Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) pada Personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung Berdasarkan Kuesioner Puma dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam The Incidence of Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) Among the Personnel of the Indonesian Air Force Maintenance Depot 10 at Husein Sastranegara Air Base. Bandung Based on the PUMA Questionnaire and its Review According to Islamic Perspective Rania Siti Hanifah1. Tjandra Yoga Aditama2. Muhammad Fazlurrahman3. Qomariyah4 1Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia, 2Biomedik Sekolah Pasca Sarjana. Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia ABagian Agama Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 4Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia. Email: raniahnfah@gmail. KATA KUNCI Penyakit Paru Obstruktif Kronik. PPOK. Merokok. Kuesioner PUMA. TNI AU. ABSTRAK Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan angka kematian global mencapai sekitar 3 juta jiwa pada tahun 2019. Di Indonesia, prevalensi PPOK mencapai 3,7%, setara dengan sekitar 9,2 juta jiwa menurut Riset Kesehatan Dasar 2013. Merokok menjadi faktor risiko utama dalam pengembangan PPOK, di mana perokok menunjukkan prevalensi gejala pernapasan yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Namun, kurang dari 50% perokok berat mengalami PPOK, menunjukkan bahwa faktor risiko lain, seperti paparan asap rokok pasif, juga berperan. Dengan prevalensi merokok di Indonesia yang mencapai 33,8%, kondisi ini memperburuk angka kejadian PPOK. Menariknya, sekitar 60-85% penderita PPOK tidak menyadari penyakit yang diderita, termasuk di Indonesia, di mana banyak pasien tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Hasil menunjukkan bahwa didapatkan 82. 1% tidak risiko PPOK dan 9% risiko PPOK. Oleh karena itu, diagnosis dini dan penanganan yang tepat sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kejadian PPOK di kalangan personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung berdasarkan Kuesioner PUMA, yang baru dikembangkan untuk mendeteksi risiko PPOK dengan hasil lebih baik dibandingkan alat sebelumnya. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 KEYWORDS Chronic Obstructive Pulmonary Disease. COPD. Smoking. PUMA Questionnaire. Indonesian Air Force. ABSTRACT Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is one of the leading causes of death worldwide, with a global death toll of approximately 3 million people in 2019. In Indonesia, the prevalence of COPD reaches 7%, equivalent to around 9. 2 million people according to the 2013 Basic Health Research. Smoking is the primary risk factor in the development of COPD, where smokers show a higher prevalence of respiratory symptoms compared to non-smokers. However, less than 50% of heavy smokers develop COPD, indicating that other risk factors, such as exposure to passive smoke, also play a role. With a smoking prevalence of 33. 8% in Indonesia, this exacerbates the incidence of COPD. Interestingly, about 60-85% of COPD patients are unaware of their condition, including in Indonesia, where many patients do not undergo routine health check-ups. The results showed that 82. 1% were not at risk of COPD and 17. 9% were at risk of COPD. Therefore, early diagnosis and appropriate management are crucial. This study aims to understand the incidence of COPD among the personnel of the Indonesian Air Force Maintenance Depot 10 at Husein Sastranegara Air Base. Bandung, based on the PUMA Questionnaire, which has been newly developed to detect COPD risk with better results compared to previous tools. PENDAHULUAN Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) penyebab utama kematian di dunia, menempati urutan ketiga dengan angka kematian global mencapai sekitar 3 juta jiwa pada tahun 2019. Indonesia, angka kejadian PPOK mencapai 3,7%, setara dengan sekitar 9,2 juta jiwa berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013. Merokok menjadi salah satu faktor risiko utama dalam pengembangan PPOK, di mana perokok memiliki prevalensi gejala pernapasan dan penurunan fungsi paru yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Meskipun demikian, kurang dari 50% perokok berat mengalami PPOK, menunjukkan bahwa terdapat faktor risiko lain yang turut berkontribusi, seperti paparan asap rokok pasif dan jenis asap tembakau lainnya. Dengan prevalensi merokok di Indonesia yang mencapai 33,8%, di mana 63% di antaranya adalah pria, kondisi ini semakin memperparah angka kejadian PPOK. Menariknya, sekitar 60-85% penderita PPOK secara global tidak menyadari penyakit yang dideritanya, dan fenomena ini juga tercermin di Indonesia, di mana banyak pasien yang kesehatan secara rutin. Oleh karena itu, diagnosis dini dan penanganan yang tepat sangat penting, terutama karena cenderung menunjukkan lebih sedikit menyulitkan diagnosis. Penggunaan alat skrining seperti kuesioner PUMA mendeteksi risiko PPOK, dengan hasil Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 yang lebih baik dibandingkan alat Kuesioner Diagnostik PPOK (CDQ) dan Screening Populasi PPOK (COPD-PS). Namun. Kuesioner PUMA di berbagai populasi, termasuk di Indonesia, masih terbatas. Dengan latar belakang ini, penelitian ini bertujuan untuk memahami kejadian PPOK di kalangan personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung berdasarkan Kuesioner PUMA. METODOLOGI Metode digunakan dalam studi ini adalah penelitian kuantitatif, yang bertujuan menganalisis data numerik. Rancangan penelitian yang diterapkan bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional, di mana data dikumpulkan pada satu titik waktu tertentu untuk Populasi mencakup seluruh personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung, yang berjumlah 319 orang. Dalam pemilihan sampel, diterapkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat. Kriteria inklusi mencakup personil yang berstatus aktif dan bersedia menjadi peserta penelitian, sedangkan kriteria eksklusi mencakup personil yang tidak aktif, tidak bersedia, atau tidak mengisi kuesioner secara lengkap. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling, di mana seluruh anggota populasi yang memenuhi kriteria dijadikan sampel, sesuai dengan metode yang dijelaskan oleh Sugiyono . Jenis data yang digunakan adalah data primer, yang diperoleh langsung dari kuesioner yang diisi oleh pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan dengan meminta setiap peserta untuk menyelesaikan kuesioner preskrining PUMA sederhana, yang dirancang untuk menilai berbagai faktor risiko serta gejala pernapasan, termasuk jenis kelamin, usia, lama merokok, serta gejala seperti dispnea, dahak, dan Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner PUMA. Untuk analisis data, penelitian ini menggunakan metode analisis bivariat, di mana data diolah dengan menggunakan program SPSS. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Sebelum analisis dilakukan, data akan melalui tahap editing untuk memastikan kesesuaian data dengan sampel yang diperoleh, serta tahap coding untuk memberikan kode pada data agar lebih terstruktur dan mudah dipahami. HASIL Tabel Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pangkat. Pangkat Perwira Bintara Tamtama PNS Total Frekuensi . Persentase (%) Pada tabel 1 menunjukkan bahwa pada tingkat Perwira sebanyak 74 . 2%) personil, tingkat Bintara sebanyak 178 . 8%) personil, tingkat Tamtama sebanyak 56 . 6%) personil. PNS sebanyak 11 . 4%) personil. 1 PUMA Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Tabel Distribusi Responden Menurut Usia Pangk Perwi Bintar Tamta PNS Total Frekuensi Usia <29 Tah Tah Tah Tah PVal Pang Perw Binta Konsumsi Rokok 20<20 gkus gkus da tahu tahu PNS Total Pada tabel 2 hasil analisis uji chisquare tidak memenuhi syarat namun diperoleh nilai signifikansi sebesar 000 < 0. 050, sehingga dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara pangkat dan usia responden. Tabel Distribusi Responden Menurut Konsumsi Rokok Tamt Frekuensi Jumlah >30 Pada tabel 3 hasil analisis uji chisquare tidak memenuhi kriteria karena terdapat cells yang memiliki nilai expected kurang dari 5. Kemudian diperoleh nilai signifikansi 0. 050, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara pangkat terhadap konsumsi rokok. Tabel Distribusi Frekuensi Responden Menurut Status Kesehatan Berdasarkan Merasa Nafas Pendek Pangkat Perwira Bintara Tamtama PNS Total Merasa Pendek Nafas Tidak PValue 0,522 Pada tabel 6 hasil analisis uji chisquare tidak memenuhi kriteria karena terdapat cells yang memiliki nilai expected kurang dari 5. Kemudian diperoleh nilai signifikansi 0. 050, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara pangkat dengan merasa nafas pendek. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Tabel Distribusi Frekuensi Responden Menurut Status Kesehatan Berdasarkan Memiliki Dahak dan Kesulitan Mengeluarkan Dahak Pangkat Perwira Bintara Tamtama PNS Total Memiliki Dahak dan Kesulitan Mengeluarkan Dahak Tidak PValue Pada tabel 8 hasil analisis uji chisquare tidak memenuhi kriteria karena terdapat cells yang memiliki nilai expected kurang dari 5. Kemudian diperoleh nilai signifikansi 0. 050, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara pangkat dengan batuk saat flu. Tabel Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pemeriksaan Fungsi Paru Pangkat Perwira Pada tabel 7 hasil analisis uji chisquare tidak memenuhi kriteria karena terdapat cells yang memiliki nilai expected kurang dari 5. Kemudian diperoleh nilai signifikansi 0. 050, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara pangkat dengan dahak yang berasal dari paru-paru. Tabel 6 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Status Kesehatan Berdasarkan Merasa Batuk Saat Tidak Menderita Flu Pangkat Perwira Bintara Tamtama PNS Total Merasa Batuk Saat Tidak Menderita Flu Tidak PValue Bintara Tamtama PNS Total Melakukan Pemeriksaan Fungsi Paru Tidak PValue Pada tabel 9 hasil analisis uji chisquare tidak memenuhi kriteria karena terdapat cells yang memiliki nilai expected kurang dari 5. Kemudian diperoleh nilai signifikansi 0. 050, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara pangkat dengan pemeriksaan paru. Tabel Distribusi Frekuensi Responden Menurut Kategori Skor Kuesioner PUMA Konsu Rokok Kategori Tidak Risiko PPOK, PVal Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Tidak Merok Merok Total Pada tabel 8 hasil analisis uji chisquare tidak memenuhi kriteria karena terdapat cells yang memiliki nilai expected kurang dari 5. Kemudian diperoleh nilai signifikansi 0. 050, sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara konsumsi rokok dengan resiko PPOK. Pada penghitungan skoring kuesioner PUMA sebanyak 262 . 1%) tidak risiko PPOK dan dapat dilakukan edukasi gaya hidup dan 57 . resiko PPOK, dilakukan pemeriksaan PEMBAHASAN Kuesioner PUMA Penelitian ini berjudul "Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Pada Personil TNI AU Depo Pemeliharaan 10 Lanud Husein Sastranegara Bandung Berdasarkan Kuesioner PUMA" bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara pangkat dan perilaku merokok di kalangan personil TNI AU yang terlibat, dengan jumlah responden mencapai 319 orang. Mayoritas responden berada di kelompok usia di bawah 29 tahun, dengan jumlah 109 . ,2%). Temuan ini sejalan dengan hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, yang merokok tertinggi terdapat pada kelompok usia 25-44 tahun . ,7%). Hal ini menunjukkan bahwa usia muda sangat rentan terhadap pengaruh merokok, seringkali dianggap sebagai simbol kejantanan dan keberanian dalam masyarakat, terutama di kalangan pria. Data menunjukkan bahwa 202 . ,3%) dari responden adalah perokok, dan 117 . ,7%) lainnya bukan perokok. Hal ini merokok sangat dominan di kalangan pria, yang di dukung oleh data Riskesdas . yang mencatat bahwa persentase perokok di Indonesia mencapai 33,8% di atas usia 15 tahun, dengan 62,9% di antaranya adalah lakilaki. Hasil analisis jumlah konsumsi rokok juga menunjukkan bahwa mayoritas responden mengonsumsi lebih dari 30 bungkus per tahun. Dari total responden, sebanyak 262 . ,1%) tidak menunjukkan risiko PPOK dan dapat diberi edukasi mengenai gaya hidup sehat, sedangkan 57 . ,9%) lainnya dianggap berisiko dan perlu dilakukan pemeriksaan spirometri. Penemuan ini sejalan dengan penelitian oleh Bhatt et al. yang menekankan pentingnya deteksi dini PPOK melalui spirometri dan edukasi penyakit ini. Kebiasaan Merokok Analisis mengenai jenis rokok yang dikonsumsi oleh responden menggunakan rokok putih, sebanyak 103 . ,3%), diikuti dengan 47 . ,7%) yang mengonsumsi campuran rokok kretek dan putih, serta 40 . ,5%) memilih jenis rokok kretek. Penelitian Salsabila mengungkapkan bahwa rokok kretek Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 filter menjadi favorit di kalangan perokok Indonesia, dengan rata-rata konsumsi mencapai 12 batang per hari. Hal ini menunjukkan bahwa rokok kretek, yang merupakan produk lokal, mendominasi pasar rokok di Indonesia, dengan penjualan mencapai 180 miliar batang pada tahun 2010 (WHO, 2. Selanjutnya, menunjukkan bahwa 293 . ,8%) personil memiliki keinginan untuk berhenti merokok, sedangkan 26 . ,2%) tidak ingin berhenti. Temuan ini konsisten dengan hasil GATS . yang mencatat adanya peningkatan signifikan dalam usaha berhenti merokok, dari 30,4% sebelumnya. Penelitian oleh Handayani . juga menegaskan bahwa 63,4% perokok dewasa berkeinginan untuk berhenti merokok, dan 43,8% di antaranya telah berupaya dalam 12 bulan terakhir. Keinginan meningkat di kalangan perokok mengenai bahaya kesehatan dari kebiasaan merokok. Hubungan Merokok Dengan Kuesioner PUMA Hasil hubungan antara perasaan nafas pendek saat berjalan menunjukkan bahwa dari 319 personil, terdapat 202 . ,3%) perokok. Di antara perokok tersebut, 65 . ,4%) mengaku pernah merasa nafas pendek, sementara 137 . ,9%) tidak merasakannya. Uji chisquare menunjukkan hasil signifikan . < 0,. , yang mengindikasikan adanya hubungan antara merokok dan keluhan nafas pendek. Penelitian menunjukkan terhadap penurunan fungsi paru-paru, termasuk penurunan FEV1 . orced expiratory volume in one secon. , yang sering kali menyebabkan gejala napas pendek dan gangguan pernapasan lainnya (Adatia et al. , 2. Dalam analisis selanjutnya, hubungan antara mengeluarkan dahak tanpa gejala flu menunjukkan bahwa dari 319 personil, 44 . ,8%) perokok mengalami masalah Uji chi-square juga menunjukkan signifikansi . < 0,. , menegaskan adanya hubungan antara merokok Penelitian sebelumnya juga mencatat bahwa merokok menyebabkan hipersekresi lendir, sering kali disertai batuk dengan dahak yang berlebihan (Rubin, 2014. Papadopoulou et al. , 2. Analisis lebih lanjut mengenai gejala batuk menunjukkan bahwa dari total 319 personil, 78 . ,5%) perokok merasa batuk saat tidak menderita flu. Uji chi-square menunjukkan hasil signifikan . < 0,. , menegaskan hubungan kuat antara merokok dan batuk kronis. Merokok dikenal sebagai penyebab utama bronkitis kronis dan PPOK, yang sering kali menimbulkan (DIbrowska et al. , 2. Terakhir, analisis hubungan dengan penyakit paru-paru menunjukkan bahwa dari 319 personil, hanya 12 orang yang penyakit paru, dengan uji chi-square tidak menunjukkan signifikansi. Hal ini mungkin disebabkan oleh keterbatasan desain penelitian, seperti jumlah sampel yang kecil atau metode pengukuran yang tidak memadai. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan gejala pernapasan, sekaligus menekankan pentingnya edukasi dan deteksi dini untuk mencegah penyakit paru-paru. Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 Menjaga Kesehatan Tubuh Dalam Perspektif Islam Islam mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh sebagai bagian dari upaya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Kesehatan jasmani, rohani, dan sosial dipandang sebagai anugerah dari Allah yang patut Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua kenikmatan yang sering diabaikan. Menjaga pola makan yang baik adalah aspek penting dalam kesehatan. Allah berfirman agar manusia memperhatikan makanan mereka dan hanya mengonsumsi yang halal dan baik. Konsumsi makanan sehat adalah bentuk syukur atas nikmat Allah dan upaya menjaga amanah Sebaliknya, kesehatan tubuh bisa terganggu akibat perilaku buruk, seperti mengkonsumsi zat berbahaya Rokok Dalam Perspektif Islam Rokok mengandung lebih dari 8000 bahan kimia berbahaya dan penyakit serius. Meskipun tidak ada ketentuan eksplisit dalam Al-Qur'an dan hadits mengenai merokok, para ulama berbeda pendapat tentang MUI menilai merokok makruh karena efek negatifnya, terutama jika merokok di sekitar orang lain yang berisiko. Dalam Al-Baqarah ayat 195. Allah melarang perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang Selain itu, merokok dianggap sebagai pemborosan, yang dilarang dalam Islam. Biaya untuk rokok dapat digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, sehingga memilih untuk tidak merokok adalah langkah bijak Penyakit Paru Obstruktif Kronik dalam Perspektif Islam Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah kondisi serius yang menyebabkan kesulitan bernapas dan merupakan penyebab kematian global yang signifikan. Dalam perspektif Islam, penyakit dianggap sebagai ujian dan kesempatan untuk meningkatkan derajat seseorang. Ketika seseorang sakit, penting untuk berdoa dan mencari pengobatan, serta meyakini bahwa setiap penyakit memiliki obat. Umat Islam menghadapi penyakit dengan sabar dan terus mengingat Allah sebagai penggenggam takdir, melihat penyakit sebagai bagian dari rencana-Nya untuk umat-Nya. SIMPULAN Kesimpulan dari penelitian tentang Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di kalangan personil TNI AU di depo pemeliharaan Lanud Husein Sastranegara Bandung. PUMA dan tinjauan menurut agama Islam, menunjukkan bahwa dari 319 responden, 262 orang . ,1%) tidak berisiko mengalami PPOK dan dapat diberi edukasi mengenai gaya hidup sehat, sementara 57 orang . ,9%) terdeteksi berisiko dan memerlukan pemeriksaan spirometri. Dari segi kebiasaan merokok, 202 responden . ,3%) adalah perokok, dengan mayoritas . ,2%) berada di usia di bawah 29 tahun dan 83 orang . ,0%) mengonsumsi lebih dari 30 bungkus rokok per tahun. Mayoritas perokok . ,8%) menunjukkan keinginan untuk berhenti merokok, dengan rokok putih sebagai jenis yang paling banyak Junior Medical Journal. Volume 3. No. September 2025 E-ISSN-2964-4968 ,3%). Terdapat hubungan signifikan antara merokok dan gejala PPOK seperti sesak napas, batuk, dan pengeluaran dahak, dengan P-Value 0,000, sedangkan gejala yang sudah terdiagnosis menunjukkan hasil yang tidak signifikan (P-Value 0,. Dalam konteks hukum merokok, terdapat beragam pendapat, di mana MUI hukumnya makruh karena dampak negatif yang ditimbulkan. Pola hidup sehat yang dianjurkan dalam Islam, yang meliputi kebersihan jasmani dan rohani, serta praktik hidup sehat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, relevan dengan peningkatan kesehatan fisik dan mental. Saran dari penelitian ini mencakup perlunya penelitian lanjutan yang mempertimbangkan penggunaan metode yang lebih kampanye anti-merokok di kalangan personil TNI AU. Penelitian ini juga memiliki keterbatasan, seperti potensi kurang akuratnya jawaban responden akibat pengisian kuesioner daring dan kekhawatiran akan dampak jawaban terhadap karir mereka. DAFTAR PUSTAKA