BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Analisis Fosil Foraminifera Formasi Wonosari dan Formasi Oyo Pembentuk Morfologi Karst Gunung Sewu Bagian Timur Silmi Afina Aliyan1*. Vera Christanti Agusta2. Ayi Syaeful Bahri3 1Sains Informasi Geografi. FPIPS. UPI. Bandung. Indonesia 2Pusat Riset Iklim dan Atmosfer. Badan Riset dan Inovasi Nasional. Indonesia 3Teknik Geofisika. FTSPK. ITS. Surabaya. Indonesia Email: 1*aliyan. silmi@upi. (* : coressponding autho. AbstrakOe Gunungsewu merupakan salahsatu wilayah yang memiliki landscape karst terluas kedua di Indonesia. Keberagaman morfologi di wilayah perbukitan karst menjadikan wilayah ini menarik untuk diteliti terutama oleh para peneliti di bidang kebumian. Di wilayah barat ke arah Gunung Kidul pembentukan karst menghasilkan morfologi berupa bukit-bukit kerucut dan di wilayah timur kea rah Pacitan menghasilkan morfologi didominasi oleh pembentukan gua-gua vertical. Wilayah Pacitan masih terbatas mengenai informasi karakteristik batugamping yang menyusunnya termasuk juga mengenai fosil yang menyusun batugamping di wilayah ini. Makalah ini memaparkan mengenai keberagaman fosil foraminifera yang menyusun formasi Wonosari dan formasi Oyo. Perbandingan sampel dari dua formasi baik fosil planktonik maupun bentonik menunjukkan umur maupun lingkungan pengendapan pada kedua formasi ini. Keragaman fosil foraminifera yang terdapat pada dua formasi ini menginformasikan tentang tatanan umur di daerah karst Gunungsewu. Keberadaan fosil Groborotalia mayeri yang melimpah pada kedua formasi, terawetkan dengan baik menunjukkan bahwa karst daerah Pacitan ini terbentuk pada Miosen Tengah. Sementara itu, kehadiran fosil bentonik menunjukkan lingkungan pengendapan litoral hingga neritic dalam dari Formasi Wonosari dan Formasi Oyo. Kata Kunci: fosil, foraminifera, batugamping. Formasi Wonosari. Formasi Oyo AbstractOe Oe Gunungsewu is one of the areas that has the second largest karst landscape in Indonesia. The diversity of morphology in the karst hill area makes this area interesting for research, especially by researchers in the field of geology. In the western region towards Gunung Kidul the formation of karst produces a morphology in the form of conical hills and in the eastern region towards Pacitan produces a morphology dominated by the formation of vertical caves. The Pacitan area is still limited in terms of information on the characteristics of the limestones that make it up, including the fossils that make up the limestones in this area. This paper describes the diversity of foraminifera fossils that make up the Wonosari and Oyo formations. Comparison of samples from the two formations, both planktonic and benthic fossils, shows the age and depositional environment of these two formations. The diversity of foraminifera fossils found in these two formations provides a new perspective on the age order in the Gunungsewu karst area. The presence of abundant Groborotalia mayeri fossils in both formations, which are well preserved, indicates that the Pacitan karst area was formed in the Middle Miocene. Meanwhile, the presence of benthic fossils indicates a deep littoral to neritic depositional environment from the Wonosari Formation and the Oyo Formation. Keywords: fossil, foraminifera, limestobe. Wonosari Formation. Oyo Formation PENDAHULUAN Batuan penyusun morfologi karst memiliki komposisi yang menarik untuk dipelajari. Perbedaan komposisi kimia dan material penyusun akan menghasilkan pembentukan maupun pelarutan yang berbeda sehingga membentuk karakteristik karst yang khas di setiap jenis batugamping (Surono, 2009. Kurniandi, et al. , 2017. Almuzzaki, et al. , 2020. Bahri, et al. , 2. Wilayah Pringkuku. Kabupaten Pacitan masih merupakan bagian dari subzona Gunung Sewu dimana banyak ditemukan gua-gua vertical yang terbentuk akibat proses pelarutan batugamping (Bemmelen, 1. Bagian utara perbukitan karst Gunung Sewu berbatasan dengan fisiografi yang bervariasi dengan. Sedangkan pada bagian selatan berbatasan langsung dengan samudera Hindia dibatasi dengan morfologi gawir-gawir erosi di pesisirnya. Gunung Sewu dibatasi oleh Cekungan Baturetno dengan adanya lineament semisirkuler dengan arah umum barat laut-tenggara (Husein. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 216 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Foraminifera merupakan jenis organisme bersel tunggal bercangkang yang sebagian besar hidup di laut. Berdasarkan cara hidupnya foraminifera terbagi menjadi dua kelompok, yaitu. foraminifera planktonik yang hidup terapung di kolom air dan foraminifera bentik yang hidup menempel di dasar laut (Jurnaliah, et al. , 2. Foraminifera merupakan material yang penting bagi mereka yang ingin memahami perubahan lingkungan masa lampau. Studi paleooseanografi dapat memberikan informasi tentang parameter fisik, kimia, dan biologi yang pada gilirannya menjelaskan perubahan sirkulasi laut, sifat massa air, produktivitas laut, stratifikasi, dan kimia laut. Aplikasi terbaru termasuk penggunaannya sebagai indikator fenomena lain seperti pencemaran laut, kondisi lingkungan, atau perubahan permukaan laut di masa lalu (Kusuma, et al. , 2019. Salindeho, et al. Avong, et al. , 2022. Morard, et al. , 2022. Dong, et al. , 2023. Hendrizan, et al. , 2. Foraminifera bentik merupakan salah satu indikator yang dapat dinilai dan digunakan untuk menentukan paleoenvironment. Hal ini karena hewan bentik hidup di dasar laut dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Foraminifera bentik terdistribusi secara luas dalam ruang dan waktu geologi serta merespon dengan cepat perubahan ekologi, sehingga sangat baik digunakan untuk menentukan lingkungan. Setiap famili bentik memiliki karakteristiknya masing-masing, meliputi habitat, jenis substrat, pola makan, suhu, kedalaman, dan lingkungan (Murray, 2. Studi ini di titik beratkan pada bagian timur perbukitan karst Formasi Oyo dan Formasi Wonosari Gunung Sewu. Pringkuku. Pacitan dimana kedua formasi batuan tersebut merupakan dua formasi yang tersingkap dengan cukup baik sehingga menarik untuk diteliti. Peneliti terdahulu mengungkapkan bahwa Formasi Oyo berumur akhir Miosen Awal Ae Miosen Tengah tersusun oleh napal dan batupasir, sedangkan Formasi Wonosari memiliki umur Miosen Tengah - Miosen Akhir dan tersusun oleh berbagai jenis litologi batugamping seperti batugamping-terumbu, batugamping lempungan, batugamping tufan, batugamping pasiran, napal, batulempung hitam bergambut dan kalsirudit (Sjarifudin dan Hamidi, 1992 dalam (Kurniandi, et al. , 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk menidentifikasi aspek paleontologi meliputi kandungan fosil, umur serta lingkungan pengendapan batugamping Formasi Oyo dan Formasi Wonosari di bagian timur perbukitan karst Gunung Sewu Pringkuku. Pacitan. METODE 1 Lokasi dan Geologi Regional Wilayah Pringkuku berada di Kabupaten Pacitan merupaka lokasi penelitian terletak pada koordinat 110A56'57. 28" - 111A 4'36. 63" BT dan 8A 9'6. 35" - 8A15'25. 35" LS. Pada peta geologi, wilayah ini termasuk dalam Peta Geologi Regional Lembar Pacitan (Samodra & Gafoer, 1. dan Lembar Surakarta-Girintoro (Surono, 1. dengan skala 1:100. 000 (Gambar . Wilayah ini didominasi oleh perbukitan karst yang tersusun oleh batugamping Formasi Wonosari dan sebagian wilayah tersusun oleh batugamping Formasi Oyo. Pembentukan Karst di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh kondisi litologi dan curah hujan yang tinggi dibandingkan dengan wilayah kars Gunung Sewu di bagian barat, sehingga membentuk banyak luweng atau gua-gua vertical yang menjadi daya tarik wisata di kawasan ini. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 217 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Gambar 1. Geologi regional daerah penelitian dan penampang a-b . odifikasi Surono dan Samodr. Terdapat dua formasi batugamping yang menyusun daerah penelitian diuraikan di bawah ini secara berurutan dari satuan termuda sampai satuan tertua, yaitu: Formasi Wonosari (Tmw. Formasi Wonosari terbentuk pada Miosen Tengah hingga Miosen akhir, terdiri dari batugamping terumbu, batugamping mengeping, batugamping laminasi/berlapis, batugamping pasiran/berpasir, dan napal. Pembentukan Formasi Wonosari terjadi pada lingkungan laut dangkal menindih satuan konglomerat Formasi Nampol yang ada di bawahnya juga memiliki kontak menjemari dengan bagian atas dari batugamping Formasi Oyo. Ketebalannya diperkirakan lebih dari 800 m (Surono. Formasi Oyo (Tm. Formasi Oyo terbentuk pada akhir Miosen Tengah, tersusun atas batulanau gampingan, batugamping tufan, batupasir gampingan, batupasir tufan,napal pasiran dan napal tufan. Pembentukan Formasi Wonosari terjadi pada lingkungan laut dari zona neritik pinggir hingga tengah menutupi Formasi Nampol yang terdapat di bawahnya, sedangkan pada bagian atasnya menjemari dengan Formasi Wonosari. Ketebalan satuan ini lebih dari 200 m (Samodra & Gafoer, 1. Tabel 1. Stratigrafi barat dan timur Zona Pegunungan Selatan dari beberapa peneliti . umber: https://gprgindonesia. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 218 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Preparasi dan Analisis Sampel Pengambilan data lapangan dilakukan di daerah Pringkuku dan sekitarnya. Data yang diambil termasuk data singkapan, deskripsi megaskopis dan pengambilan handsampling batuan. Kemudian, pada data sampel dilakukan preparasi sampel batuan. Terdapat dua jenis metode preparasi, untuk sampel litologi yang keras dipreparasi menggunakan metode sayatan tipis untuk pembuatannya, yaitu dilakukan dengan cara memotong batu secara vertikal dan horizontal. Sampel batuan yang relatif lepas dipreparasi menggunakan metode residu, yaitu bila belum terurai sepenuhnya batuan ditumbuk perlahan, kemudian setelah lepas, sampel tersebut direndam kedalam larutan H2O2 yang memiliki konsentrasi 10%-15%, setelah itu dibilas, kemudian residu ditampung dalam saringan dengan ukuran 115, 60 dan 40 mesh. Kemudian, material residu yang tersisa dimasukkan ke dalam oven bersuhu A 40oC untuk dikeringkan. Analisis umur batuan dilakukan dengan mengidentifikasi fosil yang ditemukan kemudian penentuan umur kisaran menggunakan Zonasi Blow . untuk foraminifera planktonik dan Zonasi Adam . untuk foraminifera bentonik bentonik besar (Patriani, et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Wilayah Pringkuku didominasi oleh batugamping yang telah mengalami karstifikasi dan membentuk gua-gua vertikal. Batugamping tersebar di seluruh wilayah Pringkuku kecuali pada bagian ujung utara dan bagian tenggara wilayah kajian (Gambar . 1 Hasil Survey Lapangan Terdapat sepuluh daerah pengamatan dan dari keseluruhan lokasi pengamatan hanya lima sampel yang digunakan untuk dilakukan analisis fosil. Masing- masing dua sampel untuk batugamping tipe Packstone Formasi Oyo (S7 dan S. Wackestone Formasi Wonosari (S3 dan S. dan Boundstone Formasi Wonosari (S2 dan S. Pada singkapan batugamping Formasi Wonosari didominasi oleh batugamping terumbu, sehingga sampel yang didapatkan tidak banyak mengandung fosil foraminifera, baik planktonik maupun bentonik. S10 S S S S Gambar 2. Lokasi pengamatan dan pengambilan sampel batuan. Keterdapatan litologi packstone Formasi Oyo (S7 dan S. di lapangan tersingkap pada topografi yang cenderung datar di Desa Ngadirejan, bagian timur laut daerah penelitian, pada wilayah ini morfologi karst tidak berkembang seperti wilayah lainnya di Pringkuku. Kenampakan packstone di lapangan memiliki warna putih kuning keabuan dengan tekstur halus dan tidak sekeras batugamping lain di wilayah Pringkuku. Litologi wackestone Formasi Wonosari (S3 dan S. tersingkap sepanjang sungai Kali Klanden. Ds. Sugihwaras. Singkapan wackestone tersingkap dengan baik, terdapat banyak kekar yang membentuk fracture di lantai sungai. Kenampakan wackstone di lapangan memiliki warna putih kekuningan tekstur halus dan keras di lantai sungai. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 219 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 juga memiliki tekstur yang lebih loose pada dinding sungai, cermin sesar sebagian tersingkap pada dinding sungai. Litologi boundstone mendominasi morfologi daerah penelitian, membentuk perbukitan kerucut dan tersebar hampir di seluruh wilayah Pringkuku, dari bagian selatan (S. sampai timur (S. Kenampakan boundstone di lapangan memiliki warna putih kekuningan, berongga, sangat keras dan banyak ditemukan fosil terumbu karang dan moluska. Batugamping penyusun wilayah Pringkuku menghasilkan morfologi karst dengan banyak gua vertical, juga pola aliran sungai multibasinal, sehingga banyak sungai-sungai yang hilang dan muncul pada lembahan maupun doline di wilayah penelitian. 2 Hasil Analisis Laboratorium Hasil pengamatan dilakukan pada sepuluh sampel sayatan batuan dan residu. Empat sampel tidak mengandung fosil foraminifera namun mengandung sayatan fosil terumbu karang maupun moluska, yaitu kode sampel S1. S2. S5. S6 dan S8. Kelima sampel lainnya diidentifikasi untuk mendapatkan fosil penunjuk umur, yaitu foraminifera plangtonik dan penunjuk lingkungan pengendapan yaitu bentik dan bentonik besar. Berikut merupakan hasil pengamatan dari setiap Sampel Lime-Packstone Formasi Oyo (S7 dan S. Sampel batugamping Formasi Oyo menggunakan dua metode preparasi, yaitu sayatan tipis (S. dan residu (S. Hasil residu tersusun oleh fragmen batuan, mineral dan fosil foraminifera plangtonik dan bentonik kecil yang. Fosil plangtoniknya terdiri dari: Globorotalia mayeri yang melimpah dan terawetkan dengan baik. Fosil bentiknya terdiri dari: Quinqueloqulina pygmaea . Quinqueloculina seminulum. Amphistegina quoyii. Pleurostomella sp. dan Anomalinoides globolusus Hasil sayatan tipis menunjukkan hanya adanya pecahan moluska dan pecahan karang sehingga tidak dapat diidentifikasi lebih lanjut. Foraminifera Bentonik Quinqueloqulina pygmaea Reuss Quinqueloculina seminulum Linne Amphistegina dAoOrbigny Pleurostome lla sp. Nov Anomalinoides CHAPMAN and PARR Foraminifera Planktonik Globorotalia mayeri (CUSHMAN & ELLISOR) Gambar 3. Fosil Foraminifera pada sampel Lime-Packstone Formasi Oyo (S7 dan S. Klasifikasi dan determinasi berdasarkan: (Bolli, et al. , 1. (Loeblich & Tappan, 1. Sampel Lime-Wackestone Formasi Wonosari (S3 dan S. Sampel batugamping Formasi Wonosari menggunakan dua metode preparasi, yaitu sayatan tipis (S. dan residu (S. Hasil residu tersusun oleh fragmen batuan, mineral dan fosil foraminifera plangtonik dan bentonik kecil yang. Fosil plangtoniknya terdiri dari: Globorotalia obesa dan Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 220 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Globorotalia mayeri yang melimpah dan terawetkan dengan baik. Fosil bentiknya terdiri dari: Nonion subturgidum. Lenticulina suborbicularis. Amphistegina quoyii. Oolina globosa. Quinqueloculina seminulum dan Elphidium craticulatum. Hasil sayatan tipis menunjukkan adanya pecahan moluska dan fosil foraminifera bentonik yaitu Flosculinella sp. Foraminifera Bentonik Nonion subturgidum (CUSHMAN) Lenticulina (PARR) Amphistegina quoyii . AoOrbign. Oolina globosa (Montag. Quinqueloculina seminulum (Linn. Elphidium craticulatum (Fichtel & Mol. Foraminifera Planktonik Globorotalia obesa Bolli Globorotalia mayeri (Cushman & Elliso. Foraminifera Bentonik Besar Flosculinella sp Gambar 4. Fosil foraminifera pada sampel Lime-Wackestone Formasi Wonosari (S3 dan S. Klasifikasi dan determinasi berdasarkan: (Bolli, et al. , 1. (Loeblich & Tappan, 1. Sampel Lime-Boundtone Formasi Wonosari (S. Sampel batugamping Formasi Oyo menggunakan metode preparasi sayatan tipis. Hasil sayatan tipis menunjukkan adanya pecahan coral dan fosil foraminifera bentonik besar yaitu Flosculinella sp. yang melimpah. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 221 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Gambar 5. Fosil Flosculinella sp. pada sampel Formasi Wonosari di titik pengamatan S9 Deskripsi Fosil Dari lima sampel batugamping yang mengandung fosil terdapat sembilan keluarga foraminifera bentonik, dua keluarga foraminifera planktonic dan satu keluarga formanifera bentonik besar yang Berikut ini adalah deskripsi dari fosil foraminifera yang terdapat pada batugamping Formasi Oyo dan Formasi Wonosari di wilayah Pringkuku berdasarkan klasifikasi Loeblich & Tappan ( 1. Untuk analisis umur dan distribusi stratigrafi berdasarkan klasifikasi Harsono dkk . Foraminifera Bentonik Amphistegina quoyii dAoOrbigny Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Oyo maupun Formasi Wonosari dengan kode sampel S10 dan S4. Keterdapatan fosil relatif melimpah dan terawetkan dengan baik dari kedua sampel. Deskripsi fosil: Bentuk cangkang lenticular, memiliki kamar yang terputar ke arah dalam . , komposisi dinding cangkang calcareous. Lingkungan pengendapan: Litoral. Anomalinoides globolusus CHAPMAN and PARR Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Oyo dengan kode sampel S10. Keterdapatan fosil relatif melimpah dan terawetkan dengan baik dari dampel tersebut. Deskripsi fosil: bentuk cangkang polythalamus, komposisi dinding cangkang calcareous hyaline, cangkang trochospiral, sutura melengkung, aperture crecentice pada apertural face, ornamentasi smooth. Lingkungan pengendapan: Litoral. Elphidium craticulatum (Fichtel & Mol. Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Wonosari dengan kode sampel S4. Keterdapatan fosil relatif melimpah dan terawetkan dengan baik dari sampel tersebut. Deskripsi fosil: bentuk cangkang polythalamus, komposisi dinding cangkang calcareous, cangkang planispiral involute, sutura melengkung, aperture cribrate pada peripheral, ornamentasi limbate suture dan inflated. Lingkungan pengendapan: Litoral. Lenticulina suborbicularis (PARR) Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Wonosari dengan kode sampel S4. Keterdapatan fosil terawetkan dengan baik dan tidak hadir terlalu banyak dari sampel tersebut. Deskripsi fosil: Cangkang berbentuk cakram, bikonveks, kedua sisi simetris, peripheri menyudut dan dilengkapi dengan kell tipis, tersusun atas kamar-kamar yang tersusun planispiral involute, putaran agak menutup. sutura menonjol, melengkung. apertur berbentuk celah terletak peripheral dengan hiasan radiate. Lingkungan pengendapan: Neritik luar. Nonion subturgidum (CUSHMAN) Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Wonosari dengan kode sampel S4. Keterdapatan fosil terawetkan dengan baik dan tidak hadir terlalu banyak dari sampel tersebut. Deskripsi fosil: Cangkang polythalamus, komposisi dinding cangkang calcareous, cangkang planispiral involute, sutura melengkung, tersusun atas dua putaran, dengan banyak kamar pada putaran terakhir, membesar dengan cepat, aperture cresentic pada apertural face, ornamentasi smooth dan berpori halus. Lingkungan pengendapan: Neritik tengah. Oolina globosa (Montag. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 222 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Wonosari dengan kode sampel S4. Keterdapatan fosil relatif melimpah dan terawetkan dengan baik dari sampel tersebut. Deskripsi fosil: Cangkang monothalamus, komposisi dinding cangkang calcareous hyaline, cangkang berbentuk botol . alk-shape. , terminal aperture berbentuk bulat sederhana, ornamentasi Lingkungan pengendapan: Neritik dalam. Pleurostomella sp. Nov Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Oyo dengan kode sampel S10. Keterdapatan fosil terawetkan dengan baik dan namun tidak banyak dari sampel tersebut. Deskripsi fosil: Cangkang polythalamus. Komposisi dinding cangkang calcareous hyaline, cangkang elongate, uniserial, kamar mengembung. Aperture berbentuk tapal kaki kuda atau busur panah. Lingkungan pengendapan: Neritik luar. Quinqueloqulina pygmaea Reuss Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Oyo dengan kode sampel S10. Keterdapatan fosil relatif melimpah dan terawetkan dengan baik dari sampel tersebut. Deskripsi fosil: Cangkang polythalamus, komposisi dinding cangkang calcareous porselen, cangkang quinqueloquline, aperture terminal berbentuk single tooth, ornamentasi smooth. Lingkungan pengendapan: litoral. Quinqueloculina seminulum Linne Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Oyo maupun Formasi Wonosari dengan kode sampel S10 dan S4. Pada kedua sampel tersebut fosil hadir dalam jumlah yang relatif melimpah dan terawetkan dengan baik. Deskripsi fosil: Cangkang polythalamus, komposisi dinding cangkang calcareous porselen, cangkang quinqueloquline, aperture terminal berbentuk single tooth, ornamentasi smooth. Lingkungan pengendapan: neritic dalam. Foraminifera Planktonik Globorotalia mayeri Cushman & Ellisor Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Oyo maupun Formasi Wonosari dengan kode sampel S10 dan S4. Keterdapatan fosil relatif melimpah dan terawetkan dengan baik dari kedua sampel. Deskripsi fosil: Cangkang trochospiral sangat rendah, equator periphery lobulate, bagian tepi membundar, dinding cangkang berpori kasar, permukaan halus, kamar membundar, subglobular, terdiri dari tiga putaran, terdiri dari 5 putaran, pada putaran terakhir ukurannya bertambah. Sutura pada sisi spiral berbentuk melengkung hingga radial, umbilicus agak sempit. Aperture interiomarginal, umbilical, komposisi dinding cangkang Umur: N9-N13. Globorotalia obesa Bolli Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Wonosari dengan kode sampel S4. Pada sampel tersebut fosil hadir dalam jumlah yang cukup melimpah dan terawetkan dengan Deskripsi fosil: Cangkang trochospiral, berpori kasar, dengan pemukaan belubang, pada kamar awal mungkin sedikit berkerut kasar. Cangkang sangat tebal, terputar, berkisar dua hingga tiga putaran, secara umum terdapat empat kamar pada putaran terakhir, membesar sangat Sutura pada sisi spiral dan umbilicus berbentuk radial, tertekan. Umbilicus cukup lebar dan dalam. Aperture interiomarginal, extraumbilical-umbilical, dengan sudut menengah hingga tinggi, dibatasi oleh bibir yang ramping. Umur: N7-N18. Foraminifera Bentonik Besar Flosculinella sp Spesies ini ditemukan pada sampel batugamping Formasi Oyo maupun Formasi Wonosari dengan kode sampel S3. S7 dan S9. Pada ketiga sampel tersebut fosil hadir dalam jumlah yang relatif melimpah dan terawetkan dengan baik. Deskripsi fosil: Cangkang berbentuk cerutu, memiliki 2 baris chamberlet per kamar, hanya ada satu saluran yaitu preseptal canal, apertur tersusun dari 1 baris, septula tersusun secara bergantian, chamberlet sekunder terletak diatas chamberlet pertama. Umur: Upper (T. (Miosen Awa. Ae Lower (T. Miosen Tengah. Lingkungan : Laut Dangkal. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 223 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 Umur Miosen Tengah Umur Miosen Tengah atau pada Te5-Tf2 (Adam,1. ditunjukkan dengan kehadiran Globorotalia mayeri dan Flosculinella sp. Fosil yang menunjukkan umur tersebut terdapat pada kode sampel S3. S4. S7 dan S9. Pada kode sampel S4 ditemukan fosil foraminifera plaktonik Globorotalia mayeri yang melimpah, fosil ini menunjukkan bahwa sampel berumur tidak lebih tua dari N13 atau Miosen Tengah. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa Formasi Oyo memiliki umur Miosen Awal-Miosen Tengah dan Formasi Wonosari memiliki umur Miosen Tengah-Akhir. Hal ini ditegaskan dengan keberadaan fosil foraminifera planktonic pada sampel packstone Formasi Oyo (S. yang diamati berumur Miosen Tengah dengan kelimpahan fosil Globorotalia mayeri. Pada sampel Wonosari juga menunjukkan umur yang sama dengan Formasi Oyo, melimpahnnya keterdapatan fosil Globorotalia mayeri dan Flosculinella sp. menegaskan bahwa litologi penyusunnya baik wackstone maupun boundstone menunjukkan umur yang sama yaitu Miosen Tabel 2. Umur batugamping Formasi Oyo dan Formasi Wonosari Oligosen Formasi Batuan Formasi Oyo Formasi Wonosa Foraminife Planktonik Awa Awa Miosen Tengah Akhi Awal Tengah Akhir Globorotali a mayeri Globorotali a obesa Globorotali a mayeri Flosculinell a sp. Lingkungan Pengendapan Dari hasil pengamatan pada sampel batugamping Formasi Oyo menunjukkan bahwa fosilfosil yang melimpah merupakan spesies yang hidup di zona litoral seperti Quinqueloqulina pygmaea. Amphistegina quoyii. Anomalinoides globolusus. Sedangkan pada sampel batugamping Formasi Wonosari menunjukkan keberagaman fosil dari spesies dengan lingkungan litoral hingga neritik dalam seperti Amphistegina quoyii. Elphidium craticulatum. Oolina globosa dan Quinqueloculina seminulum, beberapa sampel sayatan yang digunakan pengamatan juga mengandung fosil terumbu karang dan koral. Menurut Boltovskoy & Wright . dalam (Jurnaliah, et al. , 2. Tabel 3. Lingkungan Pengendapan Formasi Oyo dan Formasi Wonosari Formasi Batuan Formasi Oyo Formasi Wonosari Litoral Foraminifera Bentonik <50m Dalam . Neritik Tengah . Luar . Dalam . Bathyal Tengah . Abysal Luar . >2000m Quinqueloqulina pygmaea Quinqueloculina seminulum Amphistegina quoyii Pleurostomella sp. Anomalinoides globolusus Nonion subturgidum Lenticulina suborbicularis Amphistegina quoyii Oolina globosa Quinqueloculina seminulum Elphidium craticulatum Zona litoral terletak di daerah intertidal yang memiliki kondisi lingkungan yang dipengaruhi pasang surut sehingga sangat dinamis. Perubahan lingkungan yang sangat cepat berarti bahwa hanya jenis foraminifera tertentu yang dapat bertahan hidup di zona tersebut, yaitu jenis foraminifera yang dapat bertahan terhadap perubahan kedalaman, suhu, dan faktor ekologis lainnya yang signifikan. Lingkungan ini ditandai dengan hadirnya jenis foraminifera seperti Quinqueloqulina pygmaea. Amphistegina quoyii. Anomalinoides globolusus dan Elphidium craticulatum. Silmi AA | https://journal. id/index. php/bullet | Page 224 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 216- 226 KESIMPULAN Keterdapatan dan kelimpahan fosil foraminifera planktonik Globorotalia mayeri dan Flosculinella sp menunjukkan bahwa fase pembentukan batuan karbonat di wilayah Pringkuku berumur Miosen Tengah. Hasil penemuan dari dua formasi batuan masing-masing menunjukkan kelimpahan fosil foraminifera planktonik Globorotalia mayeri pada Formasi Oyo dan Formasi Wonosari. Selain itu keterdapatan dan kelimpahan fosil foraminifera bentonik besar di Formasi Wonosari yaitu fosil Flosculinella sp menegaskan umur dan asosiasinya dengan keberadaan terumbu karang pada kawasan Karst Pringkuku. Berdasarkan keterdapatan beberapa fosil foraminifera bentonik dapat disimpulkan bahwa pada Formasi Oyo terjadi sedimentasi pada lingkungan lingkungan pengendapan paparan karbonat tertutup dengan kondisi air laut tenang sehingga terendapkan packstone dengan ditemukannya kelimpahan fosil bentonik yaitu Quinqueloqulina pygmaea. Amphistegina quoyii, dan Anomalinoides globolusus. Pada Formasi Wonosari lingkungan pengendapannya adalaha open marine platform. Pada kondisi ini terendapkan batugamping berjenis wackestone and boundstone yang di tegaskan dengan keberadaan fosil foraminifera bentonik yang melimpah pada sampel wackestone seperti Amphistegina quoyii. Elphidium craticulatum. Oolina globosa dan Quinqueloculina seminulum, juga keberadaan fosil foraminifera besar yang melimpah seperti Flosculinella sp. REFERENCES