JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Pentingnya Bermain dalam Proses Belajar Anak Usia 3-4 Tahun Di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik Citra Wulandari1. Mushab Al Umairi2. Fitri Ayu Fatmawati3 cw862133@gmail. com, alumairi. mushab@umg. id, fitriayufatmawati92@umg. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kegiatan bermain dalam proses belajar anak usia 3Ae4 tahun di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus tematik. Subjek penelitian terdiri atas guru, kepala sekolah, orang tua, dan peserta didik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi aktivitas bermain, serta dokumentasi berupa RPP dan catatan perkembangan anak. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik melalui proses pengodean dan pengelompokan tema. Hasil penelitian menun jukkan bahwa kegiatan bermain berkontribusi positif terhadap perkembangan anak, khususnya pada aspek kognitif, sosial-emosional, bahasa, dan motorik. Anak menunjukkan peningkatan kreativitas, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, kepercayaan diri, serta keterampilan motorik melalui berbagai bentuk permainan, seperti bermain balok, permainan peran, puzzle, dan permainan sensorik. Pendekatan belajar sambil bermain juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga meningkatkan motivasi dan keterlibatan anak. Dukungan guru, lingkungan belajar yang kondusif, dan keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran berbasis bermain. Meskipun terdapat kendala dalam pengelolaan waktu dan kelas, metode bermain terbukti efektif dalam mendukung perkembangan anak secara holistik. Kata Kunci: Bermain. Proses Belajar, dan Anak Usia 3-4 Tahun Abstract This study examines the role of play activities in the learning process of children aged 3Ae4 years at KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. A qualitative approach with a thematic case study design was employed. The participants included teachers, the principal, parents, and students. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and document analysis, and were analyzed using thematic analysis. The results indicate that play activities positively influence childrenAos cognitive, social-emotional, language, and motor development. Children demonstrated increased creativity, communication skills, cooperation, self-confidence, and motor coordination through various types of play, such as block play, role play, puzzles, and sensory activities. Playbased learning also fostered an engaging and enjoyable learning environment, which enhanced childrenAos motivation and participation. Teacher support, a supportive learning environment, and parental involvement were identified as key factors in the successful implementation of play-based Despite challenges related to time management and classroom control, play-based methods were proven effective in supporting childrenAos holistic development and may serve as a model for other early childhood education institutions. Keywords: Play. Learning Process. Children Aged 3Ae4 Years JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. PENDAHULUAN Periode balita dan anak usia dini adalah tahap perkembangan yang sangat penting dan kerap disebut sebagai Aomasa emasAo pertumbuhan anak. Pada tahap ini, anak mengalami perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang berlangsung dengan sangat cepat. Dalam pandangan agama, anak merupakan titipan yang harus dirawat dengan penuh tanggung jawab agar mereka dapat berkembang secara sehat dan mencapai potensi terbaiknya (Wiwik Pratiwi, 2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bertujuan mengembangkan seluruh potensi anak secara menyeluruh. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah kegiatan bermain, karena dianggap sebagai metode paling efektif untuk mendukung proses belajar dan perkembangan anak. Melalui bermain, berbagai aspek perkembangan seperti kognitif, sosialemosional, dan motorik dapat ditingkatkan secara optimal (Halifah, 2. Meski banyak PAUD telah menerapkan pendekatan belajar melalui bermain, tidak semua lembaga mampu memaksimalkannya secara optimal. Dalam kondisi tersebut, kelemahan utama yang muncul adalah belum adanya penerapan yang sistematis dan terarah dalam memasukkan kegiatan bermain ke dalam kurikulum pembelajaran. Di sejumlah PAUD, pendekatan pembelajaran yang masih berfokus pada aspek akademis secara formal kerap diterapkan, sehingga dapat menghambat tumbuhnya kreativitas, minat, dan motivasi belajar anak (Ngaisah et al. , 2. Minat belajar anak dapat menurun dan mereka bisa merasa tertekan ketika pembelajaran kurang interaktif dan permainan yang diberikan tidak Selain itu, peran orang tua dalam mendukung proses belajar melalui kegiatan bermain juga belum maksimal, padahal keterlibatan keluarga sangat diperlukan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan efektif (Rahmadianti, 2. Penelitian ini penting dilakukan untuk menggali lebih jauh bagaimana aktivitas bermain dapat dimaksimalkan dalam mendukung proses belajar anak usia dini, khususnya di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. Walaupun sebagian besar PAUD telah menggunakan permainan sebagai metode pembelajaran. KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik menerapkan pendekatan yang menekankan perkembangan anak secara holistik. Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya belajar lewat bermain, tetapi juga memperoleh dukungan menyeluruh dari guru dan orang tua agar perkembangan mereka dapat berlangsung secara Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana kegiatan bermain berperan dalam mengoptimalkan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. Selain itu, penelitian ini juga bermaksud memberikan contoh kepada lembaga PAUD lain mengenai strategi untuk mengoptimalkan peran bermain dalam kurikulum pembelajaran mereka. METODE PENELITIAN Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus tematik. Pendekatan tersebut dipilih untuk menggali secara mendalam bagaimana penerapan kegiatan bermain di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik serta pengaruhnya terhadap optimalisasi pembelajaran anak usia dini. Studi kasus tematik dianggap paling tepat karena memungkinkan peneliti memahami fenomena dalam konteks yang spesifik, yaitu penggunaan bermain sebagai JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. strategi pembelajaran di satu lembaga dengan karakteristik tertentu. Dengan pendekatan ini, penelitian dapat memberikan gambaran yang utuh dan komprehensif mengenai peran bermain dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis. Pertama, data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan guru, observasi langsung terhadap kegiatan bermain anak, serta pengamatan interaksi antara guru, peserta didik, dan orang tua. Kedua, data sekunder yang meliputi berbagai dokumen pendukung, seperti kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), serta kebijakan sekolah terkait pendidikan anak usia dini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari tiga metode. Pertama, wawancara mendalam dengan guru, kepala sekolah, dan orang tua untuk memperoleh pemahaman mengenai pandangan serta praktik penerapan bermain sebagai strategi Pedoman wawancara mencakup topik terkait jenis permainan yang digunakan, tujuan pembelajaran melalui bermain, serta berbagai kendala dan solusi dalam proses Kedua, observasi langsung yang dilakukan untuk melihat perilaku dan interaksi anak saat kegiatan bermain berlangsung. Lembar observasi mencakup indikator seperti jenis permainan yang dilakukan, interaksi sosial antar anak, peran guru dalam memfasilitasi kegiatan, serta tingkat keterlibatan anak pada setiap aktivitas bermain. Ketiga, dokumentasi dalam bentuk RPP, catatan harian guru, dan hasil evaluasi perkembangan anak yang digunakan sebagai data pendukung dari hasil wawancara dan observasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis tematik. Proses ini mencakup empat tahap, yaitu: . Pengumpulan data, yaitu mengumpulkan serta mentranskripsi hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pemberian kode, yakni mengategorikan setiap informasi yang berkaitan dengan peran bermain dalam pembelajaran dan memberikan . Identifikasi tema, yaitu menganalisis hasil koding untuk menemukan pola atau tema yang menggambarkan pengaruh bermain terhadap perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan motorik anak. Interpretasi, yaitu menafsirkan tema-tema tersebut untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai peran bermain di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik dan dampaknya terhadap perkembangan anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian mengenai peran bermain dalam mengoptimalkan pembelajaran anak usia dini di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik menunjukkan dampak yang sangat positif dan signifikan terhadap perkembangan anak. Pendekatan bermain terbukti menjadi metode pembelajaran yang efektif karena mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik bagi anak. Bermain tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media belajar yang menyeluruh. Pada aspek sosial, anak-anak yang terlibat dalam berbagai kegiatan bermain memperlihatkan peningkatan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dengan teman sebaya. Mereka belajar berbagi, menunggu giliran, serta memahami peran sosial melalui permainan kelompok. Sementara itu, pada aspek motorik, permainan yang melibatkan gerakan fisik membantu anak mengembangkan keterampilan motorik halus maupun kasar, yang sangat penting bagi pertumbuhan fisik mereka. JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Pada aspek kognitif, kegiatan bermain mampu menstimulasi imajinasi dan kreativitas Melalui berbagai permainan edukatif, mereka belajar memecahkan masalah, berpikir secara kritis, serta mengambil keputusan. Melalui kegiatan bermain, anak juga dapat mempelajari konsep-konsep dasar seperti angka, huruf, warna, dan bentuk dengan cara yang lebih menyenangkan dan tidak menjemukan. Dari aspek emosional, bermain membantu anak mengelola perasaan, belajar menghadapi kegagalan, serta menikmati keberhasilan. Anak menjadi lebih percaya diri dan mandiri dalam proses belajarnya. Penerapan metode bermain turut menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan kreatif sehingga sangat efektif untuk mendukung perkembangan anak secara Anak-anak tampak lebih bersemangat dan termotivasi untuk belajar, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan hasil belajar mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan metode bermain dalam kurikulum PAUD memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan anak secara holistik. Para guru di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik menyampaikan bahwa bermain tidak sekedar aktivitas yang menyenangkan, melainkan strategi pembelajaran yang sangat Mereka memandang bermain sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan sosial, kreativitas, serta keterampilan memecahkan masalah pada anak. Para guru menjelaskan bahwa mereka memanfaatkan berbagai bentuk permainanAimulai dari permainan fisik, imajinatif, manipulatif, hingga bermain peranAiguna mencapai tujuan pembelajaran yang telah Selain itu, guru juga menekankan pentingnya memfasilitasi dan mengarahkan kegiatan bermain agar tetap selaras dengan tujuan pembelajaran. Sementara itu. Kepala Sekolah menegaskan bahwa belajar sambil bermain merupakan kunci utama dalam membangun dasar pendidikan yang kuat bagi anak usia dini. Ia meyakini bahwa kegiatan bermain mampu mengembangkan kreativitas, kemandirian, serta kemampuan sosial anak secara optimal. Terkait jenis permainan yang digunakan, guru-guru di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik memanfaatkan beragam aktivitas bermain, seperti bermain balok, permainan peran sesuai topik kegiatan, serta permainan sensorik yang menghadirkan berbagai pengalaman Mereka juga memakai permainan edukatif seperti permainan angka, puzzle, balok susun, dan bak pasir. Berbagai bentuk permainan ini membuat anak-anak merasa senang dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan yang disediakan. Guru mengamati bahwa kegiatan bermain memberikan banyak manfaat bagi anak, terutama dalam mengembangkan keterampilan sosial, motorik, kognitif, dan emosional. Mereka juga menilai bahwa bermain mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif. Selain itu, para orang tua turut memberikan dukungan terhadap penggunaan metode bermain dalam proses pembelajaran anak-anak mereka. Namun, terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya. Guru menyebutkan bahwa keterbatasan waktu dan kesulitan dalam mengelola kelas saat anak-anak bermain menjadi kendala yang sering dihadapi. Sementara itu, kepala sekolah KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik memberikan beberapa saran untuk meningkatkan efektivitas bermain, di antaranya memperbanyak waktu khusus untuk bermain, menyediakan lebih banyak media dan fasilitas pendukung, serta menjalin kerja sama dengan orang tua agar kegiatan bermain juga dapat dilakukan di rumah. JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Penelitian ini menampilkan beberapa tema utama yang berkaitan dengan persepsi mengenai bermain pada anak usia dini serta keterkaitannya dengan temuan dalam jurnal-jurnal Pertama, bermain dipandang sebagai aktivitas yang sangat penting bagi anak karena melalui permainan mereka dapat berinteraksi dengan lingkungan, baik melalui hasil karya maupun aktivitas yang dilakukan. Gross menyatakan bahwa permainan harus dilihat sebagai bentuk latihan berbagai fungsi penting yang akan bermanfaat ketika anak memasuki kehidupan dewasa. Ia juga menegaskan bahwa bermain merupakan kegiatan yang berbeda dari pekerjaan, karena memberikan kesempatan untuk relaksasi dan penyegaran setelah menyelesaikan suatu tugas (Nurhayati et al. , 2. Dalam pendidikan anak usia dini, bermain dianggap sebagai sarana yang sangat efektif. Pemerintah bahkan menganjurkan agar fasilitas PAUD dirancang sedemikian rupa sehingga permainan menjadi bagian penting dari proses Namun, penempatan orang tua, guru, dan anak sebagai subjek pendidikan terkadang dapat menimbulkan kontradiksi dalam pelaksanaannya. (Iskandar, 2. Bermain tidak hanya menjadi kebutuhan dasar bagi anak, tetapi juga merupakan bagian dari cara mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Maghfiroh menjelaskan bahwa bermain adalah aktivitas yang menyertai anak sepanjang waktu, sehingga bagi mereka bermain adalah hidup, dan hidup tak lepas dari Di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik, guru menerapkan berbagai jenis permainan dalam kegiatan belajar. Anak-anak diajak bermain balok, melakukan permainan peran sesuai topik kegiatan serta bereksplorasi melalui aktivitas sensorik. Selain itu, permainan edukatif seperti permainan angka, puzzle, balok susun, dan bak pasir juga digunakan. Setiap kegiatan yang dikategorikan sebagai permainan harus menghadirkan unsur kesenangan dan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak. (Laila, 2. Dalam konteks pembelajaran anak usia dini. Moeslichatoen . 4: . menyatakan bahwa perilaku bermain dimotivasi dari dalam diri anak . otivasi intrinsi. Perilaku ini muncul murni dari aktivitas yang dilakukan, bukan karena tekanan sosial atau kebutuhan fisik. Jika sebuah kegiatan dirasa menyenangkan, anak akan melakukannya dengan sukarela tanpa harus mengikuti aturan atau instruksi yang ketat. Anak lebih fokus pada proses dan pengalaman yang mereka alami dibandingkan pada hasil Fleksibilitas dalam kegiatan bermain juga memegang peranan penting, baik dalam situasi formal maupun dalam interaksi antar individu, serta dapat disesuaikan dengan berbagai (Nurdiani, 2. Dalam penelitian ini, pembahasan tidak hanya berfokus pada definisi teori atau konsep, tetapi juga menonjolkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti. Temuan tersebut menunjukkan sejumlah tema penting yang kemudian dianalisis dengan mengacu pada jurnal-jurnal relevan. Bermain dalam konteks pendidikan anak usia dini dipandang sebagai proses belajar yang menyenangkan dan bermakna, dimana anak dapat mengeksplorasi lingkungan sekitar, mengembangkan kreativitas, membangun interaksi sosial, serta memahami diri dan dunia di sekelilingnya. Melalui bermain, anak belajar dari pengalaman, mengasah berbagai keterampilan, dan menikmati proses pembelajaran, sehingga mendukung perkembangan mereka secara holistik sebagaimana disampaikan oleh Kepala Sekolah KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Anak Usia Dini merupakan Masa Peka yang Berharga Masa anak usia dini merupakan tahap perkembangan yang sangat krusial dalam perjalanan hidup seorang anak. Pada tahap ini, anak-anak menjalani perkembangan yang cepat, mencakup aspek fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Usia dini, yang biasanya mencakup rentang usia 0-6 tahun, dikenal sebagai masa peka atau masa sensitif karena pada saat inilah anak-anak paling reseptif terhadap berbagai rangsangan dari lingkungan sekitar mereka. Pada periode ini, kemampuan kognitif anak tumbuh dengan pesat. Mereka mulai mengenal berbagai konsep dasar, seperti angka dan huruf dan keterampilan berpikir kritis mulai muncul. Perkembangan bahasa anak juga meningkat dengan cepat, ditandai dengan kemampuan mereka mengenal dan menggunakan kosakata yang semakin beragam. Hubungan dengan orang dewasa maupun teman sebaya berperan besar dalam mendukung kemajuan ini. Karena itu, lingkungan yang menyediakan beragam stimulasi intelektualAiseperti kegiatan membaca bersama dan permainan edukatifAimenjadi sangat penting. Di samping itu, aspek sosial dan emosional juga memegang peranan penting dalam tahap perkembangan anak usia dini. Pada masa ini, anak mulai mempelajari cara mengenali serta mengendalikan emosinya, sekaligus mengembangkan kemampuan sosial dasar seperti berbagi, bergantian, dan bekerja Ikatan yang hangat dan penuh perhatian dengan orang tua, pengasuh, maupun teman sebaya turut membantu membentuk kepercayaan diri dan kemandirian mereka. Melalui kegiatan bermain dan interaksi sosial, anak belajar memahami emosi diri dan orang lain, yang kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan sosial dan emosional yang sehat di masa Masa anak usia dini merupakan periode yang sangat penting untuk mendukung dan membentuk karakter serta kemampuan anak secara utuh. Ini menegaskan bahwa pendidikan pada tahap ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan sosial, emosional, dan kreativitas. Usia dini adalah rentang usia yang sangat bernilai karena perkembangan kecerdasan anak berlangsung secara luar biasa. Fase ini menjadi tahap kehidupan yang khas, di mana anak mengalami perubahan signifikan berupa pertumbuhan, perkembangan, pematangan, dan penyempurnaan baik jasmani maupun rohani secara bertahap dan berkelanjutan. Masa ini sering disebut sebagai masa emas, karena hampir semua potensi anak berada dalam periode sensitif yang memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat dan mengesankan (Rakhma Ardhiani & Darsinah, 2. Jenis-Jenis Permainan yang dapat diterapkan pada anak usia dini dalam proses Permainan Angka Edukatif berupa aktivitas meronce merupakan salah satu kegiatan yang mendukung kemampuan pada anak. Alat permainan yang disiapkan guru dibuat dari bahanbahan yang aman digunakan oleh anak. Bahan yang diperlukan meliputi gambar angka, tali dan manik-manik. Puzzle sebagai alat permainan edukatif adalah jenis permainan yang menuntut kesabaran dan ketelatenan anak untuk menyusun potongan-potongan agar membentuk gambar yang tepat (Suarti, 2. Permainan balok membantu anak menuangkan imajinasi abstraknya ke dalam bentuk nyata, meningkatkan kemampuan kognitif, serta memperkenalkan berbagai konsep penting dalam pemecahan masalah, matematika, dan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. geometri (AISYAH, 2. Bak pasir atau sandbox memberikan manfaat dalam merangsang imajinasi dan kreativitas anak. Selain itu, aktivitas ini juga membantu mengembangkan keterampilan motorik serta kemampuan anak dalam merespons lingkungan sekitarnya (Ajie et , 2. Pemilihan dan penerapan permainan perlu diperhatikan dengan cermat, baik dari segi kualitas maupun manfaatnya. Saat memilih permainan untuk kegiatan belajar, penting memastikan bahwa anak dapat menikmati proses bermain sekaligus memperoleh pembelajaran secara optimal. Penggunaan permainan edukatif tidak hanya mengenalkan anak pada lingkungan sekitar, tetapi juga mendorong perkembangan kreativitas mereka. Masa kanakkanak merupakan periode penuh permainan, tempat anak bebas berekspresi dan memperoleh berbagai pengalaman belajar. Penerapan Strategi Berbasis Pemainan di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik Di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik, permainan bukan hanya aktivitas pelengkap, melainkan menjadi dasar dalam proses pembelajaran anak usia dini. Di tempat ini, anak-anak belajar melalui kegiatan bermain yang dirancang untuk mendukung seluruh aspek perkembangan mereka. Setiap hari dimulai dengan suasana yang penuh keceriaan, saat anak bebas mengeksplorasi berbagai jenis permainan yang telah disediakan. Mereka dapat menyusun balok, bermain peran sesuai topik kegiatan, atau merasakan berbagai pengalaman melalui permainan sensorik. Setiap aktivitas bermain tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki tujuan edukatif yang terarah," jelas salah satu guru KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. Para guru di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik, tidak hanya mendampingi anak saat bermain, tetapi juga memantau perkembangan mereka secara teliti. Mereka memastikan setiap anak memperoleh dukungan yang dibutuhkan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari pengamatan saya, anak-anak tampak sangat mudah menerima arahan dari guru tanpa menunjukkan banyak penolakan. Pendekatan ini tidak sekedar bertujuan membuat anak merasa gembira, tetapi juga membekali mereka dengan fondasi yang kokoh untuk proses belajar sepanjang hayat. Cara ini efektif sekaligus menyenangkan dalam menyiapkan anak menghadapi masa depan dengan rasa percaya diri serta kemampuan yang baik. (Rakhma Ardhiani & Darsinah, 2. Salah satu cara untuk mendukung perkembangan bahasa anak usia dini adalah melalui penggunaan strategi pembelajaran yang menarik oleh guru, sehingga proses belajar terasa seperti bermain (Ismawati et al. , 2. Memotivasi anak untuk berkreasi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran yang menjadi tanggung jawab guru. Peran guru adalah mendorong anak agar mampu mencapai tujuan belajarnya, yaitu menghasilkan karya sesuai dengan kemampuan kreatif yang dimiliki (Rahmawati & Rachman, 2. Mengembangkan kreativitas anak dengan maksimal merupakan bagian dari proses Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan ide yang berbeda dan asli. Ide-ide tersebut memerlukan waktu dan latihan agar dapat menghadirkan suasana belajar yang baru, tidak membosankan, dan lebih menarik bagi anak usia dini (Mubarak et al. , 2. Strategi dalam merangsang perkembangan motorik kasar anak usia dini terbukti efektif dan mampu JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. menarik minat anak. Upaya mendorong perkembangan motorik kasar pada masa ini berpengaruh terhadap perkembangan anak di masa depan. Oleh karena itu, perkembangan anak usia dini memiliki urgensi yang sangat penting (Anggraeni &NaAoimah, 2. Menggabungkan Belajar dan Bermain Di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik, pendekatan pembelajaran yang mengedepankan keseimbangan antara belajar dan bermain menjadi prioritas utama. Kepala Sekolah dengan penuh semangat menyatakan bahwa mereka meyakini Aubelajar sambil bermain merupakan kunci utama untuk membangun fondasi pendidikan yang solid bagi anak usia diniAy. Komitmen mereka dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan memungkinkan anak-anak untuk mengeksplorasi dan belajar secara alami melalui beragam kegiatan bermain. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memastikan pengembangan kreativitas, kemandirian, serta keterampilan sosial anak berlangsung secara Oleh karena itu. KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik memadukan kegiatan belajar dan bermain tidak hanya sebagai strategi pembelajaran, melainkan sebagai bagian penting dari pengalaman belajar yang menyeluruh dan menyenangkan bagi setiap anak. Tidak hanya menitikberatkan pada capaian akademik. KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik juga membekali anak-anak dalam menghadapi tantangan di masa depan melalui pengembangan kemandirian dan keterampilan sosial. Hal ini mencerminkan komitmen terhadap pendidikan yang bersifat holistik, mencakup seluruh aspek perkembangan anak. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, pengintegrasian konsep belajar dan bermain sebagai bagian penting dari proses pembelajaran menunjukkan visi progresif KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik dalam membentuk generasi yang seimbang, kreatif, dan adaptif. Pembelajaran yang paling efektif bagi anak usia dini berlangsung melalui kegiatankegiatan konkret dengan pendekatan yang menyenangkan, salah satunya melalui bermain. Melalui permainan yang kreatif, anak-anak dapat mengembangkan dan memadukan berbagai keterampilan yang dimilikinya. Anak belajar lebih banyak ketika mereka bermain serta mengeksplorasi objek dan pengalaman di sekitarnya, karena pengetahuan diperoleh melalui interaksi sosial dengan orang dewasa. Ketika pemahaman tersebut terjadi melalui bahasa dan gerakan, perkembangan kognitif anak menuju kemampuan berpikir verbal pun semakin optimal (Bobik et al. , 2. Menyiapkan Lingkungan Belajar yang Mendukung Dalam upaya mengoptimalkan pengalaman belajar anak. KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik memberikan perhatian besar terhadap penataan dan kesiapan lingkungan Kepala sekolah menjelaskan bahwa tempat dan suasana dibangun sedemikian rupa agar mendukung anak dalam melakukan kegiatan bermain sambil belajar. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya lingkungan dalam menunjang perkembangan anak usia dini. Penataan lingkungan belajar yang optimal mencakup berbagai aspek penting. Perancangan ruang kelas yang terbuka memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk bergerak dan berinteraksi. Hal ini tidak hanya mendukung perkembangan fisik, tetapi juga meningkatkan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. keterampilan sosial serta kerja sama. Selain itu, ketersediaan sarana bermain yang aman menjadi faktor penting agar anak dapat bereksplorasi dan belajar tanpa risiko cedera (Widiastuti, 2. Pemanfaatan bahan dan alat permainan yang menunjang perkembangan kreativitas dan kemampuan motorik anak menjadi faktor yang sangat penting. Media tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga mampu menstimulasi daya cipta, imajinasi, serta keterampilan motorik halus dan kasar. Dengan menghadirkan lingkungan yang kaya akan rangsangan positif. KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik mampu menyediakan dasar yang kuat bagi perkembangan anak secara holistik pada usia dini. Ruang kelas, sebagai lingkungan belajar utama anak, perlu ditata secara optimal agar proses pembelajaran berlangsung efektif, mengingat anak menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kelas (Holis,2. Pengembangan Holistik: Lebih dari Sekadar Akademik Selain menitikberatkan pada pembelajaran akademik. KB Islam Bakti 4 YPBWI Gresik juga memprioritaskan perkembangan sosial dan emosional anak. Nilai-nilai seperti kerja sama, empati, dan kepedulian diintegrasikan ke dalam seluruh kegiatan pembelajaran. "Kami ingin membentuk generasi islami yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar mereka," tegas Kepala Sekolah. Pendekatan ini menunjukkan komitmen dalam membentuk anak-anak yang berkembang secara seimbang dalam berbagai aspek kehidupan. Pengembangan aspek sosial dan emosional memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan anak usia dini. Nilai kerja sama mengajarkan anak untuk bekerja dalam kelompok, berbagi tanggung jawab, dan mencapai tujuan secara bersama-sama. Sementara itu, empati membantu anak dalam memahami serta menghargai perasaan orang lain, yang menjadi landasan terciptanya hubungan sosial yang sehat dan harmonis (Rakhma Ardhiani & Darsinah. Nilai kepedulian membantu anak berperan di tengah masyarakat serta membangun kepribadian yang peduli terhadap orang lain dan sekitarnya. AuDengan mengintegrasikan nilainilai ini dalam kurikulum, anak-anak tidak hanya dididik untuk unggul secara akademik, tetapi juga dibekali keterampilan sosial dan emosional. Pendekatan yang menyeluruh ini membuat anak siap menghadapi tantangan belajar di masa depan dan mampu berperan positif di lingkungan sekitarnya. Ay. Tegas kepala sekolah. Pendidikan holistik semakin mendapat perhatian dalam dunia pendidikan, terutama pada ranah perkembangan anak usia dini. Masa-masa awal kehidupan merupakan periode yang sangat penting untuk membangun dasar perkembangan anak, dan pendekatan holistik memiliki peranan besar dalam meletakkan fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan yang seimbang (Pendidikan et al. , 2. Kolaborasi Antara Sekolah dan Keluarga KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik juga menganggap keluarga memiliki peranan penting dalam pendidikan anak usia dini. Sekolah secara aktif melibatkan para orang tua dalam berbagai kegiatan pembelajaran serta menyediakan wadah komunikasi untuk saling bertukar informasi dan mendukung proses tumbuh kembang anak. AuKami meyakini bahwa kerja sama JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. yang erat antara pihak sekolah dan keluarga merupakan faktor utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyeluruh, nyaman, dan mendukung perkembangan anak,Ay ungkap kepala sekolah dengan penuh semangat. Pendekatan ini menegaskan pentingnya keterpaduan antara lingkungan rumah dan sekolah dalam menunjang perkembangan anak. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kerja sama antara pihak sekolah dan keluarga merupakan kunci utama dalam menciptakan suasana belajar yang menyeluruh dan kondusif bagi anak. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran bersama antara guru dan orang tua dalam mendidik anak agar tumbuh dan berkembang secara maksimal. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka serta dukungan yang berkesinambungan dari kedua belah pihak sangat dibutuhkan untuk memantau sekaligus mendukung perkembangan anak dengan lebih Melibatkan orang tua dalam proses pendidikan memberikan berbagai keuntungan. Pertama, keterlibatan ini menjalin komunikasi yang lebih efektif antara guru dan orang tua sehingga kebutuhan serta perkembangan anak dapat dipantau dan dibantu dengan lebih Kedua, keikutsertaan orang tua dalam kegiatan sekolah menumbuhkan rasa kebersamaan dan memperkuat ikatan komunitas, yang pada akhirnya menciptakan suasana yang lebih positif dan suportif bagi anak. Selain itu, adanya forum berbagi informasi membantu orang tua memperoleh pengetahuan dan strategi baru untuk mendukung perkembangan anak di rumah secara selaras dengan metode yang diterapkan di sekolah (Gustiana & Kristi Pramudika Sari, 2. Dengan melibatkan keluarga secara aktif dalam proses pembelajaran. KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik memastikan bahwa anak-anak memperoleh dukungan yang berkelanjutan dan menyeluruh. Kerja sama ini tidak hanya mempererat hubungan antara pihak sekolah dan keluarga, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi anak-anak mengenai pentingnya kebersamaan, kerja sama, dan saling mendukung dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pendekatan yang inklusif tersebut. KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik berhasil membangun dasar yang kuat bagi tumbuh kembang anak dalam berbagai aspek kehidupan. Literasi sejak usia dini memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari orang tua dan Literasi pada anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif semata, tetapi juga merupakan proses sosio-psiko-linguistik yang kompleks yang memengaruhi aspek sosial dan konteks lingkungan, serta menjadi bagian penting dalam keseluruhan perkembangan anak (Mardliyah et al. , 2. Menghadapi Tantangan dan Peluang di Masa Depan Berbagai tantangan dalam dunia pendidikan tidak dianggap sebagai hambatan oleh KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik, melainkan sebagai kesempatan untuk terus berkembang dan meningkatkan mutu layanan pendidikan. Sekolah ini senantiasa melakukan inovasi dalam metode pembelajaran serta memanfaatkan teknologi dan hasil penelitian terbaru guna menciptakan proses belajar yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak. JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Gambar 3. Bermain dengan boneka tangan dan Bermain peran Bermain dapat merangsang berbagai aspek perkembangan anak, terutama dalam aspek sosial, seperti kemampuan berkomunikasi dengan teman sebaya untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Melalui kegiatan bermain, anak lebih mudah bersosialisasi serta memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi, mengekspresikan diri, berinteraksi, dan belajar dari lingkungan sekitarnya (Rahmadianti, 2. Beberapa indikator menunjukkan bahwa bermain memiliki makna penting bagi anak, di antaranya karena kegiatan bermain mampu mengembangkan keterampilan sosial, emosional, intelektual, dan fisik. Selain itu, bermain juga berfungsi sebagai sarana untuk menyalurkan energi berlebih, menjadi media latihan berbagai keterampilan, serta membantu memperkuat rasa percaya diri dan citra diri anak ( Suryani et al. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bruner dan Donaldson, ditemukan bahwa sejumlah pembelajaran paling penting dalam kehidupan terjadi pada masa anak usia dini, dan sebagian besar proses belajar tersebut didapatkan melalui kegiatan bermain. Bagi anak-anak, bermain merupakan aktivitas yang bersifat serius sekaligus menyenangkan (Ngaisah et al. Rasa senang dalam belajar serta pemberian dorongan yang tepat sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang anak secara optimal, dan hal tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan bermain. (Sulastri, 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain memiliki peran yang sangat penting dalam mengoptimalkan proses belajar anak usia 3Ae4 tahun di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. Pendekatan belajar melalui bermain terbukti mampu mendukung perkembangan anak secara holistik, mencakup aspek kognitif, sosial-emosional, bahasa, dan motorik. Melalui berbagai aktivitas bermain, seperti bermain balok, permainan peran, puzzle, permainan sensorik, dan permainan edukatif angka, anak mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir, keterampilan berkomunikasi, kerja sama, serta pengendalian emosi dan kepercayaan diri. Penerapan metode bermain menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, interaktif, dan tidak menekan, sehingga anak menjadi lebih termotivasi dan antusias dalam mengikuti Keberhasilan strategi ini didukung oleh peran aktif guru dalam memfasilitasi kegiatan bermain, penataan lingkungan belajar yang kondusif, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung proses belajar anak di rumah. Meskipun terdapat kendala, seperti JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. keterbatasan waktu dan tantangan dalam pengelolaan kelas, hal tersebut tidak mengurangi efektivitas pembelajaran berbasis bermain. Sebagai rekomendasi, lembaga PAUD disarankan untuk mengintegrasikan kegiatan bermain ke dalam kurikulum secara lebih terstruktur, memperbanyak variasi media permainan edukatif, serta menyediakan waktu bermain yang lebih optimal. Guru perlu mendapatkan pelatihan khusus mengenai strategi pembelajaran berbasis bermain, dan orang tua diharapkan turut menerapkan aktivitas bermain edukatif di rumah agar terjadi kesinambungan stimulasi perkembangan anak secara menyeluruh. DAFTAR PUSTAKA