Subagyo, dkk / Tropical Animal Science 6. :79-84 Tropical Animal Science. Nov 2024, 6. :79-84 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH LAMA FERMENTASI ONGGOK MENGGUNAKAN MA11 TERHADAP KUALITASFISIK DAN BERAT KERING THE EFFECT OF FERMENTATION LONG TIME USING MA-11 ON PHYSICALQUALITY AND DRY WEIGHT Ahmad Wahid Subagyo1. Ali Mursyid Wahyu Mulyono2. Sri Sukaryani2 1Mahasiswa Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian. Univet Bantara Sukoharjo, 57521 2Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian. Univet Bantara Sukoharjo, 57521 E-mail korespondensi: ahmadwahids10@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi onggok menggunakan MA-11 terhadap pH, suhu fermentasi, dan berat kering panen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah one-way ANOVA. Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini adalah 4 macam lama fermentasi yaitu. P0: Fermentasi onggok menggunakan MA-11 selama 0 hari. P1: Fermentasi onggok menggunakan MA-11 selama 2 hari. P2: Fermentasi onggok menggunakan MA-11 selama 4 hari. P3: Fermentasi onggok menggunakanMA-11 selama 6 hari, dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Proses fermentasi bersifat anaerob. Variabel yang di amati berupa suhu fermentasi, pH . , berat kering panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu mengalami kenaikan yang signifikan (P<0,. , pH . mengalami penurunan yang signifikan (P<0,. , dan berat kering panen mengalami kenaikan yang sangat signifikan (P<0,. Kata kunci: Onggok. Fermentasi, dan MA-11. ABSTRACT This research aims to determine the effect of onggok fermentation time using MA-11 on pH, fermentation temperature and dry weight of the harvest. The research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with a one-way ANOVA pattern. The treatments applied in this research were 4 types of fermentation time, namely. P0: Fermentation of onggok using MA-11 for 0 days. P1: Fermentationof onggok using MA-11 for 2 days. P2: Fermentation of onggok using MA-11 for 4 days. P3 : Fermentationof onggok using MA-11 for 6 days, with each treatment repeated 3 times. The fermentation process is anaerobic. The variables observed are fermentation temperature, pH . , dry weight of the Theresults showed that the temperature had increased significantly (P<0. , the pH . had decreased significantly (P<0. , and the dry weight of the harvest had increased very significantly (P<0. Keywords: Onggok. Fermentation, and MA-11. Subagyo, dkk / Tropical Animal Science 6. :79-84 PENDAHULUAN Sebanyak 19 juta ton singkong diproduksi di negara ini setiap tahun, dengan nilai komersial 20 triliun rupiah per tahun, menurut data BPS. Singkong dapat digunakan dalam berbagai industri, termasuk makanan, pakan, minuman, pakan, pestisida, kosmetik, farmasi,kertas, tekstil, energi terbarukan dan banyak lagi. Agenda kemandirian pangan RPJMN 2025Ae2029 berfokus pada pengembangan pangan lokal dan percaya bahwa singkong. Indonesia. Kementerian Pertanian memperkirakan luas panen mencapai 000 hektar pada tahun 2023 dengan produksi 18,28 juta ton. Onggok adalah limbah dari tepung tapioka yang dibuat dari singkong atau ubi Ini masih mengandung protein dan karbohidrat dan dapat digunakan sebagai alternatif pakan ternak. Anindyawati dan Sukardi . , menemukan bahwa onggok dapat mengatasi kekurangan pakan ternak. Kandungan pati dan seratnya yang tinggi (DW 55,5% dan DW . ry basi. 35,2%) membuat Onggok sangat cocok untuk digunakan sebagai makanan. (Chaikaew et , 2. Onggok akan memiliki kandungan protein kasar 1,88%, serat kasar, abu 1,15%, 15,62%. Ca0,31%, lemak kasar 0,25%, dan ekstrak bebas nitrogen (BETN) 81,10% menurut (Wizna, 2. Karena kandungan serat kasar yang tinggi dan kandungan gizi yang rendah dari limbah tanaman ubi kayu pemanfaatannya dan belum dapat diolah secara optimal. Meskipun ongok dapat kandungan serat kasarnya yang tinggi membuatnya berpotensi mengeluarkan sianat glukosida (HCN), yang merupakan penghambat nutrisi, yang merugikan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan nilai gizi pakan. Diperlukan teknologi seperti proses fermentasi yang meningkatkan kualitas Perombakan bahan pakan pada struktur yang keras secara kimia, biologi dan fisik dikenal sebagai fermentasi. Proses inimembuat bahan yang kompleks menjadi lebih sederhana dan membuat daya cerna ternak menjadi lebih efisien. (Kurniawan et al. , 2. Mikroorganisme fermentasi tentunya harus ada. Bakteri, khamir, dan kapang adalah beberapa digunakan untuk proses fermentasi. Fermentasi adalah salah satu cara untuk menaikkan kualitas pakan asal limbah, mendegradasi pakan dan mungkin menaikkan kualitas gizi pakan yang kurang baik. (Menurut Artarizqi 2. , penggunaan bakteri microbacter alfaafa (MA-. adalah mikroba yang sangat memusnahkan yang memiliki kemampuan untuk mengubah rantai organik dengan cepat dan meningkatkan produksi pertanian dan ternak secara signifikan dalam hal Dengan penggunaan MA-11, waktu fermentasi akan dipersingkat, nilai protein kasar akan meningkat, dan kecernaan bahan pakan akan meningkat. MATERI DAN METODE Tempat dan waktu pelaksanaan penelitian ini berlangsung pada bulan Agustus 2024 dan penelitian ini dilakukan di Mikrobiologi dan Kimia Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Bahan yang digunakan adalah onggok kering dari limbah tepung tapioka yang diambil dari desa ngadirojo, kabupaten Subagyo, dkk / Tropical Animal Science 6. :79-84 wonogiri yang akan digunakan adalah onggok kering sebagai bahan utama Kemudian microbacter Alfaafa11 (MA-. Yang di formulasikan oleh Dr. Nugrohowidiasmadi yaitu MA-11 tersusun dari bakteri Rhizobium, yang di padukan dengan beberapa bakteri yang di ambildari rumen sapi yaitu bakteri selulolitk, bakteri proteolitik dan bakteriamilolitik. Peralatan penelitian antara lain toples plastik ukuran 1,3 liter untuk menyimpan fermentasi onggok, terpal dan baskom untuk menaruh bahan yang akan di fermentasi. pipet ukur untuk megukur MA-11 yang akan digunakan di fermentasisebanyak 0,8 ml, kertas pH untuk mengukur keasaman pH yang sudah melalui proses fermentasi, termometr untuk mengukur onggok yang sudah selsai proses fermentasinya, dan imbangan digital untuk mengukur berat kering onggok yang sudah di fermentasi dan di jemur di sinar matahari. Penelitian ini menggunakan design Rancangan acak Lengkap(RAL) pola searah dengan 4 macam perlakuan dan 3 kali ulangan. Fermentasi onggok dengan menggunakan MA-11 0,2%, perlakuan dalam penelitian ini adalah P0: lama fermentasi 0 hari . P1: lama fermentasi 2 hari. P2: lama fermentasi 4 P3: lama fermentasi 6 hari Pembuatan Fermentasi onggok dengan penambahan MA-11 adalah menyiapkan baskom untuk tempat mencampurkan , menyiapkan onggok dan MA-11, mencampurkan onggok sebanyak 400 gram dengan MA-11 0,8 ml yang sudah di campurkan aquades sebanyak 700 ml untuk pembuatan setiap unitnya yang sesuai dengan perlakuan yang diatasb dan dimasukkan ke dalam toples fermentasi ukuran 1,3 liter yang bersifat anaerob. Lama fermentasi sesuai perlakuan yang di atas, yaitu 0 hari, 2 hari, 4 hari, dan 6 hari kemudian dieluarkan dan dikeringkan mengunakan terpal di bawah sinar matahari sampai berat konstan. Variabel yang diamati adalah suhu fermentasi diukur menggunakan termometer yang dimasukkan kedalam bioreaktor. diukur menggunakan kertas indikator pH. Pengukuran pH dilakukan dengan cara memasukkankerta pH kedalam bioreaktor tersebut dan kemudian setelah menunggu 2 menit dilihat perubahan warna yang terjadi pada kertas pH untuk selanjutnya disesuaikan dengan skala indikator kertas pH tersebut. Berat kering panen onggok diukur dengan cara onggok di fermentasi hasil panen dikeringkan hingga berat konstan di bawah sinar matahari kemudian di timbang. Analisis Data yang diperoleh dari penelitian diolah menggunakan program Mirosoft Excel. Setelah diperoleh dan rata Ae rata deilanjutkan dengan analisis statistik menggunakan analisis (ANOVA) dari Rancangan Acak Lengkap (RAL). Apabila terdapat perbedaan, maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test. HASIL DAN PEMBAHASAN Suhu fermentasi merupakan parameter yang penting yang mempengaruhi aktivitas bakteri dan hidrolisis substrat. Hasil dari rerata suhu fermentasi dari pengaruh lama fermentasi onggok menggunakan MA-11 ditunjukkan pada tabel 1 Tabel 1. Rerata suhu pada onggok yang difermentasi menggunakan MA-11 (AC) Perlakuan Ulangan 28,00 29,00 29,00 31,00 28,00 30,00 28. 00 29,00 28,00 30,00 31,00 Rerata 27,33 29,00ab 29,00ab 30,33b Keterangan: (P<0,. Nilai pada baris rerata Subagyo, dkk / Tropical Animal Science 6. :79-84 onggok pada perlakuan (P. 27,33, (P. 29,00, (P. 29,00, dan (P. 30,33. Rerata dari onggok yang di fermentasi menunjukan, suhu fermentasi mengalami perbedaan secara signifikan(P<0,. Pada data yang di hasilkan menunjukan lama fermentasi onggok mempengaruhi naiknya rerata pada suhu fermentasi. Pada perlakuan P1. P2, dan P3 rerataa suhu fermentasi mengalami kenaikan di bandingkan pada perlakuan 0 Suhu fermentasi meningkat karena proses katabolisme atau pembentukan energi, yang menghasilkan panas selama Suhu fermentasi meningkat seiring dengan kecepatan pertumbuhan mikroorganisme (Abrar, 2. Nilai . H) merupakan salahsatu digunakan untuk mengevaluasi fermentasi. Adanya fermentasi bertujuan untuk menurunkan kadar asam . H). Hasil dari rerata pH . dari pengaruh lama fermentasi onggok menggunakan MA-11 ditunjukkan pada tabel 2 sebagai berikut. Tabel 2. Rerata pH pada onggok yang difermentasi menggunakan MA-11. Perlakuan Ulangan 6,00 5,00 5,00 4,00 6,00 6,00 4,00 4,00 5,00 5,00 4,00 4,00 Rerata 6,33 5,33 4,33 4,00a Keterangan: notasi pada baris rerata (P<0,. Nilai rerata pada pH fermentasi onggok pada perlakuan (P. 6,33, (P. 5,33,(P. 4,33, dan (P. 4,00. Rerata dari onggok yang di fermentasi menunjukan, pH mengalami perbedaan secara signifikan (P<0,. Pada data yang di hasilkan menunjukan lama turunnya rerata pada pH . Pada perlakuan P1. P2, dan P3 rerata pH . mengalami penurunan di bandingkan pada perlakuan 0 hari. Pertumbuhan mikroba yang terdapat pada MA-11 dipengaruhi oleh penurunan pH selama periode fermentasi. Lama fermentasi menunjukkan jumlah total bakteri dan mengalami peningkatan karena mikroba akan menghasilkan kondisi asam, yang mengakibatkan penurunan pH. Saranraj et al. , . menunjukkan bahwa pH produkfermentasi sangat terkait dengan kadar asam yang dihasilkan dan memiliki hubungan yang berlawanan dengan kandungan asam total. Afriani . , menyatakan bahwa proses fermentasi menghasilkan asam organik sebagai senyawa metabolit, yang mengakibatkan penurunan pH produk fermentasi. Karena MA-11 menurunkanpH subtrat, pH dapat turun. Proses perubahan bahan kering (Nurhaita, 2. Hasil dari rerata perubahan berat kering dari pengaruh lama fermentasi onggok menggunakan MA-11 dilihat pada tabel 3 sebagai berikut. Tabel 3. Hasil rerata berat kering panen onggok yang difermentasi menggunakan MA-11 ditunjukkan pada tabel 3. Perlakuan Ulangan 400,00 365,00 365,00 365,00 400,00 360,00 365,00 365,00 400,00 355,00 365,00 365,00 Rerata 400,00c 360,00a 365,00b 365,00b Keterangan: notasi pada baris rerata menunjukkan perbedaan sangat signifikan (P<0,. Nilai rerata pada berat kering panen fermentasi onggok pada perlakuan (P. 400,00, (P. 360,00, (P. 365,00, dan (P. 365,00. Rerata dari onggok yang di Subagyo, dkk / Tropical Animal Science 6. :79-84 fermentasi menunjukan, berat keringpanen mengalami penurunan yang signifikan (P<0,. Pada data yang di hasilkan menunjukan lama fermentasi onggok mempengaruhi turunnya rerata pada berat kering panen. Pada perlakuan P1 mengalami penurunan yang siginifikan di bandingkan 0 hari. Selama proses fermentasi, terjadi proses katabolisme, yang memecah senyawa kompleks menjadi zat gas atau cair yang lebih sederhana. Proses menyebabkan penurunan bobot kering panen dalam substrat. (Zumael et al. ,2. Cairan dan gas hal ini menyebabkan penurunan berat kering produk setelah fermentasi (Rahayu et al. KESIMPULAN Penelitian disimpulkan bahwa lama fermentasi onggok menggunakan MA-11 mempengaruh sisignifikan terhadap peningkatan rerata suhu fermentasi, . , penurunan berat kering panen. DAFTAR PUSTAKA