CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Penerapan Teknologi Tepat Guna Berbasis Ekonomi Sirkular dalam Mendukung Desa Rendah Karbon dan Ketahanan Pangan Meti Ekayani1. Arini Hardjanto2. Marisa Ramadanti Mausul3. Deffi Ayu Puspito Sari4*. Julie Ekasari5 Kata Kunci: Food Waste. Ekonomi Sirkular. Black Soldier Fly. Bioflok. Irigasi Tetes. Pemasaran Digital. Keywords: Food Waste. Circular Economy. Black Soldier Fly. Biofloc. Drip Irrigation. Digital Marketing. Corespondensi Author: Program Studi Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer. Universitas Bakrie. Kawasan Rasuna Epicentrum. Karet. Kecamatan Setiabudi. Kuningan. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940 Email: deffi. sari@bakrie. Article History Received: 23-09-2025. Reviewed: 15-10-2025. Accepted: 28-11-2025. Available Online: 15-12-2025. Published: 28-12-2025. Abstrak. Sampah makanan . ood wast. merupakan salah satu isu penting di Indonesia karena berkontribusi terhadap timbulan sampah nasional dan emisi karbon. Berdasarkan laporan UNEP . , food waste di Indonesia mencapai 77 kg per kapita per tahun atau sekitar 20,9 juta ton pada 2022. Desa Cibanteng. Kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor, menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tantangan tersebut, dengan timbulan sisa makanan mencapai lebih dari 319 ton per RW setiap tahunnya (Melati, 2. Sebagai respon, program pengabdian masyarakat tahun kedua ini diarahkan untuk memperkuat penerapan konsep ekonomi sirkular berbasis teknologi tepat guna melalui tiga pilar utama: budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), pertanian dengan sistem irigasi tetes, dan perikanan berbasis bioflok tanpa molase. Kegiatan dilaksanakan melalui pendampingan, dan evaluasi yang melibatkan Kelompok Tani Kebon Kopi Mandiri serta Komunitas Pabuaran Hijau. Inovasi teknologi, seperti penggunaan mesin pengayak maggot berbasis pedal, rak biopond empat jenjang, serta irigasi tetes berhasil mengoptimalkan lahan terbatas. Penerapan bioflok tanpa molase dengan pakan alternatif maggot juga memperkuat integrasi antara sektor perikanan dan pengelolaan sampah organik. Selain aspek teknis, pelatihan pemasaran berbasis digital marketing meningkatkan pemahaman peserta dalam strategi branding, segmentasi pasar, dan distribusi. Program ini berkontribusi pada peningkatan nilai tambah produk, perluasan akses pasar, serta penguatan ketahanan pangan desa berbasis ekonomi sirkular yang berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian SDGs 2 Abstract. Food waste has emerged as a critical issue in Indonesia, contributing significantly to national waste generation and carbon emissions. According to the United Nations Environment Programme (UNEP, 2. , food waste in Indonesia reached 77 kg per capita per year, equivalent to 9 million tons in 2022. Cibanteng Village, located in Ciampea Sub-district. Bogor Regency, is among the areas facing this challenge, with food waste generation estimated at more than 319 tons per neighborhood unit (RW) annually (Melati, 2. In response, the second year of this community engagement program focused on strengthening the application of Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 circular economy principles through appropriate technology across three main pillars: Black Soldier Fly (BSF) maggot cultivation, chili farming using drip irrigation, and tilapia aquaculture with a molasses-free biofloc system. The activities included socialization, training, technology application, mentoring, and evaluation, involving Kebon Kopi Mandiri FarmersAo Group and Pabuaran Hijau Community. Technological innovations such as a pedal-powered maggot sifter, four-tier biopond racks, and drip irrigation successfully optimized the use of limited land. The implementation of molasses-free biofloc integrated with maggot-based feed further strengthened the link between aquaculture and organic waste management. Beyond technical aspects, digital marketing training improved participantsAo knowledge in branding strategies, market segmentation, and distribution. This program has contributed to enhancing product value, expanding market access, and strengthening community food security based on a sustainable circular economy, while simultaneously supporting the achievement of SDGs 2 and 12. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author Barat, dengan luas wilayah sekitar 180,45 Topografinya berupa dataran tinggi yang relatif landai, dan pemanfaatan lahan didominasi oleh area permukiman, lahan pertanian, dan pekarangan. Berdasarkan data Kemendagri melalui portal GIS Dukcapil tahun 2024, jumlah penduduk desa ini tercatat 252 jiwa. Data monografi tahun 2020 menunjukkan bahwa Desa Cibanteng terbagi ke dalam 10 rukun warga (RW) dan 49 rukun tetangga (RT). Aktivitas ekonomi masyarakat sebagian besar berada di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa, dengan komoditas unggulan palawija dan hortikultura (Sjaf et al. , 2. Optimalisasi lahan sempit yang tersedia menjadi peluang strategis, terutama karena tingginya permintaan pasar lokal terhadap ikan segar. Kondisi ini mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menargetkan 6. 000 siswa per Namun, keterbatasan teknologi pada sektor pertanian dan perikanan masih menjadi kendala utama, sehingga produktivitas dan efisiensi belum optimal. Volume penduduk yang tinggi di Desa Cibanteng berdampak pada meningkatnya timbulan sampah organik, khususnya sisa Pada tahun 2022 sampah sisa makanan diperkirakan mencapai lebih dari PENDAHULUAN Sampah organik khususnya food waste, saat ini menjadi isu penting di Indonesia karena berkontribusi besar terhadap timbulan sampah nasional dan emisi karbon. Menurut laporan dari United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2024, food waste di Indonesia mencapai 20,9 juta ton/tahun pada tahun 2022. Apabila tidak dikelola dengan baik, food waste dapat menghasilkan gas metana (CHCE) yang dampaknya jauh lebih kuat terhadap pemanasan global dibandingkan COCC dalam konteks landfill dan pembusukan organik (FAO, 2. Desa sebagai unit wilayah administrasi terkecil memiliki peran ganda, yakni sebagai salah satu sumber timbulan sampah sekaligus sebagai arena solusi Program Kampung Iklim (ProKli. Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan sejak tahun 2012, mendorong desa dan komunitas lokal melakukan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, termasuk pengelolaan sampah dan pengurangan emisi gas rumah kaca (KLH dan Bapedal, 2. Desa Cibanteng terletak di Kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor. Provinsi Jawa Ekayani, et al. Penerapan Teknologi Tepat Guna. 319 ton per RW setiap tahunnya (Melati. Keterbatasan pengangkut sampah menyebabkan sebagian besar limbah makanan dibuang ke lahan terbuka, yang dapat menghasilkan emisi lingkungan seperti bau, lalat, dan potensi Penelitian yang dilakukan oleh Suherlan . menunjukkan bahwa usaha budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan kapasitas pengolahan sekitar 12,16 ton sampah makanan per tahun di Desa Cibanteng mampu menurunkan emisi hingga 114,59 ton COCC-eq per tahun dibandingkan apabila sampah tersebut dibuang langsung ke Selain mengurangi timbulan sampah dan emisi (Sari, et al 2022. Budidaya Black Soldier Fly Larvae (BSFL) sendiri telah diketahui menghasilkan berbagai produk turunan diantaranya pupuk organik padat (Sari, et al 2022. Sebagai respons, pada tahun pertama program pengabdian telah dilakukan berbagai kegiatan penguatan kapasitas masyarakat. Kelompok Tani Kebon Kopi Mandiri berhasil meningkatkan produksi BSFL dari 46 kg menjadi 100 kg per panen melalui penambahan rak biopond dan perbaikan manajemen pakan. Residu pakan maggot . telah diolah menjadi pupuk organik dan dimanfaatkan di lahan pertanian. Komunitas Pabuaran Hijau yang mengelola lahan seluas 500 mA berhasil memanen kangkung sebanyak 50 kg pada tahap awal dengan dukungan teknologi irigasi sprinkler dan menunjukkan potensi diversifikasi ke komoditas tanam lainnya. Pelatihan yang dilaksanakan menunjukkan peningkatan kemampuan masyarakat, yang terlihat dari kenaikan skor post-test sekitar 10Ae27 poin dibanding pre-test (Ekayani et al. , 2. Namun demikian, capaian tersebut masih menyisakan permasalahan. Produk hasil budidaya BSFL maupun urban farming sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk mentah dengan nilai tambah rendah, diversifikasi produk turunan belum berjalan optimal, dan strategi pemasaran digital serta branding produk belum diterapkan secara Di samping itu, sistem budidaya ikan nila bioflok memiliki potensi besar, dipersiapkan dengan matang sehingga nilai ekonominya belum optimal. Oleh karena itu, program pengabdian tahun kedua diarahkan pada penguatan hilirisasi produk BSFL, penerapan teknologi bioflok dan irigasi tetes, serta pelatihan pemasaran. Tujuan kegiatan ini masyarakat Desa Cibanteng, memperluas akses pasar, serta memperkuat ketahanan pangan berbasis ekonomi sirkular yang METODE Kegiatan masyarakat ini merupakan bagian dari skema Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang didanai oleh Direktorat Riset. Teknologi. Pengabdian Masyarakat. Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan. Kementerian Pendidikan Tinggi. Sains, dan Teknologi tahun anggaran Kegiatan dilaksanakan pada bulan JuniAe Desember tahun 2025. Tempat pelaksanaan kegiatan di Desa Cibanteng. Kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor. Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih karena termasuk desa lingkar kampus IPB University dan memiliki potensi sekaligus permasalahan terkait lingkungan, pertanian, serta ketahanan pangan Kelompok yang menjadi peserta dalam kegiatan adalah Kelompok Tani Kebon Kopi Mandiri dan Komunitas Pabuaran Hijau. Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat pada tahun kedua di Desa Cibanteng merupakan kelanjutan dari kegiatan tahun pertama dengan fokus pada diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan perluasan Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan tahun kedua meliputi sosialisasi, pendampingan, dan evaluasi, dengan uraian sebagai berikut: Sosialisasi Sosialisasi dilakukan pada awal kegiatan sebagai langkah awal untuk menjelaskan tujuan dan luaran program tahun kedua. Materi sosialisasi mencakup pengenalan program yang akan dijalankan, antara lain pengembangan produk turunan hasil budidaya Black Soldier Fly (BSF), penerapan sistem bioflok tanpa molase, pemanfaatan teknologi irigasi tetes, serta strategi perluasan pasar melalui digital Pelatihan Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Pelatihan pada tahun kedua dilaksanakan sebanyak tiga kali dengan fokus pada peningkatan keterampilan teknis dan strategi pemasaran. Kegiatan meliputi: . pelatihan budidaya ikan nila dengan sistem bioflok tanpa molase yang mengenai pemanfaatan Black Soldier Fly (BSF) sebagai pakan alternatif. penerapan sistem irigasi tetes untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan air. pelatihan pemasaran meningkatkan nilai jual produk. Penerapan Teknologi Pada Kelompok Tani Kebon Kopi Mandiri, teknologi yang diterapkan meliputi penambahan rak biopond serta penggunaan mesin pengayak untuk menyeleksi kualitas dan ukuran maggot. Selain itu, dikembangkan pula sistem bioflok tanpa molase yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas budidaya ikan nila secara berkelanjutan dengan biaya produksi yang lebih efisien. Pada Komunitas Pabuaran Hijau, penerapan teknologi difokuskan pada sistem irigasi tetes yang berfungsi untuk mendukung optimalisasi lahan sempit dan wilayah dengan ketersediaan air terbatas. Pendampingan Pendampingan rangkaian pelatihan selesai dilaksanakan. Tim pendampingan secara berkala untuk memastikan bahwa target produksi dan diversifikasi produk dapat tercapai sekaligus mendukung peningkatan omzet melalui perluasan pasar. Pendampingan kelompok sasaran dalam menerapkan teknologi yang telah diperkenalkan. Sehingga, luaran yang diharapkan berupa peningkatan keterampilan dan kuantitas produk dapat tercapai. Evaluasi Evaluasi program dilaksanakan pada akhir periode kegiatan untuk menilai tingkat keberhasilan, efektivitas teknologi yang diterapkan, serta kendala yang dihadapi dalam proses produksi maupun HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Permasalahan Kelompok Sasaran Pada permasalahan yang dihadapi Kelompok Tani Kebon Kopi Mandiri (KKM) lebih menekankan pada aspek diversifikasi produk, kualitas produksi, serta strategi pemasaran. Pada tahun pertama, kelompok ini berhasil meningkatkan produksi budidaya maggot dari 46 kg/panen menjadi 100 kg/panen. Di tahun kedua, tantangan baru muncul berupa rendahnya kualitas maggot yang belum sepenuhnya memenuhi standar pasar. Produk turunan yang telah dihasilkan, seperti pupuk organik masih dipasarkan dalam skala terbatas dan belum mampu memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi kelompok. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan anggota, terutama terkait penerapan teknologi pengolahan, menjadi faktor utama yang menghambat optimalisasi usaha. Selain itu, strategi pemasaran yang dijalankan masih bersifat konvensional tanpa dukungan sistem pencatatan dan promosi yang memadai. Hal ini mengakibatkan omzet penjualan masih rendah dan belum mampu menggerakkan roda ekonomi kelompok secara signifikan. Dengan demikian, pada tahun kedua tantangan utama Kelompok Kebon Kopi Mandiri adalah meningkatkan diversifikasi produk misalnya pakan alternatif ikan dari maggot dan pupuk organik, serta memperluas akses pemasaran berbasis digital agar nilai jual produk dapat meningkat minimal 30% dari tahun Selain itu, peluang besar dalam budidaya ikan nila perlu dimaksimalkan, terutama karena adanya potensi pasar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang 000 siswa di Kecamatan Ciampea dan Dramaga dengan kebutuhan sekitar 3 ton ikan per bulan. Permasalahan teknis seperti manajemen pakan, pengelolaan air, dan keterbatasan modal menjadi hambatan utama. Untuk menjawab hal tersebut, komunitas mulai merancang penerapan teknologi bioflok tanpa molase sebagai solusi budidaya ikan Namun, keterampilan anggota yang masih terbatas menuntut adanya pelatihan intensif agar penerapan teknologi tepat guna dapat berjalan efektif. Ekayani, et al. Penerapan Teknologi Tepat Guna. Sementara itu. Komunitas Pabuaran Hijau (KPH) menghadapi permasalahan utama pada aspek pemanfaatan lahan, teknologi budidaya, dan strategi pemasaran. Komunitas ini memiliki lahan seluas 208 mA dengan potensi besar untuk mendukung penggunaannya masih terbatas. Sistem tanam bergiliran . agung, cabai, dan toma. telah diimplementasikan, namun produktivitas keterampilan teknis dalam pengendalian hama, pemupukan, serta sistem irigasi. Teknologi pertanian yang digunakan masih sederhana, sementara modal untuk mekanisasi Permasalahan semakin kompleks dengan masih rendahnya daya tawar hasil panen, karena produk hanya dijual dalam bentuk mentah di pasar tradisional tanpa adanya kontrak kerja sama dengan pasar Kondisi ini membuat nilai jual rendah dan sulit memberikan tambahan pendapatan yang signifikan bagi anggota. Jika dibandingkan dengan tahun Pada tahun kedua, tantangan bukan hanya terkait peningkatan kuantitas produksi, tetapi juga pada aspek kualitas, diversifikasi, dan komersialisasi produk. Oleh karena itu, konsep ekonomi sirkular kembali menjadi strategi utama untuk menjawab tantangan Residu pakan maggot . yang dihasilkan KKM dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi lahan KPH. Selanjutnya, maggot yang berkualitas tinggi dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi budidaya ikan nila. Alur yang saling terkait ini tidak hanya menciptakan sistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan desa sekaligus mengurangi timbulan sampah organik yang berkontribusi pada emisi karbon di Desa Cibanteng. Pemerintah desa menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan ini karena sejalan dengan agenda ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan di tingkat desa. Gambar 1. Diskusi perencanaan program bersama pemerintah Desa Cibanteng Selanjutnya, rapat pra-kondisi bersama kelompok sasaran dilaksanakan pada 22 Juli 2025 di Rumah Kopi Sanggabuana. Desa Cibanteng. Kegiatan ini dihadiri oleh tim pengabdian dan perwakilan kelompok tani. Pada rapat ini disepakati fokus program tahun kedua, yaitu budidaya maggot dengan sistem rak bertingkat, pengembangan bioflok tanpa molase, dan penerapan teknologi irigasi tetes. Selain itu, dibahas terkait pembagian tugas teknis antaranggota, serta strategi efisiensi biaya dengan memusatkan bioflok pada satu Gambar 2. Diskusi perencanaan program bersama kelompok sasaran Persiapan Rancangan Kegiatan Tahap persiapan Program Pengabdian kepada Masyarakat diawali dengan koordinasi dan diskusi bersama Pemerintah Desa Cibanteng yang dilaksanakan pada 4 Juli 2025 di Kantor Desa. Pertemuan ini melibatkan tim pengabdian dan aparatur desa. Diskusi ketahanan pangan berbasis ekonomi sirkular melalui rencana program yang akan Sosialisasi Program Pengabdian kepada Kelompok Sasaran Sosialisasi Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) tahun kedua dilaksanakan pada 25 Juli 2025 di Rumah Kopi Sanggabuana. Desa Cibanteng. Kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman awal kepada kelompok sasaran terkait tujuan. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 luaran, serta rencana kegiatan yang akan Kegiatan ini mengusung tema AuDesa Rendah Karbon Cibanteng-Bogor: Penanganan Food Waste dan Penguatan Ketahanan Pangan Berbasis Ekonomi SirkularAy dan dihadiri oleh tim pengabdian IPB University, pemerintah desa, serta kelompok mitra. Ketua tim pengabdian memaparkan materi terkait pengembangan budidaya maggot, penerapan sistem bioflok tanpa molase, teknologi irigasi tetes, serta strategi pemasaran digital. Sosialisasi ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mendukung ketahanan pangan dan pengurangan emisi karbon Gambar 4. Pelatihan budidaya ikan nila berbasis sistem bioflok tanpa molase Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik lapangan berupa penebaran benih ikan nila hitam secara langsung di kolam bioflok. Hal ini masyarakat, sehingga mereka tidak hanya memahami teori tetapi juga terlibat langsung dalam proses budidaya. Gambar 3. Sosialisasi program pengabdian kepada masyarakat Pelatihan Budidaya Ikan Nila Berbasis Sistem Bioflok Tanpa Molase dan Penebaran Benih Pelatihan budidaya ikan nila berbasis sistem bioflok tanpa molase dilaksanakan pada 4 Agustus 2025 di Desa Cibanteng. Kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor, melibatkan peserta dari kelompok mitra, aparat desa, dan masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari AquaBioFresh yang memberikan materi teknis mengenai penerapan sistem bioflok tanpa molase, pengelolaan kualitas air, aerasi, strategi pencegahan penyakit, serta pemanfaatan maggot sebagai pakan alternatif untuk mendukung sistem ekonomi sirkular di tingkat Gambar 5. Penebaran benih ikan nila hitam Pelatihan Budidaya Cabai dengan Irigasi Tetes Pelatihan budidaya cabai dengan sistem irigasi tetes dilaksanakan pada September 2025 di Desa Cibanteng. Kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh kelompok mitra, aparat desa, dan masyarakat. Materi pelatihan disampaikan oleh Dr. Endang Gunawan. SP. Si. , dosen dari Fakultas Pertanian IPB University. Materi yang dipaparkan mencakup teknik budidaya cabai, mulai dari pemilihan benih unggul, persemaian, pengolahan tanah, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit berbasis prinsip Good Agricultural Practices (GAP). Peserta juga diperkenalkan pada teknologi irigasi tetes yang mampu Ekayani, et al. Penerapan Teknologi Tepat Guna. meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, menjaga kelembaban tanah secara optimal, serta mendukung peningkatan produktivitas cabai di lahan terbatas. peningkatan pemahaman peserta, dengan ratarata nilai mencapai 70,5. Nilai ini pengetahuan sebesar 33 poin, yang mencerminkan efektivitas pelatihan dalam meningkatkan kapasitas peserta. Rata-Rata Nilai Pre-Test Post-Test Gambar 7. Nilai rata-rata pre-test dan post test pelatihan budidaya cabai dengan irigasi tetes Berdasarkan menunjukkan peningkatan signifikan dari pretest ke post-test. Hanya sebagian kecil peserta yang memperoleh skor relatif sama pada kedua tes, yang mengindikasikan bahwa mereka telah memiliki pemahaman awal yang cukup baik mengenai budidaya cabai. Gambar 6. Pelatihan budidaya cabai dengan irigasi tetes Sebelum pelatihan dimulai, peserta pre-test pengetahuan awal terkait topik yang akan Rata-rata nilai pre-test peserta adalah 37,5. Setelah pelatihan selesai, post-test Skor Jawaban 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Responden KePre-Test Post-Test Gambar 8. Skor jawaban pre-test dan post-test pelatihan budidaya cabai dengan irigasi tetes Materi pelatihan disampaikan oleh Ibu Dea Amanda. Si. , dosen dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen dan Sekolah Vokasi IPB University. Materi pelatihan mencakup strategi pemasaran berbasis konsep Segmenting. Targeting, dan Positioning (STP Marketin. , penguatan Pelatihan Pemasaran Pelatihan pemasaran dilaksanakan pada 20 September 2025 di Desa Cibanteng. Kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh dua kelompok mitra, yaitu Kelompok Tani Kebon Kopi Mandiri dan Pabuaran Hijau, serta perangkat desa dan Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 branding dan storytelling, serta pemanfaatan pemasaran digital. Peserta diperkenalkan pada bagaimana menentukan target pasar untuk produk nila, maggot, dan cabai, membangun citra produk yang unik melalui diferensiasi nilai, serta memanfaatkan media sosial dan marketplace sebagai saluran distribusi yang nilai meningkat menjadi 94,1. Kenaikan skor ini menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang strategi pemasaran, baik konvensional maupun digital. Rata-Rata Nilai Pre-Test Post-Test Gambar 10. Nilai rata-rata pre-test dan posttest pelatihan pemasaran Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian besar responden menunjukkan peningkatan pemasaran, meskipun terdapat beberapa peserta yang sudah memiliki pengetahuan dasar sejak awal. Hasil ini memperlihatkan bahwa pelatihan pemasaran berperan penting dalam memperkuat kapasitas masyarakat meningkatkan daya saing produk, dan mendukung terwujudnya ketahanan pangan berbasis ekonomi sirkular di Desa Cibanteng. Gambar 9. Pelatihan Pemasaran Sebelum kegiatan dimulai, dilakukan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terkait pemasaran produk lokal. Ratarata nilai pre-test adalah 76,4. Setelah penyampaian materi dan diskusi interaktif peserta mengikuti post-test dengan rata-rata Skor Jawaban 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Responden KePre-Test Post-Test Gambar 11. Skor jawaban pre-test dan post-test pelatihan pemasaran satu inovasi yang digunakan adalah mesin pengayak maggot manual berbasis pedal. Alat ini dirancang dari rangka besi dengan sistem roda rantai yang terhubung ke pedal dan gir pemutar, serta dilengkapi tabung pengayak Penerapan Teknologi Budidaya Maggot Pengembangan budidaya maggot di Desa Cibanteng terus diarahkan pada peningkatan efisiensi dan produktivitas melalui penerapan teknologi tepat guna. Salah Ekayani, et al. Penerapan Teknologi Tepat Guna. dari jaring kawat yang disangga oleh velg berdiameter 14 inci yang dipotong menjadi dua bagian. Dengan ukuran tinggi 110 cm dan Panjang 120 cm, mesin ini mampu mempercepat proses pemisahan maggot dan pupa dari media organik. Waktu sortir yang sebelumnya membutuhkan sekitar 4 jam dapat dipangkas hingga 50%, menghasilkan maggot yang lebih bersih dan bernilai jual tinggi, sementara pupa dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk atau pakan tambahan. pengayak manual dan rak biopond 4 jenjang tidak hanya meningkatkan efisiensi tenaga kerja, tetapi juga memperluas potensi produksi tanpa membutuhkan tambahan lahan. Pertanian Sistem Irigasi Tetes Teknologi irigasi tetes diterapkan pada lahan seluas 208 m2 dengan menggunakan 528 emiter yang terhubung melalui jaringan selang berlubang dan pipa kecil. Sistem ini digerakkan oleh pompa booster berdaya 125 Watt serta didukung bak penampung air berkapasitas 650 L. Air dialirkan secara perlahan langsung ke area perakaran tanaman, sehingga distribusi air lebih merata, pemborosan dapat ditekan, dan tingkat penguapan berkurang. Dengan efisiensi tersebut, irigasi tetes tidak hanya mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal, tetapi juga menghemat tenaga kerja dan menjadi solusi tepat bagi wilayah dengan ketersediaan air terbatas. Gambar 12. Mesin pengayak maggot manual berbasis pedal Selain memanfaatkan rak biopond 4 jenjang sebagai media pembesaran maggot dan pengolahan sampah organik. Rak ini memiliki ukuran 150 cm x 67 cm x 120 cm dengan empat susun, masing-masing menampung empat kotak plastik HDPE/PP berukuran 67 cm x 33 cm x 20 cm. Satu unit rak mampu menampung 6 gram telur yang dapat menghasilkan sekitar 2 kg larva per gram telur. Dalam satu siklus 15 hari, kapasitas produksi dari satu unit mencapai A30 kg maggot segar. Gambar 14. Pertanian sistem irigasi tetes Budidaya Nila Bioflok Tanpa Molase Sistem budidaya ikan nila berbasis bioflok tanpa molase diterapkan dengan membangun lima kolam terpal berbentuk lingkaran berdiameter 2 meter dan kedalaman 1,2 meter. Setiap kolam memiliki kapasitas tebar sekitar 300 ekor, sehingga total populasi 500 ekor dalam satu siklus. Setiap kolam dilengkapi dengan aerator dan sistem sirkulasi air yang digerakkan oleh Mesin Supercharge AMR 500, yang menyalurkan tekanan udara melalui jaringan pipa dan diffuser untuk menjaga aktivitas bioflok. Dalam sistem ini, sisa pakan dan feses ikan dimanfaatkan sebagai sumber karbon tanpa tambahan molase. Stabilitas kualitas air dijaga dengan pemberian mineral makro dan mikro (Aquacell Gostron. serta trace elements (Aquacell Tracequ. , yang berperan dalam menjaga pH, tekanan osmotik, dan Gambar 13. Rak biopond 4 jenjang Kombinasi Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 ekosistem mikroba heterotrof. Sebagai pakan alternatif, digunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) dari Kelompok Tani Kebon Kopi Mandiri yang kaya protein, sehingga mempercepat pertumbuhan ikan sekaligus menekan biaya produksi. Dalam jangka panjang, penerapan teknologi bioflok tanpa molase tidak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga menjadi inovasi ramah lingkungan dalam sistem produksi perikanan berkelanjutan. teknologi juga diterapkan melalui penggunaan mesin pengayak manual berbasis pedal dan rak biopond empat jenjang untuk meningkatkan efisiensi budidaya maggot, sistem irigasi tetes pada pertanian, serta bioflok tanpa molase pada perikanan nila. Seluruh teknologi ini saling terhubung dalam kerangka ekonomi sirkular untuk ketahanan pangan di Desa Cibanteng. Upaya Keberlanjutan Keberlanjutan program pengabdian di Desa Cibanteng difokuskan pada penguatan kapasitas kelembagaan desa agar mampu mengelola kegiatan secara mandiri. Salah satu langkahnya adalah membangun sistem tata kelola bersama antara kelompok tani, komunitas lokal, dan BUMDes dalam hal produksi serta pemasaran hasil maggot, pertanian, dan perikanan. Perguruan tinggi akan terus mendampingi melalui transfer pengetahuan dan inovasi, namun peran utama secara bertahap dialihkan kepada masyarakat desa sebagai aktor utama. Dengan model ini, diharapkan meningkatkan pendapatan petani serta pembudidaya ikan dan maggot, tetapi juga menciptakan desa yang mandiri, berdaya saing, serta konsisten dalam mengusung prinsip ekonomi sirkular dan rendah karbon. Gambar 15. Instalasi kolam budidaya nila bioflok tanpa molase Dampak Kegiatan Pengabdian Kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cibanteng dilaksanakan melalui tiga kegiatan utama, yaitu pelatihan budidaya ikan nila berbasis sistem bioflok tanpa molase, pelatihan budidaya cabai dengan teknologi irigasi tetes, serta pelatihan produksi dan Pelatihan budidaya ikan nila berbasis keterampilan kepada masyarakat dalam mengelola perikanan dengan sistem yang efisien, ramah lingkungan, dan hemat biaya. Peserta juga dilibatkan langsung dalam praktik penebaran benih, sehingga ilmu yang diperoleh dapat segera dipraktikkan. Pelatihan budidaya cabai dengan teknologi irigasi tetes membekali peserta pemahaman mengenai teknik penghematan air, pemanfaatan fertigasi presisi, serta strategi peningkatan produktivitas pada lahan terbatas. Pelatihan produksi dan pemasaran dengan digital marketing ditujukan untuk memperkuat kapasitas kelompok dalam mengolah hasil panen sekaligus memperluas akses pasar. Melalui pelatihan ini, masyarakat didorong agar tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga mampu mengembangkan produk bernilai tambah dan memperbaiki manajemen pemasaran. Selain kegiatan pelatihan, inovasi SIMPULAN DAN SARAN Program pengabdian tahun kedua di Desa Cibanteng menunjukkan bahwa upaya penguatan diversifikasi produk, penerapan teknologi tepat guna, dan strategi pemasaran digital menjadi langkah penting untuk mendorong hilirisasi hasil pengelolaan sampah organik serta pertanian terpadu. Penerapan teknologi seperti alat pengayak maggot berbasis pedal dan rak biopond empat jenjang, pertanian dengan sistem irigasi tetes, dan budidaya ikan nila berbasis bioflok tanpa molase tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk turunan yang memiliki nilai tambah ekonomi. Selain itu, pelatihan produksi dan pemasaran dengan pemanfaatan digital marketing dapat memperkuat daya saing produk lokal sekaligus memperluas akses Ekayani, et al. Penerapan Teknologi Tepat Guna. Integrasi antara pengelolaan sampah dengan kegiatan pertanian dan perikanan melalui konsep ekonomi sirkular, serta pemerintah desa, dan kelompok masyarakat menjadi kunci dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus pengurangan emisi karbon. Food Waste Management. Agrifoodtech. :35Ae48. Jurnal Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Dataset jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin per desa/kelurahan di Kecamatan Ciampea . GIS Dukcapil. Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Program Kampung Iklim (ProKli. Solusi aksi nyata untuk menghadapi perubahan iklim. Jakarta: KLHK / BPLH RI. Diakses https://kemenlh. id/contents/16/Pr ogram-Kampung-Iklim-Proklim. UCAPAN TERIMA KASIH