JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 FROM LOCAL ASSETS TO GLOBAL VISIBILITY: APPLYING ASSET-BASED COMMUNITY DEVELOPMENT AND INFORMATION TECHNOLOGY IN STRENGTHENING RELIGIOUS TOURISM M Ainul Yaqin1. Dicky Aditya2. Ninda Nur Oktavia3. Daren Ananta4 . Abd Azis5. M Irham Imam Santoso6 Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang. Teknik Informatika. Kota Malang. Indonesia 1yaqinov@ti. uin-malang. id, 2dickyadty2004@gmail. com, 3 nindaoktavia426@gmail. com, 4darenananta9@gmail. 5azisolenk123@gmail. com, 6isntso205@gmail. Abstrak: Objek wisata religi miniatur KaAobah di Desa Campurdarat diposisikan sebagai aset fisik yang bernilai edukatif dan spiritual namun belum terintegrasi secara optimal dalam ekosistem digital. Pendampingan ini bertujuan untuk mengidentifikasi aset wisata religi, menerapkan pendekatan AssetBased Community Development (ABCD) berbasis teknologi informasi, serta menganalisis dampaknya terhadap visibilitas objek wisata. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil kuesioner terhadap 38 responden menunjukkan bahwa 68,42% setuju visibilitas digital berpengaruh langsung terhadap daya tarik wisata religi. Kesimpulannya, pendampingan berbasis komunitas melalui penguatan promosi digital dan literasi teknologi sangat mendesak untuk menjamin keberlanjutan wisata religi secara mandiri. Kata Kunci: ABCD, teknologi informasi, wisata religi, miniatur Ka'bah, visibilitas digital Abstract: Religious tourism of the miniature Ka'bah in Campurdarat Village is an educational and spiritual asset that is not yet optimally integrated into the digital ecosystem. This study aims to identify religious tourism assets, apply the Asset-Based Community Development (ABCD) approach based on information technology, and analyze its impact on tourism visibility. The method used is qualitative through observation, interviews, and documentation. Questionnaire results from 38 respondents showed 42% agreed digital visibility directly affects the attraction of religious tourism. In conclusion, community-based mentoring through strengthening digital promotion and technology literacy is urgent to ensure the sustainability of religious tourism independently. Keywords: ABCD, information technology, religious tourism, miniature Ka'bah, digital visibility Mitra pengabdian adalah pengelola objek wisata religi miniatur KaAobah yang berlokasi di Desa Campurdarat. Kabupaten Tulungagung. Wisata ini berfungsi sebagai sarana edukasi manasik haji dan umrah dengan fasilitas simulasi seperti Maqom Ibrahim dan Terowongan Mina. Mitra melibatkan pemuda desa dan perangkat desa dalam pengelolaannya untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal melalui kunjungan Keywords miniatur Ka'bah, wisata religi, manasik haji. Desa Campurdarat, ekonomi local Submitted: 2026-03-29 Ai Accepted: 2026-04-01 Ai Published: 2026-04-09 Pendahuluan Aset wisata keagamaan lokal memiliki potensi strategis untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang lebih luas apabila dikelola melalui pendekatan berbasis komunitas. Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) menempatkan aset lokalAibaik individu, fisik, sosial, budaya, maupun ekonomiAisebagai fondasi utama dalam proses pemberdayaan dan pembangunan Model ini menekankan partisipasi aktif masyarakat dalam mengidentifikasi, memobilisasi, dan mengelola aset yang dimiliki, sehingga mendorong rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif terhadap pengembangan pariwisata (Jauhari et al. , 2025. Wahyuningsih & Djuwita, 2. Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa penerapan ABCD pada konteks pariwisata berbasis komunitas mampu memperkuat daya tarik destinasi, meningkatkan kohesi sosial, serta menciptakan dampak ekonomi lokal yang lebih inklusif (Campo & De Guzman, 2024. Zakariya & Soim, 2. Perkembangan teknologi informasi membuka peluang baru dalam meningkatkan visibilitas dan daya saing destinasi wisata keagamaan berbasis komunitas. Pemanfaatan media sosial, platform digital, dan sistem informasi pariwisata memungkinkan aset wisata lokal menjangkau audiens yang lebih luas. JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 sekaligus menyediakan sarana edukasi dan interaksi dengan pengunjung secara berkelanjutan(Warnadhani et al. , 2. Peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya pemuda desa, dalam pemasaran digital dan pengelolaan konten menjadi faktor kunci dalam keberhasilan transformasi digital pariwisata lokal. Integrasi teknologi informasi juga berperan dalam pengelolaan pengalaman wisata dan pengumpulan umpan balik pengunjung untuk mendukung perbaikan berkelanjutan (Campo & De Guzman, 2. Tantangan berupa keterbatasan literasi digital dan infrastruktur masih menjadi hambatan utama, sehingga diperlukan strategi pelatihan terarah serta kolaborasi multipihak untuk memastikan pengembangan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan teknologi. Miniatur Ka'bah di Desa Campurdarat. Kabupaten Tulungagung, merupakan objek wisata keagamaan yang memiliki nilai pendidikan, spiritual, dan sosial yang signifikan. Fasilitas ini dirancang untuk merepresentasikan kondisi Tanah Suci Mekah secara simbolik dan digunakan sebagai sarana edukasi praktik manasik haji dan umrah, terutama bagi anak-anak dan calon jamaah haji. Pengunjung memperoleh pengalaman pembelajaran kontekstual mengenai rangkaian ibadah dan makna situs-situs penting dalam Islam, seperti Maqom Ibrahim. Terowongan Mina, dan sumur Zamzam, melalui simulasi langsung di lokasi wisata (Hamidah et al. , 2. Peran miniatur Ka'bah juga meluas sebagai ruang refleksi spiritual yang mendukung pendalaman pemahaman keagamaan, sekaligus berkontribusi terhadap penguatan fungsi sosial-keagamaan di tingkat komunitas lokal (Hamidah et al. , 2. Kontribusi miniatur Ka'bah tidak hanya terbatas pada aspek religius dan edukatif, tetapi juga berdampak pada dinamika sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Keberadaan objek wisata ini berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi lokal melalui kunjungan wisatawan yang mendorong pertumbuhan usaha pendukung, seperti kuliner dan cendera mata, serta memperkuat kohesi sosial melalui keterlibatan pemangku kepentingan lokal dalam pengelolaan destinasi (Hamidah et al. , 2. Kajian terdahulu menunjukkan bahwa keterbatasan literasi digital, minimnya konten promosi, dan rendahnya kehadiran daring menjadi faktor penghambat utama dalam perluasan jangkauan wisata keagamaan berbasis komunitas (Mujanah & Sumiati, 2. Kondisi tersebut menunjukkan urgensi integrasi strategi digital yang terencana melalui pengembangan konten, narasi budaya, dan peningkatan kapasitas masyarakat agar potensi pendidikan, spiritual, dan ekonomi miniatur Ka'bah dapat dimaksimalkan secara berkelanjutan. Tabel 1 Hasil kuisioner persepsi masyarakat terhadap pengembangan objek wisata berbasis komunitas Keterbatasan Keterbatasan literasi digital Jejaring dan Dampak visibilitas digital Urgensi Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Hasil kuesioner yang melibatkan 38 responden menunjukkan adanya persepsi yang konsisten mengenai keterbatasan pengembangan wisata religi berbasis komunitas sebagaimana disajikan pada Tabel Data pada aspek keterbatasan promosi wisata religi memperlihatkan bahwa 47,37% responden menyatakan setuju dan sangat setuju, sementara 44,74% berada pada posisi netral. Temuan ini mengindikasikan bahwa promosi wisata religi masih dirasakan belum optimal dan belum sepenuhnya menjangkau audiens yang lebih luas. Persepsi serupa terlihat pada aspek literasi digital masyarakat pengelola, di mana 52,63% responden menyatakan setuju dan sangat setuju terhadap pernyataan adanya JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 keterbatasan literasi digital, sedangkan 42,11% bersikap netral. Kondisi ini mencerminkan bahwa kemampuan pengelola dalam memanfaatkan teknologi digital belum kuat, sekaligus menunjukkan adanya kesadaran awal masyarakat terhadap pentingnya penguatan kapasitas digital sebagai prasyarat pengembangan wisata. Temuan yang lebih tegas terlihat pada aspek jejaring dan kolaborasi eksternal serta dampak visibilitas digital terhadap fungsi wisata. Persepsi responden pada dimensi jejaring menunjukkan dominasi jawaban setuju dan sangat setuju sebesar 55,27%, yang menandakan pengakuan kuat terhadap keterbatasan kerja sama dengan pihak eksternal. Persepsi tentang dampak visibilitas digital menunjukkan tingkat persetujuan yang lebih tinggi, dengan 68,42% responden menyatakan setuju dan sangat setuju bahwa visibilitas digital berpengaruh langsung terhadap fungsi edukatif dan daya tarik wisata religi. Persepsi tersebut berimplikasi langsung pada aspek urgensi dan kebutuhan pengabdian masyarakat, di mana 68,42% responden menyatakan setuju dan sangat setuju terhadap perlunya kegiatan pendampingan berbasis Pola ini menegaskan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat berbasis penguatan promosi digital, literasi teknologi, dan jejaring kolaboratif dipandang relevan dan mendesak sebagai strategi pembangunan wisata religi yang berkelanjutan dan partisipatif. Urgensi kegiatan ini terletak pada kebutuhan akan model pengembangan wisata religi yang mampu menjamin keberlanjutan jangka panjang melalui keterlibatan aktif masyarakat lokal sebagai aktor Ketergantungan pada pendekatan top-down cenderung menghasilkan intervensi yang bersifat sementara, kurang kontekstual, dan tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan serta potensi lokal. Model pengembangan yang partisipatif dan berkelanjutan memungkinkan masyarakat untuk mengidentifikasi, mengelola, dan mengoptimalkan aset wisata religi secara mandiri, sekaligus memperkuat rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif. Pendekatan ini tidak hanya mendukung distribusi manfaat ekonomi dan sosial yang lebih merata, tetapi juga memastikan pelestarian nilai-nilai keagamaan, budaya, dan lingkungan yang menjadi fondasi utama wisata religi berbasis komunitas. Pendampingan ini dirumuskan untuk menjawab permasalahan berikut: Bagaimana kondisi aset fisik, sosial, dan digital pada objek wisata religi berbasis komunitas sebelum intervensi dilakukan? Bagaimana penerapan pendekatan ABCD dan teknologi informasi dapat membentuk ekosistem wisata religi yang terintegrasi? Bagaimana dampak intervensi digital terhadap visibilitas dan nilai tambah objek wisata religi berbasis Pendampingan terdahulu menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata, termasuk dalam konteks pariwisata berbasis masyarakat, masih banyak bergantung pada pendekatan promosi konvensional dan pembangunan infrastruktur fisik. Strategi ini umumnya berfokus pada kampanye pemasaran, iklan, serta peningkatan aksesibilitas destinasi melalui pembangunan jalan, akomodasi, dan fasilitas pendukung lainnya, dengan tujuan utama meningkatkan jumlah kunjungan dan pertumbuhan ekonomi (Kanagalakshmi & Preetha, 2. Pendekatan tersebut kerap mengesampingkan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan, sehingga berpotensi menciptakan kesenjangan antara tujuan pengembangan pariwisata dan kebutuhan komunitas setempat (Febriandhika & Kurniawan, 2. Selain itu, penekanan yang berlebihan pada pembangunan infrastruktur tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan ekologis dapat memicu degradasi lingkungan serta erosi nilai budaya lokal, yang pada akhirnya mengancam keberlanjutan destinasi wisata (Sutama et al. , 2. Sebagai respons terhadap keterbatasan pendekatan konvensional, pariwisata berbasis masyarakat atau Community-Based Tourism (CBT) muncul sebagai alternatif yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan pariwisata. CBT menekankan JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 partisipasi aktif komunitas untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata selaras dengan prioritas lokal, sekaligus mendorong distribusi manfaat ekonomi dan sosial yang lebih adil (Habiba & Lina, 2. Pendekatan ini memanfaatkan pengetahuan, sumber daya, dan nilai-nilai lokal sebagai modal utama, sehingga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelestarian budaya, serta konservasi lingkungan (Sutama et al. , 2. Literatur menunjukkan bahwa integrasi prinsip CBT berpotensi menciptakan praktik pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sekaligus menuntut pergeseran paradigma dari strategi pariwisata yang berorientasi top-down menuju model pengelolaan yang partisipatif dan sensitif terhadap konteks lokal. Literatur tentang ICT for Development (ICT4D) menunjukkan kecenderungan kuat terhadap pendekatan teknosentris yang menempatkan solusi teknologi sebagai fokus utama, sering kali tanpa integrasi yang memadai terhadap konteks sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat lokal. Pendekatan ini berisiko menghasilkan intervensi yang kurang relevan dan sulit berkelanjutan karena tidak terinternalisasi dalam praktik serta struktur sosial komunitas sasaran (Breytenbach et al. , 2. Kurangnya pelibatan pemangku kepentingan lokal dalam perancangan dan pengambilan keputusan proyek ICT4D juga berkontribusi pada rendahnya rasa kepemilikan masyarakat, yang pada akhirnya melemahkan adopsi dan keberlanjutan inisiatif teknologi tersebut (Van Rensburg et al. , 2. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan ICT4D tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh sejauh mana teknologi tersebut selaras dengan dinamika sosial dan kapasitas lokal. Kajian lain menekankan pentingnya kepemilikan masyarakat sebagai faktor kunci dalam keberlanjutan dan dampak jangka panjang proyek ICT4D, termasuk dalam sektor pariwisata. Model-model berbasis komunitas, seperti pendekatan InfopreneursE, menunjukkan bahwa pemberdayaan actor lokal sebagai pengelola dan penyedia layanan berbasis TIK dapat mendorong pembangunan ekonomi sekaligus memperkuat keberlanjutan proyek (Breytenbach et al. , 2013. Van Rensburg et al. , 2. Dalam konteks pariwisata berbasis masyarakat, pemanfaatan TIK terbukti mampu meningkatkan aset mata pencaharian, seperti modal manusia, finansial, dan sosial, asalkan disertai dengan keterlibatan aktif komunitas dalam seluruh tahapan pengembangan (Gan et al. , 2. Literatur juga menegaskan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui TIK memerlukan pendekatan yang seimbang antara inovasi teknologi, kepemilikan masyarakat, dan pertimbangan lingkungan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara inklusif dan berkelanjutan (Ali & Frew, 2. Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) diposisikan dalam literatur sebagai alternatif transformatif terhadap model pembangunan tradisional yang berorientasi pada kebutuhan dan ABCD menekankan identifikasi, penguatan, dan mobilisasi asset lokalAibaik individu, sosial, ekonomi, maupun lingkunganAisebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan. Sejumlah studi menunjukkan efektivitas pendekatan ini dalam berbagai konteks, mulai dari pengelolaan limbah hewan menjadi kompos organik untuk mendukung pertanian perkotaan di Kota Probolinggo (Aji et al. , 2. hingga pemanfaatan jaringan perempuan dan kebun rumah tangga dalam pengembangan Desa Wisata Rempah-rempah di Desa Denai Kuala yang berkontribusi pada ketahanan pangan dan kewirausahaan lokal (Ginting et al. , 2. Pendekatan serupa juga terbukti meningkatkan ketahanan ekonomi komunitas Pulau Untung Jawa selama pandemi COVID-19, menggarisbawahi kapasitas ABCD dalam menghadapi situasi krisis melalui optimalisasi sumber daya internal komunitas (Rialny & Anugrahini, 2. Literatur juga menekankan peran ABCD dalam memfasilitasi kolaborasi sosial dan keberlanjutan partisipatif melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi Kerangka ABCD mendorong terbentuknya kemitraan strategis, seperti yang terlihat pada komunitas Pokdarwis Pilang, di mana kolaborasi dengan pasar lokal berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat (Aji et al. , 2. Dalam konteks pariwisata, pendekatan ini diterapkan JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 untuk mengintegrasikan modal alam sebagai aset utama pengembangan wisata berbasis masyarakat di Filipina, sekaligus mendorong keberlanjutan lingkungan (Campo & De Guzman, 2. Pendekatan ABCD juga digunakan dalam inisiatif pembangunan ruang komunal berbasis partisipasi, seperti proyek Warung Nusa, serta diusulkan sebagai strategi pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan di Mesir dengan fokus pada penguatan kapasitas dan inisiatif lokal (Ginting et al. , 2025. Hessin, 2. Temuan-temuan ini menegaskan bahwa meskipun penerapan ABCD menuntut pergeseran paradigma dari model berbasis kebutuhan menuju pembangunan kapasitas jangka panjang, pendekatan ini menawarkan potensi signifikan dalam menciptakan pemberdayaan dan keberlanjutan yang lebih inklusif. Tujuan kegiatan ini meliputi: Mengidentifikasi dan memetakan aset wisata religi berbasis komunitas. Menerapkan pendekatan ABCD yang terintegrasi dengan teknologi informasi. Menganalisis peran teknologi digital dalam memperkuat ekosistem wisata religi. Menghasilkan model pengembangan wisata religi berbasis komunitas yang replikatif. Metode Pendampingan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengandalkan data yang diperoleh secara langsung dari interaksi lapangan dan proses pendampingan selama program berlangsung sebagimana disajikan pada Gambar 1. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan untuk menangkap kondisi aktual objek wisata, pola aktivitas, serta dinamika partisipasi masyarakat. wawancara semiterstruktur untuk menggali persepsi, pengalaman, dan kebutuhan para pemangku kepentingan. dokumentasi kegiatan untuk merekam tahapan implementasi, bentuk keterlibatan komunitas, serta perubahan yang terjadi. serta artefak digital yang dihasilkan selama program, seperti konten media sosial, materi edukasi, dan platform daring sebagai representasi konkret transformasi digital. Subjek pendampingan mencakup pengelola objek wisata, perangkat desa, pemuda lokal, serta institusi pendukung seperti sekolah dan kelompok bimbingan ibadah, yang dipilih untuk merepresentasikan berbagai peran dalam ekosistem wisata religi. Karakteristik data bersifat kontekstual karena merefleksikan kondisi spesifik lokasi, partisipatif karena dihasilkan melalui keterlibatan aktif masyarakat, serta berorientasi pada proses karena menekankan dinamika perubahan dan pembelajaran yang terjadi sepanjang pelaksanaan Tahap pengenalan dan pemetaan aset komunitas difokuskan pada identifikasi kekuatan internal yang dimiliki oleh masyarakat dan lingkungan sekitar objek wisata religi. Aktivitas pada tahap ini meliputi observasi lapangan, diskusi informal, dan pemetaan partisipatif untuk menginventarisasi aset fisik, sosial, budaya, manusia, serta aset kelembagaan yang relevan dengan pengembangan wisata. Miniatur KaAobah dipetakan tidak hanya sebagai aset fisik, tetapi juga sebagai aset simbolik dan edukatif yang terhubung dengan praktik keagamaan, jaringan sosial, serta peran masyarakat pengelola. Tahap ini bertujuan membangun kesadaran kolektif bahwa komunitas telah memiliki modal awal yang dapat dikembangkan tanpa bergantung pada intervensi eksternal. Tahap perencanaan partisipatif berbasis aset dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan lokal dalam merumuskan arah dan strategi pengembangan wisata religi. Proses ini mencakup forum diskusi kelompok, lokakarya sederhana, dan musyawarah komunitas untuk menyepakati prioritas kegiatan, pembagian peran, serta bentuk pemanfaatan aset yang telah diidentifikasi. Perencanaan tidak berangkat dari masalah atau kekurangan, melainkan dari potensi yang dapat dioptimalkan melalui kolaborasi. Hasil tahap ini berupa rencana aksi bersama yang realistis, kontekstual, dan disepakati oleh komunitas sebagai dasar pelaksanaan kegiatan selanjutnya. JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 Tahap implementasi teknologi informasi untuk promosi dan edukasi wisata religi berfokus pada penerjemahan aset lokal ke dalam bentuk digital yang mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat luas. Aktivitas pada tahap ini meliputi pembuatan dan pengelolaan media sosial, pengembangan konten edukatif tentang manasik haji dan umrah, pendaftaran lokasi wisata pada platform peta digital, serta pemanfaatan QR Code sebagai media informasi di lokasi wisata. Implementasi teknologi dirancang secara sederhana dan aplikatif agar sesuai dengan kapasitas komunitas, serta diarahkan untuk memperkuat fungsi promosi dan edukasi tanpa menghilangkan karakter lokal objek wisata. Tahap pendampingan dan penguatan kapasitas komunitas lokal bertujuan memastikan bahwa teknologi dan strategi yang diterapkan dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Kegiatan pada tahap ini mencakup pelatihan literasi digital, pendampingan pengelolaan konten, simulasi penggunaan platform digital, serta penguatan peran pemuda desa sebagai penggerak promosi wisata. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan selama program berlangsung untuk membangun kepercayaan diri, meningkatkan keterampilan praktis, dan menumbuhkan rasa kepemilikan komunitas terhadap inisiatif yang dijalankan. Tahap evaluasi dan serah terima keberlanjutan program diarahkan pada refleksi bersama terhadap proses, capaian, dan pembelajaran yang diperoleh selama kegiatan pendampingan. Evaluasi dilakukan melalui diskusi partisipatif dengan komunitas untuk menilai efektivitas strategi, tingkat keterlibatan masyarakat, serta kebermanfaatan teknologi yang diimplementasikan. Tahap ini juga mencakup penyusunan kesepakatan keberlanjutan, penyerahan akun dan aset digital kepada pengelola lokal, serta penguatan komitmen komunitas untuk melanjutkan pengelolaan wisata secara mandiri. Rangkaian tahapan tersebut dirancang untuk memastikan bahwa komunitas tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi berperan sebagai aktor utama dalam membangun ekosistem wisata religi yang berkelanjutan. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif yang berfokus pada pemaknaan mendalam terhadap proses dan dinamika pengembangan wisata religi berbasis komunitas. Tahap reduksi data dilakukan dengan menyeleksi, mengelompokkan, dan mengodekan data hasil observasi, wawancara, dokumentasi, serta artefak digital sesuai dengan kategori tematik, seperti jenis aset, bentuk partisipasi masyarakat, dan pemanfaatan teknologi informasi. Tahap penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi analitis, tabel, dan matriks tematik untuk memperjelas pola hubungan antar kategori Penarikan kesimpulan dilakukan secara iteratif dengan mengaitkan temuan lapangan terhadap kerangka konseptual ABCD dan ICT4D. Teknik triangulasi sumber diterapkan dengan membandingkan informasi dari berbagai aktor, sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan mencocokkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk meningkatkan kredibilitas temuan. Analisis secara khusus diarahkan untuk mengkaji keterkaitan antara aset fisik wisata, aset sosial komunitas, dan infrastruktur digital dalam membentuk nilai tambah edukatif, sosial, dan ekonomi wisata religi. JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 Gambar 1 Metodologi pendampingan wisata religi berbasis komunitas Hasil dan Pembahasan Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya identitas digital objek wisata religi, peningkatan visibilitas melalui platform digital, serta meningkatnya keterlibatan komunitas dalam pengelolaan dan Produk kegiatan meliputi peta aset komunitas, akun media sosial aktif, lokasi terverifikasi pada platform peta digital, konten edukasi manasik, dan sistem informasi sederhana berbasis QR Code sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Hasil pemetaan aset yang dimiliki oleh komunitas Jenis Aset Fisik Fisik Nama Aset Lahan Miniatur KaAobah Masjid / Mushola Sekitar Manusia Kepala Desa Deskripsi Potensi untuk Wisata Religi Lahan desa yang digunakan sebagai lokasi pembangunan miniatur KaAobah dan area manasik Sarana ibadah masyarakat yang berada di sekitar lokasi miniatur KaAobah Penanggung jawab utama program pembangunan miniatur KaAobah Lokasi utama wisata religi dan pusat edukasi manasik haji dan Pendukung pengajian, dan kunjungan manasik Pembina program dan penentu kebijakan pengembangan wisata Pendukung kebijakan, anggaran, dan keberlanjutan program Sasaran utama kunjungan edukasi manasik haji dan umrah Institusi Pemerintah Desa Lembaga pemerintahan desa Campurdarat Institusi Sekolah /Madrasah Lembaga pendidikan formal dan / TPQ Peta aset objek wisata religi miniatur Ka'bah di Desa Campurdarat. Kabupaten Tulungagung, menunjukkan keberadaan aset yang saling melengkapi dalam mendukung pengembangan wisata berbasis komunitas. Aset fisik berupa lahan desa yang dimanfaatkan sebagai lokasi miniatur Ka'bah berfungsi sebagai pusat utama kegiatan wisata religi sekaligus sarana edukasi praktik manasik haji dan umrah, yang diperkuat oleh keberadaan masjid atau mushola di sekitar lokasi sebagai pendukung aktivitas ibadah dan pembelajaran Aset manusia direpresentasikan oleh peran kepala desa sebagai penanggung jawab dan JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 pembina program, yang memiliki otoritas strategis dalam pengambilan kebijakan pengembangan wisata Replika Ka'bah sebagai aset fisik utama wisata religi tersebut ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2 Replika Ka'bah sebagai aset fisik utama wisata religi di Desa Campurdarat. Kabupaten Tulungagung Aset institusional meliputi Pemerintah Desa Campurdarat sebagai pendukung regulasi, anggaran, dan keberlanjutan program, serta lembaga pendidikan formal dan nonformal seperti sekolah, madrasah, dan TPQ yang berperan sebagai sasaran utama sekaligus mitra potensial dalam pemanfaatan miniatur Ka'bah sebagai media edukasi keagamaan. Kombinasi aset fisik, manusia, dan institusional ini membentuk fondasi awal yang kuat bagi pengembangan ekosistem wisata religi berbasis aset dan partisipasi masyarakat. JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 Gambar 3 Screencshoot tampilan web replika ka'bah Selain pemetaan aset, hasil konkret dari kegiatan pendampingan ini berupa pengembangan infrastruktur digital yang mendukung promosi dan fungsi edukatif objek wisata religi. Infrastruktur tersebut mencakup pembuatan akun media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana promosi visual dan komunikasi dengan calon pengunjung, serta pengembangan website resmi yang berfungsi sebagai pusat informasi terpadu. Konten website disusun secara tematik dan kontekstual, meliputi profil objek wisata religi miniatur KaAobah, materi edukasi manasik haji dan umrah yang dapat diakses oleh masyarakat dan lembaga pendidikan, jadwal kegiatan keagamaan dan edukasi, serta informasi pendukung lainnya. Kehadiran media digital ini memperluas visibilitas objek wisata, memperkuat fungsi edukatif, dan menjadi fondasi awal pengelolaan promosi wisata religi berbasis komunitas secara berkelanjutan. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa integrasi pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dengan pemanfaatan teknologi informasi mampu memperkuat keterkaitan antara aset fisik dan aset sosial melalui infrastruktur digital yang dikembangkan. Miniatur KaAobah sebagai aset fisik tidak lagi berfungsi secara terbatas sebagai ruang praktik manasik, tetapi diperluas maknanya melalui website dan konten digital yang merepresentasikan nilai edukatif, spiritual, dan sosial yang melekat pada objek wisata tersebut. Infrastruktur digital berperan sebagai penghubung yang memfasilitasi interaksi antara pengelola, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pengunjung, sekaligus mengaktivasi peran aset sosial seperti pemuda dan institusi lokal dalam produksi dan pengelolaan konten. Integrasi ini menunjukkan bahwa teknologi informasi tidak berdiri sebagai solusi teknosentris, melainkan sebagai medium yang memperkuat relasi antar aset komunitas dan mendukung pembentukan nilai tambah wisata religi secara berkelanjutan. Teknologi dalam kegiatan ini berfungsi sebagai penghubung yang memperluas jangkauan nilainilai lokal tanpa menggeser kontrol dari tangan komunitas. Website dan media sosial sebagaimana disajikan pada Gambar 3 dimanfaatkan sebagai sarana untuk menampilkan aset fisik dan sosial yang dimiliki masyarakat, sekaligus menyampaikan narasi lokal tentang fungsi edukatif dan spiritual wisata religi kepada audiens yang lebih luas. Keterlibatan kepala desa beserta jajarannya sebagai institusi pemerintah, bersama dengan institusi pendidikan dan kelompok keagamaan, memperkuat ekosistem wisata religi melalui kolaborasi yang saling JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 Peran pemerintah desa memberikan legitimasi kelembagaan, dukungan kebijakan, serta jaminan keberlanjutan program, sementara institusi pendidikan berkontribusi dalam pemanfaatan objek wisata sebagai media pembelajaran manasik dan pendidikan keagamaan. Kelompok keagamaan berperan dalam menjaga nilai-nilai spiritual, autentisitas praktik ibadah, dan relevansi kegiatan dengan kebutuhan Sinergi antarlembaga ini menciptakan ekosistem wisata religi yang terintegrasi, di mana pengembangan tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisata, tetapi juga pada fungsi edukatif, sosial, dan spiritual yang berkelanjutan serta berbasis pada kepemilikan komunitas. Keterbatasan visibilitas wisata religi berbasis komunitas dapat diatasi melalui pemetaan aset yang komprehensif dan pemanfaatan teknologi digital secara partisipatif. Pemetaan aset memungkinkan komunitas mengenali dan mengartikulasikan kekuatan yang dimiliki, baik berupa aset fisik, sosial, manusia, maupun institusional, sebagai dasar pengembangan narasi dan identitas wisata yang autentik. Teknologi digital kemudian berperan sebagai media untuk menerjemahkan aset tersebut ke dalam bentuk informasi, konten edukatif, dan promosi yang dapat diakses secara luas tanpa menghilangkan kontrol Pendekatan partisipatif dalam pengelolaan teknologi memastikan bahwa proses digitalisasi tidak bersifat top-down, melainkan mendukung keterlibatan aktif masyarakat dalam membangun visibilitas wisata religi yang kontekstual, berkelanjutan, dan selaras dengan nilai-nilai lokal. Penerapan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) terbukti efektif dalam membangun rasa kepemilikan dan keberlanjutan program karena menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam seluruh proses pengembangan. Fokus pada identifikasi dan penguatan aset lokal mendorong komunitas untuk mengenali potensi yang telah dimiliki dan berperan aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi kegiatan. Keterlibatan langsung ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap program dan hasil yang dicapai, sehingga inisiatif yang dikembangkan tidak dipersepsikan sebagai intervensi eksternal. Pendekatan ABCD juga memperkuat kapasitas dan kemandirian komunitas, yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan program dalam jangka panjang. Ekosistem wisata religi yang terbentuk menunjukkan peningkatan fungsi edukatif, sosial, dan promosi secara simultan melalui keterpaduan antara aktivitas komunitas, pemanfaatan aset lokal, dan dukungan teknologi digital. Fungsi edukatif diperkuat melalui penyediaan konten manasik dan kegiatan pembelajaran terstruktur yang melibatkan lembaga pendidikan dan kelompok keagamaan. Fungsi sosial berkembang seiring meningkatnya interaksi dan kolaborasi antara pengelola wisata, masyarakat desa, serta institusi pendukung dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Fungsi promosi mengalami penguatan melalui kehadiran media digital yang mampu meningkatkan visibilitas objek wisata secara lebih luas, sehingga nilai edukasi dan sosial yang ada dapat diakses oleh khalayak yang lebih beragam dan Kesimpulan Kondisi awal menunjukkan bahwa miniatur Ka'bah sebagai aset fisik telah dimanfaatkan untuk praktik manasik, tetapi fungsinya masih terbatas pada aktivitas lokal dan belum didukung oleh narasi edukatif maupun promosi yang luas. Aset sosial seperti pengelola, pemuda, institusi pendidikan, dan kelompok keagamaan telah ada, namun kolaborasinya belum terstruktur dalam satu ekosistem wisata yang terintegrasi, sementara aset digital juga masih terbatas karena belum tersedia platform resmi yang mendukung visibilitas daring. Penerapan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang dipadukan dengan teknologi informasi kemudian mampu mengidentifikasi dan menguatkan aset komunitas secara partisipatif serta menghadirkan infrastruktur digital berupa website dan media sosial yang menghubungkan aset fisik dan sosial. Intervensi ini meningkatkan visibilitas wisata melalui konten edukatif, profil objek wisata, dan informasi kegiatan yang dapat diakses secara luas, sekaligus menghasilkan nilai tambah pada aspek edukatif, sosial, dan promosi. Pemanfaatan teknologi tetap berada di bawah kendali komunitas sehingga memperkuat rasa kepemilikan, kemandirian pengelola, dan keberlanjutan pengembangan wisata religi berbasis komunitas. JPMTT (Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Terbaruka. Volume: 06. Nomor:01. Tahun: 2026. halaman: 55-66 E-ISSN : 2776-2858 | P-ISSN : 2797-3158 Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang atas dukungan institusional dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini. Apresiasi tinggi kami sampaikan kepada Pemerintah Desa Campurdarat, khususnya Kepala Desa, yang telah memberikan izin, dukungan kebijakan, serta fasilitas lahan bagi pengembangan miniatur KaAobah. Terima kasih juga kami tujukan kepada pengelola objek wisata religi miniatur KaAobah dan pemuda desa yang telah berkolaborasi aktif dalam transformasi digital ini. Terakhir, dukungan dari lembaga pendidikan (Sekolah. Madrasah, dan TPQ) di lingkungan Desa Campurdarat sangat berperan dalam mengoptimalkan fungsi edukatif dari aset yang ada. Referensi