainability, 12. , https://doi. org/10. 3390/su12041663 Lestari. , & Soesanto. PENGARUH ATMOSFER KAFE. DAYA TARIK PROMOSI. DAN VARIASI PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN DENGAN CITRA MEREK SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (Studi Pada Kafe Blackbone Coffee Banyumanik. Semaran. [Thesi. Universitas Diponegoro. Mawaddah. PENGARUH STORE ATMOSPHERE. EXPERIENTIAL MARKETING. DAN BRAND ASSOCIATIONS TERHADAP REVISIT INTENTION KONSUMEN PADA KAFE PRAYA SOCIAL HUB BALI [Other. Universitas Mahasaraswati Denpasa. https://eprints. id/id/eprint/7095/ Muawanah. FENOMENA MARAKNYA COFFEE SHOP SEBAGAI GEJALA GAYA HIDUP ANAK MUDA DI KOTA METRO (Studi Pada Mahasiswa IAIN Metr. [Thesi. Institut Agama Islam Negeri Metro. Orth. Heinrich. , & Malkewitz. Servicescape interior design and consumersAo personality impressions. Journal of Services Marketing, 26. , 194Ae203. https://doi. org/10. 1108/08876041211223997 Petrovici. , & Bejinariu. Cafy culture and retail gentrification: A nonlinear canonical correlation analysis of intraclass diversity and bivalent class narratives in Cluj. Romania. Urban Research & Practice, 17. , 307Ae328. https://doi. org/10. 1080/17535069. Pinsuwan. Suwonsichon. Chompreeda. , & Prinyawiwatkul. Sensory Drivers of Consumer Acceptance. Purchase Intent and Emotions Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 Brewed Black Coffee. Foods, 11. , https://doi. org/10. 3390/foods11020180 Purnomo. Pengaruh Cafe Atmosphere terhadap Keputusan Pembelian Gen Y pada Old Bens Cafe. Jurnal Manajemen Maranatha, 16. Article 2. https://doi. org/10. 28932/jmm. R Donovan. Store atmosphere and purchasing behavior. Journal of Retailing, 70. , 283Ae294. https://doi. org/10. 1016/0022-4359. Ramm. Werwie. Otto. Gloor. , & Salingaros. Artificial Intelligence Evaluates How Humans Connect to the Built Environment: A Pilot Study of Two Experiments in Biophilia. Sustainability, 16. , 868. https://doi. org/10. 3390/su16020868 Robayo-Pinzyn. Rojas-Berrio. , & Giraldo-Lypez. CONSUMER DECISION PROCESS EXPLORATION: LUXURY FASHION PRODUCTS IN BOGOTyA. Catylogo 41Ae62. https://doi. org/10. 15765/poli. Samoggia. Del Prete. , & Argenti. Functional Needs. Emotions, and Perceptions of Coffee Consumers and Non-Consumers. Sustainability, 12. , https://doi. org/10. 3390/su12145694 Saptyawati. Pramesti. Jinan. Widi. Ridwan. , & Evriadi. Analisis Model Bisnis Kafe Kebon Menggunakan Metode Peta Empati JURNAL MULTIDISIPLIN BHATARA. https://subset. id/index. php/BHATARA/article/view/96 Sari. Safina. , & Samosir. PENGARUH STORE ATMOSPHERE TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN PADA DRAJA COFFEE KUALANAMU INTERNASIONAL AIRPORT. PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN, 2. Article 2. Sari. Pengaruh Shopping Lifestyle. Store Atmosphere Dan Green Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Pada Starbucks Coffee Denpasar [Other. Universitas Mahasaraswati Denpasa. https://eprints. id/id/eprint/6268/ Setiadi. (PDF) Perilaku Konsumen: Perspektif kontemporer pada motif, https://w. net/publication/257482802_Perilaku_Konsumen _Perspektif_kontemporer_pada_motif_tujuan_dan_keinginan_konsumen Shahda. A FOUR-COMPONENT FRAMEWORK TOWARDS A NEW ARCHITECTURAL TRANSLATION OF BIOPHILIC DESIGN BD FRAMEWORKS AND STRATEGIES. Journal of Green Building, 19. , 179Ae https://doi. org/10. 3992/jgb. Soars. Driving sales through shoppersAo sense of sound, sight, smell and International Journal of Retail & Distribution Management, 37. , 286Ae298. https://doi. org/10. 1108/09590550910941535 Solomon. Russell-Bennett. , & Previte. Consumer Behaviour. Pearson Higher Education AU. Spangenberg. Grohmann. , & Sprott. ItAos beginning to smell . nd soun. a lot like Christmas: The interactive effects of ambient scent and music in a retail setting. Journal of Business Research, 58. , 1583Ae1589. https://doi. org/10. 1016/j. Spangenberg. Sprott. Grohmann. , & Tracy. Gendercongruent ambient scent influences on approach and avoidance behaviors in a retail store. Journal of Business Research, 59. , 1281Ae1287. https://doi. org/10. 1016/j. Anak Agung Sagung Kartika Pradnya Sari (Analisis A) Volume 13 No. 2, 2025 Tifferet. , & Herstein. Gender differences in brand commitment, impulse buying, and hedonic consumption. Journal of Product & Brand Management, 21. , 176Ae182. https://doi. org/10. 1108/10610421211228793 Utari. Prasandya. , & Nugraha. THERAPEUTIC ARCHITECTURE IN CAFyO BUILDINGS AS GEN ZAoS PREFERRED HEALING PLACE IN DENPASAR. Architectural Research Journal, 4. , 57Ae64. https://doi. org/10. 22225/arj. Vu. Alonso. Tran. Martens. Do. Nguyen. Atay. , & Akbari. Coffee culture unravelled: Exploring the coffee shop experience model in the Vietnamese context. Tourism Recreation Research, 1Ae https://doi. org/10. 1080/02508281. Wijaya. PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI PROMOSI SERTA KUALITAS PRODUK DAN SUASANA TOKO TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA DHANTA COFFEE SLOWBAR DENPASAR [Thesis. Universitas Mahasaraswati Denpasa. https://eprints. id/id/eprint/8267/ Wilson. Biophilia. Harvard University Press. Xiao. , & Mi. A Qualitative Approach to Understand Consumer Groups and Decision-Making Process in Online Group Buying: An Exploratory Study. International Journal of Web Services Research, 16. , 24Ae46. https://doi. org/10. 4018/IJWSR. Yunika. PENGARUH STORE ATMOSPHERE. VARIASI PRODUK DAN SOCIAL MEDIA MARKETING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KOPI PANGERAN UBUD [Thesis. Universitas Mahasaraswati Denpasa. https://eprints. id/id/eprint/8332/ Zhao. Chen. , & Kong. More than human consumption space: HumanAe animal encounters and relationships in cat cafys in Shanghai. Social & Cultural Geography, 25. , 872Ae890. https://doi. org/10. 1080/14649365.