Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. TATA KELOLA PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI 8 SRAGEN Hari Kusmanto1. Jamila1 Ilmu Pendidikan Bahasa. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Yogyakarta Corresponding author: harikusmanto. 2021@student. ABSTRACT This study aims to describe the governance of the school literacy movement program at Madrasah Ibtidaiyah. The approach of this study is descriptive qualitative. The data used in this study is the management process of the school literacy movement. The source of data in this study is the document and the process of implementing the school literacy program. The data in this study were collected using the methods of documentation, interviews, and observations. Analysis of the research data using an interactive model. The results of this study indicate that the governance of the literacy movement program in Madrasahs is as follows . First, the planning of the school literacy program has been carried out by setting the objectives of the school literacy movement program. However, the planning has not been based on needs analysis . the organization of the school literacy program has been carried out by organizing human resources and literacy reading materials. However, the organization carried out has not included every task and responsibility of each manager . the implementation of the school literacy movement program has been carried out in accordance with the plan. However, evaluation has not been carried out for each activity implementation and . the control carried out is still limited to ensuring that the Saturday reading program is carried out or not. Control to improve the quality of the program has not been carried The management of the school literacy movement program needs to be managed properly, starting from the strategic planning process, organizing by providing task descriptions, implementing the program in accordance with strategic planning, and continuous evaluation. Keywords: governance, literacy education, madrasas Diterima: 12 Maret 2022. Revisi: 6 Mei 2022. Dipublikasikan: 4 Juni 2022 PENDAHULUAN Tata kelola program gerakan literasi sekolah di tingkat madrasah belum berjalan secara Hal ini sesuai dengan temuan Hidayat. Basuki, and Akbar . gerakan literasi di SDN 2 Sitirejo dan SDN 4 Panggungrejo belum berjalan optimal karena terdapat faktor penghambat yang belum dapat diatasi. Permatasari . menemukan gerakan literasi di SD belum berjalan secara optimal karena penerapanya tidak dilakukan secara holistik. 62 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. Henawan. Syihabuddin, and Damaianti . bahwa program gerakan literasi yang berjalan kurang optimal karena pemahaman guru yang berbeda. Isu pendidikan literasi pada saat ini merupakan isu yang sedang banyak mendapatkan perhatian tidak hanya di tingkat nasional (Indonesi. , melainkan juga menjadi isu Beberapa negara yang sedang membahas isu pendidikan literasi ialah Filiphina. Fiji. Afrika Selatan. Ghana. Jamaika, dan beberapa negara lainnya (Trends. Pendidikan literasi di Indonesia juga mendapatkan perhatian yang cukup banyak. Beberapa provinsi di Indonesia yang memberikan perhatian yang lebih banyak terhadap literasi ialah Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Utara. Nusa Tenggara Barat, dan Aceh (Tredns, 2. Berdasarkan trends pendidikan literasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan literasi tidak hanya menjadi isu nasional, melainkan literasi menjadi isu internasional. Berdasarkan hasil publikasi yang telah dilakukan sebelumnya juga menunjukkan bahwa program gerakan literasi di madrasah belum berjalan secara optimal. Berikut ini publikasi yang menunjukkan bahwa gerakan literasi madrasah belum berjalan secara Craig and Allen . berfokus pada perubahan perilaku hemat energi melalui gerakan literasi belum berjalan secara optimal. Kurniawan et al . menemukan bahwa program gerakan literasi madrasah belum optimal. Hal ini disebabkan karena faktor rendahnya minat baca, waktu yang relatif singkat, minimnya bahan bacaan, pengaruh teknologi, dan faktor keluarga. Padahal program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada abad ke-21 ini sangat penting untuk diajarkan kepada peserta didik. Hal ini sebagai implikasi perkembangan IPTEKS. Selain itu, hal ini juga didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa implementasi kebijakan program literasi masih dirasa belum sesuai dengan perencanaan (Melyndez Rodryguez et al. , 2. rendahnya minat baca siswa (Abbott et al. Urgensi literasi tidak diimbangi dengan pengelolaan kebijakan yang baik (Robinson & V, 2. Berdasarkan publikasi tersebut menunjukkan bahwa program gerakan literasi sekolah belum berjalan dengan optimal. Temuan tersebut perlu mendapatkan respons yang tepat sehingga program GLS di Indonesia dapat diperbaiki supaya menjadi lebih baik dan tingkat literasi anak Indonesia juga menjadi lebih baik. Program GLS akan baik jika dikelola dengan baik. Dengan kata lain perlunya manajemen pendidikan literasi yang baik agar program GLS di Indonesia menjadi lebih baik. Hal ini didasarkan pada sejumlah temuan dan publikasi yang ada menunjukkan permasalahan gerakan literasi lebih condong pada permasalahan tata kelola atau manajemen program yang dilakukan kurang profesional. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Literasi pada era digital berkaitan dengan penggunaan TIK (Hong et al. , 2. Literasi adalah keterampilan kognitif dan sosial yang dimiliki individu untuk mengakses, memahami, dan bertindak berdasarkan informasi (Palumbo et al. Muscat et al. Kemampuan 63 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. literasi merupakan hal yang penting untuk dikuasai setiap orang Clemens. Ragan, and Widales-Benitez . Strang and Piasta . Rodriguez-Segura . Literasi dasar yang dikembangkan Indonesia meliputi literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital atau informasi, dan literasi kewarganegaraan dan budaya. Namun. GLS untuk tingkat SD lebih difokuskan pada luterasi baca tulis. Hal tersebut didasarkan pada tingkat pekembangan pada diri anak. Literasi membaca merupakan salah literasi yang yang dikembangkan di SD. Pengembangan model literasi membaca dan menulis dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada pembelajar membaca selanjutnya menulis hasil bacaan tersebut (Bridgewater, 2. Kemampuan literasi ini sangat erat kaitannya dengan bahasa, yakni kemampuan kosa kata, morfologi, ejaan, dan pemahaman membaca (Ecalle et al. Zhang 2. Program GLS di-desain harus sesuai dengan usia, kebutuhan, minat, sikap, dan keyakinan peserta (Vroman et al. , 2. Guru memiliki peranan penting dalam mengembangkan literasi nasional melalui pendidikan (Kalkan et al. , 2. GLS di SD memiliki dua tujuan, yakni tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum GLS di SD ialah untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam GLS agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Adapun tujuan khusus GLS di SD . Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar . Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca (Kemdikbud, 2. Guna mencapai tujuan tersebut pendidikan literasi di tingkat SD perlu dilakukan dengan baik melalui manajemen yang baik. Studi ini berkaitan dengan tata kelola program gerakan literasi. Tata kelola yang dimaksud dalam studi ini ialah berkaitan dengan fungsi-fungsi manajemen. Terdapat beberapa teori yang telahh dirumuskan oleh pakar berkaitan dengan fungsi-fungsi manajemen seperti Fayol . alam Wibowo, 2. Perencanaan. Pengorganisasian. Komando. Koordinasi, dan Kontrol. Alen . alam Wibowo, 2. Memimpin. Perencanaan. Pengorganisasian, dan Pengendalian. Terry . alam Wibowo, 2. perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Atmosudirdjo perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Kast . alam Wibowo, 2. perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian. Stoner & Wankel . Perencanaan. Pengorganisasian. Memimpin dan Pengendalian. Buuford dan Bedeian . alam Wibowo, 2. Perencanaan. Pengorganisasian. Staf dan Manajemen Sumber Daya Manusia. Memimpin dan Mempengaruhi, dan Pengendalian. Berdasarkan beberapa rumusan manajemen tersebut di atas, rumusan fungsi manajemen yang relevan untuk digunakan dalam studi ini adalah rumsan yang dinyatakan Terry dan Stoner yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. 64 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. Perencanaan merupakan proses merumuskan tujuan, cara mencapai tujuan, sarana yang dibutuhkan mencapai tujuan, dan menentukan indikator ketercapaian tujuan. Perencanaan diartikan sebagai suatu tindakan menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuantujuan itu Terry & Rue . Hal ini juga sesuai dengan yang dinyatakan yNetin . pada dasarnya perencanaan pendidikan ialah menetapkan tujuan program. Dalam konteks penelitian ini adalah perencanaan dilakukan dengan menetapkan tujuan program GLS. Lebih lanjut perencanaan juga dilakukan untuk menetapkan kompetensi yang akan dicapai melalui program yang telah ditetapkan (Ryewski et al. , 2. Pengorganisasian merupakan pola hubungan kerja sama yang menjelaskan siapa bertanggungjawab kepada siapa. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Stoner & Wankel . bahwa pengorganisasian sebagai suatu pola hubungan-hubungan yang melalui orang-orang di bawah pengarahan manajer untuk mencapai tujuan bersama. Pengorganisasian adalah suatu kerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sejalan dengan hal tersebut Terry & Rue . mendefinisikan pengorganisasian sebagai kegiatan mengelompokkan, menentukan berbagai kegiatan penting dan memberikan kekuasaan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan. Pelaksanaan merupakan proses dari fungsi manajemen perencanaan dan pengorganisasian yang telah dilakukan sebelumnya. Stoner & Wankel . mendefinisikan bahwa pelaksanaan merupakan tindakan komando, membimbing, memberikan petunjuk, dan mengarahkan untuk mencapai tujuan. Pengendalian merupakan pengukuran terhadap hasil pelaksanaan program apakah sudah dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan atau belum. Lebih lanjut pengendalian . didefinisikan sebagai pengukuran pelaksanaan dengan tujuantujuan, menentukan berbagai sebab penyimpangan-penyimpangan dan mengambil tindakan-tindakan kolektif yang diperlukan (Terry, 2. Berdasarkan uraian yang telah disajikan tersebut, yang menjadikan permasalahan adalah bagaimanakah tata kelola program gerakan literasi sekolah di madrasah? Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tata kelola program gerakan literasi di madrasah. METODE Pendekatan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif (Moodie, 2020. Banegas, 2020. Creswell, 2. Penelitian deskriptif kualitatif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan deskripsi data dan generalisasi teoritik mengenai tata kelola program gerakan literasi di SD. Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi, wawancara, dan observasi (Jamshed, 65 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen berupa perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan, dan evaluasi program gerakan literasi sekolah. Wawancara digunakan untuk menggali informasi berkaitan dengan proses pelaksanaan gerakan literasi di SD. Peneliti selama penelitian ini melakukan wawancara dengan pengelola program gerakan literasi di MI. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur dan wawancara mendalam . n-dept intervie. yang tidak hanya berpatokan pada daftar pertanyaan yang telah dibuat, akan tetapi pertanyaan juga dapat dikembangkan untuk menggali informasi yang lebih detail dan mendalam. Secara teknis, wawancara dilakukan secara langsung yakni dengan tatap muka maupun melalui telepon. Guna memfokuskan wawancara yang berlangsung dan tidak melebar pada masalah yang kurang berkaitan dengan topik penelitian ini, peneliti telah mengantisipasinya dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu mengenai topik yang akan ditanyakan kepada informan baik secara langsung maupun melalui telepon. Alat bantu yang digunakan peneliti untuk menghimpun data adalah perekam dan buku catatan. Observasi dilakukan melalui pengamatan terhadap proses pelaksanaan gerakan literasi di MI. Analisis data dalam penelitian ini menerapkan model analisis interaktif. Analisis interaktif menurut Miles et al. adalah suatu proses analisis yang memiliki tiga komponen, yaitu . reduksi data, . sajian data, dan . penarikan simpulan/verifikasi yang dilakukan secara simultan atau bersiklus. Dalam analisis interaktif ini, bergerak di antara ketiga komponen analisis tersebut dengan proses pengumpulan sampai pada tahap penarikan simpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini difokuskan pada fungsi manajemen program gerakan literasi sekolah di MI. Secara berurutan dibahas fungsi perencanaan program gerakan literasi, fungsi pengorganisasian gerakan literasi, fungsi pelaksanaan gerakan literasi, dan fungsi pengendalian program gerakan literasi. Berikut ini dipaparkan masing-masing fungsi manajemen tersebut. Perencanaan Program Gerakan Literasi Sekolah Perencanaan program gerakan literasi sekolah di MIN 8 Sragen dilakukan dengan menyusun tujuan program gerakan literasi sekolah. Hal ini sesuai dengan Purtilo-Nieminen et al. yang menyatakan bahwa pengelolaan pendidikan penting untuk menetapkan Selain menetapkan tujuan program gerakan literasi sekolah perencanaan juga dilakukan dengan mengorganisasikan pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program GLS. Dalam konteks ini kepala sekolah sebagai pihak pertama yang bertanggung jawab dan guru sebagai pelaksana program GLS di MIN 8 Sragen. Perencanaan juga disusun untuk menentukan pelaksanaan program GLS di MIN 8 Sragen. 66 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. Diagram 1. Perencanaan program GLS Fungsi Perencanaan Tujuan program GLS Penjadwalan kegiatan Menumbuhkan minat baca siswa supaya dapat memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Sabtu membaca, sudut baca siswa Sarana dalam mencapai Menyediakan bacaan literasi secara berkala setiap tahunnya. Perencanaan program GLS di MIN 8 Sragen sudah dilakukan. Namun, hal tersebut dilakukan belum maksimal karena dokumen perencanaan gerakan literasi sekolah disusun tidak berdasarkan pada kebutuhan. Padahal dalam merencanakan suatu kegiatan pendidikan akan lebih baik jika berbasis pada permasalahan (Alada et al. , 2. Dokumen perencanaan yang disusun hanya digunakan sebagai laporan program untuk akreditasi Dengan demikian dokumen perencanaan gerakan literasi hanya sebatas sebagai Perencanaan gerakan literasi di tingkat sekolah seharusnya menjadi panduan dalam pelaksanaan dan pengendalian gerakan literasi sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa fungsi perencanaan program GLS di MI belum berjalan dengan semestinya. Harusnya perencanaan menjadi pedoman atau panduan dalam pelaksanaan program GLS. Namun, bukan berarti perencanaan menjadikan suatu program Perencanaan juga perlu disusun secara fleksibel untuk menghadapi perubahan yang terjadi (Kazemier et al. , 2. Oleh karena itu perlu adanya pemahaman akan fungsi perencanaan program GLS di masa yang akan datang. Perencanaan yang selanjutnya berkaitan dengan penjadwalan kegiatan yang telah Penjadwalan yang telah direncanakan ialah, pelaksanaan kegiatan akan dilaksanakan setiap hari sabtu pada setiap minggunya. Estimasi waktu yang digunakan ialah 2 jam pembelajaran. Tempat pelakanaannya dilakukan di halaman sekolah atau di ruang kelas atau di sudut baca. Selain perencanaan menetapkan tujuan, dalam perencanaan yang juga penting merencanakan sarana dan prasarana yang mendukung tercapainya tujuan program yang 67 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. telah ditetapkan. Wibowo . Mas. Daud, and Djafri . sarana dan prasarana ini sangat penting dalam mendukung ketercapaian program. Perencanaan sarana dan prasarana yang dilakukan ialah menyediakan bahan bacaan literasi bagi setiap siswa yang dilakukan setahun sekali. Pengorganisasian Program GLS Pengorganisasian program GLS di MIN dilakukan dengan cara membagi setiap tugas kepada setiap orang yang bertanggung jawab untuk mengelola program GLS di MIN. Pengorganisasian merupakan hal yang penting untuk mengatur siapa bertanggung kepada Hasil temuan pengorganisasian program GLS di MIN disajikan pada tabel 2 di bawah ini. Diagram 2. Pengorganisasian Program GLS Pengorganaisasian Program GLS Pengorganisasaian SDM Pengorganisasian bahan Pengorganisasian sarana dan prasarana Program GLS dikelola oleh perpustakaan dan guru-guru yang terdapat di madrasah. Bahan bacaan dikelola oleh perpustakaan sekolah, setiap disesuaikan dengan jenjang kelas masing-masing. Penyiapan tempat pojok baca bagis siswa, halaman sekolah, dan perpustakaan sekolah. Berdasarkan diagram 2 pengorganisasian program GLS berkaitan dengan pengorganisasian SDM, pengorganisasian bahan bacaan program GLS, dan pengorganisasian sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan program GLS yang telah Penjelasan masing-masing fungsi pengorganisasian program GLS di madrasah disajikan di bawah ini. Pertama, pengorganisasian SDM program GLS dilakukan dengan melibatkan Maksudnya program GLS di madrasah diinternalisasikan dengan 68 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. perpustakaan sekolah. Pelibatan perpustakaan dalam gerakan literasi sekolah sebagai strategi untuk mengoptimalkan gerakan literasi sekolah (Fath et al. , 2. Sumber daya manusia perpustakaan di madrasah merupakan orang-orang yang memang benar kompeten sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. Adapun latar belakang pendidikan pengelola perpustakaan ialah sarjana dalam bidang pepustakaan. Penempatan seseorang dalam suatu fungsi manajemen merupakan hal penting dalam rangka mendukung tujuan program GLS yang telah ditetapkan dalam fungsi perencanaan. Selain pengelola perpustakaan penngorganisasian program GLS juga melibatkan guruguru kelas yang ada di lingkungan madrasah. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Wandasari . guna mendukung gerakan literasi sekolah perlu melibatkan seluruh warga sekolah. Pelibatan guru dalam program GLS ini merupakan hal yang penting karena pada dasarnya guru adalah orang yang paling dekat dengan siswa dalam konteks program GLS berbasis sekolah. Dengan demikian peran guru dalam program GLS ini tidak bisa Selain itu, guru sebagai fasilitator dalam program GLS. Selain itu, guru menjadi contoh bagi siswa dalam menumbuhkan minat baca siswa di tingkat madrasah. Kedua, pengorganisasian bahan bacaan program GLS telah dilakukan melalui koordinasi perpustakaan. Maksudnya semua bahan bacaan literasi berada di perpustakaan. Adapun jika siswa akan melakukan kegiatan literasi . abtu membac. ataupun akan membaca buku dapat meminjam di perpustakaan sekolah. Hal ini juga bertujuan supaya siswa terbiasa berkunjung ke perpustakaan. Setiap kegiatan literasi pengelola perpustakaan akan mendistribusikan bahan bacaan kepada siswa. Bahan bacaan yang didistribusikan sudah disesuaikan dengan jenjang kelas masing-masing. Pembagian bahan bacaan literasi ini didasarkan pada jenjang kelas rendah . elas 1,2, dan . dan kelas tinggi . elas 3,4, dan . Melalui distribusi yang dilakukan pengelola setiap siswa mendapatkan bahan bacaan literasi. Strategi pengelola untuk menghindari kebosanan siswa dalam membaca bahan literasi, maka pengelola selalu menambah koleksi perpustakaan. Penambahan bahan bacaan literasi dilakukan secara berkala dan rutin tahun sesuai dengan dana BOS. Adapun mekanismenya, pengelola akan mendata bahan bacaan literasi yang akan ditambahkan kemudian melaporkan kepada kepala sekolah. Selanjutnya kepala sekolah akan menindaklanjuti dengan bermusyawarah dengan guru-guru dan bendahara berkaitan dengan usulan bahan bacaan literasi. Adapun alokasi dana sesuai dengan hasil musyawarah yang dilakukan. Pengorganisasian sarana dan prasarana berkaitan dengan penyiapan tempat dan sarana pendukung lainnya. Sarana dan prasarana program literasi sekolah meliputi pojok baca siswa yang digunakan sebagai tempat bagi siswa ketika membaca bahan bacaan literasi. Selain pojok baca literasi juga disediakan perpustakaan yang memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap seperti meja, kursi, dan bahan bacaan. Selain itu halaman sekolah sebagai sarana dan prasarana untuk melakukan kegiatan literasi. 69 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. Pelaksanaan Program GLS Pada bagian ini akan disajikan hasil temuan penelitian ini berupa fungsi manajemen pelaksanaan program literasi sekolah. Fungsi manajemen pelaksanaan berkaitan dengan pelaksanaan sabtu membaca dan pembaharuan bahan bacaan literasi. Lebih lanjut disajikan pada tabel 3 di bawah ini. Diagram 3. Pelaksanaan Program GLS Pelaksanaan Program GLS Implementasi sabtu membaca Pengadaan bahan bacaan Implementasi sabtu membaca dilakukan setiap seminggu sekali dengan estimasi waktu 1-1,5 jam. Telah dilakukan setiap tahun dengan sumber dana BOS Berdasarkan diagram 3 pelaksanaan program GLS berkaitan dengan implementasi sabtu membaca dan pembaharuan bahan bacaan. Kedua hal tersebut merupakan hal yang penting dalam mencapai tujuan program literasi yang telah ditetapkan. Penjelasan masingmasing pelaksanaan program GLS disajikan di bawah ini. Pertama, fungsi pelaksanaan program literasi berkaitan dengan pelaksanaan sabtu membaca apakah sudah sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan dan kendalakendala yang dihadapi dalam pelaksanaan, serta bagaimana cara yang digunakan untuk mengatasi kendala tersebut. Implementasi sabtu membaca telah dilakukan dengan baik sesuai dengan perencanaan yang ditetapkan, yakni setiap hari sabtu jam pertama dan kedua semua siswa dan guru melakukan kegiatan literasi. Hal tersebut telah dilakukan dengan baik, pelaksanaannya dilakukan di halaman sekolah. Namun, terkadang juga dilakukan di kelas masing-masing sesuia dengan situasi dan kondisi. Secara umum implementasi sabtu membaca tidak mengalami kendala yang berarti. Kedua, pengadaan bahan bacaan literasi telah dilakukan sesuai dengan perencanaan yang ditetapkan, yakni pengadaan bahan bacaan dilakukan setiap setahun sekali dengan dana BOS. Hal ini merupakan langkah yang sangat baik, melalui pengadaan bahan bacaan secara berkala akan membuat siswa tidak bosan membaca. Hal ini berbeda dengan temuan 70 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. Sardani. Khairuddin, and Nasir . bahan bacaan menjadi kendala dalam implementasi gerakan literasi di SD. Mekanisme yang dilakukan ialah dengan cara pengelola perpustakaan mengusulkan bahan bacaan kepada kepala sekolah. selanjutnya kepala sekolah akan melakukan musyawarah dengan guru dan bendahara berkaitan dengan jumlah dana yang digunakan untuk menambah bahan bacaan literasi. Pengadaan bahan bacaan literasi secara umum tidak mengalami kendala. Pengendalian Program GLS Pada bagian ini akan disajikan hasil temuan penelitian ini berupa fungsi manajemen pengendalian program literasi sekolah. Pengendalian program merupakan sebuah kegiatan mengontrol hal-hal yang telah terjadi dalam program yang dilaksanakan dengan harapan agar pelaksanaan program tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Lebih lanjut disajikan pada tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Pengendalian Program GLS Fungsi Pengendalian Temuan Pengendalian sabtu membaca Memastikan semua siswa membaca bahan bacaan setiap hari sabtu sesuai jadwal yang telah Berdasarkan tabel 4 tersebut menunjukkan bahwa pengendalian yang dilakukan pengelola pada program literasi sekolah ialah dengan memastikan semua siswa pada hari sabtu membaca bahan bacaan yang telah diberikan. Untuk mengetahui hal tersebut guru meminta siswa untuk menyajikan hasil bacaan yang telah dilakukan sebelumnya di depan teman-temannya. Bagi siswa yang telah menyajikan hasil bahan bacaan di depan temantemannya akan mendapatkan hadiah. Adapun hadiah yang diberikan berupa buku, harapannya melalui hadiah yang diberikan buku siswa akan lebih gemar lagi dalam Pengendalian tata kelola program literasi sekolah di maradah memang belum dilakukan dengan baik. Harusnya pengendalian dilakukan secara periodik (Wicaksono & Roshayanti. Namun, dalam pelaksanaanya gerakan literasi tidak ada pengendalian secara Pengendalian meliputi fungsi perencanaan program literasi belum dilaksanakan, fungsi pengorganisasian program literasi,fungsi pelaksanaan program literasi belum dilakukan dengan baik. Padahal pengendalian merupakan hal penting dalam mengontrol apakah program yang telah ditetapkan dan dilaksanakan dapat mencapai tujuan program yang telah ditetapkan. PENUTUP 71 | Tata Kelola ProgramA. Kusmanto & Jamila Vol. : 62-75 Manajemen Pendidikan iC p-ISSN 1907-4034, e-ISSN 2548-6780 http://journals. id/index. php/jmp DOI: 10. 23917/jmp. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa tata kelola program literasi sekolah di madrasah dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, perencanaan program literasi sekolah sudah dilakukan. Akan tetapi dalam perencanaan belum didasarkan pada analisis kebutuhan. Kedua, pengorganisasian program literasi sekolah telah dilakukan dengan cara mengorganisasikan SDM dan bahan bacaan literasi. Akan tetapi pengorganisasian yang dilakukan belum mencantumkan setiap tugas dan tanggung jawab setiap pengelola. Ketiga, pelaksanaan program gerakan literasi sekolah telah dilakukan sesuai dengan perencanaan. Akan tetapi evaluasi belum dilakukan setiap pelaksanaan kegiatan. Keempat, fungsi pengendalian yang dilakukan masih terbatas pada pemastian program sabtu membaca dilakukan atau belum. Pengendalian untuk meningkatkan kualitas program belum dilakukan. Saran dalam penelitian ini ialah pertama, perencanaan perlu ditinjau kembali dengan melibatkan berbagai pihak yang berkaitan, seperti komite sekolah, orang tua, dan akademisi untuk merumuskan perencanaan program literasi sekolah. Selain itu, perencanaan program yang disusun berdasarkan analisis kebutuhan. Hal ini dapat digali melalui orang tua dan guru kelas yang bersangkutan serta siswa. Kedua, pengorganisasian program gerakan literasi sekolah yang telah disusun perlu ditambahkan guru-guru yang memiliki tanggung jawab dalam program literasi sekolah. selain itu, deskripsi tugas masing-masing perlu dijelaskan kepada setiap pengelola. Ketiga, pelaksanaan program perlu dievaluasi supaya ketercapaian program yang telah dilaksanakan dapat diketahui. Selain itu, evaluasi digunakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan program yang telah dilakukan. Keempat, pengendalian program perlu dilakukan untuk mengontrol setiap fungsi manajemen, mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan program literasi sekolah. DAFTAR PUSTAKA