Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Analisis Kebijakan Dan Penerapan Cencorship Pada Koleksi Di Perpustakaan Sekolah MAN 1 Tulungagung Nada Iffatul Ulya. Galuh Indah Zatadini Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung 1 nadaulya145@gmail. com, 2zatadini3110@gmail. ABSTRAK Perpustakaan merupakan pusat informasi, penelitian, dan sumber Perpustakan menyediakan informasi dalam bentuk koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya. Seiring perkembangan zaman, informasi tercipta dan berkembang luar biasa sehingga menyebabkan ledakan informasi. Banyak koleksi yang mengandung konten negatif di Sehingga penting untuk melakukan penerapan cencorship sebelum koleksi dilayankan, dengan maksud supaya koleksi yang dilayankan di perpustakaan setara dengan lingkungan sekolah. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui bagaimana kebijakan dan penerapan cencorship pada koleksi perpustakaan MAN 1 Tulungagung dan kendala yang dialami oleh Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, serta dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap 3 informan. Teknik analisa data memakai pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi dengan menguji kredibilitas Hasil penelitian menunjukkan pada perpustakaan MAN 1 Tulungagung kebijakan cencorship sudah ada, namun belum tertulis di perpustakaan. Penerapan cencorship dilakukan karena adanya temuan koleksi yang mengandung konten pornografi. Perpustakaan melakukan cencorship pada koleksi buku novel dengan genre percintaan. Proses cencorship pada perpustakaan MAN 1 Tulungagung dengan cara mengecek satu per satu perhalaman buku. Kendala yang dialami perpustakaan adalah tidak ada kebijakan tertulis mengenai cencorship serta kurangnya tenaga kerja di Kata Kunci: Kebijakan. Penerapan, dan Cencorship ABSTRACT Libraries are centers of information, research, and sources of knowledge. Libraries provide information in the form of collections that can fulfill the information needs of their patrons. Along with the times, information is created and developed tremendously, causing an information explosion. Many collections contain negative content in them. So it is important to apply censorship before the collection is served, with the intention that the collection served in the library is equivalent to the school environment. The purpose of this writing is to find out how the policy and application of cencorship in the MAN 1 Tulungagung library collection and the obstacles experienced by the library. This research uses qualitative methods. The data collection method uses observation, interviews. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 and documentation. Interviews were conducted with 3 informants. Data analysis techniques use data collection, data reduction, data presentation, and conclusion The data validity technique uses triangulation by testing the credibility of the data. The results showed that in the MAN 1 Tulungagung library, the cencorship policy already exists, but it has not been written in the library. The implementation of cencorship is carried out because of the findings of collections containing pornographic content. The library performs cencorship on novel book collections with romance genres. The cencorship process in the MAN 1 Tulungagung library is by checking one by one per page of the book. The obstacles experienced by the library are that there is no written policy regarding cencorship and the lack of manpower in the library. Keywords: Policy. Implementation, and Cencorship Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENDAHULUAN Perpustakaan menunjang kegiatan pendidikan di sekolah. Perpustakaan adalah sumber pengetahuan, penelitian dan informasi. Maka dari itu, perpustakaan sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran di tingkat Perpustakaan sekolah merupakan tempat belajar sepanjang hayat dimana siswa dapat memperoleh pengetahuan dan informasi (Umar, 2. Perpustakaan sekolah bukan hanya sekedar ruangan yang disuguhkan oleh pihak sekolah, tapi juga merupakan bagian dari kegiatan pendidikan. Perpustakaan sekolah harus bekerja berdasarkan visi dan misi sekolahan dengan menciptakan bahan pustaka yang berkualitas dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Koleksi perpustakaan bisa berbentuk koleksi cetak dan non cetak. Koleksi perpustakaan sekolah harus memenuhi kebutuhan pengguna Perpustakaan sekolah memberikan informasi yang berupa koleksi. Koleksi perpustakaan merupakan seluruh bahan perpustakaan baik yang lama maupun mutakhir dikumpulkan, diolah dan disimpan kemudian diberikan kepada pengguna perpustakaan guna pemenuhan keperluan mereka akan informasi (Hayati, 2. Melalui koleksi ini, pustakawan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pemustaka. Koleksi dapat memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Namun seiring waktu, informasi dibuat dan dikembangkan dengan cara yang sangat luar biasa. Ketika terjadi perkembangan pesat berbagai informasi, terjadilah ledakan informasi. Banyak bahan koleksi tercetak ataupun tidak tercetak mengandung unsur negatif. Sebelum menampilkan koleksi, pustakawan terlebih dahulu harus melakukan cencorship atau penyiangan, yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran informasi tanpa penyaringan atau penyeleksian yang bisa menyebabkan kesalahan yang serius. Cencorship memiliki tujuan untuk mendapatkan koleksi yang sesuai dengan keperluan pemustaka, dan bisa mendukung serta memberikan pengetahuan yang sesuai dengan lingkungan pengguna perpustakaan (Afifa & Dewi, 2. Perpustakaan harus menyajikan koleksi berupa informasi yang akurat agar koleksi yang tersedia tidak melanggar aturan pornografi, agama, ras, atau politik. Cencorship Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 pada perpustakaan sekolah pelaksanaanya sama dengan cencorship pada perpustakaan umum, yaitu menghalangi masuknya informasi yang berbahaya. Masih belum banyak perpustakaan sekolah yang menerapkan cencorship pada bahan koleksinya. Padahal cencorship penting untuk mendapatkan koleksi yang memenuhi kebutuhan yang bisa mendukung dan memberikan Koleksi perpustakaan sekolah harus disesuaikan dengan karakter penggunanya. Golongan pengguna perpustakaan sekolah mencakup guru, serta staf perpustakaan, dan siswa (Fadhli et al. , 2. Kegiatan cencorship pada perpustakaan sekolah merupakan kegiatan yang memiliki pengaruh yang besar mengenai koleksi apa saja yang dilayanankan di perpustakaan tersebut. Adapun pendekatan sensor McColvin pada Yunus Winoto . berpendapat bahwa ada dua pendekatan teori sensor adalah sebagai berikut: . Teori nilai, teori pengembangan koleksi dapat dilihat dari sudut pandang pustakawan dalam mengevaluasi pentingnya suatu informasi. Teori permintaan, teori pengembangan koleksi yang muncul atas permintaan pengguna. koleksi yang dipilih harus memenuhi keinginan pemakai perpustakaan. Menurut teori ini pustakawan memenuhi kebutuhan pemakai perpustakaan. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Lusiana Afifa & Athanasia, yang berjudul AuAnalisis Proses Seleksi dan Sensor Bahan Pustaka Pada Koleksi Fiksi di Perpustakaan SMP Negeri 21 SemarangAy. Penelitian dilaksanakan dengan berbagai metode pada kegiatan pengadaan bahan koleksi serta seleksi bahan koleksi fiksi lalu dilaksanakan proses sensor pada koleksi Proses sensor dilakukan dengan cara membaca isi koleksi. Proses sensor koleksi fiksi ini memperlihatkan bahwa koleksi fiksi yang tersedia tidak cocok dengan lingkungan sekolah, karena terdapat beberapa koleksi yang mempunyai gambar dan kalimat yang tidak sesuai untuk kalangan remaja (Afifa & Dewi. Penelitian lain dilakukan oleh Syifa Duhita Dewakanya, dengan judul AuKebijakan dan Penerapan Cencorship di Perpustakaan Sekolah Islam (Studi Kasus di Perpustakaan TK dan SD Insan Cendekia Madan. Ay. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan Sudah ada kebijakan sensor, tapi Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 tidak tertulis di perpustakaan. Penerapan cencorship ini dilakukan atas dasar keluhan dan komentar dari wali murid tentang koleksi perpustakaan. Perpustakaan ini menyensor beberapa buku yang mengandung konten sihir, roman, pahlawan super, mitos, cerita rakyat, legenda, dan komik Jepang, dan konten lain yang mengandung unsur agama non-Muslim dalam bentuk perayaan dan simbol (Dewakanya, 2. Perpustakaan MAN Tulungagung cencorship untuk bahan koleksinya, namun penerapan cencorship ini hanya dilakukan untuk beberapa koleksi perpustakaanya saja. Walaupun usia remaja sekolah menengah ke atas sudah dianggap mampu untuk menyaring informasi apa saja yang dapat digunakan, tetapi sensor terhadap koleksi-koleksi buku di perpustakaan harus tetap dilakukan. Cencorship di perpustakaan MAN 1 Tulungagung ini dilakukan untuk mencegah adanya informasi yang dianggap berbahaya ataupun tidak pantas untuk dilayankan di perpustakaan sekolah. Selain itu cencorship juga dilakukan untuk mendapatkan bahan koleksi yang sesuai dengan keperluan siswa yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan uraian permasalahan tersebut dapat dikatakan bahwa penerapan cencorship pada koleksi perpustakaan sekolah sangat penting untuk dilakukan, agar perpustakaan dapat melayankan bahan koleksi perpustakaan yang sesuai dengan lingkungan dan keperluan siswanya. Oleh sebab itu penulis tertarik meneliti. AuAnalisis Kebijakan dan Penerapan Censorship pada Koleksi di Perpustakaan Sekolah MAN 1 TulungagungAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kebijakan, penerapan cencorship pada koleksi di perpustakaan MAN 1 Tulungagung, serta kendala-kendala yang dihadapi oleh perpustakaan dalam penerapannya. METODE Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif Menurut Sugiyono . , penelitian kualitatif merupakan penelitian yang didasarkan pada hakikat post-positivisme, yang dapat dipakai untuk mempelajari kondisi alamiah, peneliti merupakan instrumen sentral, dalam metode akumulasi data yang dilaksanakan melalui triangulasi, sedangkan analisis data bersifat kualitatif, sehingga penelitian ini bersifat generalisasi. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Metode penelitian deskriptif menurut Sugiyono . mengacu pada penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mandiri keadaan satu atau lebih Oleh karena itu, penelitian kualitatif deskriptif yaitu metode penelitian yang mempunyai tujuan guna menggambarkan suatu keadaan dengan deskripsi berbentuk kalimat dengan menggunakan metode naturalistik. Alasan peneliti ingin mengetahui lebih dalam tentang kebijakan dan penerapan cencorship koleksi perpustakaan, dan peneliti dapat memperoleh informasi lebih mendalam melalui wawancara. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan Sumber data primer didapatkan langsung dari sumber asli . idak melalui perantar. untuk menjawab pertanyaan penelitian. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah 3 orang yaitu. 1 orang kepala perpustakaan dan 2 orang staf perpustakaan. Sedangkan sumber data sekunder didapatkan dari informasi berbagai sumber tertulis seperti buku, artikel ataupun jurnal, serta Teknik pengumpulan data yang dipakai yaitu observasi, wawancara. Observasi yang peneliti lakukan dengan mendatangi langsung lokasi penelitian kemudian peneliti melihat, mencatat, serta mengambil gambar untuk mendapatkan data yang sesuai. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah dengan menyiapkan instrumen menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur. Indikator yang digunakan adalah kebijakan, penerapan, dan kendala kepada 3 informan. Kegiatan wawancara yang dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada informan, yaitu kepala perpustakaan dan staf Dokumentasi yang peneliti gunakan adalah foto lokasi penelitian, foto koleksi perpustakaan, dan foto kepala perpustakaan serta staf perpustakaan saat meneliti di MAN 1 Tulungagung. Teknik analisa data yang dipakai adalah Model Miles dan Huberman yang melalui proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2. Pengumpulan data : Data yang didapatkan dari hasil observasi, wawancara, serta dokumentasi di lapangan. Data tersebut adalah segala sesuatu yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Proses ini dilakukan setelah peneliti mendapatkan informasi dari lapangan baik dari hasil Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 wawancara kepada informan, transkrip wawancara serta data-data pendukung penelitian untuk selanjutnya akan dipilih berdasarkan indikator penelitian. Reduksi data : data yang sudah didapatkan kemudian diklasifikasikan berdasarkan indikator penelitian, untuk kutipan hasil wawancara menggunakan inisial nama. Penyajian data : dalam penyusunan data ini dilakukan dengan cara memasukkan hasil peenelitian dalam bentuk paragraph berdasarkan indikator Penarikan kesimpulan : hasil transkrip wawancara yang telah di uraikan dan teori ke dalam bentuk paragraf. Uji keabsahan data dilakukan agar informasi yang diperoleh bersifat ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti menggunakan triangulasi teknik, yaitu pengujian kredibiltas yang dapat dimaknai sebagai verifikasi data atau informasi dari sumber yang berbeda dengan cara yang berbeda dan pada waktu yang berbeda. Menurut Sugiyono . , triangulasi teknis dilakukan untuk menguji kredibilitas data dengan cara memverifikasi informasi yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan angket. Triangulasi dilakukan guna mengetahui keabsahan informasi dari sumber data penelitian. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan menguji kembali tingkat kepercayaan informan yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 HASIL DAN PEMBAHASAN Kebijakan Cencorship pada Koleksi Perpustakaan Kebijakan yaitu seperangkat konsep dan prinsip yang dijadikan pedoman dan dasar perencanaan dalam pelaksanaan suatu kegiatan, manajemen dan sistem operasional. Secara garis besar, kebijakan mengacu pada jaringan keputusan atau urutan tindakan yang memberikan arah, koherensi dan kontinuitas. Dalam arti praktis, kebijakan dapat diartikan sebagai seperangkat peraturan, petunjuk, atau pedoman untuk mencapai kesepahaman (Andi & Gruntur, 2. Kebijakan pustakawan dan dasar penerapan cencorship di perpustakaan itu sendiri. Kebijakan tersebut memastikan bahwa keputusan yang dibuat tetap sejalan dengan tujuan organisasi. Kebijakan seleksi koleksi dibutuhkan dalam kegiatan penerapan cencorship karena pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh staf perpustakan didasarkan pada aturan atau kebijakan yang ada. Selain itu kebijakan dapat dijadikan acuan utama ketika terjadi konflik baik internal maupun eksternal antara para pihak perpustakaan (Fadhli et al. Perpustakaan MAN 1 Tulungagung belum memiliki kebijakan cencorship yang tertulis dan disahkan secara resmi. Namun dalam praktiknya cencorship sudah dilaksanakan. Supaya kebijakan penerapan cencorship pada koleksi perpustakaan dapat dilakukan secara teratur atau terarah, kebijakan cencorship harus dibuat secara tertulis. Tanpa adanya kebijakan yang tertulis, dapat menimbulkan kesalah pahaman antar staf perpustakaan hingga penerapan cencorship pada koleksi di perpustakaan tidak dapat berjalan dengan Hasil wawancara informan mengatakan bahwa: AuPerpustakaan ini belum ada kebijakan cencorship secara tertulis, tetapi kita tetap melakukan kegiatan pengecekan terhadap buku-buku. Seharusnya harus ada kebijakan secara tertulis untuk acuan SOP Karena tanpa adanya kebijakan yang tertulis, pelaksanaanya jadi kurang maksimalAy (M. H, 2. Hal yang disampaikan dari hasil wawancara tersebut tersebut sesuai Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 dengan pendapat yang dikemukakan oleh Deawakanya . Perpustakaan harus menyusun kebijakan pengembangan koleksi yang didasarkan pada visi, misi, dan tujuan perpustakaan, serta kebutuhan pengguna. Kebijakan ini dapat dibuat oleh kepala perpustakaan atau staf perpustakaan dan harus disetujui oleh kepala sekolah. Namun hal tersebut belum sesuai dengan kondisi pada perpustakaan MAN 1 Tulungagung yang belum memiliki kebijakan tertulis mengenai cencorship. Meskipun perpustakaan percaya bahwa cencorship sangat penting dilaksanakan untuk menghindari buku yang tidak memenuhi Kriteriaa perpustakaan dan tidak sesuai dengan kurikulum sekolah. Hasil wawancara informan mengatakan AuPerpustakaan sini memang belum ada kebijakan cencorship, namun untuk kedepannya rencananya ada kebijakan itu, tapi kita tetap melakukan kegiatan cencorship karena memang pernah menemukan buku yang tidak layak untuk dilayankan, yang tidak sesuai dengan kurikulum sekolah jugaAy (N. S, 2. Hal yang disampaikan dalam wawancara tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Fadhli, yaitu seorang pustakawan mempunyai tiga kedudukn dalam memenuhi tugasnya. Pertama sebagai ketua pengelola kurikulum. Artinya tidak berarti kurikulum yang ditetapkan diputuskan oleh pustakawan sekolah. Tapi pustakawan sekolah mempunyai peran dalam penyeleksian serta pengembangan koleksi perpustakaan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh sekolah. Kedua, sebagai ahli Peran ini memastikan pustakawan, sebagai ahli secara efektif menyediakan sumber informasi yang membantu semua warga sekolah dalam mengakses informasi yang mereka butuhkan berdasarkan keperluan Ketiga, sebagai manajer layanan informasi. Peran ini bermakna perpustakaan sebagai sumber daya yang menyediakan informasi dan pengetahuan bagi siswanya (Fadhli et al. , 2. Perpustakaan sekolah harus dapat memilih bahan sesuai dengan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 jenjang pendidikan dan kurikulum sekolah. Selain itu, perpustakaan sekolah harus mampu menjaga misi pendidikannya dengan mempunyai yang sesuai dengan lingkungan sekolah. Sekolah MAN 1 Tulungagung adalah sekolah berbasis Islam, oleh karena itu perpustakaan melakukan proses cencorship terhadap bahan koleksi di perpustakaan yang kurang sesuai dengan ajaran agama Islam. Penerapan Cencorship pada Koleksi di Perpustakaan Latar belakang perpustakaan sekolah MAN 1 Tulungagung dalam melakukan kegiatan cencorship karena adanya temuan buku yang mengandung unsur pornografi di dalamnya. Ada beberapa Kriteriaa dalam penyeleksian buku di perpustakaan, yaitu sebagai berikut: Isi buku. Bagian ini adalah patokan utama dalam melaksanakan penyeleksian buku ataupun publikasi lainnya. Isi buku yang hendak dipilih harus dikoreksi apakah sudah sesuai dengan Kriteriaa serta rancangan kebijakan pengembangan koleksi. Aspek pengarang. Kepengarangan meerupakan bagian yang perlu dipertimbangkan ketika menyeleksi buku. Aspek ini meliputi kredibilitas pengarang, relevansi dengan bidang ilmu atau keahlian buku yang ditulis, khususnya buku nonfiksi, sejarah pengarang dan lainnya. Penyajian. Staf pengolahan atau penyajian untuk menentukan apakah penyajian informasi yang terkandung dalam buku gampang diterima oleh pengguna nantinya. Edisi dan cetakan. Saat pengadaan koleksi, dianggap sangat penting untuk mempertimbangkan edisi dan cetakan terbaru. adanya edisi dan cetakan terbaru berarti terdapat perubahan kecil atau besar pada koleksi, sehingga perpustakaan harus memilih edisi dan cetakan yang baru. Tampilan umum. Harus diperhatikan mengenai ilustrasi buku, daftar bibliografi, deskripsi riwayat penulis, indeks, dan lain Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Tampilan fisik buku. Pustakawan harus mengevaluasi serta memperhatikan bagian umum fisik buku, seperti kualitas kertas, sampul buku, penjilidan, font, ukuran huruf (Fadhli et al. , 2. Cencorship yang dilakukan di perpustakaan MAN 1 Tulungagung diterapkan hanya pada koleksi buku novel saja, karena buku pelajaran dianggap aman dari konten negatif. Praktiknya perpustakaan MAN 1 Tulugagung melakukan cencorship terhadap koleksi buku dengan genre fiksi dengan tema percintaan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan yang mengatakan bahwa: AuPerpustakaan melakukan proses cencorship ini karena saya pernah menemukan buku novel yang tidak layak baca siswa sini karena ada konten pornografinya. Karena itu sekarang buku-buku novel baik yang koleksi baru ataupun lama harus dicek terlebih dahulu isinya, kalau buku pelajaran umum tidak ya, karena aman dari konten yang seperti ituAy (M. H, 2. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Reverend & William yaitu proses penyensoran bahan koleksi yang dianggap berbahaya beralasan guna menjaga para pembaca dari isi materi tersebut (Reverend & William, 1. Perpustakaan MAN 1 Tulungagung melakukan cencorship karena ingin melayankan buku-buku yang layak yang dapat dikonsumsi di lingkungan madrasah. Kegiatan penyeleksian koleksi bahan pustaka mempunyai tujuan sebagai berikut: Mendapatkan serta menyajikan koleksi bahan pustaka yang dibutuhkan untuk menunjang sistem pada instansi atau Mendapatkan serta menyajikan koleksi bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pemustaka atau pemakai perpustakaan. Mendapatkan serta menyajikan koleksi bahan pustaka yang berisikan bahan rekreasi juga hiburan. Melestarikan koleksi bahan perpustakaan terpenting yang mendeskripsikan perkembangan instansi utamanya seperti Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 laporan tahunan, serta resmi termasuk publikasi instansinya (Yulia & Sujana, 2. Adanya temuan buku yang mengandung unsur pornografi tersebut membuat staf perpustakaan harus berhati-hati dalam memilih koleksi untuk dilayankan di perpustakaan. Proses MAN Tulungagung yaitu dengan cara mengecek gambar atau isi materi secara cermat dengan memperhatikan satu persatu perhalaman buku novel dengan genre percintaan, baik koleksi baru ataupun lama, setelah itu staff perpustakaan akan mempertimbangkan apakah sudah sesuai berdasarkan gambar ataupun isi materi. Apabila sudah sesuai selanjutnya buku tersebut akan melalui proses pengolahan untuk kemudian dapat dilayankan di perpustakaan sekolah. Apabila terdapat buku yang tidak sesuai dengan Kriteriaa maka langkah selanjutnya yang dilakukan staf perpustakaan adalah menyimpan kembali buku tersebut di dalam gudang perpustakaan dan tidak akan dilayankan di perpustakaan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara informan mengatakan bahwa: AuProsesnya itu kita ngecek satu persatu per halaman buku, setelah buku kita cek langkah selanjutnya buku yang lolos seleksi akan melalui tahap selanjutnya yaitu tahap pengolahan, sedangkan buku yang tidak layak untuk dilayankan akan kami simpan digudang dan tidak akan dilayankan di perpustakaan iniAy (S. U, 2. Pernyataan tersebut sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Japheth A. Yaya, kegiatan yang bisa dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah penyensoran di perpustakaan yaitu sebagai beirkut: Memindahkan atau mengalihkan bahan koleksi perpustakaan Membuang atau menyingkirkan bahan koleksi perpustakaan Apabila pustakawan menemukan koleksi yang tidak pantas dapat segera membawanya untuk dipindahkan ke tempat yang lain Pustakawan dapat mmeberikan peringatan kepada pengguna pengguna perpustakaan terhadap koleksinya Pemberian label atau tulisan di dalam katalog (Yaya et al. , 2. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Perpustakaan MAN 1 Tulungagung belum seutuhnya melakukan teori Pihak perpustakaan hanya mengalihkan tempat koleksi buku yang tidak pantas tersebut ke dalam kardus kemudian disimpan di gudang perpustakaan sehingga buku-buku yang memang sudah disimpan tidak bisa dibaca atau dipinjam siswa. Sampai sekarang pihak perpustakaan tidak membuang koleksi yang tidak pantas tersebut secara langsung, pihak perpustakaan belum tahu langkah kedepannya buku tersebut akan Tetapi menurut kepala perpustakaan, buku-buku yang tidak layak untuk dilayankan di perpustakaan sekolah lebih baik disimpan atau Jika koleksi tersebut diberikan kepada perpustakaan lain, maka sama saja akan menebarkan informasi yang negatif. Kendala dalam Kebijakan dan Penerapan Cencorship Dalam perpustakaan MAN 1 Tulungagung dalam pelaksanaannya tidak selalu berjalan dengan lancar, pasti dalam pelaksanaannya terdapat kendala. Hasil wawancara dengan informan mengatakan: AuKalau kendalanya itu kita tidak punya pedoman cencorship secara sah dan tertulis, itu membuat staf perpustakaan merasa kesulitan karena dapat menyebabkan kesalah pahaman juga antar staf perpustakaanAy (M. H, 2. Belum adanya kebijakan cencorship secara tertulis tersebut tidak sesuai dengan Perka Perpustakaan Nasional RI Nomor 3 Tahun 2016, kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan adalah penjelasan yang tertulis mengenai kebijakan perpustakaan pada pengembangan koleksi yang Belum terdapatnya kebijakan ini mengakibatkan proses cencorship tidak berjalan dengan optimal. Untuk mengatasi kendala tersebut, perlu dibuat kebijakan secara tertulis mengenai cencorship pada koleksi di perpustakaan agar penerapan cencorship dapat berjalan sesuai dengan kebijakan yang ada. Selain itu, kendala yang dialami perpustakaan MAN 1 Tulungagung yaitu terbatasnya waktu dan tenaga kerja. Peran strategis perpustakaan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 dalam berbagai kegiatan terutama dalam kaitannya dengan literasi Pustakawan adalah istilah yang ditentukan dalam UU No. 43 2007 pasal 29 terkait dengan perpustakaan. Tenaga perpustakaan digambarkan sebagai dua golongan yaitu pustakawan serta teknisi perpustakaan. Kedua golongan tersebut bertanggung jawab atas tugas administrasi perpustakaan agar dapat memberikan layanan informasi optimal bagi pengguna. Sedangkan jumlah Staf perpustakaan MAN 1 Tulungagung hanya berjumlah 2 orang sehingga menyebabkan kegiatan pengelolaan di perpustakaan menjadi kurang maksimal. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan mengatakan: AuKendalanya diwaktu dan tenaga kerja yang kurang, karena memang bukunya itu banyak, dan kita ngeceknya ya memang harus satu persatu ya, jadi membutuhkan waktu yang lamaAy (N. S, 2. Untuk mengatasi kendala tersebut perlu adanya tambahan jumlah staf perpustakaan yang kompeten agar segala kegiatan perpustakaan dapat berjalan dengan maksimal dan efisien. Pendapat tersebut sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Hidayati Perpustakaan yang sempurna adalah perpustakaan yang dapat memenuhi standar tertentu seperti perpustakaan yang dapat memberikan layanan sesuai keinginan penggunanya, dapat memaksimalkan fungsinya sebagai fasilitas pendidikan, dapat mengimbangi perkembangan ilmu tekhnologi dan informasi, dapat dijadikan sumber pembelajaran bagi siswanya serta dapat menerapkan sistem otomasi di perpustakaan (Hidayati, 2. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENUTUP Simpulan Berdasarkan MAN Tulungagung, penerapan cencorship pada praktiknya sudah dilakukan. Namun masih belum terdapat kebijakan yang dibuat secara sah dan tertulis. Pada pengaplikasiannya pihak perpustakaan hanya menafsirkan sendiri koleksi apa saja yang dilarang untuk dilayankan karena adanya temuan koleksi yang tidak sesuai dengan Kriteriaa perpustakaan. Dalam penerapannya perpustakaan melakukan pengecekan pada buku koleksi novel dengan tema percintaan. Karena buku umum dianggap aman dari konten yang berbahaya. Proses cencorship pada perpustakaan MAN 1 Tulungagung adalah dengan cara mengecek atau melihat satu persatu buku novel baik yang baru ataupun yang lama. Apabila terdapat koleksi yang tidak sesuai, maka staf perpustakaan akan menyimpan koleksi tersebut ke dalam gudang dan tidak akan dilayankan di perpustakaan. Perpustakaan cukup kesulitan dalam melakukan kegiatan cencorship, karena keterbatasan waktu dan kurangnya jumlah tenaga kerja, karena memang banyaknya jumlah buku novel pada perpustakaan. Serta belum terdapatnya kebijakan mengakibatkan kurangnya koordinasi antar staf Saran Beberapa saran yang dapat diberikan oleh peneliti sebagai bahan masukan untuk pihak perpustakaan supaya pelaksanaan cencorship di perpustakaan MAN 1 Tulungagung dapat berjalan maksimal, antara lain: Pihak sekolah dan staf perpustakaan sekiranya melakukan koordinasi untuk memusyawarahkan, dan memutuskan mengenai kebijakan cencorship yang kemudian perlu dibuat secara sah dan tertulis. Penerapan cencorship hendaknya lebih dimaksimalkan agar tidak ada lagi koleksi perpustakaan yang kurang sesuai dengan lingkungan Menambah tenaga kerja perpustakaan yang profesional agar segala kegiatan di perpustakaan dapat berjalan dengan optimal. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 18 Nomor 1 Mei 2024 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 DAFTAR PUSTAKA