Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index PENGNYULUHAN BAHAN BAKU TEKS GENRE SASTRA BERBAHASA SASAK DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR MUATAN LOKAL BAHASA SASAK PADA KELOMPOK MGMP SMP/MTs. SE-KECAMATAN SELONG Khairul Paridi*. I Nyoman Sudika. Syahbuddin. Murahim. Ratna Yulida Ashriany FKIP Universitas Mataram Jalan Majapahit Nomor 62 Mataram Korespondensi: Khairul_paridi@unram. Artikel history : Received Revised Published : 11 Januari 2023 : 19 Februari 2023 : 29 April 2023 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Bahan ajar tentang sastra dalam Kurikulum 2013 mestinya berbasis pada pembelajaran tentang teks tetapi setelah dicermati pembahasan materi dalam kurikulum dan buku-buku pelajaran bahasa Sasak pada pendidikan dasar dan menengah lebih ditekankankan pada nilai keindahan dan nilai karakternya saja. Selain itu, penyediaan materi ajar tentang teks genre sastra masih terbatas, akibatnya pembelajaran tentang teks sastra kurang mendapat perhatian yang memadai. Berdasarkan masalah tersebut, tulisan ini bertujuan membahas teks genre cerita rakyat Sasak dari segi struktur teks, piranti kebahasaan dan lainnya. Pembelajaran yang berbasis pada teks sastra ini menunjang keterampilan berbahasa dan dapat membantu anak memahami nilai dan keindahan sastra Sasak. Hasil analisis ini diharapkan dapat membantu para guru untuk menyiapkan bahan ajar materi muatan lokal bahasa Sasak. Kata kunci: Bahan baku. Teks genre sastra. Materi ajar. Muatan lokal, bahasa Sasak PENDAHULUAN Muatan lokal bahasa Sasak sudah dibelajarkan sejak diberlakukannya Kurikulum 1994, namun bahan ajar seperti buku-buku yang digunakan belum dapat menyajikan ragam dialek yang baku . Dengan belum tersedianya bahan ajar yang baku menyebabkan guru kesulitan memilih bahan ajar yang digunakan. Lebih-lebih lagi, sejak diberlakukannya Kurikulum 2013, porsi pembelajaran muatan lokal bahasa Sasak hampir hilang. Walaupun ada sebagian kecil sekolah membelajarkan muatan lokal bahasa Sasak dengan K-13 tetapi materinya masih berpusat pada tata bahasa. Akibatnya, pembelajaran muatan lokal Bahasa Sasak didominasi materi tatabahasa. Dengan demikian, pembelajaran muatan lokal kehilangan arah. Dengan adanya Peraturan Pemerintah Daerah memastikan bahwa pembelajaran muatan lokal di sekolah adalah pembelajaran bahasa daerah. Dengan demikian pembelajaran muatan lokal bahasa daerah harus mengikuti K-13 yang berbasis pada teks. Dengan begitu, pembelajaran teks genre sastra menjadi salah satu bagian yang sangat urgen dalam pembelajaran muatan lokal bahasa Sasak. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Berdasarkan uraian latar belakang di atas, artikel ini mengkaji tentang bagaiman teks genre sastra fiksi dilihat dari struktur dan piranti kebahasaan teks. Hasil kajian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi para guru dalam menyiapkan bahan baku materi pembelajaran muatan lokal bahasa Sasak. Perwujudan bahasa itu adalah teks . (Hoed, 1994: . Menurut Halliday dan Hasan . meskipun teks tampak seakan-akan terdri atas kata-kata dan kalimat tetapi sesungguhnya teks itu terdiri atas makna-makna. Teks pada dasarnya adalah satuan makna. Karena sifatnya sebagai satuan makna, teks harus dilihat dari dua sudut secara bersamaan, baik sebagai produk maupun sebagai proses. Teks merupakan produk dalam arti bahwa teks itu merupakan luaran . sesuatu yang dapat direkam dan dipelajari karena mempunyai susunan tertentu dan dapat diungkapakan dengan peristilahan yang sistematis. Teks merupakan proses pemilahan makna yang terus-menerus, suatu perubahan melalui jaringan makna dengan setiap perangkat yang lebih lanjut. Menurut Semi . , struktur teks narasi terdiri atas tiga bagian: . pengenalan awal, pada bagian ini, berisi tentang pengenalan tokoh suasana latar dan lain sebagainya. awal pertikaian, pada bagian ini berisi konflik atau permasalahan awal yang ditampilkan oleh . klimaks atau puncak pertikaian, pada bagian ini berisi tentang ilustrasi konflik utama, dan . kode/antiklimaks pada bagian ini berisi tentang penyelesaian permasalahan yang terjadi dalam cerita dan menandakan berakhirnya cerita. Bascom . alam Danandjaya, 1997: . menyatakan bahwa cerita rakyat terdiri atas mite, legenda, dan dongeng. Selanjutnya. Nurgiyantoro . menyebutkan bahwa sastra tradisional mencakup: mitos, legenda, cerita binatang, dongeng, cerita wayang, dan nyanyian rakyat, dan drama tradisional. Pentingnya cerita rakyat dapat dikaitkan dengan pendapat Goleman . yang menyatakan bahwa cerita merupakan bagian yang penting dalam meningkatkan kecerdasan emosional . motional intelligenc. Selanjutnya dikatakan bahwa bercerita merupakan upaya membekali nilai-nilai budi pekerti kepada anak. Sosialisasi ini pun merupakan wujud stimulasi bentuk stimulasi verbal, nonverbal, intelektual, dan taktil. Kepunahan cerita rakyat dapat terjadi di daerah manapun kalau tidak didukung upaya masyarakat, seperti menjadikannya sebagai sumber belajar. METODE KEGIATAN Pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan andragogi yakni pendekatan pembelajaran diterapkan bagi orang dewasa. Pendekaatan ini dipandang lebih sesuai karena sasaran atau objek pengabdian ini adalah para guru yang sudah memiliki pengalaman mendidik dan mengajar di sekolah. Dengan pendekatan ini diyakini hasil pengabdian akan lebih optimal. Untuk merealisasikan pendekatan tersebut metode yang diterapkan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode diskusi, metode seminar dan metode latihan. Metode tersebut digunakan untuk mendiskusikan contoh-contoh yang disajikan oleh tim pengabdian. model pembelajaran inkuiri digunakan untuk menggali dan menemukan contoh-contoh baru selain contoh yang disajikan anggota tim. Selain itu, digunakan pula metode latihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta mengkreasi contoh analisis teks sastra fiksi dalam bahasa Sasak. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Kegiatan pengabdian ini berlangsung di Gedung SDN. 3 Pancor. Kecamatan Selong. Waktu pelaksanaan kegiatan di lapangan yakni tanggal 11 September 2021. Kegiatan ini melibatkan melibatkan guru SD dan guru SMP serta kepala sekolah, ketua gugus dan mahasiswa/alumni Universitas Mataram. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kabupaten Lombok Timur yang dihadiri Kepala Unit Pendidikan Kecamatan Selong. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta sebanyak 23 orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengabdian masyarakat ini diilhami dari hasil kegitan penelitian tentang AuTeks Genre Sastra Berbahasa Sasak: Penyiapan Bahan Ajar sebagai Muatan Lokal Bahasa SasakAy. Setelah mengkaji berbagai segi struktur teks genre sastra seperti cerita rakyat, puisi rakyat, yang ditulis dan disampaikan dengan bahasa Sasak, peneliti memandang bahwa materi tentang masalah tersebut sangat perlu ditemukenali oleh para guru, khususnya guru yang ditugasi oleh sekolah mengajarkan bahasa Sasak sebagai mutan lokal di sekolah yang ada di Pulau Lombok. Pembagian materi yang disampaikan oleh tim seperti berikut: . ) jenis teks cerita (Khairul Parid. , . Struktur teks cerita (Murahi. , . Alat kebahasaan teks cerita (Nyoman Sudik. , . Struktur dan Kebahasaan (Syahbuddi. Pemanfaatan Teks Genre Sastra dalam Pembelajaran (Ratna Yulida Arshian. Jenis teks cerita (Khairul Parid. Teks genre cerita rakyat dalam bahasa Sasak yang ditemukan berjenis mite, legende, fable, cerita sejarah, cerita wayang, nyanyian rakyat dan lainnya. Cerita rakyat Sasak yang popular antara lain adalah cerita Ratu Mandalika. Balang Kesimbar. Doyan Nede. Batu Golok. Dewi Anjani dan lain-lain. Dalam genre puisi yang ditemukan antara lain, berjudul Kadal Nongaq. Ratu Mandalika. Bobok Balang. Amaq Bangkol, dan lainnya. Puisi tersebut sudah dikembangkan dalam bentuk nyanyian dalam masyarakat Sasak. Struktur Cerita (Murahi. Orientasi Orientasi dalam cerita Balang Kesimbar dimulai dengan perkenalan tokoh utama dan tokoh Perkenalan tokoh cerita diawali dengan kehidupan tokoh sebagai kuli serabutan. Tokoh Balang Kesimbar memiliki sifat yang pantang menyerah, dan hidup apa adanya. Hal ini dapat dicermati dalam kutipan di bawah ini. Leq zaman laeq leq Pulau Lombok araq sopoq dengan toaq endot kance wei ne aran loq Balang Kesimbar. Papuq toaq dait Balang Kesimbar nike sanget miskin. Ye idup bekuliq begawean leq Balang Kesimbar tebilin mate isiq inaq amaqne langan masih kodeq lantaran sopoq wabah penyakit leq jaman laeq. Oleq masih kodeq Balang Kesimbar terengah isiq papuqne. Yimaqne dalem keadaan miskin, papuq toaq nike ndeqne uah ngeluh dait putus ase. Ye rengah Balang Kesimbar dait teajarin pegawean si solah-solah serte kelakuan terpuji. Selainan nike. Balang Kesimbar teserah endah lalo nuntut ilmu leq sopoq guru ngaji. Lantaran pengajahan dengan toaq dait guru nike. Balang Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Kesimbar jeri kanaq si bagus dait alus kelakuanne. Sengaq papuqne uah toaq, make Balang Kesimbar sanget isiqne rajin bantu papuqne begawean dait irup ape araqne. Terjemahan AuPada zaman dahulu, di Pulau Lombok ada satu orang tua tinggal bersama cucunya yang bernama Balang Kesimbar. Nenek tua dan Balang Kesimbar ini sangat miskin. Mereka hidup hasil serabutan mengurus sawah orang lain dan dari sanalah mereka bisa makan. Balang Kesimbar ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya saat iya masih kecil karena satu wabah penyakit zaman dulu. Sejak kecil Balang Kesimbar diasuh oleh neneknya. Meskipun dalam keadaan miskin, nenek tua itu tidak pernah mengeluh dan putus asa. Dia mengasuh dan melatih Balang Kesimbar dengan berbagai pekerjaan yang baik-baik. diasuh dengan kelakuan yang Selain itu. Balang Kesimbar diserahkan pada guru ngaji untuk menuntut ilmu agama. Dengan latihan dan didikan nenek dan guru ngajinya. Balang Kesimbar menjadi anak yang terampil dan berkelakuan baik. Karena neneknya sudah tua, maka Balang Kesimbar sangat rajin membantu neneknya bekerja dan hidup apa adanya. Komplikasi Dalam cerita Balang Kesimbar pemunculan konflik disusun secara kronologis. Pada tahap awal, muncul masalah dan peristiwa yang menyulut terjadinya konflik. Dari tahap awal konflik itu, kemudian berkembang konflik-konflik pada tahap berikutnya. Cermatilah kutipan dibawah yang menggambarkan terjadinya konflik internal Sedateng ne leq istane, ternyate jebak wah berimpet. Segale entan Balang Kesimbar mele tame laguk sie-sie. Lalang seberaq ye nyurak endeng tulung sang araq aseq periak dengah pengempohne laguq ndeqne araq dengan bedengah, ketungkulan boye wayang. Balang Kesimbar aseq gati. Ye momot mero leq deket jebak leq bawaq leloloan. Leq ngoneq Balang Kesimbar nggitaq pemontot sesimbong leq bawaq tembok. Balang Kesimbar mawinan jeput sesimbong nike, kadune nulis leq tembok istane. Balang Kesimbar poro-poro gambar sopoq binatang saq sanget aneh kedu sesimbong nike. Seuahne selese begambar. Balang Kesimbar mawinan uleq tipaq balen papuqne. Teketuan isiq papuqne, kumbeqne ampoqne aru laloq uleq, padahal beboyean ndeqman selese. Balang Kesimbar becerite leq papuqne epe si pendaitne Balang Kesimbar beterus tindoq. AuSetibanya di istana, ternyata gerbang sudah ditutup, segala cara Balang Kesimbar lakukan agar bisa masuk tetapi sia-sia. Sebentar-sebentar dia berteriak meminta bantuan, siapa tau ada orang yang kasihan mendengar teriakannya, tetapi tidak ada orang yang mendengarnya. Semua fokus menonton wayang. Balang Kesimbar sangat sedih. Dia diam di dekat gerbang di bawah pohon. Sudah lama Balang Kesimbar melihat arang kayu sesimbong di bawah tembok. Balang Kesimbar mengambil sesimbong itu dan menggunakannya menggambar di tembok istana. Balang Kesimbar menggambar seekor binatang yang sangat aneh. Sesudah selesai menggambar. Balang Kesimbar langsung pulang ke rumah neneknya. Sesampai di rumah, dia ditanya oleh neneknya. AuKenapa cepat sekali pulang, pertunjukannya kan belum selesaiAy. Balang Kesimbar bercerita kepada neneknya apa yang terjadi. Kemudian setelah itu Balang Kesimbar tidur. Ay Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Puncak konflik AuSai aran meq hai kanaq bajang ?Ay AuBalang Kesimbar Gusti raje. Au jawab Balang Kesimbar. AuSei epen pegawean begambar leq tembok istane ?Ay pengetoanan raje. AuTiang saq begambar. Tuan raje. Ay Jawab Balang Kesimbar AuHai, ente kanak ndeq tao base, ngotoran tembok istane. Nane jeri hukuman meq, harus meq lalo peteanke macan bemate pituq si pede ruene kance gambaran meq side. Lamun ndeq meq mauq otakmeq jari gentikne. Ay Basen raje. AuMeran Tuan raje, keji yaq berusahe boyaq macan nike tuan raje. Ay AuBagus, becatan entan meq lekaq, ndaq peye-peye. Ay Terjemahan Au Siapa namamu wahai anak muda ?Ay Au Balang Kesimbar gusti raja. Ay Jawab Balang Kesimbar. AuSiapa yang mempunyai pekerjaan menggambar di tembok istana ?Ay pertanyaan raja. Au Saya yang menggambar. Tuan Raja. Ay Jawab Balang Kesimbar. Au Hei, anak yang tidak tau bahasa, membuat tembok istana kotor. Akibat perbuatanmua, sekarang kau dihukum. Hukumanmu, kamu harus pergi mencari macan bermata tujuh yang sama rupanya dengan gambarmu. Kalau kamu tidak mendapatkannya kepalamu yang akan menjadi gantinya. Ay Kata raja. Baik, tuan raja, saya akan berusaha mencari macan bermata tujuh itu. Au Bagus, cepatlah kamu pergi, jangan lama-lama. Ay Resolusi/Kode Resolusi adalah solusi dari berbagai masalah yang dialami para tokoh dalam cerita. Pada tahap ini, semua masalah yang terjadi dari berbagai konflik mulai ada penyelesaiannya. Dalam cerita Balang Kesimbar iya bertemu dengan seorang Putri, sehingga iya dibantu untuk mencari macan bermata tujuh tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut. Balang Kesimbar, nunduk ye andang bawaq. Gitaqne tembok sanget atas, muq leq dalem tembok nike araq suaren dengan nyesek, ye gitaq putri inges gati nyeke nyesek kereng songket. Seuahne putri sino gitaq Balang Kesimbar beterus surukne Balang Kesimbar turun. AuNeh, sai side, silaq de becatan turun bareh tedaitde isiq papuq raksasekuAy Banjur Balang Kesimbar langsung kapekan takilanne begantung turun deqne bine maraq dengan terjun payung. Betempuh ye kance due pade bajang pade solah maraq jelo dait bulan. Deq ngoneq saling bekenalan. Balang Kesimbar becerite rtipaq tuan putri epe si kenyengkene hadepin, leq ntan saq teperentah isiq raje boyak macan bemate pituk. Terjemahan AuBalang Kesimbar, menoleh ke bawah. Dia melihat ke bawah, wah, tembok ini sangat tinggi. Dari atas tembok dia mendengar orang di dalam pekarangan yang sangat luas itu ada suara orang Stelah lama memperhatikan, dia melihat seorang putri sangat cantik sedang membuat Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index kain songket. Dari kejauhan Sang putri melihat Balang Kesimbar kemudian menyuruhnya Au Eeh, siapa kamu, ayao cepat turun nanti kamu dilihat oleh kakek raksasaAy Balang Kesimbar menurut saja dan langsung melemparkan bekalnya sambal bergelantungan turun seperti terjun payung. Mereka berdua saling tatap, remaja cantik dan tampan seperti bulan dan matahari. Tidak lama merekapun berkenalan. Balang Kesimbar bercerita kepada tuan putri tentang apa yang sedang dihadapinya, yakni perintah sang raja untuk mencari macan bermata tujuh. Berdasarkan penggalan cerita di atas. Balang Kesimbar bertemu dengan Tuan Putri yang sangat cantik, mereka pun berkenalan dan Balang Kesimbar menceritakan permasalahan yang dihadapinya yakni diperintahkan oleh raja untuk mencari macan bermata tujuh, setelah mendengarkan cerita Balang Kesimbar. Tuan Putri merasa kasihan terhadap Balang Kesimbar dan Tuan Putri membantunya untuk mencari macan bermata tujuh tersebut. Alat Kebahasan dalam Cerita (Nyoman Sudik. Teks cerita Balang Kesimbar seperti layaknya teks-teks lain, teks cerita AuBalang KesimbarAy juga memuat unsur kebahasaan yang dimanfaatkan untuk membangun teks. Perhatikanlah unsur kebahasaan teks Cerita Balang Kesimbar di bawah ini. Kohesi Leksikal Secara umum, alat kebahasaan seperti kohesi leksikal bisa berupa kata atau frasa bebas yang mampu mempertahankan hubungan kohesivitas kalimat dalam paragraf atau wacana. Dalam teks cerita AuBalang KesimbarAy terdapat kohesi leksikal berupa repetisi dan kolokasi. Di bawah ini dijelaskan kedua jenis kohesi tersebut beserta contohnya. Kohesi Repetisi Kohesi repetisi ini dapat berupa ulangan penuh bentuk katanya. Ulangan penuh yaitu mengulang suatu kata yang sama pada suatu kalimat secara penuh, tanpa mengurangi atau mengubah bentuk. Kalimat yang menunjukkan adanya penggunaan reiterasi bentuk ulangan penuh sebagai berikut. Balang Kesimbar sanget sedih. Ye momot meco leq deket jebak leq julun tembok. Ndeq ngoneq Balang Kesimbar gitaq ne pemontot simbong leq deket tembok. Balang Kesimbar mawinan jeput simbong nike, kadu ne nulis leq tembok istene. Balang Kesimbar poroqporoq gambar binatang saq sanget aneh kedu simbong nike. Terjemahan AuBalang Kesimbar sangat sedih. Dia diam saja di dekat pintu depan tembok. Tidak lama. Balang Kesimbar melihat bekas arang di dekat tembok. Balang Kesimbar mengambil bekas arang itu, kemudian dipakai menggambar di tembok istana. Balang Kesimbar iseng-iseng menggambar binatang yang sangat aneh dengan arang itu. Ay Kohesi Kolokasi Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Kohesi kolokasi adalah kohesi sanding kata yang memiliki asosiasi tertentu. Kohesi kolokasi menggunakan kata yang mirip dan cenderung berdampingan. Kalimat yang menunjukkan adanya bentuk kohesi kolokasi adalah sebagai berikut. Timaq ne dalem keadaan miskin, papuq toaq nike ndeqne uah ngeluh dait putus ase. AoWalaupun dalam keadaan miskin, nenek tua ini tidak pernah mengeluh dan putus asa. Ao . Sedateng leq bale ye bebadaq leq papuqne ntan perintah raje nike. Basen papuqne. AuLamun reje perintah ite harus te taat dait bakti. Ay AoSesampai di rumah dia memberitahu neneknya bahwa ini perintah raja. Jawaban neneknya. AuJika raja yang perintah, kita harus taat dan patuhAo. Kutipan . di atas menggunakan kohesi kolokasi yang berbentuk gabungan kata. Kata ngeluh AomengeluhAo dan putus ase Aoputus asaAo. Kedua kata itu cenderung berdampingan dan menunjukkan asosiasi tertentu yaitu kata kerja. Selanjutnya, pada data . terdapat penggunaan kolokasi yakni kata taat AotaatAo dan bakti AobaktiAo. Data di atas menggunakan pilihan kata yang cenderung berdampingan dan memiliki asosiasi tertentu dalam bentuk kata sifat. Kohesi Gramatikal Kohesi gramatikal sering disebut dengan referensi atau pengacuan. Referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu terhadap satuan lingual lain. Referensi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu referensi anafora dan referensi Referensi anafora adalah satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu kepada kalimat yang berada di sebelah kirinya, atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu. Berikut referensi anafora pada cerita rakyat AuBalang KesimbarAy yang akan dijelaskan di bawah ini. Silaq bejulu bae lalo moye, bareh tiang murian. Ay Ngeno jawab Balang Kesimbar. Seuahan ye selese rungu segele keperluan papuqne, marak ntan kakenan, nyenyepu meriri, siapan taoq tindoq dait sak lain-lainan. AoSilahkan dulan saja pergi menonton, nanti saya menyusulAy. Begitu jawaban Balang Kesimbar. Setelah dia selesai menyiapkan segala keperluan neneknya, seperti makanan, menyapu, siapkan tempat tidur dan yang lain-lain. Ao Dalam kutipan di atas alat kohesi yang digunakan adalah kohesi referensi anafora yaitu kata ganti orang ketiga tunggal. Pada data . di atas penggunaa kata ye AodiaAo digunakan secara berturut-turut pada kalimat kedua yang merujuk kepada kata Balang Kesimbar pada kalimat Kata ye AodiaAo disebut sebagai perujuk sedangkan kata Balang Kesimbar disebut sebagai Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Kohesi substitusi Kohesi subtitusi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal berupa penggantian satuan lingual tertentu yang telah disebut dengan satuan lingual lain dalam teks untuk memperoleh unsur Kata ganti yang digunakan, ada kata ganti orang dan ada kata ganti tempat. Perhatikan kutipan dan uraian berikut ini. Berikut penggunaan subtitusi bentuk kata ganti orang dalam cerita AuBalang KesimbarAy sebagai berikut. Tukang sepu nike bengaq gitaq gambar macan bemete pituq. Due metene liq otaq maraq biese, due mete leq keng kiri kanan, due malik leq impung leq kiri kanan, muq sekeq jaq metene leq elongne. Tukang sepu istene nike takut laun temenggahin isiq reje. Banjur beterus ye lalo ngelapur tipaq raje ntan gambar macan si bemete pituq nike. AoTukang sapu ini heran melihat gambar macan bermata tujuh. Dua matanya terletak di kepala seperti biasa, dua mata di pinggang kiri kanan, dua lagi di paha kiri dan kanan, dan satu lagi pada ekornya. Tukang sapu istana ini takut nanti dimarah oleh raja. Lalu dia pergi melapor kepada raja tentang gambar macan bermata tujuh ini. Ao Jika data . di atas dicermati, jenis kohesi yang digunakan adalah jenis kohesi penggantian dalam bentuk kata ganti orang. Dalam kutipan di atas kata ye AodiaAo merupakan konstituen penyulih frasa tukang sepu Aotukang sapuAo. Penyulihan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi pengulangan bentuk-bentuk satuan lingual yang sama dalam sebuah wacana, sehingga dapat menghilangkan kemonotonan. Berdasarkan data di atas, kata ye AodiaAo pada kalimat terakhir disubtitusikan dengan kata tukang sepu Aotukang sapuAopada kalimat sebelumnya. Kohesi konjungsi Kohesi konjungsi berfungsi untuk merangkai atau mengikat beberapa proposisi dalam wacana agar perpindahan ide dalam wacana dapat menyelaraskan makna. Kohesi konjungsi dapat dipilah menjadi konjungsi koordinatif, konjungsi subordinatif. Berikut contoh penggunaan konjungsi koordinatif. Konjungsi Koordinatif Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa yang kedudukannya Cermati contoh di bawah ini . AuO, weingku, lalo uah moye, laguk inget weingku solah, ndeq bae de milu-milu lek pegawean dengan salaq, maraq entan besiaq, pinaq keributan dait si lain-lain. Ay AoO, cucuku, pergi saja nonton, namun ingat cucuku pinter, jangan ikut-ikutan di pekerjaan orang salah, seperti berkelahi, buat keributan dan yang lain-lain. Tiang melet gitak macan bemete pituq, berembe bae solahne. Dait tiang melet bedoe tunggangan si aran macam bemete pituq nike, papuq. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index AoSaya ingin lihat macan bermata tujuh dan saya ingin punya tunggangan macan bermata tujuh ini, kakekAo . Bakat deden raksase sino, banjur goyang ye sanget kesakitan. AoLuka dada raksasa itu, kemudian dia linglung sangat kesakitan. Ao Bentuk kekohesif yang digunakan data . di atas antara lain adalah aspek gramatikal berupa konjungsi koordinatif. Misalnya, kata penghubung banjur AokemudianAo pada data . , yang berfungsi untuk menghubungkan secara koordinatif antara klausa yang berada di sebelah kirinya dengan klausa yang berada di sebelah kanannya. Selain data di atas, data sejenis yang menunjukkan penggunaan konjungsi koordinatif sebagai berikut. Seuahan ye selese rungu segele keperluan papuqne, marak ntan kakenan, nyenyepu meriri, siapan taoq tindoq daitsak lain-lainan, beterus Balang Besimbar nunas pamit leq papuqne gene lalo boye wayang. AoSetelah dia selesai menyiapkan segala keperluan neneknya, seperti makanan, menyapu, menyiapkan tempat tidur dan yang lain-lainnya, kemudian balang kesimbar meminta izin kepada neneknya untuk pergi nonton wayang. Ao Pada data . di atas, kepaduan wacana tersebut antara lain didukung oleh aspek gramatikal berupa Konjungsi koordinatif. Hal itu bisa dilihat dari adanya piranti kohesi berupa konjungsi koordinatif pada kalimat tersebut, yaitu kata penghubung seuahna Aosetelah ituAo pada data . yang digunakan berfungsi sebagai penanda konjungsi yang diletakkan pada awal kalimat yang menunjukkan adanya kaitan dengan klausa sebelumnya. Konjungsi Subordinatif Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa yang tidak setara. Berikut penggunaan konjungsi subordinatif pada cerita AuBalang KesimbarAy. Sengaq papuqne uah toaq, make balang kesimbar sanget isiqne rajin bantu papuqne begawean dait irup ape araqne. AoKarena neneknya sudah tua, maka balang kesimbar sangat rajin bantu neneknya bekerja dan hidup apa adanya. Ao Pada data . di atas, dua klausa pada kalimat tersebut dihubungkan dengan konjungsi subordinatif kata sengak AokarenaAo. Kalimat diawalwali dengan kata sengaq AokarenaAo sebagai penanda bahwa kalimat di atas diawali dengan kaluasa bawahannya. Selain data di atas, data sejenis yang menggunakan konjungsi subordinatif sebagai berikut. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index . Mawinan nike seuahan Balang Kesimbar beleq, ye tetu-tetu jeri dengan solah, ceket bergaul kence batur-beturne dait selapuk dengan. AoKetika itu setelah Balang Kesimbar besar, dia benar-benar jadi orang yang pandai, pintar bergaul dengan teman-temannya dan semua orang. Ao Kalimat majemuk di atas dibentuk dari dua klausa yakni klausa bawahan yang ditandai dengan konjungsi subordinate seuahan AosetelahAo. Berikut contoh analisis materi pembelajaran puisi. Struktur Puisi (Syahbuddi. Berikut disajikan puisi atau nyanyian rakyat yang berjudul AuKadal NongaqAy. Puisi rakyat mempunyai nilai-nilai yang berkembang di dalam kehidupan masyaratakat. Termasuk juga dari puisi rakyat yaitu puisi lama. Puisi lama ini bisa berupa pantun yang dinyanyikan . Isinya bisa berupa nasihat yang berkenaan dengan nilai- nilai dan pesan-pesan warisan leluhur bangsa Indonesia. Di dalam dunia kesastraan puisi ini diwariskan secara tutun-temurun. Puisi rakyat umumnya tidak diketahui siapa pengarangnya karena puisi tersebut sudah ada sejak dulu kala. Karena puisi lama hasil turun temurun dan tidak diketahui siapa pengarangnya, biasanya puisi lama disampikan dari mulut- ke mulut. Puisi lama biasanya terlihat kaku karena terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris dan jumlah kata, pengulangan kata dan juga jumlah baris dalam setiap bait bisa diawal atau di akhir sajak atau yang disebut dengan rima. Contoh puisi rakyat antara lain pantun, gurindam, syair, serta cerita-cerita rakyat tanpa nama yang berkembang di masyarakat. Contoh pembelajaran puisi rakyat yang berbentuk pantun dalam bahasa Sasak berikut ini. Kadal Nongaq Kadal nongaq leq kesambiq Benang katak setakilan. Aduh dende! Te ajah onyaq ndeq ne matiq Payu salaq kejarian. Aduh dende! Mun cempake si kembang sandat Saq sengake jari sahabat Puisi yang diyanyikan tersebut sangat populer di kalangan masyarakat Sasak karena di samping keindahan iramnya, pesan yang disampaikan pun sangat kental dengan nilai-nilai edukasi. Pada acara-acara santai dan acara resmi puisi yang dinyanyikan ini sering diperdengarkan. Jika diperhatikan kalimat yang digunakan kentara sekali irama puisi lama di dalamnya. Puisi ini masih diwarnai pantun. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang puisi atau nyanyian di atas, berikut ini contoh atau model analisis struktur teksnya. Struktur Teks Kalau dicermati strukturnya, penyajian puisi di atas terdiri atas dua larik sampiran dan dua larik isi. Dua larik pertama merupakan pengantar untuk masuk pada larik isi. pada larik 3 dan larik 4. Makna/isi pada larik 1 dan larik 2 dengan larik 3 dan larik 4 tidak berhubungan. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Jenis kalimat dilihat dari segi intonasi yang digunakan, larik 1 dan larik 2 puisi di atas menggunakan kalimat informatif. Dan, dilihat dari jumlah klausanya. Larik 1 dan larik 2 merupakan kalimat majemuk yang terdiri atas dua klausa. Demikian juga dengan baris 3 dan 4 merupakan kalimat saran dengan pola hubungan syarat . un yang berarti AokalauA. Pada larik 3 dan larik 4 merupakan isi. Larik 3 dan 4 merupakan satu kalimat majemuk yang terdiri atas dua Pada umumnya unsur-unsur puisi dapat dibagi berdasarkan strukturnya menjadi dua jenis yakni struktur fisik dan struktur batin. Berikut analisis struktur fisik . dan struktur batin puisi di atas. Struktur Fisik Tipografi atau bentuk puisi di atas dipenuhi dengan kata. kadang baris dan katanya beraturan dan kadang tidak beraturan, tidak selalu diawali huruf besar . dan tidak diakhiri dengan tanda titik. Namun hal semacam ini dapat dipahami untuk menentukan pemaknaan suatu puisi. Diksi di dalam puisi di atas bersifat pekat. artinya pilihan kata yang digunakan padat. Misalnya, pemiilihan kata kadal, mongaq, kesambiq, benang kataq dll. dilakukan dengan mempertimbangkan irama, nada, dan estetika . eindahan bahasany. Imaji yang menonjol pada puisi tersebut adalah penggunaan indra manusia, seperti imaji penglihatan, kadal nongaq leq kesambiq. Penggunaan imaji pengelihatan tersebut bertujuan agar pembaca maupun pendengar dapat berimajinasi atau merasakan apa yang dilihat dan dirasakan oleh penyair. Kata konkret adalah kata yang memungkinkan terjadinya imaji. Kata konkret yang digunakan seperti kadal, lambang seseorang yang masih polos benang kataq dapat berarti masih muda, belum matang cara bertindak dan berperilaku, kesambiq pohon pelindung yang rindang daunnya, bisanya dimanfaatkan untuk berlindung dan berteduh, artinya sebagai anak yang masih dalam pengawasan, perlindungan dan bimbingan orang tua atau orang Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa yang bersifat seolah olah menghidupkan dan menimbulkan makna konotasi dengan menggunakan bahasa figuratif. Gaya bahasa yang digunakan pada puisi berbentuk majas seperti majas metafora, simile, anafora, paradoks dan lain sebagainya. Irama/Rima: Irama atau rima adalah persamaan bunyi di awal, bunyi di tengah maupun bunyi pada akhir puisi. Struktur Batin Tema merupakan unsur utama pada puisi karena tema berkaitan erat dengan makna yang dihasilkan dari suatu puisi. Tema yang menonjol pada puisi di atas adalah pendidikan budi Nada berkaitan dengan sikap penyair terhadap pembacanya. Umumnya nada yang digunakan akan bervariasi seperti nada sombong, nada tinggi, nada rendah dan lain sebagainya. Nada yang digunakan dalam puisi di atas adalah nada rendah. Amanat merupakan pesan yang terkandung di dalam sebuah puisi. Amanat yang ingin disampaikan dalam puisi tersebut adalah sebagai anak yang belum tumbuh deasa sebaiknya belajar lah tentang cara dan sikap hisup yang baik sehingga menjadi peribadi yang dewasa dan matang dalam menjalani hidup ini. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. April 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index . Pemanfaatan Teks Genre Sastra Pemanfaatan teks genre sastra sebagai bahan ajar muatan lokal bahasa Sasak di sekolah tidak hanya bermanfaat untuk mengenal teks sastra dari segi nilai-nilai pendidikan dan nilai estetikanya, melainkan juga sangat bermanfaat dalam mengembangkan potensi kebahasaan para Oleh karena itu, pada pembahasan berikut ini akan dibahas berbagai sisi penting yang membangun sebuah karya teks. Khusnya teks genre cerita rakyat Sasak. Unsur. Misalnya, pada teks cerita fiksi, akan dianalisis tentang struktur, kaidah kebahasaan, dan nilai moral dalam teks cerita rakyat Sasak. Unsur-unsur tersebut dapat dimnafaatkan sebagai bahan ajar atau materi pelajaran siswa di sekolah KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setelah pengabdian ini dilaksakan oleh tim kepada para guru yang bergabung di gugus 1 dan 2 Kecamatan Selong, maka hasilnya dapat dikemukakan sebagai berikut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dikatakan berlangsung dengan baik, karena sejak disepakatinya kontrak kemitraan, persiapan sampai pada pelaksanaannya dapat berjalan Pada saat pelaksanaan, respon atau sambutan para guru dan kepala sekolah sangat Hal ini dapat diketahui dari banyaknya tanggapan berupa pertanyaan dan saran terhadap pemateri sesuai dengan masalah yang disampaikan. Terutama sekali pada materi diskusi tentang Teks genre sastra berbahasa Sasak dan pemnafaatannya sebagai bahan ajar muatan local bahasa Sasak. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti penejelasan pemateri. Dalam kegiatan diskusi, para guru tidak saja mendengarkan dan menerima materi, bahkan mereka juga menyampaikan contoh perbandingan seperti cerita rakyat puis dan drama dalam bahasa Sasak. Dengan demikian, suasana diskusi menjadi kondusif. Kehadiran para peserta diskusi dapat memperkaya materi yang disampaikan oleh tim pengabdian. Genre sastra fiksi pada masyarakat Sasak terdiri atas, cerita fantasi, puisi rakyat, drama rakyat dan lain-lain. Genre sastra fantasi yang ditemukan dalam bahasa Sasak terdiri atas cerita Ratu Mandalika. Balang Kesimbar. Doyan Nede. Batu Golok. Dewi Anjani. Datuq Untal dan lain-lain Dari contoh analisis salah satu cerita AuBalang KesimbarAy ditemukan penanda kebahasaan kohesi leksikal yang meliputi: repetisi dan kolokasi. Penanda kohesi repetisi dan lainnya. DAFTAR PUSTAKA