p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin Muhammad Diva Almadani*. Sutarto Hadi. Kamaliyah Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia Email: diva. almadanibjm@gmail. Abstrak Dalam melakukan pengembangan PMRI perlu diketahui informasi pengguna yaitu guru, khususnya informasi terkait sejauh mana penggunaan dan kepedulian guru terhadap pendekatan PMRI. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat penggunaan dan kepedulian PMRI guru SD kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin. Tingkat penggunaan dan kepedulian dalam penelitian ini merupakan bagian dari Model Adopsi Berbasis Kepedulian atau Concern Based Adoption Model (CBAM). Penelitian deskriptif kuantitatif merupakan jenis dari penelitian ini. Adapun teknik pengambilan sampel penelitian adalah purposive sampling. Terdapat 4 sekolah yang tergabung, dimana sebanyak 33 guru menjadi responden dalam kuesioner semi terbuka dan tertutup tingkat penggunaan dan 39 guru menjadi responden dalam kuesioner tertutup tingkat kepedulian. Hasil dari penelitian menunjukkan, pertama, bahwa persentase tertinggi adalah tingkat yang menggambarkan keadaan di mana guru mengevaluasi kembali kualitas penggunaan PMRI, mencari modifikasi besar terhadap inovasi saat ini untuk mencapai dampak yang lebih besar pada siswa, dan memeriksa perkembangan baru di lapangan. Kedua, guru diidentifikasi ingin mengetahui lebih lanjut tentang PMRI, tapi tidak menjadikan PMRI sebagai satu-satunya perhatian, ketertarikan kepada PMRI dalam hal dampak hanya terhadap diri sendiri, dalam penerapannya lebih cenderung tertarik dengan melakukan kolaborasi, dan guru memiliki beberapa ide tentang pendekatan lain yang mungkin dapat bekerja lebih baik. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya program pelatihan berkelanjutan yang berfokus pada dampak PMRI terhadap hasil belajar siswa, serta pendampingan intensif bagi guru yang masih berada pada tingkat penggunaan awal. Hasil penelitian juga merekomendasikan perlunya kebijakan sekolah yang mendukung kolaborasi antar guru dalam mengimplementasikan PMRI secara Kata kunci: Pendekatan PMRI. Guru SD. Tingkat Penggunaan. Tingkat Kepedulian Abstract In developing PMRI, it is necessary to know the information of users, namely teachers, especially information related to the extent of teacher use and concern for the PMRI approach. This study aims to determine the level of use and concern for PMRI of elementary school teachers in grades I. II, and i in Banjarmasin City. The level of use and concern in this study is part of the Concern Based Adoption Model (CBAM). Quantitative descriptive research is a type of this research. The sampling technique for this study was purposive sampling. There were 4 schools that were included, where 33 teachers became respondents in the semi-open and closed questionnaires on the level of use and 39 teachers became respondents in the closed questionnaire on the level of concern. The results of the study showed, first, that the highest percentage was the level that described the situation in which teachers re-evaluated the quality of PMRI use, sought major modifications to current innovations to achieve greater impact on students, and examined new developments in the field. Second, teachers were identified as wanting to learn more about PMRI, but not making PMRI their sole concern, being interested in PMRI in terms of its impact only on themselves, in its implementation tending to be interested in collaboration, and teachers having some ideas about other approaches that might work The implications of this research indicate the need for ongoing training programs focused on the impact of PMRI on student learning outcomes, as well as intensive mentoring for teachers still at the initial level of use. The results also recommend the need for school policies that support collaboration among teachers in optimally implementing PMRI. Keywords: Indonesian Realistic Mathematics Education Approach. Elementary School Teacher. Levels of Use. Stages of Concern Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin PENDAHULUAN Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang telah lama berada di Indonesia. Hal ini dimulai dari Prof. Dr. Sembiring dan Drs. Pontas Hutagalung yang membawa gagasan pendidikan matematika realistik kemudian disampaikan kepada R. Soedjadi. Suryanto. ET Ruseffendi, dan Yansen Marpaung, sebagai pakar pendidikan matematika di Indonesia (Hadi, 2. Model Adopsi Berbasis Kepedulian (Concern Based Adoption Model/CBAM) merupakan kerangka teoretis yang dikembangkan oleh Hall. George, dan Rutherford pada tahun 1970-an untuk memahami bagaimana individu dan organisasi mengadopsi dan mengimplementasikan inovasi pendidikan (Hall et al. , 2. CBAM memiliki tiga dimensi utama: Stages of Concern (SoC) yang mengukur tingkat kepedulian pengguna terhadap inovasi. Levels of Use (LoU) yang mengidentifikasi tingkat penggunaan inovasi, dan Innovation Configuration (IC) yang menggambarkan variasi implementasi inovasi. Kerangka CBAM telah banyak digunakan secara global untuk mengevaluasi implementasi berbagai inovasi pendidikan, mulai dari integrasi teknologi, kurikulum baru, hingga pendekatan pembelajaran inovatif di berbagai negara seperti Amerika Serikat. Korea Selatan. Yordania, dan negara-negara lainnya (Kim & Lee, 2020. Matar. Lee et al. , 2. Penggunaan CBAM dalam konteks implementasi PMRI memberikan kebaruan karena memungkinkan pemetaan sistematis terhadap kondisi aktual guru dalam mengadopsi pendekatan ini, sehingga dapat dirancang intervensi yang lebih tepat sasaran (Candra, 2. Pada tanggal 20 Agustus 2001 di Gunung Tangkuban Perahu. Jawa Barat, secara resmi dideklarasikan PMRI sebagai nama dari gerakan ini. Bahkan sejak tahun 2006. Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Kota Banjarmasin menjadi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang membantu guru dalam diseminasi PMRI. Pengembangan PMRI dilakukan dengan beragam rangkaian workshop khususnya di Kota Banjarmasin (Hadi, 2. Hampir 23 tahun PMRI berada di Indonesia dan hampir 18 tahun PMRI berada di Kota Banjarmasin. Beragam kajian dengan beragam hasil telah Diantara kajian mengenai PMRI adalah model pembelajaran ini mampu mendorong partisipasi aktif siswa (Hadi, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad. Slettenhaar dan Plomp juga menunjukkan bahwa dalam PMRI siswa berpikir aktif (Arsaythamby & Zubainur, 2. Selain meningkatkan partisipasi aktif siswa. PMRI memiliki banyak keunggulan. Munir dan Sholehah . melakukan pengkajian PMRI dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Hasil dari pengkajian tersebut, mereka menemukan bahwa PMRI cocok digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada pelbagai level sekolah. Kemampuan pemecahan masalah merupakan bagian dari keterampilan berpikir kritis yang sangat perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika (Kintoko dkk, 2. Meskipun PMRI telah menunjukkan berbagai keunggulan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan (Wijayanti & Suswandari, 2. Jika PMRI berkembang secara maksimal, maka semua keunggulan dari PMRI seperti yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Yuniawatika, dkk . mengadakan sebuah kajian perkembangan PMRI di Bandung Raya di mana perkembangan PMRI dapat dilihat dari banyaknya penggunaan PMRI di sekolah, pelatihan, seminar, dan penelitian mengenai PMRI, serta adanya dukungan dari pemerintah terhadap PMRI. Mereka mendapatkan hasil bahwa PMRI Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Muhammad Diva Almadani*. Sutarto Hadi. Kamaliyah belum berkembang secara maksimal. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan . antara potensi PMRI sebagai pendekatan pembelajaran yang efektif dengan realitas implementasinya di lapangan. Bantuan-bantuan dalam mengembangkan PMRI tidak boleh hanya sekadar bantuan tanpa adanya tujuan. Semua bantuan haruslah mampu menjadikan penerapan atau implementasi yang dilakukan oleh guru selaku pengguna dapat menghasilkan dampak pada siswa. Agar penggunaan PMRI dapat menghasilkan dampak pada siswa perlu adanya gambaran mengenai sejauh mana dan seberapa besar minat guru dalam menerapkan pendekatan PMRI. Hingga saat ini, penelitian yang secara spesifik mengkaji tingkat penggunaan dan kepedulian guru terhadap PMRI menggunakan kerangka CBAM masih sangat terbatas, terutama di konteks pendidikan dasar Indonesia (Matar, 2. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada efektivitas PMRI terhadap hasil belajar siswa (Maghfiroh et al. , 2021. Pebriana, 2. , namun belum banyak yang mengeksplorasi perspektif guru sebagai implementator utama pendekatan ini. Padahal, memahami tingkat penggunaan dan kepedulian guru merupakan langkah fundamental dalam merancang program pengembangan profesional yang efektif dan berkelanjutan (De Lisle & Harry. Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi aktual implementasi PMRI dari sudut pandang guru, yang selanjutnya dapat menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan dan penyusunan program pelatihan yang lebih tepat sasaran (Zulvira et al. , 2. Berdasarkan hal tersebut, penelitian mengenai informasi pengguna PMRI sangat perlu dilakukan terlebih dalam hal penggunaan dan minat guru mengenai PMRI. Di sisi lain, masih sedikitnya pengkajian mengenai hal ini menjadikan penelitian ini memiliki urgensi tinggi, khususnya untuk konteks Kota Banjarmasin yang telah lama menjadi salah satu pusat diseminasi PMRI. Sehingga penelitian ini mengangkat tajuk "Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin". METODE PENELITIAN Penelitian "Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin" merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode penelitian ini merupakan salah satu diantara banyaknya metode penelitian dengan capaian untuk mendeskripsikan peristiwa yang ada berlangsung saat ini atau peristiwa dimasa lampau (Sukmadinata, 2. Metode penelitian ini didasarkan pada panduan penggunaan dimensi tingkat penggunaan dan tingkat kepedulian CBAM. Subjek penelitian ini adalah guru SD kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin dan objek penelitiannya adalah tingkat penggunaan dan kepedulian terhadap PMRI. Selama bulan September hingga Desember tahun 2024 penelitian ini dilaksanakan. Adapun tempat peneliti dalam melakukan penelitian ini di SD Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Populasi penelitian ini adalah guru SD di Kota Banjarmasin yang terdiri dari 260 SD dengan total 3. 390 guru yang tersebar dalam 5 wilayah kecamatan. Teknik penarikan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Teknik ini merupakan penentuan sampel penelitian melalui suatu peninjauan atau pertimbangan (Sugiyono, 2. Pertimbangan dalam penentuan sampel ini adalah untuk mengukur sejauh mana implementasi tingkat penggunaan dan kepedulian PMRI, sehingga diperlukan sampel yang pernah terlibat dengan PMRI. Oleh sebab itu, peneliti menentukan 4 sekolah sebagai sampel penelitian yaitu SD Islam Sabilal Muhtadin. SD Islam Terpadu Al-Firdaus. SD Negeri Antasan Besar 7, dan SDN-SN Pasar Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin Lama 1. Keempat sekolah ini pernah terlibat dalam diseminasi PMRI melalui kegiatan workshop, program Quality Boost, dan Program Organisasi Penggerak (POP). Tabel 1. Banyaknya Sampel Tingkat Penggunaan Nama Sekolah SD Islam Sabilal Muhtadin SD Islam Terpadu Al-Firdaus SD Negeri Antasan Besar 7 SDN-SN Pasar Lama 1 TOTAL Kelas I Kelas II Kelas i Total Penelitian ini menggunakan kuesioner semi terbuka dan tertutup dalam mengukur tingkat penggunaan dan kuesioner tertutup dalam mengukur tingkat kepedulian. Pertanyaan pada kuesioner semi terbuka dan tertutup tingkat penggunaan dan pernyataan pada kuesioner tertutup tingkat kepedulian didasarkan pada pedoman penggunaan dimensi CBAM (Hall dkk, 2013 dan George dkk, 2. Kuesioner semi terbuka dan tertutup tingkat penggunaan berisikan data kualitatif yang digunakan untuk memasukkan responden ke dalam kategori tingkatan-tingkatan pada tingkat penggunaan. Adapun kuesioner tertutup tingkat kepedulian terdiri dari 35 pernyataan yang akan diberi skor oleh responden dari skala 0 sampai dengan 7, dimana 0 menunjukkan "Tidak Sesuai" dan 7 menunjukkan "Sangat Benar Untuk Saya Saat Ini". Setiap pernyataan mewakili suatu tingkat dan setiap tingkat memiliki 5 pernyataan yang mewakili tingkatan tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan pada 4 SD Kota Banjarmasin yaitu SD Islam Sabilal Muhtadin. SD Islam Terpadu Al-Firdaus. SD Negeri Antasan Besar 7, dan SDN-SN Pasar Lama 1. Untuk mengukur tingkat penggunaan PMRI dilakukan pemberian kuesioner semi terbuka dan tertutup dengan sebanyak 33 dari 45 guru turut serta menjadi responden. Sedangkan dalam mengukur tingkat kepedulian PMRI dilakukan pemberian kuesioner tertutup dengan sebanyak 39 dari 45 guru tergabung dan turut menjadi responden. Tingkat Penggunaan PMRI Jumlah seluruh responden kuesioner semi terbuka tingkat penggunaan adalah sebesar 33 responden. Sebanyak 6 dari 33 responden atau sebesar 18,18% menyatakan diri sebagai bukan pengguna PMRI. Adapun sebanyak 27 dari 33 responden atau sebesar 81,82% menyatakan diri sebagai pengguna PMRI. Responden yang menyatakan diri sebagai bukan pengguna teridentifikasi masuk pada kategori tingkat 0. I, atau II. Adapun responden yang menyatakan diri sebagai pengguna teridentifikasi masuk pada kategori tingkat i. IV A. IV B. V, atau VI pada tingkat penggunaan. Ikhtisar sebaran tingkat penggunaan ditunjukkan dalam Tabel 2 berikut. Tabel 2. Ikhtisar Sebaran Tingkat Penggunaan Tingkat Penggunaan i IV A IV B Jumlah Banyaknya 9,09 9,09 24,24 6,06 18,18 33,34 Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Muhammad Diva Almadani*. Sutarto Hadi. Kamaliyah Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa sebanyak 3 responden . ,09%) berada pada tingkat 0 yang menggambarkan keadaan di mana guru memiliki sedikit atau tidak sama sekali pengetahuan mengenai PMRI. Guru pada tingkat ini didapati belum mengenal pendekatan PMRI, seperti prinsip-prinsip dasar PMRI, tidak mengetahui manfaat, kegunaan, dan tujuan dari pendekatan PMRI. Hal ini selaras dengan temuan Matar . bahwa individu pada tingkat 0 tidak mampu menjelaskan kegunaan dan tujuan suatu inovasi pendidikan. Tingkat 0 juga mengindikasikan bahwa guru tidak terlibat dengan PMRI dan tidak melakukan apapun untuk terlibat. Ketika guru tidak terlibat dengan PMRI besar kemungkinan bahwa pendekatan yang dilakukan guru di dalam kelas masih menggunakan pendekatan konvensional. Matar . mendapati bahwa individu pada tingkat 0 tidak menunjukkan kesediaan untuk menggunakan inovasi pendidikan dan lebih menyukai pendekatan konvensional dalam pengajaran dan Selanjutnya, sebanyak 3 responden . ,09%) berada pada tingkat II yang menggambarkan keadaan di mana guru sedang mempersiapkan diri untuk penggunaan pertama PMRI. Hal ini menunjukkan bahwa guru telah melewati tingkat I, di mana guru mengambil tindakan untuk mempelajari lebih rinci tentang PMRI. Walaupun guru telah melewati tingkat I, mereka memiliki pengetahuan yang kurang mengenai PMRI. Sehingga guru masih memerlukan dukungan berupa pelatihan hingga materi pembelajaran untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dan menambah kepercayaan diri guru dalam menerapkan PMRI. Terdapat 8 responden . ,24%) berada pada tingkat IV A yang menggambarkan keadaan di mana penggunaan PMRI dilaksanakan secara berkesinambungan. Penggunaan secara berkesinambungan diartikan sebagai penggunaan yang rutin, bahwa guru menggunakan pendekatan PMRI pada suatu materi saat ini dan menggunakan pendekatan yang sama pada masa lalu, serta akan melakukan hal yang sama pada masa yang akan Selain itu, tingkat IV A mengidentifikasi bahwa guru menggunakan pendekatan PMRI dengan sedikit sekali perubahan yang dilakukan dalam penggunaan pada masa lalu, saat ini, atau yang akan datang. Sedikit atau tidak ada sama sekali perubahan yang dimaksudkan pada tingkatan ini adalah perubahan dalam waktu mengajar, konteks, bahan ajar, media ajar, teknis pembelajaran, pengaturan ruang kelas, atau manajemen siswa. Sebanyak 2 responden . ,06%) berada pada tingkat IV B yang menggambarkan keadaan di mana guru memvariasikan penggunaan PMRI untuk meningkatkan dampak pada siswa. Jika pada tingkat IV A guru mempertahankan langkah-langkah yang telah ada dan PMRI dilakukan secara berkesinambungan, sedangkan guru pada tingkat IV B selain menggunakan PMRI secara berkesinambungan, mereka mencoba langkah baru untuk meningkatkan hasil pembelajaran pada siswa. Perubahan-perubahan yang mungkin terjadi adalah perubahan dalam waktu mengajar, konteks, bahan ajar, media ajar, teknis pembelajaran, pengaturan ruang kelas, atau manajemen siswa. Terdapat 6 responden . ,18%) berada pada tingkat V yang menggambarkan keadaan di mana guru menggabungkan upaya sendiri untuk menggunakan PMRI dengan guru lain untuk mencapai efek pada seluruh siswa. Tingkat ini menunjukkan guru melakukan kolaborasi bersama guru lain untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada seluruh siswa yang mereka ajarkan. Bentuk kolaborasi yang mereka lakukan diantaranya adalah membuat bahan ajar bersama, saling berbagi ide, berdiskusi, serta pengalaman dalam melakukan pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI ini. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin Persentase tertinggi adalah tingkat VI dengan 11 responden . ,34%) yang menggambarkan keadaan di mana guru mengevaluasi kembali kualitas penggunaan PMRI, mencari modifikasi besar terhadap inovasi saat ini untuk mencapai dampak yang lebih besar pada siswa, dan memeriksa perkembangan baru di lapangan. Hal ini menunjukkan implementasi PMRI di Kota Banjarmasin mencapai tingkat penggunaan Adanya kelompok guru yang aktif dalam mengevaluasi dan memodifikasi PMRI membuka peluang untuk melakukan pengembangan dalam pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI. Dalam melakukan pemeriksaan perkembangan baru di lapangan, guru turut serta dan tidak menutup diri dari penelitian, pelatihan, seminar, maupun konferensi untuk mendapatkan informasi perkembangan dalam dunia pendidikan matematika secara luas. Hal ini dapat terjadi karena adanya keterlibatan guru dalam diseminasi PMRI. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pentingnya peran dari diseminasi PMRI, sebagaimana yang diharapkan oleh Yuniawatika dkk . , agar bantuan dana riset, sumber bahan ajar, dan workshop yang berkelanjutan diperlukan dalam melakukan pengembangan PMRI. Tingkat Kepedulian PMRI Sebanyak 39 guru tergabung dan turut menjadi responden dalam kuesioner tertutup tingkat kepedulian. Untuk dapat menggambarkan tingkat kepedulian secara keseluruhan, penyajian data yang ditampilkan adalah data kelompok. Penyajian data kelompok didasarkan dari pedoman kuesioner tingkat kepedulian (George. Hall, dan Stiegelbauer. Ikhtisar skor persentil setiap tingkatan dari data kelompok ditampilkan pada Tabel 3 berikut. Tabel 3. Ikhtisar Skor Persentil Tingkat Kepedulian untuk Data Kelompok Tahap Skor Persentil Berdasarkan Tabel 3, skor tertinggi pertama berada pada tingkat 1 (Informationa. dengan skor persentil 88 dan skor tertinggi kedua berada pada tingkat 0 (Unconcerne. dengan skor persentil 87. Selain itu, tingkat 2 (Persona. dengan skor 83, tingkat 5 (Collaboratio. dengan skor 80, dan tingkat 6 (Refocusin. dengan skor 73 menunjukkan skor yang masih tergolong tinggi. Adapun tingkat 3 (Managemen. dengan skor 65 dan tingkat 4 (Consequenc. dengan skor 63 tergolong rendah. Hal ini didasari bahwa skor yang lebih dari 20 poin persentil di bawah skor tertinggi menunjukkan responden memiliki kepedulian yang tidak besar pada tingkat tersebut. Tingkat 1 sebagai skor dengan tingkat tertinggi mengindikasikan bahwa rata-rata guru ingin mengetahui lebih lanjut tentang PMRI. Selain itu, guru secara aktif mencari data dan sumber daya yang relevan untuk memahami sifat dan tujuan PMRI. Skor pada tingkat 1 tidak menunjukkan seberapa banyak pengetahuan guru tentang PMRI, melainkan menunjukkan apakah mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang PMRI. Adapun tingkat 0 sebagai skor tertinggi kedua pada dasarnya tidak memberikan informasi apakah responden merupakan pengguna atau bukan pengguna, melainkan membahas tingkat minat dan keterlibatan dengan PMRI dibandingkan dengan tugas dan aktivitas lain yang dilakukan responden. Tingkat 0 pada fenomena ini memberikan indikasi bahwa Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Muhammad Diva Almadani*. Sutarto Hadi. Kamaliyah rata-rata guru tidak menjadikan PMRI sebagai satu-satunya perhatian. Terdapat tugas dan aktivitas lain yang menjadi perhatian bagi kalangan guru. Tingkat lain yang masih tergolong tinggi seperti tingkat 2 mengindikasikan ketertarikan terhadap bagaimana PMRI akan mempengaruhi diri sendiri. Responden peduli tentang status, penghargaan, dan dampak PMRI terhadap mereka. Kemudian, tingkat 5 mengindikasikan guru tertarik untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan guru untuk meningkatkan hasil prestasi siswa melalui penerapan pendekatan PMRI (Lee dkk. Serta tingkat 6 yang mengindikasikan guru memiliki beberapa ide tentang pendekatan lain yang mungkin dapat bekerja lebih baik (Martin, 2. Pada tingkat yang tergolong rendah mengindikasikan bahwa rata-rata guru memiliki kepedulian yang tidak terlalu besar pada tingkat-tingkat tersebut. Tingkat 3 yang rendah mengartikan bahwa guru tidak terlalu berfokus pada prosedur manajemen dan waktu dalam penggunaan PMRI. Serta tingkat 4 yang rendah mengartikan bahwa guru kurang tertarik bagaimana PMRI dapat berdampak pada siswa. Rendahnya tingkat 4 ini perlu menjadi perhatian karena pada dasarnya tujuan utama implementasi PMRI adalah untuk meningkatkan dampak positif pada pembelajaran siswa. Profil tingkat kepedulian ini menunjukkan bahwa guru di Kota Banjarmasin memiliki minat untuk mempelajari dan mengembangkan PMRI, namun kepedulian mereka terhadap dampak PMRI pada siswa masih perlu ditingkatkan. Hal ini sejalan dengan temuan pada tingkat penggunaan yang menunjukkan bahwa sebagian besar guru berada pada tingkat penggunaan yang tinggi, namun fokus pada dampak terhadap siswa masih perlu diperkuat melalui program-program pelatihan dan pendampingan yang lebih KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian dengan tajuk "Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin", dapat disimpulkan bahwa tingkat penggunaan PMRI guru SD kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin dengan persentase tertinggi adalah tingkat VI . ,34%) yang menggambarkan keadaan di mana guru mengevaluasi kembali kualitas penggunaan PMRI, mencari modifikasi besar terhadap inovasi saat ini untuk mencapai dampak yang lebih besar pada siswa, dan memeriksa perkembangan baru di lapangan. Terdapat juga guru pada tingkat V . ,18%) yang menggabungkan upaya sendiri untuk menggunakan PMRI dengan guru lain, tingkat IV A . ,24%) yang menggunakan PMRI secara berkesinambungan, tingkat IV B . ,06%) yang memvariasikan penggunaan PMRI untuk meningkatkan dampak pada Walaupun demikian, masih terdapat guru pada tingkat 0 . ,09%) yang memiliki sedikit atau tidak sama sekali pengetahuan mengenai PMRI dan tidak terlibat dengan PMRI, serta tingkat II . ,09%) yang sedang mempersiapkan diri untuk penggunaan pertama PMRI. Adapun tingkat kepedulian PMRI guru SD kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin diidentifikasi bahwa guru ingin mengetahui lebih lanjut tentang PMRI (Tingkat 1 dengan skor . , tapi tidak menjadikan PMRI sebagai satu-satunya perhatian (Tingkat 0 dengan skor . Ketertarikan kepada PMRI dalam hal dampak hanya terhadap diri sendiri (Tingkat 2 dengan skor . , dalam penerapannya lebih cenderung tertarik dengan melakukan kolaborasi (Tingkat 5 dengan skor . , dan guru memiliki beberapa ide tentang pendekatan lain yang mungkin dapat bekerja lebih baik (Tingkat 6 dengan skor . Disisi lain guru tidak terlalu berfokus pada prosedur manajemen dan waktu dalam penggunaan PMRI (Tingkat 3 dengan skor . , serta kurang tertarik bagaimana PMRI dapat berdampak pada siswa (Tingkat 4 dengan skor . Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Tingkat Penggunaan dan Kepedulian PMRI Guru SD Kelas I. II, dan i Kota Banjarmasin REFERENSI