Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 7 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Pelestarian Kearifan Lokal Beryajna Melalui Edukasi Budidaya Tanaman Kelapa Upakara Di Desa Bunutin Kade Sri Yudari1. Ni Wayan Karmini2. I Gusti Ayu Ngurah3. Ni Nyoman Sriwinarti4 Universitas Hindu Indonesia. Indonesia sriyudari@unhi. id, 2karminiwayan@unhi. id, 3ayungurah@unhi. nyomansriwinarti@gmail. Abstract The implementation of rituals in Bali is form of local wisdom from generation to The local wisdom of yajna with the support of coconut facilities continues to be socialized, understood and interpreted in the form of knowledge, customary norm, cultural values and community behaviors carrying out various rites in Bunutin Village. This study aims to motivate the community through education on the importance of coconut cultivation and its positive impacts and benefit in religious life. The research design used a qualitative-methods based on the phenomenon of coconut scarcity during observations and interviews. The research is studied with a phenomenological perspective to generate the objective nature of human consciousness based on knowledge, experience in life. The results of the study show that the people in Bunutin Village enthusiastic about appreciating, feeling motivated and raising their awareness, understanding the need for cultivating the upakara coconut plants they seem quite active in seeking sulotions to overcome the scarcity of ritual facilities. The emergence of awareness cannot be separated from the role of motivators in educating the public in order to achieve the goal of preservation through the provision of coconut raw material which is sufficient and balanced with the intensity of the yajna implementation. Keyword: Yajna Local Wisdom. Upakara Coconut Cultivation Abstrak Pelaksanaan ritual di Bali merupakan bentuk kearifan local turun-temurun. Kearifan lokal beryajna dengan kelengkapan kelapa sebagai sarana terus disosialisasikan, digemakan dimaknai, dan dilanjutkan sebagai pengetahuan lokal, norma adat, nilai budaya, serta perilaku masyarakat saat melaksanakan berbagai ritus di Desa Bunutin. Penelitian ini bertujuan memotivasi, mengedukasi betapa pentingnya budidaya tanaman kelapa mengingat dampak positif dan manfaatnya sebagai sarana vital dalam ritual. Rancangan penelitian menggunakan metode kualitatif berdasarkan fenomena terjadinya kelangkaan kelapa didukung teknik observasi dan wawancara. Data yang terkumpul dikaji melalui perspektif fenomenologi sebagai pisau analisis dipandang dapat membangkitkan sifat objektif kesadaran masyarakat berdasarkan pengetahuan intelektual, dan pengalaman hidupnya. Hasil kajian menunjukkan, masyarakat Desa Bunutin antusias mengapresiasi, merasa termotivasi, dan bangkit kesadarannya untuk memahami perlunya budidaya tanaman kelapa upakara terlihat cukup aktif mencari solusi dalam mengatasi kelangkaan sarana upakara. Munculnya kesadaran tidak terlepas dari peran para motivator dalam mengedukasi masyarakat demi terwujudnya tujuan pelestarian, melalui penyediaan bahan baku yang mencukupi dan berimbang dengan kepadatan intensitas pelaksanaan yajna. Kata Kunci: Kearifan Lokal Beryajna. Budidaya Kelapa Upakara https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Kebudayaan yang berwujud nilai, akal budi, maupun gagasan merupakan bentuk kearifan lokal, dan secara universal dipandang sebagai anugerah bagi kehidupan manusia. Keuniversalan kearifan lokal menjadi bagian dari kebenaran terhadap keberadaan Tuhan sehingga wajib dipertahankan kelestariannya. Kearifan bidang pertanian dengan sistem konvensional, membuat para petani terkadang memaksa tanaman tumbuh dengan berbagai bahasa verbal maupun nonverbal untuk memperoleh hasil panen yang Pada satu sisi, sistem pertanian yang telah dipraktekkan oleh nenek moyang menuntun terjadinya keselarasan kondisi alam demi tercapainya pertanian berkelanjutan dan berpijak pada kearifan lokal. Di lain sisi, adanya sistem pertanian konvensional yang berkembang berdasarkan kepercayaan melalui penghormatan kepada sebuah keyakinan terhadap kekuatan penjaga alam, seringkali dipandang kurang efektif untuk mengatasi masalah konservasi alam lingkungan. Selanjutnya, pengelolaan sektor pertanian modern selain berpedoman pada sistem teknologi, diharapkan dapat membangkitkan pengetahuan lokal yang hikmahnya digali secara filosofis maupun pragmatis. Pemahaman antara tradisi lokal, sistem teknologi modern dan kondisi lingkungan hendaknya menjadi program prioritas demi terwujudnya harmonisasi rantai sosial, dan ekonomi tetap terjaga kelestariannya. Namun faktanya, eksistensi bidang pertanian terlihat seakan termarginalkan bahkan jauh dari jamahan teknologi digital apabila petani hanya berorientasi pada produktivitas hasil panen tetapi tidak mengindahkan kelestarian tanah yang diolah sebagai lahannya (Budiasih, 2. Sumber daya alam Bali yang potensial dan melimpah dapat dikelola dengan pengetahuan lokal dan teknologi pertanian modern yang memadai. Dengan menyelaraskan antara teori dan fakta yang terjadi, pemerintah Bali pada akhirnya mengambil langkah kebijakan sebagai solusi sekaligus peluang bagi para petani untuk melakukan perubahan paradigma demi pemenuhan kebutuhan hidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui Visi Nangun Sad Kerthi Loka Bali. Visi tersebut dimaksudkan untuk menuju Bali Era Baru dengan menata secara fundamental pembangunan Bali yang mencakup tiga aspek utama yakni. alam Bali, krama, serta kebudayaan Bali berdasarkan nilai-nilai Tri Hita Karana yang sesungguhnya berakar dari kearifan lokal Sad Kerthi. Sejumlah Peraturan Gubernur telah dikeluarkan untuk menata pembangunan secara menyeluruh, salah satunya Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian. Perikanan dan Industry Lokal Bali. Peraturan tersebut bertujuan menjadi panduan dalam memberi kepastian, kesinambungan pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian melalui peningkatan kuantitas, kualitas, kontinuitas produksi, lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Pada bidang pertanian lokal yang menjadi prioritas, meliputi jenis tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, dan peternakan (Dinas Pariwisata Daerah Bali, 2. Program pertanian dengan jenis tanaman perkebunan yang dapat mendukung bidang religi dipandang urgen saat ini adalah tanaman kelapa khususnya yang digunakan sebagai sarana upakara. Menanam kelapa memang tidak serta merta mendapatkan hasil secara instan, untuk melihat berbunga saja minimal 5-6 tahun bagi kelapa Dalam. Oleh sebab itu, sosialisasi dan edukasi sistem budidaya kelapa varietas baru terus dilaksanakan terhadap masyarakat. Melalui budidaya kelapa diharapkan antara kepadatan intensitas ritual beryadnya dengan ketersediaan sarana khususnya dalam pembuatan banten dapat Himbauan pemerintah terhadap masing-masing wilayah kabupaten dan kota untuk melakukan budidaya kelapa bukan tanpa tujuan, selain untuk pemenuhan sarana upakara, kelapa juga bermanfaat secara ekonomis dalam kehidupan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Berpedoman pada himbauan pemerintah untuk menjadikan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kenyataan, kami tim peneliti berkesempatan menindaklanjutinya melalui bantuan dana hibah penelitian internal dengan mengambil lokus di Desa Bunutin Kecamatan Bangli. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan memaparkan pentingnya melakukan motivasi dalam bentuk sosialisasi dan edukasi untuk membudidayakan tanaman kelapa khusus yang digunakan sebagai kelengkapan upakara, mengingat dampak dan manfaatnya sangat besar bagi kehidupan masyarakat di Bali. Penulisan artikel melalui proses pengkajian beberapa pustaka dan dokumen yang relevan diantaranya: Lenrawati . , menyebutkan kelapa merupakan tanaman serba guna sebab hampir seluruh bagiannya memiliki manfaat bagi kehidupan manusia. Bahwa kelapa merupakan komoditas strategis, memiliki fungsi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Selayar. Berikutnya, kajian dari hasil penelitian Farah . , menemukan sebanyak 68 jenis ramuan berbahan baku kelapa yang dikelompokkan ke dalam 14 kategori berfungsi sebagai pengobatan sehingga kelapa dipandang bermanfaat bagi masyarakat yang berada di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman. Demikian halnya Adiputra & Wardi . , dalam hasil penelitiannya menemukan adanya budaya penamaan terhadap jenis kelapa tertentu sesuai tradisi di Bali sehingga muncul istilah Nyuh Madan . elapa yang bernam. Kelapa yang menjadi temuannya ada 12 diantaranya. Nyuh Bulan. Nyuh Gading. Nyuh Gadang. Nyuh Sudamala. Nyuh Udang. Nyuh Bojog. Nyuh Rangda. Nyuh Surya. Nyuh Be Julit. Nyuh Bongol. Nyuh Mulung. Nyuh Arum yang berfungsi sebagai sarana upakara dan Dalam artikel lain bahkan dinyatakan terdapat 26 jenis kelapa ber-nama ditemukan merujuk pada ciri atau tanda dan karakter fisiknya. Sebuah penelitian yang cukup menarik dan masih relevan dengan artikel ini menyebutkan bahwa adanya kearifan lokal yang berpotensi memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan kehidupan budaya beryajna masyarakat Bali hendaknya tetap dipertahankan dan dilestarikan. Pelestariannya dapat dilakukan melalui pengetahuan tradisional secara lisan turun-temurun meniru, menghafal, mendengar obrolan atau cerita mitologi di tempat-tempat pertemuan. Salah satu sistem pengetahuan yang berfungsi menjelaskan hubungan kompleks antara budaya dan penggunaan tanaman sebagai sarana upakara berkaitan dengan ilmu etnobotani. Hasil kajiannya dapat dikembangkan melalui bidang seni, budaya, kesehatan, pangan, yang secara tidak langsung turut berkontribusi membangun ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam analisanya dinyatakan bahwa berbagai jenis tumbuhan dapat digunakan hampir pada seluruh ritual keagamaan Hindu (Surata et al. , 2. Relevansi artikel ini memberikan gambaran secara gamblang bahwa hampir semua tanaman bermanfaat dalam kehidupan, sedangkan penelitian yang kami lakukan secara khusus menganalisis fungsi kebermanfaatan kelapa sebagai kelengkapan sarana upakara yang cukup vital dilihat dari berbagai sudut pandang. Kajian beberapa pustaka tersebut di atas cukup berkontribusi serta menginspirasi khususnya hasil penelitian Nyoman Adiputra dkk dan penelitian I Ketut Surata, dkk. Selanjutnya, tim peneliti melakukan penelusuran lapangan mengenai keberadaan kelapa dimaksud dalam waktu terbatas dan menemukan 8 . jenis sudah berbentuk bibit. Kelapa bibit tersebut disumbangkan kepada masyarakat untuk dibudidayakan di Desa Bunutin sebagai wujud partisipasi serta solusi mengatasi kelangkaan kelapa yang diperuntukkan sarana beryajna. Walaupun hasilnya tidak dirasakan instant minimal dapat berkontribusi bagi masyarakat yang sangat membutuhkan. Proses jalannya penelitian, dilakukan melalui tahapan sosialisasi, motivasi dan edukasi terhadap masyarakat petani tentang pentingnya budidaya kelapa secara teoretis maupun praktis dalam kehidupan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, diawali dengan langkah-langkah perancangan, untuk menentukan lokus dan focus kajian, selanjutnya mengumpulkan data, menganalisis data dan menyajikan hasil. Penggunaan metode kualitatif menghasilkan data deskripsi berupa uraian dan analisa diperoleh melalui pengumpulan informasi dengan teknik wawancara dan observasi . guna mendapatkan respons masyarakat secara langsung terutama tokoh spiritual dan pemangku kebijakan di Desa Bunutin. Sasaran informan diantaranya. aparat Desa. PPL (Penyuluh Pertanian Lapanga. , anggota kelompok tani, pinandita dan tukang banten . Teknik analisis secara detail seperti berikut. setelah data dan informasi dari para informan terkumpul lalu dilakukan reduksi meliputi pemilahan dan pemilihan. Langkah selanjutnya, penyajian hasil analisis data melalui penggambaran situasi dan kondisi lapangan untuk diverifikasi sebelum menuju langkah kesimpulan. Dalam menganalisis juga digunakan pendekatan fenomenologi dengan asumsi bahwa manusia semestinya bertindak secara sadar dan aktif menginterpretasi noumena dibalik fenomena, mencoba memahami dunia atas dasar pengalaman pribadinya. Sebagai konsekuensinya masyarakat di Desa Bunutin menyadari bahwa kepadatan intensitas ritual yang kian hari meningkat merasa perlu melakukan sistem budidaya pada sector pertanian khususnya perkebunan untuk menunjang kebutuhan sarana upakara. Berbagai fenomena dalam kehidupan memang dapat dimaknai apa adanya namun tetap berlandaskan teori sebagai refleksi filosofi masyarakat tertentu disertai penafsiran dan diwarnai kepentingan, situasi kehidupan, bahkan kebiasaan yang berlaku secara turun-temurun. Hal yang paling mendasar dari penelitian ini, adanya permasalahan yang didasari atas fenomena kelangkaan kelapa upakara yang digunakan sebagai sarana ritual di Desa Bunutin. Upaya membangkitkan kesadaran masyarakat Bunutin terhadap situasi dan kondisi yang dialami, memerlukan motivasi dan edukasi tentang pentingnya melakukan budidaya tanaman kelapa upakara, menyampaikan penjelasan untuk tercapainya tujuan secara efektif, efisien, demi kesejahteraan bersama. Hasil Dan Pembahasan Beberapa Alasan Pentingnya Memotivasi Masyarakat Desa Bunutin Melakukan Budidaya Kelapa Upakara Dalam Memenuhi Keperluan Beryajna. Sebuah ritual persembahan agama Hindu ditandai salah satunya penggunaan banten mulai dari tingkatan paling kecil hingga terbesar sehingga tidak dapat dilepaskan dengan beberapa sarana utama, seperti. buah dan bunga. Artikel ini memfokuskan hasil penelitian tentang pentingnya membudidayakan tanaman kelapa yang buahnya sebagai salah satu kelengkapan banten disebut banten pejati sebagai sarana persembahan bersaksi secara Pada umumnya, masyarakat Hindu memahami bahwa, dalam banten pejati terdapat daksina merupakan simbol atau lambang Dewa Siwa, sebagai dewata utama yang paling dipuja. Tujuan mempersembahkan sesajen yang berisi daksina adalah sebagai ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas anugerah berupa berkah hasil bumi yang melimpah. Demikian halnya dalam teks lontar Aoyadnya prakertiAo disebutkan bahwa, daksina menjadi kelengkapan utama banten pejati dipahami oleh umat Hindu merupakan simbol Tuhan sebagai manifestasi Bhatara Hyang Guru atau Hyang Tunggal (Titib, 2. Menurut Nyoman Bangli . awancara, 26 Maret 2. secara fisik daksina berbentuk bulat seperti bakul atau wakul/bedogan terbuat dari daun kelapa dengan kelengkapannya antara lain. buah kelapa yang dikupas dibersihkan serabutnya, beras, telor bebek, kemiri utuh, kluwek, uang kepeng, daun sirih untuk porosan, benang tukelan, dan hasil bumi lain berupa dedaunan . egantusan/pepesela. ditata, dikemas menjadi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH satu dalam bakul dengan susunan paling atas dirangkai berisi canang pasucian serta sampyan payasan. Mengingat fungsi banten pejati sangat penting dalam sesajen Hindu, apalagi bahan-bahan dan kelengkapan daksina tidak bisa digantikan terutama kelapa, munculah istilah Aokelapa upakaraAo. Kebutuhan buah dan daun kelapa kian hari meningkat otomatis keberadaan pohon kelapa semakin dicari, diminati, diperlukan apalagi pemanfaatannya tidak hanya sebagai sarana ritual juga pemenuhan kebutuhan dasar kehidupan sehari-hari. Upaya pemenuhan kelapa agar seimbang, perlu dilakukan budidaya atau pengembangbiakan secara berkelanjutan, utamanya terhadap tanaman kelapa upakara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kelapa dalam berbagai jenis ritual memiliki dasar pemahaman dan pertimbangan masyarakat atas fungsi serta manfaatnya dalam berbagai sisi kehidupan. Adapun alasan masyarakat merasa termotivasi melakukan budidaya kelapa upakara diantaranya sebagai berikut. Pemahaman Berdasarkan Alasan Teologis. Rutinitas beryajna sebagai aktivitas keagamaan masih tetap gigih dilakukan umat Hindu Bali hingga saat ini. Perhelatan yajna yang terklasifikasi menjadi lima jenis dikenal sebagai panca yadnya tidak dapat dipisahkan dari kelengkapan sarana bebantenannya baik tingkatan nista, madya, utama. Masyarakat yang hendak beryajna sesungguhnya kini sudah memperoleh banyak kemudahan, bahkan dikatakan ada banten Aosiap sajiAo yang tentunya menyertakan kekuatan financial cukup memadai. Dalam melaksanakan yajna, baik berupa pemujaan, maupun persembahyangan secara umum memiliki tujuan atau motif tertentu dinamakan pahala. Manusia tidak bisa berpura-pura memuja Tuhan karena dibaliknya memang ada sesuatu yang ingin didapatkan dalam aktivitas memujanya. Hal senada disebutkan dalam salah satu sloka kitab Hindu Manawa Dharmasastra . setiap tindakan selalu memiliki motif, lebih lanjut dijabarkan dalam Susastra Hindu setiap tindakan terdiri dari dua jenis motif dan maknanya yakni. motif mengikat serta motif membebaskan (Donder, 2. Berkaitan dengan hal tersebut, manusia hendaknya memilih motif yang dapat membebaskan dirinya daripada motif mengikat untuk melakukan sesuatu yang biasanya hanya bermanfaat sebagai pamer semata. Jika motif mengikat menjadi landasan dalam ritual persembahan, maknanya menunjukkan diri mampu berkorban melaksanakan yajna hanya terlihat secara duniawi. Pernyataan senada menurut Mangku Dalem . awancara, 15 Maret 2. bahwa, sebuah ritual dapat berjalan sempurna, maka penting untuk mempelajari makna ritual yang dilaksanakan agar tidak terdengar slogan Aumule ketoAy. Walaupun di Desa Bunutin terdapat beberapa Pura, baik Kahyangan Jagat. Kahyangan Tiga dan berbagai Pura Pemaksan yang menjadikan masyarakatnya setiap saat sibuk melaksanakan ritual, namun belum pernah ada keluhan, semua berjalan tertib mengikuti awig-awig, dresta dan peraturan adat yang menjadi kesepakatan dalam menghaturkan Hal ini menandakan tingkat kesadaran spiritual dan religiusitas masyarakat saat ini cukup baik karena terlihat lebih meningkat cara pengelolaannya dari tahun-tahun Apabila merujuk Susastra Bhagavadgita (IX. Aupatram, puspham, phalam, toyam, yo me baktya prayachati, tad aham baktya upahrtam, asnami prayatat manahAy. Terjemahannya, siapapun yang mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, dan segelas air akan Aku terima sebagai persembahan hatimu yang tulus ikhlas. Bahwa, persembahan senantiasa dilakukan, untuk menunjukkan daya kreativitas, jnana, dan seni budaya yang perlu terus dikembangkan serta dilestarikan (Gaduh & Harsananda, 2. Di satu sisi ratusan lontar tentang bebantenan telah disadur, disusun, ditulis berdasarkan profesi, strata sosial, dengan harapan umat Hindu secara bijak dapat memilih lontar yang tepat selain menyesuaikan pelaksanaan upacara dengan kemampuan finansial masing-masing. Di sisi lain kewajiban membuat banten https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . dipahami umat merupakan media membayar hutang secara niskala yang disebut tri rna (Mas Putra, 1. Aplikasi melaksanakan panca yajna dalam kehidupan sehari-hari melalui perayaan rerahinan seperti. kajeng kliwon, purnama, tilem, saraswati, pagerwesi, siwa ratri, dan hari lainnya tergolong dewa rna, bahkan setiap selesai melakukan aktivitas masyarakat menghaturkan persembahan yang dinamakan yajna sesa sebagai bhuta yajna. Sesungguhnya, pemahaman tentang yajna juga disebutkan dalam Bhagavadgita . AuTuhan menciptakan manusia melalui yajna, dan berkata bahwa dengan cara ini engkau akan berkembang sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginanmuAy. Kesibukan beryajna di desa Bunutin juga telah dilaksanakan pada bulan Agustus, 2022 lalu dengan adanya upacara ngaben massal menunjukkan sebuah kepatuhan dan rasa hormat terhadap orang tua menjadi bagian dari pitra rna menurut penuturan Ardana, . awancara, 16 September 2. Ketika disadari bahwa pengetahuan dan ajaran suci ditularkan oleh para Rsi maka hal tersebut wajib dibalas dengan menghaturkan danapunia berwujud rsi bojana. Selanjutnya masih dalam lontar Aoyadnya prakertiAo disebutkan bahwa banten yang dipersembahkan dapat dimaknai sebagai berikut. Ausahananing banten pinaka ragante twi, pinaka ananda bhuwana, pinaka rupaning Ida BhataraAy. Terjemahannya, banten merupakan simbol diri kita, simbol alam semesta, dan simbol Sang Hyang Widhi (Wiana, 2. Dalam ritual Hindu selain sebagai kelengkapan daksina, ragam bebantenan lainnya prayascita, biyakala, dan durmanggala, menggunakan kelapa yang masih muda disebut bungkak dengan memanfaatkan airnya. Mengenai bungkak khusus jenis kelapa gading menurut salah seorang penekun sastra yang berasal dari Griya Sunya Gunung Kawi Manuaba pada sebuah diskusi menyampaikan ada 3 . teks yang dapat dijadikan rujukan untuk memahami fungsi dan makna kelapa bungkak nyuh gading. Pertama, disebutkan dalam lontar Rajah Pangereka Bungkak bahwa, bungkak menjadi media untuk mengguratkan aksara suci dalam berbagai ritus magis keagamaan. Teks tersebut menjelaskan sejarah-mitos pohon kelapa hingga manfaatnya dalam kehidupan. Kedua, lontar Kelapa Tattwa menyebutkan sebuah mitologi munculnya pohon kelapa yang bertumbuh dari waranugraha Bhagawan Wrespati melalui AoyogaAo demi keseimbangan kondisi alam semesta. Bahwa, anugerah diberikan hanya kepada orang yang sudah suci tidak hanya bersih semata. Senada dengan isi lontar tersebut, yang ketiga disebutkan dalam lontar Raja Bungkak, tumbuhnya pohon kelapa dengan beraneka ragam warna dari percikan tirtha amerta yang menetes ke tanah, ketika bumi mengalami kehancuran karena tumbuh-tumbuhan dirasuki kekuatan kala yang dinamakan buta dasa angkara bumi berbentuk racun sehingga menimbulkan wabah penyakit pada semua makhluk hidup. Berdasarkan hasil tapa Sang Bhagawan diturunkan energi kehidupan berwujud tetesan amerta dari 9 Dewa yang selanjutnya bernama Dewata Nawasanga jatuh ke tanah tumbuh menjadi pohon kelapa (Baskara, 2. Oleh sebab itu mengupas makna tentang bungkak pada akhirnya membicarakan manifestasi Aodewata nawasangaAo yang dipercaya menyebabkan munculnya berbagai warna serta karakter fisik kelapa. Masih menurut Baskara, bungkak merupakan sarana penting untuk melaksanakan ajaran bhakti, permohonan, pengampunan, kesucian, dan pembersihan diri. Dalam penjelasannya disebutkan 4 . klasifikasi penggunaan bungkak. Nyasa, digunakan sebagai simbol yang berbentuk rerajahan pada banten khusus. Pralina, sebagai tempat untuk pengembalian berbagai unsur alam . anca maha bhut. Sauca/samskara, digunakan sebagai pembersihan aura negative baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari alam semesta tanpa dilengkapi mantra atau AorerajahanAo langsung dipercikkan. Sarana, digunakan dalam ritus-ritus magis untuk menghidupkan dan menggerakkan kemampuan batin seperti Aonerang cuacaAo oleh para https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pawang. Di Bali bungkak juga dipahami sebagai simbol Dewi Saraswati dan dalam teksteks kuno disebutkan dengan istilah AoDeganAo terhubung pada kata AokedueganAo atau pengetahuan yang dipahami sebagai simbol Dewi Saraswati. Sedangkan dalam ritual besar yang berisikan banten dewa-dewi, bungkak dipahami menjadi simbol waranugraha atau anugerah. Selain untuk pembersihan, ketika ingin meningkatkan diri pada level AokesucianAo penggunaan bungkak hendaknya melalui prosesi magis, disertai rangkaian sesaji dan doAoa-doAoa pujian. Hal senada menjadi pemahaman masyarakat di Desa Bunutin bahwa penggunaan kelapa bungkak pada berbagai ritus keagamaan secara teologis salah satunya bermakna menyatakan eksistensi para Dewata penjaga 9 . penjuru mata angin yang disebut Dewata Nawasanga. Penjelasan Baskara, maupun pemahaman masyarakat Bunutin bukan tanpa dasar ilmiah sebab ditemukan sebuah hasil penelitian dari Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain, menunjukkan buah kelapa muda selain bernilai ekonomi tinggi juga bernilai gizi tinggi karena daging kelapa mengandung asam lemak esensial yang sangat dibutuhkan Sedangkan air kelapa disamping memiliki kandungan gula dan vitamin juga teindikasi mengandung berbagai jenis mineral yang dapat memenuhi sebagian kebutuhan gizi dan menyembuhkan berbagai penyakit. Namun demikian, dalam pemanfaatan buah kelapa muda harus diikuti penanganan setelah panen seperti pengawetan, pengemasan dan penyimpanan, karena dalam pengolahan produk, mutu tetap harus dipertahankan untuk menunjang nilai tambah dan pendapatan masyarakat petani (Barlina, 2. Pemahaman berdasarkan alasan Ekonomis Pelaksanaan berbagai ritual di Desa Bunutin dalam perjalanan waktu tidak dapat dipungkiri terjadinya permasalahan biaya, bahwa masyarakat yang sebelumnya taat dan tertib melaksanakan yajna namun dalam kondisi dan situasi tertentu tetap saja merasakan terdampak apalagi pada saat dilanda pandemi Covid-19 yang berkepanjangan disertai mahalnya biaya bahan-bahan ritual. Kondisi itupun dibenarkan atau diiyakan masyarakat Hindu luar Bunutin bahkan luar Bali. Dalam kenyataannya, beragama yang seharusnya dilandasi rasa tulus-ikhlas justru akhirnya diwarnai keluhan yang terdengar miring dan Fenomena tersebut telah dicarikan solusi terbaik melalui himbauan kepada masyarakat untuk lebih prihatin mengelola keuangan dengan mempersembahkan sesaji tingkat nista atau sesederhana mungkin (Librata, wawancara 2 Pebruari 2. Walaupun dalam fakta sejak lama yang terjadi di kota besar seperti Badung dan Denpasar tidak dapat dihindari dan terkesan sangat miris karena beberapa sesaji dibeli dari orang luar berbeda keyakinan termasuk bahannya bukan dari produk alami salah canang yang berisi Aokembang rampaiAo ternyata dicampur dengan bahan wantex warna hijau sebagai pengawet, bertujuan mengantisipasi bila dagangannya tidak segera Hal ini sangat meresahkan tentu harus mendapat perhatian serta pengawasan ketat dari pihak yang berwenang dengan menindak tegas penyimpangan tersebut karena pemakaiannya sangat berdampak terhadap kesehatan masyarakat pengguna terutama apabila tercampur dalam air atau makanan basah. Fenomena membeli sarana prasarana ritual siap saji dalam bentuk paketan memang berlangsung secara alami terutama pada masyarakat Hindu yang tinggal di perkotaan dan tidak memiliki banyak waktu akibat kesibukannya. Fenomena tersebut kini sudah mulai tampak di desa-desa termasuk Bunutin. Hal ini terjadi seiring adanya permintaan pasar yang seharusnya memberi peluang usaha baru bagi masyarakat Hindu. Secara praktis dan ekonomis usaha berbisnis banten diperkirakan dapat menggerakkan bahkan meningkatkan perekonomian masyarakat apalagi dikerjakan oleh orang Bali yang profesional di bidangnya. Namun, bila yang terjadi sebaliknya tidak seperti harapan maka solusi yang terbaik adalah memotivasi, mengedukasi disertai pelatihan membuat banten hendaknya terus dilakukan secara optimal terhadap masyarakat. Di sinilah pentingnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melakukan budidaya sendiri sarana upakara yang dibutuhkan baik berupa tumbuhan maupun ternak di samping secara mandiri menyiapkan dan mencari pengetahuan tentang cara mengenali, membuat serta menata banten. Logikanya, tujuan pembuatan banten secara mandiri manfaatnya lebih besar daripada membeli atau dibuatkan orang lain apalagi untuk kepentingan sendiri, maka Desa Bunutin membentuk kelompok tukang banten yang dinamakan serati pada masing-masing banjar adat (Librata, wawancara 2 Pebruari 2. Meningkatnya perekonomian Bali yang disebabkan adanya penyediaan jasa, dan produk-produk ritual beryajna saat ini memang dirasakan lebih praktis, bagi ibu-ibu pekerja sebagai karyawati, pengusaha, dan profesi lainnya karena dapat memokuskan tugas serta fungsinya masing-masing. Harapan pemerintah agar peningkatan daya beli masyarakat Bali secara tidak langsung dapat mempengaruhi pendapatan para pembuat dan penjual sarana upakara. Dengan demikian angka pengangguran dapat ditekan karena terjadi perputaran ekonomi yakni, adanya sumber penghidupan baru bagi golongan masyarakat yang berprofesi tertentu. Ketergantungan komoditas dari luar pulau pun dapat ditekan dengan menyediakan dan melayani sendiri segala bentuk kebutuhan. Tingginya tingkat konsumtif masyarakat Bali dalam beryajna juga terlihat dari cara mendapatkan dan membeli busung, selepan, serta buah kelapa pada hari-hari tertentu sebagai sarana utama dalam pembuatan ritual sesaji diharapkan dengan harga yang terjangkau sehingga masyarakat mulai merasakan hikmah beryajna. Berdasarkan fenomena dan fakta yang terjadi, tentang intensitas kegiatan beryajna maka upaya untuk membudidayakan tanaman kelapa upakara mendapat sambutan hangat masyarakat Desa Bunutin. Menurut Ketut Librata Jaya, . awancara, 2 Pebruari 2. selaku Kepala Desa Bunutin. AuKami mewakili masyarakat Desa Bunutin setuju dan salut atas program budidaya tanaman kelapa upakara yang dilakukan tim peneliti dari UNHI serta mengucapkan terima kasih atas atensinya terhadap masyarakat kamiAy. Sebagai bukti keberterimaan program penelitian, pada saat observasi awal bahkan sudah disiapkan 2 . lokasi tanam sesuai tingkat kepadatan penduduk dan ketersediaan lahan. Ketika kelapa sudah berproduksi atau panen, tidak hanya sebagai sarana upakara, petani dapat mengembangkan produk olahan dari buahnya misalnya dijadikan bahan baku pembuatan minyak kelapa . andusan/ pesan celengi. , berbagai olahan jajanan, es degan . elapa mud. dan nata de coco, juga warga diedukasi agar rutin minum air kelapa muda dari kebun sendiri karena manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Sedangkan dari daun kelapa selain untuk upakara dapat dikembangkan produk-produk lainnya seperti pembuatan topi, kelabang . tap ruma. bahkan lidinya selain dianyam sebagai alas makan . biasa digunakan sebagai sapu lidi. Kunci dari perencanaan tersebut, sector pertanian di desa Bunutin harus dibangkitkan, digerakkan, dihidupkan kembali secara simultan dan Pemahaman Berdasarkan Alasan Filosofis Pohon kelapa tidak dapat dipandang hanya dari sisi teologis maupun ekonomis semata, namun nilai filosofisnya cukup tinggi sering dikaitkan dengan pola kepribadian manusia dan dijadikan panduan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat melalui pemaknaan setiap tahap pertumbuhannya secara umum diuraikan seperti berikut. Morfologi tanaman kelapa menurut pemahaman dan cara pandang masyarakat Bali diibaratkan seperti kepribadian manusia dengan mengambil contoh metafora buah kelapa. Bahwa, secara umum penilaian manusia selalu menyesuaikan dengan kondisi pertumbuhan kelapa itu sendiri yang tampak baik sudah semestinya dinilai baik, sebaliknya yang tampak buruk diberikan penilaian buruk, artinya kematangan berpikir manusia dapat diukur melalui kondisi air di dalam buah kelapa dapat menjaga kemurnian serta kualitas buah yang dihasilkan dan memberi kehidupan bagi tunas-tunas selanjutnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dengan sebaik-baiknya. Batang pohon kelapa menunjukkan kedewasaan, hal tersebut dibuktikan ketika menghasilkan buah mampu menopang, menyangga sampai matang dan tua akhirnya jatuh. Filosofi ini menjadi cermin kematangan berpikir manusia bahwa dalam hidup seharusnya mengikuti tahapan atau jenjang yang diimplementasikan melalui ajaran catur asrama sebagai berikut. Brahmacari Asrama merupakan tingkat kehidupan tahap pertama yang harus dijalani dengan cara menuntut ilmu atau berguru . uah kelapa bertumbuh menjadi tunas baru perlu perawatan untuk kualitas yang bai. Grehasta Asrama, setelah ilmu pengetahuan diperoleh, manusia hendaknya menjalankan tahap kehidupan berikutnya yakni berumah tangga sebagai jalan mendapat keturunan . uah kelapa yang sudah tua dapat dikembangbiakan dengan cara budidaya sebagai pengganti pohon yang sudah tu. Wanaprastha Asrama, tahapan yang merupakan tingkat kehidupan ketiga, saatnya manusia menjauhkan diri dari nafsu keduniawian . etelah bertumbuh menghasilkan buah yang berkualitas manusia dapat memanfaatkannya sesuai kebutuha. Sanyasin . Asrama, sebuah tahapan yang tidak lagi terpengaruh atau melepaskan segala kehidupan duniawi . agi kelapa membiarkan bagian-bagian morfologisnya dinikmati manusia selama diperlukan hingga menuju kematia. Selain filosofi kepribadian, menurut Mangku Dalem . awancara, 15 Maret 2. , pohon kelapa juga memiliki filosofi kehidupan meliputi. kelahiran, perlindungan dan Kelahiran, perlindungan dan kematian merupakan konsep kehidupan berulang ibarat siklus yang erat kaitannya dengan konsep Hindu Tri Murti . tpthi, sthiti, pralin. Pertumbuhan pohon kelapa ditunjang oleh batang dan akar sebagai pelindung sebelum berbunga maupun berbuah. Demikian halnya Hindu mengajarkan manusia lahir secara sekala dijaga, dilindungi orang tua dan secara niskala senantiasa mencari perlindungan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai kanda pat/catur sanak . mpat saudara yang selalu melindungi sejak lahir sampai dewasa dan mat. Selain mohon perlindungan niskala kepada kanda pat, secara sekala manusia memperoleh kehidupan dan bertumbuh di alam semesta dengan segala isinya begitu juga pohon kelapa. Selanjutnya, manusia yang sudah hidup hanya akan menunggu kematian. Siklus lahir, hidup dan mati selalu berputar dan pasti dialami oleh semua makhluk hidup. Kematian merupakan tahap yang harus dilalui untuk bisa lahir kembali bereinkarnasi seperti halnya pohon kelapa yang sudah tua pada waktunya pasti jatuh dan mati. Oleh karenanya harus dipersiapkan pembibitan sebagai tunas baru dilanjutkan dengan budidaya dan regenerasi pengembangbiakan, peremajaan sekaligus pelestarian. Kematian sifatnya misteri, juga ada pada tanaman kelapa, bahwa dalam kenyataannya tidak hanya kelapa tua yang jatuh dari pohonnya, tetapi buah kelapa kecil yang dinamai bungsil akan jatuh akibat tertentu akhirnya terbuang. Hal ini menggambarkan bahwa kematian tidak hanya dialami oleh yang berusia lanjut, namun yang muda bahkan baru lahir juga dapat mengalaminya. Jika ada buah kelapa yang masih melekat di pohon sampai bertunas, hal ini menjadi perkecualian dan sering dipahami sebagai petanda bahwa manusia dalam kehidupannya bisa mencapai usia maksimal. Lebih lanjut pohon kelapa memiliki filosofi kesederhanaan yakni sebuah perasaan yang mampu menerima situasi kondisi apa adanya dengan berperilaku sebagaimana biasa atau dapat tumbuh kapan saja pada area panas maupun dingin. Prinsif kesederhanaan ini tercermin dalam pemilihan tempat hidup dapat menyesuaikan terhadap jenis tanah. Prinsif sederhana pohon kelapa selalu menjadi pedoman dalam ajaran Hindu walaupun fisiknya dan tempat tumbuhnya kurang bagus tetapi manfaatnya keberadaannya melebihi segalanya, untuk itulah kelapa sering disebut kalp-vreksa sebuah pohon kehidupan, pohon serba guna yang bermanfaat memenuhi segala kebutuhan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sedemikian besar manfaat pohon kelapa bagi kehidupan masyarakat Bali secara nyata, tercetuslah kearifan lokal berupa ide untuk membuat peringatan hari Tumpek Uduh yang dilaksanakan setiap 6 . bulan sekali terhadap pepohonan lebih mengkhusus kelapa dan pisang sebab kedua tanaman tersebut dipandang sebagai simbol perwakilan dari pohon lainnya. Hal ini dilakukan tidak terlepas dari pemahaman bahwa hampir seluruh bagian dari pohon dapat digunakan membantu kegiatan masyarakat baik untuk kegiatan pangan, ritual keagamaan maupun pengobatan. Dalam ritual tertentu, khususnya kelapa yang masih muda . selalu digunakan pada banten dipahami sebagai simbol alam semesta dalam wujud gunung, danau, matahari, bintang, juga sebagai simbol anggota tubuh yang disebut asta karaning yadnya hingga muncul wujud daksina dalam banten pejati disertai runutan banten suci terdiri dari. dua jerimpen, pengambean, peras, sesayut, dapetan, soda, dan caru atau segehan. (Ardana, wawancara 16 April 2. Jadi dalam teori . dan praktik . elaksanaan ritual keagamaan Hind. , upakara atau banten tetap merupakan rohnya. Tanpa upakara ritual sesaji terkesan sepi . tetapi dengan ritual dapat membangkitkan sikap dan perilaku satwika dalam praktek Pemahaman Berdasarkan Alasan Sosial-Budaya Secara ekonomis dan sosial-budaya di tengah kemajuan jaman dengan dukungan teknologi sedemikian canggih, sang kala . menjadi semakin berharga dimana tingkat konsumtif pada beberapa masyarakat dipengaruhi pola kehidupannya. Sementara, dalam pelaksanaan berbagai ritual tertentu, warga sering disiasati dengan budaya pepeson dan peturunan menjadikan biaya untuk keperluan upakaranya semakin meningkat hingga pada akhirnya semua harus diuangkan (Lanus, wawancara 14 Juni 2. Biasanya, dalam menyukseskan yajna yang digelar, sarananya bahkan lebih sering diperoleh dengan cara membeli pada tempat khusus baik di pasar maupun melalui individu dan kelompok yang dengan sengaja menyiapkan kebutuhan upakara termasuk kelapa dari daun hingga buah bahkan dalam bentuk sesaji yang sudah jadi. Meningkatnya budaya membeli untuk pepeson dan persembahan disebabkan selain karena sarana upakara yang sebelumnya diperoleh dari kebun masing-masing tidak tersedia lagi, padahal ada lahan untuk menanamnya, juga dikarenakan waktu yang tidak tersedia untuk mengolahnya. Kondisi inilah yang menjadi fenomena dalam menghadapi berbagai gelaran ritual di kota hingga ke desa-desa saat ini. Munculah slogan pada masyarakat yang memiliki kesibukan dalam pekerjaan cukup duduk manis hanya menyiapkan uang, sedangkan bagi para penjual dan tukang banten akan segera menyediakan sesuai pesanan (Priya, wawancara 25 Mei 2. Dalam kaitan dengan penggunaan kelapa khusus buahnya, sebagai kelengkapan sarana upakara secara sosial-budaya dapat mempengaruhi bahkan meningkatkan relasi sosial masyarakat tentang makna saling memberi dan menerima. Berdasarkan fenomena itulah, program budidaya kelapa yang sedang dilaksanakan mendapat sambutan hangat karena kebermanfaatannya sekaligus dipandang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Desa Bunutin. Morfologi tanaman kelapa secara umum memiliki simbol-simbol tertentu sebagai sarana upakara dan diyakini karena fungsi kebermanfaatannya diwarnai pemahaman terhadap nilai-nilai budaya masyarakat setempat (Aristya & Prajitno, 2. Menurut (Dalimunthe, 2. apabila berdasarkan warna buahnya tanaman kelapa dibedakan menjadi 3 . Kelapa Hijau (C, veridi. adalah kelapa yang memiliki kulit buah berwarna hijau tergolong kelapa Dalam sebab memiliki batang tinggi besar dengan buahnya berukuran cukup besar. Digunakan untuk sesaji dalam upacara tradisional bahkan diambil airnya digunakan sebagai penawar racun mengatasi muntahmuntah . Kelapa Merah (C, rubescen. adalah golongan kelapa yang memiliki kulit buah berwarna merah atau kecoklatan. Jenis ini termasuk golongan kelapa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dalam ukuran pohon besar dan tinggi, buah yang dihasilkan berbentuk bulat dan berukuran besar memiliki kandungan minyak cukup tinggi, di Bali salah satunya terdapat kelapa Udang atau kelapa Brahma. Mulung. Bojog. Rangda. Sudamala. Kelapa Kuning (C, ebure. adalah golongan kelapa yang memiliki kulit buah berwarna kuning tergolong kelapa hibrida yang sudah berbuah pada umur 3 tahun saat tanaman mencapai tinggi 1 m-1,5 m. Ukuran pohon tidak terlalu tinggi atau lebih pendek dan kecil, buahnya berbentuk bulat dengan ukuran lebih kecil dan sering dimanfaatkan sebagai sarana ritual. Dari ketiga penggolongan berdasarkan warna tersebut yang menjadi topik bahasan dalam artikel ini sesungguhnya termasuk jenis kelapa kuning atau di Bali dinamakan kelapa gading yang sesungguhnya memiliki tiga warna kulit yakni. warna oranye, warna kuning gading-keputihan, dan warna kuning gading-kehijauan. Ketiga jenis inilah sering digunakan sebagai sarana upakara baik buah yang sudah tua maupun yang masih muda. Oleh karena itu budaya masyarakat Bali memberi nama kelapa . yuh mada. terlihat lebih banyak dari jenis kelapa Dalam sesuai dengan warna, karakter fisik, penempatan dan pemanfaatannya sebagai bahan pangan dan pengobatan. Sedangkan jenis Genjah dan Hibrida lebih banyak dimanfaatkan sebagai kelengkapan sarana upakara karena bentuknya lebih kecil. Pemahaman Berdasarkan Alasan Kearifan Lokal Beryajna. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini dikhawatirkan dapat mengikis pengetahuan tradisional warisan para leluhur dalam kaitannya dengan pelaksanaan berbagai ritual yajna secara turun-temurun di Bali. Tradisi pertanian Hindu diharapkan tidak hanya menjadikan profesi petani sebagai sumber penghasilan namun juga sebagai media pelestarian alam lingkungan (Gaduh & Harsananda, 2. Dalam hal ini, media ritual menjadi penting karena merupakan salah satu elemen budaya yang bersifat universal, sementara ritual adat sebagai bagian dari produk lokal budaya manusia tidak terlepas dari pemanfaatan adanya sumber daya manusia dan alam. Hubungan manusia dengan alam lingkungan sangat erat dan sudah berlangsung sejak adanya kebutuhan untuk pemenuhan kehidupan (Budiasih, 2. Demikian pula masyarakat Bali sejak lama telah memperkenalkan konsep lokal tri hita karana sebagai model jalinan hubungan yang harmonis antara Tuhan, manusia dan alam lingkungan (Wiryawan, 2. Secara fakta, hubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan hendaknya dibina, dipupuk, dikembangkan, dan dipertahankan sebagai sebuah kearifan lokal yang Banyak tumbuhan dan hewan ternak yang digunakan sebagai kelengkapan sarana upakara seperti halnya penggunaan kelapa yang dipahami memiliki fungsi utama dalam kaitannya dengan makna simbolik terhadap ritual yang dilaksanakan. Pemahaman, penghayatan, dan pelaksanaan ritual memiliki dampak terhadap terjadinya proses perubahan tingkah laku. Pelaksanaan ritual. dari persiapan sarana hingga pelaksanaan mengandung unsur edukasi. Secara konvensional, menyiapkan sarana ritual harus mengikuti syarat-syarat tertentu misalnya, tidak boleh menyiapkan sarana dengan amarah, terpaksa, mengomel, maupun mengeluh. Dengan demikian, sejak proses awal sampai akhir acara ritual terjadi proses perubahan tingkah laku. dari tidak tahu menjadi tahu, dari kurang baik menjadi baik. Dalam proses persiapan hingga pelaksanaan ritual, situasi dan kondisi seperti itu dapat berfungsi menjadi lembaga pendidikan informal dan non formal melalui pelatihan terhadap masyarakat. Dengan memahami bahwa fungsi pelaksanaan ritual memiliki nilai edukasi, maka ritual perlu mendapat pembinaan secara terus-menerus agar nilai- nilai edukasinya mampu menyesuaikan, menyerap perkembangan dan kemajuan teknologi di zaman modern. Mengedukasi dan menghimbau pelaksanaan berbagai ritual sejak dini kepada generasi muda menjadi sangat efektif untuk mentransfer nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Walaupun sampai saat ini berbagai pelaksanaan ritual adat oleh masyarakat Bali belum mengkhawatirkan namun, antisipasi wajib dilakukan untuk membangkitkan kewaspadaan terutama terhadap generasi muda, sebab apapun model konsep positif yang diwariskan leluhur hendaknya berimbas kepada generasi selanjutnya. Pengimbasannya dapat dilakukan secara formal, informal dan non formal. Sejak anak memasuki usia sekolah mulai diperkenalkan morfologi dan mitologi tanaman kelapa, berbagai makanan yang berbahan baku kelapa, juga diperkenalkan manfaat air kelapa dan penggunaannya sebagai sarana upakara maupun pengobatan, dapat juga dilatih mejejahitan, serta menganyam daun kelapa. Setelah dewasa diperkenalkan dan disarankan mengikuti pelatihan secara informal maupun non formal tentang pembuatan ritual yang kelengkapan sarananya berbahan baku kelapa. Model pengimbasan kearifan lokal seperti ini terasa lebih efektif diterapkan bagi generasi muda, bahkan untuk mempertahankannya pada setiap banjar adat dapat dibentuk kelompok pengelola ritual mulai dari serati, mancagera, pinandita hingga juru sapuh dengan harapan tradisi ritual tetap ajeg. Kabupaten Bangli khususnya Desa Bunutin memang bukan merupakan penghasil kelapa, namun demikian sehubungan dengan pelaksanaan ritual beryajna berlaku sama dengan umat Hindu pada daerah kabupaten lainnya. Berdasarkan pemahaman, kelapa sebagai sarana upakara wajib dibudidayakan mengingat beberapa bagiannya memiliki fungsi vital seperti daun dan buah dari yang masih muda hingga yang sudah tua. Dahulu, menjelang hari tumpek uduh masyarakat membuat AobuburAo sebagai sesaji ditempatkan pada pepohonan terutama kelapa dan pisang sebagai simbolis. Saat mempersembahkan sambil mengendong anak-anak mengetuk pepohonan disertai ucapan. ngeed, ngeed, ngeed berharap agar pohon tersebut menghasilkan roncean buah yang banyak setiap Kearifan lokal seperti ini cukup menarik diwariskan, diimbaskan, dan diterapkan di Desa Bunutin sebagai bentuk pemertahanan dan pelestarian berbagai ritual Namun sayangnya, zaman telah berganti, teknologi lebih modern sehingga hal-hal yang awalnya dikerjakan secara manual diganti dengan mesin dan internet membuat segalanya menjadi lebih efektif dan efisien tanpa merubah pakem kearifan dasar. Dampak Membudidayakan Kelapa Upakara Bagi Masyarakat di Desa Bunutin. Menanam tumbuh-tumbuhan merupakan kegiatan yang berdampak positif bagi lingkungan hidup sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membudidayakan tanaman khususnya pohon kelapa upakara di Desa Bunutin memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat dan masyarakat di sekitarnya. Dampak yang dimaksudkan menyangkut fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat baik untuk keperluan pangan maupun non pangan. Berkaitan dengan artikel ini, manfaat yang lebih ditonjolkan adalah non pangan yakni untuk ritual salah satunya, menjadi sarana utama kelengkapan sesajen yang disebut daksina sebagai runutan dari banten pejati. Sehingga padatnya intensitas pelaksanaan ritual di desa Bunutin berpengaruh pada ketersediaan kelapa sebagai sarana upakara. Oleh karena itu, program budidaya tanaman kelapa upakara menjadi salah satu solusi bagi masyarakat untuk mengatasi kelangkaannya meskipun bersifat jangka panjang. Secara umum dampak yang ditimbulkan meliputi kebutuhan umum masyarakat seperti berikut. Menanam kelapa bagi masyarakat sekitar dapat berdampak terhindar dari banjir yang menyebabkan banyak kerugian. Dengan ditanamnya pepohonan khususnya kelapa, laju aliran air diperlambat, kekuatan badai dapat dikurangi sehingga mengurangi resiko luapan banjir maupun erosi. Hal tersebut disebabkan oleh akar pohon membuat saluran kecil di tanah saat mereka tumbuh, menjadikan air hujan dengan mudah diserap oleh tanah, selanjutnya mengurangi volume air sehingga lingkungan terhindar dari kebanjiran (Degdeg, wawancara 24 Juli 2. Dampak berikutnya, adalah menambah cadangan air https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tanah bahwa akar pohon kelapa memberikan jalan bagi air untuk masuk ke dalam tanah. Akar tanaman menciptakan pori-pori besar dalam tanah berfungsi membawa air turun ke tanah dengan lebih cepat juga membantu penyaringan air hujan menjadi lebih bersih, karena air tanah merupakan sumber utama air bersih yang dibutuhkan manusia (Rohana, wawancara 24 Juli 2. Dari pernyataan kedua informan tersebut tentu saja dapat disimpulkan dengan penanaman pohon kelapa berharap populasi makhluk hidup terjaga Selain menjadi sumber makanan, pohon kelapa juga sebagai tempat berlindung sehingga menanam pohonnya sama dengan menjaga populasi makhluk hidup Demikian halnya menanam pohon kelapa upakara sudah pasti memberikan dampak positif diantaranya seperti berikut. Dampak Religius Religius merupakan salah satu sifat yang dimiliki manusia berkaitan dengan keyakinan dan perilaku moralitas. Sikap religious menjadi bagian paling mendasar dari pengalaman manusia untuk membantu menemukan makna dunia. Hubungan manusia dengan Yang Maha Suci, dapat dilakukan secara sakral, absolut melalui penghormatan Religius adalah bersifat religi merupakan konsep realitas dari bentuk tertinggi dalam wujud pengabdian untuk mendapat pengakuan. Sifat yang religious memunculkan keyakinan terhadap yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan sesama. Di dalamnya terdapat perasaan, tindakan serta pengalaman bersifat individual sebagaimana halnya dengan agama yang menjadi keyakinan setiap orang karena fungsinya dalam kehidupan. Fungsi agama yang dirasakan setiap orang dapat tercermin dari sifat religiusitasnya meliputi. fungsi edukatif, fungsi penyelamatan, fungsi pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif. Religiusitas dalam konsep ini berkaitan dengan ritual panca yadnya menggunakan tumbuhan maupun hewan secara umum berfungsi edukatif sebagai bahasa komunikasi karena ada pemahaman tentang syarat dan isyarat tertentu yang dibangun berdasarkan filosofi dan teologi masyarakat Bali. Suatu contoh bahwa bahasa komunikasi dapat memunculkan rasa bahagia pada saat roh atau jiwa tumbuhan dan hewan tersebut digunakan oleh manusia sebagai sarana upakara. Dalam pada itu, manusia hendaknya berusaha memotivasi, mengajak agar supaya tumbuhan maupun hewan dapat berkembang-biak serta menyadari fungsinya sebagai persembahan. Menurut Donder . terdapat cara pandang dengan bahasa komunikasi yang dipahami sebagai dampak perilaku manusia terhadap tumbuhan maupun hewan seperti berikut: AuBerbahagialah tumbuhan dan hewan jika dalam hidupnya dapat dijadikan sebagai persembahanAy. Artinya, secara spiritual jiwa atau roh pada setiap tumbuhan maupun hewan tetap dipersembahkan kepada Tuhan, sedangkan fisiknya dipersembahkan kepada manusia. Salah satu bahasa lokal Bali yang juga sering diucapkan saat mengiringi ritual untuk tumbuhan seperti pada Tumpek Uduh, sebagai berikut: AuRatu sedahan taru, selai dina saking mangkin pacang rauh rerahinan Galungan, mangda prasida Ragane mabuah ngeed-ngeed-ngeedAy (Mangku Ardana, wawancara 16 April 2. Terjemahannya: Auwahai sang penguasa pohon dalam wujud penguasa tumbuhan, 25 . ua puluh lim. hari lagi hari Galungan segera tiba, mohon kiranya Engkau dapat menjadikan pohon ini berbuah lebat selebat-lebatnyaAy. Pepohonan yang diberi ritual tersebut seolah-olah muncul rasa gembiranya, menyambut dengan antusias serta menerima permintaan manusia untuk secepatnya berbuah lebat. Vibrasi gelombang pikiran dengan motif bhakti telah terjadi dan segera ditangkap oleh tumbuhan tersebut. Demikian halnya kepada hewan yang dipercaya dapat memiliki tingkat kesadaran lebih tinggi karena tercipta untuk melayani manusia. Hewan dapat meningkat karmavasana-nya jika dalam hidupnya mengabdi secara optimal kepada manusia. Rasa kesadarannya mengatakan bahwa. AoManusialah yang akan meningkatkan derajat hewan-hewan pada kelahiran berikutnyaAo. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Doa, mantra dan ucapan rasa syukur kehadapan Tuhan saat melakukan ritual Tumpek Kandang misalnya, berharap dan memohon agar hewan dapat memiliki tingkat kesadaran lebih meningkat. Dengan melakukan komunikasi verbal-tradisional, masyarakat percaya bahwa yajna memiliki efek positif terhadap terwujudnya harmonisasi kosmik sebagaimana disebutkan dalam Bhagavadgita, (BG. AuAnnad bhavanti bhutani parjanyad annasambhavah, yajnad bhavanti parjanyo yajnah karma samudbhavahAy. Terjemahannya: Adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena yadnya, adanya yadnya karena karma. Selanjutnya. AuTasmat sarvagatam brahma nityam yajne pratisthitamAy (BG. Terjemahannya. Ketahuilah, adanya karma . karena Brahma yang ada dari Yang Maha Abadi, karena itu Ia yang mengetahui semua itu selalu tetap dapat berkorban . Brahman yang melingkupi semua selalu ada di sekitar persembahan. Kedua sloka tersebut merupakan hukum aksi-reaksi yang harus dilaksanakan manusia. Jika ingin mendapatkan sesuatu di alam ini, manusia harus melakukan yadnya persembahan karena alam semesta diciptakan Tuhan melalui prinsip yajna bahwa, setiap ritual Hindu memiliki tujuan dan fungsi masing-masing (Surayin, 2. Atas dasar sloka-sloka tersebut sampai saat ini yajna bagi masyarakat di Bali masih tetap dipertahankan kelestariannya. Dampak Ekonomis Keberadaan Peraturan Gubernur Nomor: 99 tahun 2018 bertujuan agar aktivitas sosial-budaya dapat berdampak secara ekonomi kepada masyarakat Bali. Peraturan Gubernur tersebut juga dapat mengantisipasi kelangkaan sarana dan prasarana upakara yajna terhadap ketergantungan berbagai komoditas dari luar pulau sehingga dapat ditekan seminimal mungkin (Raka, wawancara 14 Juni 2. Seiring dengan harapan dan upaya yang perlu dilakukan, penggunaan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktifitas, kontinuitas, dan kualitas hendaknya dilakukan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bali. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah senantiasa memberi dukungan terhadap petani di bidang pengetahuan dan teknologi pertanian salah satunya melalui budidaya tanaman. Pada sektor perkebunan, budidaya tanaman kelapa upakara menjadi solusi yang tepat apabila dikaitkan dengan tingginya intensitas ritual Yajna atau korban suci sebagaimana halnya prinsip hukum yang mengatur hukum kosmis hendaknya tetap dilakukan. Melalui yajna, segala prinsip dan potensi dapat membuktikan keberadaan-Nya yang harus diterima apa adanya oleh berbagai pihak. Sebagaimana disebutkan: AuYajna dana tapah karma na tyajyam karyam eva tat. Yajno danam tapas caiva pavanam manisinamAy (BG. XVi. Terjemahannya: AoKegiatan berkorban, bersedekah dan tapa jangan diabaikan melainkan harus dilakukan, sebab yajna sedekah dan tapa brata adalah sarana penyucian orang bijakAo. Secara psikis yajna memiliki efek positif rasa puas dan aman karena dapat dianalogikan terhadap adanya penebusan berbagai kesalahan yang diperbuat manusia. Hal ini dapat memberi motivasi kepada manusia untuk tetap melaksanakan yajna. Dengan melaksanakan yadnya secara tulus, dapat menyucikan berbagai harta yang diperoleh dalam kegiatan sehari-hari (Surayin, 2. Masyarakat juga memahami bahwa praktek keagamaan yang disertai ritual pada prinsifnya berkaitan dengan upakara sebagai rohnya. Oleh karena itu, diperlukan sikap, perilaku, disertai dengan hati tulus-ikhlas dalam pelaksanaannya, sehingga menjadikan yajna yang dipersembahkan bermanfaat disebut satwika yajna (Wijayananda, 2. Meskipun pada tingkatan upacara diklasifikasikan nista tetapi dipersembahkan dengan hati yang tulus-ikhlas maka makna dan kualitasnya menjadi sesuai dengan pahala yang diharapkan, hanya perbedaannya terletak pada kuantitas. Membuat banten yang praktis, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH efisien dan tidak membutuhkan biaya mahal dapat berjalan sebagaimana diharapkan tergantung situasi dan kondisi serta kemampuan finance masing-masing. Dalam kitab Manawa Dharmasastra (VII. berupacara perlu mempertimbangkan beberapa hal diantaranya. , sakti . emampuan ekonom. , desa . , kala . ari baik, ala ayuning dewas. , tatwa . engacu pada sastr. Dalam hubungan kelapa sebagai salah satu komoditas tanaman perkebunan memiliki peranan penting bagi perekonomian karena seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan diuangkan. Kelapa sebagai pohon kehidupan, tanaman serbaguna satusatunya paling banyak menghasilkan uang setelah diolah dan dipasarkan. Secara umum kelapa memiliki karakteristik dan tipe yang berbeda yakni. kelapa Dalam, kelapa Genjah, dan kelapa Hibrida. Terkait dengan penelitian ini, budidaya tipe ketiganya sebagai sample karena berfungsi menjadi kelengkapan sarana upakara dengan karakteristik tertentu. Khusus penggunaan bungkaknya lebih mengarah pada tipe genjah dan hibrida yang memiliki batang pendek, diameter sedang dan jarak bekas daun agak panjang. Pola pembungaannya menyerbuk secara silang dimana pembungaan pertamanya lebih awal dengan ukuran bole sedang. Ukuran buahnya pun sedang sehingga setiap tandan rangkaiannya lebih banyak, kualitas kopranya baik, berumur produktif hingga 40 tahun (Raka, wawancara 14 Juni 2. Tipe hibrida merupakan hasil persilangan antara kelapa dalam dengan kelapa genjah tujuannya mendapatkan varietas lebih unggul. Pemilihan tipe ini karena daging buahnya lebih tebal, keras, dengan kandungan minyak tinggi. Kelapa hibrida mulai berbuah saat umur 3-4 tahun lebih cepat dari kelapa Dalam dengan produktivitas sekitar 140 butir per pohon dalam satu tahun (Degdeg, wawancara 24 Juli 2. Saat ini juga diketahui beberapa komoditas produk turunan kelapa menjadi primadona selain dalam bentuk kelapa segar diantaranya digunakan sebagai. minyak kelapa, kopra, kelapa serut kering dan arang briket tempurung kelapa yang sedang naik daun di pasaran. Selain memiliki permintaan tinggi bisnis briket tempurung diprediksi tidak terkena dampak krisis ekonomi dan bisa berjalan berkelanjutan (Suhardiman, 1. Karakteristik tersebut di atas menjadi tujuan utama kelapa hibrida dipilih dan dibudidayakan karena dipandang tepat sebagai sarana upakara, sedangkan jenis yang lain lebih untuk pangan dan Dari sekian peluang bisnis yang ada, kelapa dirasakan paling nyata secara ekonomi dengan prediksi menguntungkan karena seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan dan diperjual belikan termasuk kelapa sisa ritual bisa dijadikan produk olahan berbahan baku kelapa. Dampak Sosial-Budaya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa dibarengi dengan nilai-nilai falsafah tentang kearifan lokal menjadi kering dan kosong. Keterpaduan pembangunan fisik dan non-fisik yang seimbang hendaknya menjadi perhatian bersama. Keduanya dapat menjadi strategi utuh untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat. Program pengembangan dan pelestarian kearifan lokal dalam menyelesaikan permasalahan sosialbudaya dapat dipengaruhi berbagai factor. Sebagai contoh pengembangan kelapa yang merupakan tanaman tropis telah lama dikenal masyarakat, hampir di seluruh wilayah Nusantara. Merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial-budaya dalam kehidupan karena setiap morfologi kelapa memiliki manfaat bagi kehidupan. Di Desa Bunutin-Bangli selalu kekurangan janur dan buah kelapa sebagai sarana untuk membuat banten disebabkan intensitas dan aktivitas ritual sangat tinggi. Senada dengan pernyataan Kepala Desa dituturkan kembali Sang Nyoman Priya . awancara, 25 Mei 2. mewakili antusiasme masyarakat, menjadikan topik penelitian yang kami tawarkan ibarat gayung bersambut. Jangankan Kabupaten Bangli. Kabupaten Karangasem sebagai penghasil kelapa nomor 2 . di Bali masih merasakan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kekurangan dan mendatangkan kelapa dari luar pada setiap gelaran berbagai ritual. Fenomena tersebut memuluskan ide positif tim peneliti tentang program budidaya tanaman khususnya kelapa upakara di Desa Bunutin sangat terbuka apalagi disertai adanya ketersediaan lahan milik bersama . Ketika intensitas ritual meningkat harga kelapa mulai dari daun hingga buah juga naik drastis terutama kelapa yang paling sering digunakan sarana upakara seperti. Nyuh Gading. Nyuh Gadang. Nyuh Sudamala. Nyuh Mulung. Melakukan budidaya kelapa memang tidak memperoleh hasil secara instan bagi masyarakat, paling tidak upaya yang dilakukan dapat berdampak kepada anak-cucu generasi berikutnya. Artinya, dengan melakukan budidaya sejak dini merupakan bentuk atensi dan antisipasi jangka panjang bagi kebertahanan kehidupan masyarakat Desa Bunutin bidang sosial-budaya. Kelapa dengan masyarakat Bali merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan namun tetap saling menyatu dalam wadah budaya. Segala perilaku dan simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat Bali memperlihatkan bahwa seluruh bagian kelapa secara fisik dari akar, batang, daun, buah dan bunga bermanfaat. Pohon kelapa sangat bermanfaat sehingga disebut tanaman serbaguna dan berpotensi dalam kehidupan manusia sehari-hari menjadi sarana dalam meningkatkan strata sosial, taraf hidup, bahkan cenderung memunculkan kreativitas budaya tertentu. Beberapa aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan keberadaan kelapa sebagai sumber mata pencaharian diantaranya. teknik memanjat dan menghanyutkan kelapa yang akan dijadikan kopra, menebang dan membelah pohon kelapa untuk dijadikan tiang bangunan, membuat minyak goreng, gula merah, membuat atap, perlengkapan rumah tangga, membuat makanan, sarana upakara, dan pengobatan. Menurut Mangku Ardana . awancara, 16 April 2. menyatakan bahwa kelapa memiliki fungsi yang sangat vital bahkan menjadi filosofi hidup masyarakat Bali. Hal demikian dapat dipahami dalam wujud simbol-simbol budaya seperti. batang merupakan simbol kekokohan, daun sebagai simbol kesegaran, buah sebagai simbol kesuburan, air kelapa sebagai simbol kebersihan dan kesucian, bunga sebagai simbol kebersamaan, akar sebagai simbol persatuan karena saling merekat satu sama lain. Simbol-simbol tersebut merupakan tuntunan dalam menjalani kehidupan, sekaligus menunjukkan aneka warna masyarakat dan budayanya. Pola pikir masyarakat yang masih sederhana dalam pemaknaan terhadap simbol-simbol di sekitarnya menunjukkan bahwa pengaruh budaya lokal masih kental dan mengkristal. Salah satu dari simbol dimaksud merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat terhadap adanya kekuatan gaib, roh nenek moyang . yang diharapkan senantiasa menjadi pelindung dalam kehidupan. Demikian halnya, sakralisasi tempat-tempat tertentu akhirnya memunculkan kearifan lokal dari strata tertentu disertai mitologi-mitologi baru, juga dapat berpengaruh pada kehidupan sosialbudaya seperti adanya konsep atau slogan. Aumenyama braya, segalak, segilik, seguluk, selunglung, sebayantakaAy. Slogan tersebut sesungguhnya diarahkan kepada generasi milenial yang sangat dekat dengan teknologi namun jarang melakukan kontak sosial secara langsung. Sejatinya konsep hidup ideal masyarakat Bali cukup sederhana yakni bertujuan menumbuhkan rasa kerukunan, persaudaraan dan persatuan diantara sesama yang sebetulnya memiliki makna Kearifan lokal inilah membawa Bali sebagai masyarakat yang ramah di mata Banyaknya kegiatan upacara keagamaan dan berbagai tradisi budaya seperti kerja bakti, sistem pembagian air menjadi alasan slogan dengan konsep menyama braya tetap tumbuh dan bertahan sampai saat ini. Oleh sebab itu, kegiatan sosial-budaya menanam kelapa upakara dengan memanfaatkan sekaa serta kelompok tani yang ada apalagi menggunakan lahan milik bersama juga merupakan implementasi konsep sebayantaka merasa senasib sepenanggungan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Secara umum kajian ini menyimpulkan bahwa tujuan utama melakukan edukasi budidaya tanaman kelapa upakara adalah melestarikan kearifan lokal beryajna agar segala bentuk ritus keagamaan Hindu tetap berlanjut tidak mengalami kepunahan. Oleh sebab itu, sarana-prasarana upakara diharapkan kondisinya berimbang terhadap intensitas pelaksanaan ritual. Kelapa yang dikenal sebagai tanaman serba guna, kaya manfaat bagi kehidupan sebab dari daun, bunga, buah, dapat dijadikan sarana upakara demikian halnya akar kelapa juga bermanfaat sebagai pengobatan. Tanaman kelapa yang diteliti meliputi. varietas Dalam, varietas Genjah dan varietas Hibrida, bahwa setiap kelapa yang dibudidayakan sebagai tanaman upakara ditandai dengan budaya penamaan dikenal sebagai nyuh madan. Adapun karakteristik dari ketiga varietas yang ditemukan jenis kelapa mulung, sudamala, bojog, rangda, tergolong varietas Dalam, sedangkan jenis kelapa gading, gadang, bulan, salak merupakan persilangan varietas Genjah dengan Hibrida. Kelapa dan bagian-bagiannya yang paling sering digunakan sarana upakara adalah daun dan buah dari yang masih muda . hingga yang sudah Hasil kajian mengungkapkan bahwa pentingnya menggunakan sarana kelapa saat beryajna telah dipahami masyarakat Bunutin baik dari sisi teologis, ekonomis, filosofis dan sosial-budaya saling berpengaruh. Secara teologis ada 3 . teks lontar dijadikan acuan bahwa kelapa sebagai sarana ritual yang sesungguhnya bertujuan salah satunya memperkuat rasa keimanan . kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai efek positif energi alam semesta demi munculnya rasa aman dan nyaman dalam diri melalui doa-mantra pada air dan buah kelapa yang telah digurati aksara suci. Demikian halnya secara filosofis banten yang menggunakan sarana kelapa khususnya bungkak syarat makna simbolis-mitologis menjadi media nyasa, pralina, sauca dan penyucian ritus-ritus Dari sisi ekonomis tidak diragukan lagi, budidaya kelapa upakara mendukung pelaksanaan ritual karena dapat mengatasi kelangkaan sekaligus berpengaruh positif terhadap dunia perekonomian khususnya pemasaran. Apabila dipandang dari sisi sosialbudaya, solusi pengembangbiakan kelapa merupakan bentuk usaha kreatif-inovatif untuk membangkitkan kesadaran, rasa persatuan masyarakat petani melalui slogan. menyamabraya, segalak, segilik, seguluk, selunglung, sebayantaka. Dengan demikian, memahami tanaman kelapa dari berbagai sudut pandang merupakan bentuk pengimbasan kearifan lokal dalam beryajna kepada generasi muda penerus. Dampak usaha budidaya sangat berpengaruh positif bagi kondisi religiusitas, ekonomi, dan sosial-budaya masyarakat di Desa Bunutin. Bahwa tingkat kesadaran, perilaku masyarakat semakin tumbuh untuk menghargai alam lingkungan sekitarnya dengan tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi seperti melaksanakan ritual tumpek uduh serta yajna lainnya. Dampak positif paling nyata terlihat dalam bidang perekonomian terjadi keseimbangan antara efektifitas dan efisiensi biaya ritual selain pengoptimalisasian dan pemanfaatan lahan perkebunan yang kurang produktif. Daftar Pustaka