Journal of Education and Culture Vol. No. Februari 2026 ISSN: 2797-8052 Profil Kemampuan Mental Imagery Atlet Futsal Sman 2 Purwakarta Suryana1. Deni Firmansyah2 Jeki Purnama Putra3 1,2,3 , Fakultas Kesehatan/Prodi Ilmu Keolahragaan. Universitas Kartamulia Purwakarta denifirm17@gmail. Abstract Keywords: Mental Imagery SIAQ Psikologi Olahraga Kemampuan Imagery Atlet Mental imagery ability is one of the psychological components that plays an important role in enhancing athlete performance. This study aims to describe the mental imagery ability profile of futsal athletes at SMAN 2 Purwakarta based on five dimensions measured using the Sport Imagery Ability Questionnaire (SIAQ). A descriptive quantitative survey method was used with total sampling technique, involving all 47 futsal athletes as the population. The instrument used was SIAQ, which covers five dimensions: skill imagery, strategy imagery, goal imagery, affect imagery, and mastery imagery. Data were analyzed descriptively using mean and standard deviation as categorization references. The results showed that the majority of athletes . %) were in the moderate category, followed by the high category . %), very high . %), and 9% each in the low and very low categories. These findings indicate that the mental imagery ability of futsal athletes at SMAN 2 Purwakarta is generally at a moderate level and still requires development through structured and systematic mental training The implications of this study provide recommendations for coaches and sports psychologists to integrate SIAQ-based mental imagery training into athlete development Abstrak Kemampuan mental imagery merupakan salah satu komponen psikologis yang berperan penting dalam peningkatan performa atlet. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kemampuan mental imagery atlet futsal SMAN 2 Purwakarta berdasarkan lima dimensi yang diukur menggunakan Sport Imagery Ability Questionnaire (SIAQ). Metode yang digunakan adalah survei deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling, melibatkan seluruh populasi sebanyak 47 atlet futsal. Instrumen yang digunakan adalah SIAQ yang mencakup lima dimensi, yaitu skill imagery, strategy imagery, goal imagery, affect imagery, dan mastery imagery. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan acuan mean dan standar deviasi untuk pengkategorian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas atlet . %) berada pada kategori sedang, diikuti kategori tinggi . %), sangat tinggi . %), serta masing-masing 9% pada kategori rendah dan sangat rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan mental imagery atlet futsal SMAN 2 Purwakarta secara umum berada pada tingkat moderat dan masih memerlukan pengembangan melalui program latihan mental yang terstruktur dan sistematis. Implikasi dari penelitian ini memberikan rekomendasi bagi pelatih dan psikolog olahraga untuk mengintegrasikan latihan mental imagery berbasis SIAQ dalam program pembinaan atlet. Corresponding Author: Suryana Fakultas Kesehatan Universitas Kartamulia E-mail: denifirm17@gmail. Journal homepage: https://ejournal. id/index. php/jec/index Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 PENDAHULUAN Prestasi olahraga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik dan teknik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis atlet (Weinberg. Gould, 2. Salah satu teknik psikologis yang telah mendapat perhatian luas dalam dunia olahraga adalah mental imagery atau pencitraan mental (Cumming. Williams, 2. Mental imagery merupakan proses kognitif di mana individu menciptakan atau merekonstruksi pengalaman sensorik di dalam pikirannya tanpa adanya stimulus eksternal yang sebenarnya (Morris et al. , 2. Teknik ini telah digunakan oleh atlet elite di berbagai cabang olahraga untuk meningkatkan performa, mempercepat pembelajaran keterampilan motorik, mengelola kecemasan, dan meningkatkan kepercayaan diri (Weinberg, 2. Penelitian empiris menunjukkan bahwa mental imagery dapat mengaktivasi area otak yang sama dengan yang diaktivasi saat melakukan gerakan fisik secara aktual (Jeannerod, 2. Williams. , & Cumming, . mengembangkan Sport Imagery Ability Questionnaire (SIAQ) sebagai instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur kemampuan atlet dalam membayangkan berbagai konten yang sering digunakan dalam olahraga mereka. SIAQ mengukur lima dimensi kemampuan imagery: skill imagery . majinasi keterampila. , strategy imagery . majinasi strateg. , goal imagery . majinasi tujua. , affect imagery . majinasi afekti. , dan mastery imagery . majinasi penguasaa. Instrumen ini telah menunjukkan validitas konten dan faktor yang baik serta korelasi yang kuat dengan pengukuran kemampuan visualisasi Pemahaman tentang profil kemampuan mental imagery atlet menjadi penting karena dapat memberikan informasi dasar untuk merancang program intervensi psikologis yang efektif (Williams. Cumming, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kemampuan imagery bervariasi antar individu dan dapat mempengaruhi efektivitas latihan mental (Hall. Martin, 1. Atlet dengan kemampuan imagery yang lebih tinggi cenderung memperoleh manfaat yang lebih besar dari latihan mental imagery. Meskipun penelitian tentang mental imagery telah banyak dilakukan di berbagai negara, masih terbatas studi yang mengkaji profil kemampuan imagery atlet di Indonesia menggunakan instrumen yang tervalidasi secara Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis profil kemampuan mental imagery atlet menggunakan SIAQ. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang kemampuan imagery atlet dan menjadi dasar bagi pengembangan program latihan mental yang lebih efektif. Penelitian ini penting dilakukan untuk beberapa alasan. Pertama, pemahaman tentang profil kemampuan imagery dapat membantu pelatih dan psikolog olahraga dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan atlet dalam aspek psikologis. Kedua, data yang diperoleh dapat menjadi baseline untuk evaluasi program intervensi mental imagery. Ketiga, hasil penelitian dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu psikologi olahraga di Indonesia, khususnya dalam konteks aplikasi mental imagery. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian survei, proses pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang berisi sejumlah pertanyaan kepada responden (Siyoto. Sodik, 2. Adapun pendekatan deskriptif merupakan metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau memaparkan data yang telah diperoleh secara sistematis, sehingga dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan penelitian (Winarno, 2. Populasi pada penelitian ini sebanyak 47 responden, dan seluruh populasi tersebut dijadikan sampel dengan menggunakan teknik total sampling, sehingga jumlah sampel sama dengan jumlah populasi, yaitu 47 orang. Dengan demikian, data yang diperoleh merepresentasikan keseluruhan populasi, dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil kemampuan mental imagery atlet menggunakan Sport Imagery Ability Questionnaire (SIAQ) Rumus interval menurut (Sudibyo, 2. pengkategorian yang acuannya pada skor mean dan standart deviation yaitu sebagai berikut: Tabel 1 Rumus Pengkategorian Rumus Interval Kategori Keterangan : X > (M 1,5SD) Sangat Tinggi (M 0,5SD) < X < (M 1,5SD) Tinggi (M-0,5SD) < X < (M 0,5SD) Sedang (M-1,5SD) < X < (M-0,5SD) Rendah X < (M-1,5SD) Sangat Rendah Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 X : Skor M : Mean hitung SD : Standar deviasi hitung Hasil penelitian Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 47 responden, diperoleh hasil gambaran profil kemampuan mental imagery atlet pada berbagai dimensi. Tabel 1 menyajikan statistik deskriptif untuk setiap dimensi kemampuan imagery yang diukur menggunakan SIAQ adalah : Tabel 2. Distribusi Frekuensi Mental Imagery Kategori Frekuensi Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Berdasarkan data pada Tabel 2, distribusi kategori kemampuan imagery menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 26 orang . %). Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kemampuan imagery responden cenderung berada pada tingkat yang cukup atau moderat. Selanjutnya, sebanyak 8 orang . %) berada pada kategori tinggi, dan 5 orang . %) termasuk dalam kategori sangat tinggi, yang mengindikasikan bahwa sebagian responden memiliki kemampuan imagery yang baik hingga sangat baik. Di sisi lain, terdapat masing-masing 4 orang . %) yang berada pada kategori rendah dan sangat Persentase ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil responden yang memiliki kemampuan imagery di bawah rata-rata. Secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas responden memiliki kemampuan imagery pada tingkat sedang, dengan kecenderungan distribusi yang lebih banyak berada pada kategori menengah dibandingkan kategori ekstrem . angat rendah maupun sangat tingg. Distribusi Kategori Kemampuan Imagery Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 1 Kemampuan Mental Imagery Atlet Futsal Sman 2 Purwakarta PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 47 atlet futsal SMAN 2 Purwakarta menggunakan teknik total sampling, profil kemampuan mental imagery atlet menunjukkan distribusi yang berpusat pada kategori sedang. Sebanyak 26 atlet . %) berada pada kategori sedang, 8 atlet . %) berada Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 pada kategori tinggi, 5 atlet . %) pada kategori sangat tinggi, serta masing-masing 4 atlet . %) pada kategori rendah dan sangat rendah. Pola distribusi ini mengindikasikan bahwa secara umum kemampuan mental imagery atlet futsal SMAN 2 Purwakarta berada pada tingkatan moderat, dengan sebagian kecil atlet yang telah mencapai kemampuan imagery optimal. Dominasi kategori sedang dalam distribusi kemampuan mental imagery ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Weinberg. Gould, . Purnomo et al. , . bahwa mental imagery merupakan keterampilan psikologis yang dapat dikembangkan secara progresif melalui latihan yang sistematis dan terstruktur. Keberadaan mayoritas atlet pada kategori sedang mengindikasikan bahwa para atlet sebenarnya telah memiliki kemampuan dasar yang memadai dalam membayangkan keterampilan teknis, strategi permainan, maupun situasi pertandingan. Namun demikian, kemampuan tersebut belum mencapai tingkat yang optimal untuk memberikan dampak maksimal terhadap performa. Kondisi ini bersesuaian dengan penjelasan Morris. Spittle. , & Watt, . Putra & Astuti. Puji. Suwanta. Deni Maulana. Kusuma, . yang menegaskan bahwa imagery adalah proses kognitif yang memungkinkan individu merekonstruksi pengalaman sensorik tanpa kehadiran stimulus nyata, sehingga kualitasnya sangat bergantung pada intensitas dan konsistensi latihan. Dari perspektif teoritis, imagery yang efektif mensyaratkan dua kualitas utama, yaitu vivid . etajaman gambaran menta. dan controllable . emampuan mengendalikan gambaran tersebu. Weinberg. Gould, . Putra et al. , . menjelaskan bahwa semakin jernih dan semakin terkontrol gambaran mental seorang atlet, maka semakin besar pengaruh positifnya terhadap peningkatan performa. Dengan dominasi kategori sedang pada penelitian ini, dapat diasumsikan bahwa sebagian besar atlet sudah mampu membayangkan situasi permainan futsal, namun tingkat ketajaman visual dan kendali atas gambaran tersebut belum sepenuhnya optimal. Hal ini menjadi peluang yang besar untuk ditingkatkan melalui intervensi latihan mental yang terprogram. Temuan ini juga mendapatkan dukungan dari perspektif neurosains. Jeannerod, . Putra et al. melalui penelitiannya membuktikan bahwa proses mental imagery mengaktivasi area otak yang secara signifikan tumpang tindih dengan area yang aktif saat melakukan gerakan fisik secara nyata. Fenomena ini menjadi landasan dari Psychoneuromuscular Theory, yang menyatakan bahwa visualisasi suatu gerakan dalam pikiran atlet akan memicu aktivasi neuromuskular berskala rendah yang secara bertahap memperkuat pola gerak motorik. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan imagery yang saat ini berada pada kategori sedang berpotensi langsung berdampak pada akurasi teknik, koordinasi gerak, dan konsistensi performa atlet futsal, terutama dalam situasi permainan yang berlangsung cepat dan dinamis. Selain fungsi kognitif, imagery juga memiliki peran penting dalam aspek motivasional. Dalam kerangka Applied Model of Imagery Use in Sport yang dikemukakan oleh Martin. Moritz. Hall, . Putra. Kusmaidi, et al. , . imagery dibagi dalam dua fungsi utama, yaitu fungsi kognitif yang mencakup cognitive specific dan cognitive general, serta fungsi motivasional yang mencakup motivational specific dan motivational general. Atlet yang mampu membayangkan keberhasilan mencetak gol, memenangkan pertandingan, atau mempertahankan kepercayaan diri setelah melakukan kesalahan, cenderung memiliki regulasi emosi dan motivasi yang lebih tinggi selama kompetisi. Kondisi ini relevan dengan profil penelitian ini, di mana 28% atlet yang berada di kategori tinggi dan sangat tinggi kemungkinan besar memiliki kemampuan motivational imagery yang lebih baik dibandingkan rekan-rekannya. Dalam upaya mengoptimalkan kemampuan imagery atlet yang sebagian besar masih berada di kategori sedang, penerapan PETTLEP Model dari Holmes. , & Collins,. menjadi sangat relevan. Model ini menekankan bahwa efektivitas latihan imagery akan meningkat secara signifikan apabila mencakup tujuh unsur utama, yaitu Physical . spek fisi. Environment . Task . Timing . Learning . Emotion . , dan Perspective . udut pandan. Dalam konteks futsal, penerapan model ini berarti atlet sebaiknya berlatih membayangkan situasi pertandingan secara nyata dan spesifik, seperti membayangkan lapangan pertandingan yang sesungguhnya, merasakan tekanan emosional saat kompetisi, serta mengatur perspektif visual sesuai posisi bermain masing-masing. Implementasi PETTLEP yang konsisten berpotensi meningkatkan kualitas imagery dari kategori sedang menuju kategori Keberadaan 18% atlet yang berada pada kategori rendah dan sangat rendah . asing-masing 9%) perlu mendapat perhatian khusus. Menurut Hall. Martin, . , variabilitas kemampuan imagery antarindividu dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain pengalaman berolahraga, tingkat kepercayaan diri, paparan terhadap program latihan mental sebelumnya, serta karakteristik psikologis Atlet dalam kategori ini kemungkinan memiliki keterbatasan dalam membentuk gambaran mental yang jelas dan terkontrol, sehingga memerlukan pendampingan yang lebih intensif dan program latihan mental yang disesuaikan dengan kebutuhan individual. Penggunaan SIAQ sebagai alat asesmen awal menjadi sangat strategis untuk mengidentifikasi profil individual atlet sebelum merancang program intervensi. Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 Secara keseluruhan, profil kemampuan mental imagery atlet futsal SMAN 2 Purwakarta yang didominasi kategori sedang . %) menunjukkan adanya potensi pengembangan yang signifikan. Kondisi ini sekaligus menjadi sinyal bagi pelatih dan pengelola program latihan untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap aspek psikologis atlet, khususnya dalam pengembangan kemampuan mental imagery. Dengan mengintegrasikan latihan imagery secara sistematis ke dalam program latihan rutin, mengacu pada pendekatan seperti PETTLEP Model dan Applied Model of Imagery Use in Sport, maka kemampuan imagery yang saat ini berada pada kategori sedang berpeluang berkembang secara signifikan. Peningkatan ini pada akhirnya akan berdampak langsung pada peningkatan performa, pengendalian emosi, konsentrasi, dan kepercayaan diri atlet dalam menghadapi pertandingan. KESIMPULAN DAN SARAN/REKOMENDASI Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data menggunakan instrumen Sport Imagery Ability Questionnaire (SIAQ) terhadap 47 atlet futsal SMAN 2 Purwakarta dengan teknik total sampling, dapat disimpulkan bahwa profil kemampuan mental imagery atlet secara keseluruhan berada pada kategori sedang (M = 4,83. SD = Distribusi frekuensi menunjukkan bahwa mayoritas atlet, yakni sebanyak 26 orang . %), berada pada kategori sedang. 8 orang . %) pada kategori tinggi. 5 orang . %) pada kategori sangat tinggi. masing-masing 4 orang . %) pada kategori rendah dan sangat rendah. Dominasi kategori sedang pada penelitian ini mengindikasikan bahwa para atlet futsal SMAN 2 Purwakarta sesungguhnya telah memiliki kemampuan dasar mental imagery yang memadai, namun belum mencapai tingkat optimal yang dapat memberikan dampak maksimal terhadap performa. Kondisi ini sejalan dengan pandangan Weinberg. Gould, . bahwa kemampuan mental imagery merupakan keterampilan psikologis yang bersifat progresif dan dapat terus dikembangkan melalui latihan yang sistematis dan terstruktur. Di sisi lain, keberadaan 18% atlet pada kategori rendah dan sangat rendah menjadi perhatian penting, mengingat kemampuan imagery yang rendah berpotensi membatasi manfaat yang diperoleh dari program latihan mental (Hall. Martin, 1. 1 Saran/Rekomendasi Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran yang dapat diberikan adalah: untuk Pelatih dan Psikolog Olahraga. Mengintegrasikan latihan mental imagery secara sistematis dalam program latihan atlet, dengan fokus khusus pada dimensi yang menunjukkan skor lebih rendah, terutama strategy imagery. Menggunakan SIAQ sebagai alat asesmen awal untuk mengidentifikasi profil kemampuan imagery individual atlet dan merancang program latihan mental yang disesuaikan. Menerapkan prinsip-prinsip PETTLEP Model dalam merancang sesi latihan imagery untuk memaksimalkan efektivitas intervensi. melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan kemampuan imagery atlet menggunakan SIAQ untuk memantau efektivitas program latihan mental. Untuk Penelitian Lanjutan. Melakukan penelitian dengan sampel yang lebih besar dan representatif dari berbagai cabang olahraga dan tingkat kompetisi untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kemampuan imagery atlet Indonesia. Mengkaji hubungan antara kemampuan imagery dan performa aktual atlet untuk memberikan bukti empiris tentang peran imagery dalam pencapaian prestasi olahraga. Melakukan studi intervensi untuk menguji efektivitas berbagai metode latihan imagery dalam meningkatkan kemampuan imagery dan performa atlet, khususnya pada dimensi yang menunjukkan skor lebih rendah. mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan imagery atlet, seperti jenis olahraga, tingkat keterampilan, pengalaman latihan mental, dan karakteristik psikologis lainnya. Mengembangkan dan memvalidasi instrumen pengukuran imagery yang disesuaikan dengan konteks budaya dan karakteristik atlet Indonesia. Referensi