https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 38035/jpsn. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Optimalisasi Program Home Visit: Strategi Rekonstruksi Kepedulian Orang Tua Terhadap Kehadiran dan Partisipasi Siswa di SMA Negeri 2 Pinggir Marlina Uli Tobing1. Maya Novita Sari2 Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia, marlinauli. 2025@student. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia, mayanovitasari@uny. Corresponding Author: marlinauli. 2025@student. Abstract: This study aims to analyze strategies for optimizing the Home Visit program as a tool for rebuilding parental engagement in education. It is motivated by the high rates of absenteeism and emotional disengagement among students at SMAN 2 Pinggir, which are driven by economic factors, online gaming, and the normalization of early marriage in the marginal plantation areas. Through the lens of Social Cognitive Theory and EpsteinAos Theory, this study seeks to formulate a proactive-collaborative home visit model to increase student This study employs a descriptive qualitative approach. Research subjects were selected through purposive sampling, consisting of guidance counselors, homeroom teachers, students, and parents. Data collection methods included structured interviews, semi-structured interviews, and document analysis. Data analysis was conducted interactively through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results indicate a significant communication gap between schools and parents. Parents exhibit a passive-reactive attitude and pessimism regarding educational goals . earned helplessnes. Key influencing factors include economic pressure . tudentsAo physical exhaustion from workin. and geographical factors . oor road acces. The existing Home Visit program is student profiles are not well-documented, and the program tends to be administrative and formalistic. The research findings are expected to provide an applicable solution in the form of an integrative home visit model capable of transforming parentsAo pragmatic mindset into a strategic partnership with the school. Keyword: Home Visit. Parental Concern. Student Participation. Marginal Areas. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi optimalisasi program Home Visit sebagai instrumen rekonstruksi kepedulian orang tua terhadap pendidikan. Dilatarbelakangi tingginya angka ketidakhadiran dan diskoneksi emosional siswa di SMAN 2 Pinggir yang dipicu oleh faktor ekonomi, game online, hingga normalisasi pernikahan dini di wilayah marginal perkebunan. Melalui pandangan Social Cognitive Theory dan EpsteinAos Theory, 147 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 penelitian ini berupaya merumuskan model kunjungan rumah yang proaktif-kolaboratif untuk meningkatkan partisipasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ditentukan melalui purposive sampling, yang terdiri dari guru Bimbingan dan Konseling (BK), wali kelas, siswa, dan orang tua. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara terstruktur, wawancara semi terstruktur, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan komunikasi yang signifikan antara sekolah dan orang tua, orang tua bersikap pasif-reaktif, pesimisme terhadap tujuan pendidikan . earned Faktor utama yang mempengaruhi antara lain. tekanan ekonomi . elelahan fisik siswa ikut bekerj. dan faktor geografis ( akses jalan yang rusa. Program Home Visit yang sudah dijalankan tidak efektif, profil siswa belum terdata baik, cenderung bersifat administratif-formal. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan solusi aplikatif berupa model kunjungan rumah integratif yang mampu mengubah pola pikir pragmatis orang tua menjadi kemitraan strategis dengan sekolah. Kata Kunci: Home Visit. Kepedulian Orang Tua. Partisipasi Siswa. Wilayah Marginal. PENDAHULUAN Pendidikan menengah atas (SMA) saat ini dihadapkan pada kompleksitas dinamika yang menuntut perubahan paradigma. Pendidikan menurut Suharni, . merupakan aset atau investasi jangka panjang, yang akan menciptakan manusia berkelayakan di tengah kehidupan masyarakat, mampu berdiri sendiri, tidak menyusahkan orang lain. Bahkan, ia menambahkan manusia yang berpendidikan memiliki kualitas dan daya saing yang tinggi. Synmez et al. , . menyatakan Perubahan sosial yang berkembang saat ini salah satunya dipengaruhi adanya kemajuan teknologi, hingga menempatkan teknologi sebagai media pembelajaran atau dikenal dengan istilah teknologi mobile learning, namun ditegaskan bahwa teknologi m-learning hanyalah sebuah alat yang seharusnya dapat menciptakan sarana yang lebih bermakna untuk proses belajar-mengajar. Dengan demikian motivasi siswa di era digital tidak lagi berpusat sepenuhnya pada institusi formal. Sekolah dan guru dituntut untuk bertransformasi menjadi media dan fasilitator yang mampu mengintegrasikan bakat personal siswa dengan kebutuhan zaman yang terus berkembang. Fungsi guru bergeser tidak lagi menjadi satu-satunya pusat pembelajaran dan sumber untuk transfer ilmu. Di SMA Negeri 2 Pinggir, tantangan ini terlihat dalam dinamika kehadiran dan partisipasi siswa yang beragam. Meski mayoritas siswa tetap menjalankan kewajibannya, masih ditemukan segelintir siswa dengan tingkat kehadiran rendah serta perilaku membolos . yang mengindikasikan adanya diskoneksi emosional dengan sekolah. Sebagian siswa berangkat dari rumah hadir tanpa makna di kelas, mulai dari mereka yang kehilangan fokus akibat kelelahan karena ada yang bekerja sebagai buruh perkebunan sepulang sekolah, ada juga yang selalu mengantuk akibat pengaruh game online, seperti dinyatakan oleh Prasetyo et al. siswa yang giat menggunakan gadget sangat memengaruhi perkembangan psikologis anak, seperti mudah marah, memberontak, meniru perilaku di gadget dan game online. Dampak lain terkait kedisiplinan, anak malas melakukan aktivitas apapun, kehilangan semangat belajar, dan pembelajaran di sekolah sekadar memenuhi tuntutan orang tua yang berharap anaknya paling tidak bisa menyelesaikan studi sampai tingkat SMA, namun dalam diri anak sendiri sudah tidak menginginkan pembelajaran tersebut. 148 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Hal paling penting yang harus dilakukan guru saat ini dikutip dari pernyataan Anisah & Andriani, . adalah melakukan kontrol eksternal melalui tindakan-tindakan yang melahirkan kedisiplinan dari dalam diri siswa, self-discipline, sehingga dengan tegaknya kedisipilan, siswa dengan sadar akan mematuhi segala bentuk aturan, norma dan batasanbatasan yang berlaku. Diawali dengan penegakan disiplin guru bisa menciptakan situasi proses belajar mengajar yang dapat mendorong murid berpartisipasi aktif dalam belajar Fenomena ini dapat dibedah melalui Social Cognitive Theory dari Albert Bandura, yang menekankan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh interaksi timbal balik antara faktor kognitif, lingkungan, dan perilaku itu sendiri. Dalam konteks ini, rendahnya partisipasi siswa di SMA Negeri 2 Pinggir bukan sekadar masalah disiplin, melainkan kegagalan ekosistem pendidikan dalam membangun self-efficacy siswa. Hal ini didukung oleh penelitian internasional oleh Samuel & Burger, . yang menegaskan bahwa ketika anak memiliki pengalaman hidupan yang negatif, tingkat efikasi diri . elf-efficac. dan dukungan sosial yang rendah, akan memiliki probabilitas . untuk melakukan penarikan diri . chool withdrawa. , bahkan hingga meningkatkan intensitas niat untuk putus sekolah. Di SMA Negeri 2 Pinggir, budaya malas belajar pada sebagian siswa telah menjadi pola perilaku yang terakumulasi, dan terus berakar hampir di setiap kelas dan tahun pelajaran. Pihak sekolah tidak serta-merta memberhentikan anak yang bermasalah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, mulai dari keterbatasan penanganan kasus hingga empati guru terhadap kondisi geografis . iswa harus berangkat ke sekolah menempuh jarak yang jauh melewati jalan perkebunan yang darurat, saat hujan licin dan becek, saat kering berdeb. juga keadaan ekonomi yang memaksa siswa harus bekerja sebagai buruh perkebunan, untuk mencukupi kebutuhan sendiri . ajan, minyak moto. atau juga membantu kebutuhan keluarga. Pertimbangan lain yang diduga menjadi penghalang utama untuk memberi sanksi pemberhentian pada beberapa anak yang bermasalah tersebut adalah penurunan jumlah siswa secara signifikan hampir mencapai 30% di SMAN 2 Pinggir dalam empat tahun terakhir. Diketahui berdasarkan Data Pokok Pendidikan SMAN 2 Pinggir jumlah penerimaan Siswatahun 2022 ada 126 orang, tahun 2023 ada 100 orang, tahun 2024 menurun hingga 97 orang dan tahun 2025 hanya mendapat 74 orang. Penurunan ini mencerminkan memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap peran sekolah sebagai instrumen mobilitas sosial. Permasalahan ini diperburuk oleh minimnya daya dukung orang tua, yang dalam konteks sosiopedagogis merupakan pilar utama keberhasilan Merujuk pada EpsteinAos Theory of Overlapping Spheres of Influence, keberhasilan akademik anak ditentukan oleh sinergi antara tiga domain utama: keluarga, sekolah, dan Kurangnya keterlibatan salah satu domain, terutama keluarga, menciptakan celah yang menghambat perkembangan siswa. Di lingkungan SMA Negeri 2 Pinggir, tekanan ekonomi sering kali memaksa orang tua untuk bersikap pragmatis. Dalam kesibukan aktivitas pekerjaannya mereka abai dalam memperhatikan pertumbuhan karakter, kepribadian serta pendidikan anak-anaknya sesuai dengan pernyataan Marzuki & Setyawan, . , peran orang tua sangatlah penting dalam tumbuh kembang anak, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, tapi yang paling penting memperhatikan perkembangan moral dan karakter anak, sehingga anak dapat hidup dan tumbuh sesuai norma agama dan masyarakat yang berlaku. Realitas ini diperkuat oleh studi penelitian dari Edo & Yasin, . menyimpulkan anak-anak dari keluarga dengan taraf ekonomi yang baik memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, fasilitas pendukung, dan bimbingan belajar, sementara 149 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 anak-anak dari keluarga kurang mampu sering menghadapi keterbatasan yang menghambat potensi mereka. Lingkungan sosial-ekonomi yang mendukung juga memberikan motivasi dan peluang lebih baik bagi anak-anak untuk meraih prestasi. Persistensi nilai-nilai tradisional yang menormalisasi pernikahan dini juga menjadi hambatan sistemik. Sebagaimana ditegaskan oleh Juhaidi & Umar, . pernikahan dini dapat terjadi karena faktor kemiskinan. pandangan pertama pernikahan dini dianggap mengurangi beban keluarga karena anak yang menikah dianggap sudah mampu hidup mandiri, tidak lagi menjadi tanggungan orang tua. Kedua, anak yang dinikahkan pada usia dini akan menjadi tanggungan suaminya dan akan memiliki kehidupan yang lebih baik dengan suaminya. Dalam skala global. Sivakumaran & Balakrishnan, . menjelaskan bahwa intervensi komunitas sangat krusial, karena tanpa adanya rekonstruksi pola pikir orang tua, siswa akan terjebak dalam ekspektasi budaya dan mengabaikan kepentingan akademik. Kegagalan sekolah dalam memitigasi masalah ini sering kali disebabkan oleh belum optimalnya fungsi bimbingan dan pengawasan. Meskipun SMA Negeri 2 Pinggir memiliki program Home Visit, pelaksanaannya masih terbatas pada rutinitas administratif yang reaktif. Sulamseh et al. , . dari hasil penelitiannya menyatakan bahwa kegiatan strategi Home Visit menjadi salah satu alternatif untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam mata pelajaran, tidak hanya di masa pandemi, tetapi juga dalam situasi normal. Merujuk pada studi Arswimba, . , tujuan home visit adalah untuk menambah kelengkapan data/informasi tentang siswa melalui wawancara dengan orang tua, sehingga dari informasi yang ada, konselor atau guru BK di sekolah dapat memetakan kebutuhan belajar anak, serta membangun kerja sama dengan orang tua meningkatkan kepedulian terhadap permasalahan anak di sekolah ataupun rumah. Lebih mendalam Hayati, . menyatakan orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Orang tua menjadi sumber utama dalam pembentukan pola pikir dasar dari seorang anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Aristin, . dalam penelitiannya mengamati tingginya anak putus sekolah di kecamatan Bondowoso dipengaruhi banyak faktor, salah satu yang dijelaskan adalah faktor sosial ekonomi dalam keluarga yang dapat berupa jenis pekerjaan orang tua, jumlah tanggungan keluarga, latar belakang pendidikan orang tua, di mana ditemukan masih banyak orang tua yang berpikir pendidikan tidak terlalu penting dibandingkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari sehingga anak-anak lebih diprioritaskan bekerja membantu orang tua, yang akhirnya berdampak pada kurangnya semangat belajar anak hingga memilih untuk putus sekolah. Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan sebuah kesenjangan . yang sangat kontras antara harapan teoritis dengan realitas di SMA Negeri 2 Pinggir. Meskipun Home Visit telah lama dijalankan sebagai program sekolah untuk mengakomodasi permasalahan minimnya kehadiran Siswadi sekolah dan kurangnya partisipasi anak di sekolah, kenyataannya perilaku membolos . tetap ditemukan hampir di setiap kelas tanpa penurunan berarti. Fenomena siswa yang berhenti sekolah . rop-ou. juga masih ada, yang lebih memprihatinkan penurunan jumlah siswa secara kumulatif selama empat tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakefektifan mendasar dalam model implementasi Home Visit yang ada saat ini, mungkin hanya mampu menyentuh aspek administratif-formal namun gagal menembus akar masalah yang ada. Kesenjangan ini menegaskan bahwa pendekatan konvensional terhadap orang tua selama ini sudah sangat tidak efektif dan tidak berpengaruh positif dalam pembelajaran. diperlukan sebuah rekonstruksi strategi kepedulian yang mampu mengubah pola pikir orang 150 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 tua dari sikap abai menjadi partisipatif sehingga melalui pembaharuan strategi Home Visit mendorong perubahan perilaku anak ke arah yang lebih positif . Oleh karena itu. Home Visit tidak boleh lagi dipandang sebagai tugas sampingan, melainkan harus dikonstruksi ulang sebagai instrumen diplomasi pendidikan. Optimalisasi program ini sangat mendesak sebagai langkah strategis dalam mengedukasi orang tua mengenai bahaya pernikahan dini dan pentingnya pendidikan sebagai aset jangka panjang. Tanpa adanya langkah rekonstruksi yang nyata. SMA Negeri 2 Pinggir berisiko kehilangan peran strategisnya, dan siswa akan terus kehilangan motivasi hingga merusak potensi diri dan masa depannya. Berdasarkan kompleksitas permasalahan tersebut, penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan menganalisis strategi optimalisasi program Home Visit yang tidak sekedar kunjungan rumah namun merancang sebuah rekonstruksi strategi kepedulian yang integratif agar orang tua kembali membangun kemitraan strategis yang mampu meningkatkan efikasi diri serta partisipasi aktif siswa di SMA Negeri 2 Pinggir. Melalui rekonstruksi pola pikir orang tua dan penguatan sinergi antara sekolah dan keluarga, penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi aplikatif untuk mengatasi hambatan kehadiran siswa di wilayah marginal secara berkelanjutan. METODE Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Pemilihan metode ini didasarkan pada tujuan penelitian yang ingin mengeksplorasi dan mendeskripsikan fenomena sosial secara mendalam terkait strategi rekonstruksi kepedulian orang tua melalui program Home Visit. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami realitas sosiopedagogis di SMA Negeri 2 Pinggir secara holistik, mencakup perspektif guru, orang tua, dan siswa dalam konteks lingkungan marginal perkebunan. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pinggir. Kabupaten Bengkalis. Provinsi Riau. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja . mengingat sekolah ini memiliki karakteristik unik berupa tantangan geografis wilayah perkebunan dan isu partisipasi siswa yang mendesak. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama 1 bulan April 2026, mencakup tahap persiapan, pengumpulan data lapangan, hingga analisis data hasil penelitian. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik purposive sampling untuk mendapatkan informasi yang kaya dan relevan. Informan kunci terdiri dari Kepala Sekolah, guru Bimbingan dan Konseling (BK), dan wali kelas sebagai pelaksana teknis program Home Visit. Selain itu, penelitian ini melibatkan informan pendukung yang terdiri dari orang tua siswa yang memiliki riwayat ketidakhadiran tinggi serta siswa yang terlibat dalam perilaku membolos . Hal ini dilakukan untuk mendapatkan triangulasi sumber data yang valid. Instrumen Penelitian Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri . uman instrumen. sebagai pengumpul data kunci di lapangan. Untuk mendukung proses tersebut, digunakan instrumen pendukung berupa pedoman wawancara terstruktur melalui beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh guru BK, wali kelas, orang tua dan murid, kemudian wawancara semi terstruktur melalui bertanya langsung pada beberapa orang tua dan guru di SMAN 2 Pinggir , selanjutnya serta pedoman studi dokumentasi untuk meninjau catatan kehadiran siswa, jurnal kegiatan Home Visit, dan data demografi siswa. 151 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Prosedur dan Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama. Pertama, wawancara mendalam dilakukan untuk menggali persepsi guru dan orang tua mengenai efektivitas komunikasi dan kendala pendidikan. Kedua, observasi dilakukan untuk melihat hasil pengisian instrumen yang diisi oleh Guru BK, wali kelas, orang tua dan murid dan ketiga, studi dokumentasi dilakukan terhadap arsip sekolah terkait grafik kehadiran siswa dan laporan periodik bimbingan konseling. Seluruh data yang terkumpul kemudian diverifikasi menggunakan teknik triangulasi . riangulasi sumber dan tekni. untuk menjamin keabsahan Analisis data dilakukan secara interaktif mengikuti model Miles. Huberman, dan Saldana, yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Peneliti menyaring informasi mentah dari lapangan, mengelompokkannya sesuai dengan fokus optimalisasi Home Visit dan rekonstruksi kepedulian, kemudian menyajikannya dalam bentuk narasi deskriptif yang logis. Pada tahap akhir, peneliti melakukan sintesis data melalui teknik triangulasi untuk merumuskan kesimpulan akhir yang komprehensif, sekaligus merumuskan model kunjungan rumah yang integratif sebagai solusi atas permasalahan partisipasi siswa di lokasi penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan dilakukan melalui wawancara terstruktur dan wawancara semi struktural kepada 1 orang guru Bimbingan dan Konseling (BK) , 6 orang wali kelas, 6 orang wali murid . rang tu. dan 6 orang Siswa( di lingkungan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA) Negeri 2 Pinggir yang tersangkut masalah minimnya kehadiran dan rendah partisipasinya di sekolah, hasil pengamatan memiliki perbandingan sebagai berikut Tabel 1. Hasil pengisian Instrumen pengamatan melalui wawancara terstruktur terhadap Guru BK, wali kelas, orang tua dan Murid Aspek Guru BK/Wali Kelas Orang Tua (OT) Murid Siswa Pengamatan Mengamati adanya Mayoritas memantau namun Siswa 5 & 6 mengaku sering Kepatuhan & pelanggaran aturan dan baru bertindak jika ditegur melanggar. PD 2 & 4 disiplin Kedisiplinan perlunya pengawasan ketat. pihak sekolah. karena diawasi guru. Kontrol Gadget / Game Identifikasi gadget sebagai Mayoritas memantau namun Siswa5 & 6 mengaku sering hambatan utama konsentrasi baru bertindak jika ditegur melanggar aturan penggunaan pihak sekolah. Keyakinan Pendidikan Motivasi belajar menurun akibat faktor ekonomi dan Sebagian besar (OT 1, 3, 4. Mayoritas merasa sekolah . belum yakin pada tujuan tidak mengubah nasib karena tekanan ekonomi. Komitmen Kehadiran Mencatat frekuensi membolos siswa yang cukup tinggi di lapangan. Setuju menunda pernikahan Siswa 3, 4, 5 mengaku tidak dini jika anak sekolah, hadir lama tanpa keterangan namun kontrol lemah. Hambatan Geografis Jarak tempuh dan akses jalan rusak menjadi alasan utama absen. Menekankan motivasi lisan Siswa 1, 3, 5, 6 sering absen di tengah keterbatasan karena faktor jalan rusak dan ekonomi keluarga. jarak jauh. 152 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Aspek Pengamatan Guru BK/Wali Kelas Komunikasi Perlu adanya jemput bola (Home Visi. untuk menyamakan persepsi. Vol. No. April-Juni 2026 Orang Tua (OT) Murid Mayoritas (OT 2, 3, 4, . hanya merespon saat dipanggil sekolah. Siswa Merasa ada jarak komunikasi antara harapan sekolah dan kondisi riil. Begitu juga hasil studi dokumentasi dari 6 rombongan belajar yang terdiri dari tiga kelas X dan tiga kelas XI. Jelas terlihat hampir setiap hari dari setiap kelas terdapat anak yang tidak hadir tanpa keterangan dan data terbaru hingga April 2026 yang lalu juga masih ditemukan beberapa anak bolos dalam kegiatan pembelajaran di di SMAN 2 Pinggir seperti ditunjukkan pada tabel 2 berikut : Tabel 2. Rekap Absensi Siswa diambil secara acak mulai 30 Maret sampai dengan 30 April 2026 Hari/Tanggal Kelas Siswa Sakit Siswa Izin Siswa Alpa Siswa Bolos Kelas X Senin/30 Maret 2026 Kelas XI Kelas X Senin/06 April 2026 Kelas XI Kelas X Jumat/10 April 2026 Kelas XI Kelas X Rabu/15 April 2026 Kelas XI Kelas X Kamis/16 April Kelas XI Kelas X Senin/20 April 2026 Kelas XI Kelas X Jumat/24 April 2026 Kelas XI Kelas X Kamis 30 April 2026 Kelas XI Sumber : Data Absensi SMAN 2 Pinggir 2026 Terdapat sinkronisasi pandangan dan penilaian terhadap permasalahan kehadiran dan rendahnya partisipasi siswa di SMAN 2 Pinggir selaras dengan Social Cognitive Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura, di mana perilaku individu ditentukan oleh interaksi timbal balik antara faktor lingkungan, kognitif, dan perilaku itu sendiri. Penelitian ini fokus terhadap beberapa siswa yang bermasalah dan dari hasil pengamatan melalui wawancara terstruktur, serta wawancara semi terstruktur yang diwakili oleh 2 wali murid . rang tu. , mengindikasikan ada banyak tekanan yang mereka hadapi, sebagai anak dalam keluarga mereka merasa ikut bertanggung jawab memenuhi kebutuhan mereka sendiri seperti kebutuhan paket internet, uang saku, apalagi usia sudah mendekati dewasa mereka merasa harus bekerja. Untuk menyeimbangkan kelelahan fisik anak cenderung menghibur diri menghabiskan waktu bermain game dan tidak tertarik lagi dengan kegiatan pembelajaran di sekolah. Salah satu anak saat ditanya mengapa sering tidak masuk sekolah memberikan jawaban AuSetelah bekerja saya merasa lelah dan butuh waktu untuk bersantai, biasanya sampai di rumah saya sering menghabiskan waktu bermain game atau sekedar menjelajahi media sosial tapi keseringan lupa waktu dan tidak bisa terbangun saat harus ke sekolah, kalaupun berangkat ke sekolah hanya karena menghindari kemarahan orang tua, dan saya lebih sering memilih bolos sekolah dan nongkrong di warung-warungAy 153 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Secara fisik anak sudah lelah sepulang kerja, tugas-tugas sekolah tidak terselesaikan dengan baik, membayangkan konsekuensi apa yang akan didapat dari guru-guru, akan terakumulasi menjadi pengalaman negative dan meyebabkan anak gagal membangun selfefficacy seperti dijelaskan sebelumnya pada penelitian Samuel dan Burger, . pengalaman hidup yang negative serta minimnya dukungan sosial secara signifikan akan menyebabkan anak menarik diri dari kegiatan sekolah . chool withdrawa. Dari dua Siswadiperoleh informasi yang menunjukkan angka yang tinggi dalam pelanggaran aturan sekolah seperti mengabaikan tanggung jawab dan tugas tugas di sekolah, sering terlambat ke sekolah berujung pada perilaku membolos . Siswa tersebut hadir hanya sebatas rutinitas untuk mendapat ijazah. Menurut penelitian Zikry et al. , . Lingkungan keluarga, masyarakat, dan sebagian pihak sekolah memandang kerja anak sebagai realitas yang wajar, sehingga dukungan terhadap pendidikan dan penguatan motivasi belajar menjadi Orang tua yang dimintai keterangan juga mengaku baru bertindak jika menerima teguran dari sekolah, yang dikenal dengan istilah "Communication Gap". Orang tua sepenuhnya menaruh harapan kepada sekolah dalam membentuk karakter dan moral anak, tanpa ada control dan komitmen dukungan dari keluarga. Seharusnya menurut penelitian Anwar, . kedisiplinan belajar adalah hasil pembiasaan yang berlangsung secara konsisten di dalam lingkungan keluarga. Orang tua yang terlibat langsung dalam kegiatan belajar anak. Keterlibatan ini membantu anak merasa memiliki tanggung jawab terhadap tugas Pandangan orang tua cenderung bertentangan dengan pandangan Epstein, . dalam teori Overlapping Spheres of Influence, dimana kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah faktor utama dalam efektivitas pendidikan anak. Jika salah satu bagian saja dari faktor tersebut tidak berfungsi( lema. misalnya dalam penelitian ini tiga dari lima instrumen ditemukan kontrol orang tua yang pasif, maka akan memperkuat perilaku Ada juga orang tua yang peduli terhadap anak, melakukan kontrol sebatas lisan, namun pasif dalam komunikasi kemungkinan karena disibukkan dengan urusan pekerjaan demi mencukupi kebutuhan ekonomi yang juga perlu perhatian lebih, seperti terlihat dari pengamatan Kontrol penggunaan Gadget di lingkungan rumah, mayoritas orang tua hanya memotivasi secara lisan tanpa tindakan nyata terhadap penggunaan gadget. Bahkan mereka tidak tahu sampai pukul berapa anaknya dirumah disibukkan dengan gadget hingga mengabaikan tugas dan tanggung jawab di rumah maupun di sekolah. Sesuai dengan pernyataan Rini & Huriah, . pada penelitian sebelumnya yang menjelaskan Kecanduan gadget maupun internet yang dialami anak serta menggunakannya secara berlebihan akan mengganggu kehidupan dan aktivitas sehari-hari, biasanya anak cenderung bersikap apatis terhadap sekitar mereka. Jika orang tua hanya menegur tetapi tidak membuat aturan yang jelas, tidak ada kesepakatan pembatasan penggunaan gadget di rumah, akibatnya, anak akan mengalami gangguan jam tidur, sementara sekolah tidak bisa menjangkau dan mengontrol apa yang terjadi pada Siswadiluar jam belajar. Ditegaskan oleh Hasan & Putri, . dalam penelitiannya bahwa Orang tua perlu konsisten dalam meneerapkan aturan terkait dengan penggunaan gadget, bahkan diberi sangsi jika dilanggar agar mengindari kecanduan gadget pada anak Salah satu orang tua yang juga tidak ingin disebutkan Namanya juga sempat mengatakan Au sekarang dikit-dikit handphone buk, gak bisa diganggu apalagi disuruh gitu malah marah balek ke saya bukAy makin susah diatur, kalau ditanya kenapa gak sekolah, 154 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 malah ngeyel banyak alasannya peninglah,pusinglah, kadang malah bilang gak ada pelajaranlah hari ini di sekolahAy Orang tua yang lain memberi komentar berbeda Au Saya sih buk, berharap banget anak ini dapat lulus minimal SMA lah lumayankan ijazahnya bisa buat cari kerja, biar gak susah kaya kami orang tuanya ini, pergi pagi kerjain kebun orang, pulang udah magrib, taunya anak sekolah tapi sering dapat kabar ya bolos gitu buk. Ay Mengikuti Pernyataan Safitri, & Nurhayati, . dalam penelitian sebelumnya Ia menekankan bahwa perhatian orang tua memberikan dampak yang baik bagi anak seperti meningkatkan semangat dan motivasi belajar bagi anak. Secara langsung ditambahkan adanya perhatian dan bimbingan orang tua di rumah akan mempengaruhi kesiapan belajar siswa, baik di rumah maupun di sekolah. namun bila dilihat dari pernyataan orang tua tersebut menunjukkan bahwa orang tua sangat membutuhkan "panduan praktis" dari Guru Bimbingan dan Konseling, bagaimana mendampingi anak belajar di rumah, serta membantu anak menemukan potensi yang dimilikinya untuk membantu mengarahkan anak pada tujuan masa Ditegaskan dalam penelitian Ndruru et al. , . Aktivitas Bimbingan dan Konseling dapat memperkuat kepercayaan diri dan harga diri siswa Jika dicermati lebih lanjut penyataan orang tua tersebut mengandung makna pesimisme dan pasrah terhadap masa depan anak, harapan orang tua agar anak sebatas anak dapat menyelesaikan sekolahnya ( mendapatkan ijazah SMA), lalu bekerja, dan mendapatkan materi . , sementara anak melakukan hal sebaliknya mengabaikan sekolah. Ada juga sikap pesimisme yang cenderung mendorong orang tua mendukung pernikahan dini terhadap anak yang baru lulus SMA, sebagai solusi instan mengurangi beban ekonomi, juga sebagai bentuk kurangnya pemahaman terhadap tujuan pendidikan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh studi Juhaidi & Umar, . menjelaskan saat di sekolah itulah anak-anak dapat melihat harapan-harapan tentang masa depan, peluang untuk mendapat penghasilan, dan menemukan jati diri serta kebahagian kelak, tidak semata-mata memikirkan langsung menikah setelah tamat SMA. Selaras dengan tujuan pendidikan menurut Mustafa, . merupakan upaya untuk membentuk manusia yang memiliki nilai nilai luhur, yang hasilnya dikaitkan dengan hasil pembelajaran yang dilakukan di sekolah, sama halnya yang dituturkan oleh Bapak Ki Hajar Dewantara (KHD) Pendidikan itu "menuntun" segala kekuatan kodrat yang ada pada anakanak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. sesuai dengan hasil penelitian Marzuki & Setyawan, . mengenai pentingnya perhatian moral dan karakter di lingkungan keluarga, karena keluarga adalah lingkungan pertama anak dapat memperoleh pembelajaran dan pendidikan, bukan hanya ilmu pengetahuan umum tetapi juga ilmu agama, agar anak memiliki karakter dan kepribadian yang baik. Dampak Geografis terhadap Motivasi Belajar juga sangat rentan, dan perlu perhatian seperti dibahas dalam penelitian Slameto . , faktor eksternal seperti keadaan keluarga dan lingkungan tempat tinggal . memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapan belajar peserta didik. Sebagai pendidik harus kita sadari, hambatan fisik seperti ini lama kelamaan jika dibiarkan akan berubah menjadi hambatan mental . esimisme ekonom. Dari pengamatan hasil istrumen empat Siswasecara konsisten menyebutkan faktor jalan rusak dan ekonomi adalah alasan utama mereka jarang hadir di sekolah. Mereka memiliki keyakinan bahwa sekolah tidak akan mengubah nasib kehidupan di masa mendatang, seolah-olah kesusahan saat ini tetaplah menjadi kesusahan di masa mendatang, melihat cerminan dari kehidupan orang tuanya saat ini. 155 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Ini adalah bentuk learned helplessness . etidakberdayaan yang dipelajar. akibat lingkungan yang keras. Dari pengamatan hasil wawancara terstruktur terhadap Guru BK & Wali Kelas secara umum sudah terlihat upaya membangun komunikasi dengan orang tua, tetapi masih banyak hambatan serta kelemahan, terutama dalam mendapatkan informasi informasi penting terkait faktor yang menyebabkan minimya kehadiran anak di sekolah, serta rendahnya partisipasi . anak dalam pembelajaran. Guru BK dan wali kelas juga tidak sepenuhnya dapat memantau aktivitas anak di luar jam sekolah, dan kurang maksimal dalam memetakan keadaan ekonomi keluarga, letak geografi domisili anak, ditambah sikap orang tua yang kurang proaktif mendukung pendidikan anak. Hal ini menyebabkan guru kesulitan melakukan tindakan pencegahan dini . sebelum masalah Siswa membesar. Seperti saat sekolah menghubungi orang tua terkait minimnya kehadiran anak di sekolah, tidak ada tindak lanjut orang tua untuk ikut bersama dengan pihak sekolah memantau kehadiran anak setiap harimya, mereka hanya merespon saat dihubungi sekolah. Keterlibatan orang tua baru muncul jika ada teguran terhadap anak. Dapat disimpulkan tidak ada kesenambungan antara pendidikan di rumah dan disekolah Berikut pernyataan salah satu guru saat dihubungi terkait tindakan yang dilakukan saat mendapat informasi ada anak yang sering tidak hadir di sekolah. AuSaya sudah menghubungi beberapa orang tua yang anaknya sering tidak hadir, saya mengabari anak sering tidak masuk sekolah, dan menanyakan apa kira kira yang menjadi kendala anak, respon orang tua sebatas memberi jawaban kalau si anak berangkat kesekolah pagi hari, dan tidak tau kalau ternyata bolos, saya mengajak orang tua bisa datang kesekolah untuk membicarakan masalah tersebut secara intensif, namun kebanyakan orang tua seperti menghindar dengan alasan tidak bisa meninggalkan kerja, tidak ada kendaraan, dan lain lain, sehingga masalahtidak pernah selesai dan anak terus megulang tindakannyaAy Guru BK dan wali kelas melihat dampak dari budaya sekitar yang masih mengizinkan anak sekolah sambil bekerja juga akan terus mendorong anak melakukan aksi bolos bahkan putus sekolah . rop-ou. karena factor kelelahan, kurangnya edukasi yang mendukung baik terhadap anak maupun orang tua, namun idealnya guru BK dan wali sebaiknya sudah mempelajari profil lengkap peserta didik, latar belakang, gaya dan minat belajar, serta sosialkultur untuk mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan dalam pembelajaran. Peneliti menemukan adanya persepsi yang saling bertentangan antara pihak sekolah dan orang tua. Di satu sisi, guru melihat ketidakhadiran siswa sebagai suatu masalah kedisiplinan, meskipun selama ini sudah dijembatani dengan kegiatan home visit, masih tetap terjadi pada beberapa Siswadi setiap kelas, namun di sisi lain, ditemukan fakta bahwa tekanan ekonomi, serta faktor geografis . alan rusa. yang harus dialami orang tua dan dihadapi Siswa adalah akar masalah yang belum dapat dipecahkan. Diskoneksi emosional siswa di SMAN 2 Pinggir dimulai dari pemahaman yang salah bahwa sekolah menjadi beban tambahan bagi Siswayang harus bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sementara program Home Visit yang ada saat ini justru membuat kesenjangan antara sekolah. Siswadan keluarga. Ditengah konflik yang dialami peserta didik, guru BK dan wali kelas dengan tegas hadir sebagai media untuk menegakkan kedisiplinan sekolah, menguraikan segala bentuk pelanggaran yang dilakukan peserta didik, tanpa menyadari anak merasa dihakimi dan diadili di depan orang tuanya. Hasil pengamatan di lapangan menemukan hal sebagai berikut 156 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Overlapping Spheres of Influence ketimpangan yang sangat besar antara sekolah dan rumah. Guru BK dan wali kelas berupaya menegakkan aturan sekolah secara formal, orang tua cenderung bersikap pasif-reaktif. Komunikasi tidak berjalan dua arah, dan tidak mendukung kolaboratif. Informasi yang disampaikan wali kelas kepada orang tua sifatnya instruksional, dan jika terabaikan menyebabkan munculnya celah Auhilangnya pengawasan" sehingga Siswaleluasa untuk melanggar aturan. Krisis Efikasi Diri dan Pesimisme Ekonomi (Learned Helplessnes. Krisis kepercayaan diri yang menyebabkan orang tua maupun Siswatidak yakin lagi sepenuhnya pada hakikat pembelajaran dan tujuan pendidikan untuk merubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Sikap pesimisme ditambah tekanan ekonomi dan hambatan geografis . alan rusa. memperparah hilangnya motivasi intrinsik anak untuk terus berjuang belajar mencapai cita cita di masa mendatang. Kegagalan Model Home Visit Konvensional Home visit yang berjalan terbukti sangat tidak efektif, karena cenderung dilaksanakan untuk melengkapi administrasi kegiatan guru BK dan wali kelas saat terjadi konflik. Seringkali masalah tidak selesai hingga tuntas, dan terus terulang. Orang tua dan anak masih menganggap home visit sebagai bentuk sidak ke rumah, dan tujuannya untuk menunjukkan sanksi sanksi yang akan diberlakukan sekolah seperti mengantarkan surat Peringatan. Siswa dan orang tua justru cenderung ingin menghindari keadaan tersebut, hasilnya komunikasi semakin jauh dan solusi tidak didapatkan. Berdasarkan teknik triangulasi data yang menyintesis perspektif guru BK/wali kelas, orang tua, dan peserta didik, penelitian ini menyimpulkan bahwa rendahnya kehadiran dan partisipasi beberapa siswa di SMA Negeri 2 Pinggir merupakan hasil dari interaksi timbal balik yang negatif antara faktor lingkungan, kognitif, dan perilaku, bukan disebabkan oleh masalah disiplin semata, melainkan keterkaitan antara berbagai masalah dan terakumulasi menjadi suatu fenomena sistemik. Hal ini selaras dengan konsep Triadic Reciprocal Determinism dari Albert Bandura, yang menyatakan bahwa: "Human functioning is a product of a dynamic interplay of personal, behavioral, and environmental influences" (Bandura, 1. Lebih lanjut, hasil triangulasi mengungkap Terdapat kesenjangan . mendasar yang menyebabkan program home visit ini tidak efektif dalam menurunkan angka bolos peserta Analisis dilihat dari hasil wawancara yang menjelaskan bahwa pelaksanaan kunjungan rumah saat masih terjebak dalam pola reaktif dan instruktif-formal, baru bergerak saat konflikkonflik berat muncu, ini bertentangan dengan prinsip Arswimba . yang menekankan bahwa home visit seharusnya menjadi tindakan untuk memetakan kebutuhan belajar dan membangun kerja sama yang proaktif. Melalui analisis instrumen yang terpadu antara Guru BK dan Wali Kelas, orang tua, peserta didik, program Home Visit di SMAN 2 Pinggir memiliki urgensi sebagai jembatan Guru membutuhkan akses langsung ke rumah untuk emutus pola komunikasi reaktif menjadi kolaboratif. Menyelaraskan standar disiplin . erutama soal gadge. , dan Memberikan penguatan psikologis kepada orang tua agar mereka menjadi pendukung utama motivasi belajar anak, bukan sekadar penonton,untuk memulihkan kepercayaan publik dan meningkatkan partisipasi aktif siswa di tengah tantangan wilayah marginal yang kompleks. Sebagai simpulan akhir secara integratif, penelitian ini menegaskan bahwa program Home Visit SMAN 2 Pinggir membutuhkan suatu strategi yang teruji untuk mendapatkan 157 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 perubahan serta pembaharuan dalam diri peserta didik. Tidak lagi sekedar pemenuhan tanggung jawab guru BK dan wali kelas, atau sarana informasi mmetakan profil peserta didik, namun lebih dalam program home visit memiliki sinergi menciptakan kunjungan yang efektif yang mengedepankan sikap mendampingi Siswadengan rasa simpati yang positif . ukan menciptakan suasana mengancam, atau menyalahkan peserta didi. Dengan demikian Sekolah mampu memulihkan kepercayaan publik dan meningkatkan partisipasi aktif siswa di tengah tantangan sosialkultur yang kompleks. Strategi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Rekonstruksi Strategi Kepedulian Orang tua Terhadap Kehadiran Dan Partisipasi Siswa sehingga mengubah wajah Home Visit menjadi bagian dari instrumen diplomasi pendidikan di lingkungan SMAN 2 Pinggir. Strategi ini harus mampu mengedukasi orang tua secara persuasif agar bertransformasi dari sekadar penerima laporan masalah menjadi mitra strategis sekolah. Sebagaimana ditekankan oleh Sivakumaran & Balakrishnan . , bahwa intervensi komunitas dan rekonstruksi didikan . ola asu. orang tua merupakan hal yang sangat penting untuk memutus pemahaman terhadap budaya yang tidak mementingkan pendidikan . dalam suatu kehidupan masyarakat. Strategi ini dapat dimulai dengan melakukan koordinasi yang jelas dan tepat dari tim program home visit di sekolah, melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan secara Strategi lain yang paling penting yaitu membangun kembali kepedulian orang tua terhadap Pendidikan anak di sekolah, sehingga dengan startegi yang solid, intervensi sekolah akan berhasil mengatasi permasalahan kehadiran dan minimnya partisipasi anak di sekolah hingga ke akar masalah. Program home visist harus dapat menerapkan tindakan monitoring berkelanjutan dan menghapus pola evaluasi pasif yang monoton, sekolah diharapkan dapat mencatat dan merekam setiap perubahan perilaku Siswasecara berkala, dan pantau secara konsisten. Penerapan model kunjungan yang intensif dan proaktif akan meningkatkan efikasi diri siswa serta memulihkan kepercayaan publik terhadap peran strategis sekolah, khususnya di wilayah marginal, secara berkelanjutan akan menguatkan mental Siswaagar tidak terjebak pada perilaku putus sekolah dan rendahnya minat serta partisipasi belajar Melalui analisis instrumen yang terpadu antara Guru BK dan Wali Kelas, orang tua, dan peserta didik, program Home Visit di SMAN 2 Pinggir memiliki urgensi sebagai jembatan Guru membutuhkan akses langsung ke rumah untuk memutus pola komunikasi reaktif menjadi kolaboratif, menyelaraskan standar disiplin . erutama soal gadge. , dan memberikan penguatan psikologis kepada orang tua agar mereka menjadi pendukung utama motivasi belajar anak, bukan sebagai penonton. KESIMPULAN Pengaruh lingkungan . eografis, ekonomi keluarga, pengaruh rendahnya rasa percaya diri ( self-efficacy ), dan factor perilaku karena faktor kelelahan bekerja terakumulasi membentuk interaksi negative yang mempengaruhi rendahnya kehadiran dan partisipasi siswa di SMAN 2 Pinggir. Program Home Visit yang dijalankan di SMAN 2 Pinggir terbukti sangat tidak efektif , dibuktikan dengan penjelasan wali kelas yang melaksanakan kunjungan saat anak-anak terlibat masalah yang tergolong berat seperti sering bolos, dan mengantuk di sekolah. Kunjungan cenderung bersifat administratife untuk menjalankan kewajiban sebagai wali kelas dan guru BK. Terdapat kesenjangan Komunikasi (Communication Ga. dan pandangan antara pihak sekolah dan keluarga. Sekolah semaksimal mungkin berusaha menjalankan prosesur pendidikan sesuai aturan formal yang berlaku, namun gagal memahami sosialkultur 158 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Masyarakat setempat dimana orang tua kurang berperan memperhatikan perkembangan karakter positif dalam diri anak . arena keterbatasan pengetahuan, tekanan ekonom. sehingga menyerahkan sepenuhnya Pendidikan karakter anak kepada pihak sekolah. Kelelahan fisik dan beban Kerja membuat Siswa cenderung memilih gadget sebagai pelarian . dan hiburan tanpa batas waktu dan tanpa pengawasan orang tua sampai mengganggu jam tidur. Akibatnya dalam keadaan yang kurang stabil cenderung memilih bolos sekolah, atau berangkat kesekolah hanya sebatas mengisi daftar hadir namun tidak berpartisipasi sedikitpun dalam pembelajaran di sekolah. Rekonstruksi Strategi Kepedulian diperlukan untuk merubah paradigma dari Home Visit formal menjadi instrumen diplomasi pendidikan. Rekonstruksi diharapkan dapat mengedepankan pendekatan persuasif dan empatik untuk memulihkan kepercayaan publik, mengedukasi orang tua tentang makna pendidikan sebagai aset investasi jangka Kemitraan Strategis yang Integratif akan mengoptimalisasi tujuan program Home Visit dalam menjalin kemitraan proaktif dan kolaboratif antara sekolah dan keluarga. Sekolah diharapkan dapat memetakan profil siswa secara utuh . osial-ekonomi dan geografi. agar dapat memberikan "panduan praktis" bagi orang tua dalam mendampingi anak di rumah sehingga tercipta kesinambungan pendidikan yang mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa secara berkelanjutan. REFERENSI