ISSN: x-x Volume X. Nomor X. Bulan 20XX DOI XX-XX Dinamika Post Traumatic Growth Pada Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) Inggar Diah Novanti . Siti Nur Asiyah . Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia Email: 1 inggardovt@gmail. com, 2 nurays72@yahoo. Abstract The phenomenon of imprisonment provides a traumatic experience for children dealing with the law to be one of the things that must be considered because it can affect the growth and development of children. This study focuses on "How is the dynamics of Post Traumatic Growth in children dealing with the law (ABH) at UPT PRSMP Surabaya". The method used in this research is qualitative with a phenomenological research design. It was found that there are factors that influence PTG, namely individual characteristics, emotional disclosure, social support, environmental character, and contemplative style. The description of the behavior shown by the subject in the form of a change in life priorities, self-control and the emotion of feeling happy. improvement in relationships with others. awareness of one's own abilities. changes in the purpose of life. increase in spirituality. Children in Conflict with the Law at UPT PRSMP Surabaya, it can be concluded that the three subjects experienced post-traumatic It is hoped that further researchers will be able to explore the process by which PTG grows in ABH. Keyword : Post Traumatic Growth. Children Dealing with The Law Abstrak Fenomena pemenjaraan memberikan pengalaman traumatis yang dialami anak berhadapan dengan hukum menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian ini berfokus pada AuBagaimana dinamika Post Traumatic Growth pada anak berhadapan dengan hukum (ABH) di UPT PRSMP SurabayaAy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualatiatif dengan desain penelitian fenomenologi. Ditemukan adanya faktor yang mempengaruhi PTG yaitu faktor karakteristik individu, pengungkapan emosional, dukungan sosial, karakter lingkungan, dan gaya perenungan. Adapun gambaran perilaku yang ditunjukkan subyek berupa adanya perubahan pada prioritas hidup, kontrol diri dan emosi perasaan bahagia. peningkatan pada hubungan dengan orang lain. kesadaran akan kemampuan dalam diri. perubahan pada tujuan peningkatan spiritualitas. Anak Berhadapan dengan Hukum di UPT PRSMP Surabaya dapat disimpulkan bahwa ketiga subyek mengalami pertumbuhan pasca trauma. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat mengeksplor proses yang tumbuhnya PTG pada ABH. Kata Kunci : Post Traumatic Growth. Anak berhadapan dengan hukum Pendahuluan Kejahatan merupakan suatu bentuk tingkah laku yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial. Kriminalitas atau kejahatan tidak tergolong kedalam peristiwa herediter . awaan sejak lahir, warisa. Tingkah laku kriminal dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Dapat berlangsung pada usia anak, dewasa maupun lanjut usia (Kartono, 2. Peningkatan angka kasus pada anak berhadapan dengan hukum (ABH) berdampak pada perkembangan dan pertumbuhan anak. Anak cenderung akan beresiko mengalami kekerasan, memiliki gangguan psikologis seperti malu, kecemasan, dan kebutuhan dasar tidak terpenuhi (Putri, 2. Dampak yang dirasakan oleh anak dalam masa penghukuman menyebabkan tumbuhnya pengalaman traumatis yang Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi dirasakan anak. Pengalaman traumatis tersebut merupakan respon psikologis dari keadan hidup yang penuh dengan tekanan. Penelitian yang dilakukan oleh Evans. Ehlers. Mezey, dan Clark . 7 dalam (Putri Hilman et al. , 2. ) menyatakan bahwa remaja di Amerika yang menjalani proses penghukuman didalam penjara mengalami beberapa gejala gangguan pasca trauma, yaitu adanya ingatan-ingatan yang menganggu dan memiliki pemikiran terus menerus akan perilaku kriminal yang mereka lakukan. Dikutip dari Kompas. com (Jaya, 2. menyatakan terdapat narapidana anak berupaya bunuh diri didalam lapas, hal ini dipengaruhi karena adanya frustasi akibat masalah keluarga dan ditambah masalah penganiayaan didalam lapas yang dilakukan oleh temannya. Peristiwa traumatis berkaitan dengan peristiwa tidak menyenangkan yang melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian dan berupa paparan cedera serius. Peneliti telah melakukan preliminary research pada ABH di UPT PRSMP Surabaya. Ditemukan adanya pengalaman traumatis pada beberapa klien. Pengalaman traumatis yang dirasakan berupa ketakutan, kecemasan dan kekerasan secara verbal dan non-verbal yang dilakukan oleh sesama klien. Adanya proses hukum yang kejam juga menambah kasus trauma yang dirasakan oleh ABH. Pengalaman traumatis yang dirasakan oleh ABH menjadi salah satu faktor tumbuhnya perubahan positif setelah mengalami peristiwa menantang dalam hidup. Pertumbuhan pasca trauma adalah perubahan yang merujuk pada perubahan positif yang terjadi setelah mengalami pengalaman traumatis dan kehidupan yang Menurut Tedeschi dan Calhoun Post traumatic growth (PTG) merupakan perubahan psikologis yang berkaitan dengan pengalaman, positif yang dialami sebagai akibat dari perjuangan dengan keadaan hidup yang traumatis atau sangat menantang. Perubahan-perubahan ini terjadi sebagai tanggapan atas tantangan terhadap apa yang dianggap benar oleh orang-orang tentang kehidupan yang mereka jalani. Konstruksi PTG berfokus pada perubahan individu setelah terjadinya peristiwa (Tedeschi et al. Penelitian yang dilakukan oleh Hearn et al. , 2020 menyatakan adanya pertumbuhan pasca trauma atau Post traumatic growth. Hampir dari seluruh subyek . dengan presentase sebesar 98% melaporkan adanya perubahan pada tingkat rendah, dan hampir setengah dari subyek dengan presentase 48% melaporkan adanya perubahan pada tingkat sedang. Anak berhadapan dengan hukum menunjukkan perubahan positif dari yang sebelumnya menarik diri dari lingkungan dan kurang aktif melakukan kegiatan program binaan. ABH menunjukkan perilaku yang lebih positif seperti kedekatan subyek dengan tuhan dengan presentase 94,1% dan perilaku memiliki rencana untuk masa depan dengan presentase sebesar 89,7%. Hal tersebut diperkuat dengan adanya dukungan sosial yang diberikan keluarga melalui kunjungan ke lapas presentase dukungan sosial sebesar 90% Relasi sosial dengan teman dan petugas, saat berada dalam masa binaan di lapas menunjukkan presentase 83% (Kurniasari et al. , 2. Dari beberapa penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa ABH mengalami pengalaman traumatis ketika melalui proses penghukuman. Perubahan positif yang dialami oleh ABH menarik untuk diteliti karena beberapa penelitian terdahulu banyak Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi menyorot PTG pada korban. Tidak berfokus pada pelaku yang memiliki pengalaman traumatis dari proses dan masa penghukuman. Peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian lebih dalam, tentang AuDinamika Post Traumatic Growth pada Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH)Ay. Penelitian ini berfokus pada dinamika PTG pada ABH yang meliputi pengalaman PTG, bentuk PTG pada ABH, dan faktor-faktor yang mempengaruhi PTG pada ABH. Metode Penelitian ini dilakukan di Unit Pelaksana Teknis Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Marsudi Putra Surabaya (UPT PRSMP). Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif denganteknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik non-random sampling dengan teknik purposive sampling untuk menentukan sampling subyek. Hal ini didasarkan pada kriteria dari tujuan Adapun beberapa kriteria yang harus diperhatikan adalah: . Klien ABH di UPT PRSMP, . Pernah memiliki pengalaman traumatis, . Telah menjalani setengah dari masa tahanan, . Sudah melalui trauma yang ditandai dengan hasil observasi. Selain subyek penelitian, peneliti membutuhkan significant other yaitu petugas Pembina, teman, dan psikolog untuk menguji kredibilitas penelitian. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara, observasi dam dokumentasi. Adapun uji keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji kredibilitas, uji transferbilitas, uji dependabilitas, dan uji konfirmabilitas (Sugiyono, 2. Dan analisis data yang digunakan adalah Teknik analisis data model interaktif menurut Miles & Huberman (Herdiansyah, 2. Hasil dan Pembahasan Pengalaman PTG Pengalaman traumatis yang dialami oleh ABH berkaitan dengan pengalaman subyek selama menjalani proses sampai masa penghukuman. Dari ketiga subyek menyatakan adanya pengalaman traumatis yang dirasakan seperti saat proses investigasi dengan pihak kepolisian. Subyek pertama menyatakan adanya ketakutan akan penembakan pada area mata dan wajah. Pengalaman traumatis yang dirasakan subyek kedua dari perlakuan pihak berwajib ketika proses investigasi. Ia juga mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh korban dan keluarga korban. Subyek mengibaratkan dirinya seperti bola yang dipukuli oleh banyak orang. Kekerasan fisik yang dilakukan oleh korban dan pihak berwajib menjadikan subyek mengalami paparan cedera serius pada beberapa anggota tubuh seperti dada, wajah, dan perut. Subyek kedua menyatakan adanya kekerasan fisik yang dialami menyebabkan adanya trauma untuk berurusan dengan hukum lagi. Hubungan yang tidak baik dengan ayah kandung juga menjadi faktor peristiwa traumatis yang dialami subyek berupa ancaman kematian. Pengalaman traumatis yang dirasakan subyek ketiga adalah ketika berada dalam masa rehabilitasi. Subyek mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh sesama teman hingga menyebabkan cedera pada kepala. Adanya pengeroyokan didalam sel membuat subyek ketiga shock dan takut menjalani kegiatan. Kekerasan yang ia terima terjadi beberapa kali dan beberapa temannya dengan senggaja memberikan api ke tubuh subyek. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Berdasarkan diagnosis DSM-V menyatakan bahwa kriteria diagnosis dengan post traumatic disorder terjadi apabila individu mengalami paparan terhadap kematian aktual atau ancaman kematian, dan paparan cedera serius(American Psychiatric Association. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang didapatkan bahwa ketiga subyek tersebut menagalami pengalaman traumatis selama sebelum ataupun saat menjalani masa penghukuman. Pengalaman traumatis yang dirasakan berkaitan dengan paparan cedera serius, dan ancaman kematian. Paparan cedera serius didapatkan dari kekerasan yang dialami subyek dari proses sampai masa penghukuman. Ancama kematian diperoleh dari kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandung subyek kedua. Pengalaman menjadi ABH merupakan pengalaman menakutkan bagi anak remaja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pettus-Davus . 4 dalam Hearn et al. menyatakan bahwa 75% narapidana pernah mengalami pengalaman traumatis seumur hidup. Tingginya tingkat pengalaman traumatis tersebut dipengaruhi oleh proses penghukuman yang dialami oleh narapidana selama berada di lapas. Hal ini sejalan dengan temua penelitian ini yang menyatakan bahwa ABH memiliki pengalaman traumatis ketika berada dalam masa penghukuman. Pengalaman traumatis tersebut dipengaruhi oleh perlakuan yang didapatkan ketika masa penghukuman. Perlakuan dari pihak berwajib dalam proses investigasi dan perlakukan dari sesama klien ABH. Bentuk PTG Proses menuju PTG memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Karakteristik dan gaya regulasi emosi memiliki pengaruh pada proses terjadinya PTG(Tedeschi & Calhoun, 2. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ketiga subyek telah mengalami perubahan positif yang merujuk pada proses PTG, hal ini ditunjukkan dari perilaku ketiga subyek dalam masa rehabilitasi di UPT PRSMP. Perubahan positif yang dialami subyek merujuk pada aspek penghargaan terhdap hidup dan perubahan prioritas, hubungan dengan orang lain, kekuatan dalam diri, kemungkinan baru, dan perkembangan keyakinan. Adapun perubahan positif yang dialami subyek dintunjukkan sebagai berikut: Perubahan pada prioritas hidup, kontrol diri, dan perasaan Bahagia Penghargaan terhadap hidup dan perubahan prioritas melibatkan diri untuk bisa meneriman dan menghargai setiap peristiwa dan setiap perasaan bahagia yang terjadi dalam hidup (Tedeschi et al. , 2. Perubahan yang dialami oleh ketiga subyek menunjukkan perubahan positif. Hasil data menunjukkan bahwa ketiga subyek mulai dapat memahami keinginan mereka dan mengerti prioritas dalam hidup mereka. Ketiga subyek tersebut menganggap bahwa kebahagian kedua orang tua adalah prioritas dalam hidup mereka saat ini. Subyek pertama dan kedua menyatakan prioritas kedua adalah bekerja dan membantu kedua orang tua. Subyek ketiga menyatakan menyelesaikan pendidikan adalah prioritas kedua setelah membahagiakan orang tua. Ketiga subyek juga menunjukan perasaan jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Subyek kedua menunjukkan emosi positif ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ketiga subyek juga mulai menerima apa yang telah terjadi dan mulai berdamai dengan diri sendiri yang ditunjukkan dengan partisipasi dan kegigihan subyek dalam setiap kegiatan di UPT PRSMP. Subyek juga menunjukkan perubahan pada kontrol diri yang dimiliki. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi mereka lebih mampu untuk dapat mengontrol emosi jika dihadapkan dengan suatu permasalahan sesama teman. Peningkatan pada hubungan sosial Hubungan dengan orang lain berkaitan erat dengan dukungan sosial yang memiliki pengaruh terhadap proses PTG. Individu membutuhkan hubungan emosional dengan orang lain dan lingkungan sekitar dalam proses untuk mecapai keadaan pulih (Tedeschi & Calhoun, 2. Ketiga subyek menunjukkan perubahan pada hubungan sosial selama menjalani masa rehabilitasi. Perubahan tersebut merujuk pada perubahan positif, ketiga subyek menunjukkan adanya kedekatan dengan lingkungan sekitar. Subyek pertama menyatakan ada perasaan bahagia ketika bisa menjalin keakraban dengan teman dan petugas di UPT PRSMP. Subyek kedua merasa nyaman ketika tinggal di UPT PRSMP karena ia merasakan kehangatan dan perhatian yang diberikan para petugas dan teman-temannya. Subyek ketiga menemukan sosok dukungan sosial yaitu teman dekat yang ia kenal ketika pertama kali masuk UPT PRSMP, ia merasakan kepedulian dan perhatian yang dimiliki teman karibnya sehingga ia mampu dan semangat dalam memperbaiki diri. Kesadaran akan kemampuan dalam diri Kekuatan dalam diri berkaitan dengan persepsi akan kemampuan dan kekuatan individu dalam menghadapi pengalaman traumatis yang terjadi. Individu yang memiliki kekuatan dalam diri akan menunjukkan perilaku percaya diri, terbuka, memiliki empati, kreatif, dewasa, dan memiliki rasa kemanusiaan (Ramos & Leal, 2. Ketiga subyek menyatakan mereka mulai sadar akan kemampuan diri yang mereka miliki selama masa Kemampuan diri yang dimiliki ketiga subyek ini dipengaruhi oleh pemberian tugas dan kewajiban pada subyek dalam kegiatan yang ada di UPT PRSMP. Hasil data menunjukkan adanya kemampuan diri pada masing-masing subyek, subyek pertama menunjukkan bahwa ia mampu bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugas dan kewajibannya sebagai chief. Subyek mampu memimpin dan mengkoordinir teman-temannya dalam kegiatan sehari-hari di UPT PRSMP. Subyek kedua menunjukkan perilaku percaya diri dan mudah terbuka dengan lingkungan sekitar, ia juga tidak malu dalam mengungkapkan perasaan yang sedang ia rasakan. Subyek ketiga menyatakan adanya perubahan pada dirinya, ia menjadi pribadi yang lebih rajin dan berani dalam melewati proses menuju PTG. Perubahan pada tujuan hidup Kemungkinan baru berkaitan dengan perubahan pada tujuan hidup yang berfokus pada keadaan saat ini. Individu akan menemukan pilihan baru, peluang baru menuju proses PTG(Tedeschi & Calhoun, 2. Ketiga subyek menunjukkan perubahan pada tujuan hidup, mereka mulai memiliki tujuan hidup baru setelah mengalami masa sulit hidup didalam lapas. Hasil data menunjukkan bahwa ketiga subyek berkeinginan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Subyek pertama dan kedua menyatakan akan melanjutkan untuk bekerja, mereka menganggap dengan bekerja mereka dapat membahagiakan kedua orang tua dan membuat bangga mereka. Subyek ketiga memilih untuk melanjutkan pendidikan dan bekerja setelah lulus, ia juga menyatakan ingin merubah perilaku dan sifat-sifat buruk yang ada pada dirinya saat ini. Motivasi terbesar ketiga subyek untuk berubah menjadi lebih baik adalah kedua orang tua dan cita-cita yang mereka miliki. Peningkatan spiritualitas Perkembangan keyakinan berkaitan erat dengan kebersyukuran individu pada kondisi saat ini serta partisipasi indivdu dalam kegiatan-kegiatan keagaman (Ramos & Leal. Perubahan positif terjadi pada perkembangan keyakinan pada subyek. Ketiga subyek mengalami peningkatan dalam melakasanakn kegiatan-kegiatan keagamaan seperti sholat dan mengaji. Subyek pertama dan kedua menyatakan adanya perasaan nyaman dan tenang ketika memiliki hubungan baik dengan Tuhan. Subyek ketiga menyatakan ia hanya melakukan ibadah ketika berada dalam masa rehabilitasi dan ia bersyukur akan kenikmatan ibadah yang diberikan Tuhan kepadanya. Ketiga subyek bersyukur atas kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, bersyukur atas keadaannya saat ini, dan nikmat ibadah yang diberikan Tuhan kepada mereka. Faktor yang mempengaruhi PTG Perubahan yang dialami oleh ketiga subyek dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktorfaktor tersebut berkaitan pembentukan PTG yang ditunjukkan oleh subyek. Menurut Ramos & Leal, . menyatakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuhnya PTG antara lain: tekanan, karakter kepribadian, pengungkapan emosional, strategi coping, dukungan sosial, karakteristik lingkungan, pandangan terhadap dunia, gaya perenungan, spiritualitas, dan optimisme. Berdasarkan data penelitian ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi PTG pada ABH antara lain sebagai berikut: Karakter kepribadian Karakter kepribadian berkaitan dengan jenis-jenis kepribadian. Kepribadian seperti extraversion dan agreeableness memiliki pengaruh pada perkembangan PTG. Pertumbuhan PTG yang ditunjukkan ketiga subyek dipengaruhi oleh karakter Subyek pertama memiliki sifat yang labil sehingga dalam pertumbuhan PTG ia mengalami ketidakstabilan. Subyek kedua memiliki karakter yang terbuka dan perang, hal ini membantu subyek untuk dapat berdamai dengan trauma yang ia rasakan. Subyek kedua menunjukkan perubahan pada hubungan dengan orang lain lebih cepat dari kedua subyek lainnya. Subyek ketiga memiliki karakter yang tertutup, sehingga dalam proses PTG membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk dapat berdamai dengan trauma yang ia rasakan. Pengungkapan emosional Berperan sebagai fasilitator pemrosesan kognitif dari trauma. Ketika individu dapat menggambarkan dan membagi emosi yang ia rasakan dengan lingkungan sekitar. Pertumbuhan PTG yang ditunjukkan oleh ketiga subyek dipengaruhi oleh pengungkapan Subyek pertama memiliki sikap terbuka, ia sering bercerita dengan teman dan para petugas. Pertumbuhan PTG pada subyek cenderung cepat namun tidak stabil. Subyek kedua memiliki sikap yang terbuka, ia senang bercerita dan berbagi Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi permasalahan dengan teman-temannya sehingga PTG pada subyek kedua ini lebih cepat jika dibandingkan kedua subyek. Subyek ketiga memiliki sikap sedikit tertutup dan cenderung menyimpan semua permasalahannya sendiri. Proses PTG yang ia rasakan cenderung lebih lama dari kedua subyek. Dukungan sosial Dukungan sosial berpengaruh pada proses keberhasilan adaptasi dari pengalaman Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harsono et al. , . menyatakan bahwa dukungan sosial berperan terhadap pertumbuhan PTG. Pertumbuhan PTG yang ditunjukkan ketiga subyek dipengaruhi oleh dukungan sosial. Dukungan sosial merupakan suatu bentuk kehadiran orang yang dipercaya individu dan berupayan memberikan nasehat, motivasi, dan memberikan semangat akan sebuah permasalahan yang sedang dialami (Bastaman, 1996 dalam Tentama, 2. Hasil data menunjukkan bahwa bentuk dukungan sosial yang diterima ketiga subyek berupa nasehat, motivasi dan perhatian yang diberikan orang-orang terdekat seperti keluarga, teman dan lingkungan sekitar. Bentuk dukungan yang diberikan menjadikan dorongan agar subyek dapat berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Karakter lingkungan Karakter lingkungan berkaitan dengan pertumbuhan PTG pada individu. Karakter lingkungan ini meliputi faktor jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan. Pertumbuhan PTG yang ditunjukkan ketiga subyek dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan usia. Pendidikan berpengaruh pada sikap dan strategi yang digunakan untuk dapat berdamai dengan keadaan yang mereka rasakan. Subyek pertama memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah sehingga dalam pertumbuhan PTG mengalami ketidakstabilan. cenderung ikut-ikutan dan tidak memiliki pendirian akan sikap yang diambil. Subyek kedua memiliki pendidikan yang cukup rendah namun ia memiliki keteguhan dan pemikiran yang dewasa, sehingga pertumbuhan PTG pada subyek cukup bagus. Subyek ketiga memiliki Pendidikan yang lebih tinggi dari kedua subyek namun dari ketiga subyek ini subyek ketiga memiliki usia paling muda. Pertumbuhan yang dimiliki subyek ketiga cukup baik namun perlu jangka waktu yang lebih lama. Gaya perenungan Perenungan merupakan bentuk proses kognitif yang dialami individu. Perenungan ini merupaka perilaku yang disenggaja yang bertujuan untuk memahami peristiwa traumatis yang terjadi. Pertumbuhan PTG yang ditunjukkan ketiga subyek dipengaruhi oleh gaya Gaya perenungan yang ditunjukkan subyek pertama adalah dengan memabantu kegiatan bersih-bersih UPT PRSMP dengan kegiatan tersebut subyek mulai dapat menerima keadaan hidupnya. Gaya perenungan yang ditunjukkan oleh subyek kedua adalah dengan berinteraksi dan bermain dengan klien dan petugas. Hal berpengaruh pada PTG yang dialami subyek, dengan adanya kehangatan yang ia rasakan ia mulai merasa penting dan dapat memahami keinginan dirinya. Subyek ketiga menunjukkan gaya perenungan dengan diam dan menutup diri. Ia cenderung memikirkan dan berintropeksi diri selama berada di UPT PRSMP. Simpulan Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Berdasarkan hasil penelitian tentang Gambaran Post Traumatic Growth pada Anak Berhadapan dengan Hukum di UPT PRSMP Surabaya dapat disimpulkan bahwa ketiga subyek mengalami pertumbuhan pasca trauma dengan hasil temuan sebagai berikut: Pengalaman traumatis yang dirasakan berupa paparan cedera serius dan ancaman Hal ini didapatkan dari pengalaman ketika menjalani proses penghukuman. Adapun bentuk perilaku yang ditunjukkan subyek berupa adanya perubahan pada prioritas hidup, kontrol diri dan emosi perasaan bahagia. peningkatan pada hubungan dengan orang lain. kesadaran akan kemampuan dalam diri. perubahan pada tujuan peningkatan spiritualitas. Bentuk PTG yang ditunjukkan dari masing-masing subyek bervariasi. Perbedaan pada PTG yang dialami ketiga subyek dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor karakteristik individu, pengungkapan emosional, dukungan sosial, karakter lingkungan, dan gaya perenungan. Ketiga subyek menunjukkan perubahan positif selama masa rehabilitasi. Mereka memiliki kemampuan untuk bangkit dari pengalaman traumatis yang dirasakan. Penelitian ini masih jauh dari kata sempurna sehingga masih diperlukan pengkajian secara lebih dalam lagi. Bagi peneliti selanjutnya, agar dapat mengeksplor lebih dalam bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi PTG pada ABH. Penyebab perbedaan PTG juga perlu untuk diketahui secara mendalam. Penjelasan terkait dengan proses PTG juga penting untuk diketahui guna mendukung adanya PTG pada ABH. Referensi