KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Analisis Pemertahanan Bahasa Tontemboan di Kalangan Remaja dan Dewasa Muda Desa Tonsewer Elizabeth L. Pangemanan1*. Wimsje R. Palar 2. Thelma I. Wengkang3 . Jurusan Pendidikan Bahasa & sastra Indonesia. Fakultas Bahasa & seni. Universitas Negeri Manado. Indonesia. *) Korespondensi: elisabeth. pangemanan01@gmail. Sejarah Artikel: Dimasukkan: 28 February 2025 KATA KUNCI Derivisi: 14 April 2025 Diterima:12 Agustus 2025 ABSTRAK Pemertahanan Bahasa. Bahasa Daerah. Bahasa Tontemboan. Generasi Muda. KEYWORDS Bahasa Tontemboan, salah satu bahasa daerah di Sulawesi Utara, menghadapi ancaman kepunahan akibat kurangnya penggunaan di kalangan generasi muda. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pemertahanan bahasa Tontemboan serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat. Kabupaten Minahasa pada bulan September 2024, dengan informan sebanyak 20 orang generasi muda berusia antara 12 hingga 35 tahun. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi teknik simak, teknik cakap semuka, teknik catat, dan angket. Data dianalisis menggunakan persentase untuk menghitung frekuensi jawaban. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa generasi muda yang tinggal di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat, lebih banyak menggunakan bahasa Melayu Manado dibandingkan dengan bahasa daerah. Bahkan ditemukan bahwa beberapa generasi muda sudah tidak dapat menggunakan bahasa daerah mereka sendiri. Faktor pendidikan, pernikahan, usia, dan urbanisasi menjadi penyebab yang memengaruhi pemertahanan bahasa Tontemboan di desa tersebut. Selain itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mempertahankan bahasa Tontemboan di kalangan generasi muda. Minimnya penggunaan bahasa Tontemboan dalam kehidupan sehari-hari generasi muda berisiko menyebabkan bahasa tersebut tidak dapat dipertahankan dan tergeser oleh bahasa lain. ABSTRACT Language Preservation. Local Language. Tontemboan Language. Young Generation. Tontemboan, one of the local languages in North Sulawesi, is facing the threat of extinction due to lack of use among the younger generation. This research was conducted with the aim of describing the preservation of the Tontemboan language and the factors that influence it. The method used in this research is descriptive quantitative. The research was conducted in Tonsewer Village. West Tompaso Sub-district. Minahasa Regency in September 2024, with informants as many as 20 young people aged between 12 and 35 years. The data collection techniques used include listening technique, open interview technique, note-taking technique, and questionnaire. The data were analyzed using percentages to calculate the frequency of answers. Based on the results of the research, it is known that the younger generation living in Tonsewer Village. West Tompaso Sub-district, use Manado Malay more than the local It was even found that some of the younger generation could no longer use their own local language. The factors of education, marriage, age, and urbanization are the causes that affect the preservation of the Tontemboan language in the village. In addition, family has a very important role in maintaining the Tontemboan language among the younger generation. The lack of use of Tontemboan language in the daily life of the younger generation risks causing the language to be untenable and displaced by other languages. Copyright A 2025 by Authors. Published by Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Manado This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pangemanan. Palar & Wengkang. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 PENDAHULUAN Bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa yang perlu dilestarikan dan dijaga keberadaannya, sehingga bahasa daerah menjadi salah satu aset bangsa yang paling berharga (Rhamadhan, 2. Menurut statistik Ethnologue. Indonesia memiliki 715 bahasa daerah, sehingga pada tahun 2022 menjadi negara dengan keberagaman bahasa daerah terbanyak kedua di dunia. Sebagai salah satu khazanah bangsa, bahasa daerah berfungsi sebagai alat komunikasi masyarakat Selain memperlancar hubungan antaretnis, bahasa daerah juga berfungsi sebagai sarana promosi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara (Ino et al. , 2. Namun, bahasa daerah semakin jarang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari, terutama di kalangan anak Mereka lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi utama. Hal inilah yang menyebabkan bahasa daerah mengalami pergeseran, terutama karena kurangnya minat dari generasi muda untuk melestarikan kearifan lokal, yaitu bahasa daerah yang merupakan identitas dari daerah tersebut (Julianti & Siagian, 2. Bahasa daerah yang digunakan oleh beberapa subsuku di Minahasa. Sulawesi Utara, khususnya di Kecamatan Tareran. Sonder. Kawangkoan. Langowan. Tenga. Tumpaan. Amurang. Motoling. Modoinding, dan Tompaso, adalah bahasa Tontemboan. Menurut Pesik et al. , bahasa Tontemboan berarti "orang pegunungan" atau "orang dari berbagai tempat di dataran tinggi Minahasa. Pada tahun 2013, jumlah penutur bahasa Tontemboan diperkirakan mencapai 100. 000 orang. Namun, karena anak muda lebih memilih menggunakan bahasa Melayu Manado dalam percakapan sehari-hari, bahasa Tontemboan terancam punah karena hanya digunakan oleh orang tua dan tidak diwariskan kepada generasi muda. Banyak faktor yang menyebabkan generasi muda tidak lagi tahu, bahkan tidak tertarik, untuk belajar bahasa Tontemboan. Seiring perkembangan zaman, mereka lebih tertarik dengan budaya luar, sehingga kearifan lokal mereka sendiri tidak lagi dilestarikan. Akibatnya, bahasa Tontemboan kini termasuk dalam kategori bahasa yang terancam punah (Runtuwene et al. , 2. Jika hanya sedikit penutur bahasa daerah yang berusia di atas 20 tahun, dan generasi tua tidak menuturkan bahasa tersebut kepada anak-anak atau lingkungannya, maka bahasa tersebut dianggap terancam punah (Rena et al. , 2. Masalah kepunahan bahasa daerah merupakan isu yang kompleks. Menemukan penyebab hilangnya suatu bahasa merupakan langkah awal yang penting dalam menyelesaikan permasalahan ini. Menurut Chandra . , terdapat beberapa hal yang menyebabkan bahasa daerah mulai terdegradasi, yaitu: . dampak dominasi bahasa mayoritas di daerah tempat bahasa itu digunakan, . bilingualisme dan multilingualisme pada penduduk setempat, . globalisasi yang mendorong penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, . migrasi penduduk yang memengaruhi penggunaan bahasa lokal, . interaksi antaretnik yang menyebabkan masyarakat memilih satu bahasa etnik dominan untuk digunakan sehari-hari, . bencana alam dan musibah yang menghambat pelestarian bahasa, . kurangnya penghargaan terhadap bahasa etnik itu sendiri, . rendahnya intensitas komunikasi dalam bahasa daerah di berbagai ranah, terutama di rumah tangga, . faktor ekonomi, dan . dominasi bahasa Indonesia. Aljamaliah dan Darmadi . menyatakan bahwa generasi muda yang seharusnya berperan dalam melestarikan bahasa daerah justru sering kali mengalami fenomena semakin jarangnya penggunaan bahasa tersebut. Karena mereka adalah generasi penerus bangsa, generasi muda memegang peranan penting dalam melestarikan budaya. Mereka juga berperan sebagai agen perubahan, termasuk dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah (Ayuni et al. , 2. Salah satu penyebab generasi muda lebih memilih menggunakan bahasa Melayu Manado daripada bahasa daerah sebagai alat komunikasi sehari-hari adalah karena hampir punahnya bahasa Tontemboan. Padahal, seharusnya generasi muda tetap melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh bahwa aktivitas berbahasa Tontemboan di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat. Kabupaten Minahasa, didominasi oleh kalangan orang tua yang berusia 40 tahun ke atas. Sementara itu, hanya sebagian kecil generasi muda yang fasih menggunakan bahasa Tontemboan. Penelitian Aljamaliah dan Darmadi . yang berjudul Penggunaan Bahasa Daerah (Bahasa Sund. di Kalangan Remaja dalam Melestarikan Bahasa Nasional untuk Membangun Identitas Nasional menunjukkan bahwa bahasa Sunda mengalami kemunduran. Penggunaan bahasa kedua, seperti bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya, turut berdampak terhadap kondisi ini. Artikel Abdin . , yang berjudul Upaya Masyarakat dan Pemerintah Mencegah Kepunahan Bahasa Daerah dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri di Era 4. 0, mengulas berbagai upaya pelestarian bahasa ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Pangemanan. Palar & Wengkang. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 daerah yang perlu mendapat dukungan dari pemerintah, terutama dalam ruang lingkup generasi muda. Penelitian oleh Triandana et al. mengenai Strategi Pemertahanan Bahasa Daerah sebagai Bentuk Pelestarian Bahasa pada Generasi Muda di Kalangan Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Jambi menunjukkan bahwa pelestarian bahasa melalui pemertahanan bahasa ibu . other tongu. perlu disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Kegiatan ini menjadi solusi konkret untuk meningkatkan kepedulian terhadap bahasa daerah. Lebih jauh lagi, pelestarian ini perlu ditanamkan sejak dari ranah keluarga sebagai fondasi pewarisan bahasa kepada generasi selanjutnya. Berdasarkan uraian di atas, diperlukan kajian tentang pelestarian bahasa daerah Tontemboan di kalangan generasi muda, mengingat bahasa ini termasuk dalam kategori bahasa yang terancam punah akibat pergeseran bahasa. Bahasa-bahasa yang berada pada skala "Terancam" dan "Punah" sering kali menghadapi risiko kepunahan secara bertahap. Penelitian ini difokuskan pada pemertahanan bahasa daerah Tontemboan dalam era globalisasi di kalangan generasi muda di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat. Kabupaten Minahasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk membantu generasi muda mengenal dan mencintai bahasa daerah serta membiasakan penggunaan bahasa Tontemboan sebagai alat komunikasi sehari-hari. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif, sebagaimana didefinisikan oleh Sugiyono . , adalah analisis statistik yang bertujuan untuk menggambarkan atau mengilustrasikan data yang diperoleh. Gambaran umum tentang subjek yang diteliti dapat diperoleh dengan pendekatan ini, yang mencakup penyajian pergerakan setiap variabel penelitian dalam bentuk tabel atau grafik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat. Kabupaten Minahasa, pada bulan September 2024. Sumber data dalam penelitian ini adalah para informan, yaitu generasi muda dengan rentang usia 12Ae35 tahun, yang berjumlah 20 orang . laki-laki dan 10 perempua. dan berdomisili di Desa Tonsewer. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Menurut Sugiyono . , teknik accidental sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yakni sampel dipilih dari individu yang secara tidak sengaja atau kebetulan ditemui oleh peneliti dan dianggap cocok sebagai sumber data. Teknik pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner, yaitu dengan memberikan seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Angket yang digunakan adalah angket tertutup yang terdiri atas 12 butir pertanyaan, yang berfokus pada aktivitas berbahasa daerah oleh generasi muda (Sugiyono, 2. Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan statistik deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk menggambarkan, meringkas, dan menentukan pola data dengan menggunakan perhitungan matematis. Pengolahan data dilakukan dengan teknik persentase, yaitu dengan menghitung frekuensi jawaban yang diperoleh, kemudian dibagi dengan jumlah total responden. Proses perhitungan persentase dilakukan dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel untuk mempermudah pengolahan dan visualisasi data. HASIL PENELITIAN Sejarah Singkat Lokasi Penelitian Pada awal abad ke-18, sekelompok warga Tompaso yang berasal dari Sendangan membuka lahan pertanian di sekitar wilayah perkebunan Timbukar, yang kini terletak di sebelah utara Desa Tonsewer. Di lokasi tersebut, mereka menemukan sebuah mata air dengan volume air yang sangat besar dan dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang datang dan menetap di area tersebut untuk mengolah lahan. Untuk memudahkan akses terhadap air, masyarakat setempat membangun bendungan dan pancuran. Namun, karena debit air yang begitu besar, bendungan yang dibuat tidak mampu menampungnya, sehingga air sering meluap atau "sumember" melewati bendungan. Oleh karena itu, mata air tersebut diberi nama Asirano Masember . ang berarti "air yang meluap"), dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tersebut disebut Tou Asi Ranomasember atau disingkat Tou Masewer, yang kemudian menjadi asal-usul nama "Tonsewer. Pada akhir abad ke-18, sebuah wabah penyakit melanda permukiman tersebut. Para tetua adat (Tonaa. kemudian memutuskan untuk mencari lokasi pemukiman baru, yang dikenal dengan sebutan Tumani Wareng Indoong. Sekitar tahun 1898, mereka menetap di lokasi yang sekarang menjadi Desa Tonsewer. Pada tahun yang sama, pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menetapkan pemukiman tersebut sebagai Desa Tonsewer. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1901. Hendrik ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Pangemanan. Palar & Wengkang. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Mamesah terpilih sebagai Hukum Tua definitif pertama desa tersebut. Seiring perkembangan wilayah dan kebutuhan administratif, pada tanggal 5 Maret 2012. Desa Tonsewer dimekarkan menjadi dua wilayah administratif, yaitu Desa Tonsewer dan Desa Tonsewer Selatan. Saat ini. Desa Tonsewer merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Tompaso Barat. Kabupaten Minahasa. Provinsi Sulawesi Utara. Desa ini terbagi dalam empat wilayah jaga dan memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Desa Sendangan, sebelah timur dengan Desa Touure Dua, sebelah selatan dengan Desa Tonsewer Selatan dan kawasan hutan, serta sebelah barat berbatasan dengan Desa Pinabetengan Selatan. Dengan sejarah panjang dan identitas budaya yang kuat. Desa Tonsewer menjadi lokasi yang kaya akan nilai sejarah dan sosial budaya, yang relevan untuk dijadikan objek penelitian dalam studi pelestarian bahasa daerah. Gambaran umum Responden Penelitian ini dilakukan di Desa Tonsewer dengan fokus pada generasi muda sebagai subjek utama Sebanyak 20 responden dilibatkan untuk menggambarkan kondisi aktual penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda. Berdasarkan data demografis, jumlah responden terdiri atas 10 laki-laki dan 10 perempuan, dengan rentang usia antara 12 hingga 35 tahun. Dari segi pendidikan, responden terdiri atas 3 orang berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), 7 orang Sekolah Menengah Atas (SMA), 3 orang sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi (PT), dan 7 orang telah menyelesaikan pendidikan sarjana (S. Adapun latar belakang pekerjaan responden cukup bervariasi, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja swasta, honorer, ibu rumah tangga, hingga petani. Data umum terkait responden terangkum dalam Tabel 1. Tabel 1. Demografi Responden Nama Responden Jenis Kelamin Usia Pendidikan Pekerjaan GRa ChR ASe JSe JSw SMP SMP SMA SMA SMP SMA SMA SMA SMA SMA Siswa Siswa Siswa Swasta Swasta Honorer IRT Mahasiswa Mahasiswa Swasta Siswa Siswa Mahasiswa Swasta Petani Petani Swasta Petani Petani Siswa Hasil Kuesioner dan Gambaran Umum Pemertahanan Bahasa Tontemboan Hasil kuesioner ini menjawab dua pertanyaan utama yang telah dirumuskan dalam perumusan masalah, yaitu mengenai bentuk pemertahanan Bahasa Tontemboan di Desa Tonsewer dan faktorfaktor yang memengaruhinya, khususnya di kalangan generasi muda. Hasil kuesioner terangkum dalam Tabel 2. Tabel 2. Hasil Kuesioner dan Wawancara Jawaban Responden Pertanyaan Apakah anda bisa berbahasa daerah 30% 10 50% 4 Tontemboan? Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan 20% 6 30% 10 50% dalam berkomunikasi dengan ayah? ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Jumlah Responden Pangemanan. Palar & Wengkang. Pertanyaan Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan dalam berkomunikasi dengan ibu? Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan dalam berkomunikasi dengan kakak? Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan dalam berkomunikasi dengan adik? Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan dalam berkomunikasi dengan kakek? Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan dalam berkomunikasi dengan nenek? Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan untuk menyapa orang di jalan? Apakah anda berkomunikasi dengan teman sebaya dalam bahasa Tontemboan? Apakah anda bisa berkomunikasi dalam bahasa Tontemboan dengan orang tua? Apakah anda menggunakan bahasa Tontemboan dengan saudara-saudara anda? Apakah bahasa Tontemboan sering digunakan di ibadah di Desa Tonsewer? KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Jawaban Responden 25% 6 30% 9 Jumlah Responden Sebanyak 30% responden menyatakan bahwa mereka bisa berbahasa daerah Tontemboan, sedangkan 50% hanya bisa sedikit dan 20% tidak bisa sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda memiliki pemahaman terbatas terhadap bahasa daerah mereka sendiri. Saat ditanyakan apakah mereka menggunakan bahasa Tontemboan dalam berkomunikasi dengan ayah, hanya 20% responden yang menjawab ya, 30% menjawab sedikit, dan 50% tidak pernah menggunakan bahasa tersebut dalam konteks komunikasi dengan ayah. Ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga inti, khususnya antara anak dan ayah, cukup Dalam komunikasi dengan ibu, 25% responden mengatakan menggunakan bahasa Tontemboan, 30% menjawab sedikit, dan 45% tidak menggunakannya sama sekali. Meskipun ibu sering diasosiasikan sebagai figur utama dalam pembentukan bahasa anak, data ini menunjukkan kurangnya penggunaan bahasa daerah dalam interaksi sehari-hari. Sementara itu, dalam komunikasi dengan kakak, 25% responden menggunakan bahasa Tontemboan secara aktif, 45% menyatakan sedikit, dan 30% tidak menggunakannya, yang mengindikasikan bahwa interaksi antarsaudara pun tidak banyak berkontribusi pada pelestarian bahasa. Penggunaan bahasa Tontemboan dengan adik juga tergolong rendah. hanya 20% responden yang menggunakannya secara aktif, 25% sedikit, dan mayoritas yakni 55% tidak menggunakannya. Ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak secara aktif mewariskan bahasa daerah kepada yang lebih Namun, data berbeda terlihat saat responden berkomunikasi dengan kakek, di mana 40% menggunakan bahasa Tontemboan, 25% sedikit, dan hanya 35% tidak menggunakan sama sekali. Angka ini menunjukkan adanya kecenderungan lebih tinggi dalam menggunakan bahasa daerah ketika berinteraksi dengan generasi yang lebih tua. Sebanyak 35% responden menggunakan bahasa Tontemboan saat berkomunikasi dengan nenek, 35% menjawab sedikit, dan 30% tidak menggunakannya, yang menunjukkan bahwa nenek juga menjadi salah satu jalur transmisi bahasa daerah meski belum maksimal. Sementara itu, dalam konteks sosial seperti menyapa orang di jalan, hanya 25% yang menggunakan bahasa Tontemboan, 40% sedikit, dan 35% tidak menggunakannya. Ini menunjukkan bahwa bahasa Tontemboan tidak dominan dalam interaksi kasual di ruang publik. Dalam komunikasi dengan teman sebaya, hanya 30% responden yang menggunakan bahasa Tontemboan, 50% sedikit, dan 20% tidak menggunakannya. Ini menandakan bahwa bahasa Tontemboan tidak populer di kalangan generasi muda dalam interaksi sosial sehari-hari. Namun demikian, ketika berinteraksi dengan orang tua secara umum, 35% responden menyatakan menggunakan bahasa Tontemboan, 40% sedikit, dan 25% tidak menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat sedikit peningkatan penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi yang bersifat formal atau penuh hormat. Sebanyak 25% responden menggunakan bahasa Tontemboan saat berinteraksi dengan saudara-saudara mereka, 20% sedikit, dan mayoritas 55% tidak menggunakannya. Ini memperkuat temuan bahwa bahasa daerah semakin jarang digunakan dalam lingkungan keluarga. ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Pangemanan. Palar & Wengkang. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Terakhir, dalam konteks keagamaan, hanya 25% yang menyatakan bahwa bahasa Tontemboan sering digunakan dalam ibadah, 25% menjawab kadang-kadang, dan 50% mengatakan tidak digunakan. Ini menunjukkan bahwa peran bahasa daerah dalam kegiatan keagamaan di desa Tonsewer pun mulai tergeser oleh penggunaan bahasa Indonesia. Hasil Wawancara dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemertahanan Bahasa Tontemboan Dalam penelitian ini ditemukan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat pemertahanan bahasa Tontemboan pada generasi muda di Desa Tonsewer. Keempat faktor utama tersebut adalah pendidikan, pernikahan, usia, dan urbanisasi. Masing-masing faktor berkontribusi terhadap menurunnya penggunaan bahasa Tontemboan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. Faktor pendidikan muncul akibat percampuran latar belakang etnis di lingkungan sekolah yang menyebabkan penggunaan bahasa daerah semakin berkurang. Berdasarkan wawancara dengan informan GR, diketahui bahwa bahasa Tontemboan tidak lagi digunakan karena adanya perbedaan suku di sekolah sehingga interaksi lebih sering menggunakan bahasa Indonesia (AuTidak karena terjadinya perbedaan suku sehingga tidak mampu berinteraksi satu sama lain menggunakan bahasa daerahA. Hal ini diperkuat oleh pernyataan FP yang menyebutkan bahwa di sekolah mereka lebih banyak menggunakan bahasa Manado atau bahasa Indonesia (AuIya. Di sekalah juga kami sudah tidak menggunakan bahasa daerah. Kami lebih bnyak menggunakan bahsa manado atau bahasa indonesiaA. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan formal belum mendukung pelestarian bahasa Tontemboan sebagai bagian dari identitas lokal. Faktor kedua adalah pernikahan antar etnis yang mempengaruhi bahasa yang digunakan dalam Informan FP menjelaskan bahwa kedua orang tuanya berasal dari suku yang berbeda, yaitu Manado dan Lampung, sehingga komunikasi dalam rumah tangga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia (AuYa, tentu saja sangat berpengaruh. Contohnya, kedua orang tua saya dari etnis atau suku yang berbeda. Papa asli Manado dan Mama asli Lampung. Karena perbedaan etnis dan suku masingmasing jadi untuk komunikasi sehari-hari masih menggunakan Bahasa Indonesia karena akan sangat sulit menggunakan Bahasa Daerah karena tidak akan di mengertiA. Hal ini menyebabkan anak-anak tidak terbiasa menggunakan bahasa Tontemboan. Meskipun demikian. AS menyampaikan bahwa dirinya masih dapat memahami bahasa daerah karena tinggal di Desa Tonsewer dan sering berinteraksi dengan nenek serta kakeknya (AuIya, benar. Karena kedua orang tua saya dari suku dan etnis yang Tapi meskipun begitu saya masih bisa mengartikan bahasa daerah karena lahir di di desa Tonsewer dan saya tau artinya karena nenek dan kakek sayaA. Ini menunjukkan bahwa meskipun pernikahan lintas etnis menjadi tantangan, lingkungan sosial tetap dapat menjadi sarana transmisi bahasa jika dimaksimalkan. Faktor usia juga menjadi penyebab penting dalam melemahnya penggunaan bahasa Tontemboan. Menurut informan MP, hanya orang tua yang masih aktif menggunakan bahasa Tontemboan, sedangkan generasi muda sudah sangat jarang, bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti bahasa tersebut (AuYa, usia sangat berpengaruh pada pemertahanan Bahasa Tontemboan di kalangan masyarakat Desa Tonsewer. Saat ini, yang aktif menggunakan Bahasa Tontemboan adalah orang tua, sedangkan para anak muda sudah sangat jarang terdengar menggunakan Bahasa Tontemboan bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti dengan Bahasa Tontemboan. GRa. menambahkan bahwa bahasa daerah umumnya hanya digunakan oleh mereka yang berusia di atas 40 tahun. Generasi muda, seperti dirinya, hanya menggunakan bahasa Tontemboan pada situasi tertentu seperti saat berbicara dengan kakek atau nenek (AuSaya melihat bahwa hanya meraka yang sudah berumur 40 tahun ke atas yang masih menggunakan bahasa daerah. Untuk usia seperti kami ini, sudah sangat jarang dan jikapun kami menggunakannya saya sendiri hanya pada kondisi tertentu saja seperti berbicara dengan nenek atau kakekA. Hal ini mengindikasikan adanya jurang generasi dalam penguasaan dan penggunaan bahasa daerah. Faktor terakhir adalah urbanisasi. Perpindahan tempat tinggal dari desa ke kota membawa dampak besar terhadap penggunaan bahasa Tontemboan. AS, misalnya, menyebutkan bahwa anaknya yang tinggal di Manado tidak bisa berbahasa daerah karena ayahnya tidak menguasai bahasa Tontemboan dan komunikasi di rumah sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Manado (AuYa, sangat berpengaruh. Contohnya, anak saya yang yang tinggal di kota Manado bersama kami tidak tahu berbahasa daerah karena papa yang berdomisili Manado tidak mengerti juga bahasa Tontemboan, jadi saya tidak menggunakan bahasa daerah untuk komunikasi sehari-hari. Anak kami menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa melayu ManadoA. Berbeda dengan MK. yang menyatakan bahwa jika ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Pangemanan. Palar & Wengkang. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 seseorang lahir dan besar di lingkungan yang menggunakan bahasa Tontemboan, maka ia tetap dapat mempertahankannya meskipun kemudian tinggal di kota (AuMenurut saya, itu tidak terlalu berpengaruh. Jika dia memang lahir dan besar di lingkungan menggunakan bahasa Tontemboan dan saat dia besar lalu pergi merantau atau sekolah, dia masih bisa berbahasa Totemboan. Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi dapat berdampak negatif terhadap pelestarian bahasa daerah, namun pengaruh tersebut bisa diminimalisasi jika pembiasaan berbahasa tetap dijaga sejak dini. PEMBAHASAN Generasi muda sekarang ini sudah sangat jarang menggunakan Bahasa Tontemboan sebagai komunikasi sehari-hari. Bisa dilihat dari hasil penelitian di atas bahwa Bahasa Tontemboan hanya mampu bertahan di kalangan orang tua saja. Dalam penelitian ini ditemui beberapa faktor yang mempengaruhi pemertahanan Bahasa Tontemboan di Desa Tonsewer. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian, di mana responden yang bisa menggunakan Bahasa Tontemboan lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Hal ini dibuktikan dengan besarnya frekuensi, yaitu sebesar 25% laki-laki bisa menggunakan Bahasa Tontemboan dengan lancar, 20% laki-laki bisa menggunakan Bahasa Tontemboan dengan sedikit lancar, dan tidak tahu sebesar 5%. Sedangkan perempuan yang lancar menggunakan Bahasa Tontemboan yaitu sebesar 5%, yang sedikit 30%, dan yang tidak tahu sebesar Secara keseluruhan, responden yang bisa menggunakan Bahasa Tontemboan yaitu sebesar 30%, yang sedikit sebesar 50%, dan yang tidak bisa menggunakan Bahasa Tontemboan sebesar 20%. Bahasa dan gender saling terkait erat, dengan penggunaan bahasa seseorang sering kali mencerminkan dan memperkuat norma gender masyarakat (Mamentu et al. , 2. Bergantung pada ekspektasi masyarakat yang terkait dengan peran gender mereka, pria dan wanita sering kali menggunakan bahasa secara berbeda, menurut studi sosiolinguistik. Misalnya, untuk menyesuaikan diri dengan konvensi masyarakat yang menuntut mereka terlihat lebih penyayang, wanita biasanya menggunakan bahasa yang lebih "sopan" dan "berkelas". Studi Afriazi et al. juga mendukung hal Pergeseran bahasa terjadi ketika suatu bahasa mulai kehilangan pengaruhnya dalam suatu komunitas, khususnya di kalangan generasi muda yang cenderung menggunakan bahasa yang dianggap lebih bergengsi atau bermanfaat. Perkembangan ini khususnya terlihat di Indonesia, di mana bahasa daerah semakin jarang digunakan di berbagai daerah. Dalam penelitian ini juga ditemukan empat faktor yang mempengaruhi pemertahanan Bahasa Tontemboan pada generasi muda di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat. Kabupaten Minahasa, yaitu faktor usia, faktor pendidikan, faktor pernikahan, dan faktor urbanisasi. Dalam aktivitas berbahasa sehari-hari, kebanyakan masyarakat menggunakan Bahasa Melayu Manado. hal ini juga menyebabkan bahasa daerah mulai terkikis. Hal ini diperkuat oleh Nadhiroh . , yang menyatakan bahwa di era modern sekarang, bahasa daerah kurang diminati oleh para generasi muda. Beberapa dari mereka merasa bosan dan jenuh serta menganggap bahwa bahasa daerah tidak menarik, dan generasi muda lebih tertarik menggunakan bahasa asing daripada bahasa daerah. Penelitian Syamsuddin et al. , yang berjudul Degradasi Penggunaan Bahasa Kaili sebagai Bahasa Ibu pada Masyarakat Tawaeli. Kota Palu, menunjukkan adanya penurunan penggunaan Bahasa Kaili. Minimnya minat masyarakat untuk mempromosikan dan memperkenalkan Bahasa Kaili kepada generasi muda menjadi salah satu penyebab utamanya, dan diperparah dengan minimnya minat generasi muda terhadap bahasa tersebut. Berdasarkan pembahasan di atas, didapatkan bahwa sebagian besar generasi muda yang tinggal di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat, sangat sedikit yang menjadi penutur Bahasa Tontemboan. Hal ini disebabkan oleh faktor pendidikan, pernikahan, usia, dan urbanisasi. Adapun kelemahan dalam penelitian ini adalah keterbatasan waktu dan sumber, baik itu sumber data maupun ruang lingkup penelitian. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu melakukan penelitian dengan ruang lingkup yang lebih luas serta menggunakan metode penelitian yang bervariasi untuk bisa mempertahankan bahasa daerah Tontemboan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa generasi muda di Desa Tonsewer. Kecamatan Tompaso Barat, lebih banyak menggunakan Bahasa Melayu Manado dibandingkan dengan bahasa daerah mereka sendiri, yaitu Bahasa Tontemboan. Bahkan, ditemukan bahwa sebagian generasi muda sudah tidak mampu berkomunikasi dalam Bahasa Tontemboan. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran bahasa di kalangan generasi muda. Beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya pemertahanan Bahasa Tontemboan antara lain adalah faktor pendidikan. ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Pangemanan. Palar & Wengkang. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 pernikahan antar etnis, usia, dan urbanisasi. Keempat faktor ini secara langsung maupun tidak langsung telah menyebabkan penurunan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, keluarga memegang peran yang sangat penting dalam upaya mempertahankan Bahasa Tontemboan. Kurangnya penggunaan bahasa ini dalam lingkungan keluarga, terutama dalam komunikasi antaranggota keluarga lintas generasi, mempercepat terjadinya pergeseran bahasa. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka Bahasa Tontemboan akan semakin terpinggirkan dan berisiko punah, tergantikan oleh bahasa yang lebih dominan di lingkungan sosial masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya upaya kolektif untuk melestarikan bahasa ini, baik melalui pendidikan, lingkungan keluarga, maupun kebijakan budaya di tingkat lokal. UCAPAN TERIMA KASIH Diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses penyusunan tulisan ini baik secara langsung maupun tidak langsung. KONFLIK KEPENTINGAN Pada penelitian ini peneliti menyatakan bahwa peneliti tidak memiliki konflik dengan pihak-pihak lain yang bersifat merugikan baik secara finansial atau non finansial. REFERENSI