Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. KEKUDUSAN MENURUT GAUDETE EX EXSULTATE DAN RELEVANSINYA PADA FORMASI YUNIORAT BEOTO MARIO BORZAGA OMI INDONESIA Hendrianus Wendi* Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Indonesia Email: wendihendrianus@gmail. Abstrak Era globalisasi ditandai oleh percepatan perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi digital yang berdampak signifikan pada kehidupan iman umat beriman. Perubahan tersebut kerap mendorong pola hidup individualistis, konsumtif, dan pragmatis yang berpotensi menjauhkan manusia dari tujuan hidup Kristiani, yakni panggilan menuju kekudusan. Menanggapi situasi ini. Paus Fransiskus melalui Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate menegaskan kembali panggilan universal kepada kekudusan yang bersifat konkret, membumi, dan dapat dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Kekudusan tidak dipahami sebagai ideal elitis, melainkan sebagai jalan hidup yang berakar pada rahmat Allah dan diwujudkan melalui kesetiaan dalam hal-hal sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mensintesiskan gagasan kekudusan dalam Gaudete et Exsultate dengan spiritualitas hidup Beato Mario Borzaga. OMI, serta menampilkan relevansinya bagi pembinaan Yuniores OMI. Metode yang digunakan adalah metode teologi pastoral dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekudusan menurut Paus Fransiskus terwujud melalui lima unsur utama: menjadi diri sendiri, menguduskan hidup sehari-hari, menghindari Gnostisisme dan Pelagianisme, hidup dalam kebaikan, serta mengamalkan Sabda Bahagia. Nilai-nilai tersebut tercermin secara nyata dalam kehidupan Beato Mario Borzaga sebagai imam, misionaris, dan martir. Sintesis ini memberikan kerangka reflektif-praktis bagi pembinaan Yuniorat OMI agar penghayatan kekudusan sungguh menjadi praksis hidup yang kontekstual di tengah tantangan globalisasi. Kata Kunci: Gaudete et Exsultate. Beato Mario Borzaga. Panggilan Kekudusan. Yuniorat OMI Abstract The era of globalisation is characterised by rapid social, cultural, economic, and digital transformations that significantly influence the faith life of believers. These changes often promote individualistic, consumerist, and pragmatic lifestyles that risk distancing people from the Christian call to holiness. In response. Gaudete et Exsultate, issued by Pope Francis, reaffirms the universal call to holiness as concrete, accessible, and rooted in daily life. Holiness is not an elitist ideal reserved for a few, but a way of living grounded in GodAos grace and expressed through fidelity in ordinary This study examines and synthesises the concept of holiness in Gaudete et Exsultate with the spirituality of Blessed Mario Borzaga, highlighting its relevance for the formation of OMI Juniors. The research uses a pastoral theology approach with a qualitative method through literature The findings show that, according to Pope Francis, holiness is embodied in five key elements: embracing oneAos authentic identity, sanctifying daily life, avoiding Gnosticism and Pelagianism, persevering in goodness, and living the Beatitudes. These dimensions are clearly reflected in the life of Blessed Mario Borzaga as priest, missionary, and martyr. The synthesis offers a reflective and practical framework for OMI Junior formation, ensuring that holiness becomes not merely a normative ideal but a lived, contextual response to the challenges of globalisation. Keywords: Beato Mario Borzaga. Gaudete et Exsultate. OMI Juniorate. The Call to Holiness is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Halaman | 16 JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. PENDAHULUAN Era globalisasi ditandai oleh percepatan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, hingga perkembangan teknologi digital (Ulum. Perubahan yang berlangsung cepat ini secara langsung memengaruhi gaya hidup manusia sebagai cerminan nilai moral yang hidup dalam masyarakat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa globalisasi kerap mendorong pola hidup yang semakin individualistis, egoistis, dan konsumtif (Lestari, 2024. Saputri, dkk, 2. , sehingga berpotensi menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang mendasar, yakni hidup kudus dengan memuji dan memuliakan Allah melalui kehidupan sehari-hari (Situmorang, 2. Dalam konteks ini, tantangan iman tidak hanya bersifat personal, tetapi juga struktural dan kultural. Menghadapi situasi tersebut. Paus Fransiskus melalui Seruan Apostolik dalam dokumen Gaudete et Exsultate menggemakan kembali panggilan universal kepada kekudusan dalam konteks zaman ini. Sejumlah penelitian terdahulu menegaskan bahwa dokumen ini menghadirkan pendekatan baru dalam teologi kekudusan, yakni dengan menekankan kekudusan yang konkret, membumi, dan dapat dihayati dalam realitas keseharian. Supriyadi menunjukkan bahwa Gaudete et Exsultate memberi pemahaman tentang kekudusan melalui praksis hidup yang sederhana, setia pada hal-hal kecil, bertindak lemah lembut, rendah hati, serta berakar pada kasih (Supriyadi, 2. Senada dengan itu. Donobakti dan Sinurat menekankan bahwa kekudusan dalam dokumen tersebut terwujud melalui kesetiaan dalam menjalankan profesi keseharian dengan penuh dan mendalam pada rahmat Allah (Sinurat. Dengan begitu, kekudusan ditawarkan sebagai cara hidup yang konkret dan dapat dihayati oleh semua orang, termasuk pada religius, melalui kesetiaan pada hal-hal kecil, kasih dalam kehidupan sehari-hari, serta keterbukaan pada rahmat Allah (Setiawan dkk, 2023. Sinurat, 2. Lebih lanjut. Paus Fransiskus menampilkan para kudus sebagai teladan pembaruan Gereja yang berangkat dari tindakan-tindakan kecil namun sarat kasih. Para kudus seperti Santa Hildegard dari Bingen. Santa Brigitta. Santa Katarina dari Siena. Santa Teresa dari Avila, dan Santa Teresa dari Lisieux menunjukkan bahwa karya besar Gereja sering kali lahir dari kesetiaan yang tampak sederhana (R. Selan. OFM, 2. Selain itu. Paus Fransiskus juga mengingatkan pentingnya mengakui peran Aupara kudus di sekitar kitaAy, yakni orang-orang beriman yang tidak dikenal atau terlupakan, tetapi melalui cara hidup mereka telah menopang iman Kristiani secara nyata (Fransiskus, 2. Bagi para Yuniores Oblat Maria Imakulata (OMI) sebagai calon religius, panggilan hidup kudus menjadi tantangan sekaligus tuntutan formasi. Dalam hal ini Beato Mario Borzaga. OMI, seorang misionaris dan martir Laos menjadi teladan kekudusan yang relevan. Spiritualitas hidupnya yang ditandai oleh ketekunan, kesabaran, kerendahan hati, semangat misi, dan kesetiaan hingga wafat, memberikan inspirasi nyata bagi pendidikan dan pembinaan Yuniores OMI (Borzaga, 1. Lebih lanjut, literatur tentang formasi religius menegaskan bahwa teladan para martir dan misionaris muda memiliki daya pedagogis yang kuat dalam pembinaan (Nadeak, 2. , karena menghadirkan kesaksian hidup yang dekat dengan pengalaman usia dan dinamika psikologis para Yuniores. Spiritualitas hidup Beato Mario Borzaga, yang dibangun melalui kesetiaan dalam doa, hidup komunitas, dan perutusan misi sehari-hari, memberikan kerangka konkret Halaman | 17 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. bagi penghayatan kaul-kaul religius dalam konteks dunia global yang sarat tantangan (Borzaga. Dengan demikian, figur Borzaga tidak hanya dipahami sebagai tokoh historis OMI, tetapi sebagai sumber inspirasi formatif yang relevan dan kontekstual bagi proses pendidikan dan pembinaan Yuniores OMI dewasa ini. Kajian terdahulu menunjukkan bahwa Gnostisisme, meskipun telah lama ditolak sebagai ajaran sesat, tetap hadir dalam bentuk baru dan menjadi tantangan nyata bagi kekudusan Kristiani karena menekankan pengetahuan pribadi di atas relasi dengan Allah dan kehidupan konkret dalam Gereja (Frezzato et al. , 2. Sementara itu, penelitian lain menegaskan bahwa kekudusan merupakan proses dinamis yang lahir dari kerja sama antara rahmat Allah dan respons manusia, serta dapat dihidupi melalui cara sederhana sesuai keunikan pribadi (Bhodo. Kedua penelitian ini memberikan dasar teologis penting, namun masih berada pada tataran konseptual dan belum secara eksplisit mengaitkannya dengan praksis hidup rohani dalam konteks formasi religius tertentu. Berangkat dari keterbatasan tersebut, penelitian ini tidak hanya mengafirmasi temuan sebelumnya, tetapi juga mengembangkannya dalam kerangka yang lebih konkret dan Jika Frezzato menyoroti bahaya Gnostisisme pada level ideologis, penelitian ini menunjukkan bagaimana kecenderungan tersebut dapat diatasi melalui praksis spiritual seperti doa, hidup komunitas, dan misi dalam pengalaman Beato Mario Borzaga. Demikian pula, jika Bhodo menekankan kekudusan sebagai proses dinamis, penelitian ini memperlihatkan bentuk operasionalnya dalam kehidupan nyata, khususnya dalam formasi Yuniores Kongregasi OMI. Dengan demikian, penelitian ini mensintesiskan ajaran normatif Gaudete et Exsultate dengan spiritualitas konkret Beato Mario Borzaga, sehingga menghasilkan model formasi yang tidak hanya reflektif, tetapi juga aplikatif dan kontekstual dalam menjawab tantangan globalisasi seperti individualisme dan konsumerisme. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengintegrasian antara refleksi teologis dan praksis formasi konkret dalam konteks Kongregasi OMI, yang belum ada dikaji dalam penelitian sebelumnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Menurut John W. Creswell dan Cheryl N. Poth, penelitian kualitatif merupakan suatu proses yang menempatkan peneliti dalam konteks kehidupan nyata untuk memahami fenomena yang diteliti secara mendalam. Dalam pendekatan ini, realitas digambarkan melalui berbagai bentuk data, seperti catatan lapangan, wawancara, percakapan, dokumentasi foto, rekaman, serta refleksi peneliti (Creswell & Poth, 2. Penulis mengumpulkan data sumber-sumber bacaan seperti buku dan jurnal ilmiah. Sumber-sumber tersebut juga didukung oleh gagasan yang relevan para tokoh seperti Ki Hajar Dewantara. Amartya Sen, dan Pierre Bourdieu untuk mendobrak standar kecantikan kulit putih yang berkembang di Indonesia ini. Selain itu, data penelitian ini juga didapatkan dengan teknik wawancara terstruktur kepada tiga orang responden yang bersedia memberikan pandangan yang berlawanan terhadap diskursus atau wacana hegemoni memiliki kulit putih sebagai representasi kecantikan di Indonesia. Wawancara digunakan untuk menggali informasi mengenai pandangan responden (Hakim, 2. Pemilihan responden berkaitan dengan sudut pandang dan pengetahuan tentang fenomena kecantikan yang berkaitan dengan warna kulit perempuan (Wirasari, 2. Halaman | 18 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penerapan Kekudusan dalam Gaudete et Exsultate Bagian ini akan di jelaskan penyajian isi dari Gaudete et Exsultate berdasarakan lima jalan kekudusan yaitu menjadi diri sendiri, menghayati keseharian sebagai jalan menuju kekudusan, menghindari Gnostisisme dan Pelagianisme, hidup dalam kebaikan, serta menghidupi Sabda Bahagia. Lalu dikomparasi dengan warisan kekudusan dari hidup Mario Borzaga sebagai imam, rasul, dan martir. Nilai kekudusan dari Gaudete et Exsultate dan warisan Mario Borzaga dapat dihidupi di Yuniorat melalui lima jalan kekudusan. Menjadi Kudus Berarti Menjadi Diri Sendiri Paus Fransiskus mengatakan bahwa, siapa saja bisa menjadi kudus melalui cara dan jalannya masing-masing. Contoh-contoh orang kudus yang ditampilkan oleh Paus Fransiskus, seperti: Thyryse dari Lisieux, seorang Karmelit dari Perancis yang menemukan kekudusan dalam melakukan tugas-tugas kecil. Selain itu ada Ignatius dari Loyola, seorang pendiri Serikat Yesus yang mencari Tuhan dalam segala hal. Akan tetapi untuk menjadi kudus kita tidak perlu meniru seluruh unsur yang ada dalam diri orang kudus. Menjadi kudus cukuplah jika kita menjadi diri sendiri (Fransiskus, 2018. 1 kor 12:. Secara teologis ini menunjukan bahawa kekudusan bersifat personal: setiap orang menerima rahmat dan karunia Roh Kudus secara berbeda, sesuai rencana Allah yang unik. Oleh karenanya, panggilan orang beriman adalah discernment (Gowasa, 2. untuk menemukan jalan sendiri, bukan meniru bentuk luar kekudusan orang lain. Paus Fransiskus mengutip Santo Yohanes dari Salib yang menekankan bahwa pengalaman akan Allah tidak dapat Allah berkarya dalam setiap orang dengan cara yang berbeda. Jadi, kudus berarti menjadi diri sendiri secara autentik di hadapan Allah sesuai panggilan konkret masing-masing dan keterbukaan terhadap rahmat Roh Kudus . Fransiskus, 2018 art. Paus Fransiskus menekankan pentingnya menjadi diri sendiri agar setiap orang dapat bertumbuh sesuai rencana unik Allah. Allah mengenal setiap pribadi secara mendalam bahkan sejak dalam kandungan. Hal ini ditegaskan dalam Kitab Yeremia 1:5, bahwa Allah telah mengenal dan memanggil setiap orang sejak awal (P. Fransiskus, 2. Hal ini menegaskan bahwa manusia sejatinya AudipanggilAy sejak Awal oleh Allah. Dengan demikian, kekudusan menjadi diri sendiri harus dipahami sebagai kesetiaan terhadap panggilan Allah yang telah lebih dahulu mendahului keberadaan manusia. Berbicara mengenai menjadi diri sendiri menurut Protasius Hardono Hadi perlu bertanya pada diri sendiri yakni AuSiapakah aku?Ay Ini merupakan pertanyaan esensial untuk mengenal jati diri (Hadi, 2. Pertanyaan ini bukan semata-mata pertanyaan psikologis, tetapi juga teologis, sebab mengarah pada kesadaran panggilan ilahi, yakni siapa diri manusia di hadapan Allah dan untuk apa ia dipanggil dalam rencana keselamatan (Selatang, 2016, 2. Pertanyaan Ausiapakah aku?Ay juga menggema dalam proses panggilan Beato Mario Borzaga disaat situasi pemerintahan Italia dikuasai oleh fasisme dan peristiwa Perang Dunia II, tidak hanya menghambat keinginan Mario untuk masuk seminari, tetapi justru memperkuat komitmennya terhadap panggilan ilahi. Dalam kondisi sulit tersebut, ia tidak kehilangan arah, melainkan semakin diteguhkan dalam jati dirinya (Borzaga, 1. Dalam perspektif perkembangan manusia. Waney mengatakan bahwa masa kanak-kanak menuju remaja merupakan masa dimana individu mulai mencari tahu perasaan diri sendiri atau Halaman | 19 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. sense of self dan identitas pribadi serta mencari tujuan hidup (Waney et al. , 2. Proses ini tampak nyata dalam pengalaman masa kecil Mario Borzaga. Ia mengalami penderiataan yang berat sejak lahir, namun dikuatkan didukung oleh orang tua dan doa keluarga (Borzaga, 1. Mario, anak aktif dan cerdas, menyukai naik gunung, bersepeda, dan aktif dalam kegiatan rohani sejak usia enam tahun, didukung keluarga yang mendidiknya patuh, rajin, dan bercitacita menjadi imam. Sejak kecil, panggilan itu telah tampak dalam kesederhanaannya saat bermain AumisaAy bersama adiknya. Kepribadiannya yang pemalu, imajinatif, dan mencintai seniAiterutama musik klasikAidiperkaya oleh pengalaman spiritual serta dukungan orang-orang terdekat, sehingga semakin meneguhkan keyakinannya untuk menjadi imam, rasul, dan misionaris. Kedekatannya dengan Yesus melalui Ekaristi dan adorasi semakin memperdalam kesadaran akan panggilan tersebut. Meskipun sempat diragukan, keyakinan ibunya menunjukkan bahwa Mario telah menyadari panggilan pribadinya sejak dini (Borzaga, 1. Jika ditelaah dalam terang Gaudete et Exsultate, pengalaman hidup Borzaga memperlihatkan bahwa menjadi diri sendiri tidak terlepas dari proses pemurnian melalui situasi konkret, termasuk penderitaan dan krisis sejarah. Identitas panggilan tidak dibentuk dalam kenyamanan, tetapi dalam kesetiaan terhadap rahmat Allah yang bekerja dalam sejarah hidupnya . Fransiskus, 2018 art. Dengan demikian, menjadi diri sendiri bagi Mario bukan sekadar ekspresi kepribadian, melainkan kesetiaan pada rencana Allah yang telah tertanam dan berkembang dalam perjalanan hidupnya. Lebih jauh, dalam tulisan-tulisan biografi Borzaga menunjukkan bahwa relasinya dengan Kristus menjadi pusat identitas dirinya, sehingga AudiriAy yang autentik adalah diri yang semakin serupa dengan Kristus . Gal 2:. Hal ini menegaskan bahwa keautentikan dalam kekudusan bersifat kristologis. Pengalaman Beato Mario Borzaga memiliki kemiripan dengan dinamika para Yuniores yang dalam tahap remaja dan pencarian identitas. Mereka yang dikatakan remaja dalam analisis psikologi Erik Erikson berada pada usia 12-24 tahun. Pada usia itu mereka sedang berkembang secara fisik dan kognitif, berusaha mandiri, dan mengeksplorasi panggilan, ideologi, serta hubungan sosial. Masa ini penting untuk pembentukan identitas, dan jika gagal, mereka berisiko mengalami kebingungan peran (Sokol, 2. Untuk membantu Yuniores menemukan identitas sebagai calon religius OMI, mereka diajarkan rasa tanggung jawab. Pengolahan tanggung jawab ini membantu mereka memahami peran dalam komunitas, dengan cara memberikan tanggung jawab kebidelan . anggung jawab dalam komunita. sebagai sarana pelayanan yang baik bagi orang lain (Rukmono, 2. Dalam perspektif formatif, memegang tanggung jawab membentuk kesadaran bahwa diri mereka dipanggil untuk hidup dalam relasi dengan Allah dan sesama. Dengan demikian, tanggung jawab komunitas menjadi sarana konkret untuk mengaktualisasikan panggilan kekudusan sebagai pelayanan . Fransiskus, 2018 art. Panggilan pada kekudusan ditujukan pada semua orang (Im 11:44. 1Ptr 1:. Dalam Lumen Gentium artikel 11 menjelaskan bahwa semua orang beriman, dalam kondisi dan status hidup apa pun, telah diperlengkapi dengan berbagai rahmat keselamatan dan dipanggil oleh Tuhan untuk mencapai kekudusan yang sempurna, seperti kesempurnaan Bapa sendiri. Namun, panggilan itu dijalani oleh setiap orang melalui jalan yang khas dan berbeda sesuai dengan hidupnya masing-masing (Paulus II, 1. Menjadi diri yang autentik adalah kunci untuk mencapai kekudusan. Paus Fransiskus menegaskan bahwa untuk mencapai kekudusan Halaman | 20 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. tidak harus meniru orang kudus, melainkan menghidupi panggilan khasnya sendiri sesuai rencana Allah. Beato Mario Borzaga adalah contoh orang kudus yang menunjukkan keautentikan sejak kecil. Ia adalah pribadi yang patuh, rajin, dan bertanggung jawab. Ia juga menghidupi iman Kristiani yang mendalam, yang membawanya menjadi seorang imam. Di bawah teladan Mario Borzaga, para Yuniores di Yuniorat didorong untuk mengembangkan semangat kekudusan dengan menjadi diri sendiri, melalui tanggung jawab dan pengamalan nilai-nilai seperti kesetiaan, kejujuran, etiket, dan solidaritas. Dengan demikian, proses formasi di Yuniorat tidak hanya bertujuan membentuk karakter, tetapi juga menuntun para Yuniores untuk menemukan identitas panggilan mereka dalam terang Kristus, sehingga menjadi diri sendiri berarti menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus dalam konteks hidup konkret mereka. Hidup Sehari-hari Bisa Menuntun Kita Pada Kekudusan Paus Fransiskus menegaskan bahwa kekudusan tidak terbatas pada mereka yang dikanonisasi, tetapi merupakan panggilan universal yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari melalui cinta dan kesaksian konkret (P. Fransiskus, 2018, art. Bagi Paus Fransiskus orang bisa menjadi kudus sebagai ibu, ayah, guru dan petani. Kekudusan bukan hasil usaha manusia semata, melainkan partisipasi dalam kehidupan Kristus yang bertumbuh dalam diri melalui karya Roh Kudus. Dalam Gaudete et Exsultate. Paus Fransiskus secara eksplisit menekankan bahwa AuTuhan memanggil kita untuk hidup kudus dengan memberikan diri kita dalam tugas sehari-hariAy (P. Fransiskus, 2018, art. , sehingga kekudusan bersifat inkarnatifAihadir dalam realitas hidup biasa, bukan terpisah darinya. Pemahaman ini menemukan konkretisasinya dalam kehidupan Mario Borzaga. Mario Borzaga dikenal sebagai pribadi yang menghormati para formator, guru, dan pembimbing rohani, serta menjalin relasi akrab dengan teman-teman dan komunitas Seminari. Meskipun menghadapi tuntutan hidup yang berat dan berbagai kesulitan, termasuk kegagalan akademik, ia tetap berkomitmen dalam pembinaan rohani dan pribadi, dengan setia pada doa. Ekaristi, dan adorasi. Ia juga mengembangkan diri melalui studi musik, menulis prosa dan puisi, serta menerjemahkan karya Thomas Merton. Kedalaman hidup batinnya tercermin dalam kebiasaannya menulis buku harian berjudul AuBuku Harian Menjadi Manusia yang BahagiaAy, yang memuat refleksi jujur tentang pengalaman, pergulatan, dan relasinya, sehingga menunjukkan proses pematangan diri yang utuh dalam menanggapi panggilan sebagai imam, rasul, dan misionaris (Borzaga, 1. Berdasarkan biografinya. Borzaga menunjukkan kesadaran bahwa hidup rohani tidak terpisah dari keseharian, melainkan justru dihidupi di baginya, kesetiaan dalam hal-hal kecil merupakan bentuk konkret persatuan dengan Kristus. Hal ini memperlihatkan bahwa spiritualitasnya bersifat integratif, bukan dualistik. Secara teologis, pengalaman Borzaga memperlihatkan bahwa kekudusan tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga antropologis dan eksistensial. Aktivitas hariannya membentuk keteraturan hidup, refleksi diri, dan relasi sosial yang sehat. Dalam terang Gaudete et Exsultate, keteraturan ini buah dari keterbukaan terhadap rahmat Allah yang bekerja dalam keseharian. Aukekudusan sebagai karya rahmat dalam keterbatasan manusiaAy (P. Fransiskus, 2018, art. Dimensi ini juga tampak dalam praksis pembinaan Yuniores. Kehidupan doa yang teratur, seperti doa bersama. Ekaristi, adorasi, dan sakramen, membentuk relasi personal dengan Allah sekaligus relasi sosial yang sehat (Rukmono, 2. Dalam dokumen Gaudete et Halaman | 21 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. Exsultate, praktik-praktik ini bukan sekadar disiplin formasi, tetapi sarana konkret di mana rahmat Allah membentuk subjek beriman dalam keseharian (P. Fransiskus, 2018, art. 15 & . sehingga hidup rohani tidak bersifat tambahan, melainkan struktur dasar kehidupan. Lebih jauh. Paus Fransiskus menegaskan bahwa kekudusan sering kali diwujudkan dalam Augerakan kecilAy yang dilakukan dengan kasih (P. Fransiskus, 2018, art. Prinsip ini tampak jelas dalam hidup Borzaga yang setia pada rutinitas doa, studi, dan pelayanan tanpa mencari hal luar biasa. kesetiaan ini justru menjadi di mana rahmat Allah bekerja. Dengan demikian, kehidupan Borzaga tidak hanya merefleksikan ajaran Gaudete et Exsultate, tetapi juga menjadi citra konkret untuk memahami bahwa kekudusan adalah proses inkarnasi kasih Allah dalam tindakan sehari-hari. Sintesis ini menunjukkan bahwa baik dalam ajaran Paus Fransiskus, pengalaman Borzaga, maupun pembinaan Yuniores, kekudusan memiliki struktur yang sama: berakar pada rahmat, dihayati dalam keseharian, dan diwujudkan dalam kesetiaan konkret. Dengan demikian, kekudusan tidak dapat direduksi menjadi aturan atau praktik doa semata, tetapi harus dipahami sebagai dinamika relasional antara rahmat Allah dan respons manusia dalam historis Menghindari Dua Kecenderungan Utama: Gnostisisme dan Pelagianisme Paus Fransiskus memperingatkan dua kecenderungan utama yang menghambat jalan kekudusan, yaitu Gnostisisme dan Pelagianisme (P. Fransiskus, 2018, art. Gnostisisme mengutamakan pengetahuan subjektif yang cenderung menutup diri terhadap misteri inkarnasi, sehingga iman direduksi menjadi konstruksi intelektual yang terlepas dari realitas hidup. Sementara itu. Pelagianisme menekankan kemampuan dan kehendak manusia secara berlebihan hingga mengabaikan ketergantungan pada rahmat Allah. Paus Fransiskus menegaskan bahwa kedua kecenderungan ini Autidak sungguh-sungguh mengizinkan Allah bertindakAy (P. Fransiskus, 2018, art. 40 & . , sehingga kekudusan direduksi menjadi proyek manusia, bukan karya rahmat. Dengan demikian, kritik Paus yang bersifat teologis mendasar: ia menolak reduksi kekudusan ke dalam intelektualisme . maupun aktivisme moral . Dalam perspektif ini, kekudusan hanya mungkin dipahami sebagai respons terhadap rahmat Allah yang mendahului. Dalam Gaudete et Exsultate artikel 54. Paus menegaskan bahwa inisiatif selalu berasal dari Allah yang lebih dahulu mengasihi, sehingga kekudusan merupakan partisipasi dalam karya ilahi, bukan pencapaian otonom manusia (P. Fransiskus. Hal ini menempatkan relasi dengan Allah sebagai fondasi ontologis kekudusan. Dalam kehidupan Mario Borzaga, ia menghidupi panggilannya dengan ketergantungan penuh pada rahmat Tuhan dalam misinya di Laos. Dalam pengalaman rohaninya, khususnya melalui Ekaristi, ia menemukan kekuatan untuk mencintai, menderita, dan setia pada kehendak Bapa, serta meneguhkan panggilannya sebagai imam dan misionaris. (Borzaga, 1. Dengan demikian, hidup rohaninya menegaskan bahwa kekudusan bertumbuh dari relasi dengan Allah dan ketergantungan pada rahmat-Nya, sehingga ia terhindar dari kecenderungan Gnostisisme dan Pelagianisme yang mengandalkan kemampuan manusia semata. Dalam tulisan Roland Jacques OMI. Borzaga mengungkapkan kesadaran mendalam akan ketergantungannya pada Kristus: AuAku telah mengerti panggilan hidupkuA dalam upaya mengidentifikasi diri dengan Kristus yang disalibkanAy. Ia bahkan mengungkapkan pergulatan Halaman | 22 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. batinnya dengan pertanyaan. AuBerapa banyak rasa sakit yang tersisaA?Ay(Jacques, 2. Ungkapan ini menunjukkan bahwa spiritualitas Borzaga tidak menolak penderitaan, tetapi memaknainya sebagai partisipasi dalam misteri salib Kristus, sehingga hidup rohaninya bersifat Kristosentris, bukan pelagian maupun gnotik. Menjelang kaul kekal. Borzaga semakin menegaskan dimensi rahmat dalam hidupnya. Ia memahami bahwa kekuatan untuk mencintai dan setia berasal dari AuSakramen Sang CintaAy serta kehendak Bapa (Borzaga, 1. Hal ini menunjukkan refleksi teologis bahwa rahmat tidak menghapus keterbatasan manusia, tetapi mentransformasikannya menjadi sarana kasih . Fransiskus, 2018, art. Dengan demikian, penderitaan dan keterbatasan tidak dilihat sebagai hambatan, melainkan sebagai ruang rahmat Allah. Lebih jauh, orientasi hidup Borzaga sebagai imam memperlihatkan totalitas penyerahan diri sebagai penyalur rahmat. Ia ingin menjadi Aualat dan penyalur rahmat TuhanAy dan bahkan merindukan menjadi Aumartir cintaAy (Borzaga, 1. Kerinduan ini tidak dapat dipahami sebagai ambisi personal, tetapi sebagai bentuk kesatuan dengan Kristus . onformitas Christ. yang memberikan diri secara total . Fransiskus, 2018, art. Dengan demikian, hidupnya menjadi kritik konkret terhadap pelagianisme, karena ia tidak mengandalkan kekuatan diri, melainkan berserah pada karya rahmat. Dalam konteks pembinaan Yuniores, sintesis ini menjadi sangat relevan. Pendidikan intelektual yang dijalani para Yuniores melalui sekolah formal memiliki peran penting dalam membentuk akal budi (Rukmono, 2. Namun, dalam Gaudete et Exsultate artikel 45 dan 46, intelektualitas harus tetap berakar pada kerendahan hati, agar tidak jatuh dalam gnostisisme yang memutlakkan pengetahuan. Pengetahuan iman harus tetap terarah pada relasi dengan Allah, bukan menjadi tujuan pada dirinya sendiri (P. Fransiskus, 2. Di sisi lain, pembinaan spiritual menjadi koreksi terhadap kecenderungan pelagian. Dalam Gaudete et Exsultate artikel 57 menegaskan bahwa hidup kristiani adalah perjuangan yang sepenuhnya bergantung pada rahmat, sehingga formasi tidak boleh menekankan pencapaian atau performa semata, tetapi keterbukaan terhadap karya Allah (P. Fransiskus. Dalam hal ini, pengalaman Borzaga-yang tetap setia dalam keterbatasan maupun kegagalan dalam panggilan sebagai misionaris-menjadi model konkret bahwa pertumbuhan iman ditentukan oleh kesetiaan pada rahmat, bukan keberhasilan manusiawi. Hal ini dipertegas dalam pengalaman Santo Agustinus bahwa semua kebaikan dalam hidup manusia-baik pengampunan dosa maupun kemampuan untuk tidak jatuh dalam dosa-sepenuhnya berasal dari rahmat Allah, bukan dari kekuatan manusia sendiri (Chadwick, 2008, p. Dengan demikian, ajaran Gaudete et Exsultate, pengalaman hidup Borzaga, dan praksis pembinaan Yuniores memperlihatkan kesatuan teologis yang utuh. Penolakan terhadap gnostisisme dan pelagianisme bukan sekadar kritik doktrinal, tetapi fondasi bagi spiritualitas kristiani yang integratif, di mana akal budi, kehendak, dan tindakan manusia ditransformasikan oleh rahmat Allah. Kekudusan, dalam kerangka ini, merupakan relasi dinamis antara rahmat ilahi dan respons manusia yang dihayati dalam sejarah hidup secara konkret. Bersikap Baik Dalam Gaudete et Exsultate. Paus Fransiskus menekankan bahwa hidup baik tidak dapat dipisahkan dari kerendahan hati dan pengendalian diri, terutama dalam menghadapi realitas konkret kehidupan modern (Fransiskus, 2018, art. Ia secara khusus menyoroti Halaman | 23 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. bahaya kekerasan verbal, fitnah, dan intoleransi yang semakin meluas melalui media digital. Dalam Gaudete et Exsultate artikel 115Ae116. Paus Fransiskus secara tegas mengaitkan kekudusan dengan kemampuan menahan diri dari agresivitas, bahkan dalam ruang virtual, sehingga hidup baik bukan sekadar norma etis, tetapi ekspresi nyata dari transformasi batin oleh rahmat Allah (Fransiskus, 2. Dengan demikian, tantangan era digital tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga teologis, karena menyangkut bagaimana iman diwujudkan dalam praktik komunikasi sehari-hari. Di tengah situasi ini. Gereja tidak menolak perkembangan teknologi, melainkan melihatnya sebagai sarana pewartaan Injil. Dalam dokumen Inter Mrifica Gereja menegaskan bahwa media sosial membuka kemungkinan baru bagi komunikasi iman (Paulus VI, 2021, art. Namun, dalam terang Gaudete et Exsultate, penggunaan teknologi harus ditempatkan dalam kerangka spiritualitas, di mana komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi sarana menghadirkan kasih dan kebenaran . Fransiskus, 2018, art. Artinya, hidup baik dalam konteks digital menuntut kebijaksanaan rohani untuk membedakan, bukan sekadar kemampuan teknis untuk mengakses informasi. Konsep hidup baik ini dapat diperkaya melalui gagasan eudaimonia dari Aristoteles, yang memahami kebahagiaan sebagai pencapaian kesempurnaan hidup (Huta, 2. Namun, dalam perspektif kristiani, hidup baik tidak berhenti pada aktualisasi diri, melainkan diarahkan pada relasi dengan Allah dan sesama. Dalam Gaudete et Exsultate artikel 114, penggunaan teknologi harus ditempatkan dalam kerangka spiritualitas, di mana komunikasi. Paus Fransiskus menegaskan bahwa doa menjadi sumber kekuatan untuk kembali kepada Allah di tengah tekanan hidup, sehingga hidup baik tidak hanya bergantung pada kebajikan manusia, tetapi pada keterarahan terus-menerus kepada rahmat ilahi. Dengan demikian, hidup baik merupakan integrasi antara dimensi etis dan spiritual. Pemahaman ini menjadi konkret dalam kehidupan Mario Borzaga selama misinya di Laos. Mario Borzaga adalah seorang misionaris yang mampu hidup baik bersama dalam Ini ditunjukkan bagaimana Mario sangat peduli kepada komunitas umat Kristiani di Laos. Mario Borzaga memperhatikan kebutuhan umat yang dilayaninya. Dengan kesabaran, ia berusaha mengenal setiap umatnya dan melayani mereka. Ia menghidupi pelayanan secara total melalui katekese, karya pastoral, serta perhatian terhadap kebutuhan konkret umat, bahkan dalam keterbatasan sarana (Jacques OMI, 2. Ia menempuh perjalanan jauh untuk menjangkau umat, menunjukkan dedikasi yang melampaui tuntutan formal tugas imamat. Dalam pengalaman ini, hidup baik tidak dipahami sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai praksis kasih yang nyata, di mana pelayanan menjadi pusat kehadiran Kristus. Hal ini selaras dengan Gaudete et Exsultate artikel 118 yang menegaskan bahwa kekudusan tampak dalam tindakan sederhana yang membangun kehidupan bersama (Fransiskus, 2. Lebih jauh, pengalaman Borzaga memperlihatkan bahwa hidup baik juga mencakup kesetiaan dalam situasi konflik dan keterbatasan. Ia menghadapi tekanan eksternal, termasuk hambatan dari pihak pemerintah komunis yang berkuasa di Laos, namun tetap setia pada panggilan untuk melayani umat. Sikap ini menunjukkan bahwa hidup baik dalam perspektif kristiani tidak identik dengan kenyamanan, melainkan kesetiaan dalam kasih, bahkan ketika menghadapi risiko dan penderitaan, terutama berhadapan dengan bahaya pasukan Pathet Lao dari segala agresivitas, fitnah dan intoleransi terhadap Imam Katolik . Fransiskus, 2018. Halaman | 24 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. 141 tentang ketekunan dalam kesulita. Dengan demikian, hidup baik memiliki dimensi kenosis, yakni pengosongan diri demi pelayanan. Dalam konteks pembinaan Yuniores, nilai hidup baik ini diterjemahkan dalam spiritualitas komunitas Oblat yang berakar pada warisan Santo Eugenius de Mazenod Pendiri Kongregasi Oblat Maria Imakulata. Para Yuniores dibentuk untuk hidup dalam kebersamaan, tanggung jawab, dan semangat misioner melalui keterlibatan langsung dalam pelayanan Gereja (Rukmono, 2. Dalam konstitusi OMI nomor 39 tentang spiritualitas, para Yuniores diperkenalkan dengan spiritualitas Oblat (Louis Lougen, 2. Spiritualitas yang diperkenalkan tentang hidup berkomunitas yang baik bagi para Yuniores adalah komunitas yang membuat para anggotanya untuk bertumbuh dan berkembang sesuai bakat dan kepribadian mereka yang unik. Terkait hal ini Paus Fransiskus menegaskan bahwa, hidup komunitas menjadi sarana konkret pertumbuhan kekudusan, karena di dalamnya setiap pribadi belajar keluar dari individualisme dan menghidupi solidaritas (Fransiskus, 2018, art. Dengan demikian, komunitas bukan sekadar struktur sosial, tetapi ruang teologis di mana kasih Allah dialami dan diwujudkan. Hidup berkomunitas yang baik adalah menjadi satu dengan Kristus. AuMereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam EngkauAy (Yoh. Komunitas menjadi tempat pembentukan karakter kristiani yang autentik (Selatang et al. Hidup komunitas, merupakan jalan konkret untuk melawan budaya individualisme dan konsumerisme, sehingga kekudusan tidak bersifat privat, tetapi selalu berdimensi komunal (Fransiskus, 2018, art. Keteladanan Borzaga semakin memperjelas dimensi ini. Ia tidak hanya melayani umat, tetapi membangun relasi personal yang mendalam hingga dikenal sebagai AubapaAy bagi mereka. Ia memperhatikan kebutuhan konkret umat dan hadir secara penuh dalam kehidupan mereka (Jacques, 2. Relasi ini menunjukkan bahwa hidup baik dalam perspektif kristiani adalah partisipasi dalam kasih pastoral Kristus sendiri, yang hadir, mengenal, dan melayani dengan penuh kesetiaan. Dengan demikian, sintesis antara ajaran Gaudete et Exsultate, pengalaman hidup Borzaga, dan praksis pembinaan Yuniores menunjukkan bahwa hidup baik merupakan ekspresi konkret dari kekudusan. Hidup baik tidak hanya berkaitan dengan etika personal, tetapi merupakan perwujudan relasi dengan Allah yang mentransformasikan cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan berelasi. Dalam kerangka ini, kekudusan menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ruang digital, pelayanan pastoral, maupun hidup komunitas. Sabda Bahagia Adalah Penunjuk Jalan Menuju Kekudusan Sabda Bahagia adalah Sabda Yesus yang berisikan jalan menuju kekudusan. Di dalam Sabda Bahagia itu tergambar wajah Sang Guru, dan setiap orang beriman dipanggil untuk menghadirkan wajah tersebut dalam kehidupan sehari-hari (P. Fransiskus, 2018, art. Dalam Sabda Bahagia, tampak jelas bahwa inti pesan Yesus adalah menghadirkan keselamatan dan kebahagiaan bagi sesama (Suharyo, 1. Paus Fransiskus menegaskan bahwa orang berbahagia adalah mereka yang berbelas kasih-yang mampu membantu, melayani, memaafkan, dan memahami (Fransiskus, 2018, art. Ia juga menekankan bahwa kekudusan bukan hanya sebatas pewartaan, tetapi harus mencerminkan wajah Kristus dalam hidup konkret, yakni Halaman | 25 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. menjadi miskin dalam roh, pembawa damai, dan haus akan kebenaran (Fransiskus, 2018, art. 63Ae. Dari deskripsi tersebut Sabda Bahagia tidak hanya merupakan ajaran moral normatif, tetapi suatu Augambar kristologisAy yang menghadirkan cara hidup Yesus sendiri. Artinya, menghidupi Sabda Bahagia berarti mengambil bagian dalam dinamika hidup Kristus: kerendahan hati-Nya, solidaritas-Nya dengan yang miskin, serta kesetiaan-Nya sampai pada salib (Selatang & Herin, 2. Dengan demikian, kekudusan dipahami sebagai proses ikatan diri dengan Kristus, bukan sekadar ketaatan pada norma etis. Beato Mario Borzaga adalah misionaris yang mencintai Kristus dalam diri orang miskin dan tertinggal. Ia menghidupi panggilannya sebagai imam, rasul, dan martir dengan mewartakan serta mengamalkan Sabda Allah di Laos (Borzaga, 1. Bagi Mario, menghidupkan Sabda Allah berarti mencintai semua orang dan menjadi bagian dari kehidupan Keutamaan Sabda Bahagia nyata dalam misinya: ia pergi ke tempat yang jauh dan asing karena merasa dipanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan. Di Laos, ia menjumpai orang-orang miskin, lapar, dan menderita, yang ia layani dengan kasih dan pengorbanan . Mat 5:1Ae. Ia menjadi pembawa damai, mengalami penolakan, bahkan penganiayaan demi iman, hingga akhirnya menjadi martir (Borzaga, 1. Pengalaman Borzaga memperlihatkan bahwa Sabda Bahagia tidak berhenti pada praksis sosial, tetapi bergerak menuju totalitas pemberian diri. Ia tidak hanya AumelakukanAy Sabda Bahagia, tetapi AumenjadiAy Sabda itu dalam hidupnya. Hal ini tampak dalam kesediaannya untuk menderita dan tetap setia, yang menunjukkan bahwa kebahagiaan kristiani berakar pada kesatuan dengan Kristus tersalib. Demikanlah Borzaga mendapatkan kepenuhannya seperti di sampaikan dalam 1Petrus 4:13-16. AuSebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-NyaA. Ay Jabes yang menyatakan bahwa martir adalah Aukenyataan akhir yang tidak terpisahkan dari GerejaAy dipahami secara eklesiologis, maka kemartiran Borzaga merupakan aktualisasi konkret dari identitas Gereja itu sendiri. Martir bukan sekadar peristiwa historis, tetapi buah dari kesetiaan radikal terhadap Injil (Jabes,dkk, 2. Dalam terang Gaudete et Exsultate, kemartiran ini dapat dipahami sebagai puncak dari jalan Sabda Bahagia, khususnya dalam dimensi Audianiaya demi kebenaranAy . Mat 5:. Dengan demikian, kesaksian Borzaga menegaskan bahwa kekudusan tidak terpisah dari salib, melainkan justru mencapai kepenuhannya dalam kesatuan dengan penderitaan Kristus. Dalam konteks formasi, para Yuniores dibekali berbagai keterampilan praktis seperti public speaking, musik, dan kegiatan farming untuk mendukung kemandirian dan pelayanan pastoral (Rukmono, 2. Semua ini bertujuan membentuk kepribadian, memperdalam spiritualitas, serta mengembangkan akal budi dalam kesaksian akan Yesus Kristus. Pendekatan formasi ini menunjukkan Sabda Bahagia tidak diajarkan sebagai konsep abstrak, tetapi diinkarnasikan dalam latihan konkret yang membentuk habitus pelayanan, kerendahan hati, dan solidaritas. Dengan demikian, proses formasi menjadi ruang aktualisasi sebagai saksi iman, di mana Sabda Allah perlahan-lahan menjadi pola hidup para Yuniores. Sabda Bahagia mencerminkan wajah Kristus dan memanggil setiap orang untuk mewujudkannya dalam tindakan nyata, seperti kerendahan hati dan pelayanan tanpa Halaman | 26 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. Mat 11:. Sabda ini tidak untuk disimpan, tetapi untuk dihidupi dan disaksikan dalam kehidupan sehari-hari (Fransiskus, 2018, art. Beato Mario Borzaga adalah teladan nyata dari penghayatan Sabda Bahagia hingga akhir hidupnya sebagai martir. Ia tidak hanya mengajarkan, tetapi menjadikan Sabda itu hidup dalam dirinya (Jacques. OMI, 2. Sabda Bahagia, yang disebut Paus Fransiskus sebagai Aukartu identitasAy orang Kristiani (Fransiskus, 2018, art. , menjadi nyata dalam kesaksian Bagi para Yuniores, hal ini menegaskan bahwa Sabda Bahagia bukan sekadar ideal spiritual, tetapi fondasi identitas dan arah hidup. Dalam kesinambungan antara ajaran Gaudete et Exsultate, kesaksian Borzaga, dan proses formasi, tampak suatu sintesis teologis yang utuh: kekudusan lahir dari Sabda yang dihidupi, diwujudkan dalam pelayanan konkret, dan dimatangkan dalam kesetiaan sampai Dengan demikian. Sabda Bahagia dapat dipahami sebagai Auidentitas performatifAy orang Kristiani: ia bukan hanya mendefinisikan siapa orang beriman, tetapi sekaligus membentuk cara hidupnya. Identitas ini bersifat dinamis, terus bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan Pembahasan Kekudusan adalah standar utama dalam hidup umat Kristiani, sesuai Imamat 19:2, yang menegaskan bahwa Allah yang kudus menghendaki umat-Nya hidup kudus sebagai bagian dari identitas-Nya (Gulo, 2. Hidup kudus berarti mengarahkan hati, pikiran, dan tindakan sesuai kehendak Allah, sebagai jalan menuju berkat dan panggilan ilahi . dk 1 Petrus 2:. Panggilan kepada kekudusan merupakan panggilan setiap orang Kristen. Kekudusan bukan hasil kemampuan manusia semata, melainkan rahmat Allah . Tes 4:. Namun rahmat tersebut menuntut relasi yang intim dengan Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan rohani (Chatarina, 2. Kekudusan tidak dapat dilepaskan dari kasih, sebab Allah adalah kudus dan sekaligus kasih (Luk. Persatuan dengan Allah menjadi inti kekudusan . Kor. yang tercermin dalam persekutuan kasih Tritunggal Mahakudus sebagai teladan relasi hidup umat beriman (Atawolo. OFM, 2. Pemahaman ini tampak nyata dalam kehidupan Beato Mario Borzaga. OMI. Kekudusan baginya bukan sekadar konsep teologis, melainkan pengalaman iman yang dihayati dalam relasi personal dengan Kristus. Melalui kehidupan doa. Ekaristi, dan refleksi rohani yang mendalam. Borzaga membangun kesatuan hidup dengan Allah yang menuntunnya pada keberanian untuk menyerahkan diri sepenuhnya dalam panggilan misioner. Kesadaran akan rahmat Allah membentuk sikap rendah hati dan ketergantungannya pada penyelenggaraan Ajaran Gereja dalam Lumen Gentium menegaskan bahwa kekudusan merupakan kesempurnaan cinta dan menjadi panggilan universal bagi seluruh umat Allah, baik religius maupun awam (Paulus II, 1990, art. Semua orang Kristiani dipanggil untuk mengejar kekudusan sesuai dengan panggilan hidupnya masing-masing. Melalui kekudusan. Allah menghendaki agar manusia yang telah tercemar oleh dosa dipulihkan dan disempurnakan dalam relasi dengan-Nya (Sarumaha, 2. Dalam terang ajaran ini, hidup Beato Mario Borzaga memperlihatkan bagaimana kekudusan tumbuh melalui kesetiaan pada panggilan Gereja. Sebagai imam Oblat, ia menghayati kaul religius dan tugas perutusannya bukan sebagai kewajiban struktural, tetapi sebagai ungkapan kasih yang total kepada Allah dan umat yang Halaman | 27 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. Pengutusan ke tanah misi Laos menjadi ruang konkret baginya untuk menghidupi panggilan universal kepada kekudusan melalui pelayanan, pengorbanan, dan kesetiaan. Kekudusan memiliki relevansi yang kuat di tengah era globalisasi yang ditandai oleh budaya duniawi dan digitalisasi. Tantangan berupa gaya hidup hedonis, relativisme moral, dan krisis keteladanan dapat mengaburkan nilai iman Kristiani ( Situmorang, 2. Dalam situasi ini, kekudusan menjadi dasar iman yang menolong umat beriman mempertahankan identitasnya sebagai citra Allah serta membangun integritas moral (Sigarlaki, 2. Dampak globalisasi juga tampak dalam kehidupan rohani umat, seperti kecanduan media sosial, melemahnya relasi personal, dan berkurangnya waktu untuk Tuhan (Calvin, 2. Oleh karena itu, kekudusan menjadi respons iman terhadap krisis spiritual zaman modern. Dalam masyarakat global yang terbuka, hidup kudus menjadi bentuk kesaksian iman yang nyata melalui integritas dan keberanian menghadirkan nilai Kerajaan Allah (Saragih & Saragih. Teladan Beato Mario Borzaga menunjukkan bahwa kekudusan tidak dibentuk oleh kenyamanan zaman, melainkan oleh kesetiaan dalam situasi konkret. Dalam keterbatasan sarana, perbedaan budaya, dan ancaman politik di wilayah misi. Borzaga tetap setia pada panggilan imamat dan perutusannya. Kekudusan yang ia hidupi lahir dari keberanian melawan arus, sebagaimana dituntut dalam konteks global yang sarat tantangan. Kekudusan merupakan buah dari iman yang dihidupi (Olla, 2. Paus Fransiskus menegaskan bahwa menjadi kudus tidak selalu berarti melakukan praktik rohani yang luar biasa, melainkan mengarahkan seluruh hidup kepada Tuhan melalui tanggung jawab dalam pekerjaan sehari-hari (Bhodo, 2. Pemahaman ini sejalan dengan seruan Santo Yohanes Paulus II dalam Novo Millennio Ineunte yang menekankan bahwa kekudusan bukan melarikan diri dari dunia, tetapi menguduskan dunia ( Paulus II, 2. Spiritualitas Beato Mario Borzaga tercermin dalam hidup sederhana, tekun menjalankan misi, menerima realitas harian, menjadikannya setiap aktivitas pastoral sebagai perjumpaan dengan Allah. Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate melengkapi ajaran Konsili Vatikan II dan seruan Paus Yohanes Paulus II tentang panggilan universal kepada kekudusan. Paus Fransiskus menekankan bahwa kekudusan bersifat personal, kontekstual, dan terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Kekudusan tidak berarti mengisolasi diri dari dunia, tetapi terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam kebaikan bersama (Fransiskus, 2. Dalam terang dokumen ini, nilai-nilai Sabda BahagiaAikemiskinan rohani, kelemahlembutan, kerinduan akan keadilan, belas kasih, pembawa damai, dan kesiapsediaan menderita demi kebenaranAiterlihat nyata dalam kehidupan Beato Mario Borzaga. Hidupnya sekaligus menjadi kritik terhadap Gnostisisme dan Pelagianisme, karena ia tidak mengandalkan pengetahuan maupun kekuatan pribadi, melainkan sepenuhnya berserah pada rahmat Allah (Fransiskus, 2. Menurut Paus Fransiskus, kekudusan berarti menyatu dengan Kristus dalam wafat dan kebangkitan-Nya sehingga hidup manusia dipenuhi oleh kasih dan pelayanan kepada mereka yang menderita. Ciri-ciri kekudusan seperti ketekunan, kesabaran, kelemahlembutan, kegembiraan rohani, keberanian, hidup komunitas, dan doa yang terus-menerus menjadi sarana pertumbuhan iman (Fransiskus, 2018, art. 147Ae. Kehidupan Beato Mario Borzaga mencapai kepenuhannya dalam kesaksian martir. Wafatnya bukan akibat pencarian penderitaan, melainkan konsekuensi dari kesetiaan pada misi Gereja. Martirium menjadi puncak penyatuan dengan Kristus yang wafat dan bangkit, sekaligus perwujudan tertinggi dari kekudusan sebagai kasih yang total kepada Allah dan sesama. Halaman | 28 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. Impikasi dan Rekomendasi Penelitian ini memperkaya teologi spiritual dengan mengintegrasikan seruan Paus Fransiskus dalam Gaudete et Exsultate dan teladan Beato Mario Borzaga, menjadikan kekudusan sebagai pengalaman iman konkret dan relevan di tengah tantangan globalisasi. Selain itu, penelitian ini menyediakan kerangka reflektif-praktis bagi pembinaan calon religius di Yuniorat OMI melalui pengembangan kepribadian, spiritualitas, intelektual, komunitas, dan keterlibatan pastoral, sehingga mendukung model formasi religius berorientasi pada praksis Selain itu, lembaga pembinaan religius, khususnya dalam konteks Yuniorat OMI, direkomendasikan untuk mengintegrasikan nilai-nilai kekudusan sebagaimana ditegaskan dalam Gaudete et Exsultate dan teladan Beato Mario Borzaga ke dalam kurikulum formasi secara sistematis dan berkelanjutan. Integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui pendampingan spiritual, refleksi pengalaman pastoral, pembinaan komunitas, serta penguatan dimensi kemanusiaan dan misi. Dengan demikian, kekudusan tidak hanya menjadi tema reflektif, tetapi sungguh membentuk pola hidup, karakter, dan spiritualitas calon religius dalam menjawab tantangan Gereja dan dunia masa kini. Sintesis Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gaudete et Exsultate menegaskan kekudusan sebagai panggilan universal yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui lima unsur: menjadi diri sendiri, menjauhi Gnostisisme dan Pelagianisme, hidup baik, dan mengamalkan Sabda Bahagia. Paus Fransiskus menegaskan bahwa semua orang dipanggil untuk menjadi kudus melalui kesetiaan, relasi dengan Kristus, dan keterbukaan terhadap karya Roh Kudus dalam tantangan zaman modern. Temuan menunjukkan bahwa nilai kekudusan dalam Gaudete et Exsultate terwujud nyata dalam hidup Beato Mario Borzaga, yang menunjukkan kekudusan melalui pengenalan diri, kesetiaan pada rutinitas rohani, bergantung pada rahmat Allah, dan pelayan kasih hingga wafat sebagai martir. Pengintegrasian ajaran Paus Fransiskus dan teladan Borzaga dapat memperkuat pembinaan Yuniorat OMI melalui pengembangan kepribadian, spiritualitas Kristiani, pendalaman intelektual, hidup komunitas, dan keterlibatan pastoral. Dengan demikian, kekudusan dapat dihayati secara nyata oleh para Juniorat OMI, berakar pada panggilan Yesus sebagai nelayan: sabar, tabah, berani, peka, dan bijaksana dalam melayani KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa panggilan kepada kekudusan tetap relevan dan mendesak di tengah arus globalisasi yang ditandai individualisme, konsumerisme, dan krisis Melalui Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate. Paus Fransiskus menegaskan bahwa kekudusan bukan ideal elitis, melainkan jalan hidup konkret yang dihayati dalam kesetiaan pada hal-hal sederhana, keterbukaan pada rahmat Allah, dan pengamalan Sabda Bahagia. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada sintesis teologis-spiritual antara ajaran kekudusan dalam Gaudete et Exsultate dan spiritualitas hidup Beato Mario Borzaga. OMI. Sintesis ini menunjukkan bahwa kekudusan terwujud secara nyata melalui integrasi doa, hidup komunitas. Halaman | 29 Is distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License JURNAL PELAYANAN PASTORAL ISSN: 2747-1284 Tahun 2026. Vol. 7 No. Bulan April, p. pelayanan misioner, dan penyerahan diri total kepada Allah sebagai praksis yang membentuk identitas religius. Secara praktis, penelitian ini menawarkan kerangka formatif kontekstual bagi pembinaan Yuniores OMI, dengan menempatkan teladan Borzaga sebagai model inkarnatif kekudusan misioner. Dengan demikian, kekudusan dipahami bukan sekadar norma teologis, tetapi sebagai paradigma pembinaan yang membentuk kepribadian autentik, kedewasaan spiritual, dan semangat pastoral yang berakar pada kasih dalam menghadapi tantangan dunia DAFTAR PUSTAKA