AGREGAT Vol. No. Mei 2022 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Perhitungan Kinerja Lalu Lintas dan Prediksi Pertumbuhan Kendaraan Pada Bundaran (Roundabou. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya R Endro Wibisono1. Buger Wijaya Yuana1. Anita Susanti1. Ari Widayanti1 Transportasi. Program Vokasi. Universitas Negeri Surabaya Kampus Unesa Ketintang. Surabaya. Kode Pos 60231 endrowibisono@unesa. Abstract Traffic in Indonesia has a high volume so that it is possible for traffic conflicts to occur that often occur at intersections and can even be dangerous for road users. This traffic situation often occurs at roundabouts which are intersections where oneAe way traffic surrounds a road in urban areas and outside the city. Based on this, the writers conducted an analysis of the performance and management of the ITS Surabaya Roundabout by conducting a research survey and data processing based on the 1997 MKJI. This study aims to find solutions to overcome conflicts that occur at the traffic roundabout in planning for the next 5 years, so that greater congestion resulting from the volume of vehicles piling up on each link is expected to The results of the research on traffic flow in existing conditions at the ITS Roundabout at peak hours, namely 00Ae09. 00 WIB, are saturated traffic volumes with an average growth of 0. At point A with DS value = 4. 504, point B with DS value = 0. 858, point C with DS value = 1. 201, point D with DS value = 1. Then in planning for the next 5 years, the traffic performance at the ITS Roundabout is increasingly inefficient, because in its existing condition for the next 5 years in 2025, the ITS Roundabout is no longer relevant as a transportation route. This is due to the continuous accumulation of roundabout points at the existing time. With the average roundabout traffic delay value DTR obtained at 40,65 sec/pcu, the average roundabout delay value DR (DTR . obtained at 44,65 sec/pcu, and the probability of roundabout queuing QPR% obtained at 100%. Keywords: Level of Service. Degree of Saturation Roundabout. Queue Probability. Growth Factor Abstrak Lalu lintas di Indonesia memiliki volume tinggi sehingga memungkinkan terjadi konflikAekonflik lalu lintas yang sering terjadi di persimpangan bahkan dapat membahayakan bagi pengguna jalan. Keadaan lalu lintas tersebut sering terjadi di bundaran yang merupakan persimpangan dimana lalu lintas searah mengelilingi suatu jalan di daerah perkotaan maupun luar Kota. Berdasarkan hal itu, penulis melakukan analisis kinerja dan manajemen Bundaran ITS Kota Surabaya dengan cara melakukan survei penelitian dan pengolahan data berdasarkan MKJI tahun 1997. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan solusi guna mengatasi konflik yang terjadi pada arus bundaran lalu lintas dalam perencanaan 5 tahun ke depan, sehingga kemacetan yang lebih besar akibat dari volume kendaraan yang menumpuk di setiap jalinan diperkirakan bisa menurun. Didapatkan hasil penelitian mengenai arus lalu lintas dalam kondisi eksisting di Bundaran ITS pada jam puncak, yaitu pukul 00Ae09. 00 WIB adalah volume lalu lintas yang jenuh dengan pertumbuhan rataAerata 0,067. Di titik A dengan nilai DS = 4,504, titik B dengan nilai DS = 0,858, titik C dengan nilai DS = 1,201, titik D dengan nilai DS = 1,958. Kemudian pada perencanaan 5 tahun ke depan, kinerja lalu lintas di Bundaran ITS semakin tidak efisien, dikarenakan dalam kondisi eksisting dengan kurun waktu selama 5 tahun ke depan yakni tahun 2025. Bundaran ITS sudah tidak relevan lagi untuk menjadi jalur Hal ini diakibatkan penumpukan yang terus menerus terjadi pada titikAetitik bundaran pada waktu eksisting. Dengan nilai tundaan lalu lintas bundaran rataAerata DTR didapatkan sebesar 40,65 det/smp, nilai tundaan bundaran rataAerata DR (DTR . didapatkan sebesar 44,65 det/smp, serta didapatkan peluang antrian bundaran QPR% sebesar 100%. Kata Kunci: Tingkat Pelayanan. Derajat Kejenuhan. Bundaran. Peluang Antrian. Faktor Pertumbuhan PENDAHULUAN Kota Surabaya merupakan kota dari Provinsi Jawa Timur Indonesia. Surabaya juga dikenal sebagai Kota Metropolitan. Surabaya menjadi pusat kegiatan ekonomi, keuangan, dan bisnis di daerah Jawa Timur dan sekitarnya. Surabaya merupakan pusat perdagangan yang berkembang pesat dalam hal perindustrian. Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya perindustrian serta perdagangan, dapat mengakibatkan peningkatan arus lalu Tak heran jika mengalami kemacetan di beberapa titik di daerah Surabaya, terutama pada pagi dan sore hari ketika jam pulang kerja. Transportasi sebagai alat penunjang dan penggerak dinamika pembangunan, dikarenakan transportasi juga katalisator dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi WIBISONO/PERHITUNGAN KINERJAA/607-613 dan perkembangan wilayah (Timboeleng A. James dan Kaseke H. Oscar, 2. PembangunanAepembangunan telah menjadi fokus utama pemerintah di suatu wilayah, seiring berjalannya waktu kota menjadi lokasi yang penting dan strategis karena adanya tarikan kuat bagi penduduk yang berada di luar kota (Ekawati Niken Natalia. Soeaidy Saleh Mochammad. Ribawanto Heru. Lalu lintas di Indonesia memiliki volume tinggi sehingga memungkinkan terjadi konflikAekonflik lalu lintas yang sering terjadi di persimpangan bahkan dapat membahayakan bagi pengguna jalan. Salah satu keadaan lalu lintas tersebut terjadi pada Bundaran ITS Kota Surabaya. Bundaran lalu lintas merupakan persimpangan dimana lalu lintas searah mengelilingi suatu jalan yang bundar dipertengahan persimpangan lampu lalu lintas. Bundaran dibuat untuk mengurangi konflik lalu lintas, mengurangi kecepatan, dan mengurangi kecelakaan lalu AGREGAT Vol. No. Mei 2022 Meskipun dampak lalu lintas bundaran berupa tundaan selalu lebih baik dari tipe simpang yang lain, misalnya simpang bersinyal, pemasangan sinyal masih lebih disukai untuk menjamin kapasitas tertentu dapat dipertahankan, bahkan dalam keadaan arus jam puncak. Penumpukan kendaraan di Bundaran ITS disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan yang ingin melintas. ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. anggapan mengenai rencana. Selengkapnya urutan alur penelitian adalah sebagai berikut. Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penulis akan melakukan analisis kinerja dan manajemen Bundaran ITS tersebut dengan cara melakukan survei penelitian dan pengolahan data, berdasarkan MKJI 1997. Gambar 2. Diagram Alur Penelitian Gambar 1. Lokasi Penelitian Bundaran ITS Surabaya METODE Data primer adalah data yang diperoleh dengan cara terjun langsung dalam pencarian data, dikelompokkan menjadi data geometrik lalu lintas, data geometrik ruas jalan, simpang, data volume lalu lintas, data kondisi lapangan. Data primer dilakukan dengan pencacahan kendaraan yang lewat di Bundaran ITS (Traffic Count Surve. Data sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung berdasarkan institusi terkait yang meliputi data peta lokasi, data jumlah penduduk, data jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor, dan data tata guna Data sekunder ini nantinya digunakan untuk menghitung tingkat pelayanan Bundaran ITS. LangkahAelangkah perhitungan adalah dengan memasukkan kondisi geometri, kondisi lalu lintas, serta kondisi lingkungan untuk mendapatkan kapasitas jalan berdasarkan hambatan. Dari langkah tersebut didapatkan derajat kejenuhan, tundaan, peluang antrian bagian jalinan bundaran secara berurutan. Kemudian akan ditinjau apakah hasil kinerja sudah baik untuk keperluan penyesuaian WIBISONO/PERHITUNGAN KINERJAA/607-613 HASIL DAN PEMBAHASAN Prosedur Analisis Prosedur analisis yang digunakan adalah analisis MKJI 1997. Dalam analisis biasanya dikerjakan untuk mengetahui kinerja lalu lintas pada Bundaran ITS dalam kondisi eksisting dan kinerja lalu lintas pada 5 tahun ke Kapasitas dan ukuran kinerja jalan berupa peluang antrian dihitung untuk kondisi lalu lintas tertentu mengikuti prosedur berupa diagram alir yang ditunjukan di Untuk penjelasan langkahAelangkah adalah sebagai Data Masukan Data masukan yang diperlukan terdiri atas: C Kondisi Lalu Lintas Kapasitas Kapasitas yang dihitung terdiri atas: C Parameter Geometrik Jalan C Kapasitas Dasar C Faktor Penyesuaian Ukuran Kota C Faktor Penyesuaian Tipe Lingkungan Jalan C Hambatan Samping C Kapasitas Sesungguhnya Perilaku Lalu Lintas C Derajat kejenuhan C Tundaan bagian jalinan bundaran C Peluang antrian bagian jalinan bundaran AGREGAT Vol. No. Mei 2022 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Tabel 2. Data Satuan Mobil Penumpang Kondisi Lalu Lintas Total Data masukan yang masih berupa data mentah kemudian disederhanakan sehingga menunjukkan jumlah LT ST UT LT ST RT LT ST RT ST RT total seluruh jenis kendaraan dari keseluruhan jalur. Dari data tersebut nanti akan diambil volume lalu lintas terpadat selama satu jam pada periode tertinggi dari semua hasil survei volume lalu lintas. Volume lalu lintas terpadat 08. adalah hasil penjumlahan volume lalu lintas dari seluruh - 472 113 6. 5 15 51. 5 144 8 28. 5 117 39 1019 ruas jalan. Penelitian ini mengambil data arus lalu lintas 08. yang terdiri dari Heavy Vehicle (HV). Light Vehicle (LV). Motorcycle (MC), dan Unmotorised (UM). Jenis 08. - 303 74. 8 181 10 25 29 118 38. kendaraan dibagi berdasarkan sistem klasifikasi Bina Marga. Pengambilan data dilakukan secara serempak pada 08. tiap bagian jalinan selama jam puncak pagi, mulai pukul 00Ae09. 00 WIB selama 1 hari. Jumlah kendaraan selama 08. - 275 99. 5 235 11 22. 5 22 96 51 1 jam pada hari Senin ditampilkan dalam Tabel. Data Lalu Lintas Bundaran ITS pada Kondisi 08. Eksisting - 221 104 10. 4 26 24,5 176 23. 5 127 59. Berdasarkan data analisa yang telah dilakukan, 09. kondisi lalu lintas pada Bundaran ITS mulai pukul 08. WIB hingga pukul 10. 00 WIB mengalami penumpukan Sumber: Hasil Survei 2020 lalu lintas atau dalam keadaan jam sibuk (Pukul 08. 00 Ae . di kondisi eksisting. Tabel 3. Data Kendaraan Tak Bermotor Total Tabel 1. Data Kendaraan Total 71 1479 08. 89 1269 09. Sumber: Hasil Survei 2020 Sumber: Hasil Survei 2020 209 110 1205 Berdasarkan tabel diatas Kendaraan Bermotor Total MV : kend/jam untuk LT pendekat D = 694 444 425 331 = 1894 smp/jam untuk ST pendekat A = 52 23 18 25 = 116 Untuk faktorAek diisi sesuai yang diketahui bagian jalinannya dan angkanya sama dengan menggunakan peralaman 5 tahun ke depan. Bagian DA arus menjalin . mp/ja. AA = 391 y . AA = 540,1997. WIBISONO/PERHITUNGAN KINERJAA/607-613 AGREGAT Vol. No. Mei 2022 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Lakukan langkahAelangkah di atas pada setiap kolom yang dibutuhkan atau dicari. Rasio Menjalin = Sumber: Hasil Survei 2020 jumlah seluruh arus menjalin tiap bagian / jumlah arus total tiap bagian Contoh Rasio Menjalin = 885/2140 = Kapasitas 0,414 Kendaraan Tak Bermotor (UM)/total MV = 19 / 5148 = 0,0036908 kend/jam. Untuk pertumbuhandaerah: Parameter Geometrik Bagian Jalinan I . ertumbuhan rataAerat. = . ataAerata LV rataAerata HV C Lebar Pendekat (W) dari hasil pengukuran geometrik jalinan bundaran didapatkan nilai lebar pendekat rataAerata MC) (W1/W. yang dapat dilihat di Tabel 1. 1Ae1. = . ,0327 0,0739 0,0. / 3 = 0,067 C Lebar Masuk RataAeRata (WE) didapatkan dari hasil Rasio Jalinan penjumlahan W1 dengan W2 lalu dibagi. Nilai dari Nilai rasio jalinan diperoleh dari pembagian arus hasil (WE) dapat dilihat di Tabel 1. 1Ae1. jalinan total dan arus total berdasarkan rumus P = Qw/ C Lebar Jalinan (WW) dari hasil pengukuran geometrik Qtotal. jalinan bundaran didapatkan nilai lebar jalinan (WW) yang dapat dilihat di Tabel 1. 1Ae1. Tabel 3 Data Jalinan Kendaraan C Rasio antara Lebar Masuk RataAeRata dan Lebar Jalinan BAGIAN JALINAN (WW/WE) didapatkan dari pembagian antara lebar masuk rataAerata (WE) dengan lebar jalinan (WW). Nilai dari hasil (WW/WE) dapat dilihat pada Tabel 1Ae1. ARUS ARU ARUS ARU ARUS ARU ARUS ARU Panjang Jalinan (LW) dari hasil pengukuran geometrik MENJA MENJA MENJA MENJA jalinan bundaran didapatkan nilai panjang jalinan (LW) LIN TOT LIN TOT LIN TOT LIN TOT yang dapat dilihat pada Tabel 1. 1Ae1. C Rasio antara Lebar Jalinan dan Panjang (WW/LW) didapatkan dari pembagian antara lebar jalinan (WW) TOTAL 2006 10787 2633 2454 885. 3 2140 2938 3071 dengan panjang jalinan (LW). Nilai hasil (WW/LW) dapat dilihat pada Tabel 1. 1Ae1. RASIO MENJA LIN Sumber: Hasil Survei 2020 Pada bagian jalinan AAeB diperoleh nilai arus menjalin (QW) = 2633 smp/jam dan arus total (QTota. = 2454 smp/jam. Maka diperoleh nilai rasio jalinan (PW) jalinan AAeB adalah PW = QW / Qtot = 2633 / 2454 = 1,073 Untuk nilai PW pada titik DA. BC dan CD dapat dilihat pada Tabel 4 dengan perhitungan yang sama seperti pada titik AAeB. Tabel 4. Data Parameter Geometrik Bagian Jalinan Bagian Jalinan Gambar 3. Parameter Geometrik Bagian Jalinan (Bina Marga 1. Kapasitas Dasar Lebar Masuk Lebar Lebar WAC/WAC Panjang WAC/ masuk Jalinan Jalinan LAC Pendekat Pendekat RataWAC LAC WIBISONO/PERHITUNGAN KINERJAA/607-613 Menentukan kapasitas dasar dengan mengalikan empat faktor. Untuk menghitung nilai kapasitas dasar menggunakan persamaan di bawah ini. Contoh pada Titik Bagian Jalinan DA :Co = WW y WE y PW y WA = 2348,816 y 2,770 y 0,969 y 0,388 = 2444,115. Dan untuk nilai Co pada titik AB. BC, dan CD dapat dilihat pada Tabel 5 dengan perhitungan yang sama seperti pada titik AAeB. Berikut ditampilkan pada tabel 5. AGREGAT Vol. No. Mei 2022 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Sumber: Hasil Perhitungan 2021 Tabel 5. Data Perhitungan Kapasitas Dasar Kapasitas dasar Co smp/jam Faktor WAC Faktor WAC/W Faktor P Faktor Gbr. B-2. Gbr. B2. Gbr. B2. Gbr. B2. Bagian Jalinan Pada perhitungan di bawah ini adalah cara mencari nilai kapasitas . berdasarkan data Tabel 4 dengan sampel hitung, yaitu pada titik jalinan DA. Perhitungan pun berlaku pada semua data kapasitas titik jalinan pada Tabel 6. C = CO y FCS y FRSU = 2444,115 y 1,00 y 0,98 = 2395,233 smp/jam Tabel 7. Perilaku Lalu Lintas Tundaan Peluang Lalu Tundaan Arus Derajat Antrian Lintas DT Lalu Bagian Bagian Kejenuhan QP% det/smp Lintas Jalinan Jalinan AoQ Total Dtot smp/jam . Gbr. C- . Gbr. C2:1 Sumber: Hasil Perhitungan 2021 Faktor Ukuran Kota Jumlah penduduk pada Kota Surabaya berjumlah A 3 juta orang maka didapatkan hasil FCS seperti di bawah Faktor Ukuran Kota (FCS) = 1,00 Faktor Hambatan Samping Nilai faktor ini tergantung dari kelas tipe lingkungan, kelas hambatan samping, dan rasio kendaraan tak bermotor (UM). Tipe lingkungan di sekitar wilayah penelitian termasuk dalam lingkungan komersial. Faktor Lingkungan Jalan (FRSU) = 0,98 menghasilkan tabel 6 dan 7 sebagai berikut. Tabel 6. Data Perhitungan Kapasitas Faktor Penyesuaian Bagia Jalina Faktor Faktor Fakto Fakto WAC/W Kapasita WAC r P AC r W Ukura Link. s dasar Kapasitas n Kota Jalan C smp/jam Fcs Frsu smp/jam Gbr. B- Gbr. Gbr. Gbr. B-2. 2 B-2. 3 B-2. T a. b T a. B-3. 1 B-4. Total DS dari Jalinan DS Tundaan Lalu Lintas Bundaran Rata-Rata DT det/smp Tundaan Bundaran Rata-Rata D (DT . det/smp Peluang Antrian Bundaran QP% . WIBISONO/PERHITUNGAN KINERJAA/607-613 Sumber: Hasil Perhitungan 2021 Nilai tundaan lalu lintas bundaran rataAerata (DTR) didapatkan sebesar 40,65 det/smp dan nilai tundaan bundaran rataAerata DR (DTR . didapatkan sebesar 44,65 det/smp, serta peluang antrian bundaran QPR% sebesar Sehingga Kinerja Lalu Lintas Bundaran dapat dijelaskan pada tabel berikut. AGREGAT Vol. No. Mei 2022 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Tabel 8. Analisa Perhitungan Kinerja Lalu Lintas Bundaran ITS Peramalan Lima Tahun (Tahun 2. Pertumbuhan Kendaraan di Bundaran ITS Kinerja Bagian Jalan Jalinan Tabel 9. Data Pertumbuhan RataAeRata Kendaraan Surabaya Keterangan Tidak OK Tidak OK Tidak OK Rata-rata Kendaraan Berat Kendaraan Ringan Sepeda Motor Sumber: Hasil Perhitungan 2021 I rata-rata (Pertumbuhan Rata-rat. Untuk Derajat Kejenuhan (DS) didapat dari arus puncak (Q) dibagi dengan Kapasitas (C). DS = Q / C = arus lalu lintas . mp/ja. berdasarkan tabel survei kendaraan ITS titik BC. Q = 2140 smp/jam. C = Kapasitas . mp/ja. berdasarkan perhitungan kapasitas. C = 1782 smp/jam berdasarkan perhitungan kapasitas. DS = Q / C = 2140 / 1782 = 1,201 (TIDAK OK). Bundaran ITS titik BC sudah jenuh. Untuk titik DA. AB, dan CD nilainya dapat dilihat dari hasil perhitungan seperti pada Tabel 8. Perhitungan Tundaan Berikut contoh perhitungan tundaan (DT) pada bundaran ITS pada titik DA: Perbandingan (DSOu0,6,. 2,68982xDS-. DS)x2,. ,59186-0,52525 x DS)-. -DS)x. ) = Perbandingan (DSOu0,6 ,. 2,68982 x 4,504-. -4,. x 2 ,. ,59186-0,52525 x 4,. - 4,. ) DT = 6,443 Contoh Perhitungan Dtot pada DA: Dtot = (DT > 0. (Q x DT) . (Q x . = (DT > 0. 87,22 x 6,. 87,22 x . = 69506,80 Contoh Perhitungan Peluang Antrian Bundaran QP% pada DA: QP = IF(DS<=1,1 . 26,65 x DS - 55,55 x (DS. 108,57 x (DS. QP = IF(DS<=1,1 . 26,65 x 4,504 - 55,55 x . ,5. 108,57 x . ,5. QP = 100% Total peluang antrian bundaran QPR% = 100% Tundaan lalu-lintas bundaran rata-rata DTR = 40,65 det/smp Tundaan bundaran rata-rata DR (DTR . = . ,65 . = 44,65 det/smp Sumber: Surabaya Dalam Angka 2020 Dari analisa yang ada, ditemukan peramalan pertumbuhan kendaraan dalam lima tahun pada arus lalu lintas Bundaran ITS naik kurang lebih sebesar 0,067 atau 6,7% dalam waktu lima tahun tersebut. Pertumbuhan kendaraan yang meningkat tersebut harus segera diberikan solusi untuk Bundaran ITS dalam 5 tahun kedepan. KESIMPULAN Berdasarkan data analisa, didapatkan arus lalu lintas dalam kondisi eksisting di Bundaran ITS pada jam puncak . 00Ae09. 00 WIB) volume lalu lintas jenuh dengan pertumbuhan rataAerata 0,067 atau 6,7% dalam waktu 5 tahun. Pada perencanaan 5 tahun ke depan, kinerja lalu lintas di Bundaran ITS semakin tidak efisien, karena Bundaran ITS sudah tidak relevan lagi untuk menjadi jalur transportasi dengan kondisi eksisting. Titik A dengan nilai DS=4,504 (Tidak OK), titik B dengan nilai DS=0,858 (OK), titik C dengan nilai DS=1,201 (Tidak OK), titik D dengan nilai DS=1,958 (Tidak OK). Kemudian didapatkan nilai tundaan lalu lintas bundaran rataAerata DTR sebesar 40,65 det/smp, nilai tundaan bundaran rataAerata DR (DTR . sebesar 44,65 det/smp, dan peluang antrian bundaran QPR% sebesar 100%. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih, kami sampaikan kepada mahasiswa program studi D4 Transportasi Angkatan 2019 kelompok 2 dan 3 Sebagai surveyor dan pengolahan drekapitulasi data bundaran ITS dan Mulyosari Surabaya. DAFTAR PUSTAKA