UNITY: Journal of Community Service Vol. 1 No. January 2025, pp. E-ISSN 3089-2937 Edukasi Pengelolaan Sampah Terintegrasi dengan Program NTB Zero Waste: Studi Kasus di Kecamatan Praya Ade Rohman . Mustafa Kamal . 1Universitas Mataram. Indonesia *aderohman@gmail. ARTICLE INFO Article history a. Received January 04, 2025 Revised January 08, 2025 Accepted January 26, 2025 Published January 28, 2025 ABSTRACT The NTB Zero Waste program is a government initiative aimed at creating a clean and sustainable environment through integrated waste management. This study seeks to educate the community of Praya District on effective waste management aligned with the NTB Zero Waste program. The approach involves socialization, training, and mentoring the community, focusing on sorting organic and inorganic waste, transforming waste into economically valuable products, and applying the 3R principles . educe, reuse. The results show an increase in community awareness regarding independent waste management, enhanced participation in cleanliness programs, and a reduction in unmanaged waste. These findings indicate that continuous education and collaboration with government programs can positively impact local waste management. This study can serve as a reference for implementing similar programs in other regions. Keywords Waste Management NTB Zero Waste Education Sustainability Kata Kunci Pengelolaan Sampah. NTB Zero Waste Edukasi Keberlanjutan Program NTB Zero Waste merupakan salah satu inisiatif pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan melalui pengelolaan sampah yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat Kecamatan Praya terkait pengelolaan sampah yang efektif dan selaras dengan program NTB Zero Waste. Pendekatan yang digunakan melibatkan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya dalam pengelompokan sampah organik dan anorganik, pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, serta penerapan prinsip 3R . educe, reuse, recycl. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri, peningkatan partisipasi dalam program kebersihan, serta penurunan jumlah sampah yang tidak terkelola dengan baik. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi yang berkelanjutan dan kolaborasi dengan program pemerintah mampu menciptakan dampak positif terhadap pengelolaan sampah di tingkat lokal. Studi ini dapat menjadi referensi untuk penerapan program serupa di wilayah lain. License by CC-BY-SA Copyright A 2025. The Author. How to cite: Rohman. , & Kamal. , . Edukasi Pengelolaan Sampah Terintegrasi dengan Program NTB Zero Waste: Studi Kasus di Kecamatan Praya. UNITY: Journal of Community Service, 1. , 45-49. https://doi. org/10. 70716/unity. PENDAHULUAN Pengelolaan sampah merupakan tantangan global yang memerlukan perhatian serius, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai 68 juta ton per tahun, dengan hanya 10% yang berhasil diolah melalui daur ulang, sementara sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir (KLHK, 2. Situasi ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inovatif dan kolaboratif dalam pengelolaan sampah. Sebagai salah satu provinsi yang gencar menangani isu lingkungan. Nusa Tenggara Barat (NTB) meluncurkan program NTB Zero Waste pada 2018. Program ini bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, meningkatkan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, dan mempromosikan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah. Kecamatan Praya, sebagai salah satu wilayah yang padat penduduk di Kabupaten Lombok Tengah, menjadi fokus perhatian dalam implementasi program ini. Kecamatan Praya memiliki 12 desa dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 70. 000 jiwa (BPS Lombok Tengah. Wilayah ini menghadapi masalah sampah yang signifikan, terutama di pasar tradisional, permukiman, dan UNITY: Journal of Community Service Vol. No. January 2025, pp. fasilitas umum. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Tengah, sekitar 45% sampah di Kecamatan Praya tidak terkelola dengan baik, yang berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan Sampah yang tidak terkelola dengan baik menyebabkan berbagai masalah lingkungan, seperti pencemaran air tanah, bau tidak sedap, dan meningkatnya risiko banjir saat musim hujan. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri masih rendah. Banyak warga yang belum mempraktikkan pemisahan sampah organik dan anorganik, yang merupakan langkah awal dalam mendukung keberhasilan program NTB Zero Waste. Edukasi menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Penelitian menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan sampah hingga 70% (Rahmawati et al. , 2. Dengan demikian, pendekatan edukatif yang terstruktur dan berkelanjutan diperlukan untuk mendukung keberhasilan program NTB Zero Waste. Kegiatan edukasi di Kecamatan Praya melibatkan berbagai metode, seperti sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan Desa Penujak. Desa Semayan, dan Desa Montong Terep dipilih sebagai lokasi prioritas karena tingginya volume sampah yang dihasilkan serta tingkat kesadaran masyarakat yang relatif rendah. Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat, kader lingkungan, dan kelompok perempuan. Dinas Lingkungan Hidup dan lembaga non-pemerintah berperan penting dalam menyediakan fasilitas, seperti bank sampah, alat daur ulang, dan tempat komposting. Selain itu, pengelolaan berbasis desa juga dikembangkan melalui pembentukan kelompok pengelola sampah, seperti kelompok bank sampah dan pelatihan pembuatan eco-enzyme dari limbah organik. Kolaborasi dengan program NTB Zero Waste memungkinkan transfer pengetahuan dan teknologi dari pemerintah ke masyarakat. Program ini juga menyediakan platform bagi masyarakat untuk menjual produk daur ulang, seperti pupuk kompos dan kerajinan tangan berbasis limbah anorganik, yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Edukasi pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru. Di Desa Penujak, misalnya, pelatihan pembuatan kompos dari sampah organik berhasil meningkatkan pendapatan kelompok tani hingga 20% (Laporan DLH Lombok Tengah, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa program pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berhasil jika dilengkapi dengan edukasi dan pendampingan. Studi oleh Fitri et al. di Lombok Timur menunjukkan bahwa pelatihan intensif mampu meningkatkan jumlah sampah yang dikelola hingga 60%. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan edukasi pengelolaan sampah terintegrasi kepada masyarakat Kecamatan Praya, mendukung pelaksanaan program NTB Zero Waste, serta mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam penerapan pengelolaan sampah di wilayah ini. Artikel ini disusun dengan sistematika berikut: Pendahuluan menjelaskan latar belakang masalah dan tujuan Metode menjelaskan pendekatan dan teknik yang digunakan. Hasil dan Pembahasan menganalisis temuan di lapangan. Kesimpulan memberikan rekomendasi untuk pengembangan program serupa. METODE PELAKSANAAN Kegiatan edukasi pengelolaan sampah di Kecamatan Praya dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara langsung. Metode yang digunakan mencakup sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan Sosialisasi dilakukan melalui pertemuan warga di tingkat desa dengan melibatkan tokoh masyarakat, perangkat desa, dan kader lingkungan. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pengelolaan sampah yang terintegrasi, prinsip 3R . educe, reuse, recycl. , serta pengenalan program NTB Zero Waste. Pelatihan diberikan kepada kelompok masyarakat yang terdiri dari ibu rumah tangga, kelompok tani, dan pemuda Pelatihan ini berfokus pada teknik pemisahan sampah organik dan anorganik, pembuatan kompos, serta pengolahan limbah anorganik menjadi produk kreatif bernilai ekonomis. Dalam proses pelatihan, peserta diajak untuk mempraktikkan langsung teknik-teknik yang diajarkan dengan memanfaatkan sampah rumah tangga yang mereka Pendampingan lapangan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan keberlanjutan kegiatan yang telah Pendampingan mencakup pengawasan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, pembentukan dan pengelolaan bank sampah, serta monitoring hasil pemanfaatan limbah. Pendampingan ini melibatkan fasilitator dari tim pengabdian dan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan ini juga melibatkan pemberian sarana dan prasarana pendukung, seperti alat komposter, tempat pemilahan sampah, serta wadah bank sampah di beberapa desa yang menjadi lokasi utama kegiatan, yaitu Desa Penujak. Desa Semayan, dan Desa Montong Terep. Lokasi-lokasi ini dipilih berdasarkan hasil survei awal yang menunjukkan tingginya volume sampah dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Evaluasi dilakukan untuk mengukur keberhasilan program melalui pengamatan langsung, wawancara dengan masyarakat, dan dokumentasi kegiatan. Indikator keberhasilan meliputi peningkatan jumlah rumah tangga yang menerapkan pemisahan sampah, jumlah produk hasil daur ulang yang dihasilkan, dan partisipasi aktif masyarakat dalam Rohman et al. (Edukasi Pengelolaan Sampah A) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. January 2025, pp. kegiatan pengelolaan sampah. Hasil dari evaluasi ini menjadi dasar untuk pengembangan program serupa di wilayah HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan edukasi pengelolaan sampah di Kecamatan Praya menunjukkan hasil yang signifikan, baik dalam aspek kesadaran masyarakat maupun pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Dari total 12 desa di Kecamatan Praya, tiga desa utama yang menjadi lokasi pengabdian, yaitu Desa Penujak. Desa Semayan, dan Desa Montong Terep, mengalami peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Berdasarkan hasil survei, kesadaran masyarakat untuk memisahkan sampah organik dan anorganik meningkat dari 25% sebelum kegiatan menjadi 68% setelah pelaksanaan program. Pelatihan pembuatan kompos dari sampah organik yang dilakukan selama kegiatan menunjukkan hasil yang cukup Sebanyak 70% dari peserta pelatihan berhasil memproduksi kompos secara mandiri di rumah tangga mereka. Produksi kompos di Desa Penujak bahkan mencapai 120 kg per bulan, yang sebagian besar digunakan oleh kelompok tani lokal untuk pupuk tanaman. Selain itu, pelatihan ini juga menghasilkan produk eco-enzyme dari limbah organik cair, yang digunakan sebagai bahan pembersih alami. Bank sampah yang didirikan di Desa Semayan berhasil mengumpulkan sekitar 150 kg sampah anorganik setiap Sampah ini kemudian dijual ke pengepul atau diolah menjadi produk kerajinan seperti tas, dompet, dan hiasan Penjualan produk ini memberikan tambahan pendapatan bagi warga desa sebesar Rp3 juta hingga Rp5 juta per Hal ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga potensi ekonomi yang signifikan. Peningkatan partisipasi masyarakat juga tercermin dari jumlah warga yang terlibat dalam kegiatan kebersihan desa. Sebelum program dimulai, hanya 30% warga yang aktif dalam kegiatan kebersihan, sementara setelah kegiatan ini jumlahnya meningkat menjadi 75%. Partisipasi ini tidak hanya mencakup kebersihan rutin, tetapi juga pengelolaan fasilitas umum seperti tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah rendahnya ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah di beberapa desa. Untuk mengatasi masalah ini, tim pengabdian memberikan bantuan berupa alat komposter skala rumah tangga dan menyediakan tempat pemilahan sampah di lokasi strategis. Desa Montong Terep, misalnya, kini memiliki lima titik TPS dengan fasilitas pemilahan sampah organik dan anorganik. Dari segi kebijakan, kolaborasi dengan pemerintah daerah juga memberikan dampak positif. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melalui Dinas Lingkungan Hidup memberikan dukungan berupa pelatihan tambahan bagi masyarakat dan pembentukan kader lingkungan di setiap desa. Kader lingkungan ini bertugas sebagai pendamping masyarakat dalam pengelolaan sampah dan menjaga keberlanjutan program. Namun, program ini juga menghadapi tantangan dalam hal perubahan perilaku masyarakat. Meskipun sebagian besar masyarakat sudah memahami pentingnya pengelolaan sampah, beberapa warga masih enggan untuk menerapkannya secara konsisten. Faktor kebiasaan lama, seperti membuang sampah sembarangan, menjadi hambatan yang memerlukan pendekatan lebih persuasif. Dari aspek lingkungan, kegiatan ini berhasil mengurangi jumlah sampah yang tidak terkelola di Kecamatan Praya. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Lombok Tengah, rata-rata sampah yang tidak terkelola di wilayah ini berkurang dari 45% menjadi 30% setelah program berjalan selama enam bulan. Sampah organik yang sebelumnya terbuang kini dimanfaatkan untuk pembuatan kompos, sedangkan sampah anorganik diolah menjadi produk daur ulang. Dalam konteks sosial, program ini juga memperkuat keterlibatan perempuan dalam kegiatan pengelolaan sampah. Sebagian besar peserta pelatihan adalah ibu rumah tangga, yang kini menjadi motor penggerak dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Di Desa Penujak, kelompok perempuan bahkan berhasil membentuk koperasi yang fokus pada pengelolaan sampah daur ulang. Di Desa Semayan, kegiatan pengelolaan sampah juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak sekolah. Program ini bekerja sama dengan sekolah dasar setempat untuk mengajarkan pentingnya memilah sampah sejak dini. Hasilnya, 80% siswa yang mengikuti program edukasi ini mulai mempraktikkan pemisahan sampah di rumah mereka. Secara umum, kegiatan ini berhasil meningkatkan kualitas lingkungan di Kecamatan Praya. Pemantauan di lapangan menunjukkan berkurangnya sampah yang berserakan di tempat umum seperti pasar tradisional dan jalan utama. Hal ini juga diikuti oleh berkurangnya laporan warga tentang bau tidak sedap dari sampah yang menumpuk. Dalam jangka panjang, keberhasilan program ini bergantung pada keberlanjutan edukasi dan dukungan dari berbagai Pemerintah daerah diharapkan terus memberikan pendampingan dan fasilitas yang memadai, sementara masyarakat diharapkan dapat mengadopsi pola hidup ramah lingkungan sebagai bagian dari budaya sehari-hari. Meskipun masih ada tantangan dalam hal perubahan perilaku, hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dan kolaborasi yang baik mampu menciptakan perubahan yang signifikan. Peningkatan kesadaran, pengurangan sampah yang tidak terkelola, dan terciptanya peluang ekonomi menjadi bukti keberhasilan dari program ini. Hasil dari program ini juga memberikan pelajaran berharga bagi wilayah lain yang ingin mengimplementasikan program serupa. Pendekatan berbasis komunitas, dukungan pemerintah, dan keberlanjutan edukasi merupakan kunci keberhasilan pengelolaan sampah yang terintegrasi. Kecamatan Praya kini menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Rohman et al. (Edukasi Pengelolaan Sampah A) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. January 2025, pp. KESIMPULAN DAN SARAN Program edukasi pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan Program NTB Zero Waste di Kecamatan Praya memberikan dampak yang signifikan dalam mengatasi permasalahan sampah di wilayah tersebut. Melalui pendekatan partisipatif, program ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Survei menunjukkan peningkatan pemahaman dan penerapan praktik pemisahan sampah dari 25% menjadi 68%, dengan mayoritas masyarakat mulai memanfaatkan limbah organik untuk produksi kompos dan ecoenzyme. Keberhasilan ini didukung oleh pelatihan intensif yang melibatkan kelompok ibu rumah tangga, kelompok tani, dan pemuda desa. Selain manfaat lingkungan, program ini juga memberikan dampak ekonomi yang nyata. Bank sampah yang didirikan di Desa Semayan berhasil mengelola sampah anorganik menjadi produk bernilai jual, yang mampu meningkatkan pendapatan warga hingga Rp5 juta per bulan. Selain itu, pengurangan sampah yang tidak terkelola, dari 45% menjadi 30%, menunjukkan bahwa pendekatan edukasi dan pengelolaan berbasis komunitas memiliki efektivitas yang tinggi. Meski demikian, tantangan berupa rendahnya konsistensi penerapan di sebagian masyarakat dan keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah masih menjadi kendala yang perlu diatasi secara berkelanjutan. Dukungan pemerintah melalui penyediaan alat dan pendampingan kader lingkungan turut berperan penting dalam memastikan keberlanjutan program ini. Sebagai rekomendasi, keberlanjutan program ini memerlukan pendekatan yang lebih inovatif dan kolaboratif. Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan alokasi anggaran untuk penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, seperti bank sampah dan komposter, di setiap desa. Edukasi juga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendekatan berbasis sekolah, agar generasi muda memiliki kesadaran lingkungan yang lebih baik sejak dini. Pendekatan persuasif melalui kampanye kreatif, seperti lomba desa bersih atau penghargaan bagi rumah tangga dengan praktik pengelolaan sampah terbaik, dapat meningkatkan motivasi masyarakat untuk lebih konsisten. Selain itu, pelibatan sektor swasta dalam program daur ulang, baik melalui investasi maupun pembelian produk hasil pengolahan sampah, dapat memperkuat keberlanjutan ekonomi program ini. Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga dapat menjadi solusi untuk menciptakan inovasi teknologi pengelolaan sampah yang lebih efektif. Dengan sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta, pengelolaan sampah di Kecamatan Praya tidak hanya akan menjadi lebih efektif tetapi juga berkontribusi pada terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan, serta mendukung visi besar NTB sebagai provinsi Zero Waste. UCAPAN TERIMA KASIH Dengan penuh rasa syukur, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya program edukasi pengelolaan sampah terintegrasi dengan Program NTB Zero Waste di Kecamatan Praya. Terima kasih yang sebesar-besarnya kami haturkan kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta Dinas Lingkungan Hidup yang telah memberikan arahan, dukungan fasilitas, dan pendampingan yang luar biasa selama kegiatan ini berlangsung. Kami juga berterima kasih kepada seluruh masyarakat Kecamatan Praya, khususnya warga Desa Penujak. Desa Semayan, dan Desa Montong Terep, atas antusiasme, partisipasi aktif, dan keterbukaan mereka dalam mengikuti rangkaian kegiatan edukasi. Tidak lupa, kami sampaikan penghargaan kepada tokoh masyarakat, kader lingkungan, kelompok perempuan, dan pemuda desa yang telah menjadi penggerak utama dalam mewujudkan perubahan positif di komunitas mereka. Ucapan terima kasih juga kami tujukan kepada tim pengabdian, fasilitator, dan relawan yang telah bekerja keras dalam memberikan edukasi, pelatihan, serta pendampingan kepada masyarakat. Tanpa dedikasi dan kerja keras mereka, program ini tidak akan berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang memuaskan. Semoga sinergi dan kerja sama ini dapat terus terjalin untuk mendukung keberlanjutan program serta memberikan dampak yang lebih luas bagi terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari di masa depan. Terima kasih. DAFTAR PUSTAKA