St. Syamsudduha Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak PARTISIPASI ORANGTUA DALAM PENDIDIKAN ANAK DI SEKOLAH PADA SDIT AL-FITYAN KABUPATEN GOWA St. Syamsudduha Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar st.syamsudduha@uin-alauddin.ac.id Naskah diterimah 15-11-2017 ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang bentuk partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di sekolah SDIT al-Fityan Gowa. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana bentuk pendidikan anak di sekolah pada SDIT al-Fityan Gowa dan bentuk partisipasi dan pelibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah pada SDIT al-Fityan Gowa. Tujuan penelitian ini adalah untuk: mendapatkan gambaran tentang bentuk pendidikan anak di sekolah yang dilaksanakan di SDIT al-Fityan Gowa dan mengevaluasi program yang dilaksanakan sekolah yang melibatkan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di SDIT al-Fityan dengan sumber data pengurus yayasan, kepala sekolah SDIT al-Fityan, bagian kesiswaan, guru dan orangtua siswa. Pengambilan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data dianalisis mengikuti format penelitian evaluasi model Stake. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil bahwa pendidikan anak di sekolah yang dilakukan SDIT al-Fityan melalui kegiatan pembelajaran dengan mengikuti kurikulum muatan nasional (2013) dan muatan lokal dengan materi Bahasa Arab, Bahasa Inggris, al Quran, dan TIK, juga beberapa kegiatan ekstrakurikuler seperti tahfidz, hafalan al Quran juz 29 dan 30, English Club dan Arabic Club, Computer Kids, Science dan Math Club, dan beberapa kegiatan olahraga dan seni. Adapun bentuk pelibatan partisipasi orangtua dilakukan melalui kegiatan home visit, pengajian bulanan, belajar al Quran mingguan dan buku muhatabaah yaumiyah. Adapun faktor pendukung dari program ini adalah dukungan manajemen yang baik, dan sumber daya sekolah yang sangat menunjang, sedangkan faktor penghambatnya adalah masih banyaknya orangtua yang masih sangat sibuk sehingga belum memberi partisipasi yang maksimal. Untuk mengatasi hal itu, beberapa upaya telah dilakukan yaitu dengan menerapkan penilaian pada setiap bentuk partisipasi yang diberikan. Kata Kunci: Pelibatan Orangtua, Pendidikan Anak, Manajemen Sekolah PENDAHULUAN Latar Belakang Peran sekolah dan orangtua dalam pendidikan anak menjadi isu yang banyak dipersoalkan akhir-akhir ini. Seringkali terjadi saling tuduh mengenai pihak yang paling bertanggung jawab, jika terjadi hal yang tidak menyenangkan. Orangtua menyalahkan sekolah atas pola pendidikan yang dilakukan, dan sekolah menyalahkan orangtua atas pola asuh dan pendampingan yang telah dilakukan orangtua. Bahkan ada orangtua yang beranggapan bahwa peran penting pendidikan anak ada ditangan guru dan lingkungan. (Sugihandari:2015) Beberapa hasil penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa orangtua merupakan Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 salah satu faktor yang ikut berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar seorang individu. Salah satu penelitian tersebut menyebutkan bahwa keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh terhadap motivasi berprestasi (Junianto:2015). Penelitian lain bahkan menyebutkan bahwa kondisi keluarga juga ikut berpengaruh terhadap prestasi anak di sekolah. Kondisi keluarga yang dimaksud dalam penelitian itu, adalah perasaan dicintai, dihargai, didukung, tingkat konsistensi pada batas perilaku anak, dan toleransi orangtua dalam mendorong kemandirian anak. (Steinberg:1996) Pelibatan orangtua disebutkan dalam salah satu pasal Permendikbud No. 23 Tahun | 141 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak St. Syamsudduha 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Pada pasal 3 Permendikbud tersebut disebutkan bahwa sekolah hendaknya melibatkan orangtua dan masyarakat dalam proses penumbuhan budi pekerti yang dilakukan di sekolah. Keterlibatan ini diharapkan akan berbuah dukungan orangtua dalam berbagai bentuk. Pentingnya posisi orangtua tersebut juga disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam bukunya bahwa “keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama. Keluarga merupakan bagian dari tri sentra pendidikan, yaitu: alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda”. (Ki Hajar Dewantara : 1977) Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dipahami bahwa umumnya orang sepakat tentang peran penting dari orangtua dalam pendidikan anak di sekolah. orangtuanyalah yang menjadikannya, yahudi, dan nasrani atau majusi”. Berdasarkan hal tersebut, maka meskipun anak telah diserahkan ke sekolah orangtua tetap harus dilibatkan dalam pendidikannya. Meskipun pelibatan orangtua di sekolah penting, tetapi sekolah-sekolah belum banyak yang melaksanakannya secara optimal. Sekolah kadang menutup diri dari campur tangan orangtua dalam proses pendidikan anak di sekolah (Syamsudduha dan Dion G, 2016). Orangtua hanya dihadirkan ketika akan menerima rapor, atau pada saat akan meminta bantuan pembiayaan. Komunikasi dan diskusi tentang bagaimana pola pendidikan anak sangat jarang dilakukan, bahkan tidak pernah. Jajak pendapat yang dilakukan media kompas pada tanggal 22-24 April 2015 terhadap 326 responden orangtua yang punya anak usia sekolah menunjukan bahwa 74 persen orangtua murid mengaku tidak mengetahui pola pembelajaran atau kurikulum yang diterapkan di sekolah. (Sugihandari:2015) Penelitian ini akan membahas tentang pendidikan anak di Sekolah Dasar (SD) maka yang menjadi pembahasan adalah pada tahapan tujuh tahun kedua. Pada tahapan tujuh tahun kedua, perlakukan anak sebagai tawanan dalam arti positif adalah anak mengenal aturan. Sebagaimana halnya tawanan yang harus mengikuti setiap instruksi orang lain. Dalam tahap ini, anak mengenal aturan dan belajar disiplin atau proses penanaman dalam diri anak-anak. Dalam tahap ini Rasul saw. pernah mengatakan jika anak di usia 10 tahun harus belajar disiplin salat. Salat dan ibadah lainnya secara teratur harus sudah mulai dikerjakan oleh anak. Penanaman disiplin di tahap ini sangat penting karena akan menjadi pondasi untuk anak-anak saat mereka besar. Kehilangan momentum di tahap ini akan mengakibatkan anak tidak patuh, membangkang, atau melakukan suatu hal sesukanya. Guru dan orang tua memiliki otoritas yang kuat terhadap anak dalam mengarahkan dan menanamkan disiplin dengan baik. (Iden Wildensyah: 2015) Pendidikan anak di sekolah merupakan satu konsep pengasuhan yang diselenggarakan oleh sekolah dengan melibatkan orangtua. Pada dasarnya konsep pengasuhan berada dalam tanggungjawab orangtua, akan tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka tanggungjawab pengasuhan sebagian diserahkan ke sekolah dan sebagian lagi tetap menjadi tanggungjawab orangtua. Pada konsep pendidikan Islam, anak menjadi tanggungjawab orangtua, sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw diriwayatkan oleh Imam al Bukhari (1422H: ju 2, h.94) yang menyebutkan bahwa “Semua anak lahir dalam keadaan fitrah, 142 | Selain itu, dalam Islam dikenal ada pola pendidikan anak yang disusun dalam tiga tahap. Tiga tahapan pendidikan anak dalam Islam yaitu: 1. Tahapan tujuh tahun pertama (0-7 tahun). Perlakukan anak sebagai raja. 2. Tahapan tujuh tahun kedua (7-14 tahun). Perlakukan anak sebagai tawanan. 3. Tahapan tujuh tahun ketiga (14-21 tahun). Perlakukan anak sebagai duta besar. (Iden Wildensyah: 2015) Tahapan pendidikan anak tersebut, bukan hanya diterapkan di rumah oleh orangtua tetapi sebaiknya juga diterapkan di sekolah dengan melibatkan orangtua. Akan tetapi masih banyak sekolah, khususnya sekolah dengan label Islam yang belum menerapkan konsep pendidikan anak di sekolah ini. Sekolah umumnya hanya memperhatikan masalah pemberian pengetahuan saja, dan ukuran Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha keberhasilan anak hanya dititik beratkan pada prestasi belajar akademik. Berdasarkan hasil penelitian pada 2 sekolah yaitu SMPN 2 Makassar dan MTSN Model Makassar, diperoleh informasi bahwa hal-hal yang sering dijadikan alasan tidak diterapkannya pendidikan anak dengan melibatkan orangtua, antara lain banyaknya jumlah siswa yang tidak berimbang dengan jumlah guru, kurangnya pengetahuan guru tentang konsep pendidikan anak, banyaknya tugas guru, dan masalah tidak adanya alokasi anggaran untuk kegiatan tersebut (Syamsudduha dan Dion G, 2016). Salah satu sekolah yang mulai menerapkan pelibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah adalah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Fityan yang berlokasi di kabupaten Gowa. Pelaksanaan pendidikan anak yang dikenal dengan program pendidikan karakter memasukkan partisipasi orangtua dan masyarakat sebagai salah satu karakteristik pendidikannya. Atas dasar hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian evaluasi, untuk mengevaluasi pelaksanaan pendidikan anak dengan mengacu pada pola pendidikan anak dalam Islam. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana bentuk pendidikan anak di sekolah pada SDIT Al-Fityan Kabupaten Gowa? 2. Bagaimana pelaksanaan pelibatan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di SDIT Al-Fityan Kabupaten Gowa? 3. Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pelibatan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di sekolah Tujuan Penelitian Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk: Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak 1. Menemukan bentuk pendidikan anak di sekolah pada SDIT Al-Fityan Kabupaten Gowa 2. Mengevaluasi bentuk pelibatan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di SDIT Al-Fityan Kabupaten Gowa 3. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pelibatan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di sekolah yang selanjutnya dapat dijabarkan bentuk rekomendasi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik dari aspek pengembangan keilmuan maupun dari aspek praktis. Manfaat yang dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan dalam pengembangan ilmu, khususnya ilmu manajemen pendidikan pada komponen manajemen sekolah yaitu aspek pelaksanaan standar pengelolaan dengan menerapkan prinsip partisipatif. 2. Manfaat praktis Bila melihat sisi praktisnya, penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan satu praktik baik dalam pengelolaan sekolah dalam melaksanakan pendidikan anak dengan melibatkan orangtua. Hal ini diharapkan dapat menginpirasi kalangan pengelola sekolah untuk melakukan kegiatan peningkatan kualitas pendidikan anak di sekolah secara partisipatif. Manajemen Sekolah Terminologi pelibatan mengandung unsur manajerial. Khusus dalam hal pelibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah, maka sangat relevan untuk membahasnya dalam bingkai manajemen sekolah. Manajemen sekolah adalah kegiatan manajemen yang dilakukan di sekolah. Kata | 143 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak manajemen sendiri dapat diartikan sebagai seni, ilmu, juga dapat didefinisikan sebagai proses. Manajemen sebagai seni, dikemukakan oleh Mary Parker Follet sebagaimana dikutip oleh Stoner (1982:8) mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Oleh Ridhotullah (2015:6) menjelaskan bahwa manajemen sebagai seni diartikan bahwa dalam mencapai tujuan lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan pribadi, bakat, dan karakter pelaku-pelaku manajemen khususnya pada level pimpinan. Ada beberapa ciri yang dikemukakan oleh mereka, yaitu sebagai berikut: 1. Kesuksesan dalam pencapaian tujuan organisasi sangat didukung oleh sifatsifat dan bakat para manajer 2. Proses pencapaian tujuannya sering melibatkan unsur naluri, perasaan dan intelektual 3. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan lebih didominasi oleh kekuatan pribadi kreatif yang dimiliki oleh pelakupelaku manajemen. Manajemen sebagai ilmu dikemukakan oleh Luther Gulick. Luther Gulick (1965:7-13) mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerjasama ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. Beberapa ciri yang menguatkan definisi yang dikemukakan oleh Luther Gulick ini, yaitu: St. Syamsudduha Beberapa ahli yang mengemukakan pendapat bahwa manajemen sebagai proses adalah sebagai berikut:  Stoner (1982:8) mengemukakan bahwa manajemen adalah proses perencanaan,pengorganisasian,pengarah an/kepemimpinan,pengawasan/pengen dalian usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.  George R. Terry dalam Machali (2016:3) menyebutkan bahwa, Management is a distinct process consisting of palnning, organizing, actuating and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources.  H.R. Lingt and Allen Louis dalam Machali (2016:3) menjelaskan bahwa, Management is the body of knowledge about managing. Managing the process is of planning, organizing, directing, coordinating, controlling, materials, machine and money so as secure the optimun achievement of objectives. Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut di atas, ada beberapa unsur dalam definisi tersebut, yaitu pertama proses yang mencakup beberapa kegiatan; kedua sumber daya organisasi yang meliputi manusia, keuangan, peralatan, informasi; ketiga tujuan organisasi. Gambaran unsur-unsur tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:  Prinsip dan konep manajemen dapat dipelajari  Desicion making dapat didekati dengan kaidah-kaidah ilmiah  Objek dan sarana manajemen untuk mencapai tujuan sebagian adalah elemenelemen yang bersifat materi Gambar 1. Unsur-unsur dalam pengertian manajemen  Praktek manajemen memerlukan pendekatan bidang ilmu lainnya. (Ridhotullah:2015) Manajemen sebagai proses Selain ketiga definisi tersebut, masih banyak definisi lain, karena sampai saat ini belum ada definisi yang digunakan secara universal. Yang jelas bahwa manajemen dapat 144 | Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha terlihat dalam bentuk praktik manajemen dalam pengelolaan sumber daya dalam organisasi dengan melibatkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Beradasarkan pengertian manajemen di atas, maka dapat disebutkan bahwa manajemen sekolah adalah proses pengelolaan sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Adapun komponenkomponen dalam manajemen sekolah mengikuti standar nasional pendidikan pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2005 dan perubahan kedua yaitu PP No.13 tahun 2015 tentang standar nasional pendidikan. Standar pendidikan yang terhubung secara langsung dengan pelibatan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di sekolah adalah standar pengelolaan disamping standarstandar lainnya. Konsep Partisipasi Orangtua/ Masyarakat Konsep partisipasi dikenal dalam disiplin ilmu manajemen, khususnya dalam perumusan kebijakan dan pelayanan publik. Hal ini tergambar dalam perkembangan paragigma manajemen yang menunjukkan arah pentingnya partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik. Purwanto dalam Agus Dwiyanto (2006:190) menyebutkan bahwa Konsep Pelibatan masyarakat dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Beberapa ahli menyebutkan beberapa level partisipasi antara lain Wilcox dan Arnstein. Wilcox (1994) menyebutkan lima tingkatan partisipasi yaitu: 1. Pemberian informasi 2. Konsultasi 3. Pembuatan Keputusan bersama 4. Melakukan tindakan bersama 5. Mendukung aktivitas yang muncul atas swakarsa masyarakat Ditambahkan oleh Wilcox bahwa, pada level mana masyarakat berpartisipasi sangat bergantung pada kepentingan apa yang hendak dicapai. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak Arnstein dalam Wilcox (1994) menyebutkan ada delapan level partisipasi yang dia sebut sebagai delapan tangga partisipasi publik. Delapan tangga tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kontrol oleh warga negara 2. Pendelegasian wewenang 3. Kemitraan 4. Konsesi 5. Konsultasi 6. Pemberian informasi 7. Terapi 8. Manipulasi Level-level partisipasi tersebut akan digunakan sebagai parameter untuk menilai tingkatan partisipasi yang diterapkan oleh SDIT al-Fityan dalam pelibatan orangtua. Selanjutnya terkait dengan bentuk pelibatan orangtua yang dilakukan Oleh sekolah, Slavin (2011:185) menyatakan bahwa peran sekolah untuk meningkatkan keterlibatan orangtua diantaranya: 1. Kunjungan keluarga pada awal semester untuk mengetahui dukungan keluarga, kondisi psikologi dan kecerdasan siswa 2. Menyampaikan berita berkala yang sering kepada orangtua untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran 3. Melakukan lokakarya orangtua, dengan mengundang orangtua ke sekolah sehingga guru/sekolah dapat menjelaskan proses pembelajaran dan harapan guru/sekolah dan orangtua dapat memahami bagaimana cara mendukung pembelajaran anak 4. Sampaikan berita positif ke rumah melalui telepon sehingga menghasilkan lingkungan positif dan memungkinkan kemungkinan berperilaku Terkait pelibatan orangtua ini, Conway & Hutenville (2008:450) menyatakan bahwa hal penting yang dapat meningkatkan keterlibatan orangtua adalah pendidikan orangtua dan banyaknya waktu yang dialokasikan. Hal ini, dapat diintegrasikasikan dalam kegiatan pelibatan orangtua dalam pendidikan anak. Misalnya saja dengan memberi pengajian atau | 145 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak pelatihan khusus bagi orangtua tentang pola pendidikan anak. Konsep Pendidikan Anak di Sekolah Pendidikan anak merupakan inti dari penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pada konsep pendidikan Islam ada tahapan yang sangat penting diketahui semua orang tua atau guru di sekolah. Tahapan ini penting dalam memberikan program yang tepat untuk anakanak. Jika orang tua atau guru mampu memberikan program yang tepat pada setiap jenjangnya, anak akan berkembang dengan baik karena kebutuhan pada saat usia tertentu dapat terpenuhi. Pemberian perlakuan terhadap anak harus sesuai dengan tahapan pendidikan anak dalam Islam. Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a dalam Wildensyah (2015) tahapan pendidikan anak berjenjang menurut umurnya. Jenjang tersebut adalah 0-7 tahun, 7-14 tahun, dan 14-21 tahun. Inilah pendidikan berjenjang sesuai dengan per 7 tahun usianya. 1. Tahapan Tujuh Tahun Pertama atau 0-7 Tahun, Perlakukan Anak sebagai Raja Tahapan anak sebagai raja berarti memperlakukan anak sebaik-baiknya. Ajak mereka bermain yang menyenangkan. Anak belajar dari permainan yang mereka lakukan. Banyak permainan yang bisa merangsang pertumbuhan motorik kasar dan motorik halus anak. Dalam tahap ini, anak harus mendapatkan pengalaman yang menyenangkan bahwa dunia ini indah. Sebagai raja, anak harus mendapat kesan bahwa dunia ini aman untuk dirinya. Walaupun kita memperlakukan anak sebagai raja bukan berarti mengikuti semua kemauannya. Orang tua atau guru bisa mengarahkan ke jenis permainan yang lain, misalnya saat ia memilih permainan yang berbahaya untuk dirinya, guru atau orang tua bukan menolak tapi mengalihkan ke permainan yang juga sama asyiknya. Memberikan semua keinginannya tentu tidak baik karena akan membuat anak menjadi manja. Yakinkan segala jenis permainannya 146 | St. Syamsudduha aman untuk anak. Hindari gadget atau barang elektronik karena banyak penelitian yang menyarankan untuk tidak dimainkan anak-anak dengan segala risiko terutama menyangkut keterampilan motoriknya. 2. Tahapan Tujuh Tahun Kedua atau 7-14 Tahun, Perlakukan Anak sebagai Tawanan. Menjadi tawanan dalam arti positif adalah anak mengenal aturan. Sebagaimana halnya tawanan yang harus mengikuti setiap instruksi orang lain. Dalam tahap ini, anak mengenal aturan dan belajar disiplin atau proses penanaman dalam diri anak-anak. Dalam tahap ini Rasul saw. pernah mengatakan jika anak di usia 10 tahun harus belajar disiplin salat. Salat dan ibadah lainnya secara teratur harus sudah mulai dikerjakan oleh anak. Penanaman disiplin di tahap ini sangat penting karena akan menjadi pondasi untuk anak-anak saat mereka besar. Kehilangan momentum di tahap ini akan mengakibatkan anak tidak patuh, membangkang, atau melakukan suatu hal sesukanya. Guru dan orang tua memiliki otoritas yang kuat terhadap anak dalam mengarahkan dan menanamkan disiplin dengan baik. 3. Tahapan Tujuh Tahun Ketiga atau 14-21 Tahun, Perlakukan Anak sebagai Duta Besar Pada tahap ini, secara pertumbuhan dan perkembangan anak sudah terbentuk motorik kasar dan motorik halus dengan baik. Demikian juga perkembangan kemampuan berpikirnya sudah memasuki tahap dewasa. Anak sudah mampu memutuskan hal yang harus dikerjakan atau tidak dikerjakannya, anak bisa memilih secara mandiri. Kemandirian anak menjadi modal untuk melepasnya sebagai duta besar. Sebagaian kalangan menyebutnya dengan tahapan menjadikan anak sebagai sahabat. Ya, duta besar berarti menjadi perwakilan di negara lain yang harus kita dukung. Otoritas orang tua dan guru secara perlahan berkurang. Otoritas dalam mendidik sudah tidak sebesar saat Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha anak-anak waktu kecil. Tetapi tetap pengontrolan terhadap anak masih ada. Tahap perkembangan pendidikan anak dalam Islam ini harus disejajarkan dengan kemampuan guru atau orang tua dalam memberikan program sesuai jenjangnya. Caracara yang dipakai harus benar-benar sesuai dengan tahapan anak. Terkait cara atau metode, dalam pendidikan Islam ada lima metode pendidikan Islam menurut Muhammad Quthb dan Abdullah Nasih Ulwan yaitu pemberian teladan (qudwah), pemberian pembiasaan (aadah), pemberian nasihat (mau’izhoh), mekanisme kontrol (mulahazhoh), dan sanksi atau denda (uqubah). Kelima metode ini harus diterapkan secara konsisten dan bersamaan. Jangan hanya menitikberatkan pada satu metode saja. Berikan sesuai jenjangnya dan kemampuan anak. Tidak sedikit yang salah paham dalam pendidikan karena terlalu dominan dalam satu metode, sebut saja yang sering didengar yaitu sanksi atau teguran atau hukuman. Padahal, masih banyak cara yang bisa dilakukan guru atau orang tua dalam tahap jenjang tertentu untuk memberikan pelajaran kepada siswa atau anak didiknya di sekolah. Jangan lupakan teladan, anak harus mendapat teladan yang baik dari guru dan orang tuanya. Jika guru mampu menjadi teladan yang baik untuk muridnya maka insyallah pendidikan akan berjalan dengan baik. Anak menyerap semua proses keteladanan yang penting ditahap usianya. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi yang bertujuan untuk mengevaluasi proses manajemen sekolah yang telah dilakukan dalam melibatkan orangtua pada pendidikan anak di sekolah. Sebagai sebuah penelitian evaluatif, maka penelitian ini akan mengkaji lebih jauh mengenai faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kegiatan pelibatan orangtua tersebut untuk kemudian diharapkan menghasilkan sebuah rekomendasi dalam pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Model penelitian evaluasi yang akan dilakukan yaitu model evaluasi Responsif yang dikembangkan oleh Stake, model ini sering juga Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak dikenal dengan nama model Stake. Menurut Stake dalam Wirawan (2016:134) karakteristik dari model responsif ini adalah: 1. Lebih berorientasi secara langsung pada aktivitas program daripada tujuan program 2. Merespon kepada persyaratan kebutuhan informasi dari audiens 3. Perspektif nilai-nilai yang berbeda dari orang-orang dilayani dilaporkan dalam kesuksesan atau kegagalan dari program. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Fityan Gowa yang beralamat di Jalan Pallantikang I/Belibis, Kelurahan Katangka Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah semua pemangku kepentingan sekolah yaitu Kepala Sekolah, Guru, Orangtua, Komite Sekolah, dan Siswa. Fokus Penelitian Penelitian ini akan di fokuskan pada bentuk pendidikan anak yang dilakukan sekolah dan bentuk kegiatan/program pelibatan partisipasi orangtua yang dilakukan sekolah dalam pendidikan anak. Bentuk pendidikan anak ini meliputi unsur kurikulum dan program lainnya. Bentuk pelibatan partisipasi orangtua merujuk pada pola manajemen sekolah yang diterapkan khususnya pada standar pengelolaan pendidikan yang berciri partisipatif. Teknik dan Instrumen pengumpulan data Teknik pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini adalah: yang 1. Dokumentasi | 147 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam bentuk catatan tertulis berupa dokumentasi pelaksanaan kegiatan pelibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah. Instrumen ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai bentuk-bentuk kegiatan pelibatan dan partisipasi orangtua yang telah dilakukan oleh sekolah dan orangtua 2. Wawancara Teknik ini digunakan dalam pengumpulan data dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan terkait proses pelibatan orangtua dan faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini. 3. Observasi Observasi ini dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai proses pelaksanaan kegiatan pelibatan orangtua yang dilakukan oleh sekolah dan partisipasi yang dilakukan oleh orangtua. Instrumen ini digunakan dalam bentuk catatan lapangan dan daftar chek list. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif, dengan mengikuti pola penelitian evaluasi responsip yang dikemukakan oleh Stake yang meliputi; Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan pada bulan Agustus sampai dengan bulan Nopember 2017 dengan matriks sebagai berikut: Bentuk Pendidikan Anak di Sekolah SDIT AlFityan Gowa Pendidikan anak di sekolah sebagai konsep yang menjadikan sekolah sebagai wadah membentuk anak menjadi pribadi yang memiliki karakter merupakan salah satu misi dari SDIT al Fityan Gowa. Berdasarkan dokumen visi misi tujuan sekolah, 148 | St. Syamsudduha dikemukakan ada 10 karakter yang menjadi tujuan dalam pendidikan anak di SDIT al Fityan yaitu: 1. Aqidah yang bersih (salimul aqidah) 2. Ibadah yang benar (salihul ibadah) 3. Pribadi yang matang (matinul khuluqa) 4. Mandiri (qadirul alal kasbi) 5. Cerdas dan berpengetahuan (Mutsaqqaful fikri) 6. Sehat dan kuat (qawiyul jismi) 7. Bersungguh-sungguh (mujahidun linafsihi) dan 8. Tertib dan Syu’unihi) (munszhzom cermat disiplin fi 9. Efisien mengatur waktu (harisun a’la waqtihi) 10.Berguna bagi yang lain (Nafiun lighairihi) Penjabaran tujuan sekolah ini dituangkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran dan kegiatan penunjang lainnya baik yang dilaksanakan di sekolah maupun yang dilakukan di lingkungan sekitar dan rumah. Bentuk pendidikan anak yang dilakukan di sekolah selain mengikuti kurikulun nasional, juga menggunakan kurikulum sekolah dasar Islam terpadu (SDIT) yang dirumuskan secara bersama dengan konsorsium SDIT se Indonesia. Kurikulum tersebut antara lain memuat konten materi yang berfokus pada kemampuan baca tulis al Quran dan sikap terpuji serta keterampilan hidup. Pembelajaran kemampuan membaca al Quran dalam bentuk pembelajaran al Quran, dan tahfidz al Quran. Dalam melaksanakan kurikulum inilah, sekolah melibatkan orangtua, menurut mereka apa yang sudah diberikan di sekolah harus sama dan selaras dengan yg dilakukan di rumah. (Muh. Ahyar, Sekertaris Yayasan al Fityan, wawancara 9 November 2017) Beberapa bentuk pembelajaran yang dilakukan di sekolah, dituangkan dalam bentuk pembentukan budaya sekolah. Pembentukan budaya sekolah ini, dituangkan dalam bentuk tata tertib bagi peserta didik yang juga berlaku bagi orangtua. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha Beberapa poin dari tata tertib yang merupakan bentuk pembudayaan sikap positif adalah: 1. Tidak diperkenankan membawa uang jajan bagi kelas 1-3, dan bagi kelas 4-6 boleh membawa uang untuk jajan maksimal Rp.10.000 (jajan hanya pada waktu istirahat ketiga pukul 14.14-14.30). Peserta didik boleh membawa uang untuk menabung setiap hari, dan tiap hari jumat peserta didik berinfaq. Nominal tabungan dan infaq tidak ditentukan. 2. Selama kegiatan sekolah peserta didik wajib berbusana muslim/musimah. 3. Setiap peserta didik akan mendapat giliran membawa snack harian dengan standar antara lain; tidak menggunakan bahan pewarna dan pengawet berlebihan, tidak mengandung MSG, tidak mengandung pemanis buatan, harga minimal Rp.5000,- maksimal Rp.7000. 4. Tidak merayakan ulangtahun atau pesta lainnya di sekolah. 5. Tidak diperkenankan membawa handphone dan mainan (kecuali yang di tugaskan guru sebagai alat pembelajaran) 6. Bagi orangtua yang memasuki kawasan al-Fityan diwajibkan menggunakan pakaian yang menutup aurat. 7. Penerapan poin pelanggaran berlaku untuk peserta didik kelas 4-6. Bagi peserta didik kelas 1-3, penerapan poin bersifat pembiasaan, kecuali terkait aturan kedatangan tetap berlaku untuk semua level kelas. (Dokumen buku mutabaah yaumiyah, terlihat 4 Juli 2017) Penerapan aturan tersebut dilakukan secara konsisten, dan selanjutnya dijabarkan dalam bentuk pemberian poin atas setiap pelanggaran dan perbuatan baik yang dilakukan peserta didik. Pemantauan dilakukan oleh semua guru, tetapi secara lebih intensif dicatat oleh guru wali/wali kelas. Untuk memenuhi hal tersebut, maka disetiap kelas disiapkan 2 guru yang bertugas secara tetap, yaitu guru kelas dan wali kelas. Poin pelanggaran yang ditetapkan meliputi aspek; pelanggaran ibadah, Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak kedisiplinan, ketertiban, kerapian/pakaian, dan kepribadian siswa. Poin penghargaan prestasi peserta didik, meliputi; pemberian poin prestasi pada kedisiplinan di sekolah, prestasi akademis dan non akademis, kepemimpinan dan akhlak dan kerapian. Satu contoh bentuk prestasi dalam kedisiplinan yaitu; jika siswa tidak melanggar tata tertib selama sebulan. Pemberian poin prestasi dan pelanggaran ini ada yang diakumulasi setiap secara bulanan, semester, secara insedentil. Perhitungan poin prestasi ini selajutnya akan dapat menghapus poin pelanggaran, yang selanjutnya akan dijadikan dasar dalam pemberian nilai afektif pada laporan penilaian hasil belajar. Adapun tindak lanjut sisa poin prestasi adalah sebagai berikut: Tabel 1 Bentuk Tindak Lanjut Sisa Poin Prestasi Peserta Didik SDIT al-Fityan Gowa Jumlah Poin Peserta Didik 80 - 90 Tindak Lanjut Sanksi Peringatan lisan 70 - 79 Surat Peringatan 1 60 - 69 50 - 59 Surat perjanjian Pemanggilan orangtua Skorsing 1 hari Konfrensi kasus Taujih dan proses pembinaan Taujih dan proses pembinaan Penugasan khusus Pemanggilan orangtua dan penandatanganan surat perjanjian Hasil akan diberitahukan ke orangtua 40 - 49 < atau = 39 Sumber data: Dokumen SDIT al-Fityan Gowa, terlihat tanggal 5 Agustus 2017 Setelah melalui proses pembinaan dan siswa telah melakukan perbaikan terkait sikap dan perilakunya, makanya selanjutnya guru akan menentukan nilai sikap/budi pekerti. Penilaian ini dilakukan setiap 3 bulanan dalam bentuk deskripsi perilaku peserta didik. Pada akhirnya disetiap semester, ditentukanlah nilai sikap/budi pekerti tersebut ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: Tabel 2 Kriteria Nilai Sikap/Budi Pekerti Peserta Didik SDIT al-Fityan Gowa Nilai A B C D Kriteria Amat Baik Baik Cukup Kurang Deposit Bobot Akhir 90 ke atas 75 - 89 50 - 74 1 - 49 Sumber Data: Dokumen SDIT al-Fityan Gowa, terlihat tanggal 5 Agustus 2017 | 149 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak Proses pemberian poin ini dimaksudkan sebagai bagian dari pembudayaan perilaku terpuji yang menjadi tujuan utama dari pendidikan anak di SDIT al-Fityan. Bentuk Pelibatan Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak di Sekolah SDIT Al-Fityan Gowa Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di sekolah dan di rumah salah seorang siswa, ditemukan ada beberapa bentuk pelibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah SDIT Al-Fityan, yaitu: kegiatan home visit, pengisian buku mutabaa (buku penghubung), pengajian bulanan dan pendidikan al Quran bagi orangtua. Gambaran mengenai kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Home visit Home visit adalah kegiatan berkunjung ke rumah tempat tinggal siswa. Kegiatan ini sebenarnya dirancang dilaksanakan dua kali setahun oleh yayasan, tetapi oleh masingmasing unit bisa mengembangkannya sesuai kebutuhan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat suasana rumah, apakah kondusif untuk belajar anak, dan untuk mengamati perilaku anak di rumah, apakah ada perilaku anak yang terlihat di rumah, tetapi tidak terlihat di sekolah.(Muh. Ahyar, Sekertaris yayasan al-Fityan, wawancara pada tanggal 9 Oktober 2017). Kegiatan home visit ini difasilitasi oleh sekolah. Guru yang bertugas adalah guru wali kelas. Salah satu bentuk fasilitasi yang disiapkan oleh sekolah yaitu; disiapkan uang transportasi bagi guru yang bertugas. Format kegiatannya juga disiapkan oleh sekolah. Hanya saja tidak ada pelatihan khusus pada guru yang bertugas. Menurut kepala sekolah, “sejauh ini kami tidak melatih guru untuk kegiatan home visit, karena umumnya guru sudah memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan itulah modal utama dari kegiaatan ini”. (St. Sohrah, kepala sekolah SD al Fityan, wawancara, 10 Oktober 2017). Kegiatan home visit ini selain bertujuan mendapatkan informasi mengenai karakteristik anak, juga 150 | St. Syamsudduha membantu pekerjaan guru kelas dan wali kelas, khususnya dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal yang berbeda dari sekolah pada umumnya adalah pada tiap kelas, ada dua orang guru yang bertugas setiap hari yaitu guru kelas dan wali kelas. Guru kelas bertindak sebagai guru untuk materi tematik, wali kelas sebagai guru yang mendampingi siswa belajar dan melakukan penilaian aspek prilaku, serta pelajaran al Quran. Selain kedua guru tersebut, juga disiapkan guru mata pelajaran Agama dan guru olahraga.(Observasi pada tanggal 10 Oktober 2017). Kegiatan home visit ini mendapat sambutan baik dari orangtua, beberapa orangtua yang ditemui menyatakan bahwa dengan berkunjungnya ustaz (guru) ke rumah mereka, akan memberi informasi tentang perkembangan anak mereka, baik fisik, emosi maupun kemampuan lainnya. Katanya: Kami merasa sangat terbantu dan dihargai dengan kunjungan ustaz ke rumah kami, pada saat itu kami dapat berbicara santai tentang anak kami tanpa formalitas, juga ustaz dapat melihat bahkan mendampingi anak kami dalam belajar di rumah pada saat mereka berkunjung (Wahidah, orangtua murid, wawancara, 2 Oktober 2017). Penyampaian tentang kondisi anak di sekolah sangat membantu kami orangtua, dalam menghadapi anak kami bahkan tidak jarang apa yang dikemukakan oleh guru adalah merupakan hal baru bagi kami. (St. Azisah, orangtua siswa, wawancara, 5 Oktober 2017). Selain manfaat tersebut di atas, manfàat kegiatan ini juga dirasakan oleh manajemen sekolah. Manfaatnya dalam hal perbaikan kualitas layanan pendidikan. Melalui kegiatan home visit ini, kami mendapat masukan terkait perbaikan layanan pendidikan, orangtua dengan senang hati menyampaikan ide-ide mereka untuk pengembangan sekolah. (Jumardin, Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, wawancara, 9 Oktober 2017). Selain itu, sekolah juga menerima masukan dalam bentuk kritikan atas layanan yang diberikan. (St. Sohrah, kepala sekolah, wawancara, 10 Oktober 2017). Prosedur yang dilalui ketika akan melakukan home visit adalah: pertama, guru Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha akan menelpon orangtua, bahwa mereka akan berkunjung ke rumah dan menyesuaikan waktu dengan orangtua, kedua melakukan kunjungan ke rumah orangtua dengan dilengkapi instrumen catatan hasil home visit, dan selanjutnya melaporkan hasilnya ke bagian kesiswaan, keempat bagian kesiswaan akan membuat rangkuman, dan menyampaikan hasil home visit guru-guru pada rapat bulanan. (Jumardin, wakasek bidang kesiswaan, wawancara, 10 Oktober 2017). Salah satu contoh rangkuman masukan orangtua diperlihatkan oleh wakasek kesiswaan pada tanggal 11 Oktober 2017 yang berisi hal-hal sebagai berikut: 1. Menu catering yang kurang bervariasi sehingga anak-anak tidak mau makan 2. Ac nya terkadang tidak difungsikan 3. Jumlah siswa dalam satu kelas dirampingkan lagi karena terlalu banyak 4. Sekolah bisa memberikan apresiasi misalnya bintang pada mata pelajaran tertentu pada saat penerimaan rapor 5. Metode pembelajaran sudah bagus namun terkadang ada anak yang butuh perhatian lebih dalam proses pembelajaran 6. Kalau ada informasi yang mau disampaikan ke orangtua agar dituliskan dalam buku penghubung karena tidak semua orangtua punya WA. 7. Lebih ditingkatkan pendidikan akhlak 8. Mohon diadakan seminar tentang cara meningkatkan konsentrasi belajar anak 9. Untuk meningkatkan keselamatan di tangga sebaiknya dilengkapi dengan karpet/keset 10.Sebaiknya ada pertemuan orangtua murid kelas 1 supaya bisa kenal dengan manajemen sekolah. Masukan orangtua tersebut di atas menunjukan adanya perhatian orangtua pada aspek pengelolaan sekolah, meliputi aspek manajemen sekolah, pembelajaran dan pengelolaan partisipasi masyarakat. Masukan Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak yang diberikan orangtua melalui kegiatan home visit ini selanjutnya dijadikan bahan dalam peningkatan kualitas layanan sekolah pada peserta didik yang berorientasi pada peningkatan kualitas peserta didik, khususnya dalam pembentukan karakter islami. (St. Sohrah, Kepala Sekolah SDIT al-Fityan Gowa, Wawancara tanggal 11 Oktober 2017) 2. Pembelajaran Orangtua membaca al Quran bagi Kegiatan pengajian bagi orangtua ini dilakukan atas inisiatif beberapa orangtua yang merasa bahwa kemampuan membaca al Quran mereka masih kurang, sehingga mereka mengalami kesulitan ketika akan mendampingi anaknya dalam belajar membaca al Quran di rumah, selain itu ada juga orangtua yang mengikuti kegiatan belajar mengaji ini, karena memang merasa masih sangat kurang dalam hal ini. Kegiatan belajar mengaji dibimbing oleh guru SDIT al Fityan. Pelaksanàan pembelajarannya dilakukan tiap hari sabtu. Pada proses pembelajaran ini, orangtua tidak dipungut biaya, gurunyapun tidak diberi insentif khusus. Menurut Muh Ahyar, mengajar mengaji orangtua dianggap sebagai bentuk pengabdian guru terhadap agama. Lebih lanjut dikatakan bahwa hal ini juga dapat membantu guru dalam mencapai tujuan pendidikan di SDIT al Fityan, bila orangtua mempunyai kemampuan membaca al Quran yang baik, maka anak-anak akan mendampat bimbingan yang baik di rumah, dan ini sangat membantu tugas guru. (Muh. Ahyar, wawancara, 10 Oktober 2017). Beberapa orangtua yang ditemui ketika pelaksanaan pengajian menyatakan bahwa kegiatan ini sangat membantu mereka secara pribadi dan dalam mendampingi anak-anak belajar dan tumbuh sebagai manusia yang lebih baik. (disarikan dari hasil pertemuan orangtua pada saat pembelajaran mengaji tanggal 16 September 2017). 3. Pengajian bulanan bagi Orangtua Selain kegiatan belajar mengaji satu kali seminggu, di SDIT al Fiyan juga dilaksanakan | 151 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak pengajian bulanan sekali sebulan. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pertemuan orangtua. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi ditemukan bahwa kegiatan ini tidak hanya menyajikan materi agama, sebagaimana biasanya pengajian. Materi pada pengajian ini, terdiri dari pengajaran agama dan pengetahuan tentang pengasuhan dan psikologi anak. Perencanaan materi dan pemateri pengajian ini dilakukan oleh musyrif tarbawy di bawah koordinasi yayasan. Setiap tiga bulan sekali kegiatan pengajian ini dirangkaikan dengan pembagian raport 3 bulanan peserta didik. Pada saat peneliti melakukan penelitian, kegiatan ini dilaaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2017. Materi pengajian bukan hanya materi agama yang dibawakan oleh ustaz/ustazah, tetapi juga materi terkait parenting (pengasuhan) yang dibawakan oleh orang yang berkompeten dalam bidangnya. Selain pengajian bulanan, saat ini yayasan juga memfasilitasi orangtua dan guruguru untuk mengikuti kegiatan workshop/ seminar yang terkait dengan pendidikan anak. Contohnya terlihat dari hasil observasi peneliti, adanya beberapa kegiatan seminar. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut. Gambar 4.1. Salah satu contoh seminar yang difasilitasi oleh sekolah Kegiatan ini tidak wajib diikuti, tapi dianjurkan. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat membantu orangtua dan sekolah dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki karakter islami. 4. Buku Mutabaah Buku mutabaah merupakan buku penghubung yang sengaja dibuat untuk mengefektifkan kegiatan pelibatan orangtua. Buku ini berisi informasi tentang sekolah, 152 | St. Syamsudduha seperti profil sekolah, kurikulum yang digunakan, juga instrumen penilaian sikap yang berbentuk junal harian peserta didik. Jurnal harian peserta didik ini berbentuk daftar ceklist yang diisi oleh guru dan orangtua (bagi peserta didik kelas 1-3) sebagai pengamat, juga oleh siswa sendiri (khusus kelas 4-6). Jurnal ini terdiri atas catatan kegiatan di sekolah dan di rumah. Aspek yang menjadi perhatian dalam jurnal ini akan dijelaskan melalui tabel berikut: Tabel 3. Aktivitas yang Diamati dalam Jurnal Harian Peserta Didik SDIT al-Fityan Gowa JENIS AKTIVITAS Di Sekolah Di Rumah IBADAH IBADAH Dzikir Matsurat Salat subuh Salat Dhuha Salat Duhur Salat Duhur Berjamaah Salat Ashar Salat Ashar Berjamaah Salat Magrib di Masjid Dzikir setelah salat Salat Isya Membiasakan salat sunnah Tilawah al-Quran minimal 2 lembar/buku WAFA AKHLAK ANAK SHOLEH AKHLAK ANAK SHOLEH Menjawab dan Menutup aurat saat keluar menyebarkan salam rumah Berdoa dalam setiap Membantu orangtua aktivitas Tidak berkata “ah” jika Mengucapkan kalimat diperintah thoyyibah Merapikan barang miliknya Belajar memahami Mengajak keluarga berbuat kesalahan kebaikan Qana’ah Makan minum sesuai sunnah Tidak meyebut kekurangan Makan makanan yang teman berlabel halal Tidak memusuhi teman Tidur lebih awal dan bangun Salam sapa dan santun sebelum fajar Mengucapkan kata tolong, Tidak menonton maaf, dan terima kasih film/sinetron yang Makan minum sesuai mengandung sunnah kekerasan/tidak mendidik Hoemat dan santun Mengendalikan emosi terhadap guru PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN Menyelesaikan semua tugas Belajar minimal 30 menit Peralatan belajar lengkap Mengerjakan tugas/PR Membaca buku selain pelajaran Sumber data: Buku Mutabaah Yaumiyah SDIT al-Fityan Gowa Sebagai pelengkap dari jurnal harian tersebut, yaitu catatan ustaz/ustazah untuk jurnal aktivitas di sekolah, dan catatan orangtua untuk jurnal aktivitas di rumah. Selain jurnal aktivitas harian, pada buku mutabaah yaumiyah yang terlihat pada tanggal 11 Oktober 2017 ada tambahan instrumen berupa penilaian diri siswa dan laporan hasil perkembangan karakter siswa yang dikhususkan Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak pada kelas 1-3. Instrumen ini diisi oleh orangtua, guru dan peserta didik. Istrumen penilaian diri ini terdiri atas 10 pilar yaitu: a. Cinta Allah dan segenap ciptaanNya b. Mandiri, disiplin dan tanggung jawab c. Jujur, amanah, suka berkata benar d. Hormat, santun dan pendengar yang baik e. Dermawan, suka menolong dan kerjasama f. Percaya diri, menyerah kreatif dan pantang g. Pemimpin yang baik dan adil h. Baik dan rendah hati i. Toleransi, cinta damai dan bersatu j. Kebersihan dan kerapian Kesepuluh pilar ini selanjutnya dijabarkan dalam pernyataan-pernyataan yang menunjukkan indikator dari masing-masing pilar tersebut. Adapun contoh bentuk instrumen penilaian diri dan laporan hasil perkembangan karakter peserta didik seperti terlihat pada gambar 4.2 berikut ini. Gambar 2 Contoh penilaian diri dan laporan hasil perkembangan karakter pilar 8 Hasil penilaian diri dan hasil perkembangan karakter ini dijadikan sebagai alat untuk mengetahui perkembangan karakter peserta didik, sekaligus dapat mengontrol perilaku-perilaku yang tidak mendukung perkembangan karakter peserta didik. Hasil dari penilaian ini didokumentasikan pada masing-masing file peserta didik. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Faktor Pendukung dan Penghambat dalam pelibatan orangtua Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan beberapa hal yang mendukung dan menghambat pelaksanaan kegiatan ini yaitu: pertama faktor manajemen sekolah, sumber daya organisasi, dan partisipasi orangtua. 1. Manajemen Sekolah Manajemen sekolah yang dimaksudkan dalam hal ini adalah pelaksanaan fungsi manajemen meliputi perencanaan, peng organisasian, koordinasi dan pengawasan. Pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut pada kegiatan yang melibatkan partisipasi orangtua, seperti home visit, pengajian bulanan dan buku mutabaah yaumiyah Pelaksanaan fungsi perencanaan dalam hal pelibatan partisipasi orangtua dapat terlihat dari penyiapan program pada kegiatan home visit, pembelajaran mengaji bagi orangtua, pengajian bulanan dan buku mutabaah yaumiyah. Pada kegiatan home visit, perencanaan dimulai dengan penetapan standar pelaksanaan kegiatan berupa standar waktu, standar fisik berupa aspek-aspek yang dijadikan fokus, dan standar biaya berupa biaya transportasi guru yang berkunjung. Standar waktu ditetapkan minimal 1 kali dalam satu tahun untuk tingkat SMP dan SMA, pada SD 2 kali dalam satu tahun (satu kali dalam satu semester), maksimalnya tidak ditentukan, karena untuk anak yang memerlukan pendampingan khusus atau sedang dalam masalah home visit kadangkala harus lebih sering dilakukan. Adapun aspek yang dijadikan fokus adalah pada pembinaan perilaku/karakter peserta didik. Semua aspek tersebut tertuang dalam instrumen yang telah disiapkan. Sedangkan standar pembiayaan, tidak disebutkan oleh yayasan. (Muh. Ahyar, wawancara, 10 Oktober 2017). Pada fungsi perencanaan ini yang menghambat adalah belum adanya perencanaan terkait pengembangan kapasitas guru yang melaksanakan kegitan home visit. Pada kegiatan pengajian orangtua perencanaannya diatur oleh musyrif Tarbawy dibawah koordinasi yayasan. Perencanaannya meliputi waktu pelaksanaan, materi pengajian | 153 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak dan pemateri serta pembiayaan terkait kegiatan pengajian bulanan ini. Pada pelaksanaan kegiatan pengisian buku mutabaah yaumiyah, perencanaannya meliputi pembuatan buku dan pengembangan instrumen jurnal harian serta penilaian diri, juga penetapan standar proses pelaksanaan pengisian buku mutabaah yaumiyah. Pelaksanaan fungsi pengorganisasian dapat terlihat pengaturan sumber daya manusia yang terdiri dari unsur yayasan, sekolah dan tenaga kependidikan. Sumber daya manusia SDIT al-Fityan terdiri atas 72 orang guru, 1 orang kepala sekolah, dan 4 orang tenaga kependidikan. Diantara 72 orang guru tersebut, ada yang juga difungsikan sebagai wakasek, kepala laboratorium, kepala perpustakaan, penanggungjawab kegiatan ekstrakurikuler, dan wali kelas. Pelaksanaan home visit dilaksanakan oleh wali kelas. Dengan jumlah siswa 630 orang, maka pelaksanaan home visit dikoordinasi langsung oleh wakasek kesiswaan dan kepala sekolah. Pada proses pengorganisasian siswa, digunakan prinsip pemisahan berdasar jenis kelamin. Peserta didik laki-laki akan divisit oleg guru laki-laki yang juga merupakan wali kelas, begitupula sebaliknya. Oleh karena itu, proses rekruitmen guru dan peserta didik selalu mempertimbangkan faktor jenis kelamin. Pelaksanaan pembelajaran mengaji, juga dilakukan oleh guru, khususnya guru penanggungjawab bidang al-Quran dan guru lainnya yang ditunjuk dan bersedia. Adapun faktor penghambat dalam pengorganisasian ini adalah masih kurangnya tenaga pendidik dan kependidikan tetap dan belum adanya peltihan khusus kepada para guru dalam pelaksanaan kegiatan pelibatan orangtua ini. Menurut kepala sekolah, beberapa guru yang berpengalaman akhirnya pindah setelah mereka lulus jadi PNS, atau ikut keluarga setelah mereka menikah. (St. Sohrah, Kepala Sekolah SDIT al-Fityan Gowa, Wawancara tanggal 11 Oktober 2017). Pelaksanaan fungsi koordinasi dilakukan dalam bentuk koordinasi antar unit di bawah yayasan, dan koordinasi antar bidang dibawah unit sekolah. Beberapa kegiatan yang 154 | St. Syamsudduha dikoordinir melalui yayasan yaitu pengajian orangtua, sedang kegiatan home visit dan proses pengisian buku mutabaah yaumiyah dikoordinir langsung oleh unit sekolah masingmasing. Koordinasi juga terlihat dari proses tindak lanjut hasil home visit dan hasil observasi melalui buku mutabaah yaumiyah. Pelaksanaan fungsi pengawasan dilakukan dengan menggunakan beberapa instrumen, seperti catatan hasil observasi aktivitas peserta didik, baik di sekolah maupun di rumah. Catatan hasil observasi tersebut dituangkan dalam bentuk laporan sederhana yang ditandatangani oleh orangtua dan kepala sekolah. Berikut ini adalah contoh laporan hasil home visit, yang sengaja di samarkan nama peserta didiknya. Gambar 3. Contoh laporan hasil home visit SDIT al Fityan Gowa Laporan tersebut di atas, merupakan bentuk akuntabilitas dari pihak manajemen sekolah kepada pihak orangtua dan masyarakat, terkait pelaksanaan pembinaan karakter peserta didik. 2. Sumber Daya Organisasi Faktor pendukung lainnya adalah ketersediaan sumber daya organisasi, berupa tenaga pendidik dan kependidikan yang terdidik serta memiliki komitmen dalam pembinaan generasi islami. Jumlah sumber daya manusianya sebanyak 72 orang guru, 4 orang staf tenaga kependidikan dan 1 kepala sekolah. Selain itu, sekolah ini berlokasi di tempat yang strategis di Jl. PallantikangI/ Belibis, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa di atas tanah seluas 6.605 m2 dengan luas bangunan 6.041 m2. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha Selain prasarana tersebut, SDIT al Fityan juga dilengkapi dengan sarana pendidikan yang sangat lengkap, meliputi sarana laboratorium, perpustakaan dan media pembelajaran yang berbasis IT. Dari segi sumber daya organisasi hampir tidak ditemukan faktor penghambat. 3. Partisipasi Orangtua Faktor yang juga ikut berpengaruh dalam program pelibatan orangtua dalam pendidikan anak di sekolah adalah partisipasi orangtua. Ada beberapa bentuk partisipasi orangtua yang ikut berkontribusi terhadap pelaksanaan pendidikan anak di sekolah, yaitu dalam bentuk finansial berupa pembayaran dana pendidikan peserta didik yang cukup besar sesuai dengan bentuk layanan pendidikan yang diberikan. Selain bentuk partisipasi tersebut, orangtua juga diharapkan membantu melaksanakan pendidikan anak dengan ikut serta mendampingi anak dalam belajar dan melaksanakan program pendampingan yang sudah disiapkan sekolah, misalnya saja dengan memberi informasi tentang perkembangan karakter anak di rumah, melalui buku penghubung harian mutabaah yaumiyah yang sudah disiapkan sekolah. Terkait dengan hal ini, ada beberapa hambatan yaitu kesibukan orangtua, yang menyebabkan mereka tidak sempat untuk mengisi catatan orangtua pada buku penghubung tersebut. Seperti salah seorang orangtua menyatakan bahwa “saya terkadang lupa mengisi catatan orangtua, karena banyaknya pekerjaan kantor yang dikerjakan di rumah. (Patta Bundu, Orangtua siswa, wawancara tanggal 5 November 2017). PEMBAHASAN Kegiatan pelibatan orangtua yang dilakukan di SDIT al- Fityan dalam hal pendidikan anak di sekolah, seperti program home visit, pengajian bulanan dan pengisian buku mutabaah yaumiyah merupakan hal positif yang dapat dilakukan oleh sekolah. Bila melihat proses yang dilalui, maka ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Slavin (2011:185) yang menyatakan bahwa pelibatan orangtua yang dapat dilakukan Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak sekolah antara lain berbentuk; kunjungan keluarga pada awal semester untuk mengetahui dukungan keluarga, kondisi psikologi dan kecerdasan siswa; begitupula halnya dengan kegiatan pertemuan orangtua melalui pengajian bulanan sesuai dengan pandangan Slavin (2011: 185) bahwa kegiatan pelibatan orangtua adalah dengan menyampaikan berita berkala kepada orangtua untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran, dan melakukan lokakarya orangtua, dengan mengundang orangtua ke sekolah sehingga guru/sekolah dapat menjelaskan proses pembelajaran dan harapan guru/sekolah dan orangtua dapat memahami bagaimana cara mendukung pembelajaran anak. Hal ini juga menguatkan pandangan yang menyebutkan bahwa pelibatan orang tua dapat dibagi dalam dua kategori yaitu keterlibatan orang tua dalam kehidupan atau aktivitas di sekolah (school-based involvement) dan keterlibatan dalam mendukung anak secara individu di rumah (home-based involvement) (Chowa, Masa, & Tucker, 2013; DCSF, 2008). Pelibatan ini menjadi penting, khususnya dalam pembentukan karakter anak, karena untuk melanggengkan sebuah perilaku positif dibutuhkan pembiasaan dan keteladanan. Pembiasaan yang dilakukan tidak konsisten antara di sekolah dengan di rumah, akan memungkinkan terjadinya miskonsepsi pada diri anak terhadap perilaku tersebut. Olehnya itu menurut Eipstein (2002) salah satu type pelibatan orangtua adalah adanya kolaborasi antara sekolah, rumah dan masyarakat (Collaborating with community) yaitu mengidentifikasi dan mengintegrasikan sumber-sumber dan pelayanan dari komunitas yang memperkuat program sekolah, kegiatan keluarga, pembelajaran dan pengembangan siswa. Komunitas tidak hanya lingkungan dimana siswa berdomisili atau lokasi dimana sekolah berada, akan tetapi lingkungan manapun yang memberi pengaruh terhadap pembelajaran dan perkembangan siswa. Satu hal yang menarik ditemukan di SDIT al-Fityan yaitu adanya pelatihan orangtua, melalui pembelajaran membaca al | 155 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak Quran, dan workshop/ pengasuhan (parenting). seminar St. Syamsudduha tentang Agar pelaksanaan program pelibatan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak di sekolah dapat berlangsung secara efektif dan efisien, maka program ini harus dikelola dengan manajemen yang baik, melalui proses perencanaan dengan selalu berorientasi pada peserta didik, pengorganisasian, koordinasi dan pengawasan yang dilakukan secara sistematis dan tetap berorientasi pada tujuan. PENUTUP Simpulan Beberapa simpulan yang dapat dikemukakan terkait hasil penelitian, adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan anak yang dilaksanakan di SDIT al-Fityan Gowa berorientasi pada pembentukan karakter islami. Dalam mencapai tujuan tersebut, SDIT al Fityan selain menggunakan kurikulum nasional, juga terdapat beberapa muatan lokal seperti baca tulis al Quran dan sikap terpuji serta keterampilan hidup. Pembelajaran kemampuan membaca al Quran dalam bentuk pembelajaran al Quran, dan tahfidz al Quran. 2. Bentuk pelibatan partisipasi orangtua yang dilakukan oleh SDIT al Fityan berupa kegiatan kunjungan rumah (home visit), pengajian bulan, pembelajaran mengaji bagi orangtua, dan pengisian buku penghubung yang disebut sebagai mutabaah yaumiyah. Pelibatan ini dimaksudkan agar pembelajaran dalam bentuk pembiasaan yang dilakukan di sekolah dapat terjaga dan tetap terdampingi di rumah. 3. Faktor-faktor yang mendukung kegiatan pelibatan partisipasi orangtua ini adalah faktor manajemen sekolah berupa pelaksnaan fungsi-fungsi manajemen, faktor sumber daya organisasi dan partisipasi orangtua berupa pembiayaan pendidikan dan kesediaan untuk mengikuti program yang disiapkan 156 | sekolah serta pemberian informasi tentang aktivitas anak di rumah. Saran 1. Pelaksanaan pendidikan anak dengan orientasi pada pembentukan karakter islami tetap dilanjutkan dengan meningkatkan kapasitas pengelola dan sumber daya manusia lainnya terkait pengasuhan islami (parenting). 2. Bentuk pelibatan partisipasi orangtua dalam pendidikan anak agar lebih ditingkatkan, khususnya terkait hasil pengamatan terhadap aktivitas anak dan tindak lanjut hasil pengamatan serta pengelolaan kegiatan dengan mensinergikan semua unsur yang ada di sekolah untuk memantau perkembangan anak. 3. Praktik baik yang telah dilakukan agar dapat di sosialisasikan ke sekolah-sekolah lain, agar praktik baik ini dapat diadaptasi oleh sekolah lain. Implikasi Penelitian 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan pada sekolah publik dengan beberapa penyesuaian, misalnya dalam hal penyesuaian jumlah peserta didik dalam 1 kelas, agar anak mendapatkan perhatian lebih maksimal.juga dalam hal penyediaan guru wali yang khusus melakukan pengamatan aktivitas anak dan mendampingi anak dalam belajar. 2. Pelibatan orangtua dalam pembentukan karakter anak, perlu mendapat perhatian sekolah, dan bila diperlukan sekolah dapat menjadi mediator pendidikan keluarga yang sangat efektif. Hal ini diperlukan karena beberapa institusi yang selama ini melaksanakan pendidikan keluarga, masih belum cukup efektif. 3. Pelibatan orangtua dan unsur masyarakat lainnya, memerlukan pengelolaan yang baik. Pengelolaan yang baik melalui perencanaan, pengorganisasian sumber daya, dan koordinasi antar pihak yang dilibatkan serta pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan. Begitupula halnya dengan analisis tindak lanjut dari proses Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 St. Syamsudduha tersebut. Pelaksanaan tersebut harus tetap mempertimbangkan faktor anak di dalamnya. DAFTAR PUSTAKA Al Bukhari al Ju’fi, Muhammad Ibnu Ismail Abu Abdullah, (1422 H) Shahih alBukhari. Cet. I, Juz 2, Dar’Tawuf AnNajah. Damaskus. Al-Bukhariy, Imam. 1992. Shahih al-Bukhari, Juz I. Cet. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmi. Centre for Real-World Learning (2010) The impact of parent engagement on learner success. Research into Practice, No. 1 Chowa, G., Masa, R., & Tucker, J. (2013). The effects of parental involvement on academic performance of Ghanaian youth: Testing measurement and relationship using structural equation modeling. Children and Youth Services Review, 35(12), 2020-2030. doi:10.1016/ j.childyouth.2013.09.009 Conway, K.S., & Houtenville, A.J. (2008). Parental Effort, School Resources and Student Achievement, The Journal of Human Resources. XLIII.2, 438-453 Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches, London: Sage Publication Inc., Thousand Oaks Engkoswara & Aan Komariah, 2011, Administrasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta Epstein, J.L., Sanders, M.G., Simon, B.S., Salinas, K.C., Jansorn, N.R. and Voorhis F.L. (2002) School, Family and Community Partnerships: Your Handbook for Action (2nd edition). Corwin, Thousand Oaks, California Erwan Agus Purwanto. (2006). Pelayanan Publik Partisipatif. dalam Agus Dwiyanto (Ed). Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. (h.173-222). Jogjakarta: Gadjah Mada university Press. Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak Fattah, N. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Gulick, Luther. (1965, 1 Maret) Management is a science, Academy of Management Journal, Vol. 8, No.1, h. 7-13 Junianto, Dwi. (2015). Pengaruh Kinerja mengajar guru, keterlibatan orangtua, aktualisasi diri terhadap motivasi berprestasi, Jurnal pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Volume 22, Nomor 3 Mei 2015 Machali, Imam dan Ara Hidayat, (2016) The Handbook of Education Management: Teori dan Praktik Pengelolaan Sekolah/Madrasah di Indonesia, Jakarta: Kencana Nurkolis, 2003, Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi, Jakarta: Grasindo Ridhotullah, Subeki dan Mohammad Jauhar. (2015) Pengantar Manajemen, Jakarta: Prestasi Pustakaraya Slavin, R.E. (2011). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktek, Edisi ke 9, Jilid 2. Jakarta: Indeks Steinberg, L. (1996). Beyond The Classroom: Why School Reform has Failed and what Parent Need to Do. New York: Simon & Schuster Stoner, J.A.F. dan Wankel Charles. 1986. Manajemen. terj. Wilhelmus W. Bakowatun. Jakarta: Intermedia. Stoner, James A.F. (1982). Management. New York: Prentice/ Hall International, Inc. Englewood Cliff Sugihandari.(2015, 5 Mei) Pentingnya Partisipasi Keluarga dalam Pendidikan Anak, Kompas online Syamsudduha, St., 2004, Manajemen Pesantren: Teori dan Praktek, Yogyakarta: Graha Guru Syamsudduha, St., 2014, Governance dalam Manajemen Pendidikan, Makassar: Alauddin University Press Syamsudduha, St., dan Dion Ginanto, (2016) Parental Involvement in Indonesia: A study on two Public Schools in Makassar, | 157 Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Anak St. Syamsudduha Yogyakarta: UNY Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), volume 66 1st Yogyakarta International Conference on Educational Management/Administra tion and Pedagogy (YICEMAP) Wilcox, D.,1994, The Guide to Participation, akses via www.partnership.org.uk 158 | Effective internet Wildensyah, Iden. (2015,12 Oktober) Tahapan Pendidikan Anak dalam Islam yang Penting Diketahui oleh Orangtua dan Guru, dari Abiummi.com Wirawan. (2016). Evaluasi: Teori, Model, Metodologi, Standar, Aplikasi dan Profesi. Cet ke-3. Jakarta: Rajawali Pers Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 - Desember 2017