BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. PEMAKAIAN DEIKSIS DALAM BAHASA JAWA SERANG Nadofah1. Fareha Rahmatul Zahra2. Erwin Salpa Riansi3 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 7771220005@untirta. 7771220003@untirta. id, salpariansierwin@untirta. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan dan mendeskripsikan jenis deiksis Bahasa Jawa Serang yang dituturkan oleh Masyarakat. Data penelitian ini berupa kata dan frasa yang mengandung deiksis persona, deiksis spasial, deiksis temporal, dan deiksis sosial berbahasa Jawa Serang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak, teknik dasar berupa teknik sadap, teknik lanjutan simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data dianalisis dengan menggunakan metode padan referensial, sumber data berasal dari tuturan masyarakat di Kampung Sumur Lubang. Kabupaten Serang. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan empat jenis deiksis yang digunakan, . deiksis persona berupa kata kite (Bahasa jawa serang standa. dan kule (Bahasa Jawa Serang Bebasa. , . Deiksis spasial berupa kata kunu dan kene. Deiksis temporal, berupa kata saiki dan bengen, serta mau bengi. Terakhir, . deiksis sosial berupa, kang . akak laki-lak. , mak ende . akak perempuan dari ibu atau bapa. Adek (Adik Perempuan atau laki-lak. dan teteh . akak perempua. Kata Kunci: Bahasa Jawa Serang. Deiksis. Tuturan Masyarakat ABSTRACT This research aims to classify and describe the types of Serang Javanese deixis spoken by the This research data is in the form of words and phrases containing personal deixis, spatial deixis, temporal deixis and social deixis in the Serang Javanese language. The data collection technique was carried out using the Listen method, basic techniques in the form of tapping techniques, advanced listening techniques without involving skill, recording techniques, and note-taking techniques. The data was analyzed using the referential matching method, the data source came from the speech of the community in Sumur Lubang Village. Serang Regency. Based on the results of the analysis, four types of deixis were found to be used, . personal deixis in the form of the words kite . tandard Serang Javanes. and kule (Serang Liberan Javanes. , . spatial deixis in the form of the words kunu and kene. Temporal deixis, in the form of the words saiki and bengen, and mau bengi. Finally, . social deixis in the form of, kang . lder brothe. , mak ende . other's or father's older siste. Adek . ounger sister or brothe. and teteh . lder siste. Keywords: Serang Javanese. Deixis. Community Speech How to Cite: Nadofah. Zahra. , & Riansi. PEMAKAIAN DEIKSIS DALAM BAHASA JAWA SERANG. Bahtera Indonesia. Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 9. , 541Ae553. https://doi. org/10. 31943/bi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia DOI: https://doi. org/10. 31943/bi. PENDAHULUAN satunya Kampung Sumur Lubang yang Indonesia sebagai Negara penuh akan keberagaman, termasuk di dalamnya adalah Bahasa. Bahasa tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari karena kehadirannya memiliki peranan penting dalam penyampaian informasi, pengungkapan pikiran, dan perasaan (I Nengah, 2020. Noermanzah, 2. Salah satu bahasa yang terdapat di Indonesia dan paling banyak penuturnya adalah Bahasa Jawa. Sejalan dengan Launder . alam Susanto & Sandi, 2. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang paling banyak penuturnya, dan termasuk dalam tiga belas bahasa terbesar di Indonesia, karena bahasa Salah satu dialek Bahasa Jawa yang digunakan adalah dialek Banten (Bahasa Jawa Seran. Bahasa Jawa Serang memiliki dua variasi, yaitu Bahasa bebasan dan Pergaulan Masyarakat Bahasa Jawa Bebasan dan Bahasa Pergaulan dalam sehari-hari. Dalam berkomunikasi, tentu akan ditemukan kata penunjuk atau kata ganti untuk merujuk objek maupun sesuatu dalam kegiatan Misalnya untuk merujuk dirinya sendiri, penutur biasa menggunakan kata kite (Bahasa Jawa Serang pergaula. dan kule (Bahasa Jawa Serang bebasa. Kata penunjuk ini sering disebut dengan deiksis. Deiksis merupakan kata rujukan yang berbeda-beda konteks yang melatarbelakanginya (Hamzah ini memiliki penutur 75,2 Juta Jiwa. Bahasa berada di Kabupaten Serang. Mayoritas (Standa. Bahasa dibandingkan Bahasa pergaulan, sehingga Bahasa bebasan biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, sedangkan bahasa pergaulan digunakan dalam berkomunikasi dengan teman sebaya et al. , 2021. Saifudin, 2. Terdapat beberapa jenis deiksis yang biasa digunakan sebagai rujukan, yaitu deiksis persona . ata ganti yang menyangkut pribad. , deiksis Masyarakat di Provinsi Banten. Salah pergeraka. , deiksis waktu . ata ganti yang pembicaraa. , deiksis sosial . enyangkut strata socia. dan deiksis wacana yang menyangkut rujukan pada bagian dalam suatu wacana (Bachari dan Juansah, 2. Deiksis (Chudari dalam Fauzan et al. , 2. Bahasa Jawa Serang digunakan oleh . ata yang dikaji dalam salah satu ilmu linguistik yaitu pragmatik. Secara sederhana dikatakan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. bahwa pragmatik merupakan sebuah kajian mengenai Deiksis dalam Bahasa Jawa Serang yang dilakukan oleh (Khasanah & (Levinson dalam Rosidin, 2. Selain itu. Suryani, 2. berjudul AuDeiksis dalam Yule . alam Bala, 2. Film pragmatik sebagai ilmu pengkaji Bahasa dan Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa Dengan demikian deiksis dalam film tersebut ditemukan deiksis dipelajari dalam ilmu pragmatik untuk tempat berupa ning kene dan omah, deiksis mengetahui maksud dari kata rujukan yang persona berupa kite, sire, deweke, dan kitane dikaitkan dengan konteks. Berupa mitra dan deiksis waktu berupa wingi. tutur, tempat dan lain sebagainya. Penelitian Yuni Karya Kamila Andini. Ay Berbeda dari penelitian sebelumnya, dalam penelitian ini sumber data yang bukanlah hal yang baru, banyak peneliti digunakan adalah tuturan di lingkungan Masyarakat sehingga data yang diperoleh penelitiannya. Adapun beberapa peneliti sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang telah meneliti tentang deiksis yaitu . Pemilihan Bahasa Jawa Serang penelitian (Surya & Rahman, 2. berjudul sebagi objek penelitian karena Bahasa ini AuDeiksis Cerita Pendek Karya Wolfgang BorchertAy Hal ini menjadi daya tarik bagi temuan, berdasarkan tiga cerpen yang telah peneliti untuk melakukan penelitian pada dianalisis ditemukan beberapa jenis deiksis. Bahasa tersebut. yaitu temporal berupa jetzt dan nychsten Dengan Abenk, deiksis spasial berupa hier dan da, mengenai deiksis dilingkungan Masyarakat serta deiksis persona berupa ich, du dan er . penting untuk diteliti agar memahami Deiksis yang paling sering digunakan adalah maksud dari bahasa yang digunakan untuk deiksis persona. Penelitian (Melinia & merujuk suatu objek, orang, atau tempat Sinaga, 2. berjudul AuDeiksis Persona, dalam kegiatan bertutur. Selain itu, dapat Deiksis Tempat, dan Deiksis Waktu dalam diketahui pula perbedaan sosial dalam Novel Bumi Cinta Karya Habiburahman El penggunaan deiksis tersebut, karena deiksis ShirazyAy Penelitian temuan, deiksis waktu berupa sekarang, dan dalam lingkungan Masyarakat, seperti latar dulu, deiksis persona berupa aku, saya, kita belakang budaya, perbedaan usia, dan dan kamu, serta deiksis tempat berupa di sana, di sini dan ke sini, dan . penelitian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. Berdasarkan latar belakang di atas, dilakukan untuk mengumpulkan data-data peneliti tertarik untuk meneliti tentang yang nantinya akan dilakukan pencatatan AuPemakaian Deiksis dalam Bahasa Jawa pada kartu data berukuran 10 cm y 15 cm Serang. Ay berdasarkan klasifikasi jenis deiksisnya. Rumusan Masalah penelitian ini adalah Apasaja kah jenis deiksis Bahasa Jawa Serang yang digunakan oleh Masyarakat di Lingkungan Kampung Sumur Lubang? Rumusan tersebut sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu mendeskripsikan jenis deiksis Bahasa Jawa Serang yang dituturkan oleh masyarakat di Dalam menggunakan metode padan, metode ini merupakan suatu cara menganalisis data yang alat penentunya bukan dari Bahasa itu sendiri tetapi dihubungkan dengan faktor lain (Sudaryanto, 2. Data dalam penelitian berupa kata Lingkungan Kampung Sumur Lubang. yang meliputi deiksis persona, deiksis METODE PENELITIAN spasial, deiksis temporal, dan deiksis sosial. Penggunaan didalamnya menjelaskan mengenai data berupa kata-kata yang ditemukan kemudian Sumber data berasal dari peristiwa tutur pada masyarakat di Kampung Sumur Lubang. Kabupaten Serang pada tanggal 18 dan 19 November 2023. dideskrpsikan menjadi kalimat (Sudaryanto. Mahsun dalam Sumilang et al. , 2. HASIL PEMBAHASAN Teknik pengumpulan data yang digunakan Berdasarkan penelitian di lapangan, yaitu Metode simak, proses ini dilakukan ditemukan beberapa data berkaitan dengan penutur dan mitra tutur yang dilakukan oleh diklasifikasikan berdasarkan jenis deiksis sekelompok orang pada salah satu rumah di yaitu deiksis persona, deiksis ruang, deiksis Kampung Sumur Lubang. Desa Salira, waktu dan deiksis sosial dalam Bahasa Jawa Kabupaten Serang. Teknik dasar yang Serang. Berikut ini tabel jumlah deiksis digunakan berupa teknik sadap dengan yang telah ditemukan. melakukan penyadapan tuturan lisan, dan Tabel 1. Data Pemakaian Deiksis Jenis Deiksis Jumlah Deiksis Persona Deiksis Spasial Deiksis Temporal Deiksis Sosial Jumlah teknik lanjutan berupa simak bebas libat cakap, dalam hal ini peneliti hadir namun tidak terlibat dalam proses pertuturan. Selanjutnya yaitu teknik rekam, proses ini Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. Adapun uraian dari keempat jenis deiksis yang telah ditemukan sebagai berikut. pengeluaran, sehingga untuk membeli rokok saja sangat susah. Kata kite dalam Bahasa Deiksis Persona Jawa Serang memiliki arti yang sama Deiksis persona pertama Tunggal dengan saya dalam Bahasa Indonesia. Kite Deiksis persona Tunggal pertama dalam Bahasa Jawa Serang termasuk pada merupakan kata ganti yang digunakan untuk variasi Bahasa Jawa Standar yang diujarkan merujuk dirinya sendiri atau kata ganti orang kepada teman sebaya ataupun orang yang usianya tidak berbeda jauh dengan penutur. Data Tunggal pertama adalah sebagai berikut. Dengan demikian, kite pada data di atas merujuk pada dirinya sendiri sebagai pembicara yaitu B (P. Sejalan dengan Data 1 Dengah (Mutia et al. , 2. A (P. : Due rabi nukoni kelambi telu deiksis persona pertama merupakan sebuah ngatus sewu, tuku tas rongatus seket. rujukan pada diri penuturnya sendiri. Barang lakineme cuma titukokaken Deiksis persona tunggal pertama juga sempak doang. ditemukan pada tuturan berikut. (Istri beli baju seharga Tiga Ratus ribu, tas seharga dua ratus lima puluh Data 2 ribu, tapi suaminya hanya dibelikan A (P. : Pagere niki di bongkar boten mak celana dalam saj. ende, dipuni luas ngangkut barange B (P. : Iye, duet telong jute wes lake pisan, gena ngeroko kite bae ge payah saiki (Iya, uang Tiga juta sudah habis, (Pagar ini di bongkar tidak bibi, supaya luas ngangkut barangny. B (P. : iye kuduneme nong, enda aje gati untuk membeli rokok sendiri saja sekarang susa. ya harusnya nong, supaya lewatnya tidak susa. Tuturan di atas menunjukkan adanya A (P. : Kule me neng ngunjal karung sampe mengger-mengger boten muat pertama dalam Bahasa Jawa Serang yaitu . aya pada kata kite. Berdasarkan konteksnya, ke minggir-minggir, tidak mua. dua penutur tersebut sedang menceritakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Data di atas juga menunjukkan A (P. : ti tunggoni seng mau embekan penggunaan deiksis persona Bahasa Jawa muncul sire kuen mad berupa kata kule. Kata ini memiliki arti yang . i tungguin dari tadi baru Nampak sama dengan saya dalam Bahasa Indonesia. kamu, ma. Berdasarkan diujarkan oleh ponakan kepada kakak Data di atas menunjukkan adanya perempuan ibunya. Pada saat itu A (P. penggunaan deiksis persona ke dua tunggal menanyakan apakah pagar rumah bibinya pada kata sire. Berdasarkan konteksnya, tuturan tersebut diujarkan oleh dua saudara menghalangi jalan saat membawa barang. Beberapa hari sebelumnya, mereka Dengan demikian, kule yang digunakan oleh memiliki janji akan mengambil pohon A(P. merujuk pada dirinya sendiri yang bambu di ladang pada hari tersebut untuk merasa kesusahan saat melewati pagar Kata kule merupakan variasi disamping rumah. A (P. sudah menunggu Bahasa Jawa Serang halus. Terlihat pada sejak pagi, tetapi B (P. tidak kunjung tuturan di atas, kule diujarkan oleh A(P. Setelah beberapa lama akhirnya karena berbicara dengan orang yang usianya B(P. datang dan langsung mengajak ke lebih tua yaitu kakak peremuan ibuhnya. A(P. menanggapi dengan kalimat pengunaan kata ini dianggap lebih sopan Auti tunggoni seng mau embekan muncul sire jika dituturkan kepada orang yang lebih tua. kuen mad. Ay Sire dalam Bahasa Jawa memiliki arti yang sama dengan kamu dalam Deiksis Persona Ke dua Tunggal Deiksis persona ke dua tunggal Bahasa Indonesia. Dengan demikian, sire menujukkan kata ganti orang ke dua yang merupakan kata ganti yang merujuk pada lawan bicara dalam suatu percakapan. saudaranya B (P. yang telah ditunggunya Berikut ini data yang menunjukkan deiksis sejak pagi. Tuturan ini diujarkan dalam persona ke dua Tunggal. situasi non formal. Selaras dengan (Nafisah et al. , 2. menyatakan, deiksis orang ke Data 3 B (P. : Kang, yu cepet negal embil pring dilakukan oleh pembicara terhadap lawan (Kang, ayo cepat ke ladang ngambil Persona ke tiga tunggal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. Deiksis persona ke tiga tunggal deweke merujuk pada seseorang yang tidak menunjukkan kata ganti yang merujuk pada terlibat dalam percakapan yaitu saudara orang ke tiga yang tidak terlibat dalam yang sedang dinantikan kedatangannya. Berikut ini data yang menunjukkan Selaras dengan pendapat (Nafisah et al. deiksis ke tiga tunggal. menyatakan, deiksis persona ke tiga Data 4 merupakan sebuah rujukan pada orang B (P. : Tunggoni bae dipit bokan lagi diluar atau tidak terlibat dalam peristiwa (Tunggu saja dulu, mungkin lagi Deiksis Spasial A (P. : lah wong deweke ngomong subuh- Deiksis spasial merupakan suatu kata subuh ya kang, jam wolu berangkat. yang merujuk pada tempat atau ruang Kiteme setengah wolu wes adus, gale pergerakan saat terjadinya tuturan. Deiksis deweke me sampe jam semini durung ini terbagi menjadi dua, yaitu deiksis spasial proksimal, dan (Dia bilang pagi-pagi ya kang Terdapat beberapa data yang menunjukkan Saya deiksis spasial delapan sudah mandi, ternyata dia lapangan yang telah dilakukan. Adapun data sampai jam segini belum sampa. yang menujukkan deiksis tersebut, sebagai Dalam tuturan tersebut, terdapat kata persona ke tiga tunggal dalam Bahasa Jawa Data 5 Serang yang diujarkan berupa kata deweke. A (P. : Gale uwonge ning kene geh. Berdasarkan kakakme seng mau gegelati tersebut dilakukan oleh dua saudara yang (Ternyata orangnya di sini, dari tadi sedang menunggu saudara lainnya karena kakak mencar. akan pergi ke Ladang untuk mengambil B (P. : La wong kitane seng mau ning kene A (P. merasa kesal karena (Saya dari tadi di sin. berangkat pukul 8:00 justru belum sampai hingga pukul 9:00. Deweke dalam Bahasa Deiksis spasial pada data di atas Jawa memiliki arti yang sama dengan Dia terlihat pada Auning kene,Ay dalam Bahasa dalam Bahasa Indonesia. Dengan demikian. Indonesia kata tersebut memiliki arti yang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sama dengan di sini, untuk mengetahui Data berikutnya juga menunjukkan rujukan pada data maka perlu di hubungkan adanya deiksis ruang berupa kata kunu. Kata dengan konteks yang melatarbelakanginya. di atas merujuk tempat yang jauh dari Berdasarkan konteknya, percakapan ini pembicara yaitu tempat yang akan dituju terjadi di sebuah rumah di kampung itu. atau rumah seseorang yang akan didatangi (P. sedang mencari Adiknya, karena oleh penutur yaitu warung mak ende. Hal setelah pulang mengambil bambu iya tidak tersebut terlihat berdasarkan konteks yang terlihat batang hidungnya, ternyata adiknya sedang asyik main handphone di amben pesan kepada anak pertamanya, jika adiknya tetangga samping rumah. Dengan demikian mencari tolong beritahukan jika ia pergi ke kata Auning keneAy merujuk pada amben yang warung bibinya. Dengan demikian, kunu berada di samping rumah tetangga tempat merujuk pada warung bibinya yang akan di Berdasarkan jenisnya, deiksis ini digunakan karena menunjukkan objek yang termasuk dalam deiksis spasial distal. jaraknya dekat dengan A (P. Berdasarkan Sejalan dengan (Riza & Santoso, 2. jenisnya, deiksis ini termasuk dalam deiksis deiksis spasial distal merujuk pada suatu spasial proksimal. Sejalan dengan (Riza & objek yang jaraknya jauh dari pembicara. Santoso, 2. menyatakan, deiksis spasial Deiksis ini ditandai dengan kata sana, di proksimal merujuk pada objek yang dekat sana, di situ dan lain sebagainya. Kata A(P. dengan penutur. Misalnya, ke sini, di sini, dekat sini, dan sebagainya. Data lain Deiksis Temporal berikaitan dengan deiksis spasial juga terlihat pada kutipan berikut. Deiksis temporal merupakan suatu kata yang merujuk pada waktu. Deiksis ini Data 6 proksimal dan temporal distal. Berikut ini A (P. : Teh wara ye neng Adek, emake arep data yang menunjukkan adanya deiksis neng warung mak ende kunu ku. (Teh nanti bilangin ke Adik, ibu mau ke warung mak ende sit. B (P. : Iye Data 7 A (P. : Gale ye saikime neng sawae kien (Iy. peranti dedolan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. (Sekarang di sawah ini sudah banyak merupakan suatu kata yang menunjukkan rumah, dulu tempat bermai. Misalnya B (P. : Uwes kebek lah mak saikime, sekarang ini, hari ini, dan saiki, sedangkan bengenme warung teh ja paling deiksisi temporal distal merupakan suatu waktu yang sudah berlalu atau yang akan (Sekarang sudah penuh mak, dulu Misalnya, besok, wingi, kemarin dan warung teh ja paling ujun. Data lain berkaitan dengan deiksis waktu terlihat pada tuturan berikut. Pada tuturan di atas menunjukkan adanya dua deiksis temporal yaitu saiki dan Data 8 Kedua kata tersebut memiliki arti A (P. : Lah mau bengi tes udan, arep yang sama dengan kata sekarang dan dulu nandur laos ki menawe cukul (Tadi malam habis hujan, ingin Bahasa Indonesia. Berdasarkan konteknya, tuturan ini diujarkan oleh A(P. menanam laos semoga tumbu. warga asli kampung tersebut namun sudah beberapa tahun pindah ke kota Cilegon Tuturan tersebut juga menunjukkan kepada tetangganya yang juga penduduk asli adanya deiksis waktu terlihat pada kata kampung ini. Hampir tujuh tahun A(P. bengi yang berarti malam dalam bahasa pindah, ternyata banyak perubahan yang Kata ini merujuk pada waktu terjadi di sekitar tempat tinggalnya, sudah yang sudah terlewat, hal itu dapat terlihat banyak berdiri rumah warga di pesawahan dari kata yang mendahuluinya yaitu kata tempat bermainnya dulu. Dengan demikian, mau dalam Bahasa Jawa Serang yang kata saiki mengacu pada keadaan atau memiliki arti tadi. Berdasarkan konteksnya, kondisi yang terjadi saat ini, yaitu sudah kata tersebut merujuk pada waktu sebelum dibangun rumah-rumah di sekitar tempat terjadinya tuturan ini yaitu tepatnya pada Sedangan bengen mengacu pada waktu yang telah terjadi beberapa tahun lalu. Berdasarkan jenisnya, frasa mau bengi di mana sekitar rumahnya dulu masih berupa termasuk dalam deiksis temporal distal yaitu Berdasarkan jenisnya, kata saiki menunjukkan waktu yang sudah berlalu. Deiksis Sosial temporal distal. Sejalan dengan (Riza & Deiksis sosial merupakan suatu Santoso, 2. deiksis temporal proksimal rujukan yang menjadi perbedaan status Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. penutur dan mitra tuturnya. Adapun deiksis Data 10 sosial yang ditemukan oleh peneliti, sebagai A (P. : Pagere niki di bongkar boten mak ende, dipuni luas ngangkut barange Data 9 (Pagar ini di bongkar tidak bibi. B (P. : Kang, yu cepet negal embil pring supaya luas ngangkut barangnya. (Kang, ayo ke ladang ngambil B (P. : iye kuduneme nong, enda aje gati A (P. : ti tunggoni seng mau embekan . ya harusnya nong, supaya lewatnya muncul sire kuen mad tidak susa. i tungguin dari tadi baru Nampak A (P. : Kule me neng ngunjal karung kamu, ma. sampe meripid-meripid boten muat . aya Tuturan minggir-minggir, tidak mua. penggunaan deiksis sosial berupa kata kang. Berdasarkan konteksnya. Tuturan di atas Berdasarkan data di atas, mak ende diujarkam oleh dua saudara ipar yang menunjukkan penggunaan deiksis sosial. seumuran namun satu diantaranya lebih tua Frasa ini memiliki arti yang sama dengan Bahasa Karena orang tua mereka kakak adik Berdasarkan sehingga A (P. dipanggil kang oleh B (P. diujarkan oleh ponakan kepada kakak Dalam Bahasa Jawa kang menunjukkan panggilan untuk kakak laki-laki. Hal itu panggilan mak ende menunjukkan adanya sejalan dengan Huang . alam Hikmah et al. perbedaan usia di antara penutur dan mitra AuDeiksis Dengan Dalam Bahasa Jawa. Mak ende berkaitan dengan kondisi status sosial . menunjukkan panggilan untuk kakak penutur, lawan tutur atau mitra tutur, atau Perempuan dari ayah atau ibu. Selanjutnya, orang ketiga dalam suatu proses ujaran deiksis sosial juga terlihat pada kalimat. Menyatakan. Indonesia. sehingga membentuk hubungan sosial yang terjadi di antara mereka. Ay Data 11 Data berikutnya berkaitan dengan A (P. : Teh wara ye neng Adek, emake deiksis sosial juga terdapat pada tuturan arep neng warung mak ende kunu ku. (Teh nanti bilangin ke Adik, ibu mau ke warung mak ende sit. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. B (P. : Iye sebanyak 4 data meliputi persona tunggal (Iy. pertama, untuk merujuk diri sendiri mereka menggunakan kata kite (Bahasa jawa serang Data ini menunjukkan penggunaan standa. dan kule (Bahasa Jawa Serang deiksis sosial berupa kata teh atau teteh dan Bebasa. , kemudian menyebut orang ke dua Adek. Kedua kata tersebut memiliki arti dengan kata sire, dan orang ke tiga dengan yang sama dengan kakak atau mbak dan kata deweke, . Deiksis spasial bejumlah 2 Berdasarkan konteknya, tuturan ini Data, meliputi spesial distal untuk merujuk diujarkan oleh ibu kepada anak Perempuan sesuatu yang jauh, mereka menggunakan pertamanya untuk memberitahukan kepada kata kunu serta penyebutan tempat, dan adiknya jika ia akan ke warung. Dengan . Deiksis menunjukkan adanya perbedaan usia yaitu Temporal ditemukan 2 data, berupa kata teteh untuk anak Perempuan yang lebih tua, saiki dan bengen, serta frasa mau bengi. sedangakan adik untuk anak yang terlahir Terakhir, . deiksis sosial berjumlah 3 data setelah teteh nya tersebut. Dalam Bahasa yang biasa digunakan adalah kang . akak jawa teteh digunakan untuk memanggil kaka laki-lak. , mak ende . akak perempuan dari Perempuan sedangkan adek bisa digunakan ibu atau bapa. , dan Adek (Adik Perempuan untuk memanggil adik laki-laki ataupun atau laki-lak. dan teteh . akak perempua. Perempuan yang usianya dibawah anak Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang Namun saat ini, panggilan dilakukan oleh (Khasanah & Suryani, 2. teteh sering kali digunakan oleh Masyarakat Dalam perkotaan untuk memanggil pekerja rumah menunjukkan beberapa kata ganti Bahasa tangga yang usianya masih muda, sehingga Jawa Serang yang memiliki kesamaan dalam beberapa konteks orang lebih sering menggunakan kakak untuk memanggil menunjukkan deiksis temporal dan lain dengan teteh yang setara dengan pekerja rumah tangga. SIMPULAN Berdasarkan dianalisis, terdapat beberapa jenis kata ganti Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan empat jenis Bahasa Jawa Serang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia digunakan dalam peristiwa tutur oleh Masyarakat yaitu deiksis persona, spasial, temporal, dan sosial. Deiksis persona Bahasa Jawa yang digunakan berupa kata ganti tunggal yaitu kite, sire, kule, dan Deiksis Spasial berupa neng kene, dan kunu. Deiksis Temporal berupa saiki, bengen dan mau bengi. Deiksis sosial berupa teh, kang mak ende dan Adek. Penggunaan menambah pengetahuan bahwa makna dari penggunaan rujukan suatu kata akan dipengaruhi oleh konteks berupa tempat, mitra tutur dan lain sebagainya. Penelitian keunggulan dan kekurangan, kelebihan penelitian ini adalah data diperoleh dari tuturan langsung Masyarakat. Adapun kekurangan dalam penelitian ini adalah keterbatasan waktu yang digunakan dalam proses pengambilan data sehingga data yang diperoleh tidak banyak. Dengan menganalisis penggunaan deiksis pada beberapa bahasa daerah yang ada sehingga dapat diketahui perbedaan penggunaan penelitian yang cukup mendalam agar data yang diperoleh lebih banyak. DAFTAR PUSTAKA