Excellent Midwifery Journal Volume 1 No. Juni 2018 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 STIMULASI IBU TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 36-60 BULAN DI PAUD BANUS NUSANTARA LOA JANAN Suyanti Suwardi1 Novy Ramini Harahap2. Indah Dewi Sari3. Delpi Lintik Pasoloran4 S1 Kebidanan dan Profesi Bidan. Fakultas Farmasi dan Kesehatan. Institut Kesehatan Helvetia Medan Email: yantisetiawan2019@gmail. ABSTRAK Permasalahan gangguan perkembangan anak di masyarakat, khususnya di Indonesia, masih belum terselesaikan dari tahun ke tahun. Data tahun 2021 menunjukkan bahwa masalah perkembangan anak di Indonesia cukup tinggi, dengan sekitar 13-18% balita mengalami keterlambatan Peran penting seorang ibu mencakup pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak, merawat keluarga dengan kesabaran dan konsistensi, mendidik anak, menjadi teladan, serta memberikan stimulasi dan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stimulasi ibu dan perkembangan anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan pada Desain penelitian ini adalah survei analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup semua ibu dengan anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda, dengan jumlah total 58 ibu, dan menggunakan metode total populasi. Data yang digunakan mencakup data primer dan sekunder, dan analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stimulasi ibu dan perkembangan anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda pada tahun 2024, dengan nilai p = 0,003 < 0,05. Kesimpulannya, terdapat hubungan antara stimulasi ibu dan perkembangan bahasa anak usia 36-60 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan informasi kepada orang tua tentang pentingnya stimulasi untuk mendukung perkembangan anak dan membantu deteksi dini jika terjadi keterlambatan perkembangan. Kata Kunci: Balita. Stimulasi. Perkembangan LATAR BELAKANG PENDAHLUAN Anak adalah generasi penerus bangsa, sehingga diperlukan kualitas yang baik untuk masa depan mereka. Setiap anak menjadi harapan orang tua sebagai penerus keluarga dan masa depan bangsa. Untuk mendukung tumbuh kembang yang sehat, cerdas, dan sesuai tahap perkembangannya, penting untuk memenuhi semua kebutuhan anak, termasuk kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan Pertumbuhan dan perkembangan yang optimal bertujuan agar anak menjadi individu yang berkualitas, tidak hanya tumbuh secara fisik tetapi juga mampu menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat Oleh karena itu, masa anak-anak perlu mendapatkan perhatian khusus. Periode balita adalah salah satu fase tumbuh kembang yang sangat penting, karena pada masa ini pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Tumbuh kembang pada masa balita membentuk dasar bagi perkembangan anak di usia selanjutnya, sehingga tahun-tahun pertama kehidupan merupakan waktu yang krusial. Usia 3-5 tahun adalah masa yang penuh kebahagiaan dan kepuasan bagi anak dalam seluruh fase Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memastikan agar proses ini berjalan dengan baik. Pada masa balita, anak sangat membutuhkan beragam bentuk dukungan dari orang dewasa, mulai dari kebutuhan fisik hingga spiritual. Anak-anak memiliki hak yang setara dengan orang dewasa dalam kehidupan, seperti hak atas pendidikan, kesehatan, perlindungan dari kekerasan, dan rasa aman. Namun, tidak semua hak ini dapat mereka peroleh dengan mudah dari orang dewasa di sekitar mereka. Pertumbuhan merupakan perubahan yang bersifat kuantitatif, seperti peningkatan berat dan tinggi badan, yang ditandai dengan kematangan organ fisik serta peningkatan kompleksitas jaringan otot dan saraf. Perubahan kuantitatif ini terlihat dari peralihan potensi menjadi keterampilan nyata, di mana kesiapan fisik memungkinkan seseorang untuk melakukan berbagai tindakan dan aktivitas Kematangan fisik, perkembangan sistem saraf, dan kesiapan fisik bersama-sama menghasilkan perubahan dalam aktivitas. Sementara peningkatan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, berlangsung dalam pola yang teratur dan dapat diprediksi, sebagai hasil dari proses pematangan atau maturitas . Perkembangan melibatkan proses diferensiasi sel, jaringan, organ, dan sistem organ tubuh yang berkembang untuk memenuhi fungsi masing-masing. Proses ini mencakup perkembangan kognitif, bahasa, motorik, emosi, dan perilaku, yang terjadi sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sekitarnya . Empat aspek utama yang dinilai dalam perkembangan anak adalah perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan Keempat aspek ini akan berkembang secara optimal sesuai dengan usia anak apabila faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan juga mendukungnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan balita adalah stimulasi . Stimulasi adalah perangsangan yang datang dari lingkungan luar anak. Anak yang mendapatkan stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibanding dengan anak yang kurang baik/tidak mendapatkan stimulasi . Stimulasi dapat diberikan oleh orang-orang yang berada disekitar lingkungan anak . Mulai dari guru, pengasuh, keluarga serta orang yang paling dekat dengan anak yaitu orang tua. Faktor ini termasuk kedalam faktor lingkungan yang merupkan kebutuhan dasar anak dalam . Menurut hasil penelitian World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 bahwa meningkat, angka kejadian di Amerika Serikat berkisar 12-16%. Argentina 20%. Thailand 37,1%, dan di Indonesia antara 13-18% (Riset Kesehatan Dasar 2. Melihat data epidemiologi tersebut, maka diperlukan deteksi dan intervensi dini pada anak dengan gangguan perkembangan. Sehingga apabila perkembangan motorik anak terganggu, maka perkembangan selanjutnya akan terganggu pula jika tidak ditangani dengan baik apalagi kualitassumber daya manusia kelak. Permasalahan perkembangan di tengah masyarakat dari tahun ke tahun khususnya di Indonesia masih belum teratasi (Kementerian Kesehatan RI 2. Kejadian ini dibuktikan oleh angka kejadian masalah perkembangan anak di dunia sekitar 12-16 %, sedangkan prevalensi masalah perkembangan anak di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 11-16 %. Pada tahun 2017 sebesar 10-14% anak mengalami gangguan perkembangan sedangkan tahun 2018 sejumlah 13- 18%. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia pada tahun 2021 masalah perkembangan anak sukup tinggi sekitar 13- 18% balita mengalami keterlambatan perkembangan. Data kesehatan Indonesia tahun 2020, mengatakan jumlah balita dengan interval umur 1-4 tahun 791 jiwa. Sekitar 16% dari anak usia dibawah lima tahun . di Indonesia mengalami gangguan perkembangan saraf dan otak mulai dari yang ringan sampai berat, sedangkan sekitar 5-10% anak perkembangan secara umum . Berdasarkan Riskesdas Kalimantan Timur pada tahun 2021 persentase cakupan pelayanan kesehatan anak balita lima tahun terakhir berflutuaksi yaitu yang tertinggi pada tahun 2018 sebesar 76%,sementara pada tahun 2019 sebesar 67% dan di tahun 2020 sebesar 65%, kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal, penelitian perkembangan gerak kasar, gerak halus, sosialisasi dan kemandirian, suatu indikator yang bisa menjadi tolak ukur keberhasilan dalam upaya peningkatan perkembangan. Perkembangan motorik halus anak berkembang terlebih dahulu, ketika usia- usia awal yaitu usia satu atau usia dua tahun kemampuan motorik kasar yang berkembang dengan pesat. Mulai usia 3 tahun barulah kemampuan motorik anak akan berkembang dengan pesat, anak mulai tertarik untuk memegang pensil walaupun posisi jari-jarinya masih dekat dengan mata pensil selain itu anak juga masih kaku dalam melakukan gerakan tangan untuk menulis. Untuk perkembangan motorik kasar juga diperlukan stimulasi yang terarah dengan bermain, atau olah raga. Stimulasi yang terarah bagi anak sejalan dengan hasil penelitian Anderson dalam Nototmodjo . yang meneliti mengenai The Effectiveness of Early Toddlerhood Development. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah Programs pengembangan anak usia dini dipengaruhi oleh karakteristik anak, keluarga, danlingkungan sosial yang lebih Kesehatan fisik, kognisi, bahasa, dan mendukung kesiapan sekolah, sehingga anak yang masuk ke sekolah akan lebih mudah menerima stimulasi yang diterimanya . Dalam upaya mengoptimalkan segala bentuk kecerdasan yang dimiliki anak, peran serta masyarakat dan pemerintah menjadi suatu keharusan sehingga segala bentuk kendala dapat teratasi. Kendala terbesar dalam memberikan pelayanan terhadap anak adalah kurangnya pengetahuan orang tua tentang pentingnya pendidikan yang menjadi dasar untuk mereka, selain kebutuhan fisiknya. Orang tua harus memahami tahap - tahap perkembangan anak agar anak bisa tumbuh kembang secara optimal yaitu dengan memberi anak stimulus. Orang tua juga jangan terlalu over protektif terhadap anak tetapi selalu memberi anak penghargaan berupa pujian, pelukan, dan sebagainya . Upaya kesehatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan tumbuh kembang anak yang optimal dan mengurangi gangguan tumbuh kembang anak adalah dengan pemberian stimulasi tumbuh kembang anak. Sejak didalam masa kandungan seorang anak memiliki potensi yang harus diberikanstimulus atau rangsangan. Potensi yang dimiliki seorang anak terus menerus diberikan stimulus atau rangsangan oleh orang tua dengan cara bervariasi, penuh kasih sayang serta dengan suasana bermai. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan balita adalah stimulasi . Stimulasi adalah perangsangan yang datang dari lingkungan luar anak. Anak yang mendapatkan stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibanding dengan anak yang kurang baik/tidak mendapatkan stimulasi. Stimulasi dapat diberikan oleh orang-orang yang berada disekitar lingkungan anak. Mulai dari guru, pengasuh, keluarga serta orang yang paling dekat dengan anak yaitu orang tua . Faktor ini termasuk kedalam faktor lingkungan yang merupkan kebutuhan dasar anak dalam perkembangannya. Stimulasi yang baik merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan balita. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan balita ialah dengan diberikan stimulasi yang baik. Adanya interaksi antara mempengaruhi penyusunan struktur syaraf dalam perkembangan. Sehingga dengan melihat sangat pentingnya stimulasi orang tua terhadap tumbuh kembang pada anak prasekolah dan melihat berbagai dampak adanya keterlamabatan tumbuh kembang yang terjadi pada anak dengan kurangnya stimulasi orang tua . Dalam perkembangan peran orang tua merupakan salah satu faktor yang mendukung dalam kesesuaian perkembangan anak. Orang tua dapat memberikan stimulasi kepada anak pada masa emas anak karna akan lebih optimal, apalagi jika dilengkapi dengan kebutuhan nutrisi yang tepat. Stimulasi pada anak akan menciptakan anak yang cerdas, dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, mandiri, memiliki emosi yang stabil, serta mudah beradaptasi . Berdasarkan hal tersebut menurut Siregar maka semakin jelas peran orangtua dalam memberikan stimulasi bagi anak khususnya usia prasekolah, terutama seorang ibu yang secara emosional lebih memiliki kedekatandengan anak. Peran penting ibu yaitu memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikis, merawat keluarga dengan sabar dan konsisten, mendidik anak, menjadi teladan serta memberi rangsangan . dan pelajaran bagi anak . Berdasarkan penelitian Septiyani . di PAUD AL-IMAN Kota Semarang hasil pelaksanaan KPSP didapatkan 50 anak . ,5%) memiliki perkembangan normal, dan 19 anak . ,5%) memiliki perkembangan tidak normal . Menurut penelitian Larasati . dengan pendekatan cross sectional mengenai perkembangan anak usia 4-5 tahun di TK Muslimat Desa Karang tengah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. hasil anak yang mendapatkan stimulasi positif memiliki perkembangan sesuai sebanyak 29 responden . ,8%), perkembangan meragukan 5 responden . ,6%) dan perkembangan menyimpang 1 responden . ,9%) . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jannah tahun 2023 dari 26 responden yang stimulasinya baik, 100% perkembangannya normal sedangkan dari 1 7 responden yang stimulasinya kurang baik 2 responden . ,8%) perkembangannya . ,2%) perkembangannya tidak normal. Hasil analisis bivariat ada hubungan stimulasi ibu dengan perkembangananak usia 3-5 tahun dengan nilai p=0,000. p<0,05 . Berdasarkan survei pendahuluan yang saya lakukan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarind pada 15 murid usia 3-5 tahun didapatkan 13 anak memiliki perkembangan normal dan 2 anak memiliki perkembangan meragukan dimana anak tampak tidak perdulu dengan kegiatan belajar dan lebih banyak diam diabndingkan dengan temannya. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik . enelitian analiti. dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan . Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda yang tercatat register tahun 2023/2024 berjumlah 58 orang, teknik sampel menggunakan sampling jenuh berjumlah 58 Teknik Pengumpulan Data yaitu data primer yaitu data PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarind. Pengumpulan dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner. Data Sekunder yaitu data dari PAUD Banus Nusantara Loa Janan dan lain-lain. Data Tertier data yang diperoleh dari naskah yang sudah dipublikasikan, misalnya WHO. Depkes. Analisa Data univariat dan bivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Karakteristik Responden Umur Orang Tua 20-35 Tahun 36-45Tahun Pendidikan Orang Tua Perguruan Tinggi SMA Usia Anak 36-41 Bulan 42-47 Bulan 48-53 bulan 54-60 bulan Jenis Kelamin Anak Laki-laki Perempuan Total Berdasarkan tinggi sebanyak 31 orang . 4%), usia anak bahwa dari 58 responden berdasarkan umur mayoritas 48-53 bulan sebanyak 27 orang orang tau diperoleh responden mayoritas . 6%), dan jenis kelamin anak mayoritas berumur 20-35 tahun sebanyak 39 orang perempuan sebanyak 32 orang . 2%). 2%), mayoritas berpendidikan perguruan Analisis Univariat Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Stimulasi (Gerakan Kasar. Halus. Sosialisasi. Bahas. Anak Usia 36-60 bulan Stimulasi Baik Kurang Perkembangan anak Normal Meragukan Menyimpang Berdasarkan responden berdasarkan perkembanagan anak bahwa dari 58 responden berdasarkan stimulasi diperoleh responden mayoritas normal diperoleh responden mayoritas stimulasi baik memberikan sebanyak 55 orang . 8%), sebanyak 55 orang . 8%) dan stimulasi meragukan sebanyak 3 orang . 2%) dan kurang sebanyak 3 orang . 2%). Berdasarkan menyimpang tidak ada . 0%). 3 menunjukkan bahwa dari 58 Analisis Bivariat Tabel 3 Hubungan Stimulasi dengan Perkembangan Motorik Anak Usia 36-60 bulan Stimulasi Perkembangan Motorik Anak Jumlah value Normal Meraguka Menyimpan Baik 0,000 Kurang Berdasarkan tabel 2 hasil tabulasi hubungan stimulasi dengan perkembangan motorik anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda diperoleh stimulasi baik sebanyak 55 orang . 8%) dimana normal sebanyak 54 orang . 1%) dan meragukan sebanyak 1 orang . 7%) dan stimulasi kurang sebanyak 3 orang . 2%) dimana normal sebanyak 1 orang . 7%), dan meragukan sebanyak 2 orang . 4%). Hasil analisis uji statistic chi-square diperoleh nilai p = 0,000< 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan stimulasi dengan perkembangan motorik anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda Tahun 2024. Pembahasan Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Stimulasi Anak Usia 36-60 Berdasarkan tabel 4. 2 menunjukkan bahwa dari 58 responden berdasarkan stimulasi diperoleh responden mayoritas stimulasi baik sebanyak 55 orang . 8%) dan stimulasi kurang sebanyak 3 orang . 2%). Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Agkial tahun 2020 bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi dengan perkembangan anak prasekolah di RT 05. RW 06 Kelurahan Bitowa. Kecamatan Manggala. Metode penelitian ini deskriptif korelatif, jenis penelitian ini adalah Non-Eksperimental. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah 30 Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner untuk pengetahuan dan format KPSP untuk perkembangan anak. Sedangkan uji statistik yang digunakan adalah uji statistik parametrik dengan menggunakan Chi-square dengan tingkat kemaknaan =0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi dengan perkembangan anak prasekolah, dengan nilai p=0,019 . Peran orang tua terutama ibu adalah guru yang alami. Orang tua adalah guru yang alami bagi anak. Anak lebih banyak belajar dari orang tua dibanding dengan permainan, jadi peran mainan dalam perkembangan diri anak sebenarnya cuma sebagai alat bantu, maka dalam bermain anak tetap memerlukan Hasil penelitian menunjukkan anak belajar banyak dalam kebersamaan dengan ibunya. Di dalam perkembangan seorang anak, stimulasi merupakan suatu kebutuhan dasar. Stimulasi dapat berperan untuk peningkatan fungsi sensorik . engar, raba, lihat rasa, ciu. , motorik . erak kasar, gerak halu. , emosi dan sosial, bahasa, kognitif, mandiri, dan kreativitas . oral, kepemimpina. sel otak pada bayi dibentuk semenjak 6 bulan masa kehamilan . Peran seorang ibu dalam pengasuhan anak, juga dalam pemberian stimulasi pada anak sangat besar. Interaksi antara anak dan orang tua terutama peranan ibu, sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat sesegera mungkin mengenali kelainan proses perkembangan anaknya dan sedini mungkin untuk memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Karena itu diperlukan pengetahuan dan sikap yang benar oleh orang tua . tentang pemberian stimulasi agar perkembangan anak dapat tumbuh optimal . Orang tua harus selalu memberikan rangsang atau stimulasi kepada anak dalam semua aspek perkembangan baik motorik kasar, motorik halus, bahasa dan personal Stimulasi ini harus di berikan secara rutin dan berkesinambungan. Stimulasi ini diberikan bisa dengan kasih sayang, metode bermain dan lain-lain. Sehingga perkembangan anak akan berjalan optimal. Kurangnya stimulasi dari orang tua dapat mengakibatkan keterlambatanperkembangan anak, oleh karena itu para orang tua atau pengasuh harus diberi penjelasan cara-cara melakukan stimulasi kepada anak-anak . Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan tugas perkembangan anak. Tugas perkembangan anak adalah tugas yang muncul pada periode tertentu dalam kehidupan Keberhasilan pencapaian tugas perkembangan di masa lalu membuat seseorang bahagia dan sukses melalui tahap perkembangan berikutnya . Tiga perkembangan anak merupakan periode emas atau masa kritis untuk optimalisasi proses tumbuh kembang dan merupakan masa yang tepat untuk seorang anak menjadi dewasa yang unggul dikemudian hari. Ibu memiliki peran penting dalam optimalisasi perkembangan seorang anak. Ibu harus selalu memberikan rangsangan atau stimulasi kepada anak dalam semua aspek perkembangan baik motorik kasar maupun motorik halus, bahasa dan personal Stimulasi ini harus di berikan secara rutin dan berkesinambungan dengan kasih sayang, metode bermain dan lain-lain . Proses pemberian stimulus dari orang tua agar mampu meningkatkan tumbuh kembang anak dengan cara pemberian kasih sayang yang cukup, selalu menunjukan sikap dan prilaku yang baik karena anak akan meniru tingkah laku orang didekatnya, melakukan menyenangkan bagi anak, tanpa paksaan, dan tidak ada hukuman, gunakan alat bantu permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar anak, serta mempunyai unsur edukatif dan selalu beri pujian, bila perlu hadiah atas keberhasilan anak . Menurut asumsi peneliti bawah stimulasi yang diberikan orang tua berhungan dengan perkembangan motorik kasar anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda, dan jika dilihat dari hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang memberikan stimulasi sebanyak 55 orang hal ini sudah diberikan ibu sejak anak sebelum membiasakan anak mendapatkan stimulasistimulasi dari orang tuanya sehingga pada saat anai masuk PAUDsudah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan disekolah yang diajarkan dalam kegiatan belajar bermain, berbicara dan berosialisai dengan kawan-kawan lainnyta dilingkungan PAUD dan sebanyak 3 orang tua yang kurang baik dalam mmberikan stimulasi sehinggaanakurang terbiasa dengan lingkungan di PAUD. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai Perkembangan anak yaitu perkembangan kognitif, motorik, bahasa, emosi, dan perkembangan perilaku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan . Perkembangan motorik anak akan lebih teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang anak mendukung mereka untuk bergerak bebas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan yang terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot. Jika pemaksimalan ruangan bisa dijadikan strategi untuk menyediakan ruang gerak yang bebas bagi anak untuk berlari, berlompat dan menggerakan seluruh tubuhnya dengan caracara yang tidak terbatas. Selain itu, penyediaan peralatan bermain di luar ruangan bisa mendorong anak untuk memanjat, koordinasi dan pengembangan kekuatan tubuh bagian atas dan juga bagian bawah. Stimulasi- stimulasi tersebut akan membantu pengoptimalan motorik kasar . Perkembangan motorik pada anak usia prasekolah sudah memiliki kontrol yang lebih besar, cenderung gesit dalam berdiri, berjalan, berlari, melompat, naik turun tangga, berjalan maju mundur, berdiri dengan satu kaki, melempar, menangkap, menendang dll. Apabila tidak terpenuhi maka akan mempengaruhi kemampuan dalam ketrampilan motorik halus . isalnya menulis, menggambar dan memoton. , karena tanpa ketrampilan motorik kasar yang seimbang maka anak akan banyak berusaha keras untuk melakukan tugas sehari-hari nantinya . Dalam motorik anak mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk bergerak. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak. Misalnnya ketika anak melihat mainan dengan beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otaknnya bahwa dia ingin memainkannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, yaitu bergerak untuk Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya yaitu mengambil mainan yang menarik baginya . Perkembangan ditingkatkan dengan pemberian stimulus yang Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perkembangan Anak Usia 3660 bulan Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari 58 responden berdasarkan perkembanagan anak diperoleh responden mayoritas normal memberikan sebanyak 55 orang . 8%), meragukan sebanyak 3 orang . 2%) dan menyimpang tidak ada . 0%). Hasil peneliti Perdani, dkk tahun 2021 dengan hasil penelitian menunjukan hubungan antara stimulasi terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah (Penelitian tersebut melaporkan bahwa semakin baik stimulasi, maka akan semakin normal perkembangan motorik halus seorang anak. Dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak adalah faktor keturunan . dan lingkungan. Potensi bawaan yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal dengan hasil Terdapat hubungan yang bermakna antara stimulasi ibu dengan perkembangan motorik kasar . = 0,. , motorik halus . =0,. , bahasa . =0,. dan personal sosial . =0,. Perkembangan ditandakan dengan bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari pematangan. Proses berkembanganya sel-sel tubuh, organorgan dan sistem organ yang berkembang sehingga masing-masing dapat memenuhi diberikan secara terus menerus dan konsisten. Berbagai macam stimuus yang bisal dilakukan antara lain dengan permainan. Permainan kolase adalah untuk menstimulasi kemampuan motorik halus anak khususnya pada aspek koordinasi mata dan tangan saat menempel dan merekat, anak dapat berkreasi membuat kolase dengan berbagai media sehingga melatih kepekaan estetis anak dengan memanfaatkan barang di sekitar yang sudah tidak terpakai lagi . Menurut asumsi peneliti bawah perkebmangan anak sudah normal sebanyak 55 orang anak, dilihat dalam kegiatan sehiari-hari selama di PAUD anak dapat menyelesaikan kegiatan selama pembelajaran, dan dirumah juga anak sudah bida melakukan kegiatankegiatan sesuai dengan perkembangan anak dan sebanyak 3 responden yang mengalami keadaan meragukan dan perlu dilakukan stimulasi baik dirumah dan disekolah sehingga bulan depan perlu dilihat kembali perkembangannya. Hubungan Stimulasi dengan Perkembangan Motorik Anak Usia 36-60 bulan Berdasarkan tabel diatas hasil tabulasi hubungan stimulasi dengan perkembangan motorik anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda diperoleh stimulasi baik sebanyak 55 orang . 8%) dimana normal sebanyak 54 orang . 1%) dan meragukan sebanyak 1 orang . 7%) dan stimulasi kurang sebanyak 3 orang . 2%) dimana normal sebanyak 1 orang . 7%), dan meragukan sebanyak 2 orang . 4%). Hasil analisis uji statistic chi-square diperoleh nilai p = 0,000< 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan stimulasi dengan perkembangan motorik anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda Tahun 2024. Penelitian Sari tahun 2020 dengan judul Pola asuh orang tua dengan perkembangan psikis anak balita. Sampel penelitian sejumlah 22 kasus dan 22 kotrol dari 72 populasi, teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan taraf signifikan 0,05. Hasil penelitian diketahui, stimulasi baik dengan perkembangan motorik normal 13 Responden . ,1%), stimulasi buruk dengan perkembangan motorik normal 2 responden . ,1%) dan untuk stimulasi baik dengan perkembangan motorik abnormal 9 responden . ,9%) sementara stimulasi buruk dengan perkembangan motorik abnormal 20 responden . ,9%). Hasil uji korelasi antara stimulasi pValue=0,000. Dengan nilai koefisiensi 0,467 diinterpretasikan bahwa kekuatan pengaruh antara variabel pada tingkat sedang. Variabel yang besar pengaruhnya terhadap pencapaian perkembangan motorik adalah pemberian Hal ini disebabkan oleh keefektifan orang tua dalam pemberian stimulasi sesuai usia anak . Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Renteng tahun 2020 dengan judul hubungan mengetahui hubungan stimulasi perkembangan dengan perkembangan anak usia prasekolah di TK Titian Pelangi Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dan melalui teknik non probability sampling di dapat 37 siswa dengan rentang usia 4 Ae 6 tahun di TK Titian Pelangi Jakarta Pusat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara perkembangan anak usia prasekolah dengan P value = 0,037 (< 0,. Perkembangan otak pada anak dengan usia 5 tahun pertama akan lebih cepat, intensif dan sensitif terhadap pengaruh dari eksternal dan lingkungan. Sehingga dengan mengikuti pembelajaran, tentunya dengan fasilitator yang berkualitas dan terlatih (Guru TK) serta keterlibatan pengasuh utama . rang tu. yang Pendidikan mengembangkan ketrampilan fungsi kognitif, motoric, social dan emosional . Peran aktif orang tua dalam memberikan rangsangan . terhadap perkembangan seorang anak sangatlah Orang tua sebagai pengasuh memiliki peranan penting dalam mengontrol, membimbing dan mendampingi anak- anaknya Dalam kedewasaan, orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi apa yang menjadi hak-hak Untuk itu, pengetahuan yang baik merupakan hal yang perlu dicapai karena dapat menjadi salah satu faktor pendukung stimulasi terhadap perkembangan anak. Stimulasi merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk perkembangan anak. Anak yang banyak mendapatkan stimulasi yang terarah akan cepat berkembang dari pada anak yang kurang mendapatkan stimulasi. Pemberian stimulasi untuk kebutuhan perkembangan mental psikososial anak yang dapat dilakukan dengan pendidikan dan pelatihan. Jadi semakin banyak stimulasi yang diberikan maka semakin bagus perkembangan motorik kasar dan halus anak usia 1-3 tahun. Demikian pula sebaliknya semakin sedikit stimulasi yang diberikan maka semakin kurang perkembangan motorik kasar dan halus anak usia 1-3 tahun . Penelitian Roro dengan penelitian yang baru pertama kali dilakukan, yaitu dengan menilai hubungan antara stimulasi ibu perkembangan bahasa, motorik kasar, motorik menggunakan pemeriksaan Denver II yang dinilai langsung pada setiap responden. Sementara itu, penelitian ini hanya dilakukan oleh seorang dokter spesialis anak dan dibantu oleh asisten penelitian sehingga bisa terdapat bias intrapersonal karena kelelahan . Perkembangan sensorik pada anak salah satunya mendorong untuk sosialisasi dimana anak dituntut untuk bisa menjalin berbicara, belajar bergiliran dan berkolaborasi dengan yang lain. Anak usia 2 hingga 6 tahun mulai mengembangkan kemampuan untuk menghubungkan suara, suku kata dan kata-kata saat berbicara. Anak usia prasekolah dapat memperoleh sebanyak 10-20 kata baru per hari dan pada usia 5 tahun sudah memiliki kosakata 100 kata . Pemantauan perkembangan anak ada beberapa aspek yang dinilai yaitu motorik kasar, motorik halus, bahasa dan personal Ternyata tidak semua balita dapat berkembang dengan yang ditentukan, malah banyak balita yang perkembangannya tidak sesuai atau terlambat melakukan aktifitas yang seharusnya dilakukan balita seusianya lakukan. Kondisi seperti itu kadang sangat tidak diketahui oleh keluarga, terutama orang tua, biasanya orang tua baru menyadari setelah semuanya terlambat. Maka dari itu, pengetahuan dan pemahaman orang tua tentang tumbuh kembang balita serta memantau dan mendeteksi secara dini apakah anak mengalami gangguan atau keterlambatan dalam perkembangannya seharusnya sudah dimiliki orang tua balita tersebut sejak masih dalam usia dini . Stimulasi sangat membantu dalam menstimulasi otak untuk menghasilkan hormon-hormon yang diperlukan dalam Stimulasi dapat diberikan dalam berbagai bentuk yang sederhana dan mudah untuk dilakukan. Stimulasi tersebut dapat berupa kehangatan dan cinta tulus yang diberikan orang tua. Interaksi anak dan orang tua melalui sentuhan, pelukan, senyuman, nyanyian, dan mendengarkan dengan penuh perhatian juga merupakan bentuk stimulasi secara dini. Ketika anak yang belum dapat berbicara mengoceh, ocehan itu perlu mendapatkan tanggapan sebagai bentuk stimulasi kemampuan bicara Sejak dini orang tua semestinya mengajak bercakap-cakap dengan suara lembut dan memberikan rasa aman kepada anak . Peran seorang ibu dalam pengasuhan anak, juga dalam pemberian stimulasi pada anak sangat besar. Interaksi antara anak dan orang tua terutama peranan ibu, sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat sesegera mungkin mengenali kelainan proses perkembangan anaknya dan sedini mungkin untuk memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Karena itu diperlukan pengetahuan dan sikap yang benar oleh orang tua . tentang pemberian stimulasi agar perkembangan anak dapat tumbuh optimal . Penelitian lain melaporkan bahwa anak membutuhkan orang lain dalam perkembangannya dan orang yang paling pertama bertanggung jawab adalah orang tua. Oleh karena itu, stimulasi dari orang tua, terutama ibu yang merupakan orang terdekat dengan anak, berperan penting demi menunjang perkembang anak agar menjadi lebih optimal. Penelitian di Lampung melaporkan bahwa pengetahuan orang tua mengenai stimulasi motorik kasar memiliki perkembangan motorik anak. Hal ini dikarenakan perkembangan anak akan lebih optimal jika mendapatkan stimulasi yang cukup dan terarah serta tepat sesuai usianya, terutama bagi batita yang masih tergolong memiliki usia yang disebut golden period . sia 0-3 tahu. Hasil penelitian menunjukan anak yang mendapat stimulasi dengan kategori baik memiliki perkembangan motorik anak baik secara halus, kasar, soaial dan bahasa yang sesuai atau normal. Terdapat hubungan antara stimulasi ibu dengan perkembangan anak. Hal ini sejalan dengan penelitian Anggraini yang melaporkan hubungan yang bermakna antara stimulasi baik secara fisik dan psikososial dengan perkembangan l anak usia prasekolah. Menurut asumsi peneliti bahwa Stimulasi yang diberikan pada anak di masa golden period yang sesuai dengan aspek tumbuh kembang akan mengoptimalkan perkembangan anak. Stimulasi yang dilakukan oleh orang tua memiliki pengaruh yang baik terhadap perkembangan anak usia 36-60 bulan. Penelitian ini menjukan terdapat hubungan yang bermakna stimulai ibu terhadap perkembangan anak. Anak yang mendapatkan stimulasi dari orang tua dirumah terlihat bahwa perkembangan yang terjadi pada anak baik dan tidak terjadi penyimpangan, dengan adanya stimulasi yang diberikan memperlihatkan bahwa hal ini dapat membuat perkembangan anak baik motrik halus, kasar, sosial dan bahasa berjalan dengan baik, dan anak yang tidak mendapatkan stimulasi dari orang tua terjadi beberapa anak mengalami meragukan dari perkembangan anak hal ini dapat disebabkan tingkat pendidikan orang tua yang masih SMA atau pengetahuan orang tua yang kurang mengerti pentingnya stimulasi pada anak diberikan, namuna ada 1 orang anak yang sudah mendpaatkan stimulasi dari orang tuanya namun terjadi perkembangan yang meragukan pada anak hal ini dapat disebabkan dari faktor lainnya. memberikan stimulasi untuk perkembangan kemampuan motorik halus anak, dengan menyediakan permainan yang sesuai usia anak dan terlibat langsung dalam kegiatan bermain DAFTAR PUSTAKA Who. Maternal Mortality. Who. Merida N. Utomo W. Efektifitas Terapi Kombinasi Jus Bayam Dan Tomat Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Pada Ibu Hamil Dengan Anemia 1. 1Ae9. Noorbaya S. Johan H. Panduan Belajar Asuhan Neonatus. Bayi. Balita Dan Anak Prasekolah. Gosyen Publishing. Walyani Elisabeth Siwi. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Cetakan Ke. Pt. Pustaka Baru. Indonesia Kkr. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta Depkes Ri. Nurhayati D. Susilowati L. Pemberian Stimulasi Pertumbuhan Dan Perkembangan Oleh Ibu Berhubungan Dengan Perkembangan Anak Usia 1-3 Tahun. J Penelit Kesehat Suara Forikes. 11:33. Pasaribu A. Barus Mb. Faktor Yang Berhubungan Dengan Tumbuh Kembang Anak 0-59 Bulan Di Puskesmas Pintu Angin Kota Sibolga Tahun 2023. Calory J Med Lab J. :107Ae13. Pandia Wss. Psikolog Dah. Psikolog Yw. Menilik Lebih Dalam Pendidikan Anak Usia Dini: Peran Orang Tua. Guru. Dan Institusi. Pt Kanisius. Suryana D. Pendidikan Anak Usia Dini Teori Dan Praktik Pembelajaran. Prenada Media. Septyani Ra. Lestari P. Suryawan A. Hubungan Intensitas Penggunaan Gawai Sejak Dini Dengan Risiko Keterlambatan Perkembangan Bicara Dan Bahasa Pada Anak Usia 4-5 Tahun. Sari Pediatr. :320Ae Larasati Bar. Hubungan Stimulasi Ibu Terhadap Perkembangan Anak Usia 35 Tahun Di Paud Almirah Desa Limau Manis Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Tahun 2018. Jannah M. Pengaruh Media Film Animasi Little Angel Terhadap Perkembangan KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil stimulasi anak mayoritas normal memberikan sebanyak 55 orang . 8%), meragukan sebanyak 3 orang . 2%) dan menyimpang tidak ada . 0%). Berdasarkan hasil perkembanagan anak mayoritas normal memberikan sebanyak 55 orang . 8%), meragukan sebanyak 3 orang . 2%) dan menyimpang tidak ada . 0%). Ada hubungan stimulasi dengan perkembangan motoric anak usia 36-60 bulan di PAUD Banus Nusantara Loa Janan Samarinda Tahun 2024 dengan nilai p = 0,000< 0,05. Diharapkan kepada tenaga kesehatan melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya melakukan stimulasi untuk membantu meningkatkan keterlibatan keluarga khususnya orang tua dalam Kemandirian Fisik Anak Usia Dini 4-5 Tahun Di Paud Masyithah Tapi Selo. Agkial D. Edriana S. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Stimulasi Dengan Perkembangan Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun Di Kel. Bitowa. Stik Stella Maris. Rahman Mh. Kencana R. Nurfaizah Sp. Pengembangan Nilai Moral Dan Agama Anak Usia Dini: Panduan Bagi Orang Tua. Guru. Mahasiswa. Dan Praktisi Paud. Edu Publisher. Rukmini R. Pemberian Stimulasi Dan Perkembangan Motorik Anak Usia 1-3 Tahun Di Kelurahan Krembangan Kecamatan Morokrembangan Surabaya. Ners Lentera. :45Ae52. Windayani Nli. Dewi Nwr. Yuliantini S. Widyasanti Np. Ariyana Iks. Keban Yb. Et Al. Teori Dan Aplikasi Pendidikan Anak Usia Dini. Yayasan Penerbit Muhammad Zaini. Firdausi R. Ulfa N. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Emosional Anak Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Bululawang. Mubtadi J Pendidik Ibtidaiyah. :133Ae45. Perdani Rrw. Purnama Dmw. Afifah N. Sari Ai. Fahrieza S. Hubungan Stimulasi Ibu Dengan Perkembangan Anak Usia 0-3 Tahun Di Kelurahan Penengahan Raya Kecamatan Kedaton Bandar Lampung. Sari Pediatr. :304Ae10. Atikah C. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini. Khazanah Pendidik. :75Ae81. Destiyani J. Dh Dp. Analisis Perkembangan Motorik Anak Pada Usia 3-4 Tahun. In: Seminar Nasional Paud 2019. 48Ae53. Sulaeman D. Rifki M. Utami D. Upaya Meningkatkan Motorik Halus Melalui Pembuatan Kembang Kelapa Pada Kelompok A Di Tk Mahabbah Kecamatan Majalaya Kabupaten Karawang. Pediamu J Educ Teach Train Learn. :55Ae68. Sari Pp. Sumardi S. Mulyadi S. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini. J Paud Agapedia. :157Ae70. Renteng S. Stimulasi Perkembangan Pada Anak Usia Prasekolah. Syntax Lit J Ilm Indones. :1442Ae51. Maulidia R. Maria L. Firdaus Ad. Hubungan Stimulasi Orang Tua Dengan Perkembangan Anak Usia Prasekolah Selama Pandemi Covid. J Kesehat Mesencephalon. Suri D. Pengembangan Kecakapan Hidup Untuk Anak Usia Dini. Pustaka