Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 33-40 Available online at: http://e-jurnal. org/index. php/JSMI Jurnal Sistem dan Manajemen Industri ISSN (Prin. 2580-2887 ISSN (Onlin. 2580-2895 Studi Pendahuluan Untuk Pengembangan Indeks Kesiapan Kerja Harian Yusuf Nugroho Doyo Yekti * Program Studi Teknik Industri. Fakultas Rekayasa Industri. Telkom University. Jl. Telekomunikasi No. Terusan Buah Batu. Sukapura. Dayeuhkolot. Bandung. Jawa Barat, 40257. Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A K Article history: Kecelakaan kerja merupakan masalah yang perlu diperhatikan dengan Jumlah kecelakaan kerja semakin bertambah, dan tingkat kematian sangat tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan indeks kesiapan kerja sebagai ukuran untuk memastikan bahwa semua pekerja berada dalam kondisi bugar, sehingga mampu bekerja secara efektif dan aman. Studi literatur telah dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu . penentuan stategi pencarian dan proses pencarian pustaka, . penetapan kriteria terhadap pustaka yang akan dimasukkan dan yang akan dikeluarkan. pengukuran kualitas pustaka, dan . penarikan kesimpulan. Eksperimen dijalankan dengan melibatkan empat orang, yang bekerja pada malam hari dan pagi hari. Hal yang diukur dalam eksperimen antara lain total waktu tidur, denyut jantung ketika istirahat, waktu reaksi dengan teknik PVT (Psychomotor Vigilance Tas. serta berat badan. Hasil penelitian adalah persamaan untuk mengukur indeks kesiapan kerja harian dengan mempertimbangkan tiga faktor, yaitu faktor kecukupan tidur, faktor gangguan siklus sirkadian, dan faktor individu. Indeks kesiapan kerja harian telah dikembangkan dalam suatu persamaan matematis. Nilai indeks tersebut memiliki korelasi yang kuat dengan pengukuran kesiapan kerja secara Hal tersebut menunjukkan bahwa pengukuran indeks kesiapan kerja harian dapat dipercaya karena memiliki kemiripan dengan perasaan kesiapan kerja yang dirasakan oleh pekerja. Received: April 24, 2018 Revised: July 18, 2018 Accepted: July 23, 2018 Kata Kunci: Indeks Kesiapan Kerja Harian Kecelakaan Kerja Psychomotor Vigilance Task A B S T R A C T Keywords: Daily Fitness For Duty Index Psychomotor Vigilance Task Work Related Accident *Corresponding Author Yusuf Nugroho Doyo Yekti E-mail: doyoyekti@telkomuniversity. Work related accident is a problem that needs to be considered seriously in Indonesia. The number of occupational accidents is increasing significantly from 96,314 in 2009 to 110,285 in 2015. The mortality rate in these cases is very high. This research aims to develop a daily fitness for duty index as a measurement to ensure that workers are able to work effectively and safely. Systematic literature review had been carried out through several stages, i. determination of searching strategy, and searching process, . determination of searching criteria, . quality control for literature, and . The experiment involved four participants. They divided into two groups: night shift workers and morning shift workers. Total sleep time, heart rate at rest, reaction time, and body weight were recorded during the The daily fitness for duty index has been developed that consider sleep sufficiency factor, circadian cycle misalignment factor, and individual The daily fitness for duty index has a strong correlation with subjective work readiness measurement. Therefore, it can be concluded that the daily fitness for duty index is trustworthy to measure fitness for duty. A 2018 Penerbit UNSERA. All rights reserved PENDAHULUAN Kecelakaan kerja merupakan masalah yang belum terselesaikan di Indonesia. Jumlah kecelakaan kerja semakin bertambah dari tahun 2009 hingga tahun 2015, seperti terlihat pada Gambar 1. Peningkatan jumlah kenaikan Yusuf Nugroho Doyo Yekti kecelakaan kerja rata-rata pertahun adalah 2,3% . , . Pola kenaikan jumlah kecelakaan kerja dipercaya akan semakin bertambah buruk pada tahun berikutnya, jika tidak terdapat perubahan cara berpikir dalam penanggulangan kecelakaan DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 33-40 Tingkat kematian pekerja di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara sekitar, seperti Singapura. Filipina. Malaysia, dan Thailand. Pada tahun 2011, data BPJS menunjukkan bahwa tingkat kematian pekerja . atality rat. di Indonesia adalah 21,6. Hal ini berarti terdapat 21 pekerja, dalam populasi 000 pekerja, telah meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Perbandingan tingkat kematian pekerja dapat dilihat pada Gambar 2 . , . Permasalahan ditanggulangi sesegera mungkin, dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing industri, serta memberikan perlindungan bagi pekerja terhadap risiko kecelakaan kerja. Gambar 1. Angka Kecelakaan kerja di Indonesia tahun 2009-2015 Gambar 2. Tingkat kematian tiap 100. 000 pekerja pada tahun 2011 Faktor manusia adalah faktor yang dominan dalam kecelakaan kerja . Sekitar 80% . , 85%-90% . , atau 88% . kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor yang terkait dengan Banyak penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan faktor dominan yang berkonstribusi terhadap kecelakaan kerja. DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Salah satu faktor manusia yang terkait dengan kecelakaan kerja adalah kesiapan kerja. Kesiapan kerja dapat diartikan sebagai kondisi fisik dan mental pekerja, yang memungkinan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh pemberi membahayakan diri sendiri, sesama pekerja, masyarakat sekitar, dan tidak merusak properti perusahaan . , . Kesiapan kerja berguna untuk mendeteksi risiko kecelakaan kerja, terutama pada kondisi yang diketahui muncul aspek-aspek yang terkait kelelahan kerja, seperti aspek gangguan tidur, aspek waktu terjaga, dan aspek siklus sirkadian . Kesiapan kerja perlu diukur untuk memastikan seluruh pekerja berada dalam kondisi bugar untuk melaksanakan tugas secara efektif, dan tidak melakukan aktivitas yang berbahaya bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar . , . Pengukuran kesiapan kerja dapat membantu pekerja untuk memperhatikan kesehatan dirinya sendiri, mendeteksi dan memperbaiki kondisi kerja, serta menghimpun data yang terkait dengan kondisi pekerja . Kesiapan kerja diukur ketika penerimaan pekerja baru, penempatan pekerja baru, ketika kembali bekerja setelah sakit dalam jangka waktu yang lama, adanya perilaku pekerja yang tidak normal, adanya perhatian pekerja terhadap kondisi kesiapan kerja diri sendiri, adanya laporan dari sesama pekerja mengenai kesehatan fisik dan kesehatan mental pada pekerja lain, adanya masalah kesehatan kerja yang menyebabkan penurunan kinerja, adanya perubahan sistem kerja yang signifikan, adanya suatu kebutuhan untuk memantau kondisi pekerja secara periodik . , . Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menghindari risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang ditimbulkan oleh pekerja yang berada dalam kondisi tidak bugar . Pekerja yang tidak bugar dianggap sebagai salah satu sumber bahaya yang harus diwaspadai . Faktor-faktor yang terkait dengan kesiapan kerja belum diketahui dengan baku. Beberapa literatur menyebutkan adanya perbedaan pada faktorfaktor yang berpengaruh terhadap kesiapan kerja. Kesiapan kerja ditentukan dari faktor kondisi kesehatan, kemampuan fisik, dan kapasitas Yusuf Nugroho Doyo Yekti Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 33-40 . Kesiapan merupakan kesesuaian antara kemampuan fisik dan tuntutan kerja fisik . Perbedaan pendapat tersebut mengakibatkan belum adanya suatu indeks yang dapat mengukur kesiapan kerja secara praktis dan obyektif. Teknik pengukuran kesiapan kerja sebenarnya sudah ada, misalnya pemberian sertifikat kesiapan kerja setelah . , keseimbangan tubuh . , atau fatigue calculator yang membutuhkan data waktu tidur ketika 48 jam sebelum kerja . Namun, pengukuran diyakini kurang membutuhkan waktu pemeriksaan yang cukup Penelitian pengembangan indeks kesiapan kerja sebagai ukuran untuk memastikan bahwa semua pekerja berada dalam kondisi bugar setiap hari, sehingga mampu bekerja secara efektif dan tidak keselamatan diri sendiri dan publik. Indeks ini dapat bermanfaat untuk mendeteksi pekerja yang layak bekerja atau tidak layak bekerja. yang tidak relevan untuk digunakan dalam eksperimen lanjutan, dengan jumlah partisipan yang lebih banyak. Meskipun demikian, hasil penelitian ini memberikan gambaran awal yang jelas, mengenai konsep pengukuran kesiapan kerja harian. Penentuan tujuan Eksperimen Studi literatur secara Analisis data dan uji Pengembangan model konseptual Penarikan kesimpulan Pengembangan model matematis METODE PENELITIAN Peneliti melakukan studi literatur secara sistematis dengan tata cara yang mengacu pada artikel dari Espita dkk . Langkahlangkah studi literatur tersebut terdiri dari: . penentuan stategi pencarian dan proses pencarian pustaka, . penetapan kriteria terhadap pustaka yang akan dimasukkan dan yang akan dikeluarkan. pengukuran kualitas pustaka, dan . penarikan kesimpulan terhadap data yang didapatkan. Penelitian dilanjutkan dengan eksperimen yang melibatkan empat orang responden berjenis kelamin laki-laki. Responden dipilih secara random, yang terdiri dari dua orang pekerja shift malam, dan dua orang yang bekerja di pagi hari. Semua partisipan memiliki berat tubuh diatas 70 kilogram. Usia Partisipan berkisar antara 26 hingga 38 tahun. Hasil penelitian ini tidak dimaksudkan untuk dijadikan generalisasi untuk populasi umum. Hasil penelitian ini berupa faktor-faktor relevan yang berkonstribusi pada kesiapan kerja, sehingga dapat mereduksi variabel-variabel Yusuf Nugroho Doyo Yekti Gambar 3. Langkah-langkah penelitian Data dianalisis dengan cara membandingkan pengukuran kesiapan kerja harian secara obyektif dengan pengukuran kesiapan kerja harian secara subyektif berdasarkan pengakuan Data kesiapan kerja diplot pada grafik yang menunjukkan perbedaan tingkat kesiapan kerja dengan kelelahan kerja. Waktu reaksi adalah salah satu indikator kelelahan syaraf dan indikator kinerja syaraf yang valid dan handal . , . Waktu reaksi adalah waktu yang diperlukan oleh partisipan untuk merespon stimulus yang muncul dengan satuan Stimulus berbentuk gambar yang muncul dengan interval yang acak selama 3 Waktu reaksi yang lambat, yaitu lebih dari 355 milisekon, menunjukkan adanya penurunan atensi sebagai bentuk gejala adanya kelelahan . Semakin banyak waktu reaksi yang lambat, maka seseorang dikatakan semakin lelah. Teknik PVT (Psychomotor Vigilance Tas. sudah banyak digunakan untuk mengukur kelelahan kerja, misalnya pada pekerja tambang . , . , teknisi DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 33-40 yang bekerja pada saat shift malam . , dan lain Kelelahan kerja dapat menyebabkan penurunan kemampuan mengolah informasi, dan penurunan kemampuan untuk bereaksi ketika berada dalam keadaan bahaya, sehingga kecelakaan kerja tidak dapat terhindarkan . berdasarkan model konseptual, terutama pada konstruk kesiapan kerja harian yang dipengaruhi oleh faktor kecukupan tidur, faktor gangguan siklus sirkadian, dan faktor individu. Faktor kecukupan tidur HASIL DAN PEMBAHASAN Studi literatur secara sistematis menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat tujuh faktor yang berkonstribusi terhadap kesiapan kerja, yaitu faktor konsumsi makanan, faktor waktu perjalanan, faktor kecukupan tidur, faktor adanya atau tidaknya gangguan siklus sirkadian, faktor individu, faktor lingkungan kerja, dan faktor Faktor-faktor berdasarkan kesesuaian dengan kondisi riil. Faktor- faktor lain seperti faktor konsumsi makanan, faktor waktu perjalanan, faktor lingkungan kerja, dianggap sebagai faktor yang dapat dikendalikan, karena asumsi sebagai berikut: faktor konsumsi makanan diasumsikan adalah terkendali, karena semua pekerja mendapatkan jenis makanan yang sama. Faktor waktu perjalanan diasumsikan sama, karena perusahaan biasanya menyediakan angkutan karyawan, atau pada perusahaan pertambangan biasanya menyediakan tempat penginapan bagi para pekerja di dekat lokasi Faktor diasumsikan adalah sama bagi pekerja di perusahaan yang sama. Faktor kesehatan biasanya menjalankan tes kesehatan ketika melakukan rekrutasi pekerja. Faktor konsumsi makanan, faktor lingkungan kerja, faktor waktu perjalanan, dan faktor kesehatan merupakan faktor-faktor yang diasumsikan tidak berubah dalam tempo harian. Peneliti berpendapat bahwa terdapat tiga faktor saja yang dapat berubah secara harian, sehingga cocok faktor-faktor berpengaruh terhadap kesiapan kerja harian. Model matematis yang dikembangkan dalam menghitung Indeks Kesiapan Kerja Harian. Indeks menentukan apakah seseorang berada dalam kondisi siap bekerja atau tidak setiap hari. Indeks Kesiapan Kerja Harian dapat digunakan untuk menentukan apakah seseorang diizinkan untuk bekerja atau tidak. Indeks tersebut dibuat DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Faktor gangguan siklus Kesiapan kerja harian Faktor individu Gambar 4. Faktor-faktor yang berkonstribusi terhadap kesiapan kerja harian Kerangka Model Matematis Indeks Kesiapan Kerja Harian dikembangkan dalam persamaan matematis. Peneliti menyimpulkan dari studi literatur bahwa kesiapan kerja harian merupakan fungsi dari faktor individu, faktor kecukupan tidur, dan faktor gangguan siklus sirkadian. IKH = f {(FI), (FKT), (FGS)} . Keterangan IKH : Indeks Kesiapan Kerja Harian : Faktor Individu FKT : Faktor Kecukupan Tidur FGS : Faktor Gangguan Siklus Sirkadian Ukuran kesiapan kerja yang dapat digunakan secara sementara adalah ukuran subyektif, yaitu mengukur tingkat kesiapan kerja harian berdasarkan persepsi dari pekerja. Tingkat kesiapan kerja dapat diukur secara subyektif AuBagaimana Saudara menilai tingkat kesiapan fisik Saudara sendiri?Ay. Partisipan diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut, dengan lima pilihan skala, yaitu high, good, average, fair, low . Lima skala tersebut dimodifikasi dengan cara menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian menambahkan persentase. Skala tersebut dirubah menjadi istimewa . %), baik . %), sedang . %), cukup . %), dan buruk . %). Perubahan tersebut bertujuan untuk mendapatkan skala yang dapat dipahami oleh penilaian dengan interval yang sama. Ukuran ini Oleh karena itu, ukuran obyektif Yusuf Nugroho Doyo Yekti Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 33-40 untuk menghitung indeks kesiapan kerja perlu Ukuran subyektif dan ukuran obyektif akan dibandingkan untuk mencari tahu apakah terdapat korelasi yang kuat diantara kedua ukuran kesiapan kerja tersebut. Korelasi yang kuat menandakan bahwa model matematis yang dikembangkan dapat lebih dipercaya untuk dijadikan ukuran kesiapan kerja secara obyektif. Faktor Individu (FI) didefinisikan sebagai nilai persentase yang menunjukkan perbandingan antara kemampuan individu untuk menghirup oksigen maksimum, dibandingkan dengan kemampuan terbaik suatu populasi tertentu. Populasi tersebut disesuaikan dengan konteks aktivitas pekerjaan yang sedang diteliti. Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah populasi pekerja tambang. Kemampuan pekerja tambang terbaik yang pernah dicatat sebesar 54 ml/Kg. Kemampuan individu dalam estimasi denyut jantung . Estimasi denyut pendekatan usia . FI = (VO2 maks individu/VO2 maks terbaik )*100% . VO2maks individu = 15 B ( HRmaks / HRist ) . HRmaks = 207 Ae 0,7 A . Keterangan FI : Faktor Individu (%) VO2maks individu :Kemampuan individu menghirup oksigen maksimum . l/Kg. VO2 maks terbaik :Kemampuan salah satu anggota populasi terbaik untuk menghirup oksigen maksimum . l/kg mi. VO2max adalah 54 ml/Kg*min . HRmaks : Denyut jantung maksimum . HRist : Denyut jantung ketika beristirahat . : Usia . : Berat badan (K. Faktor kecukupan tidur (FKT) diartikan sebagai perbandingan antara total waktu tidur dengan waktu tidur ideal. Total waktu tidur dapat dihitung dengan alat jam pintar, dengan satuan jam. Waktu tidur ideal adalah 7,5 jam, yang diketahui berdasarkan penelitian dari Ferrara dan Gennaro . Yusuf Nugroho Doyo Yekti FKT = ( TWT / 7,5 ) * 100% Keterangan FKT : Faktor Kecukupan Tidur (%) TWT : Total Waktu Tidur . Faktor gangguan siklus sirkadian (FGS) dirumuskan sebagai nilai seratus persen dikurangi dengan nilai peningkatan risiko kecelakaan kerja. Nilai relatif peningkatan risiko kecelakaan kerja diperoleh dari hasil penelitian Folkard dan Tucher . Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa ada peningkatan risiko kecelakaan kerja pada shift kerja sore dan shift kerja malam. Peningkatan risiko shift kerja sore adalah 18,3% lebih besar dari pada shift kerja Risiko kecelakaan shift kerja malam adalah 30,4% lebih besar daripada shift kerja pagi. FGS = . % Ae R) . Keterangan FGS : Faktor Gangguan Siklus Sirkadian : Nilai risiko kecelakaan kerja relatif Model Matematis Model matematis yang diusulkan dalam penelitian ini adalah Indeks Kesiapan Kerja Harian, dengan mempertimbangkan faktor individu, faktor gangguan siklus sirkadian, dan faktor kecukupan tidur. Model matematis yang diajukan menjadi rumus perhitungan indeks kesiapan kerja dapat dilihat pada Persamaan 7. IKH = {. Ae0,7A)/HRis. /54*100%} * [(TWT/7,. *100%] * . R) . Keterangan IKH : Indeks Kesiapan Kerja Harian (%) : Faktor Individu (%) FKT : Faktor Kecukupan Tidur (%) FGS : Faktor Gangguan Siklus Sirkadian (%) : Usia . : Berat badan (K. HRist : Denyut jantung ketika istirahat . TWT : Total Waktu Tidur . : Nilai risiko kecelakaan kerja relatif Kesiapan berdasarkan model matematis yang diajukan dalam penelitian ini. Model matematis tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah seorang pekerja dalam kondisi siap bekerja atau Model tersebut perlu untuk divalidasi. Validasi Eksperimen perlu dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 33-40 yang memengaruhi kesiapan kerja dengan Indeks Kesiapan Kerja Harian yang telah Selain itu, eksperimen juga perlu dilaksanakan untuk mengetahui hubungan antara Indeks Kesiapan Kerja Harian dengan variabel kelelahan kerja. Hasil pengukuran yang didapatkan adalah waktu tidur, berat badan, usia, dan tingkat kesiapan kerja secara subyektif. Lima puluh persen partisipan mendapatkan waktu tidur yang cukup, yaitu selama 7,5 jam. Sedangkan, setengah partisipan yang lain mengalami kekurangan waktu tidur. Setengah partisipan mengakui bahwa dirinya memiliki tingkat kesiapan kerja yang rendah, yaitu 50%. Tabel 1. Data waktu tidur, denyut jantung ketika istirahat, berat badan, dan tingkat kesiapan kerja secara subyektif Total Partis Waktu Ukuran Denyut Shift Jantung Berat Usia tingkat Kerja ketika Badan Istirahat kerja (%) Pagi Malam Pagi Malam bahwa Indeks Kesiapan Kerja Harian memiliki dasar yang kuat untuk digunakan lebih lanjut dalam proses penelitian ini, karena hasil pengukuran indeks tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan kesiapan kerja yang dirasakan oleh partisipan. Hasil eksperimen pendahuluan berikutnya adalah pengukuran kelelahan kerja dengan pendekatan waktu reaksi, setiap dua jam. Data tersebut ditampilkan pada Gambar 5. Hasil pengukuran menunjukkan kecenderungan bahwa partisipanpartisipan yang memiliki nilai Indeks Kesiapan Kerja Harian (IKH) di bawah 60% akan mengalami kelelahan hingga ambang batasnya. Kelelahan tersebut terjadi pada saat pertengahan jam kerja. Pekerja yang terpapar kelelahan merupakan pekerja yang berisiko mengalami kecelakaan kerja. Partisipan yang memiliki nilai IKH lebih besar dari 60% cenderung dapat mengatasi rasa lelah, sehingga dapat bekerja dengan baik hingga jam kerja selesai. Semakin tinggi indeks kesiapan kerja harian, maka semakin kecil kemungkinan pekerja mengalami kelelahan pada saat jam kerja. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah indeks kesiapan kerja harian, maka semakin besar kemungkinan pekerja terpapar kelelahan Nilai 60% merupakan nilai indeks kesiapan kerja minimum yang dapat digunakan sebagai nilai ambang batas penilaian bahwa pekerja layak bekerja. Tabel 2. Perhitungan Indeks Kesiapan Kerja Harian Indeks Faktor Faktor Kesiapan Partisi Faktor Gangguan Kecukupan Kerja pan Individu Siklus Tidur Harian Sirkadian (IKH) Korelasi antara pengukuran Kesiapan Kerja Harian berdasarkan pengukuran subyektif, dan pengukuran berdasarkan model matematis. Berdasarkan korelasi rho spearman, hubungan antara Indeks Kesiapan Kerja Harian dan pengukuran tingkat kesiapan kerja diketahui sebagai hubungan positif dan sangat kuat, dengan nilai 0,949. Korelasi ini menandakan DOI: http://dx. org/10. 30656/jsmi. Gambar 5. Plot data waktu reaksi berdasarkan Indeks Kesiapan Kerja Harian. KESIMPULAN Indeks kesiapan kerja harian telah berhasil dikembangkan untuk menilai bahwa seseorang layak bekerja atau tidak layak. Indeks kesiapan kerja harian dihitung berdasarkan faktor-faktor yang didapatkan dari studi literatur secara Yusuf Nugroho Doyo Yekti Jurnal Sistem dan Manajemen Industri Vol 2 No 1 Juli 2018, 33-40 Faktor-faktor mempengaruhi kesiapan kerja harian adalah faktor kecukupan tidur, faktor siklus sirkadian, dan faktor individu. Rumus perhitungan indeks kesiapan kerja adalah ditampilkan pada Persamaan VII. Indeks kesiapan kerja harian memiliki korelasi yang kuat dengan pengukuran kesiapan kerja secara subyektif. Hal tersebut kesiapan kerja harian dapat dipercaya, karena memiliki kemiripan dengan perasaan kesiapan kerja yang dirasakan oleh pekerja. Indeks kesiapan kerja harian yang rendah menunjukkan bahwa pekerja dapat mengalami kelelahan pada saat jam kerja. Kelelahan kerja dapat memicu adanya kecelakaan kerja. Nilai 60% merupakan nilai indeks kesiapan kerja minimum yang dapat sebagai nilai ambang DAFTAR PUSTAKA